• Tidak ada hasil yang ditemukan

Distribusi Penyakit Malaria dalam Studi Epidemiologi

N/A
N/A
Patricia Ananda

Academic year: 2025

Membagikan "Distribusi Penyakit Malaria dalam Studi Epidemiologi"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Patricia Ananda Uwais Lbs

NIM : 221000116

Kelas : B

Mata Kuliah : Dasar Epidemiologi Dosen Pengampu : drh. Rasmaliah M.Kes Tugas

1. Distribusi penyakit malaria 2. Distribusi penyakit demam tifoid 3. Distribusi penyakit hipertensi 4. Distribusi penyakit kanker serviks 5. Distribusi penyakit chikungunya Jawaban

1. Distribusi penyakit malaria a. Orang (Person)

 Umur

Penyakit malaria terjadi pada kelompok usia 15-60 tahun sebagai kelompok umur  produktif. Kasus tertinggi pada kelompok usia 15-44 tahun (66 kasus) dengan  Plasmodium vivax sebagai spesies yang sering ditemukan (58 kasus).

(2)

kasus terendah  terjadi pada kelompok usia >60 tahun (2 kasus) dan hanya ditemukan spesies P. vivax (2  kasus). Untuk kelompok usia 0-14 tahun tidak ditemukan kejadian penyakit malaria.

Penduduk yang mempunyai risiko tinggi untuk tertular malaria adalah pada kelompok umur 1-5 dan ibu hamil. Itulah sebabnya direkomendasikan skrining parasit malaria rutin untuk semua ibu hamil.

Anak usia di bawah 5 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terkena malaria. Menurut World Health Organization, 274.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal karena malaria.

 Ras

Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap  malaria. Penduduk yang terdapat hemoglobin S (Hb S) ternyata lebih tahan terhadap akibat dari  infeksi P falciparum. Hb Sterdapat pada penderita dengan kelainan darah yang merupakan penyakit 

turunan/herediter yang disebut sikcle cell anemia, yaitu suatu kelainan di mana sel darah merah  penderita berubah bentuknya mirip arit apabila terjadi penurunan tekanan oksigen udara.

 Cara Hidup

Cara hidup sangat berpengaruh terhadap penularan malaria. Misalnya : tidur tidak  memakai kelambu, tidak menggunakan obat anti nyamuk dan senang berada di luar rumah pada malam hari. Sosial ekonomi Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang bertempat tinggal di daerah  endemis malaria erat hubungannya dengan infeksi malaria, misalnya kondisi perumahan, pakaian  yang layak, dan pendidikan.

 Jenis Pekerjaan

Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Simpenen Kabupaten Sukabumi menggantungkan sebagian besar pendapatan ekonomi keluarga pada aktivitas tambang emas, baik yang  berada di sekitar Sukabumi maupun di luar

Sukabumi. Ketika pekerja tambang emas  tersebut melakukan aktivitas tambang di luar pulau Jawa dan daerah tersebut endemis  malaria, besar kemungkinan terjadi penularan terhadap pekerja.

Pekerja tambang yang positif malaria banyak yang melakukan aktivitas tambang emas  dari daerah Aceh (58kasus) dengan P. vivax sebagai spesies yang sering ditemukan (50  kasus) dan terendah dari daerah Kalimantan, Papua. dan Sumbawa (1 kasus) dengan  spesies yang ditemukan adalah P.

vivax.

Untuk mengetahui spesies Plasmodium yang dominan terjadi di suatu daerah dan pada  waktu tertentu dilakukan perhitungan Parasite Formula. Spesies Plasmodium yang  dominan ditemukan pada pekerja tambang yang berasal dari Simpenen Kabupaten  Sukabumi adalah P. vivax (88,8%).

(3)

b. Tempat (Place)

Di tahun 2018 diperkirakan terdapat 228 juta kasus malaria secara global dan 94%

kasus ditemukan di  daerah Afrika. Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax merupakan spesies parasit yang paling  banyak menimbulkan malaria. Berdasarkan data WHO, pada tahun 2018 50% kasus malaria di Asia  Tenggara disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan 53% disebabkan oleh Plasmodium vivax.  Insidensi malaria global menurun dari 75 kasus menjadi 57 kasus per 1.000 orang yang berisiko di  tahun 2018 dibandingkan tahun 2010. Di Asia Tenggara insidensi malaria

berkurang hingga 70% dari  tahun 2010 ke tahun 2018.

Malaria dapat ditemukan di seluruh provinsi di Indonesia dengan insidensi tinggi di Indonesia bagian  Timur, sedangkan stratifikasi sedang ditemukan di beberapa wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan  Sulawesi. Pulau Jawa dan Bali masuk dalam stratifikasi rendah dengan daerah-daerah tertentu di  pedesaan yang menjadi fokus insidensi malaria tinggi. Angka kejadian malaria di Indonesia  menggunakan Annual Parasite Incidence (API). Angka API tahun 2008–2009 menurun dari 2,47 per  1.000 penduduk menjadi 1,85 per 1.000 penduduk.

c. Waktu (Time)

Gejala malaria timbul setidaknya 10-15 hari setelah digigit nyamuk. Jeda antara waktu  virus masuk ke dalam tubuh (saat nyamuk menggigit) dengan onset

munculnya gejala  disebut dengan masa inkubasi malaria. Sejatinya, masa inkubasi ini bisa sangat bervariasi  antara 7 hingga 30 hari lamanya, namun rata-rata berkisar antara 10 hingga 15 hari.

2. Distribusi penyakit demam tifoid

Hasil penelitian berdasarkan distribusi penderita demam tifoid menurut umur dan gejala dengan mengambil sampel sebanyak 100 pasien rawat inap di Rumah Sakit Roemani  Muhammadiyah Semarang selama periode 1 tahun mulai 1 Januari 2000 – 31 Desember  2000, sebagai berikut :

a. Orang (Person)

 Umur

Hasil ini menunjukkan bahwa angka demam tifoid tertinggi pada kelompok  umur 15-24 tahun (28%). Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh  Juwono (1996), bahwa insidensi tertinggi pada pasien yang berumur 12 tahun  keatas.

(4)

 Jenis Kelamin

Untuk di Indonesia, berdasar data dari GBD menurut jenis kelamin pada tahun 2019,  didapatkan nilai pada laki-laki yaitu 187,06

DALYs per 100.000 sedangkan pada perempuan 122,99  DALYs per 100.000 (Global Burden of Disease, 2020).

b. Tempat (Place)

Demam tifoid jarang terjadi di tempat-tempat di mana hanya sedikit orang yang  membawa bakteri tersebut. Jarang juga air diolah untuk membunuh kuman dan  membuang kotoran manusia banyak Kecenderungan meningkatnya angka kejadian  demam tifoid di Indonesia terjadi karena banyak factor, antara lain : urbanisasi, sanitasi  yang buruk, karier yang tidak terdeteksi dan keterlambatan diagnosis.

Demam tifoid adalah penyakit musiman, dimana kasus terbanyak ditemukan pada musim hujan  dengan sekitar 45% kejadian dari total kejadian tiap tahunnya. Misal di Asia Selatan curah hujan  tinggi di bulan Juni hingga Oktober, sehingga banyak kasus yang ditemukan pada periode tersebut  (Paul and Bandyopadhyay, 2017).

Umumnya demam tifoid banyak ditemukan di negara-negara  berkembang dan berpenghasilan rendah, juga negara yang beriklim tropis (WHO, 2018). Pada tahun  2015, berdasarkan data dari GBD didapatkan sekitar 17 juta kasus demam tifoid dan demam  paratifoid diseluruh dunia dengan insiden kasus terbanyak di Asia Selatan. Daerah lain yang juga  banyak didapat kasus ini yaitu Asia Tenggara dan sub-Sahara Afrika.

Selain itu, salah satu penelitian terkait angka kejadian tifoid yang dilakukan antara Juni 2010 dan Juni  2011 di 14 Rumah Sakit dan Puskesmas terpilih yang ada di 3 pulau yaitu Sulawesi (Daerah sekitar  Makassar), Kalimantan (Daerah sekitar Samarinda) dan Papua (Daerah sekitar Jayapura) didapatkan  angka kejadian demam tifoid yaitu 933 orang (yang memenuhi syarat penelitian) (Alba et al., 2016).

c. Waktu (time)

(5)

Hasil ini menunjukkan bahwa lama demam tifoid terjadi antara 1-14 hari. Hal  tersebut sesuai pendapat Rampengan dan laurentz (1992) bahwa lama demam  tifoid  antara 1 minggu atau lebih.

Mual/muntah ada 70 orang Nyeri perut 24 penderita

Gangguan Defekasi ada 22 penderita 3. Distribusi penyakit hipertensi a. Orang (Person)

 Umur

Dilihat dari kelompok umur individu, hipertensi paling banyak terdapat pada  kelompok umur 65 tahun ke atas, yaitu sebanyak 70,2%, sedangkan yang paling  kecil pada kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 15,2%. Hal ini disebabkan, pada  usia lanjut pembuluh darah cenderung menjadi kaku dan elastisitasnya berkurang  sehingga tahanan perifer meningkat. Tekanan darah dipengaruhi oleh curah  jantung dan tahanan perifer, sehingga semua faktor yang memengaruhi curah  jantung dan tahanan perifer akan memengaruhi tekanan darah. Penyakit hipertensi  cenderung untuk meningkat seiring

pertambahan usia, umumnya berkembang  pada saat umur seseorang mencapai paruh baya, yakni pada usia lebih dari 40  tahun bahkan pada usia lebih dari 60 tahun ke atas.

(6)

 Jenis Kelamin

Penyakit hipertensi untuk perempuan (35,5%) lebih besar dari laki-laki (34,3%),  meskipun selisihnya tidak terlalu besar. Hal ini terjadi karena pada perempuan,  seiring dengan bertambahnya usia yaitu masa premenopause cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi akibat menurunnya kadar estrogen. Hormon estrogen  dapat melindungi wanita dan penyakit kardiovaskular.

 Status Kawin

Menurut status kawinnya, prevalensi hipertensi individu dengan status cerai mati  paling tinggi. mencapai 65,5%. Bagi individu yang belum kawin, prevalensi  hipertensi tersebut jauh lebih kecil (17,8%). Hal ini dikaitkan dengan faktor  psikis, sosial dan ekonomi yang harus diatasi dalam perkawinan maupun  perceraian. Faktor-faktor psikis berperan dalam peningkatan tekanan darah. Pada  manusia, tekanan darah akan meningkat dalam situasi stress.

 Tingkat pendidikan

Besamya prevalensi hipertensi paling tinggi pada individu yang tidak pernah  sekolah sebesar 54,4%, dan terus menurun sampai pendidikan tamat SLTA  (27,2%), dan sedikit meningkat lagi menjadi 32,1% pada pendidikan tamat PT.  Dapat dijelaskan bahwa kebanyakan penderita hipertensi di Indonesia adalah  orang yang telah berumur tua (> 65 tahun), di mana akses pendidikan saat itu  masih terbatas sehingga masyarakat umumnya masih berpendidikan rendah

 Tingkat pengeluaran

Kejadian hipertensi pada pengeluaran paling tinggi sebesar 36,7% dan pada  individu dengan pengeluaran paling sedikit, sebesar 33,8% Prevalensi ini  meningkat seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga.

Namun  perbedaan ini tidak terlalu besar Kenyataan ini menunjukkan bahwa penyakit  hipertensi bukan hanya penyakit untuk golongan sosio-ekonomi tinggi, namun  penyakit ini juga menyerang golongan sosio-ekonomi rendah.

Hal ini dapat  dijelaskan bahwa pengeluaran seseorang berkaitan dengan pekerjaan. Pekerjaan  akan berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kesehatan seseorang. Pekerjaan akan memengaruhi tingkat

pendapatan yang berkaitan dengan pola  komsumsi dan kegiatan fisik

 Etnis

Menurut data dari Third National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES III,  1988-1991) dalam Sheps (2005) menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi berkulit hitam 40%  akan lebih tinggi

dibandingkan dengan yang berkulit putih. Hal ini belum diketahui secara pasti  penyebabnya, namun dalam orang berkulit hitam ditemukan kadar

(7)

rennin yang lebih rendah dan  sensitifitas terhadap vasopresin lebih besar (Rustiana, 2014).

b. Tempat (Place)

Dari klasifikasi desa-kota, prevalensi hipertensi di daerah perkotaan lebih rendah  dibandingkan dengan di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 34,2% dan 35,5%.

Hal  ini menunjukkan bahwa di daerah pedesaan prevalensi hipertensi cukup tinggi, karena  masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan.

Baik dari segi  casefinding, penatalaksanaan pengobatan dan jangkauan pelayanan kesehatan masih  sangat terbatas.

c. Waktu (Time)

Masa orang dikatakan hipertensi atau tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan  sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau  lebih, atau keduanya. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan  sistolik dan diastolik. Tapi tak semua tekanan darah yang tinggi merupakan hipertensi  namun itu semua berdasarkan pola hidup yang tidak baik.

Hipertensi tidak dapat  disembuhkan dalam waktu yang bisa ditentukan tetapi hipertensi dapat dikontrol oleh si  penderita.

4. Distribusi penyakit kanker serviks

Penelitian yang dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi dan Rekam Medis di  RSUP. DR. M. Djamil Padang selama 2 tahun periode Januari 2011 sampai Desember  2012 didapatkan penderita kanker serviks sebanyak 63 orang. 

(8)

a. Orang (Person)

 Umur

didapatkan sampel terbanyak pada kelompok umur >50 tahun sebanyak 27 orang  (42,9%) dan terendah pada kelompok umur 20- 30 tahun sebanyak 2 orang (3,2%).  Berdasarkan jenis pembayaran pasien kanker serviks banyak memakai jamkesmas  sebanyak 21 orang (38,1%).

 Jenis Histologi

Berdasarkan Tabel 2 didapatkan data bahwa jenis histologik kanker serviks terbanyak  adalah karsinoma sel skuamosa sebanyak 46 orang (73%) dan paling jarang ditemukan  jenis karsinoma adenosquamosa (3,2%).

Sedangkan untuk jenis sarkoma, melanoma,  karsinoid dan limfoma tidak ditemukan pada penelitian ini.

Jenis histologi kanker serviks terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa sebanyak  73%.Paritas 3-5 tertinggi ditemukan pada karsinoma sel skuamosa.

Berdasarkan literatur  insiden tertinggi kanker serviks memiliki jenis histologi karsinoma skuamosa sebesar  90%. Jenis dari histologi kanker serviks berpengaruh pada prognosis penyakit.  Karsinoma jenis skuamosa memiliki prognosis relatif baik jika dibandingkan dengan  jenis

adenokarsinoma dan karsinoma adenoskuamosa.

 Ras

(9)

Sementara tingkat kanker serviks telah menurun selama beberapa dekade di AS, kesenjangan  kesehatan tetap ada. Wanita Hispanik memiliki tingkat kejadian kanker serviks tertinggi, diikuti oleh  wanita kulit hitam non- Hispanik, menurut American Cancer Society . Dan wanita kulit hitam lebih  mungkin meninggal karena penyakit ini daripada wanita dari ras atau etnis lain.

 Pernikahan Usia Muda

Usia pertama menikah yang relatif muda (dibawah 20 tahun) berisiko  mencetuskan kanker serviks uteri. Makin muda umur pertama kali

menikah, semakin tinggi risiko  mendapatkan kanker serviks uteri. Dalam penelitian Sadewa tahun 2014 dapat diketahui bahwa 90%  pasien yang terdiagnosis kanker serviks uteri menikah di usia ≤ 20 tahun. Menikah usia muda  mempunyai OR 105 yang artinya wanita yang menikah di usia muda 105 kali lebih berisiko terkena  penyakit kanker serviks uteri.

 Pendidikan

Pendidikan mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian kanker serviks dengan  kata lain penderita kanker serviks yang berpendidikan rendah merupakan faktor risiko yang  mempengaruhi terjadinya kanker serviks.(16) Tingkat pendidikan dengan kejadian kanker serviks  terdapat hubungan yang kuat. Kanker serviks cenderung lebih banyak terjadi pada wanita yang  berpendidikan rendah dibanding wanita berpendidikan tinggi.

Tinggi rendahnya pendidikan berkaitan  dengan tingkat sosioekonomi, kehidupan seks dan kebersihan.

b. Tempat (Place)

Lingkungan dan tempat yang tidak sehat yaitu pergaulan dengan seks bebas, udara yang  sering terpapar asap rokok, dan berinteraksi atau berhubungan dengan penderita.

Berdasarkan alamat, penderita kanker serviks hampir tidak jauh berbeda antara yang  berdomisili di kota Padang dan sekitar dengan di luar kota Padang. Penderita kanker  serviks di Kota padang sedikit lebih banyak dibandingkan di luar kota padang. Hal ini  kemungkinan disebabkan tidak seluruh masyarakat kota Padang mengetahui dan  memahami kesadaran mengenai faktor risiko dan keinginan melakukan pemeriksaan  deteksi dini kanker serviks. Penderita kanker serviks di luar kota Padang yang lebih  sedikit ditemukan bukan berarti kasus kanker serviks rendah. hal ini kemungkinan bisa  disebabkan salah satunya pelayanan kesehatan yang kurang terjangkau sehingga  membuat penderita kanker serviks enggan untuk berobat.

c. Waktu (Time)

(10)

Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup  lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun, namun proses penginfeksian ini sering tidak  disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra- kanker sebagian  besar berlangsung tanpa gejala.

5. Distribusi penyakit chikungunya

Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif dimana penulis ingin

menggambarkan  kejadian luar biasa (KLB) demam chikungunya di Kelurahaan Talawaan Kabupaten  Minahasa Utara.

a. Orang (Person)

 Umur

Attack Rate (AR) KLB Chikungunya di Kec. Talawan Kab. Minahasa adalah 50,90/ 1000 penduduk.Banyak yang mengidap penyakit ini diumur 25-44  tahun dengan jumlah 84 kasus Dan tidak ada yang terkena penyakit chikungunya  dibawah umur 1 tahun.

 Pekerjaan

Pekerjaan seseorang berhubungan dengan tingkat pendapatan seseorang, dan seringkali  berkaitan dengan lamanya beraktivitas di luar rumahnya.

Nyamuk Aedes memiliki tempat perindukan  utama yaitu tempat-tempat berisi air bersih yang berdekatan letaknya dengan rumah penduduk dan  menggigit pada siang hari. Hasil penelitian Dyan Kunti (2011),

menunjukkan bahwa ada hubungan  kejadian chikungunya dengan

pekerjaan, karena sebagian penderita chikungunya bekerja sebagai  buruh pabrik industri tekstil dan orang-orang beraktivitas tinggi yang lebih cenderung bersinggungan  dengan vektor penyebab chikungunya.

b. Tempat (Place)

(11)

Tinggal di lingkungan yang kotor dan berpergian ke lokasi yang menjadi wabah  penyakit chikungunya menjadi beberapa faktor pemicu yang dapat meningkatkan  risiko kamu terpapar penyakit chikungunya cara penularan bersumber dari satu  sumber (point common source). Kasus chikungunya terdistribusi di 2 (dua) desa  yaitu Desa Mapanget dengan jumlah kasus 196 orang dan Desa Kolongan dengan  jumlah kasus 15 orang.

c. Waktu (time)

Berdasarkan kurva index case terjadi pada hari ke-1, dengan peningkatan

kasus  terjadi pada hari ke- 14 dan puncak kasus pada hari ke- 16 dengan jumlah kasus  29.

Meskipun hampir sama dengan penyakit gigitan nyamuk lainnya, chikungunya  memiliki beberapa karakteristik lain. Gejala dari chikungunya sendiri akan muncul  setelah 3 sampai 7 hari pasien mendapatkan gigitan nyamuk. Jarak waktu dimana  penderita mulai terinfeksi virus sampai merasakan timbulnya gejala pertama. Pada  penderita chikungunya, masa inkubasi ini terjadi dalam rentang waktu 3 sampai 7  hari, atau kisaran 2 sampai 12 hari. Kondisi ini berbeda dari penyakit demam 

berdarah, dimana inkubasi terjadi dalam waktu yang lebih lama yaitu 4 sampai 7  hari, atau kisaran 3 sampai 14 hari.

Daftar Pustaka

(12)

Fuadzy, H., & Santi, M. (2012). Distribusi kasus malaria di wilayah kerja  Puskesmas Simpenan Kabupaten Sukabumi tahun 2011. ASPIRATOR-Journal of  Vector-borne Disease Studies, 4(2), 92-99.Diakses pada 14 April 2023 dari  http://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/aspirator/article/download/4579/2190 Handayani, Verury Verona. (2021). Hati-hati Infeksi Malaria Bisa Terjadi Tanpa Gejala. Halodoc. Diakses pada 14 April 2023 dari https://www.halodoc.com/artikel/hati-hati-infeksi-malaria-bisa-terjadi-tanpa-gejala Rohman.(2010).distribusi penderita demam tifoid menurut umur dan gejala (  studi kasus di rsi.roemani ).Seminar Nasional Unimus.Diakses pada 14 April 2023 dari  https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/51

Sari, Ika Mutiara. (2015). Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Chikungunya di Wilayah  Kerja Puskesmas Luwunggede Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes.

Diambil tanggal 14 April  2023, dari: http://lib.unnes.ac.id/27970/1/6411411046.pdf.

Sarwanto.Wilujeng,Lestari K.,&Rukmini. Buletin Penelitian Sistem  Kesehatan, vol.

12, no. 2, Apr. 2009.Diakses pada 14 April 2023 dari  https://media.neliti.com/media/publications-test/21205-prevalensi-penyakit-hipertensi penduduk-12c03cf6.pdf

Angraeni, Nurfitriani. (2020). Distribusi Penderita Hipertensi Berdasarkan Faktor Risiko di  Puskesmas Tenete Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba Periode Juli 2019-Juni 2020.  Diambil tanggal 13 April 2023, dari:  http://repository.unhas.ac.id/id/eprint/1847/2/C011171041_skripsi%201-2.pdf.

Haryani, S., Defrin, D., & Yenita, Y. (2016). Prevalensi Kanker Serviks  Berdasarkan Paritas di RSUP. Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2011-Desember  2012. Jurnal Kesehatan Andalas, 5(3).Diakses pada 14 April 2023 dari  http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/592

Bramanuditya, Amrisinta. (2018). Hubungan Antara Pernikahan Usia Muda dengan Kejadian  Kanker Serviks di RSUP DR. Sardjito Yogyakarya. Diambil tanggal 14 April 2023, dari:  http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/1714/1/Naskah%20Skripsi.pdf.

Dismo Katiandagho, S. S. T., Epid, M. K., Mokoginta Jusran, S. K. M., &  Sambungan, J. V. (2017). Penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam  Chikungunya Di Kelurahan Talawaan Kab. Minahasa Utara Provinsi Sulawesiu Utara.  In PROSIDING Seminar Nasional Tahun 2017 ISBN: 2549-0931 (Vol. 1, No. 2, pp.  367-378).Diakses pada 14 April 2023 dari https://mail.ejurnal.poltekkes manado.ac.id/index.php/ps2017/article/view/500

Referensi

Dokumen terkait

Dasril : Model Pengendalian Penyakit Malaria Melalui Pendekatan Epidemologi Di Kecamatan Sei Kepayang…, 2005 USU Repository © 2008... Dasril : Model Pengendalian Penyakit

Study Epidemiologi tentang Malaria Pada Pekerja Tambang Timah Tradisional di Kabupaten Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia.. Epidemiological Study of Malaria

6,8 Walaupun peran umur sebagai faktor risiko penularan malaria masih dalam perdebatan namun menurut WHO umur sangat berhubungan dengan kejadian malaria terutama

maligna ). Di Indonesia parasit ini tersebar di seluruh kepulauan. Spesies ini merupakan paling berbahaya karena penyakit yang ditimbulkannya dapat menjadi berat. Pada malaria

Pada setiap kelompok penduduk, tiap individu yang membentuk kelompok tersebut memiliki derajat keterpaparan atau risiko yang berbeda pada setiap penyakit tertentu. Mereka

Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan karakteristik kasus malaria (berdasarkan data sekunder kasus malaria) dan mengidentifikasi faktor risiko penularan malaria di

 Adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit & paparan dengan cara mengamati status paparan & penyakit secara serentak.  Data yang

Mengingat bahwa faktor penyebab penyakit lebih bersifat kompleks sehingga dalam epidemiologi, kita lebih banyak melakukan pendekatan faktor risiko maka faktor perilaku individu maupun