• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERUBAHAN POLA PIKIR KETUHANAN PADA MAHASISWA (Studi pada Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Setelah Mengikuti Mata Kuliah Akhlak Tasawuf Semester Genap Tahun 20152016) SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PERUBAHAN POLA PIKIR KETUHANAN PADA MAHASISWA (Studi pada Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Setelah Mengikuti Mata Kuliah Akhlak Tasawuf Semester Genap Tahun 20152016) SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

PERUBAHAN POLA PIKIR KETUHANAN

PADA MAHASISWA

(Studi pada Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah

Ibtidaiyah Setelah Mengikuti Mata Kuliah Akhlak

Tasawuf Semester Genap Tahun 2015/2016)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh:

AHMAD WIBOWO

111-12-214

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi MOTTO

(7)

vii

PERSEMBAHAN

 Kedua orang tuaku yang telah memberikan segalanya untuk tercapainya cita-citaku.

 Segenap pengasuh pondok pesantren Sunan Giri yang telah memberikan ilmu dan pengalaman agama.

 Bapak Kyai Muadhim yang telah memberikan ilmunya dan membimbingku sampai sekarang.

 Bapak Muhammad Yahya yang menjadi motivasiku disaat aku lemah.

 Segenap pengurus, pelatih dan anggota PSNU PAGAR NUSA.

 Semua santri pondok pesantren SUNAN GIRI.

 Mba Sri Rohimah seseorang yang selalu mendukung dan memotivasiku.

 Mba Ana yang telah banyak membantu penyelesaian skripsi ini.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas petunjuk-Nya

penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul“PERUBAHAN POLA PIKIR KETUHANAN PADA MAHASISWA(Studi pada Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Setelah Mengikuti Mata Kuliah Akhlak Tasawuf Semester Genap Tahun 2015/2016)”.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan pola pikir

ketuhanan, faktor yang mempengaruhi perubahan pola pikir ketuhanan dan

implementasi perubahan pola pikir ketuhanan (peran tuhan) dalam menghadapi

masalah sehari-hari.

Selanjutnya, penulis menyampaikan ucapan terima kasihkepada yang

terhormat :

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd, selaku Rektor Institut Agama Islam

Negeri (IAIN) Salatiga.

2. Bapak Suwardi, M.Pd, Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam

Negeri(IAIN) Salatiga.

3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas

Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

4. Bapak Drs. Ahmad Sultoni, M.Pd, yang telah memberikan ilmu spiritualnya

dan membimbing dalam pembuatan skripsi ini.

5. Kedua orang tuaku yang telah memberikan segalanya untuk tercapainya

cita-citaku.

6. Segenap pengasuh pondok pesantren Sunan Giri yang telah memberikan

ilmu dan pengalaman agama.

7. Bapak Kyai Muadhim yang telah memberikan ilmunya dan membimbingku

sampai sekarang.

8. Bapak Muhammad Yahya yang menjadi motivasiku disaat aku lemah.

9. Segenap pengurus, pelatih dan anggota PSNU PAGAR NUSA.

(9)

ix

11. Mba Sri Rohimah seseorang yang selalu mendukung dan memotivasiku.

12. Mba Ana Mufrida yang telah banyak membantu penyelesaian skripsi ini.

13. Teman-teman HMI yang telah memberikan pengalaman-pengalaman dalam

organisasinya.

Salatiga, Maret 2017

(10)

x ABSTRAK

Wibowo. Ahmad, 2016. “PERUBAHAN POLA PIKIR KETUHANAN PADA MAHASISWA (Studi pada Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Setelah Mengikuti Mata Kuliah Akhlak Tasawuf Semester Genap Tahun 2015/2016)”.Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyahdan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN)Salatiga. Pembimbing :Drs. H. Ahmad Sulthoni, M.Pd

Kata kunci : pola pikir ketuhanan, akhlak tasawuf

Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui perubahan pola pikir ketuhanan pada mahasiswa PGMI peserta mata kuliah akhlak tasawuf semester genap tahun 2015/2016, (2) untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perubahan pola pikir ketuhanan mahasiswa PGMI setelah mengikuti matakuliah akhlak tasawuf semester genap tahun 2015/2016, (3) untuk mengetahui implementasi perubahan pola pikir ketuhanan (peran Tuhan) dalam menghadapi masalah sehari-hari.

Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Adapun pendekatan yang dipilih oleh penulis adalah fenomenologi. Penentuan sumber data dalam penelitian ini sesuai informasi yang didapat berupa kata-kata dan dokumen yang disajikan dan digambarkan apa adanya ditelaah guna menemukan makna. Peneliti bertindak langsung sebagai instrumen dan sebagai pengumpul data dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi.

(11)

xi

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iv

MOTTO ... v

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Perspektif Ketuhanan ... 16

B. AkhlakTasawuf ... 27

C. Metode Pembelajaran Akhlak Tasawuf ... 37

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data Penelitian ... 50

(12)

xii BAB IV ANALISIS

A. Analisis Hasil Penelitiantentang Perubahan Pola Pikir Ketuhanan ... 57

B. Pembahasan ... 58

BAB V PENUTUP

A. Simpulan ... 67

B. Saran ... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 69

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1Sampel Wawancara Perubahan Pola Pikir Ketuhanan... 14

(14)
(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Berbicara tentang Tuhan, pertama harus yakin lebih dahulu tentang

adanya Tuhan, sebagaimana seorang dapat diajak bicara dengan sesuatu

yang tidak ada, atau sesuatu yang dianggapnya tidak ada. itu orang-orang

yang tidak mau diajak bicara tentang Tuhan, atau malas sekali diajak bicara

tentang Tuhan, mungkin sekali karena dia tidak percaya dengan adanya

Tuhan. Untuk itu manusia harus dapat menyetir atau membimbing jalan

pikirannya masing-masing, agar dapat mempercayai tentang adanya Tuhan.

Sebelum lahirnya nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW. Sudah banyak

pemikir (philosophers) yang dengan akal dan pikiran mereka sudah dapat

membenarkan adanya Tuhan dengan berbagai caranya (Arifin, 1998:15)

Sesuai dengan ayat yang menerangkan adanya Tuhan dalam surat at

Taha ayat 50 yang berbunyi:







Artinya: dia (musa) menjawab, Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentukkejadian segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.(Q.S. AT-TAHA :50).

Pada umumnya manusia banyak mengadakan hubungan atau kontak

(16)

2

harus diakui, bahwa disamping ada manusia yang senantiasa mengadakan

hubungan dengan Tuhan, tetapi lebih banyak manusia yang putus sama

sekali hubunganya dengan Tuhan, mereka lupa seratus persen dengan

Tuhan. Tuhan tidak menjadi perhatian dalam hidup mereka. Tuhan adalah

suatu yang tidak menarik dalam hidup dan kehidupan mereka, bahkan ada

diantara manusia yang sampai benci, dan tak suka mendengar, membaca

dan memperkatakan Tuhan. (Arifin, 1988:183)

Dalam khazanah kemerdekaan berfikir, tentu saja upaya semacam ini

patut dihargai, apalagi terdapat alasan-alasan kuat bagi orientasi pemikiran

keilmuan yang baru itu. Ilmu dan penerapanya yang bernama teknologi,

ternyata tidak semuanya dapat memecahkan semua permasalahan manusia.

Dan bahkan beberapa kasus memberikan dampak yang bersifat negatif

seperti dehumanisasi kebudayaan dan degenerasi moral. (Saefudin, 1990:

18)

Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada akal, karena

akal hanya dimiliki oleh manusia, dan manusia adalah ciptaan terbaik Allah

SWT. Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan

akalnya, dan cemooh Allah SWT sangatlah buruk terhadap manusia yang

tidak mau menggunakan akalnya. Seperti dalam firman Allah:





(17)

3

Artinya: Dengan (air hujan) itu dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir. (Q.S. an Nahl :11)

Para filsuf berpendapat bahwa para ilmuwan merupakan orang-orang

yang dengan pemikiran, hanya mampu memahami fenomena dunia yang

sangat sempit, padahal dunia, sebagai satu totalitas, tak dapat dijangkau

secara mendalam dengan panca indra. Sedangkan para ilmuwan berpendapat

bahwa para filsuf hanyalah orang-orang yang omong kosong belaka.

Pernyataan seperti ini harus diluruskan.

Ada tiga kategori pengetahuan , yaitu:

1. Pengetahuan indrawi (knowledge)

Pengetahuan seperti ini meliputi semua fenomena yang dapat

dijangkau secara langsung oleh panca indra. Batas pengetahuan ini

ialah segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh panca indra.

2. Pengetahuan keilmuan (secience)

Pengetahuan ini meliputi semua fenomena yang dapat diteliti dengan

riset atau eksperimen, sehingga apa yang ada dibalik knowledge bisa

terjangkau. Batas pengetahuan ini ialah segala sesuatu yang tidak

terjangkau lagi oleh rasio, atau otak, dan pancaindera.

(18)

4

Pengetahuan ini mencakup segala fenomena yang tak dapat diteliti,

tapi dapat dipikirkan. Batas penemuan ini ialah alam, bahkan juga bisa

menembus apa yang ada di luar alam: Tuhan. (Saefudin, 1990: 30)

4. Pengetahuan intuisi (intuitif)

Intuisi adalah suatu pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui

proses penalaran tertentu. Menurut Al Ghozali, Intuisi atau yang

dalam istilahnya teknisnya disebut had (batas) merupakan pemahaman

yang diperoleh secara langsung, tanpa perantara tanpa rentetan dalil

dan susunan kata serta tanpa melalui langkah logika satu demi

satu.(http://m.hidayatullah.com/artikel/tsaqaf.html).

Ilmu terjadi karena pengkristalan pengalaman dan pengetahuan

sendiri, maupun informasi dari orang lain yang dapat diungkapkan dengan

kenyataan secara obyektif (empiris) ataupun subyektif (esensi). Ilmu

modern modern barat dibentuk atas dasar fakta empirisatau indrawi saja,

tanpa menghiraukan sumbernya yakni Allah, yang telah memberikan esensi

berbagai ilmu, antara lain ilmu ketuhanan, ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu

kealaman, sebagai mana terdapat dalam Al-Qur’an. Empiris dapat diketahui

dengan akal obyektif (rasio), sedangkan esensi dengan akal subyektif

(intelek). Perpaduan rasio dengan intelek ini menghasilkan ilmu yang

sebenarnya, karena rasio dapat mengerti hanya dengan analisis alamiah,

sedangkan intelek non inderawi dapat mengetahui esensi saja. (Saefudin

(19)

5

Keterangan diatas menunjukan bahwa pendekatan dalam pemikiran

ketuhanan ada dua cara yaitu:

1. Pendekatan dengan pola fikir berfilsafat (rasionalisme).

Filsafat adalah ilmu yang dasar utamanya mengunakan rasio.

Sehingga filsafat telah merubah pola fikir umat manusia yang

metosentris menjadi logosentris. Awalnya orang beranggapan bahwa

semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para dewa, nenek

moyang dan hal-hal yang tidak masuk akal. Dalam kehidupan modern

ini, filsafat bisa diartikan sebagai ilmu yang berupaya memahami

semua hal yang muncul dalam pandangan dan pengalaman manusia

perkembangan dan perubahan zaman ke zaman memiliki corak dan

ciri yang berbeda, kondisi ini cenderung memacu manusia untuk

selalu berfikir mencari nilai kebenaran itu sendiri, karena ada

perbedaan dan cara pandang dalam menafsirkan kebenaran tersebut

mengenai hakikat dan definisi filsafat.

(http://www.komangputra.com/10-jenis-aliran-filsafat-yang-mengubah-pola-pikir-manusia.html)

2. Pendekatan dengan cara tasawuf (agama)

Tasawuf adalah ilmu pengetahuan yang didasari oleh hati. Sehingga

isi dari tasawuf adalah, usaha membersihkan diri, berjuang memerangi

(20)

6

Allah SWT) menuju keabadian, saling mengingatkan antar manusia,

serta berpegang teguh pada janji Allah SWT dan mengikuti ajaran

syariat.

(http://zakiyatunnisakurniawan.blogspot.co.id/2012/12/dasar-dasar-tentang-tasawuf.html?m=1). Menurut peneliti,pendekatan yang

kedua ini masih sangatlah jarang mahasiwa menggunakannya karena

tipisnya pengetahuan tentang Tuhan.Melihat permasalahan diatas,

maka penulis perlu mengangkat judul yaitu “POLA PIKIR

KETUHANAN PADA MAHASISWA (studi pada mahasiswa

PGMI setelah mengikuti mata kuliah akhlak tasawuf semester genap tahun 2015/2016)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah:

1. Bagaimana perubahan pola pikir ketuhanan pada mahasiswa PGMI

peserta mata kuliah akhlak tasawuf semester genap tahun 2015/2016?

2. Apakah faktor yang mempengaruhi perubahan pola pikir ketuhanan

pada mahasiswa PGMI peserta mata kuliah akhlak tasawuf semester

genap tahun 2015/2016?

3. Bagaimana implementasi perubahan pola pikir ketuhanan (peran

tuhan) dalam menghadapi masalah sehari-hari?

(21)

7

Berdasarkan pokok masalah yang dirumuskan, berkembang menjadi

beberapa poin yang akan menjadi tujuan penelitian. Tujuan itu adalah:

1. Untuk mengetahui perubahan pola pikir ketuhanan pada mahasiswa

PGMI peserta mata kuliah akhlak tasawuf semester genap tahun

2015/2016.

2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perubahan pola pikir

ketuhanan mahasiswa PGMI peserta matakuliah akhlak tasawuf

semester genap tahun 2015/2016.

3. Untuk mengetahui implementasi perubahan pola pikir ketuhanan

(peran Tuhan) dalam menghadapi masalah sehari-hari.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat teoritik dan

manfaat praktis sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritik

a. Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan

refrensi khazanah bagi ilmu pengetahuan keagamaan.

b. Hasil penelitian ini juga di harapkan mampu menambah

informasi untuk khazanah keilmuan pendidikan agama islam.

2. Manfaat dari penelitian secara praktis:

Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat dan urgensi bagi:

(22)

8

Hasil penelitian ini dapat berguna untuk pemerintah agar terus

meningkatkan mutu pendidikan yang berbasis Agama.

b. Masyarakat

Sebagai sumbangan informasi bagi semua lapisan masyarakat

terutama orang tua agar lebih komunikatif dan cermat

memperhatikan perubahan anaknya yang belajar di IAIN

Salatiga.

c. Kampus IAIN Salatiga

Untuk memperkaya perbendaharaan perpustakaan Institut

Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

d. Peneliti

Sebagai bahan masukan untuk mengembangkan wawasan dan

bahan dokumentasi untuk penelitian lebih lanjut.

E. Penegasan Istilah

Untuk memperjelas makna judul serta menghindari penafsiran dan

penjelasan juga sebagai batasan penulisan. Maka penulis akan menjelaskan

istilah-istilah yang penting di dalam judul. Adapun istilah-istilah itu adalah:

1. Perubahan

Kata perubahan dalam kamus besar bahasa indonesia adalah kata

dasar dari “ubah” yang ditambah awalan “per” dan akhiran “an”

(23)

9

pertukaran dari suatu keadaan yang mana dalam penelitian ini bisa

melalui pengertian mendalam terhadap materi dan pengalaman

langsung dari mahasiswa. Sedangkan dalam penelitian ini adalah

perubahan pola pikir tentang ketuhanan yang dialami oleh mahasiswa

peserta akhlak tasawuf.

2. Pola Pikir

Pola dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti model, sistem, cara

kerja, bentuk (struktur) yang tetap. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Sedangkan kata pikir dapat digabungkan menjadi pemikiran yang

bersumber dari otak dan manusia dianugrahi otak untuk berfikir

dengan pikiran dan pemikiranya, sehingga manusia dapat menarik

suatu kesimpulan atau penyimpulan (inference). (Burhanudin,

1988:68). Jadi dapat disimpulkan, penulis dalam penelitian ini

mengacu pada model atau cara berfikir mahasiswa tentang peran

Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pola Pikir Ketuhanan

Dalam tradisi pemikiran, umumnya dikenal dengan dua alat

pengetahuan manusia, akal dan indra. Pemujaan pada akal akan

melahirkan melahirkan rasionalisme, dengan paradigma logis dan

obyektifnya bersifat abstrak. Kemudian pemujaan kepada indra akan

melahirkan sensualisme, materialisme, empirisme,dan positivisme,

dengan paradigma sains dan obyeknya bersifat empiris. Kedua

(24)

10

empirisdalam terminologi sains barat. Meskipun kedua paradigma

tersebut dapat memberikan sumbangan yang besar terhadap sains,

namun ia tidak bisa berbuat apa-apa pada obyek yang rasional dan

metafisi, serta meta indrawi. (M. Gufron, 2006: 145)

Berdasarkan penegasan istilah di atas, maka yang dimaksud

dengan judul “PERUBAHAN POLA PIKIR KETUHANAN PADA

MAHASISIWA (Studi pada Mahasiswa PGMI setelah mengikuti

mata kuliah akhlak tasawuf tahun 2015)”. Adalah suatu kajian untuk

menelaah sejumlah konsep dan pengalaman yang mengarahkan pada

perubahan pola pikir ketuhanan yang dialami oleh mahasiswa

PGMIsetelah mengikuti mata kuliah akhlak tasawuf semester genap

tahun 2015/2016.

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Adapun pendekatan

yang dipilih oleh penulis adalah fenomenologi. Peneliti

mengumpulkan data sesuai informasi yang didapat berupa kata-kata

dan dokumen yang disajikan dan digambarkan apa adanya ditelaah

guna menemukan makna. Peneliti bertindak langsung sebagai

instrumen dan sebagai pengumpul data dari hasil catatan lapangan,

(25)

11

2. Lokasi Penelitian

Peneliti memilih lokasi penelitian di Kampus Institut Agama Islam

Negeri (IAIN) Salatiga pada mahasiswa PGMI peserta mata kuliah

Akhlak Tasawuf semester genap tahun akademik 2015/2016.

3. Prosedur Pengumpulan Data

1) Penelitian Kepustakaan

a. Penelitian kepustakaan tahap awal yang dilakukan oleh

seorang peneliti untuk menjajagi ada tidaknya buku-buku

atau sumber-sumber tertulis lainya yang relevan dengan isi

judul.

b. Menelaah isi buku yang harus dilakukan adalah menandai

bab yang kiranya mempunyai kaitan langsung dengan isi

judul.

c. Mengutip bagian penting yang berkaitan dengan isi judul.

2) Penelitian Lapangan

Untuk penelitian lapangan ditempuh beberapa tahap:

a. Menelaah bahan tertulis yang relevan dengan judul

masalah.

b. Melakukan kajian mendalam dengan judul masalah.

c. Diskusi awal dengan dosen mata kuliah akhlaq tasawuf.

(26)

12

e. Menentukan alat pengumpulan data.

Agar sebuah penelitian dapat disajikan secara sistematis maka

peneliti menggunakan teknik-teknik pengumpulan data antara lain

wawancara dan catatan lapangan:

1) Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu,

percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara

yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang

memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2007: 186).

Terwawancara adalah sebagian mahasiswa peserta mata kuliah

Akhlak Tasawuf.Teknik wawancara ini dilakukan oleh peneliti

untuk mendapatkan data atau informasi yang berhubungan

dengan fenomenologi (pengalaman) yang dialami oleh

terwawancara.

Tabel 1.1

Wawancara Pola Pikir Ketuhanan

1. Perubahan pola pikir ketuhanan seperti apa yang anda rasakan sebelum dan sesudah mengikuti mata kuliah akhlak tasawuf?

2. Apakah faktor yang mempengaruhi perubahan pola pikir ketuhanan?

3. Bagaimana pendapat anda tentang doa?

4. Bagaimana pendapat anda tentang doa yang tidak terkabul?

5. Apakah ada perubahan dalam implementasi sehari-hari yang anda lakukan sebelum dan sesudah mengikuti mata kuliah akhlak tasawuf?

6. Apakah ada perubahan cara anda dalam mengatasi masalah sehari-hari sebelum dan sesudah mengikuti mata kuliah akhlak tasawuf?

(27)

13

8. Pengalaman apa yang dapat membuat perubahan pola pikir dalam diri anda?

2) Catatan Lapangan

Catatan lapangan menurut Bogdan dan Biklen (1982) dalam

Moloeng (2009: 209) adalah catatn tertulis tentang apa yang

didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka

pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian.

4. Tahap-tahap penelitian

Tahap penelitian yang digunakan oleh peneliti sebagi berikut:

a. Penelitian Pendahuluan

Mengkaji buku-buku yang berkaitan dengan tasawuf,

perkembangan pola pikir, dan ketuhanan (tauhid).

b. Penelitian Desain

Setelah mengetahui tentang perubahan pola pikir ketuhanan

pada mahasiswa berdasarkan buku-buku kemudian observasi

serta wawancara langsung kepada mahasiswa yang merasa

mengalami perubahan dalam pola pikir ketuhanan.

c. Penelitian Sebenarnya

Mengkaji antara informasi yang terdapat dalam buku-buku

mengenai perubahan pola pikir ketuhanan dengan data yang

diperoleh di lapangan.

5. Analisis Data

Di dalam buku Metodologi Penelitian Kualitatif menurut

(28)

14

kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan

data. Mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan

yang dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola,

menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan

memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

G. Sistematika Penulisan

Skripsi ini penulis bagi menjadi lima bab. Masing-masing bab saling

berkaitan, dengan penjelasan sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN, yang meliputi:

A. Latar Belakang Masalah

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Manfaat Penelitian

E. Penegasan Istilah

F. Metode Penelitian

G. Sistematika Penulisan

BAB II :KAJIAN PUSTAKA, yang terdiri dari tiga sub yaitu:

A. Perspektif Ketuhanan

1. Pola Pikir Ketuhanan

2. Macam-Macam Pola Pikir

3. Filsafat Ketuhanan

(29)

15

B. Akhlak Tasawuf

1. Pengertian Akhlak Tasawuf

2. Ruang Lingkup Akhlak Tasawuf

3. Tujuan Mempelajari Akhlak Tasawuf

C. Metode Pembelajaran Akhlak Tasawuf

1. Pendapat Para Ahli Mengenahi Pembelajaran Akhlak

Tasawuf

2. Model Pembelajaran Akhlak Tasawuf

BAB III : PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Perubahan Pola Pikir Ketuhanan pada mahasiswa PGMI peserta

mata kuliah akhlak tasawuf

B. Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Pola Pikir Ketuhanan

Pada Mahasiswa PGMI peserta mata kuliah akhlak tasawuf

C. Implementasi Perubahan Pola Pikir Ketuhanan (peran tuhan)

dalam Menghadapi Masalah Sehari-hari

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

B. Pembahasan

BAB V : PENUTUP

A. Simpulan

(30)

16 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. PerspektifKetuhanan

1. Pola Pikir Ketuhanan

Dalam tradisi pemikiran, umumnya dikenal dengan dua alat

pengetahuan manusia, akal dan indra. Pemujaan pada akal akan

melahirkan melahirkan rasionalisme, dengan paradigma logis dan

obyektifnya bersifat abstrak. Kemudian pemujaan kepada indra akan

melahirkan sensualisme, materialisme, empirisme,dan positivisme,

dengan paradigma sains dan obyeknya bersifat empiris. Kedua

paradigma tersebut menolak obyek mistik yang supra logis dan non

empirisdalam terminologi sains barat. Meskipun kedua paradigma

tersebut dapat memberikan sumbangan yang besar terhadap sains,

namun ia tidak bisa berbuat apa-apa pada obyek yang rasional dan

metafisi, serta meta indrawi. (M. Gufron, 145: 2006)

Dalam penjelasan diatas bahwasanya pola pikir terdapat tiga

macam yang didasari oleh akal, indra dan hal yang berhubungan

dengan mistik, metafisika, dalam hal ini peneliti dasar mengatakan

bahwa pola pikir yang ketiga didasari oleh kejernihan hati, dan pola

(31)

17

tentang ketuhanan menurut peneliti harus berdasarkan dengan hati

yang jernih untuk dapat merasakan keyakinan dan ketenangan.

Istilah Tuhan dalam sebutan alquran digunakan kata ilaahun,

yaitu setiap yang menjadi penggerak atau motivator, sehingga

dikagumi dan dipatuhi oleh manusia. Orang yang mematuhinya di

sebut abdun (hamba). Kata ilaah (Tuhan) di dalam

Alqurankonotasinya ada dua kemungkinan, yaitu Allah, dan selain

Allah. Subjektif (hawa nafsu) dapat menjadi ilah (Tuhan).

Benda-benda seperti : patung, pohon, binatang, dan lain-lain dapat pula

berperan sebagai ilah. Demikianlah seperti dikemukakan pada surat

Albaqarah: 165, sebagai berikut:







Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.

Sebelum turun alquran dikalangan masyarakat Arab telah

menganut konsep tauhid (monoteisme). Allah sebagai Tuhan mereka.

Hal ini diketahui dari ungkapan-ungkapan yang mereka cetuskan, baik

dalam doa maupun acara-acara ritual. Abu Thalib, ketika memberikan

khutbah nikah Nabi Muhammad dengan Khadijah (sekitar 15 tahun

sebelum turunya alquran) ia mengungkapkan kata-kata Alhamdulillah.

(Lihat Al-Wasith,hal 29). Adanya nama Abdullah (hamba Allah) telah

(32)

18

Keyakinan akan adanya Allah, kemahabesaran Allah, kekuasaan Allah

dan lain-lain, telah mantap. Dari kenyataan tersebut timbul pertanyaan

apakah konsep ketuhanan yang dibawakan Nabi Muhammad?

Pertanyaan ini muncul karena Nabi Muhammad dalam

mendakwahkan konsep ilahiyah mendapat tantangan keras dari

kalangan masyarakat. Jika konsep ketuhanan yang dibawa

Muhammad sama dengan konsep ketuhanan yang mereka yakini tentu

tidak demikian kejadiannya.

Pengakuan mereka bahwa Allah sebagai pencipta semesta alam

dikemukakan dalam Alquransurat alAnkabut ayat 61 sebagai berikut;











Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

Dengan demikian seseorang yang mempercayai adanya Allah,

belum tentu berarti orang itu beriman dan bertaqwa kepada-Nya.

Seseorang baru laik dinyatakan bertuhan kepada Allah jika ia telah

memenuhi segala yang dimaui oleh Allah. Atas dasar itu inti konsep

ketuhanan Yang Maha Esa dalam Islam adalah memerankan ajaran

Allah yaitu Alqurandalam kehidupan sehari-hari. Tuhan berperan

(33)

19

Pernyataan lugas dan sederhana cermin manusia bertuhan Allah

sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-Ikhlas. Kalimat syahadat

adalah pernyataan lain sebagai jawaban atas perintah yang dijaukan

pada surat alikhlas tersebut. Ringkasnya jika Allah yang harus

terbayang dalam kesadaran manusia yang bertuhan Allah adalah

disamping Allah sebagai Zat, juga alquran sebagai ajaran serta

Rasullullah sebagai Uswah hasanah.

2. Macam-Macam Pola Pikir

Dalam penelitian ini akan dibahas dua macam pola pikir yaitu:

a. Filsafat

Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yabg

sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau

rasio. Hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat adalah 1)

keheranan; 2) kesangsian; 3) kesadaran akan keterbatasan

karena merasa dirinya sangat kecil, sering menderita, dan sering

mengalami kegagalan. Hal ini mendorong pemikiran bahwa

diluar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak

terbatas.(https://yogapermanawijaya.wordpress.com/2014/10/26/

landasan-berfikir-filsafat-manfaat-dan-penerapanya-pembagian-filsafat-ciri-filsafat-dan-landasan-filsafat/)

Manusia mempunyai pengetahuan, binatang mempunyai

(34)

20

selain manusia pengetahuanya bersifat statis, dari masa kemasa

tetap begitu saja. Tetapi pengetahuan yang dimiliki manusia

bersifat dinamis, terus berkembang dari zaman kezaman, karna

manusia mempunyai kemampuan mencerna pengalaman,

merenung, merefleksi, menalar, dan meneliti dalam upaya

memahami lingkunganya.Kemampuan tersebut dimiliki manusia

disebabkan manusia dibekali oleh Tuhan berupa akal atau rasio

untuk berfikir, sementara mahluk lainya tidak manusia berfikir

dengan akalnya. Dengan akalnya manusia mempunyai rasa ingin

tahu (curiosity). Dari rasa ingin tahu inilah manusia selalu

mempertanyakan segala hal yang dipikirkanya, menyangsikan

segala apa yang dilihat, dan mencari segala bentuk

permasalahan yang dihadapi. Manusia berusaha menjawab

semua pertanyaan yang dihadapi dan mengajukan alternatif

pemecahan suatu masalah.

(http://rheinaldyy2likesrin.wordpres.com/2010/08/26/pengantar-ilmu-filsafat/ )

Keterangan diatas mengakibatkan filsafat telah berhasil

mengubah pola pikir umat manusia dari pandangan mitosentris

menjadi logosentris. Awalnya orang beranggapan bahwa semua

kejadian dialam ini ini dipengaruhi oleh para dewa ataupun

faktor X. Dalam kehidupan modern ini, filsafat bisa diartikan

(35)

21

didalam keseluruhan ruang lingkungan pandangan dan

pengalaman umat manusia. Perkembangan dan perubahan

zaman kezaman mempunyai corak dan ciri yang berbeda kondisi

ini cenderung memacu manusia untuk selalu berfikir mencari

kebenaran itu sendiri, karna ada perbedaan dan cara pandang

dalam menafsirkan kebenaran tersebut mengenai hakikat dan

difinisi filsafat.

(http://www.komangputra.com/10-jenis-aliran-filsafat-yang-mengubah-pola-pikir-manusia.html)

Dalam keterangan diatas bahwasa rasio manusia menjadi

tolak ukur pengetahuan untuk mencari suatu kebenaran padahal

sudah diketahui bahwasanya rasio manusia itu sangatlah terbatas

sehingga tidak mungkin semua permasalahan dapat ditemukan

oleh rasio manusia.

b. Tasawuf

Kebanyakan kalangan muslim percaya bahwa salah satu

aspek penting untuk mengetahui keuniversalan ajaran islam

tersebut adalah adanya dorongan untuk senantiasa mencari ilmu

pengetahuan dimana saja dan kapan saja umat islam berada.

Dengan adanya dorongan dari ayat-ayat al qur’an maupun dalam

al-hadist yang menganjurkan umat islam agar mencari ilmu

pengetahuan inilah yang menyebabkan lahirnya beberapa

disiplin ilmu pengetahuan dalam islam. Dimana salah satunya

(36)

22

(http://santriblarah.blogspot.co.id/2013/04/ilmu-tasawuf-dalam-islam.html?m=1)

Taswuf atau sufisme adalah ilmu untuk mengetahui

bagaimana cara mensucikan jiwa, menjernihkan akhlaq,

membangun dhohir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan

yang abadi.(http://id.m.wikipedia.org/wiki/sufisme)

Pendekatan dan cara berfikir inilah yang akan dipakai oleh

peneliti melihat judul dalam penelitian ini adalah pola pikir

tentang ketuhanan.

3. Filsafat Ketuhanan

Perkataan ilah, yang selalu diterjemahkan “Tuhan”, dalam

alqur’an dipakai untuk menyatakan berbagai objek yang dibesarkan

atau dipentingkan manusia, misalnya dalam surat al-Furqan ayat 43.







“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?”

Dalam surat al-Qashash ayat 38, perkataan ilah dipakai oleh

Fir’aun untuk dirinya sendiri:

(37)

23











Dan Fir’aun berkata: ‘Wahai para pembesar hambaku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku’.

Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan

ilah bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau

keinginan pribadi maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang

dipatuhi dan dipuja). Perkataan ilah dalam alqur’an juga dipakai

dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (mutsanna: ilaahaini),

dan banyak (jama’: aalihatun).

Bertuhannolatauatheismetidakmungkin.

UntukdapatmengertitentangdefinisiTuhanatauIlah yang tepat,

berdasarkanlogikaalquranadalahsebagaiberikut:

Tuhan (ilah) ialahsesuatu yang dipentingkan (dianggappenting)

olehmanusiasedemikian rupa,

sehinggamanusiamerelakandirinyadikuasaiolehnya. Perkataan

dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya

yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat

memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula

(38)

24

Ibnu Taimiyah memberikan definisi Al-ilah ialahyang dipuja

dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadaNya, merendahkan diri

dihadapanNya,takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat

berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo’a, dan bertawakkal

kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari

padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan

terpaut cinta kepadanya. (M. Imaduddin, 1989: 56).

Berdasarkan definisi tersebut di atas dapat dipahami, bahwa

Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan oleh manusia.

Yang pasti ialah manusia tidak mungkin atheis, tidak mungkin tidak

ber-Tuhan. Berdasarkan logika alquransetiap manusia pasti

mempunyai sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian,

orang-orang komunis pada hakikatnya ber-Tuhan juga. Adapun Tuhan

mereka ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.

Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “Laa illaha illaa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada

Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan suatu penegasan “melainkan

Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan

dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, yang ada dalam hatinya

hanya satu Tuhan yang bernama Allah.

(39)

25

Karakteristik pola pikir ketuhanan dalam penelitian ini dibagi

menjadi dua yaitu filsafat dan tasawuf.

a) Filsafat

Untuk mengetahui dan mengenal filsafat maka harus

mengetahui karakteristik filsafat yang dirumuskan pada empat

macam, yaitu:

1) Skeptisis

Sekeptisis adalah sikap keragu-raguan terhadap suatu

kebenaran sebelum memeroleh argumen yang kuat

terhadap kebenaran tersebut.

2) Komunalisme

Komunalisme berasal dari kata komunal yang berarati

umum. Maksudnya ialah hasil pemikiran filsafat adalah

milik masyarakat umum, tidak memandang ras, kelas

ekonomi, dan lain-lain. Misalnya dimanfaatkan oleh orang

Asia, Eropa, Afrika, dan lain-lainya.

3) Desintrestednes

Desintrestednes berasal dari kata interest yang berarti

kepentingan, kemudian diberi awalan dis yang berarti

tidak. Disinterestednes berarti suatu kegiatan (aktifitas)

kefilsafatan tidak dimotifasi dan tidak bertujuan untuk

(40)

26

seorang pemikir bebas, sesuai apa adanya bukan

bagaimana seharusnya.

4) Universalisme

Istilah universalisme berasal dari kata universal yang

berarti menyeluruh. Yaitu berfilsafat adalah hak seluruh

umat manusia secara umum.

(http://as87751.blogspot.com/2012/10/karakteristik-filsafat4079.html?m=1)

b) Tasawuf

Karakteristik dari ajaran tasawuf adalah:

1) Ajaranya benar-benar menurut Al qur’an dan sunah,

terikat dan tidak keluar dari ajaran-ajaran syariat

islamiyah.

2) Lebih cenderung pada perilaku atau moral keagamaan dan

pada pemikiran.

3) Banyak dikembangkan oleh kaum salaf.

4) Termotifasi untuk membersihkan jiwa yang berorientasi

pada aspek dalam yaitu cara hidup yang lebih

mengutamakan rasa, dan lebih mementingkan keagungan

Tuhan dan bebas dari egoisme. (http://

(41)

27

Dalam penjelasan di atas akan menimbulkan karakteristik

yang berbeda dimana seorang pengamal filsafat akan

mengunakan akal (rasionya) sampai ia merasa benar dalam

penelitianya padahal tidak semua kebenaran itu dapat dicapai

dengan rasio karna rasio dalam manusia ini sangatlah terbatas.

Berbeda dengan seseorang pengamal tasawuf dimana ia

mengandalkan hati yang mencari kebenaran itu sehingga

pengamal tasawuf percaya bahwa hatinya dijalankan oleh Allah

menuju jalan yang benar dan pengamalan seperti inilah yang

dapat menghasilkan keyakinan dan ketenangan serta kebenaran

yang hakiki.

B. Akhlak Tasawuf

1. Pengertian Akhlak Tasawuf

Definisi akhlak (khuluk)adalah budi pekerti, tabi’at, dan

karakter. Akhlak adalah tujuan utama dari penciptaan, dimensi utama

bagi seluruh mahluk dan usaha untuk membuat keingginan manusia

dapat sejalan dengan hakikat “penciptaan” yang tujuanya adalah untuk

mengikuti akhlak Allah. (Gulen, 2014:143)

Kata akhlak berasal dari bahasa arab yaitu isim masdar (bentuk

infiniti) dari kataاقلخا -– قلخي– قلخا sesuai dengan timbangan (wazan)

tsulasi mazid لعفا لاعفا – لعفي - yang berarti al sajiyah (perangai), al

(42)

28

kelaziman), al mar’ah (peradaban yang baik), dan al din (agama),

(Solihin, 2005: 17)

Mahasiswa sangatlah penting untuk mendapat mata kuliah

Akhlak Tasawuf ini khusus pada fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan

sebagai bekal untuk terjun di dunia pendidikan. Berkenaan dengan hal

tersebut penulis akan menjelaskan arti tasawuf menurut Harun

Nasution, istilah tasawuf ada lima yaitu ahl al suffah (orang yang ikut

pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah), saf (barisan), sufi

(suci), sophos (bahasa Yunani:Hikmat), dan suf (kain wol), (Nasution,

1983: 26-57). Karena yang penulis maksud disini pembelajaran akhlak

tasawuf adalah sikap mental yang berusaha belajar memelihara

kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk

kebaikan dan selalu bersikap bijaksana (Nata, 1996:180).

Jadi pembelajaran akhlak tasawuf mengajarkan agar lebih

memperbaiki keyakinan yang disertai dengan akhlak dengan bertahap

sehingga perubahan pola pikir ketuhanan itu dapat dirasakan oleh

mahasiswa, yang dapat menimbulkan rasa keimanan yang lebih kuat.

Ibnu Maskawaih mengidentikkan antara akhlak dan karekter,

keduanya adalah merupakan keadaan jiwa, demikian juga Imam

Ghazali mengibaratkan akhlak sebagai gerak jiwa seseorang serta

gambaran batinnya. Dari kedua pengertian yang diberikan oleh kedua

pakar ilmu akhlak ini bahwa akhlak sebagai suatu aktifitas yang

(43)

29

dan buruk karakter, kepribadian, sikap dan tingkah laku seseorang

yang telah menjadi tabiat sehari-hari yang dikerjakan dengan

kesadaran dan tanpa pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu

berkait erat dengan jiwa dan batin seseorang, sehingga jelaslah bahwa

akhlak merupakan bagian penting didalam ajaran agama, karena itu

wajar kalau justru fungsi keseluruhan Nabi (pembawa agama) adalah

untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana peringatan beliau:

ِقلاْخَلأإ َمِر َكََم َمِ مَتُلأ ُتْثِعُب اَمَّنِإ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’ (no. 20782), al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 8949))

Karena keduanya (akhlak dan agama Islam) membahas dan

mengupayakan bagaimana jiwa seseorang menjadi baik dan sempurna

dengan membuahkan suatu pola pikir, sikap dan tingkah laku (shaleh),

dengan keharmonisan dan keselarasan yang sempurna tanpa adanya

kamoplase penipuan, kemunafikan disharmonisasinya antara batin dan

jiwa, dengan prilaku, misalnya hatinya baik perilakunya jelek, atau

sebaliknya perilakunya baik tetapi keluar dari jiwa dan niatan batin

yang jelek, baik karena kebodohan maupun karena kejelekan jiwa.

Sehingga akhlak terkait erat dengan keimanan yang sama-sama

berpangkal didalam hati seseorang bahkan menurut Nabi Muhammad

orang yang terbaik keimanannya adalah orang yang baik akhlaknya

(44)

30

Seperti pernyataan Nabi :

ًاقُلُخ ْمُهُ نَسْحأ ًنااَيمإ َينِنِمؤُلما ُلَمْكأ

“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik diantara mereka akhlaknya.” (HR Tirmidzi, ia berkata: hadis hasan shahih)

Tasawuf adalah suatu kata istilah atau nama yang muncul jauh

dari masa Nabi (2 abad) setelah Nabi, yang pertama kali dimunculkan

oleh seorang zahid Abu Hasyim Al-Kufi (wafat 150 H), untuk suatu

kelompok orang Islam yang mengkonsentrasikan dirinya pada

kehidupan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan

sedekat-dekatnya dengan berbagai cara dan upaya. (Abu Bakar, 1990: 53)

Kata tasawuf berasal dari kata shuffah, yang menurut etimologi

dengan pendekatan historis berasal dari kata ahli. Shuffah ialah

orang-orang yang ikut pindah atau hijrah dengan Nabi dari Mekkah ke

Madinah, dan karena hartanya ditinggalkan, mereka berada dalam

kehidupan miskin dan tak mempunyai apa-apa. (Harun Nasution,

1973: 57). Mereka tinggal di masjid Nabi dengan selalu memakai

pelana kuda”suffah” sebagai bantalnya sehingga disebut “Ahli

Shuffah” adalah kelompok kaum muslimin yang miskin tetapi mereka

berhati mulia, tidak mementingkan keduniaan, miskin tetapi berhati

baik dan mulia, itulah sifat-sifat ahli shuffah yang dijadikan contoh

orang sufi dikemudian hari . Ada juga yang mengatakan tasawuf atau

sufi berasal dari kata shuf “ yang berarti kain wool, karena para

(45)

31

kehidupan kerohanian itu selalu mengenakan baju wol kasar sebagai

lambang kesederhanaan pada saat itu. Dan masih banyak lagi yang

mencoba mengkait-kaitkan asal kata dan istilah tasawuf itu, tetapi yang

jelas tasawuf berarti pokok hidup kerohanian Islam dan syari’at batin

dalam ajaran Islam.

Pada masa Nabilah mula pertama timbulnya embrio munculnya

sufi sebagai suatu aliran keagamaan yang digambarkan dengan adanya

kelompok ahlli shuffah di Masjid Nabi, yang mendapat restu dari Nabi

bahkan Nabi sendiri dan hampir semua sahabaat dekat Nabi

memberikan contoh-contoh kehidupan kerohanian yang sangat tinggi,

berpola hidup sederhana atau bahkan miskin dan senantiasa

memperbanyak ibadah dan muraqabah serta mujahadah-mujahadah

yang sangat serius, dengan shalat, dzikir dan membaca Al-qur’an serta

berpuasa disamping tidak pernah dari semangat jihad dan dakwah.

2. Ruang Lingkup Akhlak Tasawuf

Menurut Ahmad Daudy ilmu tasawwuf pada umumnya dibagi

menjadi tiga, pertama tasawwuf falsafi, yakni tasawwuf yang

menggunakan pendekatan rasio atau akal pikiran, tasawwuf modelini

menggunakan bahan–bahan kajian atau pemikiran dari para tasawwuf,

baikmenyangkut filsafat tentang Tuhan manusia dan sebagainnya.

Kedua, tasawwuf akhlaki,yakni tasawwuf yang menggunakan

(46)

32

(mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya

denganakhlak yang terpuji), dan tajalli (terbukanya dinding

penghalang (hijab) yang membatasimanusia dengan Tuhan, sehingga

Nur Illahi tampak jelas padanya). Dan ketiga, tasawwuf amali, yakni

tasawwuf yang menggunakan pendekatan amaliyah atau wirid,

kemudianhal itu muncul dalam tharikat.

Sebenarnya, tiga macam tasawwuf tadi punya tujuan yang sama,

yaitu sama–sama mendekatkan diri kepada Allah dengan cara

membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasi diri

dengan perbuatan yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah), karena itu

untuk menuju wilayah tasawwuf, seseorang harus mempunyai akhlak

yang mulia berdasarkan kesadarannya sendiri. Bertasawwuf pada

hakekatnya adalah melakukan serangkaian ibadah untuk mendekatkan

diri kepada Allah swt. Ibadah itu sendiri sangat berkaitan erat dengan

akhlak. Menurut Harun Nasution, mempelajari tasawwuf sangat erat

kaitannya dengan Alqurandan Al-Sunnah yang mementingkan akhlak.

Cara beribadah kaum sufi biasanya berimplikasi kepada pembinaan

akhlak yang mulia, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Di

kalangan kaum sufi dikenal istilah altakhalluqbi akhlaqillah, yaitu

berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau juga istilah al-ittishaf

bi sifatillah, yaitu mensifati diri dengan sifat – sifat yang dimiliki oleh

(47)

33

Jadi akhlak merupakan bagian dari tasawwuf akhlaqi, yang

merupakan salah satu ajaran dari tasawwuf, dan yang terpenting dari

ajaran tasawwuf akhlaki adalah mengisi kalbu (hati) dengan sifat

khauf yaitu merasa khawatir terhadap siksaan Allah. Kemudian,

dilihat dari amalan serta jenis ilmu yang dipelajari dalam

tasawwufamali, ada dua macam hal yang disebut ilmu lahir dan ilmu

batin yang terdiri dari empat kelompok, yaitu syariat, tharikat,

hakikat, dan ma`rifat.

3. Tujuan Akhlak Tasawuf

Tujuan akhlak tasawuf mempunyai sifat bertingkat-bertingkat

dan selalu berkembang yaitu, tujuan akhlak tasawuf yang hakiki

adalah menciptakan kepasrahan yang tinggi kepada Allah SWT, sikap

tawakal sebagai perwujudanya. Yang mana semua itu dilakukan yang

mana semua itu dilakukan hanya untuk mendapatkan ridho dari Allah

SWT. Kesadaran diri akan kehadiran tuhan dengan segala

kesempurnaannya.

Jadi secara umum tujuan akhlak tasawuf adalah taqarrub ilallah

(mendekatkan diri kepada Allah).

Beberapa pendapat ulama tentang tujuan tasawuf, diantaranya

(Sultoni, 2007:51)

(48)

34

Menurut Hamka, tujuan hidup kerohanian dalam islam (tasawuf)

adalah.

1) Awalnya ingin mengendalikan jiwa dalam menempuh

hidup mencari kerelaan tuhan supaya tidak terperdaya oleh

kebendaan.

2) Selanjutnya tasawuf menjadi alat untuk mencapai tujuan

yang lebih hebat yaitu melihat wajah Tuhan.

3) Akhirnya ingin mencapai maqom tertinggi yaitu fana

dalam wujud melalui batin rohani (riadzoh, dan

kesungguhan, atau mujahadah).

b. Rabiah al-Adawiyah

Menurutnya tujuan tasawuf yaitu terbukanya tabir pengikat alam

gaib sehingga seorang sufi bisa mengalami penyaksian dan

berhubungan langsung dengan dunia gaib dan zat Tuhan.

c. Abdul Hakim

Dalam kitab al-tasawuf fi al-syi’ri arobi, beliau mengatakan

tujuan tasawuf adalah sampai pada zat yang hak mutlak atau

bahkan bersatu dengan Tuhan.

4. Amalan Akhlak Tasawuf

(49)

35

Taqwa adalah takut terhadap azab Allah SWT, yang

menimbulkan suatu konsekuensi untuk melaksanakan semua

perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.

b. Zikir

Zikir bersifat mengingat. Mengingat dan menyebut dalam

bahasa zikir bersifat komplementer (saling terkait dan saling

melengkapi). Zikir adalah mengulang nama Allah dan

sifat-sifatnya satu demi satu atau sebagian secara bersamaan.

Menyebut merupakan zikir lisan yang akan mendorong hati

untuk menginggat nama atau sesuatu yang disebut itu.

Demikianlah zikir hati (mengingat) dan zikir lisan

(menyebut) saling mempengaruhi yang nanti akan mendorong

akal untuk menangkap kehendak Allah SWT, yang menjadikan

ketundukan dan kepatuhan kepada syariatNya. Sebagimana

dalam tunduk dan patuh pada sunnatullah (ketentuaNya).

Selanjutnya akan melahirkan zikir amal (taqwa).

c. Ikhlas

Maksud ikhlas adalah mengerjakan sesuatu tiada lain adalah

hanya mengharap ridho atau kerelaan Allah SWT semata, bukan

karena mengharap pujian atau sanjungan dari orang lain. Ikhlas

merupakan ilmu yang memadukan amal dan niat, niat

merupakan dasar dari segala amal perbuatan setelah berusaha

(50)

36

kebersihan atau kegagalan, karena sesunguhnya Allahlah yang

maha tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.

d. Taubat

Taubat adalah kembali dari sesuatu yang dia sesali menuju yang

dia maksudkan. Taubat yang diperintahkan adalah kembali pada

Allah SWT, mengerjakan apa yang dia perintahkan dan

menjauhi apa yang dilarang-Nya.

e. Sabar

Sabar adalah keyakinan dan kerelaan pada takdir (Sultoni,

2007:137). Manusia sering memaksakan kehendak, sehingga

sebagai akibatnya tidak akan menerima kehendak Allah SWT.

Maka sabar adalah menyelaraskan kehendak manusia kepada

kehendak Allah SWT, bukan sebaliknya yaitu menyesuaikan

kehendak Allah SWT kepada kehendak diri manusia.

f. Tawadhu’

Kata lain dari tawadhu’ adalah rendah hati. Diantara tanda-tanda

orang yang tawadhu’ adalah menghormati, sopan, santun, lemah

lembut dalam bertutur kata dan tidak sombong atas

dirinyameskipun memiliki kedudukan dan harta yang berlebih.

Menghormati yang tua dan mencintai yang muda adalah kunci

dari sifat tawadhu’.

(51)

37

Istiqamah yaitu melakukan amalan secara terus menerus dalam

keadaan bagaimanapun. Yang mana sikap teguh dalam

mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun

menghadapi berbagai rintangan.

h. Sederhana

Sederhana secara bahasa berarti sedang (tidak mewah)

menggunakan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan maka

akan menolong manusia dikehidupan mendatang didunia

maupun akhirat. Sebagai contoh memiliki uang yang cukup

hanya untuk satu bulan akan tetapi tidak terperinci dan

berlebihan dalam membelanjakannya, maka tidak akan sampai

akhir bulan, akhirnya hutang kepada saudara, teman, jika tidak

mendapatkanya mencuri bahkan membunuh dapat dijadikan

jalan keluarnya. Orang yang berakal adalah orang yang

mewajibkan dirinya untuk bersikap sederhana atau

tengah-tengah dalam semua permasalahan baik masalah ekonomi, sisial,

maupun keagamaan (Al ghalayin, 2000:174). Oleh karena itu

hidup sederhana sangat penting bagi pengamal akhlak tasawuf.

i. Puasa

Puasa berarti menahan (mengendalikan) diri dari makanan dan

minuman pada waktu tertentu. Sedangkan menurut syara puasa

(52)

38

puasa mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari disertai

dengan niat (Shalih, 2008:41).

C. Metode Pembelajaran Akhlak Tasawuf pada Mata Kuliah Akhlak

Tasawuf IAIN Salatiga

Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran akhlak

tasawuf di IAIN Salatiga adalah teori, pengamalan, dan amalan penunjang

dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini didasari pendapat para ahli

mengenahi pembelajaran akhlak tasawuf berikut ini:

1. Pendapat Para Ahli Mengenahi Pembelajaran Akhlak Tasawuf

Antara akhlak dan tasawuf adalah bagaikan api dengan asapnya

yang masing-masing tidak dapat berdiri sendiri, keduanya mempunyai

obyek kajian hati dan jiwa seseorang. Bahkan Al-Ghozali memberikan

pengertian tentang bentuk ilmu akhlak sebagai ilmu sifat haati dan

ilmu rahasia hubungan keagamaan yang kemudian menjadi pedoman

untuk akhlaknya orang-orang baik. Al Ghozali lebih menitik beratkan

masalah hlak itu untuk pedoman orang-orang sholeh (ahli thariqat)

dan harus disesuaikan dengan ajaran-ajaran syari’at Islam, seperti

yang digariskan oleh para fuqaha, sehingga ilmu tersebut lebih

popular di kalangan umat Islam menjadi ilmu tasawuf. Dengan

demikian dapat dikatakan bahwa akhlaknya orang mukmin itu adalah

tasawuf, suatu etika yang terkonsentrasikan pada Allah semata dengan

(53)

39

Akhlak tasawuf atau akhlak dan tasawuf ini timbul pada diri

seseorang karena kesadaran dan keterpanggilan jiwa, yang mungkin

terjadi sebagai reaksi banyak hal :

Mungkin karena membaca dan melagukan Al-qur’an, mungkin

dari tafakur, semedi dan membaca beberapa Hadits, atau mencontoh

perbuatan sahabat-sahabat utama dan pengaruh keadaan sekeliling.

Waktu permulaan timbulnya tasawuf belumlah menjadi suatu ilmu

yang teratur atau filsafat yang sistimatik, sebelum abad ketiga nama

tasawuf belumlah dikenal, barulah yang dikenal istilah suhud atau

abid atau fakir atau nasik.

2. Metode Pembelajaran Tasawuf

a. Teori Pembelajaran Tasawuf

1) Untuk mengenal Allah secara ilmu (ilmu yaqin), perkuliahan ini

menyajikan beberapa materi kuliah (kurikulum) yang kajianya

berdasarkan tasawuf seperti:

1) Etimologi Tasawuf

Etimologi tasawuf adalah cabang ilmu bahasa yang

menyelidiki asal usul kata serta perubahan dalam bentuk

dan makna yang berkaitan dengan tasawuf.

2) Pendidikan Akhlak

Akhlak, kata Imam Ghazali bukan ilmu dan bukan pula

(54)

40

keadaan hati seseorang, adakalanya baik (akhlak mulia)

dan adakalanya buruk (akhlak tercela).

3) Taubat

Taubat adalah kembali dari sesuatu yang dia sesali menuju

yang dia maksudkan. Taubat yang diperintahkan adalah

kembali pada Allah SWT, mengerjakan apa yang Dia

perintahkan dan menjauhi apa yang dilarangNya.

4) Sabar

Sabar adalah keyakinan dan kerelaan pada takdir (Sultoni,

2007:137).

5) Zuhud

Zuhud adalah ajaran yang membenci dunia, padahal secara

fitrah manusia memerlukan dunia. Dunia dipandang

sebagai sumber kotoran rohani, maka untuk mencapai

kebersihan rohani, manusia tidak boleh terkotori dunia,

apalagi memiliki/ mencintai dunia.

6) Sedekah

Sedekah artinya pemberian sesuatu kepada fakir miskin

atau yang berhak menerimanya, diluar kewajiban zakat

dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi.

(55)

41

Bersyukur artinya mengucapkan terima kasih kepada

Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan kepada

manusia.

8) Hubb

Hubb adalah hal yang muncul sebagai gabungan antara

khauf dan raja’. Sesorang yang mencintai kekasihnya,

maka ia akan takut berpisah dan takut kehilangan

kekasihnya serta berharap selalu bersanding dan menyatu

dengannya.

9) Khauf dan raja’

Khauf artinya perasaan takut kepada Allah, dapat

bersumber dari dua hal yaitu khauf karena siksa dan khauf

karena cinta.

Raja’ artinya sikap optimis dalam memperoleh karunia

dan nikmat Allah yang disediakan bagi hamba-hambaNya

yang shaleh.

10) Fana

Ajaran fana diambil pada bingkai hukum islam sehingga

kedalaman fana yang sebenarnya berintikan pada

pengesaan Allah dapat terungkap.

2) Untuk mengenal Allah SWT berdasarkan pengamatan dan

pemahaman ciptaan Allah SWT, mahasiswa diantarkan kepada

(56)

42

semesta. Misalkan menemukan Allah dibalik penciptaan rambut,

mata, telingga, lidah, kaki dsb. Atau menemukan Allah dibalik

penciptaan langit, terjadinya hujan, bencana alam, dsb.

Mahasiswa diberi informasi tentang semua itu, kemudian

bersama-sama menemukan kuasa dan cinta Allah SWT yang

tersembunyi dibalik ciptaan-Nya.

3) Untuk mengenal Allah SWT melalui pengalaman langsung,

mahasiswa diwajibkan melakukan amaliah praktis.

Khususnya untuk tujuan ma’rifatullah yang tertinggi, yaitu

haqqul yaqin, mata kuliah ini menggunakan beberapa metode yaitu:

a. Berdoa

Berdoa dalam mata kuliah ini tidak sebagai mana dilakukan

muslim pada umumnya. Apa yang dilihat muslim secara umum,

mereka baru melakukan amaliah membaca do’a, tetapi belum

berdo’a. Pendekatan berdoa dalam matakuliah ini mengunakan

kajian dan praktik psikologi, khususnya yang berkaitan dengan

Mind Menegement (manajemen pikiran/hati). Metode yang

dipakai, diantaranya dengan visualisasi (membayangkan yang

diminta), afirmasi (membangun keyakinan dengan sugesti

diri/self sugesti). Self talk (dialog internal untuk melakukan zero

mind), relaksasi (pengkondisian pikiran/hati agar agar khusu’),

dsb.

(57)

43

Artinya shalat sunah diwaktu malam setelah tidur. Shalat

tahajud merupakan sunah nabi yang sangat dianjurkan. Orang

yang mengenal jalan Allah SWT dan selalu berlindung kepada

naunganNya adalah orang yang mengetahui bahwa shalat

merupakan obat dari segala kesusahan dan kesedihan. Yakin

bahwa shalat adalah penenang hati, penyejuk jiwa dan

penghapus duka lara.

c. Membaca Alqur’an

Alqur’an merupakan petunjuk bagi umat islam sedunia dan

membacanya merupakan ibadah. Maka sebagai ahli tasawuf dan

memahami tasawuf tidak akan meningalkan Al qur’an dan tidak

pula meninggalkan memperdalam ilmunya tentang Al qur’an,

karena itu dapat memotifasi manusia untuk bertaqwa dan

beriman kepada Allah seutuhnya.

d. Shalat Berjamaah

Shalat merupakan doa, jika dalam berdoa (shalat) dilakukan

secara berjamaah dan diaminkan oleh orang banyak maka akan

diaminkan pula oleh malaikat, sehingga shalat/doa yang

dilakukan oleh orang banyak itu istijabah. Selain itu juga

terdapat nilai-nilai yang terkandung didalam shalat berjamaah

diantaranya yaitu menjalin ukhwah islamiyan dan dimudahkan

(58)

44

Saling menyapa, sopan santun dengan sesama dapat

menimbulkan hubungan sosial yang baik.

e. Bersedekah

Bersedekah adalah menafkahkan sesuatu kepada orang lain.

Perlu diketahui bahwasanya sedekah tidak hanya berupa harta.

Sedekah dapat berupa tenaga, pikiran, dan hal-hal lain seperti

senyum. Dianjurkan untuk melakukan sedekah tidak hanya

diwatu lapang akan tetapi di waktu sempi juga, tidak hanya pada

waktu senang tetapi diwaktu susah juga, tidak hanya diwaktu

ramai tetapi di waktu sendiri juga. Karna sedekah adalah

penolak balak, membuka jalan agar doa dapat terkabul dan juga

kunci sukses agar menjadi kaya. Sedekah tidak dapat dilihat dari

segi dhohirnya karna karna bersedekah akan mengurangi harta,

akan tetapi jika dilihat dari segi hakikinya harta yang

disedekahkan itu adalah harta yang dimilki sesorang

sesungguhnya, yang suatu saat dapat menolongnya dikemudian

hari. Selain itu Allah juga akan membalas lebih banyak lagi

dengan jalan-Nya dan pahala mulia disisiNya.

b. Pengamalan Tasawuf

Mata kuliah akhlak tasawuf ini sangat berperan dalam

kehidupan sehari-hari. Seorang mahasiswa khususnya mahasiswa

(59)

45

banyak masalah yang komplek. Oleh karena itu jika masalah yang

komplek itu tidak segera teratasi bisa saja menimbulkan rasa putus asa

pada mahasiswa tersebut karena pengetahuannya yang minim,

diharapkan mata kuliah ini dapat berperan dalam mengatasi

masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa.

Akhlak tasawuf berperan membentuk pribadi yang optimis,

yakin akan kekuasaan Allah SWT dan pantang menyerah. Karena

selalu ada motifasi untuk maju mengharap belas kasih Allah SWT atas

usaha, sabar, dan Ikhlas karena Allah SWT.

Adapun pengamalan pembelajaran tasawuf dalam kehidupan

sehari-hari adalah dalam berdoa dan sedekah. Dua metode ini justru

menjadi metode utama pembentukan pola pikir ketuhanan. Dua

metode ini dipraktikkan langsung dalam pengamalan keseharian. Ini

yang membedakan dengan metode kuliah yang lain.

1) Doa

Pengamalan berdoa menurut sufi adalah kita memohon kepada

Allah akan apa yang kita inginkan tanpa memikirkan terkabul

atau tidaknya doa yang kita panjatkan. Jika doa kita dikabulkan,

kita bersyukur, tetapi jika doa kita belum dikabulkan, kita harus

instropeksi diri akan kesalahan dan kekurangan dalam kita

berdoa. Kesimpulannya kita sebagai hamba harus senantiasa

memohon kepada sang Kholiq, dan terkabul atau tidaknya doa

(60)

46

2) Sedekah

Amalan sedekah menurut ahli sufi adalah memberikan harta

yang kita miliki sebanyal-banyaknya, tanpa memikirkan

keikhlasan hati, pahala sedekah, maupu kegunaan barang yang

kita sedekahkan.

c. Amaliyah Penunjang Tasawuf

Selain doa dan sedekah, terdapat amaliyah penunjang, antara lain

shalat dan membaa alqur an.

1) Shalat

Pengamalan shalat dalam kehidupan sehari-hari menurut ahli

sufi adalah kita melaksanakan shalat seperti yang dicontohkan

oleh Rasulullah SAW tanpa memikirkan kekhusyukan, hikmah,

makna, dan ketepatan bacaan maupun gerakannya. Adapun

diterima atau tidak shalat kita, maka urusan Allah SWT.

2) Membaca alqur an

Membaca alqur an menurut ahli sufi adalah memberikan harta

yang kita miliki sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan

keikhlasan hari, pahala, aupun kegunaan barang yang kita

sedekahkan.

(61)

47

Dengan memahami dan memperaktikan ilmu dan metode pada mata

kuliah akhlak tasawuf ini, diharapkan ada beberapa manfaat yang bisa

dirasakan oleh mahasiswa:

1) Mahasiswa menjadi lebih memahami beberapa materi-materi atau

tema-tema utama dalam tasawuf.

2) Dengan kajian ‘ainul yaqin mengamati ciptaan Allah SWT pada

dirinya dan pada lingkungan alam semesta, mahasiswa berkembang

sepiritual intellegence-nya, sehingga mereka menjadi lebih peka dan

lembut terhadap fenomena alam semesta. Mereka tidak mudah untuk

mengatakan bahwa yang terjadi ini kebetulan, sebaliknya mereka

menyadari dibalik semua yang ada itu karena kasih sayang Allah SWT

yang diberikan dan itulah yang terbaik.

3) Dengan metode berdoa, menggunakan pendekatan mind menejement,

mahasiwa menjadi lebih mengenali kekurangan dirinya yang

bersumber pada pikiran-pikiran negatif yang selama ini dipeganginya.

Mahasiswa memahami bahwa tantangan keberhasilan mencapai

sesuatu adalah dirinya sendiri. Jihad yang palin besar adalah jihad

melawan dirinya sendiri (hawa nafsu), begitulah yang disabdakan oleh

Rasulullah SAW. Dalam kondisi ini yang dibutuhkan adalah

pembersihan hati/pikiran dari hal-hal yang negatif dan mengisi

hati/pikiran dengan hal-hal yang negatif. Kondisi seperti ini dapat

mempengaruhi pembentukan karakter dan akhlak begitupun dengan

(62)

48

4) Perubahan sikap dan perilaku mahasiswa diarahkan pada empat

pihak:1) kepada Allah SWT, lebih meningkat ibadahnya, lebih dekat

dan lebih cinta kepada Allah SWT, 2) diri sendiri, lebih mengenal

kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirinya, menerima dirinya,

cinta pada dirinya, lebih tenang menghadapi masalah, lebih optimis

menyelesaikan masalah, tidak mudah putus asa, menjadi lebih percaya

diri, 3) kepada orang tua, lebih menghormati, lebih menyayangi, lebih

dekat, mengiggat pengorbanan-pengorbanan orang tua, 4) kepada

orang lain, lebih peduli, bersikap dermawa, suka tolong menolong,

mendoakan orang lain, menghargai orang lain.

5) Dengan metode berdoa mahasiswa menjadi yaqin dengan pengalaman

sendiri, bahwa Allah SWT benar-benar mengabulkan apa yang

diminta. Bahkan sesuatu yang tidak masuk akal, bisa terjadi seketika

Allah SWT mengabulkan permintaan itu. Dengan pengalaman ini

mahasiswa menjadi semakin kagum dengan Allah SWT, semakin

dekat, mengembalikan masalahnya dengan mendekatkan diri kepada

Allah SWT dan semakin cinta kepada Allah SWT, karena mereka

telah merasakan secara langsung melalui pengalamannya bahwa Allah

SWT mencintai mereka.

6) Dengan metode meminta sebuah proyek, mka mahasiswa secara tidak

langsung dibiasakan untuk melakukan banyak amaliyah syar’i,

sekaligus diberikan pemahaman bahwa ibadah yang mereka lakukan

Gambar

Tabel 3.1 Wawancara Pola Pikir Ketuhanan

Referensi

Dokumen terkait

Alat Pencernaan Proses pencernaan Kelainan

Surat Penetapan Pemenang Pelelangan Sederhana Tanggal 18 Juni 2013 untuk Pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan. umumkan Pemenang

16/ POKJA-PNT/BM tanggal 21 Agustus 2015 maka dengan ini kami umumkan pemenang untuk pekerjaan sebagai berikut:. Nama Paket : Peningkatan Jalan Bebedahan

Pada hari ini R a b u tanggal Dua puluh enam bulan Agustus tahun Dua ribu lima belas, kami selaku Kelompok Kerja Badan Layanan Pengadaan (BLP) Pekerjaan Konstruksi

dengan ini diumumkan Hasil Pelelangan Pascakualifikasi Secara Elektronik terhadap paket pekerjaan tersebut di atas dengan hasil sebagai berikut :..

Pada hari ini R a b u tanggal Dua puluh enam bulan Agustus tahun Dua ribu lima belas, kami selaku Kelompok Kerja Badan Layanan Pengadaan (BLP) Pekerjaan Konstruksi

We show that if the random walk kernel associated with the voter model has finite γth moment for some γ > 3, then the evolution of the interface boundaries converge weakly to

[r]