• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIKPLHD Kota Balikpapan 2016

N/A
N/A
Khilda Baiti Rohmah

Academic year: 2024

Membagikan "DIKPLHD Kota Balikpapan 2016"

Copied!
414
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

SURAT PERNYATAAN...ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR ISI...iv

DAFTAR GAMBAR...vi

DAFTAR TABEL... ix BAB I PENDAHULUAN... I-1 A. Latar Belakang...I-1 B. Profil Kota dan Keadaan Umum...I-3 C. Gambaran Singkat Proses Penyusunan...I-56 D. Maksud dan Tujuan... I-58 E. Ruang Lingkup Penulisan...I-59 BAB II ISU PRIORITAS LINGKUNGAN HIDUP DAERAH... II-1 A. Identifikasi Isu Lingkungan Hidup Daerah...II-1 B. Evaluasi dan Verifikasi Isu Lingkungan... II-4 C. Isu Prioritas Lingkungan Hidup Daerah...II-7 BAB III ANALISIS PSR ISU LINGKUNGAN HIDUP DAERAH... III-1 A. Keterbatasan Ketersediaan Air Baku...III-1 B. Banjir...III-71 C. Degradasi Kawasan Pesisir Timur Balikpapan...III-81 BAB IV INOVASI DAERAH DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP... IV-1 A. Mengatasi Masalah Keterbatasan Ketersediaan Air Baku... IV-1 B. Mengatasi Masalah Banjir... IV-3 C. Mengatasi Masalah Degradasi Kawasan Pesisir Timur Balikpapan... IV-4 BAB V KESIMPULAN... V-1 A. Kesimpulan...V-1 B. Tindak lanjut...V-2 DAFTAR PUSTAKA

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta Ketinggian Lahan Kota Balikpapan... I-7 Gambar 2. Peta Kemiringan Lereng Kota Balikpapan...I-8 Gambar 3. Peta Administrasi Kota Balikpapan...I-10 Gambar 4. Peta Geologi Kota Balikpapan... I-12 Gambar 5. Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Balikpapan... I-14 Gambar 6.Tingkat Pendidikan Wa jib Belajar 12 Tahun Kota Balikpapan... I-15 Gambar 7. Grafik Jumlah Rumah Tangga Miskin di Kota Balikpapan... I-15 Gambar 8. Grafik Suhu Udara Rata-Rata Bulanan Kota Balikpapan... I-17 Gambar 9. Curah Hujan Rata-Rata Bulanan Kota Balikpapan... I-18 Gambar 10. LokasiGent Sampler... I-19 Gambar 11. Laporan Kualitas Udara Kota Balikpapan...I-20 Gambar 12. Kadar Rata-rata SO2Tahun 2014 – 2016... I-23 Gambar 13. Kadar Rata-rata NO2Tahun 2014 – 2016... I-25 Gambar 14. Tren Kualitas Udara Parameter Pb Tahun 2014 – 2016...I-25 Gambar 15. Tren Kualitas Udara Parameter CO Tahun 2014 – 2016... I-26 Gambar 16. Tren Kualitas Udara Parameter HC Tahun 2014 – 2016... I-27 Gambar 17. Kadar Rata-rata PM10Tahun 2014 – 2016... I-28 Gambar 18. Pemantau Kualitas Udara Metode Otomatis APKU... I-29 Gambar 19. Peta RTRW Kota Balikpapan...I-35 Gambar 20. Presentase Rumah Tangga Yang Menggunakan Sumber Air Minum Tahun 2016...I-36 Gambar 21. Fasilitas tempat buang air besar di Kota Balikpapan (Sendiri dan Bersama)...I-38 Gambar 22. IPLT TPA Manggar...I-39 Gambar 23. IPAL Komunal yang dikelola oleh pihak swasta (Perum.Regency) dan Masyarakat...I-40 Gambar 24. IPAL Marga Sari... I-40 Gambar 25. IPAL SIKS...I-41

(6)

Gambar 29. Sebaran Ungulata di Sebelah Batas Barat HL Sungai Wain... I-46 Gambar 30. Sebaran Karnivora di Sebelah Batas Barat HL Sungai Wain...I-47 Gambar 31. Diskusi Penetapan Isu Prioritas Lingkungan Hidup... II-1 Gambar 32. Indeks Pencemaran Air Sungai DAS Prokasih TA. 2016... III-4 Gambar 33. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Manggar... III-5 Gambar 34. Grafik Kualitas Air Sungai Manggar...III-5 Gambar 35. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Wain...III-10 Gambar 36. Grafik kualitas air Sungai Wain...III-11 Gambar 37. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Somber... III-15 Gambar 38. Grafik Kualitas Air Sungai Somber...III-15 Gambar 39. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Sepinggan...III-19 Gambar 40. Grafik Kualitas Air Sungai Sepinggan... III-20 Gambar 41. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Batakan Besar... III-24 Gambar 42. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Batakan Besar... III-24 Gambar 43. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Klandasan Kecil...III-33 Gambar 44. Kualitas Air Sungai Klandasan Kecil... III-34 Gambar 45. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Brenga...III-38 Gambar 46. Grafik Kualitas Air Sungai Brenga...III-38 Gambar 47. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Lamaru... III-42 Gambar 48. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Lamaru... III-43 Gambar 49. Grafik Kualitas Air Sungai Tempadung... III-47 Gambar 50. Grafik Kualitas Air Sungai Teritip... III-51 Gambar 51. Grafik Kualitas Air Sungai Kemantis...III-55 Gambar 52. Cakupan Pelayanan Air Bersih PDAM... III-61 Gambar 53. Peta Cakupan Pelayanan Air Bersih PDAM...III-61 Gambar 54. Grafik Pemanfaatan Air Sumur Dalam di Kota Balikpapan...III-67 Gambar 55. Dampak Sedimentasi terhadap Kerusakan Kawasan Pesisir (Mangrove dan Tambak)... III-81 Gambar 56. Kecepatan Arus dan Transport Sedimen Susur Pantai di Kota Balikpapan bagian Timur... III-83 Gambar 57. Proses Fisis Sedimentasi Daerah Pesisir Timur Kota Balikpapan...

(7)

Gambar 58. Ilustrasi Dugaan Sedimentasi di Pesisir Kelurahan Teritip dan Sekitarnya... III-86 Gambar 59. Sedimen pasir yang terbentuk di sebelah selatan groin... III-86 Gambar 60. Rehabilitasi Penanaman Mangrove di Desa Wisata Teritip... III-88

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Luas Wilayah Kota Balikpapan Dirinci Menurut Topografi... I-6 Tabel 2. Luas Wilayah Kota Balikpapan Dirinci Menurut Kelerengan...I-7 Tabel 3. Luas Wilayah Kota Balikpapan Dirinci per Kecamatan dan Kelurahan.I-8 Tabel 4. Jumlah Penduduk Kota Balikpapan... I-13 Tabel 5. Rekap Laporan Data APKU Tahun 2014...I-31 Tabel 6. Rekap Laporan Data APKU Tahun 2015...I-32 Tabel 7. Rekap Laporan Data APKU Tahun 2016...I-33 Tabel 8. Sarana Pengolahan Air Limbah Komunal...I-39 Tabel 9. Instalasi Pengelolaan Air Limbah Usaha Skala Kecil (IPAL USK)... I-41 Tabel 10. Jumlah Spesies Flora dan Fauna Kota Balikpapan... I-43 Tabel 11. Hutan Kota Balikpapan... I-52 Tabel 12. Matrik Evaluasi dan Verifikasi Isu Lingkungan...II-4 Tabel 13.Kondisi Air Baku Kota Balikpapan Tahun 2016...III-1 Tabel 14. Hasil Perhitungan Indeks Pencemaran (IP) Kota Balikpapan... III-2 Tabel 15. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Manggar Bagian Hulu...

... III-7 Tabel 16. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Manggar Bagian Tengah..

... III-8 Tabel 17. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Manggar Bagian Hilir...

... III-9 Tabel 18. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Wain Bagian Hulu...III-12 Tabel 19. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Wain Bagian Tengah...

... III-13 Tabel 20. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Wain Bagian Hilir... III-14 Tabel 21. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Somber Bagian Hulu...

... III-16 Tabel 22. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Somber Bagian Tengah ... III-18 Tabel 23. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Somber Bagian Hilir...

... III-18

(9)

Tabel 24. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Sepinggan Bagian Hulu ... III-21 Tabel 25. Time SeriesData Kualitas Air Sungai Sepinggan Bagian Tengah... III-22 Tabel 26. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Sepinggan Bagian Hilir ... III-23 Tabel 27. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Batakan Besar Bagian Hulu... III-25 Tabel 28. Time SeriesData Kualitas Air Sungai Batakan Besar Bagian Tengah...

... III-26 Tabel 29. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Batakan Besar Bagian Hilir...III-28 Tabel 30. Peta Titik Pengambilan Sampel Air Sungai Klandasan Besar... III-29 Tabel 31. Kualitas Air Sungai Klandasan Besar... III-29 Tabel 32. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Klandasan Besar Bagian Hulu... III-30 Tabel 33. Time Series Data Kualitas Air Sungai Klandasan Besar Bagian Tengah ... III-31 Tabel 34. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Klandasan Besar Bagian Hilir...III-32 Tabel 35. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Klandasan Kecil Bagian Hulu... III-35 Tabel 36. Time Series Data Kualitas Air Sungai Klandasan Kecil Bagian Tengah ... III-36 Tabel 37. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Klandasan Kecil Bagian Hilir...III-37 Tabel 38. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Brenga Bagian Hulu...

... III-39 Tabel 39. Time Series Data Kualitas Air Sungai Brenga Bagian Tengah...III-40 Tabel 40. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Brenga Bagian Hilir...

(10)

Tabel 42. Time Series Data Kualitas Air Sungai Lamaru Bagian Tengah...III-45 Tabel 43. Time Series Pemantauan Kualitas Air Sungai Lamaru Bagian Hilir...

... III-46 Tabel 44. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Tempadung Bagian Hulu... III-48 Tabel 45. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Tempadung Bagian Tengah...

... III-49 Tabel 46. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Tempadung Bagian Hilir... III-50 Tabel 47. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Teritip Bagian Hulu... III-52 Tabel 48. Hasil Pemantauan Data Kualitas Air Sungai Teritip Bagian Tengah...

... III-53 Tabel 49. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Teritip Bagian Hilir...III-54 Tabel 50. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Kemantis Bagian Hulu...III-56 Tabel 51. Hasil Pemantauan Data Kualitas Air Sungai Kemantis Bagian Tengah57 Tabel 52. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Kemantis Bagian Hilir... III-58 Tabel 53. Tabel Pemanfaatan Sumur Dalam Oleh Kegiatan dan/atau Usaha Tahun 2015... III-62 Tabel 54. Pemanfaatan Sumur Dalam Oleh Kegiatan dan/atau Usaha Tahun 2016 ... III-66 Tabel 55. Volume pemanfaatan air sumur dalam 2015-2016...III-67 Tabel 56. Rencana Pengembangan Sumber air Baku Kota Balikpapan...III-69 Tabel 57. Titik Banjir Kota Balikpapan Tahun 2014 – 2016... III-71 Tabel 58. Genangan Kota Balikpapan Tahun 2014 – 2016...III-74 Tabel 59. Grafik Genangan Tahun 2014 – 2016... III-74 Tabel 60. Pengupasan Lahan Kota Balikpapan Tahun 2016...III-75

(11)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kedudukan dan posisi Kota Balikpapan sangatlah strategis. Sebagai salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur, Balikpapan dikenal dengan sebutan kota minyak, karena di kota ini terdapat industri pengolahan minyak untuk memenuhi kebutuhan migas wilayah Indonesia bagian timur. Balikpapan dikenal pula sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur, karena kota ini memiliki Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Pelabuhan Penumpang dan Logistik Semayang, Pelabuhan Peti Kemas Kariangau, dan Terminal antar Kota dan antar Provinsi. Di samping itu, Balikpapan dikenal sebagai kota MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).

Balikpapan digolongkan sebagai kota yang pertumbuhan dan perkembangannya cepat. Kecepatan perkembangan kota ini dipengaruhi oleh pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk. Perkembangan kota dan pertumbuhan penduduk yang cepat ini, menuntut kebutuhan akan lahan yang memadai. Kondisi seperti ini, di satu sisi menguntungkan pertumbuhan ekonomi Kota Balikpapan namun di sisi lain berpengaruh terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Kenyataan ini menuntut pemerintah kota untuk dapat mengelola dan mengendalikan lebih baik berbagai aspek yang berkaitan dengan lingkungan hidup secara menyeluruh. Berbagai kebijakan pembangunan yang disusun dalam berbagai perencanaan pembangunan kota harus selalu dipadankan dengan kondisi lingkungan hidup, sehingga dapat diwujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak bagi setiap warga kota. Apabila kondisi lingkungan hidup tidak baik dan tidak sehat, akan menimbulkan berbagai masalah. Untuk itu diperlukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Hal ini sesuai dengan penegasan pada

(12)

Lingkungan Hidup, Pasal 1 angka 2 yang menyebutkan bahwa: “Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan, yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum.

Dalam rangka mendukung hal tersebut perlu dilakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan, yang dapat memberikan manfaat sebesar- besarnya bagi kesejahteraan manusia serta tidak menimbulkan kerusakan lingkungan melalui kebijakan-kebijakan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Balikpapan yang didukung oleh masyarakat dan swasta di kota ini. Secara garis besar upaya tersebut diarahkan untuk mewujudkan kondisi bersih darat, bersih air, bersih udara dan tercukupinya tutupan lahan.

Secara kuantifikasi, upaya yang dilakukan tersebut tergambar pada Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kota Balikpapan yang pada tahun 2016 sebesar 62,45, yang meliputi tiga indikator yaitu: Indeks Pencemaran Air (IPA) 40,30, Indeks Pencemaran Udara (IPU) 90,84, dan Indeks Tutupan Lahan (ITH) 60,13. Komitmen Pemerintah dan masyarakat kota Balikpapan untuk terus meningkatkan IKLH ini telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kota Balikpapan, dan Rencana Strategis (Renstra) Badan Lingkungan Hidup Kota Balikpapan 2016 – 2021. Pemerintah kota bertekad untuk menaikkan IKLH Kota Balikpapan dari 62,45 pada tahun 2016 menjadi 66,81 pada tahun 2021, melalui upaya peningkatan Indeks Pencemaran Air (IPA) 43,30, Indeks Pencemaran Udara (IPU) 93,84, dan Indeks Tutupan Lahan (ITH) 64,21.

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan IKLH tersebut, dilaksanakan melalui program, antara lain:

1. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup;

2. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam;

(13)

3. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup;

4. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan.

Hasil dari berbagai upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Balikpapan dalam rangka pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup adalah dengan diraihnya beberapa penghargaan di bidang lingkungan hidup tahun 2016, ditingkat Nasional sebanyak 19 penghargaan dan di tingkat Provinsi Kalimantan Timur 15 penghargaan.

Mengenai kondisi dan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan hidup di Kota Balikpapan, berikut status dan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam hubungan kausalitas dengan unsur-unsur penyebabnya, digambarkan secara lebih rinci dalam Dokumen Indikator Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup (DIKPLH) Kota Balikpapan Tahun 2016 yang diuraikan pada bab-bab berikut.

B. Profil Kota dan Keadaan Umum

1. Visi dan Misi Kota Balikpapan 2016 - 2021

Visi Kota Balikpapan untuk periode RPJMD 2016-2021 telah ditetapkan:

“Mewujudkan Balikpapan Sebagai Kota Terkemuka yang Nyaman Dihuni dan Berkelanjutan Menuju Madinatul Iman”.

Kota Nyaman Dihuni (Livable City) adalah suatu kondisi lingkungan dan suasana kota yang nyaman sebagai tempat tinggal dan sebagai tempat untuk beraktivitas dari berbagai aspek, baik aspek fisik (fasilitas perkotaan, prasarana, tata ruang, dll), maupun aspek non-fisik (hubungan sosial, aktivitas ekonomi, dll).

Prinsip-prinsip dariLivable Citydiantaranya :

a. Tersedianya berbagai kebutuhan dasar masyarakat perkotaan (hunian yang layak, air bersih, listrik);

b. Tersedianya berbagai fasilitas umum dan fasilitas sosial (transportasi publik, taman kota, fasilitas kesehatan/ kesehatan/ ibadah);

c. Tersedianya ruang dan tempat publik untuk bersosialisasi dan berinteraksi;

(14)

e. Mendukung fungsi ekonomi, sosial dan budaya;

f. Sanitasi lingkungan dan keindahan lingkungan fisik.

Madinatul Iman, mengandung makna sebagai berikut :

a. Suatu sistem sosial yang tumbuh dan berkembang, yang berasaskan pada prinsip moral;

b. Menjamin kebebasan perorangan dengan tetap memperhatikan kestabilan masyarakat;

c. Mendorong daya usaha dan inisiatif individu di segala bidang penyelenggaraan pemerintahan dengan mengacu pada peraturan perundangan-undangan;

d. Tatanan masyarakat yang beriman, sejahtera, religius dan berperadaban maju.

Sedangkan Misi Kota Balikpapan periode RPJMD Tahun 2016-2021 adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing tinggi;

b. Mewujudkan Kota Layak Huni Yang Berwawasan Lingkungan;

c. Meningkatkan infrastruktur kota yang representatif;

d. Mengembangkan ekonomi kerakyatan yang kreatif;

e. Mewujudkan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik.

Dinas Lingkungan Hidup sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menangani tugas-tugas yang berkaitan dengan lingkungan hidup, dalam periode RPJMD 2016–2021 menyusun Rencana Strategis OPD dengan visi: “Menjadi Institusi yang Kredibel dalam Mewujudkan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang Berkelanjutan”

Adapun penjelasan dari makna visi tersebut adalah sebagai berikut:

a. Institusi yang Kredibel adalah Dinas Lingkungan Hidup yang memiliki kapabilitas dan dapat dipercaya dalam menjalankan fungsi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

(15)

b. Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya sistematis dan terpadu dalam menjaga kelestariaan dan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

c. Berkelanjutan adalah prinsip pembangunan kota yang tidak hanya menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga aspek sosial dan aspek lingkungan dengan mempertimbangkan daya tampung dan daya dukung lingkungan.

Adapun Misi Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan Perlindungan Sumber Daya Alam dan Ketahanan terhadap Perubahan Iklim;

b. Meningkatkan Pelayanan Kebersihan dan Pengelolaan Sampah yang terpadu;

c. Memperkuat Upaya Pengendalian Pencemaran, dan Kerusakan Lingkungan;

d. Menjalin Kemitraan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup;

e. Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan dan Aparatur yang Profesional.

2. Letak Geografis

Kota Balikpapan terletak di antara 1,00LS – 1,50LS dan 116,50BT – 117,50 BT, dengan luas 50.330,57 ha atau 503,33 km2. Di sebelah utara, wilayah Balikpapan berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kertanegara, sebelah selatan dan timur berbatasan dengan Selat Makassar dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Secara geografis Kota Balikpapan merupakan kota pesisir, karena 85 km wilayah ini berada di sepanjang teluk Balikpapan dan Selat Makassar.

Secara topografis, wilayah Kota Balikpapan terdiri dari 85% perbukitan (undulating) dan hanya 15% terdiri dari lahan yang relatif datar. Lahan yang relatif datar ini pada umumnya berada di sepanjang daerah pantai. Tingkat kemiringan dan ketinggian permukaan tanah dari permukaan air laut sangat

(16)

dengan wilayah berbukit dengan ketinggian 100 m dari permukaan laut (dpl).

Dominasi wilayah berbukit sebagian besar wilayah, yaitu 42,33% mempunyai kelas kemiringan antara 15% sampai dengan 40% yang rawan tanah longsor.

Secara umum, jenis tanah yang ada di wilayah Kota Balikpapan adalah podsolik merah kuning yang bersifat erosif, dikarenakan jenis tanah ini terbentuk dari batuan yang relatif berumur muda dengan ikatan batuan lemah. Dengan topografi yang berbukit-bukit dan jenis tanah yang erosif, menjadikan lahan di Balikpapan rawan longsor dan tingkat sedimentasinya tinggi.

Mengenai luas wilayah kota Balikpapan yang dirinci menurut ketinggiannya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Luas Wilayah Kota Balikpapan Dirinci Menurut Topografi (Ketinggian)

No Ketinggian MDPL Luas Wilayah

(Ha) (%)

1.

2.

3.

0-10

>10-20

>20-100

6.980,00 17.260,00 26.090,57

13 34,7 51,66

Jumlah 50.330,57 100,00

Sumber: RTRW Kota Balikpapan Tahun 2012-2032

Dari tabel di atas dapat dikatakan bahwa 51,66% ketinggian wilayah Kota Balikpapan diantara 20 sampai dengan 100 Mdpl, diikuti 34,7% wilayah yang ketinggiannya 10 sampai dengan 20 Mdpl, dan 13% wilayah dengan ketinggian 0 sampai dengan 10 Mdpl.

Mengenai ketinggian lahan di Kota Balikpapan divisualisasikan pada gambar 1 berikut ini.

(17)

Gambar 1. Peta Ketinggian Lahan Kota Balikpapan

Sumber : Bappeda Kota Balikpapan

Untuk mengetahui tingkatan kelerengan wilayah dalam berbagai interval disajikan pada tabel 2 dan petanya disajikan pada gambar 2 berikut ini.

Tabel 2. Luas Wilayah Kota Balikpapan Dirinci Menurut Kelerengan

Sumber: RTRW Kota Balikpapan Tahun 2012-2032 No Kelas Lereng

(%)

Luas Wilayah

(Ha) (%)

1. 0-2 7.050,00 14.01

2. > 2-15 3.325,00 6.61

3. > 15-40 21.305,57 42.33

4. > 40 18.650,00 37.05

Jumlah 50.330,57 100,00

(18)

Gambar 2. Peta Kemiringan Lereng Kota Balikpapan

Sumber : Bappeda Kota Balikpapan Peta RTRW 2012-2032

Dari tabel 2 dan gambar 2 di atas diketahui bahwa hampir 80% wilayah Balikpapan berada pada tingkat kelerengan 15% sampai dengan 40%.

Secara administratif, wilayah Kota Balikpapan terbagi menjadi 6 Kecamatan dan 34 kelurahan. Tabel 3 dan gambar 3 berikut ini menggambarkan kecamatan dan kelurahan yang ada di Balikpapan berikut luasan wilayahnya serta visualisasi petanya.

Tabel 3. Luas Wilayah Kota Balikpapan Dirinci per Kecamatan dan Kelurahan

No Kecamatan/ Kelurahan Luas Wilayah (Ha)

Darat A. Kecamatan Balikpapan Timur

1. Manggar 2. Manggar Baru 3. Lamaru 4. Teritip

3.525,50 383,60 4.355,50 4.951,20

Jumlah 13.215,80

(19)

B. Kecamatan Balikpapan Selatan 1. Prapatan

2. Telagasari 3. Klandasan Ulu 4. Klandasan Ilir 5. Damai

6. Gunung Bahagia 7. Sepinggan

314,12 253,48 89,00 143,50 601,75 891,72 2.502,00

Jumlah 4.795,57

C. Kecamatan Balikpapan Tengah 1. Gunung Sari Ilir

2. Gunung Sari Ulu 3. Karang Rejo 4. Karang Jati 5. Mekarsari 6. Sumber Rejo

114,10 182,52 120,50 341,10 128,66 220,50

Jumlah 1.107,38

352,72 573,80 2.980,70 9.309,40 D. Kecamatan Balikpapan Utara

1. Muara Rapak 2. Gunung Samarinda 3. Batu Ampar 4. Karang Joang

Jumlah 13.216,62

E. Kecamatan Balikpapan Barat 1. Baru Tengah

2. Marga Sari 3. Baru Ilir 4. Margomulyo 5. Baru Ulu 6. Kariangau

57,04 66,50 58,90 184,53

95,48 17.532,75

Jumlah 17.995,20

50.330,57

Luas Kota Balikpapan 50.330,57

Sumber: Bappeda Kota Balikpapan, RTRW Tahun 2012-2032

(20)

Gambar 3. Peta Administrasi Kota Balikpapan

Sumber : Bappeda Kota Balikpapan, Peta RTRW 2012-2032

Jenis tanah yang ada di Kota Balikpapan terbagi menjadi 5 (lima) jenis yang diantaranya adalah aluvial, marin, fluvio marin, volkan, dan tektonik/struktural.

Adapun di bawah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai masing-masing jenis tanah yang ada di Kota Balikpapan.

a. Tanah Group Aluvial

Berdasarkan bentuk tanah, satuan tanah ini merupakan dataran aluvial yang dominan (50-75%), terjadi pada kelerengan 1-3% dengan bahan induk "Aluvium".

b. Tanah Group Marin

Bentukan lahannya berupa dataran pasang surut lumpur, mempunyai kelerengan < 1% dengan bahan induk aluvium. Jenis tanah ini umumnya terdapat disekitar Sungai Wain Besar dan Somber.

c. Tanah Group Fluvio Marin

Ada dua jenis tanah pada group ini yaitu :

1) Bentukan lahannya berupa dataran estuarin sepanjang muara sungai/pantai dengan kelerengan < 1% dan bahan induk aluvium.

(21)

Tanah ini umumnya terdapat di kanan kiri sepanjang Sungai Manggar Besar.

2) Bentukan lahannya berupa dataran fluvio marin dengan kelerengan <

1% dan bahan induknya adalah aluvium. Jenis tanah ini terdapat di sepanjang pantai yang menghadap Selat Makassar.

d. Tanah Group Volkan

Bentukan lahannya berupa bahan induk volkan.Tanah pada group volkan setara dengan regosol. Tanah ini berada di pantai di Balikpapan Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kertanegara.

e. Tanah Group Tektonik/ Struktural

Pada tanah group tektonik, jenis tanah di bagi menjadi menjadi 5 jenis, yaitu:

1) Bentukan lahannya berupa dataran tektonik berombak agak tertoreh dengan bentuk relief berombak berkisar antara 3-8% dan bahan induknya batu liat dan batu pasir. Lokasi penyebarannya adalah di pusat kota tepatnya Kecamatan Balikpapan Selatan, Tengah dan Barat yang berbatasan langsung dengan Teluk Balikpapan.

2) Bentukan lahannya berupa dataran tektonik bergelombang, agak tertoreh dan relief bergelombang berkisar antara 8-15%. Bahan induk batu liat dan batu gamping. Penyebarannya meliputi Kecamatan Balikpapan Utara seperti di Kelurahan Muara Rapak, Kelurahan Gunung Samarinda, Kelurahan Batu Ampar dan Kelurahan Karang Joang.

3) Bentukan lahannya berupa dataran bergelombang cukup tertoreh dengan relief bergelombang 15-30% dan bahan induknya berupa batuliat dan batupasir. Penyebarannya disekitar Bangun Reksa, Karang Joang dan Manggar.

4) Bentukan lahannya berupa dataran tektonik bergelombang cukup tertoreh dengan relief berbukit kecil (15-30%) dengan bahan induk batuliat dan batupasir. Penyebarannya terutama di Kecamatan

(22)

5) Bentukan lahannya berupa perbukitan paralel lipatan, sangat tertoreh dengan relief berbukit 15-30% dan bahan induknya berupa batu liat, batu pasir dan batu gamping. Penyebarannya di Karang Joang Km 15.

Karena bahan induknya, adalah batu liat dan batu gamping maupun batu pasir yang dominan, maka jenis tanah ini setara dengan jenis tanah Podsolik Merah Kuning. Struktur geologi yang dijumpai di Kota Balikpapan adalah lipatan yaitu antiklin. Sumbu antiklin ini memanjang dari barat daya ke arah timur laut melewati Kecamatan Balikpapan Tengah, Balikpapan Selatan dan Balikpapan Timur. Selain struktur antiklin di daerah Kota Balipapan juga dijumpai sejumlah patahan/sesar. Dipermukaan agak susah menentukan sesar karena tingkat pelapukan yang cukup tinggi serta litologi yang bersifat mudah lepas-lepas, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chevron pada tahun 2006-2010.

Secara geologis formasi batuan di wilayah kota Balikpapan yang terdiri dari Formasi Kampung Baru, Formasi Balikpapan Atas dan Formasi Balikapan Bawah dapat dilihat pada gambar 4 berikut ini.

Gambar 4. Peta Geologi Kota Balikpapan

(23)

Sumber : Bappeda Kota Balikpapan, RISPAM 2015

3. Demografi

a. Pertumbuhan Penduduk

Berdasarkan Keputusan Wali Kota Balikpapan, Nomor: 188.45-18/2017, Tanggal 27 Januari 2017, Tentang Penetapan Jumlah Penduduk Kota Balikpapan Akhir Tahun 2016 Per 31 Desember 2016, jumlah penduduk Balikpapan sebanyak 762.492 jiwa. Mengenai jumlah penduduk dan pertumbuhannya yang dirinci per kecamatan dapat dilihat pada tabel 4 dan gambar 5 berikut ini.

Tabel 4. Jumlah Penduduk Kota Balikpapan

No. Kecamatan

2015 2016

Jumlah Penduduk

WNI

Jumlah Penduduk

WNA

Jumlah Jumlah Penduduk

WNI

Jumlah Penduduk

WNA

Jumlah

1 Balikpapan

Timur 86,583 236 86,819 91,073 248 91,321

2 Balikpapan

Barat 107,047 15 107,062 109,423 38 109,461

Balikpapan

(24)

4 Balikpapan

Tengah 121,918 185 122,103 123,970 190 124,160

5 Balikpapan

Selatan 154,183 253 154,436 161,093 248 161,341 6 Balikpapan

Kota 102,139 167 102,306 104,013 170 104,183

TOTAL 735,850 957 736,807 761,495 997 762,492 Sumber: DISDUKCAPIL Kota Balikpapan, 2016

Gambar 5. Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Balikpapan

Sumber: DISDUKCAPIL Kota Balikpapan, 2016

Berdasarkan tabel 4 dan gambar 5 untuk pertumbuhan penduduk WNI paling tinggi di daerah Kecamatan Balikpapan Utara, hal itu disebabkan masih banyaknya lahan terbuka yang potensial dikembangkan menjadi kawasan perumahan dibandingkan dengan wilayah lainnya. Sedangkan untuk pertumbuhan penduduk WNA paling tinggi di daerah Kecamatan Balikpapan Barat, hal ini disebabkan peningkatan kegiatan pengembangan di Kawasan Industri Kariangau (KIK). Sesuai gambar 5 Pertumbuhan jumlah keseluruhan penduduk meningkat sebanyak 25.685 jiwa atau 2.45%, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2015 yang sebanyak 736.807 jiwa. Dengan jumlah penduduk demikian, Balikpapan termasuk dalam kategori kota besar.

(25)

b. Tingkat Pendidikan

Gambar 6 berikut ini menggambarkan tentang komposisi penduduk Balikpapan yang dirinci berdasarkan tingkat pendidikannya.

Gambar 6.Tingkat Pendidikan Wa jib Belajar 12 Tahun Kota Balikpapan

Sumber: DISDUKCAPIL Kota Balikpapan, 2016

Berdasarkan tabel 24 pada lampiran DIKPLHD Kota Balikpapan, tingkat pendidikan di Kota Balikpapan untuk usia sekolah wajib belajar yang menjadi program pemerintah telah mencapai 70% dari total jumlah penduduk. Persentase penduduk usia sekolah yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi sebesar 9,7%.

c. Rumah Tangga Miskin

Berdasarkan tabel 26 pada lampiran DIKPLHD Kota Balikpapan, jumlah rumah tangga miskin di Kota Balikpapan sebanyak 3,19%. Jumlah KK miskin terbanyak di Kecamatan Balikpapan Tengah. Gambar 7 berikut ini menginformasikan tentang jumlah rumah tangga miskin di Kota Balikpapan dirinci per kecamatan tahun 2016.

(26)

Sumber: DISDUKCAPIL Kota Balikpapan, 2016

d. Derajat Kesehatan Masyarakat

Berdasarkan tabel 25 pada lampiran DIKPLHD Kota Balikpapan, pola penyakit yang diderita oleh masyarakat Kota Balikpapan per Januari sampai dengan Desember 2016 didominasi oleh penyakit Hipertensi (33,08%), Diare (22,94%), Influenza (15,86%), dan Diabetes Melitus (11,17%). Dari pola ini dapat dilihat bahwa penyakit terbesar yang diderita oleh masyarakat Kota Balikpapan bukan lagi penyakit menular, tetapi lebih kepada penyakit tidak menular yang didominasi oleh penyakit pembuluh darah (Hipertensi) dan Diabetes.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Kementrian Kesehatan mencanangkan melalui Gerakan Masyarakat (GERMAS) yang menitikberatkan kepada tiga kegiatan yaitu, meningkatkan aktifitas fisik, mengkonsumsi sayur dan buah setiap hari, dan deteksi dini penyakit tidak menular dengan jalan melakukan pemeriksaaan kesehatan secara berkala paling tidak setiap enam bulan sekali.

Diharapkan dengan memasyarakatkan GERMAS ini maka masyarakat dapat terhindar atau paling tidak mendeteksi dan menangani secara dini berbagai penyakit tidak menular.

(27)

4. Iklim

Kota Balikpapan yang beriklim tropis memiliki musim yang hampir sama dengan wilayah Indonesia pada umumnya, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober, sedangkan musim penghujan terjadi pada bulan November sampai dengan bulan April. Terjadinya dua musim ini sebagai pengaruh dari angin muson yang bertiup dari daerah khatulistiwa. Keadaan ini terus berlangsung setiap tahun yang diselingi dengan musim peralihan (pancaroba) pada bulan-bulan tertentu.

Berdasarkan tabel 28 pada lampiran DIKPLHD, secara umum Kota Balikpapan beriklim panas dengan suhu udara sepanjang tahun 2016 rata-rata 27,89oC. Dibandingkan dengan Tahun 2015 terjadi kenaikan suhu tahun 2016 sebesar 0,79 %. Secara umum daerah Balikpapan beriklim panas dengan suhu udara sepanjang tahun relatif stabil, berkisar antara 22,70C sampai dengan 34,60C.

Sedangkan kelembapan udara berada pada kisaran kelembaban sedang hingga tinggi, yakni diantara 81%-89%. Hal ini dapat dilihat pada gambar 8 berikut ini.

Gambar 8. Grafik Suhu Udara Rata-Rata Bulanan Kota Balikpapan

Sumber: BMKG Kota Balikpapan, 2016

Berdasarkan tabel 21 pada lampiran DIKPLH, kondisi curah hujan bulanan Kota Balikpapan rata-rata sebesar 190,292 mm dengan curah hujan tertinggi pada

(28)

Balikpapan mengalami peningkatan sebesar 10,69 mm atau 5,9% dibandingkan tahun 2015.

Gambar 9 berikut ini menjelaskan tentang curah hujan rata-rata bulanan di Kota Balikpapan.

Gambar 9. Curah Hujan Rata-Rata Bulanan Kota Balikpapan

0 100 200 300 400 500 600

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des

2015 2016

Sumber: BMKG Kota Balikpapan, 2016

5. Kondisi Kualitas Udara

Menindaklanjuti Pasal 6 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999, Kota Balikpapan melaksanakan pemantauan kualitas udara ambien secara rutin dengan menggunakan metode manual (aktif dan pasif) serta metode otomatis sebagaimana diatur dalam Peraturan Negara Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Udara di Daerah.

a. Pengukuran Kualitas Udara Ambien dengan Metode Manual Aktif menggunakan alatGent Sampler

Berdasarkan kerja sama antara Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) KLHK dengan Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN) BATAN tentang kajian kualitas udara ambien khususnya PM2,5dan PM10 di 17 (tujuh belas) lokasi di Indonesia. Ke 17 lokasi tersebut adalah Ambon, Balikpapan, Bandung, Denpasar, Jakarta, Jayapura,

(29)

Lombok, Makasar, Manado, Medan, Palangkaraya, Pekanbaru, Semarang, Surabaya Kota, Surabaya Provinsi, Tangerang, dan Yogyakarta.

Adapun lokasiGent Sampler di Kota Balikpapan ditempatkan di lantai atas Kantor Dinas Lingkungan Hidup sebagaimana terlihat pada gambar 10 berikut ini.

Gambar 10. LokasiGent Sampler

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

Mengenai hasil uji kualitas udara di Kota Balikpapan pada tahun 2015-2016 adalah sebagai berikut:

1) Hasil uji kualitas udara ambien di Kota Balikpapan menunjukan rentang yang lebar (1-36 µg/m3) dengan nilai rerata PM2,5 masih berada di bawah baku mutu tahunan sebesar 15 µg/m3.

2) Ratio PM2,5 terhadap PM10 memiliki rerata sebesar 0,38 menunjukkan bahwa kontribusi sumber antropogenik diperkirakan sebesar 38%.

3) Kandungan konsentrasi BC juga bervariasi dan secara umum berkontribusi rata-rata sekitar 18% dari konsentrasi massa PM2,5. 4) Dibandingkan dengan pengukuran lokasi lain, konsentrasi maksimum

unsur Vanadium mencapai lima kali lebih besar, hal ini diperkirakan berasal dari proses pembakaran minyak.

5) Konsentrasi logam berat Zn dan Pb di Kota Balikpapan relatif rendah dibandingkan dengan daerah pemantauan lainnya.

(30)

6) Berdasarkan konsentrasi PM2,5 dapat ditunjukkan bahwa kualitas udara Balikpapan masih berkategori baik dan diharapkan dapat dijaga dan dipertahankan.

Data lengkap mengenai laporan yang beraitan dengan pengukuran kualitas udara di Kota Balikpapan tahun 2015-2016 dengan konsentrasi PM2,5 dan PM10

disajikan pada gambar 11 berikut ini.

Gambar 11. Laporan Kualitas Udara Kota Balikpapan

(31)

Sumber: Laporan Kegiatan Bersama 2015 -2016, Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan- BATAN

b. Pengukuran Kualitas Udara Ambien dengan Metode Manual Aktif dengan menggunakan High Volume Air Sampler (HVAS).

Pemantauan kualitas udara ambien lainnya juga dilakukan menggunakan alat High Volume Air Sampler untuk parameter TSP, Sensor Elektronik untuk parameter PM2.5dan PM10, Impinger untuk parameter SO2, NO2, O3, NH3dan H2S dan Elektro Chemical untuk parameter CO, dengan pengambilan sampel pada sembilan titik pantau. Kesembilan titik pantau tersebut adaah sebagai berikut:

(32)

1) Kelurahan Karang Joang (Depan Kantor Kelurahan), Kelurahan Karang Joang pada titik koordinat S : 01°10’44,3” dan E : 116°52’51,34”, merupakan Kawasan Permukiman dan Perkantoran;

2) Kampung Baru Ujung (Depan SMAN 3 Balikpapan), Kelurahan Baru Ulu pada titik koordinat S : 01°13’26,3” dan E : 116°49’01,5”, merupakan kawasan Permukiman

3) Simpang Rapak Plaza, Kelurahan Rapak pada titik koordinat S : 01°14’30,5” dan E : 116°50’07,1”, merupakan kawasan Transportasi;

4) Pelabuhan Semayang, Kelurahan Prapatan, pada titik koordinat S : 01°16’37,7” dan E : 116°50’18,3”, merupakan kawasan Transportasi Laut;

5) Simpang Plaza Balikpapan (Depan Hotel Adhika Bahtera), Kelurahan Klandasan Ilir pada titik koordinat S : 01°16’38,2” dan E : 116°50’18,3”, merupakan kawasan Transportasi;

6) Pertigaan Gunung Malang (Depan PLTD Gunung Malang), Kelurahan Gunung Sari Ulu, pada titik koordinat S : 01°15’44,3” dan E : 116°50’22,1”, merupakan kawasan Industri;

7) TPA Manggar (Jembatan Timbang), Kelurahan Manggar, pada titik koordinat S : 01°12’43,5” dan E : 116°56’26,9”, merupakan kawasan Tempat Pengelolaan Akhir Sampah;

8) TPA Manggar (area outbond), Kelurahan Manggar, pada titik koordinat S : 01°12’45,0” dan E : 116°56’19,4”, merupakan kawasan Tempat Pengelolaan Akhir Sampah untuk fasilitas umum;

9) TPA Manggar (Permukiman Penduduk), Kelurahan Manggar, pada titik koordinat S : 01°12’32,1” dan E : 116°56’20,7”, merupakan kawasan permukiman di sekitar Tempat Pengelolaan Akhir Sampah.

Hasil pemantauan yang diperoleh dari kesembilan titik pantau tersebut berdasarkan parameter kualitas udara ambien selama tiga tahun yaitu tahun 2014 s.d. 2016 adalah sebagai berikut:

(33)

1) Parameter SO2

Gambar 12 berikut ini menunjukkan hasil pengukuran parameter SO2 dari tahun 2014 s.d. 2016.

Gambar 12. Kadar Rata-rata SO2Tahun 2014 – 2016

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

Berdasarkan tabel 30 pada lampiran DIKPLHD dan gambar 12 di atas, hasil pengukuran kadar parameter SO2menunjukkan peningkatan berkisar antara 0,028 mg/l sampai dengan 0,092 atau naik 3,62% dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016, terkecuali kawasan Kelurahan Karang Joang (Depan Kantor Kelurahan), karena belum dilakukan pemantauan. Peningkatan pada tahun 2015 terjadi pada seluruh titik pantau. Hal ini disebabkan pada kawasan Pertigaan Gunung Malang dan Simpang Plaza Balikpapan merupakan kawasan padat lalu lintas, sedangkan dikawasan Pelabuhan Semayang dan kawasan Kampung Baru Ujung meningkat disebabkan adanya aktivitas relokasi terminal peti kemas dari pelabuhan Semayang ke Kaltim Kariangau Terminal di Kariangau serta meningkatnya aktivitas transportasi di jalur arteri primer kota.

Peningkatan SO2 pada kawasan Simpang Rapak Plaza dan Kelurahan

(34)

(HLSM) sebagai akibat fenomena elnino sehingga tingkat curah hujan menurun secara ekstrim yang menyebabkan cuaca panas dan menimbulkan kabut asap. Hal ini juga berdampak pada kawasan lainnya seperti kawasan TPA Manggar (Jembatan Timbang), TPA Manggar (area outbond) dan TPA Manggar (Permukiman Penduduk).

Pada tahun 2016 terjadi peningkatan SO2 meskipun masih dibawah baku mutu udara ambien pada beberapa kawasan yaitu Kelurahan Karang Joang (Depan Kantor Kelurahan), Simpang Rapak Plaza, Simpang Plaza Balikpapan dan kawasan Pertigaan Gunung Malang. Peningkatan ini terjadi karena adanya penambahan penggunaan kendaraan bermotor sebagaimana pada tabel 32 Lampiran DIKPLHD.

2) Parameter NO2

Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan sumber pencemar berupa parameter SO2, NO2, CO2, O3, Hidrokarbon (HC), Timah Hitam (Pb), Total Suspended Partikel (TSP) dan PM10. Selain bersumber dari emisi kendaraan bermotor, sumber pencemarnya dapat pula berasal dari emisi sumber tidak bergerak seperti pembakaran batubara dan minyak dari industri. Parameter NO2

berbanding lurus dengan SO2sehingga memiliki tren yang sama terhadap sumber aktivitas. Gambar 13 berikut ini menginformasikan kadar rata-rata NO2 sebagai berikut.

(35)

Gambar 13. Kadar Rata-rata NO2Tahun 2014 – 2016

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

3) Parameter Pb (Timbal)

Mengenai tren kualitas udara parameter timbal dari tahun 2014 sampai dengan 2016 dikemukakan pada gambar 14 berikut ini.

Gambar 14. Tren Kualitas Udara Parameter Pb Tahun 2014 – 2016

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

(36)

Pengukuran kadar Pb pada tahun 2016, rata-rata di semua lokasi masih jauh di bawah baku mutu, khususnya untuk titik pantau Kantor Kelurahan Karang Joang, area Pelabuhan Laut Semayang, area Simpang Gunung Malang dan area Kampung Baru Ujung dengan hasil uji menunjukkan <0,05µg/l. hal ini berarti kadar parameter Pb ini tidak dapat terdeteksi lagi pada ukuran di bawah <0,05 µg/l atau batas ukur alat maksimal. Pada tahun 2014 kadar parameter Pb (Timbal) tertinggi jika dibandingkan dengan tahun 2015 dan tahun 2016. Kadar Pb terdapat dalam bahan bakar kendaraan premium yang memiliki kadar oktan rendah.

Dari grafik di atas terjadi penurunan kadar parameter Pb pada tiga tahun terakhir. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas gas buang dari sumber emisi bergerak dengan menaikkan nilai oktan, yaitu membatasi penggunaan BBM dengan oktan rendah menjadi pertaseries, dimana premium memiliki nilai oktan 88, pertalite dan pertamax 92. Selain itu akan ditetapkan kebijakan pabrikasi kendaraan bermotor ber BBM pertaseries, dalam rangka melakukan perubahan penggunaan BBM dari premium ke pertaseries (pertamax, pertalite, pertadex dan dexlite).

4) Parameter CO

Tren Kualitas Udara Parameter CO Tahun 2014-2016 divisualisasikan pada gambar 15.

Gambar 15. Tren Kualitas Udara Parameter CO Tahun 2014 – 2016

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

(37)

Gambar 15 menunjukkan pada tahun 2014 kadar CO rata-rata tinggi. Hal ini disebabkan masih banyaknya kendaraan bermotor yang menggunakan BBM Premium dan Solar, dimana BBM jenis ini memiliki nilai oktan rendah yang berpengaruh pada buruknya kualitas gas buang (emisi). Pada tahun 2015 kadar CO tertinggi terdapat pada kawasan Simpang Rapak Plaza dan Plaza Balikpapan karena merupakan persimpangan dan perhentian lampu lalu lintas sehingga gas buang kendaraan bermotor terkonsentrasi pada daerah tersebut. Di sisi lain, terjadi penurunan parameter CO pada tahun 2016 karena adanya kebijakan pemerintah untuk peralihan Premium ke Pertaseries, serta kebijakan Pemerintah Kota Balikpapan untuk kendaraan dinas pabrikasi tahun 2013 sebanyak 117 kendaran diwajibkan menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG).

5) Parameter Hidrokarbon (HC)

Grafik pada Gambar 16 berikut ini menyajikan informasi tentang tren kualitas udara parameter HC Tahun 2014-2016.

Gambar 16. Tren Kualitas Udara Parameter HC Tahun 2014 – 2016

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

Gambar 16 menunjukkan parameter HC tertinggi pada tahun 2014 karena di dalam BBM Premium terkandung hidrokarbon aromatik yang masih banyak

(38)

mengalami penurunan karena adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi penggunaan BBM Premium yang memiliki nilai oktan rendah yang dapat menyebabkan penurunan kualitas gas buang (emisi).

6) Parameter PM10

Kadar rata-rata PM10 Tahun 2014-2016 dapat dilihat pada gambar 17 sebagai berikut.

Gambar 17. Kadar Rata-rata PM10Tahun 2014 – 2016

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

Hasil pengukuran Parameter PM10 tahun 2016 menunjukkan penurunan sebesar 53 %. Penurunan ini terjadi karena sepanjang tahun 2016, tidak terjadi fenomena El Nino yang membawa kekeringan sepanjang tahun dan menyebabkan terjadinya kebakaran lahan dan hutan seperti yang terjadi pada tahun 2015.

Pada tahun 2016 kadar PM10 tertinggi terjadi di kawasan TPA Manggar (Area Outbound) sebesar 50,53% yang disebabkan adanya aktifitas pengangkutan di TPA Manggar pada saat penumpukan sampah di Zona Pembuangan.

Hasil pengukuran kualitas udara ambien dengan metode manual aktif dengan menggunakan high volume air sampler, sensor elektronik, impinger dan elektro chemical secara keseluruhan pada beberapa titik pantau terjadi penurunan kadar parameter yang masih berada di bawah baku mutu kualitas udara ambien

(39)

berdasarkan Permenlh Nomor 12 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Udara di Daerah.

c. Metode Otomatis dan Kontinyu menggunakan APKU

Selain metode manual, dalam pemantauan kualitas udara ambien juga dilakukan dengan metode otomatis dan kontinyu menggunakan Alat Pemantauan Kualitas Udara (APKU) atau Air Quality Monitoring System (AQMS). APKU tersebut ditempatkan pada tiga kawasan, yaitu berada di depan Plaza Balikpapan Jl. Jend Sudirman, depan Rapak Plaza Jl. Soekarno Hatta dan Perumahan Balikpapan Baru. Metode pemantauan otomatis yang dilaksanakan dengan APKU dihitung dari hasil jumlah hari alat berfungsi dalam satu tahun minimal 50%

sebagai dasar informasi yang mewakili kualitas udara di kawasan tersebut.

Gambar 18. Pemantau Kualitas Udara Metode Otomatis APKU

Sumber : DLH Kota Balikpapan, Tahun 2016

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

(40)

Adapun rekapitulasi laporan data APKU Tahun 2014, 2015 dan 2016, yang meliputi lokasi, parameter, jumlah hari kalender, jumlah hari dengan kategori ISPU, jumlah hari dengan pemenuhan BM dan jumlah hari alat beroperasi secara berturut-turut disajikan pada tiga tabel berikut ini.

(41)

Tabel 5. Rekap Laporan Data APKU Tahun 2014

(42)

Tabel 6.Rekap Laporan Data APKU Tahun 2015

Sumber: BLH Kota Balikpapan, 2016

(43)

Tabel 7. Rekap Laporan Data APKU Tahun 2016

Sumber: BLH Kota Balikpapan, 2016

(44)

d. Kualitas Air Hujan

Dalam rangka mendukung data kualitas udara di Kota Balikpapan, Badan Lingkungan Hidup melakukan pemantauan kualitas air hujan di empat kecamatan, yaitu Kelurahan Batu Ampar Kecamatan Balikpapan Utara, Perumahan PGRI Kelurahan Gunung Bahagia Kecamatan Balikpapan Selatan, Kelurahan Manggar Baru Kecamatan Balikpapan Timur dan Kelurahan Mekar Sari Kecamatan Balikpapan Tengah.

Dari hasil pengukuran yang dilakukan seperti yang tergambar pada tabel 29 pada lampiran DIKPLHD dapat disimpulkan:

1) Untuk parameter keasaman air hujan atau pH tiga tahun terakhir menunjukkan masih memenuhi baku mutu yaitu berkisar antara 6,07 – 7,4, hal ini menunjukan tidak terjadi hujan asam di ke empat lokasi titik pantau tersebut. Parameter pH dibawah 6 digunakan sebagai indikator sebagai hujan asam;

2) Untuk parameter Daya Hantar Listrik , DHL tertinggi terjadi di Balikpapan Timur dibandingkan lokasi lain, hal ini mengindikasikan bahwa lebih banyak mineral yang terkandung dalam air hujan di daerah Balikpapan Timur, mengingat kecamatan tersebut merupakan daerah pesisir yang saat dipengaruhi dengan angin laut yang mengandung banyak mineral;

3) Kadar Sulfat, Nitrat, Natrium, Amonium tertinggi terjadi di lokasi Perumahan PGRI Gunung Bahagia Kecamatan Balikpapan Selatan dibandingkan lokasi lain karena lokasi tersebut merupakan kawasan pendidikan padat lalu lintas;

4) Kadar Kalsium pada tahun 2016, tertinggi di Balikpapan Timur, hal ini sebanding dengan kandungan DHL yang juga tiinggi pada daerah tersebut;

5) Hasil analisa Kadar Magnesium < 5 di semua titik pantau, nilai tersebut menunjukkan bahwa alat uji tidak dapat mendeteksi, hal ini berarti kadar magnesium pada air hujan di semua titik pantau sangat kecil.

(45)

6. RTRW Kota Balikpapan (Kawasan Bebas Tambang)

Pada tahun 2009, Pemerintah Kota Balikpapan melakukan survey dan pemetaan geologi, luasan wilayah Kota Balikpapan adalah seluas 503,31 Km2. Dari luasan wilayah tersebut, Kota Balikpapan memiliki potensi batubara yang berada di kawasan hutan lindung.

Walaupun memiliki potensi kandungan batu bara, namun Pemerintah Kota Balikpapan telah menetapkan sebagai Kawasan Bebas Batubara, sebagaimana diatur dalam Peraturan Walikota Balikpapan Nomor 12 Tahun 2013 tentang Penetapan Kota Balikpapan Sebagai Kawasan Bebas Tambang Batubara.

Gambar 19. Peta RTRW Kota Balikpapan

Sumber: BAPPEDA Kota Balikpapan, 2016

7. Fasilitas Perkotaan

a. Pelayanan Sumber Air Minum

Mengenai presentase rumah tangga di Kota Balikpapan berdasarkan sumber air minum dapat dilihat pada gambar 20 berikut ini.

(46)

Gambar 20. Presentase Rumah Tangga Yang Menggunakan Sumber Air Minum Tahun 2016

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, 2016

Berdasarkan tabel 22 pada lampiran DIKPLH dan gambar 2, Rumah Tangga yang memanfaatkan sumber air minum di Kota Balikpapan dengan fasilitas ledeng sebanyak 72,02%. Sedangkan yang memanfaatkan air hujan sebanyak 10,59%, memanfaatkan sumur sebanyak 9,02%, mengkonsumsi air kemasan sebanyak 0,06%, memanfaatkan air sungai sebanyak 0%, dan lainnya seperti hidran umum dan perlindungan mata air sebanyak 8,31%.

Berdasarkan data tersebut di atas jumlah rumah tangga yang belum memanfaatkan sumber air minum dari fasilitas ledeng PDAM sebanyak 27,98%.

Sedangkan yang memanfaatkan air hujan sebanyak 10,59%, dan hidran umum/perlindungan mata air sebesar 8,31%. Apabila ditinjau dari segi kesehatan, air hujan yang dimanfaatkan langsung, dimungkinkan mengandung zat-zat yang telah terkontaminasi. Hal ini dapat menimbulkan berbagai penyakit dan demineungalisasi yang dapat menyebabkan masalah pada gigi.

Dalam rangka pemanfaatan sumber air minum yang layak, Pemerintah Kota Balikpapan akan melaksanakan pembangunan Waduk Teritip sebagai sumber air baku PDAM, mendukung pemberdayaan masyarakat menggunakan Teknologi Tepat Guna (TTG) dan meningkatkan kegiatan dan/atau usaha depo/air minum dalam kemasan yang dikelola oleh pihak swasta.

(47)

b. Sanitasi Perkotaan

Pertumbuhan penduduk Kota Balikpapan pada Tahun 2015 dan Tahun 2016 mencapai diatas 4%. Dengan pertumbuhan penduduk yang pesat perlu dibarengi dengan kecukupan dan ketersediaan fasilitas umum termasuk sanitasi. Sanitasi bertujuan untuk menjaga dan menjamin kebersihan lingkungan hidup mulai dari rumah tangga sampai di lingkungan perumahan, yang diatur dalam Peraturan Daerah Kota Balikpapan Nomor 8 tahun 2016 tentang Pengelolaan Sanitasi.

Kondisi sanitasi lingkungan permukiman dapat dilihat dari tempat pembuangan air besar rumah tangga, diantaranya adalah tempat buang air besar sendiri, bersama, umum dan ada juga rumah tangga yang tidak memiliki tempat buang air besar.

Berdasarkan tabel 23 pada lampiran DIKPLHD, terdapat 83,28% dari total jumlah Kepala Keluarga (KK) yang memiliki fasilitas tempat buang air besar sendiri, sedangkan sisanya sebesar 16,72% menggunakan fasilitas tempat buang air besar bersama. Dari data tersebut menunjukan bahwa penggunaan fasilitas IPAL Komunal, paling banyak di Kecamatan Balikpapan Barat.

Menurut Pusat Data dan Informasi sampai bulan Januari 2017, masyarakat yang sudah memiliki fasilitas tempat buang air besar sudah mencapai 97,13%, sedangkan masyarakat (rumah tangga) yang belum mempunyai sarana buang air besar sekitar 2,87% (6.329 rumah tangga).

Untuk menangani permasalahan ini pada tahun 2017 melalui kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dilakukan hal-hal sebagai berikut:

1) Peningkatan penyediaan sarana Buang Air Besar 2) Verifikasi sarana Buang Air Besar

3) Deklarasi Kelurahan Open Defecation Free (ODF) atau kelurahan yang telah bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS)

(48)

Gambar 21. Fasilitas tempat buang air besar di Kota Balikpapan (Sendiri dan Bersama)

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, 2016

Dalam rangka pengelolaan sanitasi perkotaan, Kota Balikpapan memiliki tiga instalasi pengolah air limbah, yaitu :

1) Instalasi Pengolah Lumpur Tinja (IPLT) dibangun di TPA Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur. Proses pengolahan IPLT dimulai dengan penyedotan tinja dari sumber untuk diproses lebih lanjut di IPLT menjadi pupuk kering.

2) Instalasi Pengolah Air Limbah Komunal yang dikelola oleh pihak swasta (Perum.Regency) sebanyak satu unit dan yang dikelola oleh masyarakat tersebar di 25 RT, dengan kapasitas volume limbah mencapai ± 4.025 m3/hr dengan menampung dari 1.766 KK.

3) Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) terpusat, dibangun dengan pendanaan Bank Dunia (IBRD-Loan 3854-IND) melalui Kalimantan Urban Development Project (KUDP) di Kelurahan Margasari Kecamatan Balikpapan Barat. Instalasi ini mulai dioperasikan pada bulan September tahun 2002 dengan mengolah air limbah dari 1.384 SR di kelurahan Marga Sari, volume limbah mencapai ± 800 m3/hr dan jumlah jam operasi selama 24 jam/hari, adapun standar mutu air olahan (effluent) mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Kehutanan Nomor 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.

(49)

Saat ini pengolahan IPAL Margasari menggunakan proses extended aeration (lumpur aktif) dengan menggunakan sistem perpipaan yang terhubung langsung (offsite). Hasil review dan Update Pra-FS Pengelolaan air limbah system Off-site yang dilakukan oleh PT. SMI dan CDIA pada Tahun 2017, kajian yang dilakukan ditinjau dari berbagai aspek, meliputi aspek sosial ekonomi, lingkungan, teknis serta keuangan, selain itu juga menerapkan konsep penggabungan sistem Onsite dan Offsite serta melakukan pembangunan IPAL baru di dua lokasi yaitu Kelurahan Margomulyo Kawasan Industri Kecil Somber dan Kelurahan Sepinggan Kawasan Perumahan Perusda.

Data sebagaimana dimaksud pada angka 2 dan angka 3 di atas tergambar pada tabel dan gambar di bawah ini.

Tabel 8. Sarana Pengolahan Air Limbah Komunal

Sumber: PDAM dan Bapedda Kota Balikpapan, 2016

Gambar 22. IPLT TPA Manggar No. Tahun

Sarana Pengolahan Air Limbah

PD PAL/IPAL Skala Perkotaan PD PAL/IPAL Skala Komunal Unit Kapasitas (liter

atau m3) Jumlah KK tersambungyang

Unit Kapasitas (liter

atau m3) Jumlah KK tersambungyang

1 2014 1 800 m3 1.374 25 3.375 m3 1.351

2 2015 1 800 m3 1.384 26 3.500 m3 1.404

3 2016 1 800 m3 1.384 30 4.025 m3 1.766

Jumlah Total* 1 800 m3 1.384 30 4.025 m3 1.766

Jumlah Total KK yang terlayani/Jumlah Total KK x 100%**

(50)

Gambar 23. IPAL Komunal yang dikelola oleh pihak swasta (Perum.Regency) dan Masyarakat

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

Gambar 24. IPAL Marga Sari

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

4) Instalasi Pengelolaan Air Limbah Usaha Skala Kecil (IPAL USK)

(51)

Pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah Usaha Skala Kecil (IPAL USK) diperuntukkan dalam rangka memfasilitasi Usaha Skala Kecil (USK) sebagai sarana pengelolaan Air Limbah dari kegiatan tersebut. Sarana ini dibangun di area kegiatan yang terletak di Kawasan Industri Kariangau, Balikpapan Utara, cakupan layanan sebanyak 60 USK dengan ± 300 m3/hr, cakupan layanan untuk kawasan PKL Wiloeyo Poespojoedo sebanyak 10 USK dengan ± 1 m3/hr dan cakupan layanan untuk kawasan PKL RSS Damai III sebanyak 50 USK dengan ± 1 m3/hr, sebagaimana data dibawah ini.

Tabel 9.Instalasi Pengelolaan Air Limbah Usaha Skala Kecil (IPAL USK)

Sumber : DisperindagUMKM, 2016

Gambar 25. IPAL SIKS

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016 No. JenisUSK Nama IPAL Kapasitas

(liter atau m3)

Jumlah USK yang

terlayani

Berfungsi/

Tidak Berfungsi

Penanggung Jawab Pengelolaan

Badan Air

Penerima Lokasi /Alamat 1 Industri

TahuTempe

Sentra Industri Kecil Somber

300 60 Berfungsi UPT SIKS Sungai

Somber Somber Kelurahan BatuAmpar 2 PKL IPAL PKL

Wiloeyo Poespojoedo

1 10 Berfungsi DKPP Sungai

Klandasa n Kecil

Jl. Wiloeyo Poespojoed oBalikpapan 3 PKL IPAL PKL

RSS Damai III

1 50 Berfungsi DKPP Sungai

Sepingga n

Lapangan RSSDamai III

(52)

8. Keanekaragaman Hayati Kota

Keanekaragaman hayati memiliki nilai yang sangat penting karena merupakan aset pembangunan dalam penyediaan pangan, sandang, papan, obat- obatan, bahan baku industri, manfaat jasa lingkungan serta fungsi sosial budaya bagi masyarakat setempat / lokal. Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi keanekaragaman hayati secara menyeluruh mengalami penurunan akibat tekanan berbagai kegiatan pembangunan khususnya kegiatan eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali dan berorientasi jangka pendek. Di pihak lain tekanan jumlah penduduk juga akan mengancam kelestarian ekosistem dan kelestariaan lingkungan hidup. Tekanan keragaman hayati tersebut, hampir terjadi di banyak daerah di Indonesia dan hampir terjadi pada semua tipe ekosistem, termasuk pada kondisi keanekaragaman hayati yang berada di Kota Balikpapan.

Tren peningkatan jumlah spesies flora dan fauna yang ada di Kota Balikpapan dapat terlihat pada gambar 26 berikut ini.

Gambar 26. Jumlah Spesies Flora dan Fauna Kota Balikpapan

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

Berdasarkan Gambar di atas hasil inventarisasi data keanekaragaman hayati Kota Balikpapan pada tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 97,06 % jika dibandingkan tahun 2014, hal tersebut disebabkan pendataan yang dilakukan pada tahun 2014 hanya untuk spesies yang berada di daratan. Pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 10,59 % dengan melakukan pendataan pada

(53)

spesies yang berada di darat dan pesisir. Dari data tersebut spesies dominan adalah jenis tumbuhan, sebesar 64,63% sebagaimana tabel berikut di bawah ini .

Tabel 10.Jumlah Spesies Flora dan Fauna Kota Balikpapan

No Golongan 2014 2015 2016

1 Hewan Menyusui 92 92 99

2 Burung 228 232 263

3 Reptil 22 22 27

4 Amphibi 17 17 17

5 Pisces 17 * 31

6 Crustacea * * 7

7 Mollusca * * 2

8 Echinodermata * * 4

9 Makrobentas * * 26

10 Serangga 126 126 126

11 Tumbuh-tumbuhan 279 1050 1.100

Jumlah 781 1539 1.702

Sumber: DLH Kota Balikpapan, 2016 Keterangan : * = tidak dilakukan inventarisasi

a. Keanekaragaman Jenis Hayati Daratan Kota Balikpapan 1) Keanekaragaman spesies tumbuhan

Jenis tumbuhan yang tercatat paling banyak dari jenis pohon, yaitu sejumlah 1.002 spesies yang merupakan vegetasi karakteristik hutan hujan tropis. Untuk jenis anggrek sebanyak 33 spesies, kantung semar sebanyak tiga spesies, jahe- jahean sebanyak 12 spesies, ekosistem mangrove sebanyak 19 spesies, tingkat pohon sebanyak 16 spesies dan semak sebanyak 15 spesies.

Sebaran jenis flora di sebelah batas Barat Hutan Lindung Sungai Wain Kota Balikpapan dapat terlihat pada gambar 27 berikut ini.

(54)

Gambar 27. Sebaran Jenis Flora di Sebelah Batas Barat HL Sungai Wain

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

2) Keanekaragaman Spesies Hewan

Sebaran Jenis Fauna di Kota Balikpapan (di sebelah batas barat Hutan Lindung Wain), adalah sebagai berikut:

a) Primata

(1) Lutung Dahi Putih (Presbytis frontata) dengan populasi 8 ekor/km2 di das tempadung. Dan Das sungai wain 3 ekor/km2;

(2) Lutung Merah (Presbytis rubicunda) dengan kepadatan 83.33 individu/km2 hasil penelitian BEBSIC di lokasi Pos Pam 5 tahun 2005;

(3) Owa-owa(Hylobates muelleri)dengan kepadatan 25/km2 hasil penelitian BEBSIC di lokasi Pos Pam 5 tahun 2005;

(4) Orang utan(Pongo Pygmaeus);

(55)

(5) Kukang (Nycticebus menagensis ); dan Semua jenis primata tersebut berstatus “Dilindungi UU” di Indonesia dan di luar negeri.

Gambar 28. Sebaran Primata di Sebelah Batas Barat HL Sungai Wain

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

b) Ungulata

Selain itu, juga banyak jenis dari kelompok Ungulata yang memanfaatkan koridor tersebut, seperti Payau (Rusa unicolor), Kijang(Muntiacus atherodes dan Muntiacus muntjak) dan dua jenis Pelanduk (Tragulus kanchil, T. napu). Ini termasuk empat jenis yang dilindungi Undang-Undang di Indonesia.

Lutung Merah Lutung Dahi Putih

Owa-Owa

Bekantan Kukang Orang Utan

(56)

Gambar 29. Sebaran Ungulata di Sebelah Batas Barat HL Sungai Wain

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

c) Karnivora

Jenis karnivora yang memanfaatkan koridor secara rutin sangat banyak dan termasuk jenis yang sangat langka dan dilindungi Undang-Undang. Seperti Macan Dahan (Neofelis diardi) dan empat jenis kucing lain, dan maskot Balikpapan yaitu Beruang Madu (Helarctos malayanus). Hasil penelitian pada tahun 2005 populasi Beruang sebanyak 50-60 ekor denganhome range30-40 km2 oleh Gabriella F. Beberapa ekor dari jenis tersebut punya wilayah jelajah yang meliputi koridor hutan antara HL Sungai Wain dan mangrove/hutan bakau.

Sebagai contoh, tahun ini masih terdapat anak beruang yang terkena jerat di wilayah Tempadung. Kasus ini juga membuktikan bahwa satwa tersebut masih

Pelanduk Rusa Sambar

Kijang

(57)

berkembang biak dalam wilayah koridor. Semua jenis karnivora ini dilindungi dan masuk status IUCN dan CITES yang tinggi.

Gambar 30. Sebaran Karnivora di Sebelah Batas Barat HL Sungai Wain

Sumber : DLH Kota Balikpapan, Tahun 2016

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

9. Konsep Ekologi Kota a. Foresting The City

1) Kawasan Lindung

Terdapat lima lokasi yang ditetapkan sebagai kawasan lindung di Kota Balikpapan, antara lain dijelaskan di bawah ini.

a) Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW)

Keterangan :

= Macan Dahan

= Beruang Madu

= Kucing Hutan

= Kucing Hutan

(58)

berada di sisi barat, yang sebelumnya dikelola oleh PT. Inhutani I. Hutan lindung ini menjadi salah satu hutan khas tropis pantai basah, sehingga mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi, dan merupakan kawasan penyangga yang benar-benar dipertahankan karena sebagai daerah resapan air (catchment area) Waduk Wain Kota Balikpapan.

Gambar 34.

Peta Penambahan Luasan Hutan Lindung Sungai Wain

Sumber : BLH Kota Balikpapan, 2016

Kawasan HLSW ditata dengan sistem blok untuk memudahkan kegiatan pengelolaan dan pengawasan. Adapun pembagian blok pengelolaan terdiri dari:

(1) Blok Inti

Blok inti terdiri dari dua sub blok yaitu Blok Perlindungan Hutan A dan Blok Perlindungan Hutan B. Blok perlindungan Hutan A merupakan kawasan inti dari HLSW yang berupa hutan primer dan tidak pernah mengalami kebakaran, memiliki luas 2.884 ha, blok ini hanya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian dan pengamatan.

Blok Perlindungan Hutan B merupakan kawasan inti dari HLSW yang berupa hutan sekunder yang pernah mengalami kebakaran, memiliki luas 6.165,7 ha, blok ini juga hanya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian dan pengamatan.

(59)

(2) Blok Pemanfaatan

Blok pemanfaatan terdiri dari Blok Kegiatan Terbatas Ekowisata dan blok hutan kemasyarakatan. Blok Kegiatan Terbatas Ekowisata dengan luas 522 ha dimanfaatkan untuk kegiatan ekowisata dan pendidikan secara terbatas dan untuk kegiatan penelitian.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.129/Menhut- II/2011, ditetapkan areal kerja hutan kemasyarakatan seluas 1.400 Ha. Areal ini digunakan sebagai dasar pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) oleh Walikota Balikpapan kepada kelompok masyarakat yang berdomisili di sekitar kawasan hutan lindung Sungai Wain Kelurahan Karang Joang Kecamatan Balikpapan Utara. Izin usaha tersebut diberikan dengan ketentuan maksimal 15 Ha per kepala keluarga. IUPHKm diterbitkan untuk kegiatan pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

(3) Blok Khusus

Berupa kawasan Kebun Raya Balikpapan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekowisata, pendidikan, penelitian, budidaya terbatas dan pemanfaatan air.

Kawasan ini memiliki luas 309,22 Ha yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.68/Menhut-II/2009, Tanggal 26 Februari 2009.

Kebun Raya Balikpapan memiliki ciri khas yakni merupakan kebun raya di Indonesia yang mengoleksi semua tanaman khas Kalimantan. Untuk menunjang pengelolaan kebun raya dibangun beberapa fasilitas pendukung yang persentase bangunan fisik tidak mencapai 10%. Pembangunan Kebun Raya Sungai Wain Balikpapan di Hutan Lindung Sungai Wain tidak bertentangan dengan karena tidak merubah status sebagai hutan lindung dan tujuan utama program ini adalah konservasi dan pengkayaan tumbuhan sehingga jika masyarakat akan melihat Hutan Lindung Sungai Wain cukup berkunjung ke Kebun Raya Sungai Wain Balikpapan.

b) Hutan Lindung Sungai Manggar (HLSM)

(60)

Manggar terdapat Waduk Mangga

Gambar

Gambar 6 berikut ini menggambarkan tentang komposisi penduduk Balikpapan yang dirinci berdasarkan tingkat pendidikannya.
Gambar 9 berikut ini menjelaskan tentang curah hujan rata-rata bulanan di Kota Balikpapan.
Gambar 12 berikut ini menunjukkan hasil pengukuran parameter SO 2 dari tahun 2014 s.d
Gambar 21. Fasilitas tempat buang air besar di Kota Balikpapan (Sendiri dan Bersama)
+7

Referensi

Dokumen terkait

SKPD : Dinas Pertanian Peternakan Kelautan Kota Pekalongan Kegiatan : Pengembangan Pelabuhan Perikanan.. Pekerjaan : Peninggian Lantai Dermaga TPI HPS

DINAS PERTANIAN PETERNAKAN PERIKANAN DAN KEHUTANAN KOTA JAMBI APBD-P

Balikpapan Kubangun, Kujaga, Kubela LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) TAHUN 2013. PEMERINTAH

2 2 Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Jayapura 2 3 Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya yang mempunyai tugas dan fungsi di bidang pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan, serta ketahanan pangan

Berdasarkan data dalam tabel pengukuran capaian kinerja organisasi Disnaker Kota Balikpapan di atas, bahwa persentase pencari kerja terdaftar yang ditempatkan tahun 2021

tipe A, B, dan C); kegiatan-kegiatan hutan produksi, perkebunan, pertanian sawah, pertanian semusim, perikanan, dan peternakan (pada zone tipe B dan C); serta

Kepala Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan Kota Banda Aceh 18.. Kepala Dinas Kelautan Perikanan, Pertanian dan Pangan Kota Lhokseumawe