Nama : Patricia Ananda Uwais Lbs
NIM : 221000116
Kelas : B
Mata Kuliah : Dasar Epidemiologi Dosen Pengampu : drh. Rasmaliah M.Kes Tugas
1. Distribusi penyakit malaria 2. Distribusi penyakit demam tifoid 3. Distribusi penyakit hipertensi 4. Distribusi penyakit kanker serviks 5. Distribusi penyakit chikungunya Jawaban
1. Distribusi penyakit malaria a. Orang (Person)
Umur
Penyakit malaria terjadi pada kelompok usia 15-60 tahun sebagai kelompok umur produktif. Kasus tertinggi pada kelompok usia 15-44 tahun (66 kasus) dengan Plasmodium vivax sebagai spesies yang sering ditemukan (58 kasus).
kasus terendah terjadi pada kelompok usia >60 tahun (2 kasus) dan hanya ditemukan spesies P. vivax (2 kasus). Untuk kelompok usia 0-14 tahun tidak ditemukan kejadian penyakit malaria.
Penduduk yang mempunyai risiko tinggi untuk tertular malaria adalah pada kelompok umur 1-5 dan ibu hamil. Itulah sebabnya direkomendasikan skrining parasit malaria rutin untuk semua ibu hamil.
Anak usia di bawah 5 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terkena malaria. Menurut World Health Organization, 274.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal karena malaria.
Ras
Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap malaria. Penduduk yang terdapat hemoglobin S (Hb S) ternyata lebih tahan terhadap akibat dari infeksi P falciparum. Hb Sterdapat pada penderita dengan kelainan darah yang merupakan penyakit
turunan/herediter yang disebut sikcle cell anemia, yaitu suatu kelainan di mana sel darah merah penderita berubah bentuknya mirip arit apabila terjadi penurunan tekanan oksigen udara.
Cara Hidup
Cara hidup sangat berpengaruh terhadap penularan malaria. Misalnya : tidur tidak memakai kelambu, tidak menggunakan obat anti nyamuk dan senang berada di luar rumah pada malam hari. Sosial ekonomi Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang bertempat tinggal di daerah endemis malaria erat hubungannya dengan infeksi malaria, misalnya kondisi perumahan, pakaian yang layak, dan pendidikan.
Jenis Pekerjaan
Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Simpenen Kabupaten Sukabumi menggantungkan sebagian besar pendapatan ekonomi keluarga pada aktivitas tambang emas, baik yang berada di sekitar Sukabumi maupun di luar
Sukabumi. Ketika pekerja tambang emas tersebut melakukan aktivitas tambang di luar pulau Jawa dan daerah tersebut endemis malaria, besar kemungkinan terjadi penularan terhadap pekerja.
Pekerja tambang yang positif malaria banyak yang melakukan aktivitas tambang emas dari daerah Aceh (58kasus) dengan P. vivax sebagai spesies yang sering ditemukan (50 kasus) dan terendah dari daerah Kalimantan, Papua. dan Sumbawa (1 kasus) dengan spesies yang ditemukan adalah P.
vivax.
Untuk mengetahui spesies Plasmodium yang dominan terjadi di suatu daerah dan pada waktu tertentu dilakukan perhitungan Parasite Formula. Spesies Plasmodium yang dominan ditemukan pada pekerja tambang yang berasal dari Simpenen Kabupaten Sukabumi adalah P. vivax (88,8%).
b. Tempat (Place)
Di tahun 2018 diperkirakan terdapat 228 juta kasus malaria secara global dan 94%
kasus ditemukan di daerah Afrika. Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax merupakan spesies parasit yang paling banyak menimbulkan malaria. Berdasarkan data WHO, pada tahun 2018 50% kasus malaria di Asia Tenggara disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan 53% disebabkan oleh Plasmodium vivax. Insidensi malaria global menurun dari 75 kasus menjadi 57 kasus per 1.000 orang yang berisiko di tahun 2018 dibandingkan tahun 2010. Di Asia Tenggara insidensi malaria
berkurang hingga 70% dari tahun 2010 ke tahun 2018.
Malaria dapat ditemukan di seluruh provinsi di Indonesia dengan insidensi tinggi di Indonesia bagian Timur, sedangkan stratifikasi sedang ditemukan di beberapa wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Pulau Jawa dan Bali masuk dalam stratifikasi rendah dengan daerah-daerah tertentu di pedesaan yang menjadi fokus insidensi malaria tinggi. Angka kejadian malaria di Indonesia menggunakan Annual Parasite Incidence (API). Angka API tahun 2008–2009 menurun dari 2,47 per 1.000 penduduk menjadi 1,85 per 1.000 penduduk.
c. Waktu (Time)
Gejala malaria timbul setidaknya 10-15 hari setelah digigit nyamuk. Jeda antara waktu virus masuk ke dalam tubuh (saat nyamuk menggigit) dengan onset
munculnya gejala disebut dengan masa inkubasi malaria. Sejatinya, masa inkubasi ini bisa sangat bervariasi antara 7 hingga 30 hari lamanya, namun rata-rata berkisar antara 10 hingga 15 hari.
2. Distribusi penyakit demam tifoid
Hasil penelitian berdasarkan distribusi penderita demam tifoid menurut umur dan gejala dengan mengambil sampel sebanyak 100 pasien rawat inap di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang selama periode 1 tahun mulai 1 Januari 2000 – 31 Desember 2000, sebagai berikut :
a. Orang (Person)
Umur
Hasil ini menunjukkan bahwa angka demam tifoid tertinggi pada kelompok umur 15-24 tahun (28%). Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Juwono (1996), bahwa insidensi tertinggi pada pasien yang berumur 12 tahun keatas.
Jenis Kelamin
Untuk di Indonesia, berdasar data dari GBD menurut jenis kelamin pada tahun 2019, didapatkan nilai pada laki-laki yaitu 187,06
DALYs per 100.000 sedangkan pada perempuan 122,99 DALYs per 100.000 (Global Burden of Disease, 2020).
b. Tempat (Place)
Demam tifoid jarang terjadi di tempat-tempat di mana hanya sedikit orang yang membawa bakteri tersebut. Jarang juga air diolah untuk membunuh kuman dan membuang kotoran manusia banyak Kecenderungan meningkatnya angka kejadian demam tifoid di Indonesia terjadi karena banyak factor, antara lain : urbanisasi, sanitasi yang buruk, karier yang tidak terdeteksi dan keterlambatan diagnosis.
Demam tifoid adalah penyakit musiman, dimana kasus terbanyak ditemukan pada musim hujan dengan sekitar 45% kejadian dari total kejadian tiap tahunnya. Misal di Asia Selatan curah hujan tinggi di bulan Juni hingga Oktober, sehingga banyak kasus yang ditemukan pada periode tersebut (Paul and Bandyopadhyay, 2017).
Umumnya demam tifoid banyak ditemukan di negara-negara berkembang dan berpenghasilan rendah, juga negara yang beriklim tropis (WHO, 2018). Pada tahun 2015, berdasarkan data dari GBD didapatkan sekitar 17 juta kasus demam tifoid dan demam paratifoid diseluruh dunia dengan insiden kasus terbanyak di Asia Selatan. Daerah lain yang juga banyak didapat kasus ini yaitu Asia Tenggara dan sub-Sahara Afrika.
Selain itu, salah satu penelitian terkait angka kejadian tifoid yang dilakukan antara Juni 2010 dan Juni 2011 di 14 Rumah Sakit dan Puskesmas terpilih yang ada di 3 pulau yaitu Sulawesi (Daerah sekitar Makassar), Kalimantan (Daerah sekitar Samarinda) dan Papua (Daerah sekitar Jayapura) didapatkan angka kejadian demam tifoid yaitu 933 orang (yang memenuhi syarat penelitian) (Alba et al., 2016).
c. Waktu (time)
Hasil ini menunjukkan bahwa lama demam tifoid terjadi antara 1-14 hari. Hal tersebut sesuai pendapat Rampengan dan laurentz (1992) bahwa lama demam tifoid antara 1 minggu atau lebih.
Mual/muntah ada 70 orang Nyeri perut 24 penderita
Gangguan Defekasi ada 22 penderita 3. Distribusi penyakit hipertensi a. Orang (Person)
Umur
Dilihat dari kelompok umur individu, hipertensi paling banyak terdapat pada kelompok umur 65 tahun ke atas, yaitu sebanyak 70,2%, sedangkan yang paling kecil pada kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 15,2%. Hal ini disebabkan, pada usia lanjut pembuluh darah cenderung menjadi kaku dan elastisitasnya berkurang sehingga tahanan perifer meningkat. Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer, sehingga semua faktor yang memengaruhi curah jantung dan tahanan perifer akan memengaruhi tekanan darah. Penyakit hipertensi cenderung untuk meningkat seiring
pertambahan usia, umumnya berkembang pada saat umur seseorang mencapai paruh baya, yakni pada usia lebih dari 40 tahun bahkan pada usia lebih dari 60 tahun ke atas.
Jenis Kelamin
Penyakit hipertensi untuk perempuan (35,5%) lebih besar dari laki-laki (34,3%), meskipun selisihnya tidak terlalu besar. Hal ini terjadi karena pada perempuan, seiring dengan bertambahnya usia yaitu masa premenopause cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi akibat menurunnya kadar estrogen. Hormon estrogen dapat melindungi wanita dan penyakit kardiovaskular.
Status Kawin
Menurut status kawinnya, prevalensi hipertensi individu dengan status cerai mati paling tinggi. mencapai 65,5%. Bagi individu yang belum kawin, prevalensi hipertensi tersebut jauh lebih kecil (17,8%). Hal ini dikaitkan dengan faktor psikis, sosial dan ekonomi yang harus diatasi dalam perkawinan maupun perceraian. Faktor-faktor psikis berperan dalam peningkatan tekanan darah. Pada manusia, tekanan darah akan meningkat dalam situasi stress.
Tingkat pendidikan
Besamya prevalensi hipertensi paling tinggi pada individu yang tidak pernah sekolah sebesar 54,4%, dan terus menurun sampai pendidikan tamat SLTA (27,2%), dan sedikit meningkat lagi menjadi 32,1% pada pendidikan tamat PT. Dapat dijelaskan bahwa kebanyakan penderita hipertensi di Indonesia adalah orang yang telah berumur tua (> 65 tahun), di mana akses pendidikan saat itu masih terbatas sehingga masyarakat umumnya masih berpendidikan rendah
Tingkat pengeluaran
Kejadian hipertensi pada pengeluaran paling tinggi sebesar 36,7% dan pada individu dengan pengeluaran paling sedikit, sebesar 33,8% Prevalensi ini meningkat seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga.
Namun perbedaan ini tidak terlalu besar Kenyataan ini menunjukkan bahwa penyakit hipertensi bukan hanya penyakit untuk golongan sosio-ekonomi tinggi, namun penyakit ini juga menyerang golongan sosio-ekonomi rendah.
Hal ini dapat dijelaskan bahwa pengeluaran seseorang berkaitan dengan pekerjaan. Pekerjaan akan berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kesehatan seseorang. Pekerjaan akan memengaruhi tingkat
pendapatan yang berkaitan dengan pola komsumsi dan kegiatan fisik
Etnis
Menurut data dari Third National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES III, 1988-1991) dalam Sheps (2005) menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi berkulit hitam 40% akan lebih tinggi
dibandingkan dengan yang berkulit putih. Hal ini belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun dalam orang berkulit hitam ditemukan kadar
rennin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadap vasopresin lebih besar (Rustiana, 2014).
b. Tempat (Place)
Dari klasifikasi desa-kota, prevalensi hipertensi di daerah perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 34,2% dan 35,5%.
Hal ini menunjukkan bahwa di daerah pedesaan prevalensi hipertensi cukup tinggi, karena masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan.
Baik dari segi casefinding, penatalaksanaan pengobatan dan jangkauan pelayanan kesehatan masih sangat terbatas.
c. Waktu (Time)
Masa orang dikatakan hipertensi atau tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Tapi tak semua tekanan darah yang tinggi merupakan hipertensi namun itu semua berdasarkan pola hidup yang tidak baik.
Hipertensi tidak dapat disembuhkan dalam waktu yang bisa ditentukan tetapi hipertensi dapat dikontrol oleh si penderita.
4. Distribusi penyakit kanker serviks
Penelitian yang dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi dan Rekam Medis di RSUP. DR. M. Djamil Padang selama 2 tahun periode Januari 2011 sampai Desember 2012 didapatkan penderita kanker serviks sebanyak 63 orang.
a. Orang (Person)
Umur
didapatkan sampel terbanyak pada kelompok umur >50 tahun sebanyak 27 orang (42,9%) dan terendah pada kelompok umur 20- 30 tahun sebanyak 2 orang (3,2%). Berdasarkan jenis pembayaran pasien kanker serviks banyak memakai jamkesmas sebanyak 21 orang (38,1%).
Jenis Histologi
Berdasarkan Tabel 2 didapatkan data bahwa jenis histologik kanker serviks terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa sebanyak 46 orang (73%) dan paling jarang ditemukan jenis karsinoma adenosquamosa (3,2%).
Sedangkan untuk jenis sarkoma, melanoma, karsinoid dan limfoma tidak ditemukan pada penelitian ini.
Jenis histologi kanker serviks terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa sebanyak 73%.Paritas 3-5 tertinggi ditemukan pada karsinoma sel skuamosa.
Berdasarkan literatur insiden tertinggi kanker serviks memiliki jenis histologi karsinoma skuamosa sebesar 90%. Jenis dari histologi kanker serviks berpengaruh pada prognosis penyakit. Karsinoma jenis skuamosa memiliki prognosis relatif baik jika dibandingkan dengan jenis
adenokarsinoma dan karsinoma adenoskuamosa.
Ras
Sementara tingkat kanker serviks telah menurun selama beberapa dekade di AS, kesenjangan kesehatan tetap ada. Wanita Hispanik memiliki tingkat kejadian kanker serviks tertinggi, diikuti oleh wanita kulit hitam non- Hispanik, menurut American Cancer Society . Dan wanita kulit hitam lebih mungkin meninggal karena penyakit ini daripada wanita dari ras atau etnis lain.
Pernikahan Usia Muda
Usia pertama menikah yang relatif muda (dibawah 20 tahun) berisiko mencetuskan kanker serviks uteri. Makin muda umur pertama kali
menikah, semakin tinggi risiko mendapatkan kanker serviks uteri. Dalam penelitian Sadewa tahun 2014 dapat diketahui bahwa 90% pasien yang terdiagnosis kanker serviks uteri menikah di usia ≤ 20 tahun. Menikah usia muda mempunyai OR 105 yang artinya wanita yang menikah di usia muda 105 kali lebih berisiko terkena penyakit kanker serviks uteri.
Pendidikan
Pendidikan mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian kanker serviks dengan kata lain penderita kanker serviks yang berpendidikan rendah merupakan faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya kanker serviks.(16) Tingkat pendidikan dengan kejadian kanker serviks terdapat hubungan yang kuat. Kanker serviks cenderung lebih banyak terjadi pada wanita yang berpendidikan rendah dibanding wanita berpendidikan tinggi.
Tinggi rendahnya pendidikan berkaitan dengan tingkat sosioekonomi, kehidupan seks dan kebersihan.
b. Tempat (Place)
Lingkungan dan tempat yang tidak sehat yaitu pergaulan dengan seks bebas, udara yang sering terpapar asap rokok, dan berinteraksi atau berhubungan dengan penderita.
Berdasarkan alamat, penderita kanker serviks hampir tidak jauh berbeda antara yang berdomisili di kota Padang dan sekitar dengan di luar kota Padang. Penderita kanker serviks di Kota padang sedikit lebih banyak dibandingkan di luar kota padang. Hal ini kemungkinan disebabkan tidak seluruh masyarakat kota Padang mengetahui dan memahami kesadaran mengenai faktor risiko dan keinginan melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks. Penderita kanker serviks di luar kota Padang yang lebih sedikit ditemukan bukan berarti kasus kanker serviks rendah. hal ini kemungkinan bisa disebabkan salah satunya pelayanan kesehatan yang kurang terjangkau sehingga membuat penderita kanker serviks enggan untuk berobat.
c. Waktu (Time)
Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun, namun proses penginfeksian ini sering tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra- kanker sebagian besar berlangsung tanpa gejala.
5. Distribusi penyakit chikungunya
Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif dimana penulis ingin
menggambarkan kejadian luar biasa (KLB) demam chikungunya di Kelurahaan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara.
a. Orang (Person)
Umur
Attack Rate (AR) KLB Chikungunya di Kec. Talawan Kab. Minahasa adalah 50,90/ 1000 penduduk.Banyak yang mengidap penyakit ini diumur 25-44 tahun dengan jumlah 84 kasus Dan tidak ada yang terkena penyakit chikungunya dibawah umur 1 tahun.
Pekerjaan
Pekerjaan seseorang berhubungan dengan tingkat pendapatan seseorang, dan seringkali berkaitan dengan lamanya beraktivitas di luar rumahnya.
Nyamuk Aedes memiliki tempat perindukan utama yaitu tempat-tempat berisi air bersih yang berdekatan letaknya dengan rumah penduduk dan menggigit pada siang hari. Hasil penelitian Dyan Kunti (2011),
menunjukkan bahwa ada hubungan kejadian chikungunya dengan
pekerjaan, karena sebagian penderita chikungunya bekerja sebagai buruh pabrik industri tekstil dan orang-orang beraktivitas tinggi yang lebih cenderung bersinggungan dengan vektor penyebab chikungunya.
b. Tempat (Place)
Tinggal di lingkungan yang kotor dan berpergian ke lokasi yang menjadi wabah penyakit chikungunya menjadi beberapa faktor pemicu yang dapat meningkatkan risiko kamu terpapar penyakit chikungunya cara penularan bersumber dari satu sumber (point common source). Kasus chikungunya terdistribusi di 2 (dua) desa yaitu Desa Mapanget dengan jumlah kasus 196 orang dan Desa Kolongan dengan jumlah kasus 15 orang.
c. Waktu (time)
Berdasarkan kurva index case terjadi pada hari ke-1, dengan peningkatan
kasus terjadi pada hari ke- 14 dan puncak kasus pada hari ke- 16 dengan jumlah kasus 29.
Meskipun hampir sama dengan penyakit gigitan nyamuk lainnya, chikungunya memiliki beberapa karakteristik lain. Gejala dari chikungunya sendiri akan muncul setelah 3 sampai 7 hari pasien mendapatkan gigitan nyamuk. Jarak waktu dimana penderita mulai terinfeksi virus sampai merasakan timbulnya gejala pertama. Pada penderita chikungunya, masa inkubasi ini terjadi dalam rentang waktu 3 sampai 7 hari, atau kisaran 2 sampai 12 hari. Kondisi ini berbeda dari penyakit demam
berdarah, dimana inkubasi terjadi dalam waktu yang lebih lama yaitu 4 sampai 7 hari, atau kisaran 3 sampai 14 hari.
Daftar Pustaka
Fuadzy, H., & Santi, M. (2012). Distribusi kasus malaria di wilayah kerja Puskesmas Simpenan Kabupaten Sukabumi tahun 2011. ASPIRATOR-Journal of Vector-borne Disease Studies, 4(2), 92-99.Diakses pada 14 April 2023 dari http://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/aspirator/article/download/4579/2190 Handayani, Verury Verona. (2021). Hati-hati Infeksi Malaria Bisa Terjadi Tanpa Gejala. Halodoc. Diakses pada 14 April 2023 dari https://www.halodoc.com/artikel/hati-hati-infeksi-malaria-bisa-terjadi-tanpa-gejala Rohman.(2010).distribusi penderita demam tifoid menurut umur dan gejala ( studi kasus di rsi.roemani ).Seminar Nasional Unimus.Diakses pada 14 April 2023 dari https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/51
Sari, Ika Mutiara. (2015). Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Chikungunya di Wilayah Kerja Puskesmas Luwunggede Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes.
Diambil tanggal 14 April 2023, dari: http://lib.unnes.ac.id/27970/1/6411411046.pdf.
Sarwanto.Wilujeng,Lestari K.,&Rukmini. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, vol.
12, no. 2, Apr. 2009.Diakses pada 14 April 2023 dari https://media.neliti.com/media/publications-test/21205-prevalensi-penyakit-hipertensi penduduk-12c03cf6.pdf
Angraeni, Nurfitriani. (2020). Distribusi Penderita Hipertensi Berdasarkan Faktor Risiko di Puskesmas Tenete Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba Periode Juli 2019-Juni 2020. Diambil tanggal 13 April 2023, dari: http://repository.unhas.ac.id/id/eprint/1847/2/C011171041_skripsi%201-2.pdf.
Haryani, S., Defrin, D., & Yenita, Y. (2016). Prevalensi Kanker Serviks Berdasarkan Paritas di RSUP. Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2011-Desember 2012. Jurnal Kesehatan Andalas, 5(3).Diakses pada 14 April 2023 dari http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/592
Bramanuditya, Amrisinta. (2018). Hubungan Antara Pernikahan Usia Muda dengan Kejadian Kanker Serviks di RSUP DR. Sardjito Yogyakarya. Diambil tanggal 14 April 2023, dari: http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/1714/1/Naskah%20Skripsi.pdf.
Dismo Katiandagho, S. S. T., Epid, M. K., Mokoginta Jusran, S. K. M., & Sambungan, J. V. (2017). Penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Chikungunya Di Kelurahan Talawaan Kab. Minahasa Utara Provinsi Sulawesiu Utara. In PROSIDING Seminar Nasional Tahun 2017 ISBN: 2549-0931 (Vol. 1, No. 2, pp. 367-378).Diakses pada 14 April 2023 dari https://mail.ejurnal.poltekkes manado.ac.id/index.php/ps2017/article/view/500