Analisis Kesalahan Dalam Menyelesaikan Soal Matematika Pada Materi Pecahan Siswa Kelas III MI Sabilil Islam Madiun. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan jenis-jenis kesalahan yang dilakukan siswa kelas II dalam menyelesaikan soal matematika pada materi pecahan di MI Sabilil Islam Madiun (2) untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika pada materi pecahan yang dibuat oleh siswa kelas III MI Sabilil Islam Madiun. Penerapan taksonomi SOLO sangat tepat untuk mengetahui dan menganalisis kualitas respon siswa dalam menyelesaikan masalah.
Dari permasalahan tersebut penulis tertarik untuk mengetahui kesalahan apa saja yang dilakukan siswa selama mengerjakan soal matematika di kelas III untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Kesalahan Penyelesaian Masalah Matematika Pada Materi Pecahan Pada Siswa Kelas III MI Sabilil Islam Madiun”. Penelitian difokuskan pada kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal matematika pada pecahan berdasarkan taksonomi SOLO. Apa saja jenis kesalahan yang dilakukan siswa kelas II dalam menyelesaikan soal matematika pecahan di MI Sabilil Islam Madiun.
Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika dengan pecahan yang dilakukan oleh siswa kelas III MI Sabilil Islam Madiun. Untuk mengetahui jenis-jenis kesalahan yang dilakukan siswa kelas II dalam menyelesaikan soal matematika yang melibatkan pecahan di MI Sabilil Islam Madiun 2.
Kajian Teori
- Hakikat matematika
- Kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika
- Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcome)
- Perbedaan Kesalahan dan Miskonsepsi
Ketiga hasil penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu analisis kesalahan siswa dalam mengerjakan tugas matematika. Dalam Kamus Oxford, matematika adalah 'ilmu kuantitas dan bilangan (yang cabangnya adalah aritmatika, aljabar, trigonometri, dan geometri)' (ilmu kuantitas dan bilangan yang cabangnya adalah aritmatika, aljabar, trigonometri, dan geometri). 9 Menurut kamus besar bahasa Indonesia, penyelesaian bilangan matematika yang digunakan dalam prosedur adalah ilmu hubungan antara prosedur dan bilangan. angkat bicara. Secara umum kesalahan dalam menyelesaikan masalah matematika dapat dilihat dari letak kesalahan yang sering dilakukan.
13 Herman, “Analisis Kesalahan Siswa Kelas X SMA Negeri @Makassar dalam Menyelesaikan Masalah Persamaan Kuadrat dan Pertidaksamaan Kuadrat”, (Disertasi, UNM, Makassar, 2006). 14 Rifan Ayarsha, “Analisis Kesalahan Siswa Dalam Mengerjakan Soal Matematika Berdasarkan Kriteria Watson”, (Disertasi, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. 15 Arimbi Puspa Mega, “Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Pada Materi Geometri MTS Berdasarkan Taksonomi SoloII Berkelas.
Kesalahan dan miskonsepsi adalah hal yang berbeda, kesalahan adalah jawaban yang salah akibat perencanaan yang tidak tepat dan tidak sistematis yang diterapkan dalam penyelesaian masalah matematika, sedangkan miskonsepsi adalah gejala struktur kognitif yang menyebabkan kesalahan. 20 Dikatakan siswa mengalami salah paham jika kesalahan yang dilakukan siswa diulangi dan setelah dilakukan penggalian dan penerapan lebih lanjut siswa mengalami salah paham, salah pengertian. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang menggambarkan jenis-jenis kesalahan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika berdasarkan Taksonomi SOLO, faktor penyebab dan upaya meminimalisir kesalahan yang dilakukan.
Lokasi Penelitian
Kesalahan yang dirujuk dalam penelitian ini meliputi: kesalahan konseptual, kesalahan penggunaan data, kesalahan interpretasi bahasa, kesalahan teknis, dan kesalahan inferensi.
Sumber Data
Purposive sampling yang dimaksud dengan teknik pengambilan sampel dari sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu tersebut misalnya seseorang yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin seorang penguasa, sehingga memudahkan peneliti untuk melaksanakan objek atau situasi yang sedang kita pelajari. Sumber data utama yang akan dikumpulkan adalah siswa MI Sabilil Islam untuk mengetahui kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal matematika.
Sumber data pendukung adalah data yang digunakan untuk memperkuat sumber data utama atau data yang diperoleh dari sumber bacaan dan berbagai sumber lainnya.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur yaitu wawancara bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang disusun secara sistematis dan lengkap, tetapi pedoman wawancara yang digunakan hanya garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Narasumber wawancara ini adalah siswa yang mendapat nilai terendah dalam tes dan mewakili jawaban dari setiap pertanyaan. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu soal matematika yang diberikan.
Teknik Analisis Data
Sejarah berdirinya MI Sabilil Islam diawali dengan berdirinya madrasah diniyah pada tahun 1969 yang bernaung di sebuah gubuk dekat Masjid Al-Jayadi dan memiliki jam belajar pada sore hari. Pada tahun 1972, madrasah ini bernama Pesantren Sabilil Muttaqin yang bermarkas di PSM di Takeran Magetan hingga tahun 1978. Pada tahun yang sama, madrasah ini dipisahkan dari PSM Takeran Magetan dan berdiri dengan nama MI Sabilil Islam saja.
Latar belakang berdirinya MI Sabilil Islam karena pendidikan agama di desa Ketandan Dagang Madiun masih minim. Ahmad Dahlan dan masyarakat desa Ketandan berinisiatif membangun madrasah untuk mendidik santri menjadi muslim yang sejati dan beriman.
Letak geografis MI Sabilil Islam Dagangan Madiun
Guru Kelas I A : Nunung Ruwiyati, S.Pd Guru Kelas I B : Dwi Ratna astuti, S.HI Guru Kelas II A : Yahno, S.PdI. Guru Kelas II B : Akhmad Haris, S.PdI Guru Kelas III A : Neni Febriana, S.PdI Guru Kelas III B : Rista Yunanti, S.PdI Guru Kelas IV A : Amiru Darul Mutho', S.Pd Guru Kelas IV B : Sayid, S.PdI. Guru Kelas V A : Febriyanti Masruroh, S.PdI Guru Kelas V B : Siti Yun Ngaisyah, S.HI Guru Kelas VI : Uswatun Hasanah, S.PdI32 6.
Sekolah tersebut memiliki tanah atas nama yayasan sendiri dan memiliki status hak atas tanah tersebut, dengan rincian 11 ruang belajar, 1 ruang utama, 1 ruang guru, 1 ruang UKS, 1 gudang, 1 perpustakaan, 1 kantin sehat, 1 ruang penyimpanan alat olahraga, 1 ruang UKS, 6 toilet, 1 ruang TU, 1 ruang TU, kelas timur, 1, dimana nama gedung U, 1 kelas, kelas timur. A dan III B, di sebelah selatan terdapat lima ruangan yaitu 2 ruang kelas 1, 2 ruang kelas kelas 2, dan 1 gudang, serta di sisi barat terdapat empat ruangan yaitu 1 ruang utama, 1 ruang guru, 1 kantin sehat dan 1 ruang penyimpanan peralatan olah raga. Selain yang disebutkan di atas, MI Sabilil Islam Datangan juga dilengkapi tempat sampah, rak sepatu, tempat cuci tangan, dan tanaman di depan setiap ruang kelas.
Keadaan guru dan siswa MI Sabilil Islam Dagangan Madiun
Deskripsi Temuan Data
Kesalahan Siswa Berdasarkan Taksonomi SOLO
Siswa DIRI melakukan kesalahan dalam menginterpretasikan bahasa matematika pada soal 1, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4-1. Pada soal 1, mereka diminta untuk menuliskan pecahan dengan kata-kata, tetapi siswa SELF tidak menuliskan kata “per”. Selain itu, pada soal 2a, ZLF melakukan kesalahan teknis dalam menghitung, dimana seharusnya ada 6 potong pizza, tetapi yang tertulis hanya 5 potong pizza.
Selain itu, siswa ZLF tidak dapat lagi menjelaskan proses yang harus dilakukan saat menjawab soal nomor 6. Dari soal nomor 2 dan 3, siswa hanya menjawab soal nomor 2a yang benar, sedangkan pada nomor 2b melakukan kesalahan dengan menarik kesimpulan seperti pada gambar. AND siswa tidak bingung dan benar pada soal no 2a, tetapi pada soal 2b AND melakukan kesalahan dalam menarik kesimpulan seperti pada gambar.
Pada soal #3 siswa AND tidak mengalami kebingungan dan mampu mengerjakan soal sesuai perintah. Namun, mahasiswa IMM itu mengaku bingung saat ditanya alasan jawaban yang ditulisnya di soal nomor 2b. Sedangkan siswa ZAK sama sekali tidak menjawab soal nomor 3. Perintah pada soal tersebut meminta untuk mengarsir gambar sesuai pecahan yang ada, namun siswa ZAK tidak mengarsir gambar yang ada.
Namun, IMM melakukan kesalahan teknis seperti terlihat pada hasil akhir Gambar 4.13 karena ketidaktepatannya dalam membaca soal. Sama halnya dengan soal nomor 5, pada soal nomor 6 siswa ZAK hanya menuliskan hasil akhir tanpa menggunakan metode. Peneliti juga melakukan beberapa kali observasi dan wawancara mendalam untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan siswa melakukan kesalahan dalam pemecahan masalah.
Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan mahasiswa NZL yang melakukan beberapa kesalahan sebagai berikut. Siswa dikatakan melakukan kesalahan konseptual ketika menyelesaikan masalah jika siswa tidak dapat memahami dengan baik apa yang ditanyakan dalam masalah tersebut. Kesalahan yang ditemui pada tataran ini berupa kesalahan interpretasi bahasa, hal ini sama seperti yang dijelaskan oleh Arimbi Pusapa Mega, bahwa siswa yang termasuk dalam kategori ini melakukan kesalahan pada saat melakukan sesuatu pada tahap berikutnya, setelah menyelesaikan satu tahap sudah dapat menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan.
Siswa yang masuk pada level ini melakukan kesalahan berupa kesalahan konseptual dan penalaran.
Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan siswa
Meskipun siswa telah memasuki level abstrak yang diperluas, mereka masih dapat melakukan kesalahan.
PENUTUP
Siswa harus lebih giat dalam belajar agar dapat memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya dan mampu meningkatkan hasil belajarnya. Analisis Kesalahan Siswa Kelas X SMA Negeri @ Makassar dalam Menyelesaikan Masalah Persamaan Kuadrat dan Pertidaksamaan Kuadrat. Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan tugas pada materi geometri berdasarkan taksonomi tunggal VII. kelas MTS.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Modul Matematika SD Program Mutu Operasional Pembelajaran Menghitung perkalian dan pembagian bilangan bulat di sekolah dasar. Yogyakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika, 2009.
Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi yakni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo dengan jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.