14. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di ruang virtual berbasis media online yaitu instagram dengan mengerucut pada salah satu akun informasi yang mencakup wilayah Semarang dengan username @infokejadiansemarang.
15. Bentuk dan Strategi Penelitian
Andra Tersiana dalam bukunya berjudul “Metode Penelitian”
menyebutkan penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati dari suatu individu, kelompok dan masyarakat yang dikaji dari sudut pandang utuh, komperehensif, dan holistik. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Berarti dalam melakukan penelitian tidak membutuhkan angka tetapi menekan pada kata-kata atau kalimat (Andra Tersiana, 2022: 10).
Penelitian dilakukan dengan metodelogi etnografi dalam mengamati teks.
Melalui perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, mendukung komunikasi virtual sebagai media komunikasi utama yang telah menggeser penggunaan media konvensional. Hal ini dapat mendorong perubahan serta pengembangan dalam konteks penelitian etnografi. Etnografi berasal dari bahasa Yunani, gabungan kata ethos yang merupakan warga atau masyarakat dalam suatu negaran dan graphy yang berarti tulisan atau teks. Adapun secara tertinomologi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Etnografi disebut sebagai deskriptif
mengenai kebudayaan bangsa, ilmu tentang kebudayaan suku bangsa dan peninggalan budaya yang berasal dari masyarakat (Rulli Nasrullah, 2020: 58).
Dalam penelitian ini peneliti tidak harus bertatap langsung dengan partisipan dalam menghasilkan data. Metodelogi Etnografi menjadikan bentuk sosial baru dalam penggambaran pengalaman melalui virtual yang terjadi pada interaksi online. Sedangan subjek dalam penelitian ini merupakan komentar masyarakat atau netizen dalam pemberitaan kasus bunuh diri pada postingan instagram @infokejadiansemarang.
Rulli Nasrullah dalam bukunya yang berjudul “Metode Penelitian Jurnalisme” menerangkan uraian dari metodelogi etnografi terdapat konsep SPEAKING didalamnya, meliputi sebagai berikut (Rulli Nasrullah, 2020:60) :
1. (S)cene yang merupakan setting dari situasi komunikasi yang terjadi 2. (P)articipants merupakan orang yang adanya keterikatan atau terlibat
dalam percakapan
3. (E)nd merupakan tujuan akhir dari percapakan yang terjadi
4. (A)ct Sequnce merupakan urutan dari tindakan melalui frasa yang digunakan dalam ineraksi berkomunikasi
5. (K)ey merupakan kunci dari sebuah percakapan, dapat berisi pola, intonasi, kandungan dan sebagainya.
6. (I)nstrumentaly merujuk pada media yang digunakan dalam interaksi percakapan
7. (N)orms merupakan nilai-nilai yang dirujuk pada masyarakat
8. (G)enre merupakan tipe ataupun ketegori yang diambil dari percakapan 16. Sumber data
Andra Tersiana dalam bukunya yang berjudul “Metodelogi Penelitian”
menyebutkan sumber data merupakan subjek data yang diperoleh. Jika peneliti menggunakan teknik observasi, sumber data bisa berupa benda atau pun proses tertentu. Untuk memudahkan identifikasi sumber data maka dibagi menjadi person (jawaban lisan), place (tempat), dan paper (huruf,angka, dan gambar)
sedangkan berdasarkan sumbernya dibagi menjadi dua bagian, sebagai berikut : a. Data Primer merupakan data yang dapat diperoleh dari responden dengan
melalui pengukuran langsung, kuesioner, kelompok panel, atau data hasil wawancara dengan narasumber (Andra Tersiana, 2022: 75). Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah unggahan postingan akun
@infokejadiansemarang. Konten yang terpilih merupakan konten yang berbau kasus mahasiswa bunuh diri di Semarang dengan jumlah komentar dan like terbanyak dibanding konten lainnya (konten yang diupload pada Oktober 2023)
b. Data sekunder merupakan data yang bisa didapatkan dari catatan, buku, laporan pemerintah, dan sebagainya. Data yang diperoleh dari data sekunder tidak perlu diolah lagi. Sumber yang tidak langsung memberikan data pada pengumpul data (Andra Tersiana, 2022: 75). Dalam penelitian ini data sekunder diambil dari buku untuk melengkapi kajian terkait
etnografi serta jurnal, artikel, dan skripsi yang relevan dengan permasalahan yang ingin penulis teliti.
17. Teknik Penentuan Narasumber
Engkus Kuswanto dalam bukunya berjudul “Etnografi Komunikasi”
menyebutkan sangat tidak mungkin bila seorang etnografer harus melakukan wawancara dengan setiap orang dalam suatu masyarakat, maka penelitian kualitatif menggunakan metode pemilihan atau teknik purposive sampling
“sampel bertujuan” karena pemilihan satu kasus lazimnya didasari pertimbangan bahwa kasus tersebut dianggap khas “typical” sebagai subjek penelitian. Teknik purposive Sampling digunakan untuk memilih informan karena penelitian ini karena dianggap memiliki informasi yang diperlukan untuk penelitian (Engkus Kuswarno, 2011: 62).
Peneliti memilih informan yang mengetahui masalah dalam tema penelitian dan mampu memberikan informasi yang diperlukan untuk mendapatkan data. Dalam hal ini peneliti memilih informan yang dianggap mengetahui permasalahan yang bicarakan pada objek penelitian dan mampu memberikan informasi dalam pengembangan untuk memperoleh data.
Sebelum melakukan wawancara, peneliti menyeleksi calon informan agar dapat mengumpulkan data yang relevan dengan menetapkan kriteria tertentu.
Subjek dalam penelitian ini merupakan masyarakat yang telah terlibat dalam memberi perspektif atau pendapat melalui kasus kejadian mahasiswa bunuh diri di
Semarang melalui postingan akun @infokejadiansemarang. Adapun ciri-ciri informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah :
a. Calon informan merupakan masyarakat yang mengikuti akun instagram
@infokejadiansemarang
b. Calon informan merupakan masyarakat yang mempunyai keterlibatan langsung dengan objek penelitian dalam kolom komentar sesuai tema yang diteliti
c. Calon informan tidak terbatas oleh jenjang semester ataupun tingkat pendidikan
d. Calon informan tidak ada batasan latar belakang kehidupan 17. Teknik Pengumpulan data
Engkus Kuswarno dalam bukunya yang berjudul “Etnografi Komunikasi”
menyebutkan melakukan observasi partisipan pun sudah mencakup metode pemgumpulan data seperti wawancara mendalam, observasi telaah dokumen dan sebagainya. Tatapi karena penelitian kualitatif itu khas, berikut merupakan metode yang lazim ditemukan pada penelitian kualitatif dimulai dari metode utama dalam etnografi komunikasi, yaitu metode intropeksi dan observasi partisipan sebagai metode yang utama dalam penelitian etnografi (Engkus Kuswarno, 2011: 48).
a. Intropeksi
Metode intropeksi ditemukan dalam etnografi komunikasi, dalam metode ini peneliti mencoba mengeksplisitkan kaidah-kaidah dan nilai yang diserap secara tidak sadar ketika tumbuh dalam masyrakat tertentu.
b. Observasi Partisipan
Metode observasi partisipan merupakan cara mengamati perilaku, kejadian ataupun kegiatan manusia dalam berkelompok dan bermasyarakat. Kemudian mencatat hasil pengamatan guna mengetahui yang terjadi, melalui pengamatan peneliti dapat melihat kejadian sebenarnya (Fadilah, 2023: 25). Adapun cara dapat memperoleh hasil observasi yang maksimal dapat dilakukan dengan memastikan fenomena yang hendak diinvestigasi, membedakan fenomena yang terjadi dengan fenomena sebelumnya (sumber), sebagai observer dihadapkan pada aturan yang ada mengikuti prosedur yang dihendaki partisipan, seorang observer harus bisa menemppatkan diri dan menggunakan media guna kepentingan penelitian. Kegiatan observasi partisipasi dapat bersikap terbuka ataupun tertutup dalam memberikan informasi, hal tersebut dapat dilihat dari topik yang terkandung baik itu sensitif ataupun netral (Anshori, 2017: 255).
Sebagaimana observasi pada netnografi dapat dilakukan dengan pengamatan seacara sembunyi-sembunyi atau terbuka. Dalam hal ini peneliti mempunyai hak meminta ijin terlebih dahulu pada objek yang akan diteliti (bila perlu). Selanjutnya, adanya keterlibatan atau interaksi selama pengamatan baik itu peneliti murni menjadi pengamat atau sebagai partisipan yang ikut serta dalam objek yang diteliti. Jika pada peran sebagai pengamat maka peneliti bersifat pasif hanya mengamati postingan pada objek yang telah ditentukan. Sementara pada peran ikut serta menjadi partisipan peneliti bisa terlibat dalam percakapan seperti komentar ataupun
tanggapan. Di penelitian ini peneliti menggunakan pengamatan yang bersifat pasif pada konten yang di unggah @infokejadiansemarang dengan kasus mahasiswa bunuh diri di Semarang pada Oktober 2023.
c. Wawancara
Wawancara etnografi komunikasi yang paling umum dan baik adalah yang terdiri dari pertanyaan yang tidak memiliki alternatif respon yang ditentukan sebelumnya atau dikenal sebagai wawancara mendalam.
Jenis wawancara ini mendorong subjek penelitian untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan lingkungan, sehungga sejalan dengan observasi partisipan, wawancara mendalam berupaya mengambil peran subjek penelitian (Engkus Kuswarno, 2011: 54).
Wawancara dalam etnografi yang baik dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada hal yang natural dalam arus pembicaraan daripada mengikuti daftar oertanyaan secara kaku. Dengan demikian, wawancara etnografi komunikasi merupakan wawancara yang terbuka (open-ended) memuat upaya untuk menemukan sumber yang mungkin dan memperkecil pengaruhnya maka pertanyaan harus bersifat fleksibel, sehingga memudahkan peneliti saat melakukan wawancara (Engkus Kuswarno, 2011: 55)
Wawancara dilakukan dalam rangka untuk mengali lebih dalam lagi atas data yang belum sepenuhnya tergali melalui observasi. Dalam wawancara ini peneliti menyiapkan pertanyaan yang relevan dengan objek penelitian. Wawancara terbagi menjadi dua kategori yaitu wawancara terstruktur dan tidak terstruktur (Anshori, 2017: 257).
d. Observasi tanpa partisipan
Observasi tanpa partisipan sangat cocok digunakan untuk mengamati perilaku atau kegiatan yang tidak memungkinkan etnografer terlibat di dalamnya. Karena peneliti tidak berperan serta dalam kegiatan subjek penelitian, kepekaan peneliti dalam membuat catatan sangatlah penting. Tetapi karena peneliti juga manusia yang memiliki banyak keterbatasan, tidak ada salahnya untuk menfaatkan teknologi yang ada.
Kunci suatu observasi yang berhasil merupakan membebaskan observer dari saringa kebudayaannya sendiri. Karena peneliti akan benar-benar berperan dalam mengarahkan pengamatannya di lapangan. Data yang akan didapat pun bergantung pada ke arah mana pandangan si peneliti diarahkan (Engkus Kuswarno, 2011:58).
e. Analisis Dokumen
Etnografi komunikasi menyebut analisis dokumen sebagai filogi atau hermeneutics yang artinys interpretasi dan penjelasan dari teks. Pada dasarnya data tertulis atau dokumen akan menghasilkan informssi mengenai pola penggunaan bahasaha dan kebudayaan orang yang membaca dan menulis dokumen tersebut. Bentuk lain dari analisis dokumen pada etnografi sering kali disebut dengan content analysis yang merupakan upaya menginterpretasikan makna dari teks, selain mengadakan perhitungan terhadap kode dan kategori yang khusus sedangkan semiotic analysis berupaya dalam penangkapan makna dan kata (Engkus Kuswarno, 2011: 60).
17. Triangulasi Data
Engkus Kuswarno dalam bukunya yang berjudul “Etnografi Komunikasi”
Triangulasi data merupakan keakuratan informasi dapat diperoleh melalui pengajuan pertanyaan yang sama pada beberapa orang dalam lingkungan penelitian yang sama kemudian membandingkan jawaban. Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data.
Adapaun caranya ialah dengan pengecekan data melalui sumber yang lain sehingga penting bagi etnografer selalu mengecek silang atau ulang data yang sudah diperoleh (Engkus Kuswarno, 2011:65).
Teknik Triangulasi Dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik berbeda. Triangulasi waktu dilakukan dengan cara
melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda (Naufal Fadhlurrohman, 2019:64-65).
a. Teknik Triangulasi Sumber. Triangulasi sumber yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan cara membandingkan data yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber pengumpulan data, yakni wawancara, telaah dokumen atau dokumentasi dan observasi.
b. Triangulasi Sumber Data. Teknik triangulasi sumber data digunakan oleh peneliti dan dilakukan dengan cara menggunakan berbagai sumber data.
c. Triangulasi Waktu. Teknik triangulasi waktu yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan cara membandingkan hasil wawancara dengan narasumber pada waktu yang berbeda
Berikut merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang dikemukakan oleh Moleong dalam buku Engkus Kuswarno 2011 :
1. perpanjangan keikutsertaan. Caranya dengan memperlama waktu penelitian dan memperdalam area penelitian, sampai peneliti benar- benar yakin.
2. Ketekunan pengamatan. Menemukan ciri dan unsur dengan situasi yang relevan pada parsoalan atau pun isu kemudian memusatkan diri secara rinci.
3. Triangulasi. Terdapat empat macam triangulasi, yaitu pemeriksaan yang mengandalkan pengunaan sumber, metode, dan sebagainya.
4. Pemeriksaan sejawat dengan diskusi. Teknik yang biasa dilakukan dengan mengekspose hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh melalui diskusi dengan rekan ataupun yang memiliki ilmu yang sama.
5. Analisis kasus negatif. mengumpulkan contoh serta kasus yang kurang sesuai dengan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pembanding.
6. Kecukupan referensi. Mengumpulkan data selain data tertulis dengan selengkap-lengkapnya. Contohnya dengan rekaman video, foto, suara, dan sebagainya.
7. Pengecekan anggota. Mengecek kembali hasil analisis peneliti dengan mereka yang terlibat dalam suatu penelitian.
8. Uraian rinci. Hal ini bergantung pada bagaimana penelitu menerjemahkan catatan lapangan dengan laporan penelitian.
9. Auditing. Pada teknik ini merupakan pemeriksaan pada seluruh data 18. Teknik Analisis data
Engkus Kuswarno dalam bukunya yang berjudul “Etnografi Komunikasi”
menyebutkan tahap dalam analisis data sebenarnya terdiri dari upaya meringkaskan data dengan mengubah kumpulan datab yang tidak terorganisir menjadi kalimat yang mudah dipahami oleh orang lain. Hal ini mencakup sejauh apa dalam pengamatan yang terjadi dan mengambil kesimpulan bisa menggeneralisasikan fenomena yang diteliti (Engkus Kuswarno, 2011:68).
Creswell dalam buku Engkus Kuswarno dengan judul “Etnografi Komunikasi” menyebutkan teknik analisis data dalam penelitian etnografi, sebagai berikut :
1. Deskripsi
Deskripsi menjadi bagian awal bago etnografer dalam menuliskan laporan. Tahap inilah menggambarkan secara detail objek penelitian. Menjelaskan interaksi sosial yang terjadi, menganalisis dengan tema tertentu dan mengemukakan pandangan yang berbeda dari informan. Dengan adanya deskripsi, etnografer
mengemukakan latar belakang dari masalah yang diteliti yang merupakan persiapan tahap pertama dalam menjawab penelitian.
2. Analisis
Etnografer menemukan beberapa data akurat mengenai objek penelitian seperti tabe;, grafik, diagram, dan model yang menggambarkan objek yang sedang diteliti. Pada tahap inilah membandingkan objek dengan nilai yang umum berlaku, etnografer dapat mengemukakan kritik bahkan kekurangan pada penelitian yang sedang diteliti dan menyarankan desain penelitian yang baru jika ada yang melanjutkan penelitian dengan tema yang sama.
3. Interpretasi
Tahap ini menjadi bagian akhir dalam analisis data pada penelitian etnografi. Seorang etnografer pada bagian ini mengambil kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, menggunakan kata orang pertama dalam penjelasannya dengan upaya menegaskan bahwa yang di kemukakan merupakan hasil mursi dari interpretasinya.