DKK 1 B14M4: Perawatan Jaringan Periodontal Non Bedah Identifikasi Istilah :
1. OHIS 2,7: Oral hygiene index simplified dan terdapat beberapa skor yaitu, skor (0-1,2 baik), (1,3-3,0 sedang), (3,1-6,0 buruk). Berdasarkan skenario OHIS pasien dalam kategori sedang. - Cara menghitung OHIS = DI + CI. - Untuk mengukurnya diwakili dengan 6 gigi disetiap segmen, dengan bukal gigi 16 26, labial gigi 11 31, dan lingual gigi 36 46.
OHI-S (Simplified Oral Hygiene Index) adalah indeks yang digunakan untuk menilai kebersihan mulut berdasarkan jumlah plak dan kalkulus (karang gigi) pada permukaan gigi. Skor OHI-S terdiri dari dua komponen:
1) Debris Index (DI-S): Mengukur jumlah plak atau sisa makanan yang menempel pada permukaan gigi.
2) Calculus Index (CI-S): Mengukur jumlah kalkulus atau karang gigi yang menempel pada permukaan gigi.
Setiap komponen ini diberi skor dari 0 hingga 3 pada enam gigi yang ditentukan (bukal gigi 16 26, labial gigi 11 31, dan lingual gigi 36 46). Kemudian skor ini dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai OHI-S.
2. Perawatan periodontal non-bedah: Bedah biasanya perawatan dengan eksisi, sehingga non-bedah tidak melakukan eksisi. - Perawatan yang bertujuan untuk menghilangkan plak, kalkulus, dan faktor lain yang dapat menyebabkan peradangan gigi. - Fungsinya adalah untuk mengurangi peradangan dan mengembalikan fungsi jaringan periodontal yang sehat. - Keadaan kebersihan mulut dari pasien yang dinilai dari adanya sisa makanan atau debris dan kalkulus.
Analisis Masalah :
1. Apa saja perawatan periodontal non bedah?
- Scalling (supragingiva dan subgingiva), root planing, kontrol plak (mekanik menggunakan sikat gigi, kimia menggunakan obat kumur).
- Pemberian obat-obatan sitemik atau lokal seperti antibiotik, irigasi supragingival dan subgingiva untuk mengurangi bakteri dan radang gusi.
- Terapi oklusal, terapi antimikrobial, edukasi dan kontrol plak pada pasien, splinting.
- Scaling: Prosedur ini bertujuan untuk membersihkan plak dan kalkulus (karang gigi) yang menempel di atas dan di bawah garis gusi. Scaling dilakukan dengan alat ultrasonik atau instrumen manual.
- Root Planing: Setelah scaling, permukaan akar gigi yang kasar dihaluskan untuk menghilangkan toksin bakteri dan membuat permukaan akar lebih bersih, sehingga memudahkan gusi untuk menempel kembali ke gigi.
2. Apa saja alat-alat yang digunakan dalam perawatan periodontal non bedah?
- Scaller (manual dan ultrasonic)
- Kuret (gracey dan universal) - Sickel
- Probe - Eksplorer - Hoe scaller - Chisel
- Probe nabbers
- Probe plastik dan kuret plastic - Alat oral diagnostic
1) Alat Manual
• Scaler: Alat berbentuk tipis dengan ujung tajam yang digunakan untuk menghilangkan plak dan kalkulus (karang gigi) di atas dan di bawah garis gusi. Ada berbagai jenis scaler, seperti scaler sickle, curette, dan scaler universal.
• Curette: Alat manual yang memiliki ujung melengkung dan tajam, digunakan untuk root planing dan menghaluskan permukaan akar gigi.
Curette dibagi menjadi dua jenis:
o Universal Curette: Digunakan untuk seluruh bagian mulut.
o Gracey Curette: Dirancang khusus untuk area tertentu dalam mulut, seperti bagian depan atau belakang gigi, dan lebih presisi.
2) Ultrasonic Scaler
• Ultrasonic Scaler: Alat elektrik yang menggunakan getaran ultrasonik untuk menghancurkan dan menghilangkan plak dan kalkulus. Alat ini biasanya dilengkapi dengan aliran air untuk membilas dan membersihkan area yang sedang dirawat. Penggunaan ultrasonic scaler lebih cepat dan efisien dibandingkan dengan alat manual.
3) Alat Penyemprot Air (Air Polisher)
• Air Polisher: Menggunakan campuran air dan butiran halus (seperti sodium bicarbonate atau glycine powder) untuk menghilangkan plak, noda, dan bakteri dari permukaan gigi. Alat ini memberikan hasil yang lebih halus dan dapat digunakan pada area yang lebih sensitif.
4) Laser Periodontal
• Laser Periodontal: Digunakan untuk menghilangkan jaringan yang terinfeksi, mengurangi kedalaman kantong periodontal, dan menghancurkan bakteri. Laser juga bisa mempercepat penyembuhan jaringan dengan lebih sedikit ketidaknyamanan bagi pasien.
5) Instrumen Antimikroba Topikal
• Aplikasi Gel atau Serbuk Antibiotik: Instrumen untuk menerapkan obat-obatan seperti gel antibiotik, serbuk, atau butiran antimikroba langsung ke kantong periodontal untuk mengurangi infeksi bakteri. Alat aplikator ini memungkinkan obat untuk mencapai area yang sulit dijangkau.
6) Water Flosser: Alat yang menggunakan tekanan air untuk membersihkan sisa makanan dan plak dari sela-sela gigi dan sepanjang garis gusi. Alat ini membantu pasien menjaga kebersihan mulut di rumah sebagai bagian dari perawatan berkelanjutan.
7) Instrumen Pengukur Periodontal
• Probe Periodontal: Alat yang digunakan untuk mengukur kedalaman kantong periodontal di sekitar gigi. Probe ini memiliki tanda-tanda pengukuran yang memungkinkan dokter gigi menilai seberapa parah penyakit gusi dan memantau hasil perawatan.
8) Kumur Antiseptik dan Aplikasi Kumur
• Chlorhexidine Mouthwash: Antiseptik yang sering direkomendasikan untuk digunakan setelah perawatan periodontal untuk mengendalikan infeksi bakteri dan menjaga kebersihan mulut.
• Alat Aplikasi Obat Kumur: Beberapa kumur antiseptik dapat diterapkan dengan alat khusus untuk membersihkan area di sekitar kantong periodontal yang sulit dijangkau.
3. Apa hubungan sikat gigi tergesa-gesa dengan kondisi pasien diskenario?
- Karena terburu-buru dapat mengakibatkan menyikat gigi dengan cepat yang menyebabkan luka pada jaringan periodontal rongga mulut, sehingga tidak efektif dalam membersihkan giginya yang menyebabkan sisa makanan tertinggal.
- Menyikat gigi tidak menyeluruh dan tidak sesuai dengan waktu yang dianjurkan dapat menyababkan bagian enamel gigi terkikis, dan jika menyikat gigi kurang dari 2 menit menyebabkan menempelnya sisa makanan.
- Mengakibatkan mengumpulnya plak yang akan menyebabkan terjadinya gingivitis.
1) Tidak Efektif Menghilangkan Plak: Menyikat gigi dengan tergesa-gesa sering kali tidak membersihkan seluruh permukaan gigi secara menyeluruh.
Akibatnya, plak yang mengandung bakteri dapat tertinggal di permukaan gigi, terutama di area yang sulit dijangkau seperti sela-sela gigi dan garis gusi.
Plak yang menumpuk dapat menyebabkan peradangan gusi (gingivitis), yang bisa memicu gejala gatal, gusi berdarah, dan bau mulut tidak sedap, seperti yang dialami oleh pasien.
2) Penyakit Periodontal: Ketika plak tidak dibersihkan dengan baik, ia akan mengeras menjadi kalkulus (karang gigi) yang lebih sulit untuk dihilangkan dengan menyikat gigi biasa. Kalkulus ini bisa menyebabkan penyakit periodontal, yang ditandai dengan peradangan, gusi berdarah, dan gusi terasa gatal. Kondisi pasien dengan OHIS 2,7 mengindikasikan kebersihan mulut yang buruk, yang menunjukkan adanya plak dan kalkulus yang berlebihan.
3) Pembentukan Kalkulus dan Peradangan: Kebiasaan menyikat gigi yang tidak memadai dan tergesa-gesa akan membiarkan sisa makanan dan bakteri
tetap menempel di gigi. Seiring waktu, ini akan berubah menjadi kalkulus, yang menyebabkan iritasi pada gusi dan memicu peradangan. Gusi yang meradang lebih rentan berdarah saat terganggu oleh hal-hal seperti penggunaan tusuk gigi, seperti yang dilakukan oleh pasien.
4) Bau Mulut (Halitosis): Plak yang tidak dibersihkan dengan baik dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri yang menghasilkan senyawa sulfur, yang menyebabkan bau mulut tidak sedap. Kebiasaan menyikat gigi yang tergesa-gesa berarti area-area tertentu dalam mulut tidak dibersihkan dengan baik, memungkinkan bakteri penyebab bau mulut untuk berkembang.
5) Kurangnya Kebiasaan Kebersihan Mulut yang Baik: Pasien dalam skenario ini juga jarang memeriksakan giginya ke dokter gigi, dan hanya melakukan perawatan gigi ketika ada masalah. Hal ini menunjukkan bahwa kebersihan mulut secara keseluruhan kurang terjaga, memperburuk kondisi kesehatan gigi dan gusi. Menyikat gigi dengan tergesa-gesa memperburuk masalah ini, karena tidak ada rutinitas perawatan mulut yang memadai untuk mencegah penyakit periodontal.
Secara keseluruhan, kebiasaan menyikat gigi yang tidak teratur dan tergesa- gesa menyebabkan akumulasi plak dan kalkulus, yang kemudian menimbulkan berbagai masalah seperti gingivitis, bau mulut, dan ketidaknyamanan pada gusi yang dikeluhkan oleh pasien. Kebiasaan ini perlu diperbaiki dengan edukasi mengenai teknik menyikat gigi yang benar dan konsistensi dalam menjaga kebersihan mulut.
4. Hubungan pemakaian tusuk gigi dengan kesehatan gingiva?
- Dapat beresiko merusak jaringan gigi dan tidak fleksibel yang bisa menyebabkan luka atau inflamasi, perdarahan dan juga dapat mengakibatkan sulkus gingiva.
1) Trauma Mekanis pada Gingiva: Penggunaan tusuk gigi yang sering, terutama jika dilakukan dengan cara menusuk-nusuk gusi, dapat menyebabkan trauma atau luka pada jaringan gingiva. Gusi yang terus- menerus teriritasi dan terluka akan menjadi meradang, lebih rentan terhadap infeksi, dan sering berdarah. Hal ini sesuai dengan keluhan pasien yang melaporkan bahwa gusinya sering berdarah, terutama di area yang sering ditusuk oleh tusuk gigi.
2) Peradangan Gusi (Gingivitis): Penggunaan tusuk gigi yang tidak benar bisa menyebabkan peradangan pada gusi. Ketika tusuk gigi digunakan untuk menghilangkan sisa makanan, gesekan atau tekanan berlebih pada gusi dapat menyebabkan iritasi dan pembengkakan. Gusi yang meradang lebih sensitif dan bisa terasa gatal serta berdarah, seperti yang dialami oleh pasien.
3) Peningkatan Risiko Pembentukan Kantong Periodontal: Kebiasaan menusuk gusi dengan tusuk gigi juga dapat mendorong pembentukan kantong periodontal di antara gigi dan gusi. Kantong periodontal adalah ruang di mana bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak, memperburuk
kondisi gingiva dan menyebabkan penyakit periodontal lebih lanjut. Pada pasien yang memiliki kebersihan mulut buruk (skor OHI-S 2,7), hal ini dapat memperburuk akumulasi plak di area tersebut.
4) Memperparah Kebersihan Mulut yang Tidak Teratur: Penggunaan tusuk gigi oleh pasien untuk menghilangkan makanan yang tersangkut di sela-sela gigi menunjukkan bahwa ada akumulasi sisa makanan yang tidak dibersihkan dengan baik selama menyikat gigi. Jika tusuk gigi digunakan sebagai alternatif untuk membersihkan mulut secara menyeluruh, hal ini tidak efektif dalam menghilangkan plak secara menyeluruh dan justru dapat menyebabkan iritasi berulang pada gingiva.
5) Potensi Masalah Jangka Panjang: Jika penggunaan tusuk gigi menyebabkan luka atau iritasi yang berulang, ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan gingiva jangka panjang, termasuk resesi gusi (penurunan garis gusi), di mana gusi menjauh dari gigi. Hal ini bisa membuka area akar gigi, membuatnya lebih rentan terhadap kerusakan, kepekaan, dan infeksi.
Kesimpulan
Penggunaan tusuk gigi secara berlebihan dan tidak hati-hati, seperti yang digambarkan dalam skenario, dapat menyebabkan trauma, iritasi, dan peradangan pada gingiva, memperburuk kondisi kesehatan gusi pasien. Pasien mungkin merasa bahwa tusuk gigi membantu membersihkan makanan yang tersangkut, tetapi sebenarnya tindakan tersebut berpotensi memperburuk masalah gingiva yang sudah ada, seperti perdarahan, gatal, dan bau mulut.
Edukasi tentang penggunaan alternatif yang lebih aman seperti benang gigi (dental floss) atau sikat interdental dapat membantu mengurangi kerusakan lebih lanjut dan meningkatkan kesehatan mulut pasien.
5. Apakah ada alat lain yang lebih aman untuk membersihkan sisa makanan selain tusuk gigi?
- Dental floss, dental superfloss (untuk pasien pengguna braket agar lebih fleksibel)
- Dental tape
- Sikat gigi interdental bentuk yang runcing dapat masuk ke sela-sela interdental
- Water flossher tekanan air untuk membersihkan sela-sela gigi 1) Dental Floss (Benang Gigi)
• Kelebihan: Benang gigi dirancang khusus untuk membersihkan sisa makanan dan plak yang menumpuk di antara gigi dan di sepanjang garis gusi, tempat sikat gigi sulit menjangkau. Benang gigi lebih lembut dan tidak menyebabkan trauma pada gusi seperti tusuk gigi.
• Cara Penggunaan: Gunakan gerakan naik-turun yang lembut di antara gigi, mengikuti lengkungan gigi untuk membersihkan sisa makanan tanpa merusak gusi.
2) Interdental Brush (Sikat Interdental)
• Kelebihan: Sikat interdental adalah sikat kecil yang dirancang untuk masuk di sela-sela gigi, terutama jika ada ruang yang lebih besar antara gigi. Sikat ini lebih lembut dan aman untuk membersihkan area tersebut tanpa menyebabkan iritasi pada gusi.
• Cara Penggunaan: Pilih ukuran sikat interdental yang sesuai, lalu masukkan dengan lembut di antara gigi. Gerakkan sikat maju-mundur dengan perlahan untuk menghilangkan sisa makanan dan plak.
3) Water Flosser (Irigator Oral)
• Kelebihan: Alat ini menggunakan semburan air bertekanan untuk membersihkan sisa makanan dan plak dari sela-sela gigi dan garis gusi.
Water flosser sangat efektif untuk pasien dengan kawat gigi, gigi berjejal, atau penyakit periodontal.
• Cara Penggunaan: Isi water flosser dengan air atau obat kumur, lalu arahkan ujungnya ke area yang ingin dibersihkan. Tekanan air akan membantu membersihkan sisa makanan dan bakteri tanpa perlu menyentuh langsung gusi.
6. Mengapa gusi kanan belakang bawah terasa gatal dan sering berdarah?
- Berkaitan dengan kebiasaan pasien dalam menggunakan tusuk gigi yang bisa menyebabkan luka, oral hygiene pasien yang kurang baik.
- Pada saat inflamasi maka nantinya akan muncul histamin yang akan menimbulkan rasa gatal.
- Gusi pasien yang terasa gatal dan sering berdarah kemungkinan besar disebabkan oleh gingivitis akibat penumpukan plak, kebersihan mulut yang buruk, dan kebiasaan penggunaan tusuk gigi yang tidak tepat. Peradangan ini menyebabkan gusi menjadi sensitif, mudah berdarah, dan terasa gatal akibat iritasi. Untuk mengatasi masalah ini, pasien perlu meningkatkan kebersihan mulut, menghentikan kebiasaan yang merusak seperti menusuk- nusuk gusi, dan mungkin perlu menjalani perawatan periodontal seperti scaling dan root planing untuk membersihkan plak dan kalkulus yang sudah menumpuk.
7. Mengapa terasa asin pada waktu tertentu itu pada saat kapan?
- Rasa asin dapat disebabkan oleh bleeding dan respon inflamasi pada gingiva dengan tekanan yang berlebih dari penggunaan tusuk gigi.
- Karena darah mengandung rasa besi yang khas dan karena penumpukan bakteri yang mempengaruhi persepsi rasa termasuk rasa asin.
- Rasa asin pada gusi yang dialami oleh pasien kemungkinan besar terjadi karena darah atau cairan inflamasi dari gusi yang meradang. Hal ini biasanya dirasakan saat ada iritasi atau trauma pada gusi, seperti setelah menyikat gigi atau menggunakan tusuk gigi. Jika rasa asin tersebut disertai dengan gejala lain seperti gusi bengkak, bau mulut, atau adanya cairan kental yang keluar, kemungkinan ada infeksi yang lebih serius, dan pasien
disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter gigi untuk perawatan lebih lanjut.
8. Mengapa pasien memiliki bau mulut yang tidak sedap?
- Karena pasien jarang menyikat gigi yang dapat menyebabkan penumpukan plak dan juga diakibatkan karena makanan disela-sela gigi yang berlubang.
- Kebiasaan menyikat gigi tidak teratur dan tergesa-gesa yang menyebabkan menumpuknya sisa makanan dan bau mulut disebabkan karena adanya interaksi senyawa yang berasa dari bakteri dalam kondisi rongga mulut yang kotor.
- Alasan utama kebiasaan menyikat gigi tidak teratur, orang yang menyikat gigi 2 kali sehari tetapi pada waktu yang tidak dianjurkan menyebabkan dapat terjadinya karies, plak yang tersisa yang ditambah bleeding akan menyebabkan halitosis.
- Halitosis hasil produk sampingan dari bakteri dan yang dikeluarkan dari bakteri berupa gas.
- Bau mulut yang tidak sedap pada pasien kemungkinan besar disebabkan oleh kebersihan mulut yang buruk, yang mengakibatkan penumpukan plak dan kalkulus, peradangan gusi (gingivitis), dan penggunaan tusuk gigi yang tidak tepat. Semua faktor ini memungkinkan bakteri untuk berkembang biak dan menghasilkan senyawa yang berbau tidak sedap. Untuk mengatasi bau mulut, penting bagi pasien untuk meningkatkan kebersihan mulut dengan menyikat gigi secara teratur, menggunakan benang gigi atau sikat interdental, dan melakukan kunjungan rutin ke dokter gigi untuk perawatan pembersihan profesional.
9. Apa diagnosa dari gejala yang dialami pasien di skenario dan apa penangannya?
- Radang gusi (gingivitis) yang disebabkan karena inflamasi.
- Gingivitis yang disebabkan akumulasi plak yang kurang dibersihkan dengan baik.
- Dengan gejala yang timbul maka diagnosanya gingivitis. Penanganannya dengan DHE, sikat gigi yang tepat diwaktu yang tepat, disarankan menggunakan dental floss, jika sudah ada kalkulus lakukan penghilangan dengan scalling.
Berdasarkan gejala yang dialami oleh pasien dalam skenario (gusi terasa gatal dan sering berdarah, bau mulut tidak sedap, kebiasaan menggunakan tusuk gigi, dan skor OHI-S 2,7), diagnosis yang paling tepat adalah Gingivitis yang disebabkan oleh peradangan gusi akibat penumpukan plak dan kebersihan mulut yang buruk.
1) Gingivitis:
o Gejala: Gusi meradang, berdarah, gatal, dan bau mulut tidak sedap.
Tanda-tanda ini menunjukkan adanya peradangan pada jaringan gusi yang biasanya disebabkan oleh penumpukan plak.
o Faktor Penyebab: Kebersihan mulut yang buruk, penggunaan tusuk gigi yang tidak tepat, dan potensi adanya kalkulus.
Penanganan
Penanganan untuk kasus gingivitis ini dapat dilakukan melalui beberapa langkah:
1) Pendidikan Pasien tentang Kebersihan Mulut
• Pentingnya Menyikat Gigi: Mengajarkan pasien tentang teknik menyikat gigi yang baik dan menyarankan untuk menyikat gigi minimal dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung fluoride.
• Penggunaan Benang Gigi: Mendorong pasien untuk menggunakan benang gigi atau sikat interdental untuk membersihkan sela-sela gigi secara rutin, setidaknya sekali sehari.
2) Perawatan Profesional oleh Dokter Gigi
• Scaling dan Root Planing: Melakukan pembersihan gigi profesional untuk menghilangkan plak dan kalkulus yang menempel pada permukaan gigi dan di bawah garis gusi. Ini penting untuk mengurangi peradangan dan memperbaiki kesehatan gusi.
• Evaluasi dan Pengawasan: Setelah perawatan awal, pasien perlu menjalani evaluasi berkala untuk memantau kemajuan dan memastikan kesehatan gusi kembali normal.
3) Perubahan Kebiasaan
• Menghindari Penggunaan Tusuk Gigi: Menganjurkan pasien untuk tidak menggunakan tusuk gigi yang tajam atau keras, karena dapat merusak gusi. Sebagai gantinya, disarankan untuk menggunakan metode yang lebih aman seperti benang gigi atau sikat interdental.
• Pola Makan Sehat: Menyarankan pasien untuk menjaga pola makan yang sehat dan menghindari makanan yang dapat menyebabkan penumpukan plak, seperti makanan manis dan lengket.
4) Obat Kumur Antiseptik
• Penggunaan Obat Kumur: Jika diperlukan, dokter gigi dapat meresepkan obat kumur antiseptik untuk membantu mengurangi bakteri di mulut dan mengatasi bau mulut.
5) Pengobatan untuk Kondisi Medis Lain
• Jika ditemukan adanya kondisi medis yang berkontribusi terhadap masalah gusi (seperti diabetes atau penyakit sistemik lainnya), pasien perlu dirujuk untuk penanganan lebih lanjut oleh dokter yang bersangkutan.