• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumen REFLEKSI HAKIKAT PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR

N/A
N/A
Ihwal Syafitra r

Academic year: 2024

Membagikan "Dokumen REFLEKSI HAKIKAT PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

REFLEKSI HAKIKAT PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR

“Tujuan Pendidikan, Pendidik/Guru, Peserta Didik, Kurikulum, dan Pembelajaran Dengan Merujuk Pada Pandangan Beberapa Aliran Filsafat

dan Tokoh Pendidikan”.

Mahasiswa:

Ihwal Syafitra R (105061102523)

Dosen pengampuh:

Dr. IDAWATI, S.Pd., M.Pd.

A. Pendahuluan

Hakikat pendidikan di sekolah dasar, tujuan pendidikan, peran pendidik/guru, peserta didik, kurikulum, dan pembelajaran, sangat penting untuk mempertimbangkan berbagai pandangan yang muncul dari aliran filsafat pendidikan dan kontribusi tokoh-tokoh pendidikan terkemuka. Pertama-tama, hakikat pendidikan di sekolah dasar dapat dilihat melalui prisma progresivisme, yang menekankan pada pengalaman langsung dan partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Dalam pandangan ini, sekolah dasar dianggap sebagai tempat di mana kreativitas dan rasa ingin tahu anak-anak dapat berkembang melalui pengalaman belajar yang menarik.

Sementara itu, aliran esensialisme melihat hakikat pendidikan di sekolah dasar sebagai upaya mentransfer pengetahuan dan nilai-nilai esensial kepada peserta didik. Fokusnya adalah pada penguasaan keterampilan dasar dan pemahaman konsep-konsep inti yang dianggap fundamental. Oleh karena itu, sekolah dasar dianggap sebagai landasan yang kuat bagi pembelajaran lanjutan.

Dalam hal tujuan pendidikan di sekolah dasar, perspektif progresivisme menyoroti pencapaian karakter, kreativitas, dan keterampilan sosial. Pendidikan di tingkat ini diarahkan untuk mengembangkan individu yang mampu berpikir kritis dan beradaptasi dengan perubahan. Di sisi lain, esensialisme menetapkan tujuan untuk mencapai standar pengetahuan dan keterampilan yang telah ditetapkan, memastikan bahwa setiap peserta didik memiliki dasar pengetahuan yang seragam.

(2)

Peran pendidik atau guru di sekolah dasar juga menjadi pusat perdebatan dari sudut pandang filsafat pendidikan. Progresivisme menekankan peran guru sebagai fasilitator pembelajaran yang mendorong eksplorasi dan pengembangan diri peserta didik. Sementara itu, esensialisme melihat guru sebagai otoritas yang memberikan transfer pengetahuan dan membimbing proses belajar.

Dalam melihat peserta didik di sekolah dasar, progresivisme menghargai keunikan dan potensi setiap anak. Peserta didik dianggap sebagai individu yang aktif, memiliki rasa ingin tahu, dan kemampuan untuk mengembangkan diri mereka sendiri. Esensialisme, sementara itu, melihat peserta didik sebagai penerima pengetahuan yang perlu mendapatkan informasi sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Kurikulum di sekolah dasar, ketika dipandang dari perspektif progresivisme, didesain untuk mencakup pengalaman nyata, pemecahan masalah, dan pengembangan keterampilan kritis. Aliran esensialisme, di sisi lain, menekankan pada kurikulum yang terstruktur dan terstandarisasi, memastikan bahwa semua peserta didik memperoleh pengetahuan yang sama.

Terakhir, dalam hal pembelajaran di sekolah dasar, progresivisme mengutamakan pembelajaran yang menantang dan bermakna, melibatkan peserta didik secara aktif. Esensialisme, sebaliknya, cenderung lebih fokus pada pembelajaran yang dipimpin guru, dengan penekanan pada transfer pengetahuan.

Secara keseluruhan, merenungkan pandangan aliran filsafat pendidikan dan pemikiran tokoh pendidikan terkemuka memberikan wawasan yang kaya dan beragam tentang hakikat, tujuan, peran pendidik, peserta didik, kurikulum, dan pembelajaran di sekolah dasar. Integrasi elemen-elemen terbaik dari berbagai pendekatan ini dapat membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang holistik, merangsang pertumbuhan peserta didik secara menyeluruh.

B. Hakikat Pendidikan di Sekolah Dasar

Sekolah dasar merupakan fase awal pendidikan formal di mana anak-anak mulai dibimbing menuju pemahaman dunia pengetahuan dan keterampilan dasar.

(3)

Pendidikan di tingkat ini tidak hanya mengandalkan transfer informasi, tetapi juga mencakup aspek-aspek pengembangan karakter dan kepribadian peserta didik.

Berbagai aliran filsafat pendidikan memberikan perspektif berbeda terhadap hakikat pendidikan di sekolah dasar.

Dalam konteks ini, pandangan progresivisme menekankan pada pengalaman langsung dan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran.

Proses belajar diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang menantang dan memungkinkan eksplorasi kreatif. Pendidikan di sekolah dasar, menurut progresivisme, harus memupuk rasa ingin tahu dan keterampilan berpikir kritis pada anak-anak.

Di sisi lain, aliran esensialisme melihat pendidikan di sekolah dasar sebagai sarana untuk mentransfer pengetahuan dan nilai-nilai dasar kepada peserta didik.

Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap anak memahami konsep-konsep inti yang dianggap penting untuk pengembangan intelektual mereka. Fokus pada hakikat pendidikan menurut esensialisme adalah memastikan adanya standar pengetahuan yang konsisten dan tinggi.

C. Tujuan Pendidikan di Sekolah Dasar

Tujuan pendidikan di sekolah dasar tidak terbatas pada penguasaan mata pelajaran saja, tetapi juga mencakup pembentukan karakter dan etika. Dari perspektif progresivisme, tujuan pendidikan adalah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kreatif, bekerja sama, dan memecahkan masalah.

Pendidikan di sekolah dasar seharusnya menciptakan lingkungan inklusif yang memperhatikan kebutuhan individu dan mempromosikan keberagaman.

Esensialisme, sementara itu, melihat tujuan pendidikan di sekolah dasar sebagai transfer pengetahuan esensial dan keterampilan dasar. Pendidikan di tingkat ini dimaksudkan untuk membentuk dasar pengetahuan yang kuat, yang kemudian akan menjadi pondasi untuk pembelajaran lebih lanjut. Tujuan utama adalah mempersiapkan peserta didik untuk memasuki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dengan landasan yang kokoh.

(4)

D. Pendik/Guru di Sekolah Dasar

Peran pendidik atau guru di sekolah dasar sangat krusial dalam mencapai tujuan pendidikan. Progresivisme menggambarkan pendidik sebagai fasilitator pembelajaran yang memahami keunikan setiap peserta didik. Guru harus mampu merancang pengalaman belajar yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari- hari anak-anak. Dalam pandangan esensialisme, peran guru lebih bersifat otoriter dengan fokus pada transfer pengetahuan yang terstandarisasi.

Tidak hanya itu, namun guru di sekolah dasar juga harus memiliki kemampuan untuk mendeteksi gaya belajar individual peserta didik. Ini sesuai dengan pandangan konstruktivisme, di mana pembelajaran diarahkan untuk membangun pengetahuan melalui interaksi aktif dengan materi pembelajaran. Guru di sekolah dasar harus memiliki fleksibilitas untuk mengadaptasi metode pengajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

E. Peserta Didik di Sekolah Dasar

Peserta didik di sekolah dasar adalah anak-anak dalam fase perkembangan yang sangat kritis. Mereka membawa keingintahuan alami, rasa ingin tahu, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Filsafat progresivisme mengapresiasi keunikan ini dan menekankan pada pengembangan potensi anak melalui metode pembelajaran yang menantang dan bermakna.

Esensialisme, di sisi lain, melihat peserta didik sebagai individu yang perlu diberikan fondasi pengetahuan dan keterampilan dasar yang sama. Fokusnya adalah pada standarisasi kurikulum untuk memastikan bahwa semua anak memperoleh pengetahuan esensial yang dianggap penting. Sementara itu, konstruktivisme menyoroti pentingnya pengalaman belajar yang relevan dan dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

F. Kurikulum di Sekolah Dasar

Kurikulum di sekolah dasar memainkan peran sentral dalam merancang pengalaman pembelajaran peserta didik. Progresivisme mendorong kurikulum yang

(5)

mencakup kegiatan eksplorasi, pemecahan masalah, dan penerapan praktik langsung. Tujuannya adalah menciptakan pembelajaran yang bermakna dan relevan bagi peserta didik.

Esensialisme mengejar kurikulum yang lebih terstruktur, dengan penekanan pada pengetahuan dan keterampilan dasar. Standarisasi kurikulum menjadi kunci, sehingga semua peserta didik memiliki dasar yang seragam. Konstruktivisme, sementara itu, mendorong fleksibilitas dalam kurikulum, memungkinkan peserta didik untuk membangun pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman belajar pribadi.

G. Pembelajaran di Sekolah Dasar

Pembelajaran di sekolah dasar mencakup berbagai metode dan pendekatan.

Pandangan progresivisme menekankan pada pembelajaran yang menarik, melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses belajar mereka sendiri. Model konstruktivisme menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, di mana pengetahuan dibangun melalui interaksi dan pengalaman langsung.

Dari perspektif esensialisme, pembelajaran harus terstruktur dan fokus pada transfer pengetahuan. Guru memainkan peran yang lebih aktif dalam menyampaikan materi, sementara peserta didik diharapkan untuk menerima dan memahami informasi. Integrasi berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik menjadi tantangan dan tanggung jawab bagi pendidik di sekolah dasar.

H. Kesimpulan

Hakikat pendidikan di sekolah dasar, tujuan pendidikan, peran pendidik/guru, peserta didik, kurikulum, dan pembelajaran dapat diperkaya dengan merenungkan pandangan berbagai aliran filsafat pendidikan dan pemikiran tokoh- tokoh pendidikan terkemuka. Aliran progresivisme menyoroti pentingnya pengalaman langsung, kreativitas, dan partisipasi aktif dalam pembelajaran, sementara esensialisme menekankan pada transfer pengetahuan dan keterampilan

(6)

dasar. Konstruktivisme memandang pembelajaran sebagai proses membangun pengetahuan melalui interaksi aktif dengan materi pembelajaran.

Dalam konteks tujuan pendidikan di sekolah dasar, progresivisme mengejar pengembangan karakter, pemikiran kritis, dan keterampilan kolaboratif, sedangkan esensialisme menitikberatkan pada pencapaian standar pengetahuan yang terstandarisasi. Peran pendidik/guru di sekolah dasar, menurut perspektif progresivisme, adalah sebagai fasilitator pembelajaran yang memahami keunikan peserta didik, sementara esensialisme melihat guru sebagai otoritas yang memberikan transfer pengetahuan.

Peserta didik di sekolah dasar, dalam pandangan progresivisme, dipandang sebagai individu dengan keunikan dan kreativitas yang perlu ditingkatkan, sementara esensialisme melihat peserta didik sebagai penerima pengetahuan standar. Dalam perancangan kurikulum, progresivisme mendorong kurikulum yang berfokus pada pengalaman dan pemecahan masalah, sementara esensialisme menekankan standarisasi untuk memastikan bahwa semua peserta didik memiliki pengetahuan dasar yang seragam.

Pada akhirnya, pembelajaran di sekolah dasar, menurut pandangan progresivisme, harus menarik, bermakna, dan melibatkan peserta didik secara aktif.

Esensialisme memandang pembelajaran sebagai proses yang lebih terstruktur, dengan penekanan pada pengajaran oleh guru. Integrasi pandangan ini memberikan kesempatan untuk merancang pendidikan di sekolah dasar yang holistik, memadukan elemen-elemen terbaik dari setiap aliran filsafat dan mendukung pertumbuhan peserta didik secara menyeluruh. Dengan demikian, melihat hakikat pendidikan di sekolah dasar dari berbagai perspektif filsafat dan tokoh pendidikan dapat membimbing kita untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang optimal dan relevan bagi perkembangan generasi masa depan.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penyajian pembelajaran, guru dan peserta didik (Kelas 4 Sekolah Dasar) perlu memahami apa yang hendak dicatat, melalui kegiatan pengamatan. Mengingat peserta didik

1) Apakah jumlah guru sekolah dasar di Kabupaten Sumba Timur sudah memenuhi standar jumlah tenaga pendidik untuk jenjang pendidikan di sekolah dasar?. 2) Apakah

Sekolah dan para guru memegang peran dan tanggungjawab yang lebih besar dalam pembelajaran peserta didik, tidak hanya ditunjukkan untuk me- menuhi harapan agar

Selain itu dengan mengetahui hakekat manusia dan pendidikan seumur hidup, diharapkan para pendidik bisa lebih memahami masing-masing peserta didik dalam diharapkan

Berdasarkan pembahasan pada Peran Guru Sebagai Fasilitator Dalam Pembelajaran IPA di kelas III SDN 10 Metro Timur, maka dapat disimpulkan bahwa Penulis telah melihat obyek

Hal ini juga sependapat dengan Mulyasa (2013) bahwa indikator variabel peran guru sebagai fasilitator terdiri dari 3 ukuran yaitu 1) tindakan guru untuk membantu siswa

SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada artikel yang berjudul“ Peran Guru pendidikan kewarganegaraan Dalam Menciptakan Sikap Nasionalisme Pada Siswa Sekolah Dasar”

Untuk dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran atau komunikasi dengan peserta didik, guru atau pendidik harus memahami konsep dasar komunikasi pendidikan seperti memahami proses