BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
'Dinasti politik telah lama muncul di negara-negara demokrasi dan meningkatkan kekhawatiran terbentuknya ketidaksetaraan distribusi kekuasaan politik yang bisa mencerminkan ketidaksempurnaan dalam representasi demokratis dalam politik yang disebut dengan kekuasaan melahirkan kekuatan.1
Dalam demokrasi yang ideal, seharusnya rakyat mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk ikut serta dalam proses politik. Artinya sangat terbuka ruang partisipasi bagi seluruh masyarakat untuk ikut berkontestasi memperebutkan jabatan-jabatan politik mulai dari tingkat regional hingga nasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Realitasnya, masyarakat masih terhalang oleh status ataupun hak-hak sosialnya sebagai akibat dari adanya fenomena dinasti politik. Jika demokrasi memiliki arti kekuasaan politik ataupun pemerintahan yang dijalankandari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, maka dinasti politik ini telah menciptakan pragmatisme politik dengan mendorong kalangan kerabat kepala daerah untuk menjadi pejabat publik.2
Pada dasarnya politik dinasti menimbulkan banyak pro dan kontra. Sebagian ada yang menganggap baik karena kestabilan politik terjaga dan sebagian pula ada yang menganggap bahwa politik dinasti hanyalah alat yang digunakan para pejabat untuk melanggengkan kekuasannya, tidak hanya itu politik dinasti juga dapat mempersempit kesempatan bagi orang lain untukberpartisipasi dalam lembaga perpolitikan, karena biasanya calon pemimpin dari politik dinasti lebih banyak sokongan3.
1 Susanti, Martien Herna. "Dinasti Politik dalam Pilkada di Indonesia". Journal of goverment and civil society, Vol. 1, No. 2, tahun 2017, hlm. 112.
2 Susanti, Martien Herna Opcit hlm. 112.
3 Bambang Cipto, Indonesia Memasuki Era Politik Dinasti: Dari Bilik Suara Kemasa Depan Indonesia Potret Konflik Pasca Pemilu Dan Nasib Reformasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), Cet Ke-1, hlm. 56.
Undang-undang dasar Negara republik Indonesia 1945 yang menegaskan bahwa kedaulatan tertinggi ada ditangan rakyat. Jadi dinasti itu lawannya dari demokrasi. Tetapi diera demokrasi ini dinasti juga masih tetap berlaku meskipun sudah ada partai politik atau pemilihan langsung. Dinasti dewasa ini melalui partai politik sehingga di sebut sebagai politik dinasti. Politik dinasti itu bahasan lainnya adalah politik nepotisme.
Para pejabat politik di Negeri ini sedang mempraktekkan kebiasaan para raja terdahulu.
Bisa dilihat bagaimana penguasa baik dipusat maupun didaerah berlomba-lomba untuk mengangkat sanak keluarga, kerabat, saudara serta orang-orang terdekat mereka untuk mengisi jabatan-jabatan diwilayah kekuasaannya. Kalau seperti ini apa bedanya demokrasi dengan oligarki sama-sama dipegang oleh elit tertentu4.
Politik dinasti adalah serangkaian strategis politik manusia yang bertujuan untuk memperoleh kekuasaan tersebut tetap berada dipihaknya dengan cara mewariskan kekuasaan yang telah dimiliki kepada orang lain yang memiliki ikatan keluarga dengan pemegang kekuasaan sebelumnya. Terdapat pula pengertian positif dan negatif tentang politik dinasti. Negatif serta positif tersebut bergantung pada proses dan hasil (output) dari jabatan kekuasaan yang dipegang oleh jaringan politik dinasti bersangkutan. Jika proses pemilihannya murni dan demokratis serta kepemimpinan yang dijalankanya mendatangkan kebaikan dalam pembangunan serta kesejahteraan masyarakat maka politik dinasti dapat berarti positif. Akan tetapi bisa berarti negatif jika yang terjadi sebaliknya. Tidak hanya itu positif dan negatif arti politik dinasti juga ditentukan oleh realitas kondisi sosialmasyarakat, sistem hukum, penegakkan hukum serta pelembagaan politik bersangkutan. Politik dinasti yang terdapat pada masyarakat dengan tingkat
4 Henry, Maddick, Democracy, Desentralisasition, and Development, Bombay-Asian Publishing House, Bandung, 2005.hlm. 145.
pendidikan politik yang rendah, sistem hukum dan penegakkan hukum yang lemah serta pelembagaan politik yang belum mantap, maka politik dinasti dapat berarti negatif5. Runtuhnya rezim orde baru membawa dampak yang sangat signifikan terhadap perubahan sistem politik dan sistem pemerintahan diindonesia. Namun perubahan sistem politik ini tidak serta merta mengakhiri kekuatan politik lama yang lahir dan berkembang pada masa orde baru tersebut. Sistem ini membuat seseorang menjadi salah satu pejabat tertinggi dalam suatu daerah dan bisa mengatur segala urusan didalam daerah yang dibawahinya6. Namun, pergeseran kekuasaan dari sentralisasi ke desentralisasi tidak otomatis meningkatkan sistem poltik di indonesia kearah yang lebih demokratis. Seringkali desentralisasi menjadi kontraproduktif bagi proses demokratisasi. Hal ini dikarenaan dengan adanya desentralisasi memunculkan para mafia dipemerintahan lokal yang mendedikasikan diri untuk kepentingan rakyat dengan cara menguasai sumber-sumber daya yang terdapat di daerah. Pasca otonomi daerah banyaknya daerah-daerah yang memiliki elit-elit lokal yang berkembang dengan cara memanfaatkan kekuasaannya, baik secara ekonomi, poltik, maupun sosial7.
Fenomena dinasti politik dalam ranah lokal muncul seiring dengan diberlakukannya Pemilukada langsung pertama kali di Indonesia pada tahun 2005 maupun implementasi otonomi daerah tahun 2001. Seiring dengan berjalannya kedua proses tersebut sebagai wujud demokratisasi di aras lokal, berbagai elit bermunculan di daerah untuk mengkooptasi kedua proses tersebut. Kemunculan para elit dalam demokrasi lokal tersebut lazim dikenal dalam istilah reorganisasi kekuasaan. Reorganisasi ini diartikan sebagai kembalinya pengaruh kekuasaan politik elit lokal ke dalam era demokrasi.
5 Burhanuddin Muhtadi,Perang Bintang: Konstelasi Dan Prediksi Pemilu Dan Pilpres Noura Books (PT Mizan Publika, 2014), Jakarta. hlm. 30.
6 "Miriam Budiarjo, Partisipasi Dan Partai Politki, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1998, hlm. 89.
7 Leo Agustino, Perihal Ilmu Politik, Bandung: Graha Ilmu, 2007, hlm. 46.
Selama Orde Baru berkuasa, kekuasaan para elit ini dibatasi oleh pusat yang lebih cenderung pada mekanisme pengangkatan maupun penunjukkan langsung. Hal inilah yang membuat elit lokal terbelah menjadi dua, yakni sebagai pelayan Orde Baru sehingga mendapatkan keistimewaan politik dan elit lokal penentang yang tidak menyukai kepemimpinan Orde Baru sehingga tersingkir dalam arena politik lokal di daerahnya8. Kontestasi pemilihan kepala desa merupakan kelanjutan dari demokratisasi Indonesia di tingkat pedesaan.Kebijakan politik terbaru di tingkat desa berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa mengatur pelaksanaan pemilihan kepala desa (selanjutnya disebut pilkades) yang dilakukan secara serentak,Pemilihan Kepala Desa juga diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 112 Tahun 2014 tentang Pemilihan Kepala Desa.
Pemilihan kepala desa sendiri tidak dapat dilepaskan dari perkembangan sumber-sumber kekuasaan dalam dinamika politik yang terjadi di desa. Pilkades tidak semata merupakan perebutan kekuasaan sebagai unjuk kekuatan ekonomi yang menjadi basis kekuasaan yang bersifat oligarki, akan tetapi juga menjadi ajang apakah terdapat sumber-sumber kekuasaan nonmaterial yang masih digunakan oleh para kontestan9.
Dalam kajian ilmu sosial dan ilmu politik, familisme sebagai budaya. politik diartikan sebagai ketergantungan yang terlalu besar pada ikatan keluarga, yang melahirkan kebiasaan menempatkan keluarga dan ikatan kekerbatan pada kedudukan yang lebih tinggi dari pada kewajiban sisoal lainnya10.
Sistem politik yang demokratis yang dihadirkan oleh Orde Baru, justru memberi ruang tumbuh dan berkembangnya politik dinasti seperti yang dijumpai di Desa Babalonge.
8 Wasisto Raharjo Djati. "Revivalisme Kekuatan Familisme Dalam Demokrasi: Dinasti Politik Di Aras Lokal.
"Jurnal sosiologi MASYARAKAT, Vol. 18, No. 2, Juli 2013. hlm. 211.
9 Endik Hidayat, Budi Prasetyo, Setya Yuwana. "runtuhnya politik oligarki dalam pemilihan kepala desa.
"Jurnal Politik, Vol. 4, No. 1 Agustus 2018, hlm. 54.
10 Wasisto Raharjo Djati, Op cit hlm. 208.
Desa Babalonge merupakan salah satu Desa yang berada di Daerah Kecamatan Lemito Kabupaten Pohuwato. Desa ini terkenal dengan tingginya rasa kekeluargaan, memungkinkan Menjadikan seseorang pemimpin dari satu keluarga yang memiliki pengaruh dari keluarga yang kuat, sistem politik di desa Babalonge memperlihatkan adanya sifat kedinastian. Hal ini dapat dilihat dari kepemimpinan kepala desa yang berasal dari ikatan kekeluarga, berikut nama-nama kepala desa dari masa ke masa di desa Babalonge.
No Nama Kepala Desa Periode
1 Lian A Nuleke 2008-2014
2 Ahmad Umaili 2016-2022
3 Ahmad Umaili 2022-2028
Berdasarkan tabel diatas membuktikan bahwa dinasti politik di desa Babalonge sudah lama terjadi, adapun hal yang mendasari terbentuknya politik dinasti dapat dianaslisa dari awal terpilihnya kepala desa Babalonge. Pada tahun 2008 desa Babalonge baru memilih kepala desa pertama kalinya secara demokrasi yaitu dengan pemilihan umum. Dalam pelaksanaan pemilihan tersebut diambil suara terbanyak yang pada saat itu tertuju pada Lian A.Nuleke yang merupakan kepala desa pertama di desa Babalonge, setelah menjabat selama 6 tahun, digantikan oleh pejabat sementara Rahmat Pakaya pada tahun 2014-2016.
Kemudian pada tahun 2016 Desa Babalonge kembali melakukan pemilihan umum.Adapun yang menjadi calon kepala Desa pada waktu itu yaitu :
1. Kasmat Kudingo 2. Ahmad Umaili
Pemilihan Kepala Desa yang dilaksanakan pada tahun 2016 tepat pada bulan Mey dimenangkan oleh Ahmad Umaili,yang menjabat pada tahun 2016-2022,beliau merupakan suami dari kepala desa pertama yaitu Lian A.Nuleke,pada masa
kepemimpinan Ahmad Umaili ini beliau mulai membangun/merekrut keluarga nya untuk dapat masuk kedalam perangkat Desa.
Setelah berakhirnya masa kepemimpinan Ahmad Umaili sebagai kepala Desa periode 2016-2022.Kecamatan Memilih Syafrin Pilomonu,Se sebagai kepala Desa Sementara Selama dua bulan, Kemudian Desa Babalonge kembali melakukan Pemiliham umum pada tanggal 10 Agustus 2022.,dan Ahmad umaili pun kembali mencalonkan diri sebagai kepala desa,adapun yang menjadi calon kepala desa pada waktu itu yaitu :
1. Kasmat Kudingo 2. Armin Bulonggodu 3. Ahmad Umaili
Pemilihan Kepala Desa yang dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2022 kembali dimenangkan oleh Ahmad Umaili., pada saat ia menjabat sebagai kepala Desa sebelumnya ia sudah merekrut keluarga nya untuk masuk kedalam perangkat Desa,Nah,jadi secara otomatis pada saat ia mencalonkan diri sebagai kepala desa kemungkinan besar dia akan menang,karena yang ada didalam perangkat desa ini adalah keluarganya,jadi suka,atau tidak suka keluarga nya tetap akan memilihnya,mereka berfikir bahwa tanpa dia mereka mungkin tidak akan berada disini.
Jadi pada saat menjelang pemilihan kepala desa,walaupun aparat desa atau perangkat desa dilarang untuk berkampanye,mereka secara diam-diam membentuk tim sukses untuk berkampanye,misalnya istrinya merupakan perangkat desa,nah Suaminya lah yang akan menjadi tim sukses tersebut.
Adapun Kemenangan kekuatan politik lama dalam tiap pemilihan kepala desa Babalonge memperlihatkan sebagian perihal awal, jaringan kekuasaan yang dipunyai elit lama yang
terdiri dari anggota keluarga serta orang-orang dekat masih efisien digunakan buat memenangkan kontestasi memperebutkan kekuasaan.
Kepala desa awal dari dinasti politik ini sudah membangun suatu jaringan kekuasaan, yang sukses dipelihara serta diperkuat oleh generasi- generasi kepala desa selanjutnya dari dinasti tersebut, Loyalitas para pendukung politik ini muncul bukan tanpa karena, mereka memiliki alibi tertentu buat senantiasa menunjang kepala desa Babalonge.
Terdapat ikatan baik yang terus dilindungi oleh kepala desa terhadap para pendukung politiknya. Hal ini bukan tanpa dasar tentunya ada pola yang membentuk sebuah dinasti politik dalam suatu kepemimpinan desa.
Menurut Syafi'e dalam pemilihan kepala desa sering terjadi Connection Fower yaitu dimana kekuasaan kerena seseorang memiliki hubungan kekerabatan dengan seseorang yang berkuasa sebelumnya. Dengan adanya model connection Fower ini terjadi pelimpahan kekuasaan dalam masyarakat dengan praktek penerusan kekuasaan pemerintahan desa kepada orang-orang terdekat yang mempunyai ikatan kekeluargaan sehingga fenomena ini dapat diartikan sebagai pola dari penerusan kekuasaan kepada keturanannya secara turun temurun11.
Desa Babalonge merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Lemito kabupaten Pohuwato,melihat Situasi seperti yang diuraiakan dari masalah diatas maka Penulis tertarik untuk Mengkaji masalah dengan Judul “Dinasti Politik dalam Pemilihan Kepala Desa di Desa Babalonge kecamatan Lemito”.
11 Fahrudin,"Dinasti Politik Pemerintahan Desa di Kabupaten Polewali Mandar, Jurnal Arajang, Volume 1, No.
1 hlm 38 November 2017 diakses pada tanggal 1Desember 2022