• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dikotomi Ilmu Agama dan Ilmu Umum dalam Perspektif Pendidikan Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Dikotomi Ilmu Agama dan Ilmu Umum dalam Perspektif Pendidikan Islam"

Copied!
193
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Nash al-Qur'an (kalamullah) sebagai ayat qwliyah dan alam semesta (sunnatullah) sebagai ayat kawniyah. Ketiga, dengan mengintegrasikan ilmu kedua-dua watak, al-Quran dan as-Sunnah menjadi pusat dan sumber ilmu. Al-Quran (kalamullah) dan hadis diletakkan sebagai ayat qwliyah, manakala hasil pemerhatian, eksperimen dan penaakulan logik dan alam semesta (sunnatullah) diletakkan sebagai ayat kawniyah.

Telaah Pustaka Terdahulu

Metode Penelitian

  • Pendekatan Penelitian
  • Data dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang berlandaskan filsafat postpositivisme yang digunakan untuk menyelidiki benda-benda alam yang keberadaannya peneliti. Penelitian tinjauan pustaka merupakan penelitian yang dilakukan untuk memecahkan suatu permasalahan yang pada dasarnya mengandalkan penalaran kritis dan mendalam tentang bahan pustaka yang relevan. 14 Bahan pustaka yang relevan dalam penelitian ini berupa buku dan jurnal. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sastra, yaitu penggalian bahan-bahan pustaka yang relevan dengan topik pembahasan yang diteliti.

Sistematika Pembahasan

DIKOTOMI ILMU DAN UPAYA

Pengertian Ilmu

Pengetahuan adalah suatu kualitas yang memungkinkan jiwa seseorang yang memiliki kualitas tersebut dapat membedakan beberapa realitas yang tidak dapat dirasakan oleh indra jiwa, sehingga melindunginya dari penderitaan ketika ia berada dalam situasi yang tidak memungkinkan apa yang sedang dibedakan. dari cara persepsinya. Perbedaan itu didapat. Kata yang tepat untuk mendefinisikan ilmu dalam Islam adalah Al-'Ilm yang mempunyai dua komponen.

Ilmu dalam Perspektif Islam

Dalam wahyu yang turun pertama kali tidak dijelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Qur'an mewajibkan apapun dibaca asalkan bacaannya bismi rabbik (dengan menyebut nama Allah). Allah telah menegaskan melalui kitab-Nya, Al-Qur'an, bahwa segala sesuatu akan kembali kepada penciptanya. Tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah agar mereka beribadah dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Hubungan Ilmu dan Agama

Selain pendekatan kontras dan konflik yang digunakan para ilmuwan Barat dalam melihat hubungan sains dan agama, terdapat dua pendekatan lain yaitu pendekatan kontak dan konfirmasi. Karena diawali dengan ketidakpercayaan atau keraguan (skeptisisme), filsafat dan ilmu pengetahuan selalu mempertanyakan sesuatu. Keyakinan dapat menjiwai atau mempengaruhi ilmu pengetahuan, itulah sebabnya ilmu pengetahuan tidaklah netral atau bebas nilai.

Pengertian Dikotomi

Dari dikotomi tersebut, pendidikan Islam hanya ditempatkan pada aspek akhirat, spiritual dan keagamaan, sedangkan pendidikan umum. Oleh karena itu, pendidikan agama berhadapan dengan pendidikan non-agama, pendidikan Islam berhadapan dengan pendidikan non-Islam, pendidikan agama berhadapan dengan pendidikan umum, dan seterusnya. Selebihnya, pendidikan (agama) Islam seolah-olah hanya membahas urusan ritual dan spiritual saja, sedangkan kehidupan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, masyarakat, budaya, ekonomi, politik, dan seni dianggap sebagai urusan sekuler dalam pendidikan non-agama atau pendidikan umum.14 .

Dikotomi Ilmu dan Kemunculannya

Setelah umat Islam menghadapi kemunduran sekitar tanggal 13-20 Pada abad Masehi, negara-negara Barat memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari dari Islam, sehingga mencapai masa Renaissance, ilmu pengetahuan umum (sains) berkembang pesat di Barat, sedangkan ilmu-ilmu Islam mengalami kemunduran sehingga menimbulkan dikotomi antara keduanya. bidang ilmu pengetahuan. Tidak hanya itu, sekularisasi ilmu pengetahuan di Barat juga muncul, yang ditentang oleh gereja. Kredibilitas Gereja sebagai sumber informasi ilmiah semakin menurun, sehingga semakin mendorong tumbuhnya pendekatan ilmiah dalam sains menuju sains sekuler.

Sekularisasi ilmu pengetahuan secara ontologis menghilangkan segala sesuatu yang bersifat keagamaan dan mistik karena dianggap tidak relevan dengan ilmu pengetahuan. Rasionalisme berpendapat bahwa akal merupakan alat ilmiah yang obyektif karena dapat melihat realitas yang konstan dan tidak dapat mengubahnya, seperti halnya realitas empiris. Dimana keduanya mempunyai tugas dan fungsi masing-masing, sintesa ini semakin memperkuat landasan ilmu-ilmu sekuler.

Orang yang pertama kali meletakkan dasar sekularisasi ilmu-ilmu agama adalah Josef Von Hammer Purgstall, lulusan Akademi Vierna Oriental yang bekerja sebagai penerjemah bahasa Arab Turki dan Persia ke bahasa-bahasa Eropa. Josef Von Hammer Purgstall menganalisis agama secara deskriptif yang didasarkan pada fakta empiris dan dipisahkan dari proses dasarnya yaitu wahyu. Perlu diketahui bahwa di dunia Islam sebenarnya tidak pernah terjadi dikotomi ilmu seperti yang terjadi di dunia Barat.

Sangat mungkin terjadi dikotomi ilmu pengetahuan di Barat, karena ajaran agama di Barat hanya membahas persoalan moral dan spiritual saja, namun tidak berbicara secara langsung maupun tidak langsung mengenai persoalan ilmu pengetahuan dan sebagainya.

Dikotomi Ilmu dalam Perspektif Islam

Dalam merujuk dan menganjurkan pendalaman ilmu pengetahuan, Al-Qur’an sama sekali tidak membeda-bedakan konsep “ilmu agama” dan “ilmu non-agama”. Dengan konsep ini saja sudah jelas bahwa Islam mendasarkan ajarannya pada segala ilmu yang dapat menjamin kebaikan dan kesejahteraan dunia dan akhirat. Ajaran Islam menekankan bahwa semua ilmu pada hakikatnya bersumber dari satu sumber yaitu Allah SWT sebagai sumber segala ilmu.

Kemudian, jika Anda mencermati Al-Qur'an dan Sunnah tentang ilmu, Anda akan menemukan betapa Allah dan Rasul-Nya sangat menghargai ilmu dan orang yang mempelajarinya. Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya adalah ayat tentang membaca yaitu Iqra' yang mempunyai makna denotatif bagi umatnya untuk dapat membaca, disamping makna konotatif yang berarti membaca, mempelajari dan menganalisis segala tanda-tandanya. kekuasaan Allah di alam semesta.ini.20. Oleh karena itu jelas bahwa dalam perspektif Islam, jika ada dikotomi ilmu, yang ada hanyalah pembedaan atau pengklasifikasian jenis-jenis ilmu saja, karena setiap ilmu mempunyai ciri yang berbeda-beda, baik dalam aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Sebaliknya Islam memposisikan keduanya secara paralel, dalam memberikan nilai-nilai positif dan manfaat bagi manusia guna mendatangkan kebaikan bagi manusia untuk kehidupan di dunia dan akhirat. 21.

Problem Dikotomi Ilmu

Di sisi lain, dikotomi ilmu terjadi karena cara berpikir yang tertutup, ketidakmampuan atau keengganan memahami agama dan penafsiran wahyu sebagai sesuatu yang historis (korpus tekstual), sehingga kajian agama berjalan sendiri dalam terowongan yang sempit dan bersifat sementara. tidak dikomunikasikan dengan. perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban secara luas.22. 22 Kelompok Penyusun Paradigma Wahdatul Ulum Pengembangan Keilmuan dan Karakter Lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara (Medan: IAIN Press, 2019), 15. Ketika ilmu pengetahuan terpisah dari Tuhan, para ilmuwan antroposentris yakin bisa mencapainya pencapaian ilmiah dan berbagai penemuan tanpa hubungan dengan Tuhan.

Perkembangan ilmu-ilmu keislaman pada bidang-bidang tertentu berjalan sesuai dengan ortodoksinya masing-masing, dengan hanya memperhatikan satu dimensi saja dan mengabaikan perkembangan bidang ilmu-ilmu keislaman yang lain. Terjadi dalam bentuk atomistik dimana pendekatan-pendekatan dalam ilmu-ilmu Islam (kajian Islam) tidak dikomunikasikan dengan pendekatan-pendekatan dalam ilmu-ilmu Islam. Eksklusif, dimana ilmu-ilmu keislaman tertentu (kajian keislaman) dikembangkan secara eksklusif, kalau tidak fundamentalis, sehingga kurang berkontribusi dan kurang bersahabat dengan kemanusiaan.

Jelas sekali bahwa perkembangan kajian Islam (Islamic study) seperti itu menutupi pesan rahmatan lil'âlam yang melekat di dalamnya. Ketika terdapat jarak yang sangat jauh antara pendalaman ilmu pengetahuan dengan aktualisasinya dalam bantuan dan pengembangan kehidupan dan peradaban umat manusia. Dalam hal ini ontologi dan epistemologi ilmu dijadikan sebagai tugas pokok keilmuan, sedangkan penerapan, implementasi atau aksiologi dipandang.

Di sisi lain, perkembangan ilmu-ilmu keislaman yang eksklusif dan kaku akan menyebabkan penganutnya mengalami dilema etika sehingga sulit memposisikan diri sebagai umat beragama atau warga negara sejati.

Dampak Dikotomi Ilmu

Jika terjadi pemisahan antara jiwa dan raga manusia dalam pengembangan ilmu pengetahuan, maka perkembangan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya tidak akan tercapai. Kedua, setiap ilmu memberikan pedoman yang sempit bagi penganutnya agar kehidupannya tidak merata. Pengetahuan umum tanpa agama lemah secara etika dan moral, sehingga pengetahuan dapat disalahgunakan.

Ilmu pengetahuan harus memberikan pencerahan, pengarahan, bimbingan dan bimbingan kepada masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Setiap ilmu pengetahuan tidak hanya harus memberikan bantuan yang bersifat teknis, tetapi juga mempunyai aspek moral, dan memberikan bantuan tidak hanya bersifat moral, tetapi juga bersifat operasional teknis. Hanya ilmu yang berpedoman pada agama (iman) yang akan mengangkat harkat dan martabat manusia.

Upaya Menyelesaikan Dikotomi Ilmu

  • Islamisasi Ilmu
  • Pengilmuan Islam
  • Integrasi Ilmu

Metodologi dan pendekatan ini digunakan untuk menafsirkan Al-Qur'an dan Sunnah yang ditafsirkan secara baru (hermeneutis). Ia menggunakan web ilmiah sebagai metafora dengan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pusat dan sumber ilmu pengetahuan. Ilmu agama berkembang dan berlandaskan Al-Qur'an dan hadis, sedangkan ilmu umum dikembangkan berdasarkan hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis.55.

Ketika seseorang memahami keagungan kandungan Al-Qur'an, maka pengkategorian ilmu agama dan ilmu umum rasanya kurang tepat.57. Pembangunan ilmu pengetahuan yang integratif dengan menempatkan Al-Qur'an dan Hadits sebagai sumber terpenting di samping sumber-sumber lain dijelaskan oleh Imam Suprayogo sebagai berikut: 60. Sedangkan pada pola baru, Al-Qur'an dan Hadits dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan. semua disiplin ilmu yang ada.61 .

Dengan kedudukan seperti ini, berbagai cabang ilmu pengetahuan selalu bisa bersumber dari Al-Qur'an dan hadis. Sunnah sebagai hakikatnya harus dikembangkan melalui observasi, eksperimen dan penalaran logis untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah yang kemudian melahirkan bidang ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora. Untuk mengatasi permasalahan dikotomi keilmuan, baik Amin Abdullah maupun Imam Suprayogo sama-sama menawarkan konsep mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pusat dan sumber ilmu pengetahuan.

Ia menggunakan jaring laba-laba ilmiah sebagai metafora dengan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pusat dan sumber ilmu pengetahuan. Dengan kedudukan seperti ini, berbagai cabang ilmu selalu dapat dipetik dari Al-Qur'an dan. Konsep ini menggunakan metafora jaring laba-laba ilmiah dengan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pusat dan sumber ilmu pengetahuan.

Konsep ini menggunakan pohon ilmu sebagai metafora, menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pusat dan sumber ilmu pengetahuan. Ketiga, dalam integrasi ilmu pengetahuan, kedua tokoh tersebut memposisikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pusat dan sumber ilmu pengetahuan.

Gambar 3.1 Bagan Jaring Laba-Laba Keilmuan
Gambar 3.1 Bagan Jaring Laba-Laba Keilmuan

Gambar

Tabel 3.1 Analisis Konsep M. Amin Abdullah ...............  120  Tabel 3.2 Analisis Konsep Imam Suprayogo.................
Gambar 3.1 Bagan Jaring Laba-Laba Keilmuan .............  112  Gambar 3.2 Skema Interconnected ................................
Gambar 3.1 Bagan Jaring Laba-Laba Keilmuan
Gambar 3.2 Skema Interconnected
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Pendidikan modern berarti pendidikan sekuler yang menyamakan cara pengajaran ilmu-ilmu agama dan ilmu non agama, dengan kata lain pengetahuan itu sangat skeptik, sehingga

Latar Belakang: Pemikiran mengenai kebenaran sudah sejak awal ada dalam pemikiran manusia termasuk pada ilmuwan filsafat ilmu yakni Aristoteles dan Plato, hal demikian

Sedangkan penelitian yang penulis akan buat adalah pengintegrasian antara ilmu agama Islam dan sains dalam tataran pendidikan dan gambaran pengintegrasian antara

Dikotomi pendidikan umum dan pendidikan agama dalam arti kelembagaan yang dimana hal ini merupakan warisan dari zaman kolonial Belanda, karena anak-anak yang bisa

Terjadinya dikotomi ilmu pengetahuan Islam dengan ilmu-ilmu umum menyebabkan para ilmuan Islam berusaha melakukan Islamisasi atau integrasi kedua ilmu tersebut,

Pemikiran Azyumardi Azra sangat relevan dengan kondisi pendidikan di Indonesia supaya tidak ada lagi dikotomi ilmu, tercapainya akhlakul karimah, kuatnya Islam

Terjadinya dikotomi ilmu pengetahuan Islam dengan ilmu-ilmu umum menyebabkan para ilmuan Islam berusaha melakukan Islamisasi atau integrasi kedua ilmu tersebut,

Selain itu, oleh karena paradigma integrasi hanya terkesan ta"arruf al- 'ulum mendekatkan ilmu umum dan agama, maka pendidikan Islam kontemporer sudah saatnya bergeser ke arah