ARTIKEL
Diajukan Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidilmn Strata Satu
(St)
ZUHELMITA NPM:
l2MO277^/u ffi
PRMRAM
STUDIBIMBINGAN DAII KONSELING SEKOI.AII TINGGI KEGURUAN
DANILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA
BARAT
PADANG2016
T ,,0
y*.u
Bentuk Tingkah Laku Salah Suai Peserta Didik Dilihat dari Teori Psikoanalisis di Kelas X
SMA N 1 Bonjol Pasaman
Zuhelmita *
Rahma Wira Nita, M.Pd.,Kons **
Besti Nora Dwi Putri, M.Pd.,Kons**
*Student
**lecturers
Program Bimbingan dan Konseling, STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACK
The background of this research was the students has maladjustment that can be seen from psychoanalytic theory as students learner to change the subject when prompted by teacher, be childist, students unleashed emotions to others, cheating when an exam to get a high score. Purpose of this research was to describe: 1) Imbalance between was id, ego and superego, 2) Defense mechanism.
Result of this research tells that students maladjustment seen from psychoanalytic theory to categorized much. There are maladjustment from imbalance between id,ego and superego.
Maladjustment from defense mechanism : 1) Repression, 2) Projection, 3) Regression, 4) Fixation, 5) Rationalization, 6) Displacement, 7) Reaction formation. Based on the result of the research it can recommended to counseling and guidance teacher to more understanding student behavior and giving more counseling and guidance service, also to increase students wants which have maladjustment, and until the students did not maladjustment.
Keyword: Maladjusment , Psychoanalytic Theory
Pendahuluan
Setiap manusia memiliki tingkah laku yang berbeda-beda hal ini tergantung pada lingkungan manusia itu berada, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah, yang mana ketiga lingkungan ini termasuk ke dalam lingkungan pendidikan yang akan membantu individu untuk bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku. Kondisi lingkungan akan berpengaruh dalam pembentukan tingkah laku dari seorang individu apakah itu baik atau buruk.
Lingkungan pendidikan merupakan seperti yang tertuang dalam Undang- Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Bab 11 Pasal 2 Tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah “Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta tanggung jawab”.
Tujuan pendidikan nasional tersebut pemerintah, pihak sekolah dan keluarga haruslah bekerjasama agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.
Adanya kerjasama antara pemerintah, pihak sekolah dan keluarga kebutuhan- kebutuhan peserta didik di dalam pendidikan akan terpenuhi. Jika hal ini tidak dilakukan akan terjadi tingkah laku salah suai dari peserta didik. Seperti yang diungkapkan oleh Laura (2010: 287) tingkah laku salah suai adalah perilaku yang menyimpang atau menimbulkan distres pribadi pada waktu yang cukup lama.
Sobur (2009: 339) juga menjelaskan bahwa “tingkah laku salah suai adalah orang yang tingkah lakunya sangat berbeda
1
dari norma yang berlaku dalam suatu masyarakat”.Sedangkan tingkah laku salah suai menurut teori psikoanalisis yaitu sumber kepribadian yang abnormal, Hansen dan Warner (Taufik, 2012: 35) membagi atas dua
yaitu :
a) Ketidaksesuaian dan ketidak efektifan antara kerja id, ego dan super ego.
b) Proses belajar pada masa kanak-kanak yang tidak sesuai atau tidak benar.
Akibat dari ketidak efektifan kerja id, ego dan super ego ini akan menimbulkan kecemasan pada diri individu. Proses belajar pada masa kanak-kanak atau yang tidak benar dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian, karena hal demikian menimbulkan konflik-konflik dalam diri sendri. Orang yang terlalu banyak menggunakan mekanisme pertahanan diri dalam kehidupannya tergolong memiliki kepribadian abnormal (salah suai).
Fakta di lapangan yang peneliti temukan yaitu berdasarkan hasil observasi pada tanggal 15 Oktober terungkap bahwa terdapat peserta didik di sekolah yaitu SMA Negeri 1 Bonjol di kelas X yaitu adanya peserta didik yang belum benar dalam belajar, peserta didik yang mendapat ancaman dari temannya, adanya peserta didik yang takut pada mata pelajaran misalnya pelajaran matematika, peserta didik yang pemalu, peserta didik yang takut bertanya pada saat proses belajar. Selanjutnya wawancara pada tanggal 8 November dengan guru pembimbing terungkap bahwa adanya peserta didik yang menyendiri atau melakukan penolakan terhadap dirinya, peserta didik yang belum mampu menjalin hubungan kerja sama yang baik dalam kelompok belajar.
Peserta didik yang menganggap dirinya paling pintar di sekolah, peserta didik yang membuat onar, memeras temannya. Pada wali kelas informasi yang didapatkan yaitu adanya peserta didik yang melawan kepada guru, menganggap remeh gurunya, adanya peserta didik yang merengek kepada guru agar nilainya bisa
diluluskan, mengantuk dalam jam pelajaran, masih banyak yang takut dalam menyampaikan pendapatnya, tidak sopan kepada gurunya.
Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif, dimana mendiskripsikan suatu gejala, fakta, peristiwa atau kejadian yang sedang atau sudah terjadi apa adanya (Mahmud, 2011: 100)
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang akan menghasilkan data mengenai gejala, fenomena, atau fakta yang diteliti dengan menggunakan data deskriptif dengan kata-kata dan tindakan dari perilaku yang telah diamati.
Penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan hal-hal yang saat ini berlaku.
Penelitian ini tidak menguji hipotesis melainkan hanya mendekripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel yang diteliti. Penelitian ini akan mengungkapkan gambaran mengenai bentuk tingkah laku salah suai peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2016. Adapun tempat atau lokasi untuk melaksanakan penelitian adalah di SMAN 1 Bonjol Pasaman. Adapun alasan peneliti melakukan penelitian di tempat ini karena berdasarkan observasi dan wawancara yang peneliti lakukan banyaknya peserta didik yang melakukan tingkah laku salah suai disebabkan oleh pemikiran peserta didik yang irasional.
Peneliti mengambil sasaran yang akan diteliti yaitu peserta didik kelas X SMAN 1 Bonjol Pasaman. Populasi dari penelitian ini sebanyak 273 orang dan sampel penelitian yaitu sebanyak 73 orang. Untuk pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling.
Jenis data yang digunakan ialah jenis data interval. Menurut Yusuf (2005:133) variable interval adalah antara kategori dalam variable ini dapat diketahui selisih atau jumlahnya dansatuan ukuran mempunyai unit sama. Jadi data yang di intervalkan dalam penelitian ini adalah “ Bentuk Tingkah Laku
Salah Suai Peserta Didik Dilihat dari Teori Psikoanalisis
”.
Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder sejalan dengan pendapat Bungin (2010:132) menjelaskan:a. Data primer adalah data yang diperoleh untuk dikumpulkan langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari laporan-laporan penelitian terdahulu.
Analisis data dilakukan setelah data terkumpul melalui angket. Data yang terkumpul melalui angket dideskripsikan melalui pengolahan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Memeriksa kelengkapan isi instrumen (angket) yang telah diterima dari sampel penelitian.
b) Membuat tabel pengolahan data berdasarkan item pernyataan penelitian yang telah dijawab responden.
c) Mencari dan menghitung jumlah skor serta memasukkan data ke tabel pengolahan.
d) Mencari presentase untuk setiap data atau total skor pernyataan sabyek penelitian dengan rumus presentase yang dikemukakan oleh Yusuf (2005:224) sebagai berikut:
100
N P F
Keterangan : P = Persentase F = Frekuensi n = Jumlah sampel 100 = Bilangan tetap
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, gambaran secara umum persepsi peserta didik tentang bentuk tingkah laku salah suai peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis di kelas X SMA N 1 Bonjol terdapat 3 dari 73 peserta didik (4,1%) yang termasuk kategori sangat banyak, 35 dari 73 peserta didik (47,9%) termasuk kategori banyak, 28 dari 73 peserta didik (38,4%)
termasuk kategori sedang, 7 dari 73 peserta didik (9,6%) termasuk kategori sedikit dan tidak terdapat peserta didik berada pada kategori sangat sedikit
.
Keterangan di atas mengungkap bahwa identifikasi masalah serta keterangan yang peneliti dapatkan selama melakukan observasi terhadap sebelumnya benar adanya. Bahwa bentuk tingkah laku salah suai peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis berada pada kategori banyak.
1. Ketidakseimbangan Antara Kerja Id, Ego dan Superego
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, gambaran secara umum ketidakseimbangan kerja id,ego dan superego berada pada kategori sedang.
a. Indikator Id
Berdasarkan hasil penelitian yang
sudah dilakukan, gambaran
ketidakseimbangan antara kerja id,ego dan superego dari aspek id terdapat 9 orang dari 73 orang peserta didik dalam kategori sangat banyak (12,33%), kategori banyak berjumlah 16 dari 73 peserta didik (21,92%), kategori sedang berjumlah 25 dari 73 peserta didik (34,24%), kategori sedikit berjumlah 23 dari 73 peserta didik (31,51%) namun tidak ada satu orang pun yang berada dalam kategori sangat sedikit.
Berdasarkan hasil pengolahan data
dapat disimpulkan bahwa
ketidakseimbangan kerja id,ego dan superego terkait dengan id di kelas X SMAN 1 Bonjol Pasaman berada pada kategori sedang. Dan jika ini dibiarkan terjadi, tentunya peserta didik akan selalu melakukan tingkah laku salah suai agar keinginannya bisa terpenuhi tidak perduli dengan orang di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh pemikiran pesrta didikn yang irasional
Menurut Taufik (2012:7) struktur kepribadian terdiri dari id,ego, dan superego. Id merupakan lapisan psikis yang paling dasar atau dapat juga dikatakan sebagai dorongan dari dalam diri individu berupa kebutuhan, keinginan.
Sedangkan ego merupakan menggerakkan
seseorang berinteraksi dengan lingkungan secara nyata, ego yang menjadi perantara.
b. Indikator Ego
Berdasarkan hasil penelitian yang
sudah dilakukan, gambaran
ketidakseimbangan antara kerja id,ego dan superego dari aspek ego terdapat 10 orang dari 73 orang peserta didik dalam kategori sangat banyak (13,70%), kategori banyak berjumlah 18 dari 73 peserta didik (24,66%), kategori sedang berjumlah 24 dari 73 peserta didik (32,88%), kategori sedikit berjumlah 21 dari 73 peserta didik (28,76%) namun tidak ada satu orang pun yang berada dalam kategori sangat sedikit.
Berdasarkan hasil pengolahan data
dapat disimpulkan bahwa
ketidakseimbangan kerja ego di kelas X SMAN 1 Bonjol Pasaman berada pada kategori sedang.
Jika tingkah laku salah suai ini dapat diatasi oleh guru BK, guru mata pelajaran dan peserta didik itu sendiri, tentunya tidak akan ada lagi peserta didik yang melakukan tingkah laku salah suai, dan peserta didik lebih bisa untuk berfikiran dan memandang segala sesuatu secara rasional. Dan peserta didik juga lebih bisa untuk menjalankan kegiatan belajar sehari- hari dengan lebih efektif dan bertanggung jawab sebagai peserta didik.
Menurut Ellis (Hartono, 2012: 133)
“Manusia memiliki kecenderungan untuk berfikir secara irasional, kebiasaan untuk merusak diri, berfikir yang sia-sia, dan tidak toleransi terhadap lingkungannya.
Hal ini akan semakin kuat jika lingkungan dimana mereka adapendukungnya”.
c. Indikator Superego
Berdasarkan hasil penelitian yang
sudah dilakukan, gambaran
ketidakseimbangan antara kerja id,ego dan superego dari aspek superego ada 11 orang dari 73 orang peserta didik dalam kategori sangat banyak (15,07%), kategori banyak berjumlah 33 dari 73 peserta didik (45,21%), kategori sedang berjumlah 21 dari 73 peserta didik (28,77%), kategori sedikit berjumlah 8 dari 73 peserta didik (10,95%) namun tidak ada satu orang pun yang berada dalam kategori sangat sedikit.
Berdasarkan hasil pengolahan data
dapat disimpulkan bahwa
ketidakseimbangan superego di kelas X SMAN 1 Bonjol Pasaman berada pada kategori banyak. Jika hal ini dibiarkan terjadi, tentunya akan banyak peserta didik yang tidak memperhatikan tujuannya hanya mementingkan hasil akhir dari keinginannya. Peserta itulah yang diakibatkan oleh pemikiran peserta didik yang irasional. Dan jika ini dibiarkan terjadi, tentunya akan banyak peserta didik yang melakukan tingkah laku salah suai akibat pemikiran yang irasional.
Menurut Almighwar (2006: 190)
“tingkah laku bermasalah yang kuat atau tingkah laku salah suai adalah tingkah laku yang muncul akibat adanya rasa tidak enak, rasa tercekam, rasa tertekan yang didorong oleh faktor-faktor yang kontradiktif dalam diri seseorang, yang secara kuat pula menimbulkan berbagai tindakan mengundurkan diri secara berlebihan atau agresif yang berlebihan”.
2. Bentuk Mekanisme Pertahanan Diri
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, gambaran secara umum bentuk mekanisme pertahanan diri berada pada kategori banyak.
a. Indikator Represi
Berdasarkan hasil pengolahan data yang penulis lakukan, secara umum dapat diungkapkan bahwa mekanisme pertahanan dari aspek represi ada 13 orang dari 73 orang peserta didik dalam kategori sangat banyak (17,81 %), kategori banyak berjumlah 24 dari 73 peserta didik (32,88%), kategori sedang berjumlah 14 dari 73 peserta didik (19,17%), kategori sedikit berjumlah 22 dari 73 peserta didik (30,14%) namun tidak ada satu orang pun yang berada dalam kategori sangat sedikit.
Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa bentuk mekanisme pertahanan diri terkait dengan represi di kelas X SMAN 1 bonjol Pasaman berada pada kategori banyak. Jika
hal ini dibiarkan maka akan banyak peserta didik yang melakukan penekanan, itulah yang diakibatkan oleh pemikiran peserta didik yang irasional. Dan jika ini dibiarkan terjadi, tentunya akan banyak peserta didik yang melakukan tingkah laku salah suai akibat pemikiran yang irasional.
Menurut Taufik (2012:21) mekanisme pertahanan diri timbul akibat tidak terpenuhinya kebutuhan id oleh ego sehingga memanipulasi kenyataan yang ada sehingga pada dirinya timbul kecemasan dan ketegangan. Untuk meredakan ketegangan tersebut, ia menampilkan tingkah laku yang tidak sesuai dengan kenyataan
.
b. Indikator Proyeksi
Berdasarkan hasil pengolahan data yang penulis lakukan, secara umum dapat diungkapkan bahwa mekanisme pertahanan dari aspek proyeksi ada 11 orang dari 73 orang peserta didik dalam kategori sangat banyak (15,07 %), kategori banyak berjumlah 32 dari 73 peserta didik (43,84%), kategori sedang berjumlah 18 dari 73 peserta didik (24,66%), kategori sedikit berjumlah 12 dari 73 peserta didik (16,43%) namun tidak ada satu orang pun yang berada dalam kategori sangat sedikit.
Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa bentuk mekanisme pertahanan diri di kleas X SMAN 1 Bonjol Pasaman berada pada kategori banyak. Dan apabila tingkah laku peserta didik seperti melindungi dirinya dari karakter sendiri, maka akan berdampak buruk bagi dirinya. Hal ini disebabkan karena pemikiran yang rasional.
c. Indikator Fiksasi
Berdasarkan hasil pengolahan data yang penulis lakukan, secara umum dapat diungkapkan bahwa mekanisme pertahanan dari aspek fiksasi ada 16 orang dari 73 orang peserta didik dalam kategori sangat banyak (21,92 %), kategori banyak berjumlah 29 dari 73 peserta didik (39,72%), kategori sedang berjumlah 10 dari 73 peserta didik (13,70%), kategori sedikit berjumlah 15 dari 73 peserta didik
(20,55%) dan kategori sangat sedikit berjumlah 3 dari 73 (4,11 %).
Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa bentuk mekanisme pertahanan diri terkait dengan fiksasi di kleas X SMAN 1 Bonjol Pasaman berada pada kategori banyak. . Jika hal ini dibiarkan maka akan banyak peserta didik yang tidak berani untuk melangkah ke depan. Dan jika ini dibiarkan terjadi, tentunya akan banyak peserta didik yang melakukan tingkah laku salah suai akibat pemikiran yang irasional.
Menurut Elida Prayitno (2006: 140)
“Tingkah laku bermasalah peserta didik dapat dikelompokkan menjadi tingkah laku yang melanggar hukum, merusak dan menghancurkan kehidupan orang lain, menghancurkan diri sendiri, dan menghancurkan alam sekitar”.
d. Indikator Regresi
Berdasarkan hasil pengolahan data yang penulis lakukan, secara umum dapat diungkapkan bahwa mekanisme pertahanan dari aspek regresi ada 6 orang dari 73 orang peserta didik dalam kategori sangat banyak (8,22 %), kategori banyak berjumlah 24 dari 73 peserta didik (32,88%), kategori sedang berjumlah 33 dari 73 peserta didik (45,21%), kategori sedikit berjumlah 9 dari 73 peserta didik (12,33%) dan kategori sangat sedikit berjumlah 1 dari 73 (1,36%).
Jika hal ini dibiarkan terjadi, tentunya akan banyak peserta didik yang merasa dijauhi oleh lingkungan sekitarnya. Peserta didik yang merasa diacuhkan ini, itulah yang diakibatkan oleh pemikiran peserta didik yang irasional. Dan jika ini dibiarkan terjadi, tentunya akan banyak peserta didik yang melakukan tingkah laku salah suai akibat pemikiran yang irasional.
Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa bentuk mekanisme pertahanan diri terkait dengan regresi di kelas X SMAN 1 Bonjol Pasaman berada pada kategori sedang.
e. Indikator Rasionalisasi
Berdasarkan hasil pengolahan data yang penulis lakukan, secara umum dapat diungkapkan bahwa mekanisme
pertahanan dari aspek rasionalisasi ada 15 orang dari 73 orang peserta didik dalam kategori sangat banyak (20,55%), kategori banyak berjumlah 26 dari 73 peserta didik (35,62%), kategori sedang berjumlah 17 dari 73 peserta didik (23,28%), kategori sedikit berjumlah 13 dari 73 peserta didik (17,81%) dan kategori sangat sedikit berjumlah 2 dari 73 (2,74 %).
Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa bentuk mekanisme pertahanan diri terkait dengan rasionalisasi di kelas X SMAN 1 Bonjol Pasaman berada pada kategori banyak. Jika hal ini dibiarkan maka akan banyak peserta didik yang mencari alasan yang dibenarkan agar bisa diterima oleh orang lain. Dan jika ini dibiarkan terjadi, tentunya akan banyak peserta didik yang melakukan tingkah laku salah suai akibat pemikiran yang irasional
Menurut Taufik (2012:21) mekanisme pertahanan diri timbul akibat tidak terpenuhinya kebutuhan id oleh ego sehingga memanipulasi kenyataan yang ada sehingga pada dirinya timbul kecemasan dan ketegangan. Untuk meredakan ketegangan tersebut, ia menampilkan tingkah laku yang tidak sesuai dengan kenyataan.
f. Indikator Displacement
Berdasarkan hasil pengolahan data yang penulis lakukan, secara umum dapat diungkapkan bahwa mekanisme pertahanan dari aspek displacement ada 9 orang dari 73 orang peserta didik dalam kategori sangat banyak (12,33%), kategori banyak berjumlah 36 dari 73 peserta didik (49,31%), kategori sedang berjumlah 20 dari 73 peserta didik (27,40%), kategori sedikit berjumlah 4 dari 73 peserta didik (5,48%) dan kategori sangat sedikit berjumlah 4 dari 73 (5,48 %)
Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa bentuk mekanisme pertahanan diri terkait dengan displacement di kelas X SMAN 1 Bonjol Pasaman berada pada kategori banyak. Jika peserta didik selalu menunjukkan sikap yang seperti ini, peserta didik tidak akan berkembang dan dirinya pun akan rendah
tidak diterima oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh pemikiran yang irasional.
g. Indikator Pembentukan Reaksi
Berdasarkan hasil pengolahan data yang penulis lakukan, secara umum dapat diungkapkan bahwa mekanisme pertahanan dari aspek pembentukan reaksi ada 5 orang dari 73 orang peserta didik dalam kategori sangat banyak (6,85%), kategori banyak berjumlah 31 dari 73 peserta didik (42,47%), kategori sedang berjumlah 24 dari 73 peserta didik (32,88%), kategori sedikit berjumlah 10 dari 73 (13,70%) sangat sedikit berjumlah 3 dari 73 (4,11 %).
Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa bentuk mekanisme pertahanan diri terkait dengan pembentukan reaksi di kelas X SMAN 1 Bonjol Pasaman berada pada kategori banyak. Jika peserta didik selalu menunjukkan sikap yang seperti ini, peserta didik tidak akan berkembang dan dirinya pun akan rendah tidak diterima oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh pemikiran yang irasional.
Menurut Elida Prayitno (2006: 140)
“Tingkah laku bermasalah peserta didik dapat dikelompokkan menjadi tingkah laku yang melanggar hukum, merusak dan menghancurkan kehidupan orang lain, menghancurkan diri sendiri, dan menghancurkan alam sekitar”.
Kesimpulan dan Saran a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa bentuk tingkah laku salah suai peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis di kelas X SMAN 1 Bonjol sebagai berikut:
1. Bentuk tingkah laku salah suai peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis secara keseluruhan berada pada kategori banyak.
2. Ketidakseimbangan antara kerja id,ego dan superego berada pada kriteria sedang, terlihat dari hasil indikator sebagai berikut :
a. Ketidakseimbangan antara kerja id,ego dan superego terkait dengan id berada pada kategori sedang.
b. Ketidakseimbangan antara kerja id,ego dan superego terkait dengan ego berada pada kategori sedang.
c. Ketidakseimbangan antara kerja id,ego dan superego terkait dengan superego berada pada kategori banyak.
3. Mekanisme pertahanan diri berada pada kategori banyak, terlihat dari hasil indikator sebagai berikut :
a. Mekanisme pertahanan diri peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis terkait dengan represi berada pada kategori banyak.
b. Mekanisme pertahanan diri peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis terkait dengan proyeksi berada pada kategori banyak.
c. Mekanisme pertahanan diri peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis terkait dengan fiksasi berada pada kategori banyak.
d. Mekanisme pertahanan diri peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis terkait dengan regresi berada pada kategori sedang
e. Mekanisme pertahanan diri peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis terkait dengan rasionalisasi berada pada kategori banyak
f. Mekanisme pertahanan diri peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis terkait dengan displacement berada pada kategori banyak
g. Mekanisme pertahanan diri peserta didik dilihat dari teori psikoanalisis terkait dengan pembentukan reaksi berada pada kategori banyak
b. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diberikan beberapa saran kepada:
1. Peserta Didik, diharapkan agar peserta didik bisa meminimalisir tingkah laku salah suai yang banyak dilakukan oleh peserta didik diantaranya cemburu bila
teman dekat berteman dengan orang lain, cabut dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung, peserta didik yang takut pada mata pelajaran tertentu, peserta didik yang pemalu.
2. Guru BK, diharapkan kepada guru BK dapat menjadi informan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik dan dapat memahami karakter peseta didik yang terkait dengan bentuk tingkah laku salah suai yang banyak dilakukan diantaranya menyendiri atau melakukan penolakan terhadap dirinya, belum mampu menjalin hubungan kerjasama yang baik dalam kelompok kerja, cabut dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung, suka mengingkari janji dengan teman dan malas melaksanakan piket kelas.
3. Guru Mata Pelajaran, diharapkan untuk dapat mengatasi tingkah laku salah suai yang banyak dilakukan oleh peserta didik diantaranya menganggap dirinya paling pintar di sekolah, membuat onar di sekolah, memeras temannya, cabut dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung, suka mengingkari janji dengan teman dan malas melaksanakan piket kelas, sehingga pembelajaran di sekolah dapat berjalan optimal.
4. Wali Kelas, diharapkan untuk dapat mengatasi tingkah laku salah suai yang banyak dilakukan oleh peserta didik diantaranya menyendiri atau melakukan penolakan terhadap dirinya, belum mampu menjalin hubungan kerjasama yang baik dalam kelompok kerja, cabut dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung, suka mengingkari janji dengan teman dan malas melaksanakan piket kelas.
5. Kepala Sekolah, agar dapat bekerjasama dengan pihak guru, orang tua, dan masyarakat sekitar untuk mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang kondusif tanpa adanya tingkah laku salah suai yang dilakukan oleh peserta didik, diantaranya menyendiri atau melakukan penolakan terhadap dirinya, belum mampu menjalin hubungan kerjasama yang baik dalam kelompok kerja, cabut dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung,
suka mengingkari janji dengan teman dan malas melaksanakan piket kelas.
6. Pengelola Program Studi BK, hendaknya
meningkatkan mutu dalam
mengembangkan dan meningkatkan kualitas calon guru BK yang akan mamasuki dunia kerja baik di lapangan maupun di sekolah secara profesional.
7. Peneliti selanjutnya, melalui penelitian ini diharapkan bisa menjadi pedoman dan acuan untuk meneliti lebih lanjut dengan variable yang berbeda khususnya bentuk tingkah laku salah suai peserta didik dilihat dari teoi psikoanalisis
.
Kepustakaan
Almighwar, Muhammad. 2006.
PsikologiRemaja. Bandung:
Pustaka Setia
Bungin, Burhan. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif . Jakarta: Kencana.
Hartono. 2012. Psikologi Konseling. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Mahmud. 2011. Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia
Prayitno, Ellida. 2006. Psikologi
Perkembangan Remaja. Padang:
Angkasa Raya
Sobur, Alex. 2009. Psikologi Umum . Bandung: Pustaka Setia.
Taufik. 2012. Model-model Konselng.
Padang: FIP UNP.
Yusuf A. Muri. 2005. Metodologi Penelitian.
Padang: UNP Press.