PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Dengan kegiatan yang positif, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dapat membantu munculnya kejahatan remaja yang semakin marak. 20 Evi Oktaviani dan Karwanto, “Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler SMAnisda Federasi Inggris: Efos di SMA Negeri 1 Sidoarjo”, 3.
Fokus Penelitian
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sistematika Pembahasan
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Teori
- Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
- Ekstrakurikuler
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan kemampuan pribadi untuk mempengaruhi orang lain dan dapat mengerahkan sumber daya untuk mencapai tujuan 47. 67 Indra Lasmana, Pengaruh gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah terhadap produktivitas kerja guru di SMKN 3 Pasundan Kota Bandung, Skripsi, Universitas Pendidikan Indonesia . 125 Hasan Basri, Kepala Manajemen (Bandung: CV Pustaka wali santri dan lain-lain untuk mencapai tujuan yang direncanakan. 126.
Kajian Penelitian Terdahulu
METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Menurut Creswell dalam bukunya yang berjudul “Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif” bahwa terdapat 3 pendekatan penelitian, yaitu pendekatan kuantitatif, pendekatan kualitatif dan pendekatan gabungan.191 Dalam pendekatan ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah proses memahami suatu fenomena pada sesuatu yang dialami oleh subjek, misalnya perilaku, persepsi, tindakan dan motivasi. 192 Dapat dideskripsikan dari keseluruhan dalam bentuk kata dan bahasa dalam konteks alam tertentu dan dapat menggunakan metode yang berbeda.
Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang mengutamakan aspek pemahaman mendalam terhadap suatu masalah. Penelitian kualitatif lebih penting dalam penggunaan teknik analisis mendalam, yaitu kajian masalah secara khusus karena sifat suatu masalah akan memiliki perbedaan dengan sifat masalah lainnya. 193. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dimana penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara lengkap dan rinci tentang kondisi yang terjadi dalam suatu konteks, fenomena yang ada.
Pelaksanaan penelitian ini didasarkan pada kebutuhan yang realistik, teratur, menyeluruh dan terperinci dalam suatu lembaga pendidikan 195 Dengan hasil penelitian deskriptif, verbal atau kata-kata dari sumber data berupa orang atau tokoh yang dapat dipelajari 196. Metode ini merupakan cara untuk mendeskripsikan, mengukur dan membaca suatu masalah dan strategi pengendalian secara tepat serta dapat menemukan dan menginterpretasikan berbagai kegiatan yang saling berkaitan dalam kondisi internal dalam menjalankan proses gaya kepemimpinan direktur dalam pembinaan keunggulan ekstrakurikuler. di SMA Negeri 3 Ponorogo.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Ponorogo merupakan sekolah terakreditasi A, SMA Negeri 3 Ponorogo merupakan sekolah yang memiliki beberapa jurusan yaitu IPA dan IPS serta program kegiatan ekstrakurikuler antara lain eksplorasi, bahasa inggris, karya tulis ilmiah, spiritualitas islam, PMR, seni musik tari, ju - jit- su, voli, basket, jurnalistik, teater, reog, komunitas penyiaran smag pecinta alam, panahan, robotika, teknologi informasi, PKS dan futsal. Peneliti tertarik mengambil tempat ini di SMA Negeri 3 Ponorogo karena ingin mengetahui gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun keunggulan ekstrakurikuler.
Data dan Sumber Data
199 Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: CV Alfabeta dapat mengetahui bagaimana kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan di SMA Negeri 3 Ponorogo. Sumber data sekunder adalah data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti dalam mendukung sumber pertama. Data sekunder dapat diperoleh dari sumber yang ada baik yang tercetak dan elektronik, yang kemudian peneliti mengolah dan menyajikan data.
Teknik Pengumpulan Data
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti terjun ke lapangan dan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, pelaku, tempat, waktu, peristiwa, perasaan, dan tujuan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi non partisipan karena dalam observasi ini peneliti tidak terlibat dalam kegiatan orang-orang yang diteliti. Tugas peneliti adalah menganalisis, mencatat, menarik kesimpulan tentang yang diteliti 202 Penelitian ini menggunakan teknik observasi untuk mencatat dan mengamati kegiatan pengelolaan dalam pembinaan program ekstrakurikuler di SMAN 3 Ponorogo.
Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara semi terstruktur untuk menemukan permasalahan secara terbuka, dimana narasumber atau narasumber diminta pendapat dan pandangannya tentang gaya kepemimpinan dalam membangun keunggulan ekstrakurikuler di SMA Negeri 3 Ponorogo. Selain itu, wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data terkait penerapan gaya kepemimpinan dalam membangun keunggulan ekstrakurikuler di SMA Negeri 3 Ponorogo. Menurut Suharsimi, dokumentasi adalah data berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, risalah rapat dan lain-lain.
Selain itu, dokumentasi juga dapat berupa risalah rapat, surat kabar, buku, catatan, transkrip, jadwal kegiatan, dan lain-lain. Dalam hal ini tentang catatan tertulis, yang sering digunakan untuk memperoleh informasi tentang profil sekolah, visi dan misi sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan, siswa dan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler di GŠU Negeri 3 Ponorogo.
Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi, atau gabungan dari ketiganya (triangulasi). Extant data mengacu pada proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, dan transformasi data yang dikumpulkan dengan menulis catatan lapangan, transkrip, atau data hasil wawancara, dokumen, dan bahan empiris lainnya. Berbagai data kemudian diperoleh, dikumpulkan, dianalisis dan dipadatkan untuk menajamkan, memilah, memfokuskan, membuang dan mengorganisasikan data tersebut sehingga dapat diverifikasi menjadi sebuah kesimpulan akhir.
Setelah pemadatan data, tahap selanjutnya adalah penyajian data.Pada penelitian kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dengan uraian singkat, grafik, hubungan antar kategori dan sejenisnya. Dapat dijelaskan kesimpulan awal yang bersifat sementara dan akan berubah sewaktu-waktu jika terdapat bukti yang kuat pada tahap pengumpulan data selanjutnya yang valid.
Pengecekan Keabsahan Penelitian
Tujuannya agar lebih mudah memahami apa yang terjadi dan melanjutkan pekerjaan selanjutnya berdasarkan informasi yang kami terima. Dengan ketekunan yang lebih besar, peneliti dapat mengecek kembali data yang ditemukan, selain itu dapat memberikan gambaran yang tepat dan sistematis dari data yang diamati. Triangulasi sumber adalah menguji kredibilitas data, yang dilakukan dengan cara memverifikasi data yang telah diperoleh dari berbagai sumber.
Triangulasi teknis adalah pengujian kredibilitas data, yang dilakukan dengan cara mengecek data pada sumber yang sama dengan menggunakan teknik yang berbeda. Triangulasi waktu diduga mempengaruhi kredibilitas data yang dikumpulkan melalui teknik wawancara pagi karena informan masih merasa segar dan dapat memberikan informasi atau data yang valid. Keandalan data dapat dicapai dengan mengecek wawancara, observasi atau teknik lain pada waktu yang berbeda.
Proses validasi data dengan menggunakan triangulasi sumber, peneliti melakukan wawancara ulang dengan beberapa informan yang berbeda, namun tetap berhubungan dengan penelitian ini. Selain itu peneliti menggunakan teknik triangulasi yaitu mampu membandingkan hasil wawancara dengan hasil observasi, serta membandingkan hasil wawancara dengan sumber data terkait.
Tahapan Penelitian
Direktur Pak Sas selalu mendukung segala kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler unggulan di SMA Negeri 3 Ponorogo. Upaya membangun keunggulan ekstrakurikuler di SMA Negeri 3 Ponorogo adalah kepala sekolah dapat berkomunikasi dengan bawahannya. Gaya kepemimpinan direktur SMA Negeri 3 Ponorogo memiliki jiwa kepemimpinan yang penuh tanggung jawab.
Kepala sekolah mengamati dan mengawasi kemudian meminta laporan pertanggungjawaban kegiatan ekstrakurikuler unggulan di SMA Negeri 3 Ponorogo. Penerapan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Membangun Keunggulan Ekstrakurikuler SMA Negeri 3 Ponorogo Keunggulan Ekstrakurikuler SMA Negeri 3 Ponorogo. Implikasi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Membangun Keunggulan Ekstrakurikuler SMA Negeri 3 Ponorogo Keunggulan Ekstrakurikuler SMA Negeri 3 Ponorogo.
Langkah ketiga dalam kegiatan ekstrakurikuler unggulan di SMA Negeri 3 Ponorogo adalah pengajuan proposal program kerja kegiatan ekstrakurikuler unggulan kepada Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Bidang Kesiswaan. Bentuk gaya kepemimpinan kepala sekolah untuk membangun keunggulan ekstrakurikuler di SMA Negeri 3 Ponorogo menggunakan gaya kepemimpinan demokratis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Data Umum Latar Belakang
- Sejarah SMA Negeri 3 Ponorogo
- Letak Geografis SMA Negeri 3 Ponorogo
- Visi, Misi dan Tujuan SMA Negeri 3 Ponorogo
- Struktur Organisasi SMA Negeri 3 Ponorogo
- Keadaan Guru SMA Negeri 3 Ponorogo
- Keadaan Siswa SMA Negeri 3 Ponorogo
- Sarana dan Prasarana SMA Negeri 3 Ponorogo
Deskripsi Data
- Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Membangun
- Penerapan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam
- Implikasi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam
Jika kepala sekolah dapat membangun keunggulan ekstrakurikuler sehingga siswa dapat mengekspresikan potensinya. Jalannya pertemuan ekskul unggulan periode individu diwakili oleh beberapa halaman yang diselenggarakan oleh kepala sekolah, wakil dekan bidang kemahasiswaan, wakil dekan bidang kurikulum, wakil kepala sekolah bidang ekstrakurikuler dan ketua pembina ekstrakurikuler. di GŠU Negeri 3 Ponorogo. Dalam hal ini kepala sekolah memberikan apa yang kami butuhkan dan dengan demikian memberikan motivasi kepada saya untuk dapat membangun keunggulan ekstrakurikuler.”231.
Dalam hal ini ada kaitannya dengan ekstrakurikuler unggulan, dimana kepala sekolah dan wakil ketua bidang kesiswaan berkomunikasi dalam penyampaiannya diterima dengan baik” 234. Setiap minggu, kepala sekolah dapat memantau ekstrakurikuler secara bergiliran, yang keterkaitannya dapat membangun kegiatan ekstrakurikuler unggulan 243. Perencanaan kegiatan ekstrakurikuler unggulan di SMA Negeri 3 Ponorogo : Pertama, pembagian pembina ekstrakurikuler, saya dipilih langsung oleh kepala sekolah dan wakil direktur kesiswaan sebagai pembina dan pembina ekstrakurikuler, dimana saya mempunyai kemampuan khusus di KIR bidang ekstrakurikuler.
Dari gaya manajemen kepala sekolah yang telah dijelaskan di atas, hal ini dapat mempengaruhi keunggulan ekstrakurikuler di SMA Negeri 3 Ponorogo selama pengelolaan lembaga dipimpin oleh Bapak. Sasmito Pribadi, M.Pd. Mengenai SMA Negeri 3 Ponorogo yang banyak berprestasi, peneliti menanyakan kepada wakil kepala sekolah jenis kelamin siswa, pembina dan dosen serta guru. Implikasi gaya manajemen kepala sekolah dalam membangun keunggulan ekstrakurikuler adalah adanya layanan sarana dan prasarana, seleksi, sistem ekstrakurikuler.
Dana untuk kegiatan ekstrakurikuler unggulan di SMA Negeri 3 Ponorogo disediakan oleh pihak sekolah, dengan dana ditransfer dari OSIS atau pengurus ekstrakurikuler kepada wakil direktur bidang kesiswaan, karena domain ekstrakurikuler berasal dari siswa ya bu.
Pembahasan
- Penerapan Gaya Kepemiminan Kepala Sekolah dalam
Dalam teori dan analisis data yang peneliti terima, gaya kepemimpinan Bapak. Sasmito Pribadi M.Pd dalam membangun keunggulan ekstrakurikuler di SMA Negeri 3 Ponorogo menggunakan gaya kepemimpinan yang demokratis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti, perencanaan kegiatan ekstrakurikuler unggulan di SMA Negeri 3 Ponorogo merupakan langkah awal yang perlu dilakukan dengan baik dan benar. Perencanaan kegiatan ekstrakurikuler unggulan di SMA Negeri 3 Ponorogo dilakukan dalam 3 tahap, tahap pertama adalah rapat koordinasi yang dilaksanakan pada setiap periode.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler unggulan di GŠU Negeri 3 Ponorogo adalah sebagai berikut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, evaluasi keunggulan kegiatan ekstrakurikuler di OŠ Negeri 3 Ponorogo adalah sebagai berikut. Penilaian keunggulan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 3 Ponorogo memperhatikan semua tindakan yang akan dilakukan, kehadiran dan prestasi siswa.
Kegiatan ekstrakurikuler unggulan di SMA Negeri 3 Ponorogo ini tentunya sangat bermanfaat dalam mengembangkan potensi, minat siswa secara maksimal, yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler unggulan di SMA Negeri 3 Ponorogo dilakukan pada sore hari setelah kegiatan belajar mengajar di kelas.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran