DINASTI MANCHU (QING), DINASTI ASING KEDUA YANG BERKUASA DI TANAH TIONGKOK
Kartiko Bagas Swasono Pramudita 21406241020
Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta [email protected] Abstrak
Sejarah Asia Timur akan selalu menjadi kajian yang menarik untuk dibahas.
Kajian tersebut akan membahas lebih mendalam mengenai Asia Timur di masa lampau, yang meliputi wilayah Cina, Jepang, dan Semenanjung Korea. Dari ketiga wilayah tersebut, wilayah Cina memiliki peradaban yang maju. Cina sendiri dikuasai beberapa dinasti, salah satunya adalah Dinasti Manchu atau juga dikenal sebagai Dinasti Qing (dalam beberapa literatur juga disebut Ch’ing).
Dinasti ini adalah dinasti bangsa asing kedua yang menguasai daratan Cina. Saya memilih membahas mengenai Dinasti Manchu karena dinasti ini merupakan era terakhir yang mana sistem monarki berkuasa di Cina sehingga akan banyak hal yang dapat diambil. Paper ini akan dibahas mengenai Dinasti Manchu secara lengkap, mulai dari letak, sejarah berdiri, kondisi dinasti dalam berbagai bidang, masa kejayaannya, serta masa keruntuhannya.
Kata kunci: Dinasti Manchu, Kondisi dinasti, Masa kejayaan, Keruntuhan dinasti
I. PENDAHULUAN a. Letak Geografis
Dinasti Manchu berkuasa selama hampir 3 abad. Selama berkuasa, dinasti tersebut menguasai beberapa wilayah, diantaranya wilayah China Proper atau wilayah Cina dalam dan The Outlying Section atau meliputi wilayah Mongolia, Manchuria, Sinkiang, serta Tibet. Pusat pemerintahan Dinasti Manchu ini berada di Kota Beijing.
Kekuasaan Dinasti Manchu tidak hanya berdampak pada wilayah Tiongkok/Cina daratan yang meliputi China Proper dan The Outlying Section.
Dinasti Manchu juga memengaruhi wilayah sekitar seperti Nepal, Birma (Myanmar), Laos, Siam (Thailand), Annam, Korea, dan Ryukyu. Pada masa berkuasa Dinasti Manchu pula, wilayah Cina menjadi berkembang. Cina saat itu sudah mempunyai hubungan internasional dengan orang-orang Eropa yang datang, mereka utamanya berasal dari Portugis, Inggris, Prancis, dan Spanyol.
b. Gambaran Umum
Dinasti Manchu merupakan dinasti kekaisaran terakhir di Tiongkok. Dinasti ini adalah dinasti dari bangsa asing kedua setelah Dinasti Yuan yang pernah menguasai daratan Cina. Selama kurang lebih tiga abad pemerintahannya, Dinasti Manchu menjadi urutan keempat kekaisaran terbesar dalam sejarah. Pada abad ke- 19, dinasti menghadapi serangan dari Inggris, Prancis, Rusia, Jerman, dan Jepang.
Pada 1912, dengan jumlah populasi 432 juta, Cina di bawah Dinasti Manchu menjadi negara terpadat di dunia ketika itu. Akan tetapi, tidak lama kemudian, Dinasti Manchu runtuh pada tahun yang sama.
Menjelang akhir dinasti Ming, pemberontakan terjadi di seluruh Cina. Begitu pun dengan pasukan Manchuria di Asia Timur Laut juga melawan Dinasti Ming dari tahun 1616. Pasukan Manchuria tersebut menduduki kota-kota di perbatasan utara Cina. Pada tahun 1636, Huang Taiji mengumumkan berdirinya Dinasti Qing di Shengjing. Berdirinya dinasti saat itu belum menandakan kekuasaannya Dinasti Qing/Manchu.
Tanda supremasi Dinasti Manchu adalah setelah Beijing jatuh ke tangan Li Zicheng, pemimpin pemberontak pada tahun 1644 dan Kaisar Ming terakhir yakni Chongzhen ketika langsung memutuskan untuk bunuh diri. Peristiwa ini menandai berakhirnya dinasti Ming, dan Li Zicheng mendirikan dinasti Shun. Namun, kemudian pada tahun yang sama, Tentara Manchuria melancarkan invasi besar- besaran ke Beijing untuk mengalahkan Li Zicheng.
Kemudian, saat itulah Dinasti Manchu menunjukkan kekuasaannya atas daratan Tiongkok dan mendeklarasikan penerus dinasti Ming. Shunzhi kemudian menjadi kaisar Tiongkok pertama dari orang-orang Manchu pada 1644 dan Beijing menjadi pusat pemerintahan dari Dinasti Manchu.
II. PEMBAHASAN a. Bidang Pemerintahan
Dinasti Manchu mempunyai bentuk pemerintahan monarki dengan dipimpin oleh kaisar dan didampingi seorang perdana menteri. Kaisar Dinasti Manchu yang pertama adalah Shunzhi atu sering juga disebut Shun Chih. Ia berkuasa dalam kurun waktu 1644-1662. Setelah Shun Chih, ada sembilan kaisar lain yang melanjutkan tonggak pemerintahan Dinasti Manchu.
Di era Shun Chih, kerajaan masih bertugas untuk membangun dinasti agar lebih kuat. Apalagi pada awal pemerintahannya, terdapat pemberontakan yang dilakukan Wu San Kuei dan Li Tsu Cheng. Pemberontakan tersebut berhasil dikalahkan, akhirnya Li Tsu Cheng ikut bergabung dengan Dinasti Manchu.
Sedangkan Wu San Kuei memilih untuk tetap melawan dengan segelintir sisa dari keluarga Dinasti Ming, namun akhirnya juga berhasil dikalahkan.
Kebijakan pemerintahan Shun Chih yaitu pejabat tinggi dalam pemerintahan dijabat seorang bangsa Tiongkok dan seorang lagi bangsa Manchu. Lalu negara dibagi menjadi 18 provinsi, sehingga pada saat itu ia sudah menerapkan otonomi daerah. Sistem ujian bagi calon pegawai pemerintahan juga dilaksanakan. Dan yang terakhir, melarang orang “kebiri” (penjaga harem) untuk duduk dalam pemerintahan.
Setelah Shun Chin meninggal pada tahun 1662, kepemimpinan beralih pada Kang Hsi. Di awal pemerintahannya, Kang Hsi berhasil menumpas lawan-lawan
politiknya. Penumpasan tersebut terjadi karena tak lama setelah Kang Hsi menjabat, tepatnya 1673, meletus Pemberontakan San Fu (Pemberontakan 3 Raja Muda.
Ketiga pemberontakan yang berhasil dikalahkan pada 1681 itu yaitu Pemberontakan Wu San Kuei di Kanton, Pemberontakan Keng Ching Chung di Fukien, dan Pemberontakan Shang Chih Hsin di Kwangtung. Semasa pemerintahan Kang Hsi, Dinasti Manchu mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, sastra, dan ekonomi. Ketika itu juga, Kang Hsi juga memiliki politik luar negeri yang aktif.
Kang Hsi lalu digantikan oleh Yung Cheng pada 1723, namun ia dianggap tidak pandai dalam memimpin, walaupun sebenarnya ia mampu memberi kontribusi pada bidang ekonomi. Yung Cheng wafat pada 1735 dan akhirnya digantikan oleh Chien Lung (Qianlong) satu tahun setelahnya. Di bawah kepemimpinannya ini, Dinasti Manchu berjaya untuk kedua kali setelah sebelumnya berjaya di era Kang Hsi. Chien Lung terkenal dengan ekspansi wilayah dan ia berhasil membuat bidang dagang, pertanian, dan sastra maju.
Akhir dari kekuasaan Chien Lung sendiri mempunyai tanda-tanda kemunduran Dinasti Manchu. Chien Lung sendiri berhenti berkuasa pada 1796, dan digantikan oleh Jiaqing. Pada masa Jiaqing, Dinasti Manchu atau Qing mengalami kemunduran dengan banyaknya pejabat terjerat korupsi dan ekspansi bangsa-bangsa Eropa. Jiaqing berhenti bertahta pada 1820 setelah ia jatuh sakit dan meninggal.
Jiaqing digantikan oleh Daoguang pada tahun yang sama setelah ia meninggal. Pada masa Daoguang terjadi gejolak dalam negeri maupun luar negeri dengan adanya Perang Candu I dan Pemberontakan Tai Ping yang muncul diakhir masa kekuasaannya. Perang Candu I diakibatkan dilarangnya peredaran opium olehnya. Akibat Perang Candu I, Dinasti Manchu melalui Perjanjian Nanking 1842 kehilangan Hong Kong yang diserahkan pada Inggris.
Daoguang juga merupakan orang yang anti Kristen, hingga ia juga membuat kebijakan untuk membunuh para misionaris yang menyebarkan agama Kristiani di daratan Tiongkok. Ia meninggal pada 1850 dan digantikan putra sulungnya, Xianfeng di tahun tersebut.
Tidak beda jauh dengan masa Jiaqing dan Daoguang, masa Xianfeng juga merupakan kemunduran bagi Dinasti Manchu. Korupsi masih terus merajalela dan imperialisme barat semakin gencar. Perang Candu II terjadi pada masanya, Manchu pada perang ini tidak hanya melawan Inggris yang protes penyitaan kapal mereka, namun juga Prancis yang murka akibat pembunuhan misionaris mereka pada masa pemerintahan ayahnya.
Xianfeng sendiri juga bukan pemimpin berwibawa, ia suka minum, narkoba, dan sering menghabiskan waktu dengan para selir dan menonton opera. Di masanya muncul perjanjian yang membuat malu Tiongkok, menjadikan Tiongkok di bawah Manchu menjadi negara semi-kolonial, yaitu Perjanjian Tianjin (1858) dan Konvensi Beijing (1860).
Xianfeng meninggal pada 1861 dan digantikan oleh Kaisar Tongzhi. Kaisar Tongzhi bertahta dari 1861-1875 dan berkuasa di bawah bayang bayang Ibunya,
Cixi, yang kelak mendukung pemberontakan Boxer. Tongzhi mempunyai ide stabilisasi dan pembaharuan Tiongkok, namun gagal. Ia meninggal pada 1875.
Sepeninggal Tongzhi, pemimpin Dinasti Manchu diteruskan oleh Kaisar Guangxu yang memerintah 1875-1908. Tidak banyak yang ditorehkan olehnya.
Reformasi Seratus Hari adalah kebijakannya yang gagal setelah kudeta oleh Ibu Suri Cixi, yang saat itu masih punya pengaruh kuat. Ia mangkat pada 1908 dan digantikan oleh Puyi.
Puyi yang dikenal sebagai Kaisar Xuantong. Ia menjadi kaisar ketika berumur 2 tahun. Pada masa pemerintahannya pun tidak berpengaruh apa-apa dan ia diturunkan pada 1912 setelah revolusi Tiongkok. Ia dikenal sebagai The Last Emperoratau Kaisar Terakhir.
b. Bidang Ekonomi
Kebijakan ekonomi terlihat jelas hanya pada masa Kaisar Kang Hsi dan Kaisar Chien Lung (Qianlong). Meski sebenarnya pada era Yung Cheng pun juga terjadi peningkatan ekonomi, tetapi dua kaisar tersebut punya kebijakan yang jelas.
Pada masa Kang Hsi, perekonomian difokuskan pada bidang pertanian. Kang Hsi banyak membuat lahan tani yang baru serta bantuan kepada petani masif dilakukan.
Bantuannya berupa pemberian bibit tanaman, pemberian peralatan tani, dan sosialiasi petani oleh para ahli pertanian. Selain itu, irigasi juga diperhatikan dan melakukan pengeringan rawa serta penanaman pohon murbei digalakkan.. Kang Hsi juga membentuk Co-Hong, yaitu kelompok saudagar kaya untuk memonopoli perdagangan asing. Perdagangan internasional dilakukan dengan Inggris dan Rusia.
Sedangkan pada masa Chien Lung (Qianlong), perdagangan dengan bangsa asing seperti Portugis, Belanda, Amerika Serikat, dan Jerman dilakukannya.
Macao dan Kanton ketika itu menjadi pusat dagangnya. Pada pertanian, ia juga tak kalah dengan Kang Hsi. Ia mengambil alih lahan yang tak terurus untuk pertanian dan juga membantu petani agar panennya menjadi lebih banyak.
Akhirnya kemakmuran ekonomi berhasil dicapainya dan penduduk pada eranya meningkat hingga dua kali lipat.
c. Bidang Sosial Politik
Dalam sosial politik, Dinasti Manchu lebih terlihat pada kebijakan Shun Chih, Kang Hsi, dan Chien Lung (Qianlong). Pada masa Shun Chih, Lalu diberlakukan kebijakan orang Tiongkok harus berkucir untuk membedakan dengan orang Manchu, hal ini menimbulkan diskriminasi sosial. Tiongkok di bawah Dinasti Manchu era Shun Chih menjalin hubungan bilateral dengan Belanda, di buktikan dengan Belanda yang mengirim utusan yang di pimpin oleh Pieter De Goyer dan Jacob De Keyser tahun 1656 M.
Kang Hsi pun melakukan yang sama pada Rusia. Hal ini dibuktikan dengan diadakannya Perjanjian Nerchinsk pada 1689 M. Perjanjian tersebut berisi batas kedua negara yang ditandai dengan Sungai Amur. Sedangkan pada masa Chien Lung (Qianlong), ekspansi politik ke wilayah lain sering dilakukan.
Ekspansi dilakukan ke Kulja pada 1755 M, lalu empat tahun setelahnya mengalahkan bangsa Turki Muslim di Kasygar serta Yarkand. Pada kurun 1765-
1769 M, Manchu juga mengekspansi Birma dan Tibet serta menjadikan semenanjung Korea sebagai koloni.
d. Peninggalan Kebudayaan
Kebudayaan Dinasti Manchu berkembang pesat pada era Kang Hsi dan Qianlong. Ilmu pengetahuan, seni, dan sastra mendapat sokongan penuh dari kedua kaisar ini. Kang Hsi sendiri selain kaisar juga seorang sastrawan.
Peninggalan sastra dan pengetahuan di era Kang Hsi sendiri di antaranya:
Kitab Logat Kang Hsi (Kang Hsi Tse Tien), Ensiklopedia 5.000 jilid, Cerita Impian di Paseban Merah (The Dream of Red Chamber/Hung Lew Meng), dan Edic Suci yang menjadi pegangan hidup bangsa saat itu. Lalu Chien Lung (Qianlong) juga meninggalkan karya sastra seperti Sajak Eligi dan Kitab Ontologi bernama “Zse Ku Chuan Su”.
Kitab Ontologi ini dibuat oleh 15.000 penulis dalam kurun 1782-1790 M (8 tahun). Terdiri dari 3462 buku, 26.000 kodi, dan 79.582 pasal. Kita ini terdiri dari empat bab. Bab I mengenai komentar Kung Fu Tse, Bab II berisi Ilmu Pengetahuan dan Filsafat, Bab III tentang hikayat, dab Bab IV berisi Ilmu Sastra.
Lau peninggalan kebudayaan dari Dinasti Manchu (Qing) ini juga dapat dilihat pada era kini, seperti Desa Huitong yang ada di Kota Zhuhai. Selain Desa Huitong, juga ada kompleks pemakaman kerajaan barat Dinasti Qing di Provinsi Hebei.
Terdapat empat kaisar yang dimakamkan di sana, seperti Yung Cheng, Jiaqing, Daoguang, dan Guangxu.
e. Masa Kejayaan
Dinasti Qing baru menguasai seluruh daratan Tiongkok di bawah Kaisar Kang Hsi setelah melenyapkan keturunan Dinasti Ming pada tahun 1664 M. Di masa Kang Hsi pula, Dinasti Manchu mengalami kejayaan. Kaisar Kang Hsi memberlakukan kebijakan yang menguntungkan para petani. Rahasianya adalah mengurangi beban pajak, mengurangi kebutuhan pemerintah, dan mencegah korupsi.
Kaisar Kang Hsi juga berhasil memadamkan ancaman militer, menumpas pemberontakan Han, menaklukkan Taiwan, dan menghentikan invasi Kekaisaran Rusia. Perjanjian 1689 dengan Rusia memungkinkan Kaisar Kang Hsi untuk membawa Siberia di bawah kendali Tiongkok.
Dinasti Manchu juga makmur selama pemerintahan Kaisar Yung Cheng (1723-1735 M), dan Kaisar Ch’ieng Lung (1735-1796 M). Kaisar Yung Cheng memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan ekonomi negaranya, meskipun banyak kontroversi yang mengganggu pemerintahannya, dan beberapa literatur menyebut Yung Cheng tidak cakap dalam memerintah. Chieng Lung terkenal dengan kesuksesannya dalam operasi militer dan ekspansi perluasan wilayah.
f. Runtuhnya Kerajaan
Kemunduran Dinasti Manchu tak lepas dari beberapa peristiwa, diantaranya:
Gerakan Teratai Putih, Perang Candu I dan II, Pemberontakan Tai Ping, negara Barat/Eropa yang melakukan eksploitasi, Perang Tiongkok-Jepang, dan yang terakhir adalah Gerakan Boxer.
1. Gerakan Teratai Putih
Gerakan ini bermula pada akhir masa pemerintahan Chien Lung (Qianlong). Terdiri dari orang-orang yang ingin mengembalikan kejayaan Dinasti Ming dan mereka orang yang anti Dinasti Manchu. Mereka memberontak pada 1793 M di lembah Yang Tse. Pada 1810 M, gerakan ini berhasil ditundukkan.
2. Perang Candu I dan II
Perang Candu I (1839-1842 M) diakibatkan pembatasan jumlah Opium yang masuk ke Tiongkok. Perang disebabkan aksi pedagang Inggris yang diam-diam tetap memasarkan opium ke Tiongkok ketika Dinasti Manchu berupaya untuk mengatasi krisis kecanduan. Dalam pertempuran tersebut, China kalah melawan Inggris hingga kekecewaan muncul di kalangan bangsa Han terhadap bangsa Manchu.
Pada 1843 M, Inggris kembali berulah dengan memasukkan candu ke daratan Tiongkok secara lebih masif hingga pada 1856 M meletus Perang Candu II. Inggris pada perang ini dibantu Prancis karena Prancis juga murka misionarisnya dibunuh oleh Dinasti Manchu. Perang ini berakhir pada 1858 M dengan Perjanjian Tianjin.
3. Pemberontakan Tai Ping
Terjadi bersamaan ketika Perang Candu II. Pemberontakan ini dipimpin oleh Hung Hsiu Ch’uan, seorang petani Kristen. Penyebab pemberontakan ini adalah ketidakpercayaan rakyat pada Dinasti Manchu saat itu, rakyat yang menderita karena Perang Candu II, timbul semangat nasionalisme Tiongkok, dan Kristen yang semakin berkembang. Pemberontakan ini kalah pada 1864 M di Nanking.
4. Eksploitasi negara Eropa
Masuknya negara Eropa di daratan Tiongkok saat itu juga berdampak pada kedaulatan Dinasti Manchu. Negara Eropa ingin menjadikan Tiongkok/Cina sebagai koloninya. Dan hal tersebut sedikit demi sedikit terjadi ketika gesekan antara Dinasti Manchu dan Bangsa Eropa banyak dimenangkan oleh Bangsa Eropa.
5. Perang Tiongkok-Jepang
Perang yang berlangsung pada 1894-1895 disebabkan ketertarikan Jepang terhadap wilayah Korea untuk memindahkan penduduk Jepang yang mulai padat, lalu Korea juga kaya bahan mentah untuk industri. Selain itu pemberontakan terhadap Dinasti Manchu di Korea membuat Jepang mengirim pasukannya atas permintaan pemberontak. Meski pemberontakan berhasil ditumpas, Jepang tidak mau menarik pasukan dan terjadilah perang, dan perang berakhir dengan kemenangan Jepang ditandai munculnya Perjanjian Shimonoseki pada 17 April 1895 M.
6. Gerakan Boxer
Pemberontakan ini dilakukan pertama kali oleh para petani miskin di wilayah Tiongkok Utara. Kemiskinan yang merajalela ketika itu menjadi penyebab pemberontakan. Sasaran dari pemberontakan adalah bangsa asing yang menduduki daratan Tiongkok (ketika itu legitimasi Dinasti Manchu mulai melemah dan mulai tunduk pada bangsa asing). Pemberontakan ini
didukung oleh Ibu Suri Cixi dan 11 tahun setelah pemberontakan, terjadi revolusi Tiongkok yang membuat Dinasti Manchu resmi jatuh.
III. KESIMPULAN a. Kesimpulan
Dinasti Manchu (Qing) yang berkuasa hampir 300 tahun akhirnya runtuh akibat gejolak dari dalam maupun luar negeri. Keruntuhan dinasti yang pada awalnya kuat diakibatkan oleh pemimpinnya sendiri yang kurang cakap. Lalu ekspansi negara-negara Barat juga menjadi hal penyebab runtuhnya dinasti ini.
Meski pun sebelum jatuh, dinasti ini sempat merasakan kejayaan di era dua kaisar hebat, Kang Hsi dan Qianlong. Di bawah keduanya, Dinasti Manchu dapat menjadi negara yang lebih modern dan punya latar ekonomi serta politik yang kuat. Namun, setelah kedua kaisar ini turun, kondisi Dinasti Manchu menjadi kurang stabil.
Beberapa pemberontakan dan perang menjadi penyebabnya. Di tambah lagi dengan pejabat-pejabat tinggi yang korupsi dan tidak kompeten. Di tengah kekacauan tersebut, muncul bangsa Barat yang memanfaatkan momentum ini.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa Dinasti Manchu yang pernah mencapai puncak kejayaan runtuh karena bangsa Barat yang pintar memanfaatkan kondisi yang tidak kondusif Dinasti Manchu akibat ulah pemimpin mereka yang tidak cakap dalam memerintah.
b. Nilai-Nilai Refleksi
Nilai-nilai yang dapat diambil adalah ketika bangsa sendiri tidak dapat mengelola negara dengan baik, maka tak ayal dapat dimanfaatkan oleh bangsa lainnya dan dapat membuat kemunduran negara secara perlahan. Sehingga kita sebagai warga negara yang baik, mari kita membangun negeri secara sebaik- baiknya. Tindak korupsi yang dilakukan oleh pejabat Dinasti Manchu juga dapat kita pembelajaran bahwa tindakan korupsi dapat membuat negara menjadi runtuh secara perlahan.
Daftar Pustaka
Agung, L. (2006).Sejarah Asia Timur 2. Surakarta: UNS Press.
Arfani, Faisal. (2019).Pemberontakan Boxer: Sentimen Anti-Asing yang Bikin Cina Gelagapan Pemberontakan. Diakses melalui
https://tirto.id/pemberontakan-boxer-sentimen-anti-asing-yang-bikin- cina-gelagapan-ehBF
Cheng Qinhua. (1997). Tales of the Forbidden City, Bejing: Foreign Languages Press.
Ells, Frederick. (2019).A History of China. (Terjemahan, Ahmat Asnawi).Temanggung: Desa Pustaka Indonesia.
Lestari Ningsih, Widya. (2021). Dinasti Qing: Sejarah, Masa Kejayaan, dan Keruntuhan. Diakses melalui
https://www.kompas.com/stori/read/2021/07/29/133000379/dinasti-qing- sejarah-masa-kejayaan-dan-keruntuhan?page=allPada 1 Juni 2022 Pukul 16.50.
Rawski, Evelyn S (2001).The Last Emperors: A Social History of Qing Imperial Institutions. University of California Press.