Nama : A. Nabil Ihsan Ahmad
NIM : 2230100027
Kelas : Magister KPI Non Reguler C
Mata Kuliah : Kajian Dakwah Tekstual dan Kontekstual Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Dindin Sholahudin, MA., CHRA
DINAMIKA DAKWAH DI INDONESIA
A. Problematika Dakwah di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang terkenal karena pluralitas atau kemajemukannya. Hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki berbagai suku, budaya, bahasa serta agama yang beraneka ragam. Keanekaragaman atau perbedaan yang terjadi tersebut tidak jarang menimbulkan adanya suatu konflik. Konflik yang sering terjadi biasanya dikarenakan adanya perbedaan etnis, agama, latar belakang sosial, ekonomi dan politik. Konflik perbedaan agama merupakan salah satu konflik yang seringkali terjadi di Indonesia. Istilah plural itu sendiri sering diartikan sebagai keberagaman, jamak, atau hal yang terdiri dari banyak atau beberapa jenis.
Pluralitas merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari di tengah masyarakat. Di dalam Al Quran surah al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman:
َّنِا ۚ اْوُ فَراَعَ تِل َلِٕىۤاَبَ قَّو ابًْوُعُش ْمُكٓنْلَعَجَو ىٓثْ نُاَّو ٍرَكَذ ْنِ م ْمُكٓنْقَلَخ َّنَِّا ُساَّنلا اَهُّ يَآيٰ
َّنِاۗ ْمُكىٓقْ تَا ِٓ للّا َدْنِع ْمُكَمَرْكَا
ٌْيِبَخ ٌمْيِلَع َٓ للّا
Artinya: “Wahai manusia, sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku- suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa”.
Kehidupan masyarakat yang plural atau tidak lepas dari adanya perbedaan, merupakan tantangan tersendiri dalam melakukan dakwah. Dalam hal kemanusiaan, dakwah dapat dijadikan sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat untuk menghargai keberadaan kelompok- kelompok lain selain umat Islam yang perlu diberi ruang gerak dalam menjalankan kegiatan keagamaan mereka masing-masing. Dakwah harus melibatkan dialog bermakna yang penuh kebijakan, perhatian, dan kesabaran. Hanya jika audiens memiliki hati dan telinga yang terbuka untuk menerima.
Pendekatan dakwah yang cukup tepat untuk menghadapi masyarakat plural ialah pendekatan dakwah kultural. Dakwah kultural adalah dakwah yang bersifat akomodatif terhadap nilai budaya tertentu secara inovatif dan kreatif tanpa menghilangkan aspek substansial agama.
Dakwah kultural menjelaskan bahwa dakwah itu sejatinya adalah membawa masyarakat agar
mengenal kebaikan universal, kebaikan yang diakui oleh semua manusia tanpa mengenal batas ruang dan waktu.
Dakwah Islam dalam pembinaan masyarakat pluralisme kehidupan kebersamaan harus menjadi acuan dasar dalam kegiatan dakwah lainnya. Kebersamaan memiliki arti penting untuk mengatur hak dan kewajiban masyarakat dalam menggapai cita-cita. Sesama pemeluk agama yang sama/sejenis maupun agama yang berbeda telah kerjasama, bahu membahu, bergotong royong, hidup berdampingan secara harmonis, suasana damai, tentram, dan kondusif. Kondisi masyarakat hidup secara kasih sayang dan masing-masing kelompok pemeluk agama telah diberi kebebasan beribadah sesuai dengan keyakinannya tanpa ada gangguan dan ancaman sedikitpun.
Dengan kebebasan hidup akan lebih dinamis, tidak terkungkung, dan merupakan hak dasar bagi kehidupan yang akan mengangkat harkat kehidupan. Lebih dari itu bahwa tindakan dalam kebebasan hidup yaitu: bebas melakukan adat kebiasaan yang baik, bebas berpegang teguh pada kebiasaan mereka, dan mengakui sesuatu hal yang baik kebiasaan dalam menyelesaikan perselisihan di antara mereka.
B. Dakwah dan Kemiskinan
Peran dakwah dalam kaitannya dengan masalah kemiskinan sangat penting dalam upaya mengatasi ketimpangan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dakwah tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga berupaya untuk memberdayakan individu dan komunitas dalam mencapai kemandirian ekonomi. Berikut ini beberapa aspek peran dakwah dalam mengatasi masalah kemiskinan:
1. Pendidikan Ekonomi
Dakwah dapat menyediakan pendidikan ekonomi kepada masyarakat yang kurang beruntung, terutama dalam hal manajemen keuangan, pengelolaan bisnis, dan keterampilan pekerjaan. Dengan memperoleh pengetahuan dan keterampilan ini, individu dapat meningkatkan peluang mereka dalam menciptakan dan mengelola sumber daya ekonomi mereka secara efektif.
2. Pemberdayaan Ekonomi
Dakwah dapat mendorong masyarakat untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM) serta koperasi. Melalui bimbingan dan dukungan teknis, dakwah dapat membantu individu dalam memulai dan mengelola bisnis mereka sendiri. Pemberdayaan ekonomi ini memberikan peluang bagi individu untuk mengurangi ketergantungan pada bantuan sosial dan mencapai kemandirian ekonomi.
3. Zakat dan Infak Sedekah
Dakwah mempromosikan konsep zakat dan infak sedekah sebagai sarana mengatasi kemiskinan. Dakwah dapat memberikan pemahaman yang kuat tentang pentingnya memberikan zakat dan infak sedekah secara rutin, serta mengedukasi masyarakat tentang penggunaan dana yang tepat untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Allah berfirman:
ُٓ للّاَو ۗ
ْمَُّلِ ٌنَكَس َكَتوٓلَص َّنِا ۗ
ْمِهْيَلَع ِ لَصَو اَِبِ ْمِهْيِ كَزُ تَو ْمُهُرِ هَطُت اةَقَدَص ْمِِلِاَوْمَا ْنِم ْذُخ ٌمْيِلَع ٌعْيَِسَ
Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS.
At-Taubah: 103)
هِلْوُسَر ىٓلَع ُٓ للّا َء ۤاَفَا ااَم ٖ
ْنِم ِلْهَا ىٓرُقْلا ِهٓ لِلَف ِلْوُسَّرلِلَو ىِذِلَو
ٓبْرُقْلا ىٓمٓتَ يْلاَو ِْيِكٓسَمْلاَو ِنْباَو
ِلْيِبَّسلا ْيَك َل َنْوُكَي
اةَلْوُد َْيَب ۢ ِءۤاَيِنْغَْلا ْۗمُكْنِم ااَمَو ُمُكىٓتٓا ُلْوُسَّرلا ُهْوُذُخَف اَمَو ْمُكىَٓنَ
ُهْنَع ۚاْوُهَ تْ ناَف اوُقَّ تاَو َٓ للّا ۗ َّنِا َٓ للّا ُدْيِدَش ِباَقِعْلا
Artinya: “Harta rampasan (fai') dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Dalil ini menunjukkan pentingnya zakat dalam membersihkan harta benda dan mengalirkannya kepada mereka yang membutuhkan. Dakwah dapat memainkan peran penting dalam mengedukasi masyarakat tentang kewajiban zakat dan pentingnya memberikan zakat secara rutin untuk mengurangi kemiskinan. Demikian juga pentingnya infak sedekah sebagai bentuk kepedulian terhadap mereka yang tidak memiliki apa-apa.
Dakwah dapat mengingatkan umat Muslim untuk menghargai keberkahan rezeki dengan memberikan infak sedekah kepada mereka yang membutuhkan.
4. Kemitraan dan Jaringan
Dakwah dapat membangun kemitraan dan jaringan dengan lembaga keuangan mikro, yayasan, atau organisasi sosial lainnya. Kolaborasi ini dapat memberikan akses ke modal, pelatihan, dan dukungan teknis bagi individu yang ingin memulai usaha kecil. Melalui kemitraan ini, dakwah dapat memperluas dampaknya dalam mengatasi kemiskinan.
5. Pemberdayaan Perempuan
Dakwah dapat memainkan peran penting dalam pemberdayaan perempuan dalam konteks ekonomi. Melalui program pendidikan dan pelatihan, dakwah dapat membantu perempuan untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk
memasuki pasar kerja atau memulai bisnis sendiri. Hal ini berkontribusi pada pengurangan kemiskinan perempuan dan peningkatan kesejahteraan keluarga.
6. Penyuluhan Kewirausahaan
Dakwah dapat menyelenggarakan program penyuluhan kewirausahaan untuk masyarakat yang berada dalam lingkungan ekonomi rendah. Program ini memberikan pengetahuan dasar tentang kewirausahaan, strategi bisnis, dan pengelolaan keuangan.
Penyuluhan ini dapat menginspirasi dan memberdayakan individu untuk melihat peluang ekonomi baru dan mengatasi kemiskinan.
7. Kesadaran Sosial dan Solidaritas
Dakwah dapat membangun kesadaran sosial tentang tanggung jawab kita terhadap orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Melalui ceramah, khutbah, dan kegiatan sosial, dakwah dapat mempromosikan nilai-nilai solidaritas dan kepedulian terhadap sesama manusia, mendorong individu untuk membantu mereka yang kurang beruntung dan mengatasi kemiskinan.
Allah berfirman:
اًرْي ِذْبَت ْر ِذَبُت اَ
ل َو ِلْيِب َّسلا َنْباَو َنْي ِك ْس ِمْ
لا َو ٗه َّق َح ىٰب ْر ُقْ لا ا َذ ِتٰ
ا َو ٢٦
Artinya: “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Isra: 26)
Dalil ini menekankan pentingnya memberikan bantuan kepada keluarga, orang miskin, dan mereka yang membutuhkan. Dakwah dapat membimbing umat Muslim untuk mengembangkan sikap empati dan kepedulian terhadap sesama serta berperan aktif dalam mengatasi kemiskinan. Melalui peran dakwah yang holistik dan terintegrasi dalam aspek ekonomi, sosial, dan spiritual, diharapkan masalah kemiskinan dapat teratasi secara berkelanjutan. Penting untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan kemandirian ekonomi dan memberdayakan masyarakat dalam menghadapi tantangan kemiskinan.
C. Dakwah dan Konflik Kebangsaan
Dakwah, sebagai upaya penyebaran ajaran agama, memainkan peran sentral dalam konteks dinamika konflik kebangsaan. Di Indonesia, dakwah sering menjadi elemen penting yang mencerminkan identitas agama dan budaya dalam masyarakat yang beragam. Meskipun sebagian besar dakwah bertujuan untuk menyebarkan pesan damai dan toleransi, beberapa bentuk dakwah dapat memperburuk ketegangan dan memicu konflik kebangsaan.
Pada tingkat yang lebih luas, dakwah dapat terlibat dalam politik identitas, di mana kelompok agama tertentu menggunakan ajaran agama sebagai dasar untuk membangun solidaritas kelompok dan, dalam beberapa kasus, merongrong kesatuan nasional. Konflik kebangsaan yang melibatkan dakwah sering kali timbul karena adanya perbedaan interpretasi agama, kompetisi politik, atau ketegangan ekonomi.
Namun, dakwah juga dapat berperan sebagai pemersatu, terutama ketika pendakwah mempromosikan dialog antaragama, toleransi, dan inklusivitas. Oleh karena itu, pemahaman konteks lokal dan upaya untuk mengarahkan dakwah menuju rekonsiliasi dan integrasi menjadi krusial dalam meredakan potensi konflik kebangsaan dan membangun kerukunan dalam masyarakat yang beraneka ragam.
Dalam keadaan suatu masyarakat yang majemuk pluralis seperti Indonesia, maka sustu strategi dakwah perlu disiapkan untuk mencapai keberhasilan dakwah Islam. Kegiatan dakwah dimana pun pada hakekatnya merupakan ikhtiar melanjutkan risalah yang dibawa Nabi Muhammad. Setiap juru dakwah di mana pun berada wajib menyadari dengan sungguh-sungguh, walau pun tugas risalah dan dakwah Islam adalah untukmendatangkan rahmat bagi seluruh alam, namun dalam realitasnya pengembangan dan aktivitas dakwah banyak mengalami hambatan dan tantangan ketika diterapkan. Oleh karena itu perlu adanya strategi-strategi tersendiri untuk keberhasilan suatu dakwah.
Ketika agama dihadapkan pada problematika zaman baik sosial maupun lingkungan seperti saat ini, yang disinyalir sebagai krisis global, dalam era dunia yang serba absurd dan tidak menentu, dengan segala kompleksitas permasalahannya terutama yang berkaitan dengan hubungan toleransi antar maupun inter agama, dibutuhkan da’i-da’i yang tercerahkan yang mampu menampilkan Islam secara kaffah baik dalam segi eksoteris maupun esoterisnya.
Da’i yang tercerahkan menurut Ali Syariati, yaitu da’i yang memiliki ciri antara lain:
a. Memiliki sikap pluralis, sehingga mampu memandang suatu kebenaran agama dalam tataran universal-holistik, dengan sikap al-hanafiyyatu al-samhah sebagai porosnya, dan mau serta mampu untuk melakukan dialog dalam rangka ta’alau ila kalimatin sawa’ dengan pihak lain.
Sehingga Islam dapat diterima dalam konteks antar-lintas mazhab dan aliran.
b. Memiliki diskursus keilmuan yang komprehensif dalam bidang-bidang sosial kemasyarakatan, bukan hanya sekedar memiliki dogma akidah-tauhidiyyah yang minim dengan dalil-dalil normatif-subyektif yang membentuk skema fikih- sentris yang selama ini menjadi “senjata sakti” kebanyakan mubaligh.
c. Memiliki wawasan keilmuan/pemikiran dan daya empiris yang luas dan kuat, sehingga premis-premis dan postulasi yang dikeluarkannya berdaya ilmiah dan mampu membawa umat
pada dimensi ulil absar, bukan sekedar mendakwahkan surga- neraka serta hal-hal yang membatalkan shalat mereka.
d. Mempunyai daya kepekaan sosial dan wawasan lingkungan yang cukup, yang dapat menimbulkan ghirah intelektual yang mapan, bukan sekedar intelegensia yang marginal.
e. Selalu intens dengan perkembangan-perkembangan baru dalam skala nasional maupun internasional dan mampu mentransformasikannyapadaumatdengantanpamenimbulkan kegelisahan atau perpecahan umat itu sendiri.
D. Dinamika Dakwah Politik di Indonesia
Dakwah dan dinamika dakwah politik di Indonesia menggambarkan keterlibatan ajaran agama dalam arena politik, menciptakan landasan bagi partisipasi aktif para pendakwah dan kelompok keagamaan dalam proses pembuatan kebijakan dan politik nasional. Dinamika ini mencerminkan kompleksitas hubungan antara agama dan politik di Indonesia, sebuah negara yang heterogen secara agama dan budaya. Beberapa pendakwah dan kelompok keagamaan terlibat dalam politik sebagai upaya untuk memperjuangkan nilai-nilai agama mereka atau untuk memengaruhi kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan agama. Fenomena ini dapat dilihat dalam terbentuknya partai politik berbasis agama dan keterlibatan kelompok keagamaan dalam gerakan sosial atau kampanye politik.
Berbicara tentang dakwah politik di Indonesia, maka tidak akan terlepas dari pembahasan partai-partai Islam yang ada di Indonesia. Partai-partai Islam di indonesia merupakan representasi dari umat Islam yang dakwahnya bergerak dalam bidang politik.
Pada era reformasi muncul partai-partai politik Islam dengan formasi yang tidak bertentangan dengan ideologi negara. Terdapat banyak partai Islam atau partai yang berbasis dukungan umat Islam, seperti Partai Persatuan Pembangnunan (PPP), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Ummat Islam (PUI), Partai Masyumi Baru, Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Nahdhatul Ummat (PNU), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan yang lainnya.
Ada beberapa kelompok berpandangan bahwa, Islam diperjuangkan melalui jalur politik.
Artinya bahwa perlunya menggunakan atribut Islam unutuk menegakkan hukum-hukum Islam melalui jalur politik. Sedangkan kelompok yang kedua mempunyai kepercayaan bahwa, untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi Islam tidak mesti dengan jalan politik, karena politik identik dengan banyaknya perilaku yang tidak bermoral.
DAFTAR PUSTAKA
Anas, Ahmad. (2006) Paradigma Dakwah Kontemporer, Semarang: Walisongo Press IAIN Walisongo.
Arib, Maqbul.2014. “Dakwah Di Tengah Keragaman Dan Perbedaan Umat Islam” dalam Jurnal Dakwah Tabligh, Vol. 15, No. 1, (hlm 35-49)
Hasmawati, F. (2018). Ekonomi Kerakyatan Berbasis Potensi Lokal. Yonetim: Jurnal Manajemen Dakwah, 1(1), 62-76.
Hilabi, A. (2023). Dakwah Lingkungan Sebagai Alternatif Dalam Menyelesaikan Masalah Perubahan Iklim. Syiar: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, 3(1), 1-8.
Ningsih, Yusria dan Aflika, Ulul.2019. “Dakwah di Tengah Heterogenitas Masyarakat dan Perbedaan Umat” dalam Proceeding of International Conference on Da’wa and Communication, Vol.1, No.1 (hlm 285-290)
Saeufin, J. (2018). Dinamika Islam Politik Dan Islam Kultural Di Indonesia. Jurnal Indo- Islamika, (8)1.