PERUBAHAN POLA PIKIR KETUHANAN
PADA MAHASISWA
(Studi pada Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah Setelah Mengikuti Mata Kuliah Akhlak
Tasawuf Semester Genap Tahun 2015/2016)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan
Oleh:
AHMAD WIBOWO
111-12-214
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
vi MOTTO
vii
PERSEMBAHAN
Kedua orang tuaku yang telah memberikan segalanya untuk tercapainya cita-citaku.
Segenap pengasuh pondok pesantren Sunan Giri yang telah memberikan ilmu dan pengalaman agama.
Bapak Kyai Muadhim yang telah memberikan ilmunya dan membimbingku sampai sekarang.
Bapak Muhammad Yahya yang menjadi motivasiku disaat aku lemah.
Segenap pengurus, pelatih dan anggota PSNU PAGAR NUSA.
Semua santri pondok pesantren SUNAN GIRI.
Mba Sri Rohimah seseorang yang selalu mendukung dan memotivasiku.
Mba Ana yang telah banyak membantu penyelesaian skripsi ini.
viii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas petunjuk-Nya
penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul“PERUBAHAN POLA PIKIR KETUHANAN PADA MAHASISWA(Studi pada Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Setelah Mengikuti Mata Kuliah Akhlak Tasawuf Semester Genap Tahun 2015/2016)”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan pola pikir
ketuhanan, faktor yang mempengaruhi perubahan pola pikir ketuhanan dan
implementasi perubahan pola pikir ketuhanan (peran tuhan) dalam menghadapi
masalah sehari-hari.
Selanjutnya, penulis menyampaikan ucapan terima kasihkepada yang
terhormat :
1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd, selaku Rektor Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M.Pd, Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam
Negeri(IAIN) Salatiga.
3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas
Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
4. Bapak Drs. Ahmad Sultoni, M.Pd, yang telah memberikan ilmu spiritualnya
dan membimbing dalam pembuatan skripsi ini.
5. Kedua orang tuaku yang telah memberikan segalanya untuk tercapainya
cita-citaku.
6. Segenap pengasuh pondok pesantren Sunan Giri yang telah memberikan
ilmu dan pengalaman agama.
7. Bapak Kyai Muadhim yang telah memberikan ilmunya dan membimbingku
sampai sekarang.
8. Bapak Muhammad Yahya yang menjadi motivasiku disaat aku lemah.
9. Segenap pengurus, pelatih dan anggota PSNU PAGAR NUSA.
ix
11. Mba Sri Rohimah seseorang yang selalu mendukung dan memotivasiku.
12. Mba Ana Mufrida yang telah banyak membantu penyelesaian skripsi ini.
13. Teman-teman HMI yang telah memberikan pengalaman-pengalaman dalam
organisasinya.
Salatiga, Maret 2017
x ABSTRAK
Wibowo. Ahmad, 2016. “PERUBAHAN POLA PIKIR KETUHANAN PADA MAHASISWA (Studi pada Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Setelah Mengikuti Mata Kuliah Akhlak Tasawuf Semester Genap Tahun 2015/2016)”.Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyahdan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN)Salatiga. Pembimbing :Drs. H. Ahmad Sulthoni, M.Pd
Kata kunci : pola pikir ketuhanan, akhlak tasawuf
Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui perubahan pola pikir ketuhanan pada mahasiswa PGMI peserta mata kuliah akhlak tasawuf semester genap tahun 2015/2016, (2) untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perubahan pola pikir ketuhanan mahasiswa PGMI setelah mengikuti matakuliah akhlak tasawuf semester genap tahun 2015/2016, (3) untuk mengetahui implementasi perubahan pola pikir ketuhanan (peran Tuhan) dalam menghadapi masalah sehari-hari.
Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Adapun pendekatan yang dipilih oleh penulis adalah fenomenologi. Penentuan sumber data dalam penelitian ini sesuai informasi yang didapat berupa kata-kata dan dokumen yang disajikan dan digambarkan apa adanya ditelaah guna menemukan makna. Peneliti bertindak langsung sebagai instrumen dan sebagai pengumpul data dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi.
xi
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iv
MOTTO ... v
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Perspektif Ketuhanan ... 16
B. AkhlakTasawuf ... 27
C. Metode Pembelajaran Akhlak Tasawuf ... 37
BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data Penelitian ... 50
xii BAB IV ANALISIS
A. Analisis Hasil Penelitiantentang Perubahan Pola Pikir Ketuhanan ... 57
B. Pembahasan ... 58
BAB V PENUTUP
A. Simpulan ... 67
B. Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA ... 69
xiii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1Sampel Wawancara Perubahan Pola Pikir Ketuhanan... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Berbicara tentang Tuhan, pertama harus yakin lebih dahulu tentang
adanya Tuhan, sebagaimana seorang dapat diajak bicara dengan sesuatu
yang tidak ada, atau sesuatu yang dianggapnya tidak ada. itu orang-orang
yang tidak mau diajak bicara tentang Tuhan, atau malas sekali diajak bicara
tentang Tuhan, mungkin sekali karena dia tidak percaya dengan adanya
Tuhan. Untuk itu manusia harus dapat menyetir atau membimbing jalan
pikirannya masing-masing, agar dapat mempercayai tentang adanya Tuhan.
Sebelum lahirnya nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW. Sudah banyak
pemikir (philosophers) yang dengan akal dan pikiran mereka sudah dapat
membenarkan adanya Tuhan dengan berbagai caranya (Arifin, 1998:15)
Sesuai dengan ayat yang menerangkan adanya Tuhan dalam surat at
Taha ayat 50 yang berbunyi:
Artinya: dia (musa) menjawab, Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentukkejadian segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.(Q.S. AT-TAHA :50).
Pada umumnya manusia banyak mengadakan hubungan atau kontak
2
harus diakui, bahwa disamping ada manusia yang senantiasa mengadakan
hubungan dengan Tuhan, tetapi lebih banyak manusia yang putus sama
sekali hubunganya dengan Tuhan, mereka lupa seratus persen dengan
Tuhan. Tuhan tidak menjadi perhatian dalam hidup mereka. Tuhan adalah
suatu yang tidak menarik dalam hidup dan kehidupan mereka, bahkan ada
diantara manusia yang sampai benci, dan tak suka mendengar, membaca
dan memperkatakan Tuhan. (Arifin, 1988:183)
Dalam khazanah kemerdekaan berfikir, tentu saja upaya semacam ini
patut dihargai, apalagi terdapat alasan-alasan kuat bagi orientasi pemikiran
keilmuan yang baru itu. Ilmu dan penerapanya yang bernama teknologi,
ternyata tidak semuanya dapat memecahkan semua permasalahan manusia.
Dan bahkan beberapa kasus memberikan dampak yang bersifat negatif
seperti dehumanisasi kebudayaan dan degenerasi moral. (Saefudin, 1990:
18)
Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada akal, karena
akal hanya dimiliki oleh manusia, dan manusia adalah ciptaan terbaik Allah
SWT. Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan
akalnya, dan cemooh Allah SWT sangatlah buruk terhadap manusia yang
tidak mau menggunakan akalnya. Seperti dalam firman Allah:
3
Artinya: Dengan (air hujan) itu dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir. (Q.S. an Nahl :11)
Para filsuf berpendapat bahwa para ilmuwan merupakan orang-orang
yang dengan pemikiran, hanya mampu memahami fenomena dunia yang
sangat sempit, padahal dunia, sebagai satu totalitas, tak dapat dijangkau
secara mendalam dengan panca indra. Sedangkan para ilmuwan berpendapat
bahwa para filsuf hanyalah orang-orang yang omong kosong belaka.
Pernyataan seperti ini harus diluruskan.
Ada tiga kategori pengetahuan , yaitu:
1. Pengetahuan indrawi (knowledge)
Pengetahuan seperti ini meliputi semua fenomena yang dapat
dijangkau secara langsung oleh panca indra. Batas pengetahuan ini
ialah segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh panca indra.
2. Pengetahuan keilmuan (secience)
Pengetahuan ini meliputi semua fenomena yang dapat diteliti dengan
riset atau eksperimen, sehingga apa yang ada dibalik knowledge bisa
terjangkau. Batas pengetahuan ini ialah segala sesuatu yang tidak
terjangkau lagi oleh rasio, atau otak, dan pancaindera.
4
Pengetahuan ini mencakup segala fenomena yang tak dapat diteliti,
tapi dapat dipikirkan. Batas penemuan ini ialah alam, bahkan juga bisa
menembus apa yang ada di luar alam: Tuhan. (Saefudin, 1990: 30)
4. Pengetahuan intuisi (intuitif)
Intuisi adalah suatu pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui
proses penalaran tertentu. Menurut Al Ghozali, Intuisi atau yang
dalam istilahnya teknisnya disebut had (batas) merupakan pemahaman
yang diperoleh secara langsung, tanpa perantara tanpa rentetan dalil
dan susunan kata serta tanpa melalui langkah logika satu demi
satu.(http://m.hidayatullah.com/artikel/tsaqaf.html).
Ilmu terjadi karena pengkristalan pengalaman dan pengetahuan
sendiri, maupun informasi dari orang lain yang dapat diungkapkan dengan
kenyataan secara obyektif (empiris) ataupun subyektif (esensi). Ilmu
modern modern barat dibentuk atas dasar fakta empirisatau indrawi saja,
tanpa menghiraukan sumbernya yakni Allah, yang telah memberikan esensi
berbagai ilmu, antara lain ilmu ketuhanan, ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu
kealaman, sebagai mana terdapat dalam Al-Qur’an. Empiris dapat diketahui
dengan akal obyektif (rasio), sedangkan esensi dengan akal subyektif
(intelek). Perpaduan rasio dengan intelek ini menghasilkan ilmu yang
sebenarnya, karena rasio dapat mengerti hanya dengan analisis alamiah,
sedangkan intelek non inderawi dapat mengetahui esensi saja. (Saefudin
5
Keterangan diatas menunjukan bahwa pendekatan dalam pemikiran
ketuhanan ada dua cara yaitu:
1. Pendekatan dengan pola fikir berfilsafat (rasionalisme).
Filsafat adalah ilmu yang dasar utamanya mengunakan rasio.
Sehingga filsafat telah merubah pola fikir umat manusia yang
metosentris menjadi logosentris. Awalnya orang beranggapan bahwa
semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para dewa, nenek
moyang dan hal-hal yang tidak masuk akal. Dalam kehidupan modern
ini, filsafat bisa diartikan sebagai ilmu yang berupaya memahami
semua hal yang muncul dalam pandangan dan pengalaman manusia
perkembangan dan perubahan zaman ke zaman memiliki corak dan
ciri yang berbeda, kondisi ini cenderung memacu manusia untuk
selalu berfikir mencari nilai kebenaran itu sendiri, karena ada
perbedaan dan cara pandang dalam menafsirkan kebenaran tersebut
mengenai hakikat dan definisi filsafat.
(http://www.komangputra.com/10-jenis-aliran-filsafat-yang-mengubah-pola-pikir-manusia.html)
2. Pendekatan dengan cara tasawuf (agama)
Tasawuf adalah ilmu pengetahuan yang didasari oleh hati. Sehingga
isi dari tasawuf adalah, usaha membersihkan diri, berjuang memerangi
6
Allah SWT) menuju keabadian, saling mengingatkan antar manusia,
serta berpegang teguh pada janji Allah SWT dan mengikuti ajaran
syariat.
(http://zakiyatunnisakurniawan.blogspot.co.id/2012/12/dasar-dasar-tentang-tasawuf.html?m=1). Menurut peneliti,pendekatan yang
kedua ini masih sangatlah jarang mahasiwa menggunakannya karena
tipisnya pengetahuan tentang Tuhan.Melihat permasalahan diatas,
maka penulis perlu mengangkat judul yaitu “POLA PIKIR
KETUHANAN PADA MAHASISWA (studi pada mahasiswa
PGMI setelah mengikuti mata kuliah akhlak tasawuf semester genap tahun 2015/2016)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah:
1. Bagaimana perubahan pola pikir ketuhanan pada mahasiswa PGMI
peserta mata kuliah akhlak tasawuf semester genap tahun 2015/2016?
2. Apakah faktor yang mempengaruhi perubahan pola pikir ketuhanan
pada mahasiswa PGMI peserta mata kuliah akhlak tasawuf semester
genap tahun 2015/2016?
3. Bagaimana implementasi perubahan pola pikir ketuhanan (peran
tuhan) dalam menghadapi masalah sehari-hari?
7
Berdasarkan pokok masalah yang dirumuskan, berkembang menjadi
beberapa poin yang akan menjadi tujuan penelitian. Tujuan itu adalah:
1. Untuk mengetahui perubahan pola pikir ketuhanan pada mahasiswa
PGMI peserta mata kuliah akhlak tasawuf semester genap tahun
2015/2016.
2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perubahan pola pikir
ketuhanan mahasiswa PGMI peserta matakuliah akhlak tasawuf
semester genap tahun 2015/2016.
3. Untuk mengetahui implementasi perubahan pola pikir ketuhanan
(peran Tuhan) dalam menghadapi masalah sehari-hari.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat teoritik dan
manfaat praktis sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritik
a. Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan
refrensi khazanah bagi ilmu pengetahuan keagamaan.
b. Hasil penelitian ini juga di harapkan mampu menambah
informasi untuk khazanah keilmuan pendidikan agama islam.
2. Manfaat dari penelitian secara praktis:
Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat dan urgensi bagi:
8
Hasil penelitian ini dapat berguna untuk pemerintah agar terus
meningkatkan mutu pendidikan yang berbasis Agama.
b. Masyarakat
Sebagai sumbangan informasi bagi semua lapisan masyarakat
terutama orang tua agar lebih komunikatif dan cermat
memperhatikan perubahan anaknya yang belajar di IAIN
Salatiga.
c. Kampus IAIN Salatiga
Untuk memperkaya perbendaharaan perpustakaan Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
d. Peneliti
Sebagai bahan masukan untuk mengembangkan wawasan dan
bahan dokumentasi untuk penelitian lebih lanjut.
E. Penegasan Istilah
Untuk memperjelas makna judul serta menghindari penafsiran dan
penjelasan juga sebagai batasan penulisan. Maka penulis akan menjelaskan
istilah-istilah yang penting di dalam judul. Adapun istilah-istilah itu adalah:
1. Perubahan
Kata perubahan dalam kamus besar bahasa indonesia adalah kata
dasar dari “ubah” yang ditambah awalan “per” dan akhiran “an”
9
pertukaran dari suatu keadaan yang mana dalam penelitian ini bisa
melalui pengertian mendalam terhadap materi dan pengalaman
langsung dari mahasiswa. Sedangkan dalam penelitian ini adalah
perubahan pola pikir tentang ketuhanan yang dialami oleh mahasiswa
peserta akhlak tasawuf.
2. Pola Pikir
Pola dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti model, sistem, cara
kerja, bentuk (struktur) yang tetap. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Sedangkan kata pikir dapat digabungkan menjadi pemikiran yang
bersumber dari otak dan manusia dianugrahi otak untuk berfikir
dengan pikiran dan pemikiranya, sehingga manusia dapat menarik
suatu kesimpulan atau penyimpulan (inference). (Burhanudin,
1988:68). Jadi dapat disimpulkan, penulis dalam penelitian ini
mengacu pada model atau cara berfikir mahasiswa tentang peran
Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pola Pikir Ketuhanan
Dalam tradisi pemikiran, umumnya dikenal dengan dua alat
pengetahuan manusia, akal dan indra. Pemujaan pada akal akan
melahirkan melahirkan rasionalisme, dengan paradigma logis dan
obyektifnya bersifat abstrak. Kemudian pemujaan kepada indra akan
melahirkan sensualisme, materialisme, empirisme,dan positivisme,
dengan paradigma sains dan obyeknya bersifat empiris. Kedua
10
empirisdalam terminologi sains barat. Meskipun kedua paradigma
tersebut dapat memberikan sumbangan yang besar terhadap sains,
namun ia tidak bisa berbuat apa-apa pada obyek yang rasional dan
metafisi, serta meta indrawi. (M. Gufron, 2006: 145)
Berdasarkan penegasan istilah di atas, maka yang dimaksud
dengan judul “PERUBAHAN POLA PIKIR KETUHANAN PADA
MAHASISIWA (Studi pada Mahasiswa PGMI setelah mengikuti
mata kuliah akhlak tasawuf tahun 2015)”. Adalah suatu kajian untuk
menelaah sejumlah konsep dan pengalaman yang mengarahkan pada
perubahan pola pikir ketuhanan yang dialami oleh mahasiswa
PGMIsetelah mengikuti mata kuliah akhlak tasawuf semester genap
tahun 2015/2016.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Adapun pendekatan
yang dipilih oleh penulis adalah fenomenologi. Peneliti
mengumpulkan data sesuai informasi yang didapat berupa kata-kata
dan dokumen yang disajikan dan digambarkan apa adanya ditelaah
guna menemukan makna. Peneliti bertindak langsung sebagai
instrumen dan sebagai pengumpul data dari hasil catatan lapangan,
11
2. Lokasi Penelitian
Peneliti memilih lokasi penelitian di Kampus Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Salatiga pada mahasiswa PGMI peserta mata kuliah
Akhlak Tasawuf semester genap tahun akademik 2015/2016.
3. Prosedur Pengumpulan Data
1) Penelitian Kepustakaan
a. Penelitian kepustakaan tahap awal yang dilakukan oleh
seorang peneliti untuk menjajagi ada tidaknya buku-buku
atau sumber-sumber tertulis lainya yang relevan dengan isi
judul.
b. Menelaah isi buku yang harus dilakukan adalah menandai
bab yang kiranya mempunyai kaitan langsung dengan isi
judul.
c. Mengutip bagian penting yang berkaitan dengan isi judul.
2) Penelitian Lapangan
Untuk penelitian lapangan ditempuh beberapa tahap:
a. Menelaah bahan tertulis yang relevan dengan judul
masalah.
b. Melakukan kajian mendalam dengan judul masalah.
c. Diskusi awal dengan dosen mata kuliah akhlaq tasawuf.
12
e. Menentukan alat pengumpulan data.
Agar sebuah penelitian dapat disajikan secara sistematis maka
peneliti menggunakan teknik-teknik pengumpulan data antara lain
wawancara dan catatan lapangan:
1) Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu,
percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara
yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2007: 186).
Terwawancara adalah sebagian mahasiswa peserta mata kuliah
Akhlak Tasawuf.Teknik wawancara ini dilakukan oleh peneliti
untuk mendapatkan data atau informasi yang berhubungan
dengan fenomenologi (pengalaman) yang dialami oleh
terwawancara.
Tabel 1.1
Wawancara Pola Pikir Ketuhanan
1. Perubahan pola pikir ketuhanan seperti apa yang anda rasakan sebelum dan sesudah mengikuti mata kuliah akhlak tasawuf?
2. Apakah faktor yang mempengaruhi perubahan pola pikir ketuhanan?
3. Bagaimana pendapat anda tentang doa?
4. Bagaimana pendapat anda tentang doa yang tidak terkabul?
5. Apakah ada perubahan dalam implementasi sehari-hari yang anda lakukan sebelum dan sesudah mengikuti mata kuliah akhlak tasawuf?
6. Apakah ada perubahan cara anda dalam mengatasi masalah sehari-hari sebelum dan sesudah mengikuti mata kuliah akhlak tasawuf?
13
8. Pengalaman apa yang dapat membuat perubahan pola pikir dalam diri anda?
2) Catatan Lapangan
Catatan lapangan menurut Bogdan dan Biklen (1982) dalam
Moloeng (2009: 209) adalah catatn tertulis tentang apa yang
didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka
pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian.
4. Tahap-tahap penelitian
Tahap penelitian yang digunakan oleh peneliti sebagi berikut:
a. Penelitian Pendahuluan
Mengkaji buku-buku yang berkaitan dengan tasawuf,
perkembangan pola pikir, dan ketuhanan (tauhid).
b. Penelitian Desain
Setelah mengetahui tentang perubahan pola pikir ketuhanan
pada mahasiswa berdasarkan buku-buku kemudian observasi
serta wawancara langsung kepada mahasiswa yang merasa
mengalami perubahan dalam pola pikir ketuhanan.
c. Penelitian Sebenarnya
Mengkaji antara informasi yang terdapat dalam buku-buku
mengenai perubahan pola pikir ketuhanan dengan data yang
diperoleh di lapangan.
5. Analisis Data
Di dalam buku Metodologi Penelitian Kualitatif menurut
14
kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan
data. Mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan
yang dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan
memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
G. Sistematika Penulisan
Skripsi ini penulis bagi menjadi lima bab. Masing-masing bab saling
berkaitan, dengan penjelasan sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN, yang meliputi:
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
E. Penegasan Istilah
F. Metode Penelitian
G. Sistematika Penulisan
BAB II :KAJIAN PUSTAKA, yang terdiri dari tiga sub yaitu:
A. Perspektif Ketuhanan
1. Pola Pikir Ketuhanan
2. Macam-Macam Pola Pikir
3. Filsafat Ketuhanan
15
B. Akhlak Tasawuf
1. Pengertian Akhlak Tasawuf
2. Ruang Lingkup Akhlak Tasawuf
3. Tujuan Mempelajari Akhlak Tasawuf
C. Metode Pembelajaran Akhlak Tasawuf
1. Pendapat Para Ahli Mengenahi Pembelajaran Akhlak
Tasawuf
2. Model Pembelajaran Akhlak Tasawuf
BAB III : PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Perubahan Pola Pikir Ketuhanan pada mahasiswa PGMI peserta
mata kuliah akhlak tasawuf
B. Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Pola Pikir Ketuhanan
Pada Mahasiswa PGMI peserta mata kuliah akhlak tasawuf
C. Implementasi Perubahan Pola Pikir Ketuhanan (peran tuhan)
dalam Menghadapi Masalah Sehari-hari
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan
BAB V : PENUTUP
A. Simpulan
16 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. PerspektifKetuhanan
1. Pola Pikir Ketuhanan
Dalam tradisi pemikiran, umumnya dikenal dengan dua alat
pengetahuan manusia, akal dan indra. Pemujaan pada akal akan
melahirkan melahirkan rasionalisme, dengan paradigma logis dan
obyektifnya bersifat abstrak. Kemudian pemujaan kepada indra akan
melahirkan sensualisme, materialisme, empirisme,dan positivisme,
dengan paradigma sains dan obyeknya bersifat empiris. Kedua
paradigma tersebut menolak obyek mistik yang supra logis dan non
empirisdalam terminologi sains barat. Meskipun kedua paradigma
tersebut dapat memberikan sumbangan yang besar terhadap sains,
namun ia tidak bisa berbuat apa-apa pada obyek yang rasional dan
metafisi, serta meta indrawi. (M. Gufron, 145: 2006)
Dalam penjelasan diatas bahwasanya pola pikir terdapat tiga
macam yang didasari oleh akal, indra dan hal yang berhubungan
dengan mistik, metafisika, dalam hal ini peneliti dasar mengatakan
bahwa pola pikir yang ketiga didasari oleh kejernihan hati, dan pola
17
tentang ketuhanan menurut peneliti harus berdasarkan dengan hati
yang jernih untuk dapat merasakan keyakinan dan ketenangan.
Istilah Tuhan dalam sebutan alquran digunakan kata ilaahun,
yaitu setiap yang menjadi penggerak atau motivator, sehingga
dikagumi dan dipatuhi oleh manusia. Orang yang mematuhinya di
sebut abdun (hamba). Kata ilaah (Tuhan) di dalam
Alqurankonotasinya ada dua kemungkinan, yaitu Allah, dan selain
Allah. Subjektif (hawa nafsu) dapat menjadi ilah (Tuhan).
Benda-benda seperti : patung, pohon, binatang, dan lain-lain dapat pula
berperan sebagai ilah. Demikianlah seperti dikemukakan pada surat
Albaqarah: 165, sebagai berikut:
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.
Sebelum turun alquran dikalangan masyarakat Arab telah
menganut konsep tauhid (monoteisme). Allah sebagai Tuhan mereka.
Hal ini diketahui dari ungkapan-ungkapan yang mereka cetuskan, baik
dalam doa maupun acara-acara ritual. Abu Thalib, ketika memberikan
khutbah nikah Nabi Muhammad dengan Khadijah (sekitar 15 tahun
sebelum turunya alquran) ia mengungkapkan kata-kata Alhamdulillah.
(Lihat Al-Wasith,hal 29). Adanya nama Abdullah (hamba Allah) telah
18
Keyakinan akan adanya Allah, kemahabesaran Allah, kekuasaan Allah
dan lain-lain, telah mantap. Dari kenyataan tersebut timbul pertanyaan
apakah konsep ketuhanan yang dibawakan Nabi Muhammad?
Pertanyaan ini muncul karena Nabi Muhammad dalam
mendakwahkan konsep ilahiyah mendapat tantangan keras dari
kalangan masyarakat. Jika konsep ketuhanan yang dibawa
Muhammad sama dengan konsep ketuhanan yang mereka yakini tentu
tidak demikian kejadiannya.
Pengakuan mereka bahwa Allah sebagai pencipta semesta alam
dikemukakan dalam Alquransurat alAnkabut ayat 61 sebagai berikut;
Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).
Dengan demikian seseorang yang mempercayai adanya Allah,
belum tentu berarti orang itu beriman dan bertaqwa kepada-Nya.
Seseorang baru laik dinyatakan bertuhan kepada Allah jika ia telah
memenuhi segala yang dimaui oleh Allah. Atas dasar itu inti konsep
ketuhanan Yang Maha Esa dalam Islam adalah memerankan ajaran
Allah yaitu Alqurandalam kehidupan sehari-hari. Tuhan berperan
19
Pernyataan lugas dan sederhana cermin manusia bertuhan Allah
sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-Ikhlas. Kalimat syahadat
adalah pernyataan lain sebagai jawaban atas perintah yang dijaukan
pada surat alikhlas tersebut. Ringkasnya jika Allah yang harus
terbayang dalam kesadaran manusia yang bertuhan Allah adalah
disamping Allah sebagai Zat, juga alquran sebagai ajaran serta
Rasullullah sebagai Uswah hasanah.
2. Macam-Macam Pola Pikir
Dalam penelitian ini akan dibahas dua macam pola pikir yaitu:
a. Filsafat
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yabg
sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau
rasio. Hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat adalah 1)
keheranan; 2) kesangsian; 3) kesadaran akan keterbatasan
karena merasa dirinya sangat kecil, sering menderita, dan sering
mengalami kegagalan. Hal ini mendorong pemikiran bahwa
diluar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak
terbatas.(https://yogapermanawijaya.wordpress.com/2014/10/26/
landasan-berfikir-filsafat-manfaat-dan-penerapanya-pembagian-filsafat-ciri-filsafat-dan-landasan-filsafat/)
Manusia mempunyai pengetahuan, binatang mempunyai
20
selain manusia pengetahuanya bersifat statis, dari masa kemasa
tetap begitu saja. Tetapi pengetahuan yang dimiliki manusia
bersifat dinamis, terus berkembang dari zaman kezaman, karna
manusia mempunyai kemampuan mencerna pengalaman,
merenung, merefleksi, menalar, dan meneliti dalam upaya
memahami lingkunganya.Kemampuan tersebut dimiliki manusia
disebabkan manusia dibekali oleh Tuhan berupa akal atau rasio
untuk berfikir, sementara mahluk lainya tidak manusia berfikir
dengan akalnya. Dengan akalnya manusia mempunyai rasa ingin
tahu (curiosity). Dari rasa ingin tahu inilah manusia selalu
mempertanyakan segala hal yang dipikirkanya, menyangsikan
segala apa yang dilihat, dan mencari segala bentuk
permasalahan yang dihadapi. Manusia berusaha menjawab
semua pertanyaan yang dihadapi dan mengajukan alternatif
pemecahan suatu masalah.
(http://rheinaldyy2likesrin.wordpres.com/2010/08/26/pengantar-ilmu-filsafat/ )
Keterangan diatas mengakibatkan filsafat telah berhasil
mengubah pola pikir umat manusia dari pandangan mitosentris
menjadi logosentris. Awalnya orang beranggapan bahwa semua
kejadian dialam ini ini dipengaruhi oleh para dewa ataupun
faktor X. Dalam kehidupan modern ini, filsafat bisa diartikan
21
didalam keseluruhan ruang lingkungan pandangan dan
pengalaman umat manusia. Perkembangan dan perubahan
zaman kezaman mempunyai corak dan ciri yang berbeda kondisi
ini cenderung memacu manusia untuk selalu berfikir mencari
kebenaran itu sendiri, karna ada perbedaan dan cara pandang
dalam menafsirkan kebenaran tersebut mengenai hakikat dan
difinisi filsafat.
(http://www.komangputra.com/10-jenis-aliran-filsafat-yang-mengubah-pola-pikir-manusia.html)
Dalam keterangan diatas bahwasa rasio manusia menjadi
tolak ukur pengetahuan untuk mencari suatu kebenaran padahal
sudah diketahui bahwasanya rasio manusia itu sangatlah terbatas
sehingga tidak mungkin semua permasalahan dapat ditemukan
oleh rasio manusia.
b. Tasawuf
Kebanyakan kalangan muslim percaya bahwa salah satu
aspek penting untuk mengetahui keuniversalan ajaran islam
tersebut adalah adanya dorongan untuk senantiasa mencari ilmu
pengetahuan dimana saja dan kapan saja umat islam berada.
Dengan adanya dorongan dari ayat-ayat al qur’an maupun dalam
al-hadist yang menganjurkan umat islam agar mencari ilmu
pengetahuan inilah yang menyebabkan lahirnya beberapa
disiplin ilmu pengetahuan dalam islam. Dimana salah satunya
22
(http://santriblarah.blogspot.co.id/2013/04/ilmu-tasawuf-dalam-islam.html?m=1)
Taswuf atau sufisme adalah ilmu untuk mengetahui
bagaimana cara mensucikan jiwa, menjernihkan akhlaq,
membangun dhohir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan
yang abadi.(http://id.m.wikipedia.org/wiki/sufisme)
Pendekatan dan cara berfikir inilah yang akan dipakai oleh
peneliti melihat judul dalam penelitian ini adalah pola pikir
tentang ketuhanan.
3. Filsafat Ketuhanan
Perkataan ilah, yang selalu diterjemahkan “Tuhan”, dalam
alqur’an dipakai untuk menyatakan berbagai objek yang dibesarkan
atau dipentingkan manusia, misalnya dalam surat al-Furqan ayat 43.
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?”
Dalam surat al-Qashash ayat 38, perkataan ilah dipakai oleh
Fir’aun untuk dirinya sendiri:
23
Dan Fir’aun berkata: ‘Wahai para pembesar hambaku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku’.
Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan
ilah bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau
keinginan pribadi maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang
dipatuhi dan dipuja). Perkataan ilah dalam alqur’an juga dipakai
dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (mutsanna: ilaahaini),
dan banyak (jama’: aalihatun).
Bertuhannolatauatheismetidakmungkin.
UntukdapatmengertitentangdefinisiTuhanatauIlah yang tepat,
berdasarkanlogikaalquranadalahsebagaiberikut:
Tuhan (ilah) ialahsesuatu yang dipentingkan (dianggappenting)
olehmanusiasedemikian rupa,
sehinggamanusiamerelakandirinyadikuasaiolehnya. Perkataan
dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya
yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat
memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula
24
Ibnu Taimiyah memberikan definisi Al-ilah ialahyang dipuja
dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadaNya, merendahkan diri
dihadapanNya,takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat
berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo’a, dan bertawakkal
kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari
padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan
terpaut cinta kepadanya. (M. Imaduddin, 1989: 56).
Berdasarkan definisi tersebut di atas dapat dipahami, bahwa
Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan oleh manusia.
Yang pasti ialah manusia tidak mungkin atheis, tidak mungkin tidak
ber-Tuhan. Berdasarkan logika alquransetiap manusia pasti
mempunyai sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian,
orang-orang komunis pada hakikatnya ber-Tuhan juga. Adapun Tuhan
mereka ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.
Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “Laa illaha illaa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada
Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan suatu penegasan “melainkan
Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan
dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, yang ada dalam hatinya
hanya satu Tuhan yang bernama Allah.
25
Karakteristik pola pikir ketuhanan dalam penelitian ini dibagi
menjadi dua yaitu filsafat dan tasawuf.
a) Filsafat
Untuk mengetahui dan mengenal filsafat maka harus
mengetahui karakteristik filsafat yang dirumuskan pada empat
macam, yaitu:
1) Skeptisis
Sekeptisis adalah sikap keragu-raguan terhadap suatu
kebenaran sebelum memeroleh argumen yang kuat
terhadap kebenaran tersebut.
2) Komunalisme
Komunalisme berasal dari kata komunal yang berarati
umum. Maksudnya ialah hasil pemikiran filsafat adalah
milik masyarakat umum, tidak memandang ras, kelas
ekonomi, dan lain-lain. Misalnya dimanfaatkan oleh orang
Asia, Eropa, Afrika, dan lain-lainya.
3) Desintrestednes
Desintrestednes berasal dari kata interest yang berarti
kepentingan, kemudian diberi awalan dis yang berarti
tidak. Disinterestednes berarti suatu kegiatan (aktifitas)
kefilsafatan tidak dimotifasi dan tidak bertujuan untuk
26
seorang pemikir bebas, sesuai apa adanya bukan
bagaimana seharusnya.
4) Universalisme
Istilah universalisme berasal dari kata universal yang
berarti menyeluruh. Yaitu berfilsafat adalah hak seluruh
umat manusia secara umum.
(http://as87751.blogspot.com/2012/10/karakteristik-filsafat4079.html?m=1)
b) Tasawuf
Karakteristik dari ajaran tasawuf adalah:
1) Ajaranya benar-benar menurut Al qur’an dan sunah,
terikat dan tidak keluar dari ajaran-ajaran syariat
islamiyah.
2) Lebih cenderung pada perilaku atau moral keagamaan dan
pada pemikiran.
3) Banyak dikembangkan oleh kaum salaf.
4) Termotifasi untuk membersihkan jiwa yang berorientasi
pada aspek dalam yaitu cara hidup yang lebih
mengutamakan rasa, dan lebih mementingkan keagungan
Tuhan dan bebas dari egoisme. (http://
27
Dalam penjelasan di atas akan menimbulkan karakteristik
yang berbeda dimana seorang pengamal filsafat akan
mengunakan akal (rasionya) sampai ia merasa benar dalam
penelitianya padahal tidak semua kebenaran itu dapat dicapai
dengan rasio karna rasio dalam manusia ini sangatlah terbatas.
Berbeda dengan seseorang pengamal tasawuf dimana ia
mengandalkan hati yang mencari kebenaran itu sehingga
pengamal tasawuf percaya bahwa hatinya dijalankan oleh Allah
menuju jalan yang benar dan pengamalan seperti inilah yang
dapat menghasilkan keyakinan dan ketenangan serta kebenaran
yang hakiki.
B. Akhlak Tasawuf
1. Pengertian Akhlak Tasawuf
Definisi akhlak (khuluk)adalah budi pekerti, tabi’at, dan
karakter. Akhlak adalah tujuan utama dari penciptaan, dimensi utama
bagi seluruh mahluk dan usaha untuk membuat keingginan manusia
dapat sejalan dengan hakikat “penciptaan” yang tujuanya adalah untuk
mengikuti akhlak Allah. (Gulen, 2014:143)
Kata akhlak berasal dari bahasa arab yaitu isim masdar (bentuk
infiniti) dari kataاقلخا -– قلخي– قلخا sesuai dengan timbangan (wazan)
tsulasi mazid لعفا لاعفا – لعفي - yang berarti al sajiyah (perangai), al
28
kelaziman), al mar’ah (peradaban yang baik), dan al din (agama),
(Solihin, 2005: 17)
Mahasiswa sangatlah penting untuk mendapat mata kuliah
Akhlak Tasawuf ini khusus pada fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan
sebagai bekal untuk terjun di dunia pendidikan. Berkenaan dengan hal
tersebut penulis akan menjelaskan arti tasawuf menurut Harun
Nasution, istilah tasawuf ada lima yaitu ahl al suffah (orang yang ikut
pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah), saf (barisan), sufi
(suci), sophos (bahasa Yunani:Hikmat), dan suf (kain wol), (Nasution,
1983: 26-57). Karena yang penulis maksud disini pembelajaran akhlak
tasawuf adalah sikap mental yang berusaha belajar memelihara
kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk
kebaikan dan selalu bersikap bijaksana (Nata, 1996:180).
Jadi pembelajaran akhlak tasawuf mengajarkan agar lebih
memperbaiki keyakinan yang disertai dengan akhlak dengan bertahap
sehingga perubahan pola pikir ketuhanan itu dapat dirasakan oleh
mahasiswa, yang dapat menimbulkan rasa keimanan yang lebih kuat.
Ibnu Maskawaih mengidentikkan antara akhlak dan karekter,
keduanya adalah merupakan keadaan jiwa, demikian juga Imam
Ghazali mengibaratkan akhlak sebagai gerak jiwa seseorang serta
gambaran batinnya. Dari kedua pengertian yang diberikan oleh kedua
pakar ilmu akhlak ini bahwa akhlak sebagai suatu aktifitas yang
29
dan buruk karakter, kepribadian, sikap dan tingkah laku seseorang
yang telah menjadi tabiat sehari-hari yang dikerjakan dengan
kesadaran dan tanpa pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu
berkait erat dengan jiwa dan batin seseorang, sehingga jelaslah bahwa
akhlak merupakan bagian penting didalam ajaran agama, karena itu
wajar kalau justru fungsi keseluruhan Nabi (pembawa agama) adalah
untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana peringatan beliau:
ِقلاْخَلأإ َمِر َكََم َمِ مَتُلأ ُتْثِعُب اَمَّنِإ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’ (no. 20782), al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 8949))Karena keduanya (akhlak dan agama Islam) membahas dan
mengupayakan bagaimana jiwa seseorang menjadi baik dan sempurna
dengan membuahkan suatu pola pikir, sikap dan tingkah laku (shaleh),
dengan keharmonisan dan keselarasan yang sempurna tanpa adanya
kamoplase penipuan, kemunafikan disharmonisasinya antara batin dan
jiwa, dengan prilaku, misalnya hatinya baik perilakunya jelek, atau
sebaliknya perilakunya baik tetapi keluar dari jiwa dan niatan batin
yang jelek, baik karena kebodohan maupun karena kejelekan jiwa.
Sehingga akhlak terkait erat dengan keimanan yang sama-sama
berpangkal didalam hati seseorang bahkan menurut Nabi Muhammad
orang yang terbaik keimanannya adalah orang yang baik akhlaknya
30
Seperti pernyataan Nabi :
ًاقُلُخ ْمُهُ نَسْحأ ًنااَيمإ َينِنِمؤُلما ُلَمْكأ
“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik diantara mereka akhlaknya.” (HR Tirmidzi, ia berkata: hadis hasan shahih)Tasawuf adalah suatu kata istilah atau nama yang muncul jauh
dari masa Nabi (2 abad) setelah Nabi, yang pertama kali dimunculkan
oleh seorang zahid Abu Hasyim Al-Kufi (wafat 150 H), untuk suatu
kelompok orang Islam yang mengkonsentrasikan dirinya pada
kehidupan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya dengan berbagai cara dan upaya. (Abu Bakar, 1990: 53)
Kata tasawuf berasal dari kata shuffah, yang menurut etimologi
dengan pendekatan historis berasal dari kata ahli. Shuffah ialah
orang-orang yang ikut pindah atau hijrah dengan Nabi dari Mekkah ke
Madinah, dan karena hartanya ditinggalkan, mereka berada dalam
kehidupan miskin dan tak mempunyai apa-apa. (Harun Nasution,
1973: 57). Mereka tinggal di masjid Nabi dengan selalu memakai
pelana kuda”suffah” sebagai bantalnya sehingga disebut “Ahli
Shuffah” adalah kelompok kaum muslimin yang miskin tetapi mereka
berhati mulia, tidak mementingkan keduniaan, miskin tetapi berhati
baik dan mulia, itulah sifat-sifat ahli shuffah yang dijadikan contoh
orang sufi dikemudian hari . Ada juga yang mengatakan tasawuf atau
sufi berasal dari kata shuf “ yang berarti kain wool, karena para
31
kehidupan kerohanian itu selalu mengenakan baju wol kasar sebagai
lambang kesederhanaan pada saat itu. Dan masih banyak lagi yang
mencoba mengkait-kaitkan asal kata dan istilah tasawuf itu, tetapi yang
jelas tasawuf berarti pokok hidup kerohanian Islam dan syari’at batin
dalam ajaran Islam.
Pada masa Nabilah mula pertama timbulnya embrio munculnya
sufi sebagai suatu aliran keagamaan yang digambarkan dengan adanya
kelompok ahlli shuffah di Masjid Nabi, yang mendapat restu dari Nabi
bahkan Nabi sendiri dan hampir semua sahabaat dekat Nabi
memberikan contoh-contoh kehidupan kerohanian yang sangat tinggi,
berpola hidup sederhana atau bahkan miskin dan senantiasa
memperbanyak ibadah dan muraqabah serta mujahadah-mujahadah
yang sangat serius, dengan shalat, dzikir dan membaca Al-qur’an serta
berpuasa disamping tidak pernah dari semangat jihad dan dakwah.
2. Ruang Lingkup Akhlak Tasawuf
Menurut Ahmad Daudy ilmu tasawwuf pada umumnya dibagi
menjadi tiga, pertama tasawwuf falsafi, yakni tasawwuf yang
menggunakan pendekatan rasio atau akal pikiran, tasawwuf modelini
menggunakan bahan–bahan kajian atau pemikiran dari para tasawwuf,
baikmenyangkut filsafat tentang Tuhan manusia dan sebagainnya.
Kedua, tasawwuf akhlaki,yakni tasawwuf yang menggunakan
32
(mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya
denganakhlak yang terpuji), dan tajalli (terbukanya dinding
penghalang (hijab) yang membatasimanusia dengan Tuhan, sehingga
Nur Illahi tampak jelas padanya). Dan ketiga, tasawwuf amali, yakni
tasawwuf yang menggunakan pendekatan amaliyah atau wirid,
kemudianhal itu muncul dalam tharikat.
Sebenarnya, tiga macam tasawwuf tadi punya tujuan yang sama,
yaitu sama–sama mendekatkan diri kepada Allah dengan cara
membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasi diri
dengan perbuatan yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah), karena itu
untuk menuju wilayah tasawwuf, seseorang harus mempunyai akhlak
yang mulia berdasarkan kesadarannya sendiri. Bertasawwuf pada
hakekatnya adalah melakukan serangkaian ibadah untuk mendekatkan
diri kepada Allah swt. Ibadah itu sendiri sangat berkaitan erat dengan
akhlak. Menurut Harun Nasution, mempelajari tasawwuf sangat erat
kaitannya dengan Alqurandan Al-Sunnah yang mementingkan akhlak.
Cara beribadah kaum sufi biasanya berimplikasi kepada pembinaan
akhlak yang mulia, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Di
kalangan kaum sufi dikenal istilah altakhalluqbi akhlaqillah, yaitu
berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau juga istilah al-ittishaf
bi sifatillah, yaitu mensifati diri dengan sifat – sifat yang dimiliki oleh
33
Jadi akhlak merupakan bagian dari tasawwuf akhlaqi, yang
merupakan salah satu ajaran dari tasawwuf, dan yang terpenting dari
ajaran tasawwuf akhlaki adalah mengisi kalbu (hati) dengan sifat
khauf yaitu merasa khawatir terhadap siksaan Allah. Kemudian,
dilihat dari amalan serta jenis ilmu yang dipelajari dalam
tasawwufamali, ada dua macam hal yang disebut ilmu lahir dan ilmu
batin yang terdiri dari empat kelompok, yaitu syariat, tharikat,
hakikat, dan ma`rifat.
3. Tujuan Akhlak Tasawuf
Tujuan akhlak tasawuf mempunyai sifat bertingkat-bertingkat
dan selalu berkembang yaitu, tujuan akhlak tasawuf yang hakiki
adalah menciptakan kepasrahan yang tinggi kepada Allah SWT, sikap
tawakal sebagai perwujudanya. Yang mana semua itu dilakukan yang
mana semua itu dilakukan hanya untuk mendapatkan ridho dari Allah
SWT. Kesadaran diri akan kehadiran tuhan dengan segala
kesempurnaannya.
Jadi secara umum tujuan akhlak tasawuf adalah taqarrub ilallah
(mendekatkan diri kepada Allah).
Beberapa pendapat ulama tentang tujuan tasawuf, diantaranya
(Sultoni, 2007:51)
34
Menurut Hamka, tujuan hidup kerohanian dalam islam (tasawuf)
adalah.
1) Awalnya ingin mengendalikan jiwa dalam menempuh
hidup mencari kerelaan tuhan supaya tidak terperdaya oleh
kebendaan.
2) Selanjutnya tasawuf menjadi alat untuk mencapai tujuan
yang lebih hebat yaitu melihat wajah Tuhan.
3) Akhirnya ingin mencapai maqom tertinggi yaitu fana
dalam wujud melalui batin rohani (riadzoh, dan
kesungguhan, atau mujahadah).
b. Rabiah al-Adawiyah
Menurutnya tujuan tasawuf yaitu terbukanya tabir pengikat alam
gaib sehingga seorang sufi bisa mengalami penyaksian dan
berhubungan langsung dengan dunia gaib dan zat Tuhan.
c. Abdul Hakim
Dalam kitab al-tasawuf fi al-syi’ri arobi, beliau mengatakan
tujuan tasawuf adalah sampai pada zat yang hak mutlak atau
bahkan bersatu dengan Tuhan.
4. Amalan Akhlak Tasawuf
35
Taqwa adalah takut terhadap azab Allah SWT, yang
menimbulkan suatu konsekuensi untuk melaksanakan semua
perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.
b. Zikir
Zikir bersifat mengingat. Mengingat dan menyebut dalam
bahasa zikir bersifat komplementer (saling terkait dan saling
melengkapi). Zikir adalah mengulang nama Allah dan
sifat-sifatnya satu demi satu atau sebagian secara bersamaan.
Menyebut merupakan zikir lisan yang akan mendorong hati
untuk menginggat nama atau sesuatu yang disebut itu.
Demikianlah zikir hati (mengingat) dan zikir lisan
(menyebut) saling mempengaruhi yang nanti akan mendorong
akal untuk menangkap kehendak Allah SWT, yang menjadikan
ketundukan dan kepatuhan kepada syariatNya. Sebagimana
dalam tunduk dan patuh pada sunnatullah (ketentuaNya).
Selanjutnya akan melahirkan zikir amal (taqwa).
c. Ikhlas
Maksud ikhlas adalah mengerjakan sesuatu tiada lain adalah
hanya mengharap ridho atau kerelaan Allah SWT semata, bukan
karena mengharap pujian atau sanjungan dari orang lain. Ikhlas
merupakan ilmu yang memadukan amal dan niat, niat
merupakan dasar dari segala amal perbuatan setelah berusaha
36
kebersihan atau kegagalan, karena sesunguhnya Allahlah yang
maha tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.
d. Taubat
Taubat adalah kembali dari sesuatu yang dia sesali menuju yang
dia maksudkan. Taubat yang diperintahkan adalah kembali pada
Allah SWT, mengerjakan apa yang dia perintahkan dan
menjauhi apa yang dilarang-Nya.
e. Sabar
Sabar adalah keyakinan dan kerelaan pada takdir (Sultoni,
2007:137). Manusia sering memaksakan kehendak, sehingga
sebagai akibatnya tidak akan menerima kehendak Allah SWT.
Maka sabar adalah menyelaraskan kehendak manusia kepada
kehendak Allah SWT, bukan sebaliknya yaitu menyesuaikan
kehendak Allah SWT kepada kehendak diri manusia.
f. Tawadhu’
Kata lain dari tawadhu’ adalah rendah hati. Diantara tanda-tanda
orang yang tawadhu’ adalah menghormati, sopan, santun, lemah
lembut dalam bertutur kata dan tidak sombong atas
dirinyameskipun memiliki kedudukan dan harta yang berlebih.
Menghormati yang tua dan mencintai yang muda adalah kunci
dari sifat tawadhu’.
37
Istiqamah yaitu melakukan amalan secara terus menerus dalam
keadaan bagaimanapun. Yang mana sikap teguh dalam
mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun
menghadapi berbagai rintangan.
h. Sederhana
Sederhana secara bahasa berarti sedang (tidak mewah)
menggunakan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan maka
akan menolong manusia dikehidupan mendatang didunia
maupun akhirat. Sebagai contoh memiliki uang yang cukup
hanya untuk satu bulan akan tetapi tidak terperinci dan
berlebihan dalam membelanjakannya, maka tidak akan sampai
akhir bulan, akhirnya hutang kepada saudara, teman, jika tidak
mendapatkanya mencuri bahkan membunuh dapat dijadikan
jalan keluarnya. Orang yang berakal adalah orang yang
mewajibkan dirinya untuk bersikap sederhana atau
tengah-tengah dalam semua permasalahan baik masalah ekonomi, sisial,
maupun keagamaan (Al ghalayin, 2000:174). Oleh karena itu
hidup sederhana sangat penting bagi pengamal akhlak tasawuf.
i. Puasa
Puasa berarti menahan (mengendalikan) diri dari makanan dan
minuman pada waktu tertentu. Sedangkan menurut syara puasa
38
puasa mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari disertai
dengan niat (Shalih, 2008:41).
C. Metode Pembelajaran Akhlak Tasawuf pada Mata Kuliah Akhlak
Tasawuf IAIN Salatiga
Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran akhlak
tasawuf di IAIN Salatiga adalah teori, pengamalan, dan amalan penunjang
dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini didasari pendapat para ahli
mengenahi pembelajaran akhlak tasawuf berikut ini:
1. Pendapat Para Ahli Mengenahi Pembelajaran Akhlak Tasawuf
Antara akhlak dan tasawuf adalah bagaikan api dengan asapnya
yang masing-masing tidak dapat berdiri sendiri, keduanya mempunyai
obyek kajian hati dan jiwa seseorang. Bahkan Al-Ghozali memberikan
pengertian tentang bentuk ilmu akhlak sebagai ilmu sifat haati dan
ilmu rahasia hubungan keagamaan yang kemudian menjadi pedoman
untuk akhlaknya orang-orang baik. Al Ghozali lebih menitik beratkan
masalah hlak itu untuk pedoman orang-orang sholeh (ahli thariqat)
dan harus disesuaikan dengan ajaran-ajaran syari’at Islam, seperti
yang digariskan oleh para fuqaha, sehingga ilmu tersebut lebih
popular di kalangan umat Islam menjadi ilmu tasawuf. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa akhlaknya orang mukmin itu adalah
tasawuf, suatu etika yang terkonsentrasikan pada Allah semata dengan
39
Akhlak tasawuf atau akhlak dan tasawuf ini timbul pada diri
seseorang karena kesadaran dan keterpanggilan jiwa, yang mungkin
terjadi sebagai reaksi banyak hal :
Mungkin karena membaca dan melagukan Al-qur’an, mungkin
dari tafakur, semedi dan membaca beberapa Hadits, atau mencontoh
perbuatan sahabat-sahabat utama dan pengaruh keadaan sekeliling.
Waktu permulaan timbulnya tasawuf belumlah menjadi suatu ilmu
yang teratur atau filsafat yang sistimatik, sebelum abad ketiga nama
tasawuf belumlah dikenal, barulah yang dikenal istilah suhud atau
abid atau fakir atau nasik.
2. Metode Pembelajaran Tasawuf
a. Teori Pembelajaran Tasawuf
1) Untuk mengenal Allah secara ilmu (ilmu yaqin), perkuliahan ini
menyajikan beberapa materi kuliah (kurikulum) yang kajianya
berdasarkan tasawuf seperti:
1) Etimologi Tasawuf
Etimologi tasawuf adalah cabang ilmu bahasa yang
menyelidiki asal usul kata serta perubahan dalam bentuk
dan makna yang berkaitan dengan tasawuf.
2) Pendidikan Akhlak
Akhlak, kata Imam Ghazali bukan ilmu dan bukan pula
40
keadaan hati seseorang, adakalanya baik (akhlak mulia)
dan adakalanya buruk (akhlak tercela).
3) Taubat
Taubat adalah kembali dari sesuatu yang dia sesali menuju
yang dia maksudkan. Taubat yang diperintahkan adalah
kembali pada Allah SWT, mengerjakan apa yang Dia
perintahkan dan menjauhi apa yang dilarangNya.
4) Sabar
Sabar adalah keyakinan dan kerelaan pada takdir (Sultoni,
2007:137).
5) Zuhud
Zuhud adalah ajaran yang membenci dunia, padahal secara
fitrah manusia memerlukan dunia. Dunia dipandang
sebagai sumber kotoran rohani, maka untuk mencapai
kebersihan rohani, manusia tidak boleh terkotori dunia,
apalagi memiliki/ mencintai dunia.
6) Sedekah
Sedekah artinya pemberian sesuatu kepada fakir miskin
atau yang berhak menerimanya, diluar kewajiban zakat
dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi.
41
Bersyukur artinya mengucapkan terima kasih kepada
Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan kepada
manusia.
8) Hubb
Hubb adalah hal yang muncul sebagai gabungan antara
khauf dan raja’. Sesorang yang mencintai kekasihnya,
maka ia akan takut berpisah dan takut kehilangan
kekasihnya serta berharap selalu bersanding dan menyatu
dengannya.
9) Khauf dan raja’
Khauf artinya perasaan takut kepada Allah, dapat
bersumber dari dua hal yaitu khauf karena siksa dan khauf
karena cinta.
Raja’ artinya sikap optimis dalam memperoleh karunia
dan nikmat Allah yang disediakan bagi hamba-hambaNya
yang shaleh.
10) Fana
Ajaran fana diambil pada bingkai hukum islam sehingga
kedalaman fana yang sebenarnya berintikan pada
pengesaan Allah dapat terungkap.
2) Untuk mengenal Allah SWT berdasarkan pengamatan dan
pemahaman ciptaan Allah SWT, mahasiswa diantarkan kepada
42
semesta. Misalkan menemukan Allah dibalik penciptaan rambut,
mata, telingga, lidah, kaki dsb. Atau menemukan Allah dibalik
penciptaan langit, terjadinya hujan, bencana alam, dsb.
Mahasiswa diberi informasi tentang semua itu, kemudian
bersama-sama menemukan kuasa dan cinta Allah SWT yang
tersembunyi dibalik ciptaan-Nya.
3) Untuk mengenal Allah SWT melalui pengalaman langsung,
mahasiswa diwajibkan melakukan amaliah praktis.
Khususnya untuk tujuan ma’rifatullah yang tertinggi, yaitu
haqqul yaqin, mata kuliah ini menggunakan beberapa metode yaitu:
a. Berdoa
Berdoa dalam mata kuliah ini tidak sebagai mana dilakukan
muslim pada umumnya. Apa yang dilihat muslim secara umum,
mereka baru melakukan amaliah membaca do’a, tetapi belum
berdo’a. Pendekatan berdoa dalam matakuliah ini mengunakan
kajian dan praktik psikologi, khususnya yang berkaitan dengan
Mind Menegement (manajemen pikiran/hati). Metode yang
dipakai, diantaranya dengan visualisasi (membayangkan yang
diminta), afirmasi (membangun keyakinan dengan sugesti
diri/self sugesti). Self talk (dialog internal untuk melakukan zero
mind), relaksasi (pengkondisian pikiran/hati agar agar khusu’),
dsb.
43
Artinya shalat sunah diwaktu malam setelah tidur. Shalat
tahajud merupakan sunah nabi yang sangat dianjurkan. Orang
yang mengenal jalan Allah SWT dan selalu berlindung kepada
naunganNya adalah orang yang mengetahui bahwa shalat
merupakan obat dari segala kesusahan dan kesedihan. Yakin
bahwa shalat adalah penenang hati, penyejuk jiwa dan
penghapus duka lara.
c. Membaca Alqur’an
Alqur’an merupakan petunjuk bagi umat islam sedunia dan
membacanya merupakan ibadah. Maka sebagai ahli tasawuf dan
memahami tasawuf tidak akan meningalkan Al qur’an dan tidak
pula meninggalkan memperdalam ilmunya tentang Al qur’an,
karena itu dapat memotifasi manusia untuk bertaqwa dan
beriman kepada Allah seutuhnya.
d. Shalat Berjamaah
Shalat merupakan doa, jika dalam berdoa (shalat) dilakukan
secara berjamaah dan diaminkan oleh orang banyak maka akan
diaminkan pula oleh malaikat, sehingga shalat/doa yang
dilakukan oleh orang banyak itu istijabah. Selain itu juga
terdapat nilai-nilai yang terkandung didalam shalat berjamaah
diantaranya yaitu menjalin ukhwah islamiyan dan dimudahkan
44
Saling menyapa, sopan santun dengan sesama dapat
menimbulkan hubungan sosial yang baik.
e. Bersedekah
Bersedekah adalah menafkahkan sesuatu kepada orang lain.
Perlu diketahui bahwasanya sedekah tidak hanya berupa harta.
Sedekah dapat berupa tenaga, pikiran, dan hal-hal lain seperti
senyum. Dianjurkan untuk melakukan sedekah tidak hanya
diwatu lapang akan tetapi di waktu sempi juga, tidak hanya pada
waktu senang tetapi diwaktu susah juga, tidak hanya diwaktu
ramai tetapi di waktu sendiri juga. Karna sedekah adalah
penolak balak, membuka jalan agar doa dapat terkabul dan juga
kunci sukses agar menjadi kaya. Sedekah tidak dapat dilihat dari
segi dhohirnya karna karna bersedekah akan mengurangi harta,
akan tetapi jika dilihat dari segi hakikinya harta yang
disedekahkan itu adalah harta yang dimilki sesorang
sesungguhnya, yang suatu saat dapat menolongnya dikemudian
hari. Selain itu Allah juga akan membalas lebih banyak lagi
dengan jalan-Nya dan pahala mulia disisiNya.
b. Pengamalan Tasawuf
Mata kuliah akhlak tasawuf ini sangat berperan dalam
kehidupan sehari-hari. Seorang mahasiswa khususnya mahasiswa
45
banyak masalah yang komplek. Oleh karena itu jika masalah yang
komplek itu tidak segera teratasi bisa saja menimbulkan rasa putus asa
pada mahasiswa tersebut karena pengetahuannya yang minim,
diharapkan mata kuliah ini dapat berperan dalam mengatasi
masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa.
Akhlak tasawuf berperan membentuk pribadi yang optimis,
yakin akan kekuasaan Allah SWT dan pantang menyerah. Karena
selalu ada motifasi untuk maju mengharap belas kasih Allah SWT atas
usaha, sabar, dan Ikhlas karena Allah SWT.
Adapun pengamalan pembelajaran tasawuf dalam kehidupan
sehari-hari adalah dalam berdoa dan sedekah. Dua metode ini justru
menjadi metode utama pembentukan pola pikir ketuhanan. Dua
metode ini dipraktikkan langsung dalam pengamalan keseharian. Ini
yang membedakan dengan metode kuliah yang lain.
1) Doa
Pengamalan berdoa menurut sufi adalah kita memohon kepada
Allah akan apa yang kita inginkan tanpa memikirkan terkabul
atau tidaknya doa yang kita panjatkan. Jika doa kita dikabulkan,
kita bersyukur, tetapi jika doa kita belum dikabulkan, kita harus
instropeksi diri akan kesalahan dan kekurangan dalam kita
berdoa. Kesimpulannya kita sebagai hamba harus senantiasa
memohon kepada sang Kholiq, dan terkabul atau tidaknya doa
46
2) Sedekah
Amalan sedekah menurut ahli sufi adalah memberikan harta
yang kita miliki sebanyal-banyaknya, tanpa memikirkan
keikhlasan hati, pahala sedekah, maupu kegunaan barang yang
kita sedekahkan.
c. Amaliyah Penunjang Tasawuf
Selain doa dan sedekah, terdapat amaliyah penunjang, antara lain
shalat dan membaa alqur an.
1) Shalat
Pengamalan shalat dalam kehidupan sehari-hari menurut ahli
sufi adalah kita melaksanakan shalat seperti yang dicontohkan
oleh Rasulullah SAW tanpa memikirkan kekhusyukan, hikmah,
makna, dan ketepatan bacaan maupun gerakannya. Adapun
diterima atau tidak shalat kita, maka urusan Allah SWT.
2) Membaca alqur an
Membaca alqur an menurut ahli sufi adalah memberikan harta
yang kita miliki sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan
keikhlasan hari, pahala, aupun kegunaan barang yang kita
sedekahkan.
47
Dengan memahami dan memperaktikan ilmu dan metode pada mata
kuliah akhlak tasawuf ini, diharapkan ada beberapa manfaat yang bisa
dirasakan oleh mahasiswa:
1) Mahasiswa menjadi lebih memahami beberapa materi-materi atau
tema-tema utama dalam tasawuf.
2) Dengan kajian ‘ainul yaqin mengamati ciptaan Allah SWT pada
dirinya dan pada lingkungan alam semesta, mahasiswa berkembang
sepiritual intellegence-nya, sehingga mereka menjadi lebih peka dan
lembut terhadap fenomena alam semesta. Mereka tidak mudah untuk
mengatakan bahwa yang terjadi ini kebetulan, sebaliknya mereka
menyadari dibalik semua yang ada itu karena kasih sayang Allah SWT
yang diberikan dan itulah yang terbaik.
3) Dengan metode berdoa, menggunakan pendekatan mind menejement,
mahasiwa menjadi lebih mengenali kekurangan dirinya yang
bersumber pada pikiran-pikiran negatif yang selama ini dipeganginya.
Mahasiswa memahami bahwa tantangan keberhasilan mencapai
sesuatu adalah dirinya sendiri. Jihad yang palin besar adalah jihad
melawan dirinya sendiri (hawa nafsu), begitulah yang disabdakan oleh
Rasulullah SAW. Dalam kondisi ini yang dibutuhkan adalah
pembersihan hati/pikiran dari hal-hal yang negatif dan mengisi
hati/pikiran dengan hal-hal yang negatif. Kondisi seperti ini dapat
mempengaruhi pembentukan karakter dan akhlak begitupun dengan
48
4) Perubahan sikap dan perilaku mahasiswa diarahkan pada empat
pihak:1) kepada Allah SWT, lebih meningkat ibadahnya, lebih dekat
dan lebih cinta kepada Allah SWT, 2) diri sendiri, lebih mengenal
kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirinya, menerima dirinya,
cinta pada dirinya, lebih tenang menghadapi masalah, lebih optimis
menyelesaikan masalah, tidak mudah putus asa, menjadi lebih percaya
diri, 3) kepada orang tua, lebih menghormati, lebih menyayangi, lebih
dekat, mengiggat pengorbanan-pengorbanan orang tua, 4) kepada
orang lain, lebih peduli, bersikap dermawa, suka tolong menolong,
mendoakan orang lain, menghargai orang lain.
5) Dengan metode berdoa mahasiswa menjadi yaqin dengan pengalaman
sendiri, bahwa Allah SWT benar-benar mengabulkan apa yang
diminta. Bahkan sesuatu yang tidak masuk akal, bisa terjadi seketika
Allah SWT mengabulkan permintaan itu. Dengan pengalaman ini
mahasiswa menjadi semakin kagum dengan Allah SWT, semakin
dekat, mengembalikan masalahnya dengan mendekatkan diri kepada
Allah SWT dan semakin cinta kepada Allah SWT, karena mereka
telah merasakan secara langsung melalui pengalamannya bahwa Allah
SWT mencintai mereka.
6) Dengan metode meminta sebuah proyek, mka mahasiswa secara tidak
langsung dibiasakan untuk melakukan banyak amaliyah syar’i,
sekaligus diberikan pemahaman bahwa ibadah yang mereka lakukan