SATUAN SISWA PELAJAR DAN MAHASISWA PEMUDA PANCASILA
KOMISARIAT UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA Perumahan Bumi Mutiara Serang Blok C1 No.56 Serang-Banten
: 089622519949 / 089528550408 : www.sapmappkom-untirta.blogspot.co.id INDEPENDENT DIGITALISASI PENDIDIKAN
Digitalisasi pendidikan erat kaitannya dengan isu pengenalan dan implementasi teknologi kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu juga bertalian dengan kemunculan generasi digital, komptensi dan keterampilan untuk masuk dalam pasar kerja digital, dan tuntutan untuk pembelajaran seumur hidup. Dari titik ini, muncul isu ambiguitas soal interaksi manusia dengan lingkungan digital dan dampak negatifnya pada kemampuan kognitif, perhatian, dan aspek lain dari kehidupan manusia.
Sejumlah peneliti di bidang pendidikan modern menyimpulkan bahwa penerapan digitalisasi pendidikan berpotensi membawa pengaruh positif. Pertama, transformasi digital di pendidikan mampu menggantikan metode dan praktik pengajaran lama dengan yang baru, pengenalan perubahan dramatis dalam instruksi dan metodologi penilaian (ujian). Dengan kata lain, teknologi digital memungkinkan evolusi industri pendidikan sehingga terjadi transisi dari "sekolah lama" ke "sekolah baru" (Näykki, dkk. 2019). Kedua, digitalisasi pendidikan memengaruhi ekosistem pendidikan. Ketiga, digitalisasi pendidikan berpotensi menghasilkan keterampilan digital yang dibutuhkan oleh ekosistem ekonomi-bisnis digital (Sukhomlin, V.A., (2017).
Sejumlah peneliti lain melihat bahwa digitalisasi pendidikan berpotensi menimbulkan dampak negatif. Menurut mereka, digitalisasi pendidikan dapat membawa risiko potensial mengabaikan proses pembelajaran afektif, yaitu proses yang berhubungan dengan penderitaan emosional dan aktualisasi diri siswa dalam proses pembelajaran. Kelompok ini mencatat bahwa digitalisasi pendidikan telah secara signifikan mengubah hubungan antara guru dan siswa. Berhadapan dengan para siswa yang memiliki akses gratis ke berbagai sumber informasi dan pengetahuan, tak jarang membuat menjadi gamang dan kurang percaya diri. Mereka terpaksa meluangkan banyak energi dan waktu untuk mengembangkan metode pengajaran yang lebih interaktif dan lebih menarik berdasarkan teknologi digital. Sebab metode pembelajaran tradisional tak berlaku lagi. Shipp dan Noula (2017) misalnya menyebutkan bahwa digitilisasi pendidikan menimbulkan beberapa konsekuensi negatif bagi pendidik dan peserta didik sekaligus. Di antaranya adalah hilangnya kemampuan mental
SATUAN SISWA PELAJAR DAN MAHASISWA PEMUDA PANCASILA
KOMISARIAT UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA Perumahan Bumi Mutiara Serang Blok C1 No.56 Serang-Banten
: 089622519949 / 089528550408 : www.sapmappkom-untirta.blogspot.co.id INDEPENDENT
(emosi dan afeksi), penurunan keterampilan interpersonal (sosial), hilangnya minat membaca buku dan kemampuan untuk memahami teks-teks ilmiah yang jelimet, kecanduan layar, dan perkembangan radiasi dan kanker yang makin tinggi. Studi oleh Curry School of Education and Human Development, University of Virginia, AS (2020), menunjukkan bahwa siswa yang belajar online memiliki kinerja yang lebih buruk dan mengalami lebih banyak kesulitan dibandingkan dengan siswa intramural (pembelajaran tatap muka). Sementara studi yang dilakukan di Rusia menemukan bahwa digitalisasi pendidikan membuat para pendidik mengalami depresi karena tak kuasa mengikuti perubahan teknologi sehingga tak memiliki cara efektif untuk berbagi pengetahuan, wawasan, dan keterampilan dengan para peserta didiknya. Repotnya lagi, kampus yang menerapkan digitalisasi terbukti menghasilkan lebih banyak lulusan dengan kepribadian teralienasi, kurang berpendirian dan tak punya visi strategis. Studi lain menunjukkan bahwa kegagalan untuk mengintegrasikan teknologi secara tepat ke dalam proses pendidikan dapat merugikan siswa ketika mereka memasuki pasar tenaga kerja. Berbagai dampak negatif sebagaimana ditemukan dalam sejumlah studi tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri perihal jati diri dan martabat manusia serta peradaban umat manusia di masa depan. Kekhawatiran tersebut beralasan karena pendidikan penting untuk memunculkan generasi atau warga masyarakat yang memiliki inspirasi dan motivasi untuk berinovasi, memiliki karakter yang inklusif, peduli dan solider, dan punya visi dunia menjadi lebih baik, lebih damai, lebih sejahtera dan beradab.