willow
(writers : ikeyungi)
p.s pohon yang paling dicintai oleh dewa Aesculapius.
(a/n) one-shoot, fluf, 16+
[ Elkan, Dorothea ]
Samar-samar suara temaram malam mulai menghiasi seiisi kota beriring dengan merdunya nyanyian makhluk aves. Dorothea, satu-satunya wanita di area sekitar yang mungkin masih mempertahankan kesadarannya. Sepasang mata perak sayu menilik jauh kedepan, fokusnya tak teralihkan dari satu objek yang sejak tadi ia awasi. Sekuat tenaga sepasang kaki mungil nan tegas berusaha mempertahankan posisinya agar tidak tergelicik. Sedikit saja lengah, keseimbangannya akan ambruk dan tubuh ringkih miliknya dipastikan terjun bebas dan menghantam bebatuan dibawah sana.
Kewaspadaannya terus meningkat seiiring dengan mendekatnya 3 pasang kaki yang kian tadi ia amati, dan ketika telah pas pada titik detik itu juga sebilah katana melayang dengan akurat memisahkan kepala dari sang tubuh. Tanpa memberi peluang menyerang, Dorothea membabat habis sisa orang yang menjadi objeknya. Malam itu bau amis darah meruap bersatu dengan udara.
Dengan ini Dorothea telah menyelesaikan tugas terakhirnya dengan sempurna. Wanita itu menengadah menyapa langit dengan gembira; kini ia bebas. Tidak ada lagi tugas, tidak ada lagi beban, tidak ada lagi perbudakan; dengan ini Dorothea mewartakan pada langit perihal otonominya. Senyumnya mengulum tertahan, tapi tangannya masih tetap gemetar mengikuti irama detak jantung yang tidak karuan.
Ia bebas, setidaknya sementara.
**
“Dorothea!!”
Senyumnya merekah senang menyaksikan dua anak lelaki yang tengah berlari tergopoh menuju
pelukannya. Ia menyambut kedua anak itu dengan tangan merentang, sementara didepan sana seorang wanita paruh baya melambai-lambai dengan penuh antusias.
“Dorothea, kami sudah menunggumu” Kata Pierre gembira.
Jason mengangguk sejutu, “Kami membuatkan pie apel yang sangat enak!”
Dorothea hanya tersenyum, ia terlalu bahagia hingga kata-katanya tertahan ditenggorokan. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mendengar suara Jason dan Pierre yang penuh semangat.
“Dorothea, kami memanaskan apelnya menggunakan pemanggang canggih!”
“Yah, namanya oven.” Tambah Jason.
Walaupun tidak terlalu mengerti ranah percakapan kedua adiknya, Dorothea tetap bahagia; bisa mendengar kisah ngawur lagi.
Selepas menyapa Ibunya dan memakan pie apel bersama, Dorothea berkeliling mengamati kawasan sekitar. Banyak yang berubah, jembatan kayu yang dulu selalu menjadi spot terbaiknya untuk menangkap ikan, kini telah dipertinggi dan dibangun ulang menggunakan beton sehingga jarak antara pijakan dan sungai terasa agak jauh. Tidak memungkinkan lagi untuk menangkap ikan dengan jarak ini. Pupil perak itu kemudian menangkap sebatang pohon yang daunnya telah sedikit gugur, bahkan akarnya suah rapuh membusuk.
Ya ampun, sudah berapa lama ia meninggalkan desa ini?
Dorothea bersyukur karena hingga detik ini masih diberi kesempatan untuk menyaksikan perubahan sederhana seperti yang ia lihat saat ini.
**
Praangg!!
“Tuan! Percayalah aku tidak mencurinya!”
“Tidak Tuan, aku melihatnya memasukkan sesuatu kedalam tas itu!”
“Apa maksudmu, itu barang pribadi sialan!”
“Bohong!”
Pertengkaran di area pasar. Keriuhan yang mengumpulkan semua orang, sebuah adegan yang sering Dorothea jumpa sejak kecil. Setidaknya hal ini tidak berbah. Semua orang berkumpul seolah sedang menonton teater, tidak ada yang berniat membantu. Benar-benar menonton dengan penasaran. Hati kecil Dorothea ingin sekali membantu namun hal-hal sial mungkin menempel apabila ia ikut campur.
Seorang bapak yang umurnya sekitar enam puluhan itu bersikeras menuduh seorang anak mencuri sesuatu dari toko. Dorothea berdiri dibelakang orang-orang mengamati adu mulut, sang anak tidak ingin kalah. Siapapun tahu bahwa anak tersebut berkata jujur, tapi tidak seorangpun membelanya.
Dorothea sudah tahu akhir dari drama seperti ini, tidak ada gunanya menonton pertunjukan yang sama.
Ia tadinya berniat pergi tapi sepasang tangan kecil mencekat pergelangannya Dorothea sontak menoleh, matanya bertatap tajam dengan anak yang sedang mencekalnya.
“Hey, wanita inilah pencurinya. Periksa jubahnya, ia mengantongi katana.” Teriak anak itu keras pada khalayak. Dorothea membelalak kanget, menatap anak itu seolah sedang mengirim sinyal kematian padanya.
Bagaimana anak ini bisa tahu? Batin Dorothea. Katana yang ia bawa adalah salah satu kepingan naga biru yang tidak akan bisa dilihat dengan mata telanjang. Kecuali jika anak tersebut memiliki kepingan lain naga biru.
Setelah berteriak, anak itu melarikan diri dengan cepat dan menghilang dari kerumunan yang sedang memeriksa Dorothea. Dorothea tidak khawatir bahwa katananya akan ketahuan karena pada dasarnnya manusia biasa tidak akan bisa melihat dan menyentuhnya.
**
Legenda naga biru,
Dahulu kala, Naga Biru adalah penguasa terkuat reruntuhan kuno. Kemakmuran dan perlindungan wilayah Barat adalah berkat dari Naga Biru. Konon mereka yang menyembah Naga Biru akan
mendapatkan anugrah langit dan akan hidup lebih lama dari manusia biasa. Naga Biru menyembuhkan orang berada diambang kematian sekalipun. Orang pertama yang mendapatkan berkat paling besar dari Naga Biru menyebut dirinya sebagai Kaisar Langit dan berhasil menyatukan bangsa Barat. Ia menjadi Kaisar yang tak terkalahkan. Kaisar Langit mulai serakah akan berkat Naga Biru dan ia mengenakan biaya yang sangat mahal kepada siapapun yang ingin mendapatkan berkat Naga Biru. Seiiring waktu berjalan.
Keluarga Kaisar Langit menjadi sangat kuat karena berkat yang diterima secara turun-menurun terus mengalir melalui darah.
Hingga selama berabad-abad Naga Biru telah menjadi Tuhan bagi bangsa Barat. Semakin sering ia diagungkan, semakin giat pula Naga Biru membagi berkatnya. Hingga pada akhirnnya, ia perlahan mulai kehilangan kekuatannya. Manusia yang melihat ketidakberdayaan Naga Biru mulai merencakan
perburuan untuk menguasaii reruntuhan kuno yang konon terdapat banyak kekayaan dan kejayaan.
Tidak lama setelah itu, bangsa Barat yang dipimpin oleh Kaisar Langit mulai berperang dengan Naga Biru.
Tidak butuh waktu lama bagi Bangsa Barat untuk melumpuhkan Naga Biru yang memang sudah semakin lemah.
Naga Biru tidak berdaya dan sebelum ia benar-benar menghilang, ia menggunakan kekuatan terakhirnya untuk memanggil Agma untuk memecah belah dirinya menjadi 100 bagian yang berbeda kemudian menyebarkannya ke segala penjuru.
Kaisar Langit dan pasukannya menyaksikan pecahan tubuh Naga Biru beterbangan ke segala arah dengan bentuk yang berbeda-beda namun tak satupun yang menyinnggahi mereka.
Pada akhirnya bangsa Barat berhasil menguasai reruntuhan kuno dan merampok semua harta dan sisa- sisa berkat Naga Biru. Namun, mereka tidak menemukan inti reruntuhan sekalipun telah mengulik hingga kedalam. Sebaliknya mereka menemukan sebuah pusaran cahaya besar berwarna biru yang bisa bisa memindahkan apapun kemanapun. Cahaya tersebut mereka sebut Portal.
Konon Portal bisa membawa mereka ke tempat-tempat aneh yang tidak ada di belahan bumi sekalipun.
Tempat dimana kita akan menemukan hal-hal aneh. Tempat yang akan disebut sebagai dimensi lain.