LAPORAN TUGAS AKHIR
PERANCANGAN RESORT DI DESA MERAK BELATUNG KECAMATAN KALIANDA LAMPUNG SELATAN
Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
ANUGRAH JOSUA PURBA 121240133
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNOLOGI INFRASTRUKTUR DAN KEWILAYAHAN
INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
2024/2025
1
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR
PERANCANGAN RESORT DI DESA MERAK BELATUNG KECAMATAN KALIANDA LAMPUNG SELATAN
ANUGRAH JOSUA PURBA 121240133
Laporan ini dinyatakan telah memenuhi persyaratan dan disetujui
Pada tanggal : 02 Desember 2024
Oleh :
Dosen Pembimbing 1,
Adelia Enjelina Matondang S.T., M.T.
Dosen Pembimbing 2,
Verarisa Anastasia Ujung S.T., M.T.
2
ABSTRAK
Perancangan Resort Desa Merak Belatung berlokasi di Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, menempati lahan seluas 4 hektar di kawasan pesisir dengan konsep perancangan bioklimatic approach.
Proyek ini dirancang untuk menghadirkan fasilitas wisata terintegrasi yang mencakup area playground, lokasi paralayang, dan dermaga dengan wahana speed boat. Bangunan resort dirancang dengan 3 lantai, memanfaatkan potensi lingkungan pesisir untuk menciptakan pengalaman wisata yang berkelanjutan dan selaras dengan kondisi iklim setempat. Perancangan mempertimbangkan aspek klimatologi dan karakteristik lokasi untuk menghasilkan desain yang responsif terhadap lingkungan sekitar, dengan memaksimalkan kenyamanan pengunjung melalui pendekatan arsitektur yang memperhatikan kondisi alam dan iklim.
Kata Kunci: Eco-Resort, Wisata Pesisir, Pendekatan Bioklimatik, Kecamatan Kalianda.
ABSTRACT
The design of the Merak Belatung Resort is located in Kalianda District, South Lampung, occupying an area of 4 hectares in a coastal region with a bioclimatic approach to design. This project is intended to provide integrated tourist facilities, including a playground area, a paragliding location, and a pier with speedboat rides. The resort building is designed with three floors, utilizing the potential of the coastal environment to create a sustainable tourism experience that is in harmony with the local climate conditions. The design takes into account climatological aspects and site characteristics to produce a design that is responsive to the surrounding environment, maximizing visitor comfort through an architectural approach that considers natural and climatic conditions.
Keywords: Eco-Resort, Coastal Tourism, Bioclimatic Approach, Kalianda District.
3
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... 2
ABSTRACT ... 2
DAFTAR ISI ... 3
DAFTAR GAMBAR ... 4
DAFTAR TABEL ... 5
BAB I PENDAHULUAN ... 6
1.1 LATAR BELAKANG ...6
1.2 KETENTUAN PROYEK ...6
1.3 LINGKUP ...7
BAB II PEMAHAMAN PROYEK ... 9
2.1 PENGERTIAN PROYEK ...9
2.2 TIPOLOGI PROYEK ... 10
2.3 STUDI PRESEDEN... 11
BAB III ANALISIS PERANCANGAN ... 16
3.1 ANALISIS FUNGSI ... 16
3.2 ANALISIS LAHAN ... 17
BAB IV PEMROGRAMAN ... 19
4.1 PENDEKATAN DAN STRATEGI PROGRAMING ... 19
4.2 PROGRAM RUANG ... 20
BAB V KONSEP PERANCANGAN ... 21
5.1 KONSEP UMUM ... 21
5.2 KONSEP SITEPLAN ... 22
5.3 KONSEP BANGUNAN... 23
DAFTAR PUSTAKA ... 27
HALAMAN PENYATAAN ... 28
4
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 a) Halaman Penginapan Resort Istana Ombak ... 11
Gambar 2.1 b) Kolam Renang Privat Istana Ombak ... 11
Gambar 2.1 c) Pemandangan Laut Istana Ombak ... 11
Gambar 2.1 d) Salah Satu Bangunan Penginapan Istana Ombak ... 11
Gambar 2. a) Tempat Penginapan Tipe 1 Bambu Indah ... 12
Gambar 2. b) Pemandangan Taman Bambu Indah... 12
Gambar 2. c) Tempat Penginapan Tipe 2 Bambu Indah ... 12
Gambar 2. d) Area Makan Bambu Indah ... 12
Gambar 2.3 a) Dermaga Tipe 1 ... 13
Gambar 2.3 b) Dermaga Tipe 2 ... 13
Gambar 2.3 c) Dermaga Tipe 3 ... 13
Gambar 2.3 d) Dermaga Tipe 4 ... 13
Gambar 2.4 a) View Outdoor Villa So Long ... 14
Gambar 2.4 b) View Dari Teras Penginapan Villa So Long ... 14
Gambar 2.4 c) Tempat Berkumpul Villa So Long ... 14
Gambar 2.4 d) Pemandangan Dari Mata Burung Villa So Long ... 14
5
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kebutuhan Ruang ... 20
6
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pariwisata di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, khususnya di wilayah pesisir yang masih memiliki keindahan alam yang belum terlalu berkembang. Lampung Selatan, tepatnya di Desa Merak Belatung, merupakan salah satu kawasan dengan potensi wisata yang belum dimaksimalkan.
Kondisi geografis daerah ini memiliki keunggulan berupa pemandangan alam pesisir yang masih alami, namun belum didukung oleh fasilitas akomodasi yang memadai untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata.
Perancangan resort di lokasi tersebut bertujuan untuk menghadirkan fasilitas akomodasi yang mampu mengakomodasi kebutuhan wisatawan sambil memperhatikan kelestarian lingkungan. Konsep eco-resort dipilih sebagai pendekatan utama untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan infrastruktur pariwisata dan pelestarian ekosistem lokal. Hal ini penting untuk menciptakan model pembangunan berkelanjutan yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat tanpa merusak lingkungan alam.
Permasalahan utama yang menjadi fokus perancangan adalah bagaimana menciptakan fasilitas resort yang dapat memberikan pengalaman wisata berkualitas tinggi dengan memaksimalkan potensi lanskap alamiah Desa Merak Belatung. Strategi perancangan akan diarahkan untuk mengintegrasikan bangunan dengan lingkungan sekitar, memanfaatkan material lokal, dan menerapkan prinsip-prinsip arsitektur berkelanjutan.
Hasil perancangan diharapkan dapat menjadi model pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan, memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ekonomi daerah, serta menjaga kelestarian lingkungan alam dan budaya setempat.
1.2 Ketentuan Proyek
Perancangan Resort Desa Merak Belatung merupakan sebuah proyek arsitektur yang komprehensif, dirancang untuk menghadirkan fasilitas wisata berkelanjutan di kawasan pesisir Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Proyek yang menempati lahan seluas 4 hektar ini bertujuan mengintegrasikan pengalaman wisata dengan lingkungan alam sekitar melalui pendekatan arsitektur bioklimatik yang inovatif.
7 Konsep perancangan difokuskan pada penciptaan ruang arsitektur yang responsif terhadap kondisi iklim dan karakteristik lingkungan pesisir. Bangunan resort akan didesain dengan tiga lantai yang memaksimalkan potensi view dan interaksi dengan lanskap alamiah, menggunakan material lokal dan sistem struktural yang ramah lingkungan. Pendekatan desain akan memperhatikan aspek klimatologi seperti arah angin, intensitas cahaya matahari, dan pola curah hujan untuk menciptakan ruang yang nyaman dan efisien secara energi.
Fasilitas yang direncanakan mencakup berbagai macam area fungsional, termasuk akomodasi penginapan, area rekreasi, dan infrastruktur pendukung pariwisata. Zona playground, lokasi paralayang, dan dermaga speed boat akan diintegrasikan dalam rancangan untuk menciptakan pengalaman wisata yang komprehensif dan unik. Setiap elemen desain akan dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, konservasi ekosistem pesisir, dan pengembangan potensi ekonomi lokal.
Strategi perancangan akan menerapkan prinsip-prinsip arsitektur berkelanjutan, meliputi penggunaan teknologi ramah lingkungan, sistem utilitas efisien, dan desain yang memaksimalkan pencahayaan dan ventilasi alami. Pendekatan bioklimatik akan menjadi landasan utama dalam menghasilkan bangunan yang tidak sekadar fungsional, namun juga memberikan kenyamanan optimal bagi pengunjung sambil meminimalkan dampak terhadap lingkungan sekitar.
Dokumentasi proyek akan mencakup serangkaian analisis mendalam, termasuk studi tapak, kajian klimatologi, pemodelan arsitektur, dan simulasi kinerja bangunan. Luaran akhir proyek akan berupa set dokumen komprehensif yang menggambarkan seluruh aspek perancangan, mulai dari konsep dasar hingga detail teknis, yang dapat digunakan sebagai referensi pengembangan arsitektur pariwisata berkelanjutan di wilayah pesisir.
Secara keseluruhan, Perancangan Resort Desa Merak Belatung bertujuan menciptakan model pengembangan arsitektur yang mempertemukan kepentingan pariwisata, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pendekatan desain yang holistik dan berkelanjutan.
1.3 Lingkup
Perancangan Resort Desa Merak Belatung merupakan sebuah proyek arsitektur yang komprehensif, dirancang untuk menghadirkan fasilitas wisata berkelanjutan di kawasan pesisir Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Proyek yang menempati lahan seluas 4 hektar ini bertujuan mengintegrasikan pengalaman wisata dengan lingkungan alam sekitar melalui pendekatan arsitektur bioklimatik yang inovatif.
8 Konsep perancangan difokuskan pada penciptaan ruang arsitektur yang responsif terhadap kondisi iklim dan karakteristik lingkungan pesisir. Bangunan resort akan didesain dengan tiga lantai yang memaksimalkan potensi view dan interaksi dengan lanskap alamiah, menggunakan material lokal dan sistem struktural yang ramah lingkungan. Pendekatan desain akan memperhatikan aspek klimatologi seperti arah angin, intensitas cahaya matahari, dan pola curah hujan untuk menciptakan ruang yang nyaman dan efisien secara energi.
Fasilitas yang direncanakan mencakup berbagai macam area fungsional, termasuk akomodasi penginapan, area rekreasi, dan infrastruktur pendukung pariwisata. Zona playground, lokasi paralayang, dan dermaga speed boat akan diintegrasikan dalam rancangan untuk menciptakan pengalaman wisata yang komprehensif dan unik. Setiap elemen desain akan dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, konservasi ekosistem pesisir, dan pengembangan potensi ekonomi lokal.
Strategi perancangan akan menerapkan prinsip-prinsip arsitektur berkelanjutan, meliputi penggunaan teknologi ramah lingkungan, sistem utilitas efisien, dan desain yang memaksimalkan pencahayaan dan ventilasi alami. Pendekatan bioklimatik akan menjadi landasan utama dalam menghasilkan bangunan yang tidak sekadar fungsional, namun juga memberikan kenyamanan optimal bagi pengunjung sambil meminimalkan dampak terhadap lingkungan sekitar.
Bambu memiliki keterkaitan yang signifikan dalam perancangan resort dengan pendekatan bioklimatik, terutama karena material ini menawarkan solusi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Sebagai sumber daya terbarukan yang tumbuh dengan cepat, bambu tidak hanya mengurangi jejak karbon, tetapi juga memberikan isolasi termal yang efektif, sehingga membantu menjaga kenyamanan suhu dalam bangunan tanpa ketergantungan berlebihan pada sistem pendingin buatan.
Desain resort yang memanfaatkan bambu dapat mengoptimalkan ventilasi alami, menciptakan sirkulasi udara yang baik dan mengurangi kebutuhan energi. Selain itu, bambu memiliki kekuatan struktural yang tinggi dengan bobot yang ringan, memungkinkan fleksibilitas dalam desain serta kemudahan dalam proses konstruksi. Penggunaan bambu juga berkontribusi pada peningkatan kualitas udara dalam ruangan dan menciptakan suasana yang menenangkan bagi pengunjung, sejalan dengan prinsip kenyamanan dan kesehatan. Dengan demikian, integrasi bambu dalam perancangan resort tidak hanya mendukung efisiensi energi dan keberlanjutan, tetapi juga menciptakan ruang yang estetis dan harmonis dengan lingkungan alam sekitarnya.
Dokumentasi proyek akan mencakup serangkaian analisis mendalam, termasuk studi tapak, kajian klimatologi, pemodelan arsitektur, dan simulasi kinerja bangunan. Luaran akhir proyek akan berupa set dokumen komprehensif yang menggambarkan seluruh aspek perancangan, mulai dari konsep dasar hingga detail teknis, yang dapat digunakan sebagai referensi pengembangan arsitektur pariwisata berkelanjutan di wilayah pesisir.
9
BAB II
PEMAHAMAN PROYEK
2.1 Pengertian Proyek
Resort merupakan sebuah konsep perancangan arsitektur yang memiliki karakteristik spesifik dalam memberikan ruang dan fasilitas untuk kegiatan rekreasi, pariwisata, dan relaksasi. Menurut beberapa literatur arsitektur, resort didefinisikan sebagai suatu kawasan atau bangunan yang dirancang secara khusus untuk menyediakan akomodasi dan berbagai fasilitas pendukung kegiatan wisata dengan mempertimbangkan aspek kenyamanan, estetika, dan konteks lingkungan sekitar.
Dalam perancangan resort di Desa Merak Belatung, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, proyek ini memiliki karakteristik proyeksi desain arsitektur yang bersifat komersial dengan motivasi sosial-budaya. Tujuan utamanya adalah mengembangkan potensi pariwisata lokal dengan memperhatikan konteks geografis dan kearifan lingkungan setempat. Jenis proyek ini termasuk dalam kategori pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat, di mana perancangan tidak sekadar menciptakan bangunan fisik, melainkan juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan ekonomi dan pelestarian budaya masyarakat Desa Merak Belatung.
Tipologi bangunan resort pada umumnya mencakup beberapa elemen utama, seperti area akomodasi (kamar atau villa), fasilitas umum (restoran, ruang pertemuan), area rekreasi, serta ruang- ruang yang memungkinkan terjadinya interaksi antara pengunjung dengan lingkungan sekitar. Dalam konteks lokasi di Lampung Selatan, perancangan resort diharapkan mampu mengintegrasikan potensi alam, sejarah lokal, dan budaya masyarakat setempat ke dalam konsep desain arsitektur yang komprehensif dan berkelanjutan.
Secara teoritis, proyek resort ini dapat dikategorikan sebagai tipe proyek arsitektur pariwisata dengan pendekatan desain yang mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi. Melalui perancangan yang berkelanjutan, diharapkan resort dapat menjadi wadah yang tidak hanya memberikan pengalaman wisata yang menarik, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi pengembangan wilayah dan kesejahteraan masyarakat lokal.
10
2.2 Tipologi Proyek
Resort merupakan kategori arsitektur yang secara spesifik dirancang untuk memberikan pengalaman rekreasi, akomodasi, dan relaksasi bagi pengunjung. Dalam konteks arsitektur, resort dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan lokasi dan orientasi utamanya, seperti resort pantai, resort pegunungan, resort perkotaan, dan resort eco-tourism.
Secara umum, struktur tipologis resort mencakup beberapa elemen pokok, yaitu area akomodasi (kamar/villa), fasilitas umum, ruang publik, area rekreasi, dan zona pelayanan. Setiap tipologi resort memiliki karakteristik desain yang berbeda tergantung pada konteks geografis, budaya, dan fungsi utama yang ingin dicapai. Dalam kasus resort di Desa Merak Belatung, Lampung Selatan, tipologi yang relevan adalah resort berbasis potensi alam pesisir dengan pendekatan ekologis dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Ada beberapa klasifikasi karakteristik menurut bentuk bangunannya :
• Bentuk Cottage/Bangunan Menyebar: Terdiri dari unit-unit masa bangunan yang berdiri sendiri, dengan massa bangunan yang bersifat menyebar. Aktivitasnya berlangsung secara horizontal, membuatnya nyaman untuk berinteraksi dengan lingkungan alam sekitarnya.
• Bentuk Convention/Hight Rise Building: Satu bangunan yang berlantai banyak, sistem penataan ruang tersusun secara vertikal dengan fasilitas transportasi vertikal. Cocok bagi acara besar dan aktivitas vertikal.
• Kombinasi Antara Cottage dan Convention: Gabungan antara bentuk cottage dan convention, dengan hubungan aktivitas horizontal dan vertikal. Memberikan fleksibilitas dalam menyesuaikan kebutuhan wisatawan
Elemen kunci dalam perancangan resort meliputi hubungan ruang yang memaksimalkan interaksi antara bangunan dengan lingkungan sekitar, penzoningan yang memperhatikan aspek privasi dan publik, serta pertimbangan desain yang memperhatikan kaidah berkelanjutan dan konteks lokalitas. Fokus utama perancangan adalah menciptakan ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memberikan pengalaman bermakna bagi pengunjung melalui integrasi arsitektur dengan konteks alam dan budaya setempat.
11
2.3 Studi Preseden
1. Istana Ombak Eco Resort, Pacitan
Gambar 2.1 a) Halaman Penginapan Resort Istana Ombak
Gambar 2.1 b) Kolam Renang Privat Istana Ombak
Gambar 2.1 c) Pemandangan Laut Istana Ombak Gambar 2.1 d) Salah Satu Bangunan Penginapan Istana Ombak
Terletak di kawasan pantai dengan karakteristik alam memukau, resort ini menunjukkan bagaimana desain dapat terintegrasi secara harmonis dengan konteks lokalnya. Karakteristik utamanya terletak pada pendekatan ekologis yang komprehensif. Bangunan dirancang menggunakan material lokal seperti kayu, bambu, dan batu alam, menciptakan dialog arsitektur yang responsif dengan lingkungan sekitar. Desain bertingkat yang mengikuti kontur lahan memaksimalkan view lautan, sementara zona ruang yang fleksibel memungkinkan adaptasi terhadap berbagai aktivitas dan musim. Keunggulan resort ini tidak hanya pada aspek visual, tetapi juga pada filosofi berkelanjutan. Sistem pengelolaan limbah terintegrasi, penggunaan energi terbarukan, dan upaya konservasi lingkungan menjadikan bangunan lebih dari sekadar fasilitas akomodasi. Setiap elemen desain dipikirkan secara holistik, mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem pesisir.
12 2. Bambu Indah Resort
Gambar 2. a) Tempat Penginapan Tipe 1 Bambu
Indah Gambar 2. b) Pemandangan Taman Bambu Indah
Gambar 2. c) Tempat Penginapan Tipe 2 Bambu
Indah Gambar 2. d) Area Makan Bambu Indah
Terletak di kawasan hijau Ubud, resort ini menghadirkan transformasi arsitektur bambu sebagai medium utama desain, menunjukkan potensi material tradisional dalam menciptakan pengalaman arsitektur kontemporer yang berkelanjutan. Karakteristik utama resort ini terletak pada penggunaan bambu secara komprehensif dan inovatif. Setiap struktur bangunan dirancang dengan keahlian tinggi, memanfaatkan kekuatan dan fleksibilitas bambu sebagai material konstruksi. Desain yang memadukan teknik konstruksi tradisional dengan pendekatan modern menciptakan ruang-ruang yang organik, transparan, dan terintegrasi secara sempurna dengan lansekap sekitarnya. Keunggulan Bambu Indah Resort tidak hanya pada aspek material, tetapi juga filosofi berkelanjutan yang mendalam. Konsep zero waste, sistem pengelolaan air dan energi mandiri, serta pendekatan perancangan yang menghormati ekosistem lokal menjadikan resort ini model pengembangan arsitektur ramah lingkungan. Setiap elemen desain dipikirkan untuk meminimalkan jejak ekologis sambil memaksimalkan pengalaman estetis dan fungsional. Bambu Indah menawarkan beberapa strategi kunci: penggunaan material lokal berkelanjutan, desain yang responsif terhadap konteks alam, dan pendekatan arsitektur yang menciptakan hubungan intim antara bangunan, pengguna, dan lingkungan. Zonasi ruang yang fleksibel, sistem struktur inovatif, dan estetika yang berakar pada kearifan lokal menjadi prinsip fundamental yang dapat diadaptasi.
13 3. Dermaga Marina Ancol
Gambar 2.3 a) Dermaga Tipe 1 Gambar 2.3 b) Dermaga Tipe 2
Gambar 2.3 c) Dermaga Tipe 3 Gambar 2.3 d) Dermaga Tipe 4
Fasilitas ini menunjukkan potensi desain tepi air yang mampu mengintegrasikan aktivitas rekreasi, transportasi maritime, dan ruang publik secara komprehensif. Karakteristik utama dermaga ini terletak pada desain struktural yang responsif terhadap dinamika perairan dan kebutuhan aktivitas maritime. Struktur panggung yang mengapung dan fleksibel mampu mengakomodasi berbagai fungsi seperti area parkir kapal, ruang transit, fasilitas wisata bahari, dan ruang publik terbuka. Penggunaan material tahan korosi dan konstruksi yang mempertimbangkan kondisi lingkungan pesisir menjadi strategi desain kunci. Keunggulan Dermaga Marina Ancol tidak hanya pada aspek fungsional, tetapi juga pada kemampuannya menciptakan ruang interaksi sosial yang inklusif. Zonasi ruang yang cerdas memungkinkan terjadinya aktivitas beragam mulai dari kegiatan nelayan, wisatawan, hingga pengunjung umum. Desain yang memaksimalkan view maritime dan menciptakan konektivitas visual antara daratan dan perairan menjadi strategi perancangan yang efektif. Dermaga Marina menawarkan beberapa prinsip desain kritis: pendekatan arsitektur yang responsif terhadap kondisi maritime, fleksibilitas ruang, dan kemampuan menciptakan ruang publik yang hidup. Strategi zonasi yang mempertimbangkan alur sirkulasi, hubungan antar fungsi, dan potensi view menjadi pelajaran penting dalam mengembangkan konsep resort tepi air. Lebih dari sekadar infrastruktur maritime, Dermaga Marina Ancol adalah representasi bagaimana arsitektur dapat mentransformasi ruang tepi air menjadi kawasan yang dinamis, produktif, dan bermakna.
14 4. Villa So Long Banyuwangi
Gambar 2.4 a) View Outdoor Villa So Long Gambar 2.4 b) View Dari Teras Penginapan Villa So Long
Gambar 2.4 c) Tempat Berkumpul Villa So Long Gambar 2.4 d) Pemandangan Dari Mata Burung Villa So Long
Terletak di kawasan pedesaan dengan topografi berbukit dan pemandangan sawah yang memukau, villa ini menunjukkan bagaimana desain arsitektur dapat terintegrasi secara harmonis dengan konteks lokalnya. Karakteristik utama villa ini terletak pada pendekatan arsitektur kontekstual yang sangat sensitif. Bangunan dirancang dengan mempertimbangkan kondisi iklim, orientasi matahari, dan topografi setempat. Penggunaan material lokal seperti batu alam, kayu, dan elemen konstruksi tradisional dipadukan dengan teknologi modern menciptakan ruang-ruang yang memiliki identitas kuat namun tetap contemporary. Keunggulan Villa So Long tidak hanya pada aspek visual, tetapi juga pada filosofi desain yang berkelanjutan. Sistem passive design yang cerdas, pemanfaatan ventilasi alami, dan hubungan ruang dalam-luar yang transparan menjadikan bangunan ini contoh excellent dari arsitektur responsif lingkungan. Setiap elemen desain dipikirkan untuk memaksimalkan kenyamanan thermal, view landscape, dan interaksi dengan konteks alamnya.
15 Dalam konteks perancangan resort, Villa So Long menawarkan strategi kunci: pendekatan desain yang sangat responsif terhadap karakter spesifik lokasi, zonasi ruang yang fleksibel, dan penciptaan hubungan intim antara bangunan dengan lansekap disekitarnya. Konsep fragmentasi massa, pengolahan level ketinggian, dan strategi pencahayaan alami menjadi prinsip fundamental yang dapat diadaptasi. Lebih dari sekadar tempat tinggal, Villa So Long adalah manifestasi filosofi desain yang menempatkan arsitektur sebagai medium dialog antara manusia, budaya, dan alam. Ia menghadirkan visi tentang bagaimana bangunan dapat menjadi bagian integral dari ekosistem lokalnya, menciptakan ruang yang tidak sekadar fungsional, tetapi juga bermakna dan berkelanjutan. Melalui pendekatan holistiknya, Villa So Long bukan sekadar preseden arsitektur, melainkan sebuah narasi tentang kemungkinan desain yang mampu membangkitkan sense of place, menghormati konteks, dan menciptakan pengalaman ruang yang mendalam dan transformatif.
16
BAB III
ANALISIS PERANCANGAN
3.1 Analisis Fungsi
Dalam era pariwisata modern, sebuah resort tidak lagi dipandang sekadar tempat menginap, melainkan destinasi pengalaman yang utuh dan mendalam. Merancang resort dengan wahana paralayang dan speed boat membutuhkan pendekatan multidimensional yang melampaui konsep tradisional akomodasi wisata.
Fungsi utama sebuah resort terletak pada kemampuannya memberikan ruang istirahat dan eksplorasi alam yang bermakna. Layanan check-in yang ramah, kamar dengan desain ergonomis, dan akses mudah ke fasilitas rekreasi. Wahana paralayang dan speed boat tidak sekadar aktivitas tambahan, melainkan menjadi elemen utama yang menghadirkan sensasi petualangan dan kedekatan dengan alam.
Fungsi lain resort mencakup pemenuhan kebutuhan sosial dan kuliner pengunjung. Restoran, kafe, dan area pertemuan dirancang bukan sekadar ruang makan, melainkan panggung interaksi sosial. Desain ruang yang memadukan estetika arsitektur dengan panorama alam akan menciptakan atmosfer yang mendalam dan mengesankan. Selanjutnya, fungsi lain resort berperan penting dalam memperluas dan memperkaya pengalaman pengunjung. Fasilitas seperti penyewaan peralatan olahraga air, ruang fitness, spa, dan area bermain memberikan fleksibilitas aktivitas.
Wisatawan lokal dan mancanegara dengan beragam minat dan kebutuhan mulai dari pencari petualangan hingga keluarga yang mencari ketenangan harus terakomodasi dengan sensitif. Interaksi antara ruang interior dan eksterior menjadi pertimbangan dalam merancang resort. Kamar tamu tidak sekadar tempat tidur, tetapi juga ruang kontemplasi dengan pemandangan menakjubkan. Ruang makan dirancang dengan akses visual dan fisik ke lingkungan sekitar, menciptakan pengalaman makan yang terintegrasi dengan alam. Area rekreasi, khususnya wahana paralayang dan speed boat, memerlukan perancangan dengan mempertimbangkan keselamatan dan kenyamanan secara maksimal. Ini bukan sekadar soal fasilitas fisik, tetapi juga sistem manajemen risiko dan pelatihan staf yang komprehensif.
Penggunaan material ramah lingkungan, pengelolaan limbah, dan desain yang meminimalkan gangguan ekosistem lokal adalah prinsip dari konsep resort. Desain harus inklusif, memungkinkan semua pengunjung terlepas dari kemampuan fisik untuk menikmati fasilitas dan aktivitas resort dengan nyaman dan bermartabat. Menciptakan ruang yang mendorong interaksi sosial adalah aspek psikologis penting dalam desain resort. Area komunal yang dirancang dengan mempertimbangkan dinamika sosial akan mendorong pertukaran pengalaman dan membangun kenangan kolektif di antara para pengunjung.
17
3.2 Analisis Lahan
Gambar 3. 1 Lokasi Pemilihan Lahan
Kawasan pesisir Indonesia menawarkan potensi luar biasa bagi pengembangan pariwisata, namun membutuhkan pendekatan perancangan yang sangat cermat dan berkelanjutan. Proses perencanaan resort di wilayah ini melampaui sekadar desain arsitektur, melainkan merupakan interaksi kompleks antara regulasi teknis, kepekaan lingkungan, dan kreativitas desain.
Gambar 3. 2 Respon Iklim Lahan Proyek
Garis Sempadan Bangunan (GSB) menjadi instrumen kunci dalam menjaga keseimbangan ekologis. Dengan menetapkan jarak minimal bangunan dari garis pantai, peraturan ini melindungi sistem pesisir yang rentan dari potensi kerusakan akibat pembangunan. Pembatasan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi merupakan strategi konservasi yang mempertimbangkan dinamika lingkungan pesisir yang kompleks.
18 Koefisien Dasar Bangunan (KDB) membatasi ruang terbangun hingga 40-50% dari total lahan, mendorong perancang untuk mengembangkan konsep desain yang efisien dan terintegrasi. Pembatasan ini mendorong kreativitas dalam memanfaatkan ruang, menghasilkan rancangan yang responsif terhadap konteks alam sekitarnya. Perancang ditantang untuk menciptakan ruang yang fungsional namun tetap menjaga keseimbangan ekosistem.
Koefisien Luas Bangunan (KLB) dengan rentang 0,8-1,2 memaksa perancang untuk berpikir secara vertikal dan horizontal. Strategi ini tidak hanya membatasi volume bangunan, tetapi juga mendorong pendekatan desain yang kompak, memaksimalkan pengalaman ruang tanpa memberikan beban berlebih pada lahan.
Koefisien Daerah Hijau (KDH) menjadi elemen kritis dalam perancangan resort pesisir. Dengan mensyaratkan 40-60% lahan tetap hijau, regulasi ini menjamin pelestarian vegetasi asli dan meminimalkan gangguan terhadap ekosistem lokal. Pendekatan ini menciptakan ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memelihara keberagaman hayati kawasan. Pembatasan ketinggian bangunan hingga tiga lantai bukan sekadar ketentuan teknis, melainkan pertimbangan multidimensional. Desain berlantai tiga mampu meminimalkan dampak visual, mengurangi beban struktural, dan memastikan keselarasan dengan lanskap pesisir. Strategi ini juga mempermudah manajemen bangunan dan proses evakuasi darurat.
Karakteristik unik lokasi pesisir seperti tanah labil, tekanan angin tinggi, dan risiko bencana memerlukan pendekatan perancangan komprehensif. Kajian geoteknik mendalam, sistem drainase khusus, dan struktur tahan gempa menjadi prasyarat dalam menghasilkan bangunan yang tangguh dan aman. Inovasi desain menjadi kunci dalam menghadapi pembatasan regulasi. Pendekatan bertingkat yang mengikuti kontur lahan, penggunaan material lokal, sistem bangunan terintegrasi, dan implementasi teknologi hijau mengubah batasan menjadi peluang desain yang kreatif.
Pada akhirnya, perancangan resort pesisir di Indonesia adalah ekspresi kompleks dari komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan. Setiap keputusan desain mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan manusia, regulasi teknis, dan pelestarian lingkungan. Hasilnya bukan sekadar bangunan, melainkan ruang hidup yang merayakan keindahan dan keragaman ekosistem pesisir Indonesia.
19
BAB IV
PEMROGRAMAN
4.1 Pendekatan dan Strategi Programing
Area akomodasi menjadi fokus utama, dengan rencana pengembangan 35-40 unit hunian yang terdiri dari berbagai tipe. Kamar standar akan menempati sekitar 60% area. Lobby utama dirancang sebagai ruang transisi yang memperkenalkan karakter resort, menciptakan pengalaman pertama yang memukau bagi pengunjung. Dengan pembatasan maksimal tiga lantai dan koefisien dasar bangunan 40- 50%, perancangan akan fokus pada optimalisasi ruang vertikal dan horizontal. Pendekatan modular dan fleksibel memungkinkan adaptasi ruang sesuai kebutuhan musiman dan perubahan pola wisata.
Minimal 40-60% lahan akan dipertahankan sebagai area hijau, memelihara ekosistem asli dan menciptakan koridor hijau yang terintegrasi dengan bangunan. Penggunaan material lokal dan implementasi teknologi ramah lingkungan merupakan strategi yang cocok untuk meminimalkan jejak karbon. Zona servis dan pendukung dirancang secara efisien, dengan area staff, gudang, dan fasilitas keamanan yang terintegrasi namun tidak mengganggu pengalaman utama pengunjung. Sistem parkir direncanakan untuk mengakomodasi sekitar 50-75 kendaraan, dengan desain yang memperhatikan estetika dan fungsionalitas. Struktur bangunan akan dirancang tahan gempa, dengan sistem drainase khusus dan jalur evakuasi yang jelas. Setiap zona dirancang dengan mempertimbangkan potensi bencana alam dan keselamatan pengunjung. Ruang pertemuan dan konferensi akan didesain dapat bertransformasi, mendukung berbagai kegiatan dari skala kecil hingga menengah. Area outdoor dapat dialih fungsikan untuk kegiatan berbeda sesuai kebutuhan.
Estimasi total luas bangunan berkisar antara 6.000-8.000 m², dengan memperhatikan batasan KLB 0,8-1,2. Setiap meter persegi dirancang untuk memberikan nilai tambah, baik dari perspektif fungsional maupun pengalaman pengguna.
20
4.2 Program Ruang
Tabel 1. Kebutuhan Ruang
No Zonasi Ruang Luas (m2) Aktivitas
1 Area Publik
Lobby 100
Penerimaan Tamu, Pusat Informasi, Ruang Tunggu, Administrasi Resepsionis 40
2 Area Penginapan
Economy 25
Tidur, Ganti Pakaian, Mandi, Bersantai
Business 40
Luxury 60
3 Area Kuliner Restoran 350 Sarapan, Makan Siang, Makan
Malam, Minum
Cafe 100
4 Area Rekreasi
Dermaga 300
Bermain, Perawatan Tubuh, Berolahraga
Spa 250
Paralayang 100
Gym 150
5 Area Pertemuan Konferensi 300
Presentasi Bisnis, Negosiasi, Diskusi
Rapat 100
6 Area Penunjang
Parkir 2000
Parkir Kendaraan, Pemeriksaan, Pencatatan Masuk atau Keluar,
Patroli,
Keamanan 50
Karyawan 100
7 Area Outdoor
Taman 1000 Bermain, Bersantai, Joging, Meditasi, Fotografi
Pantai 3000
8 Infrastruktur Mekanikal
Elekrikal 200 Tempat Server, Pemeliharaan Alat, Kontrol Air
21
BAB V
KONSEP PERANCANGAN
5.1 Konsep Umum
Perancangan arsitektur ini dilandasi oleh filosofi kompleks yang mempertemukan dimensi arsitektur bioklimatik. Konsep utama adalah menciptakan ruang arsitektur yang tidak sekadar berdiri, melainkan bernegoisasi secara dinamis dengan konteks alam, budaya, dan teknologi kontemporer.
Gambar 5. 1 Konsep Tatanan Elemen Perancangan
Pendekatan bioklimatik berfungsi sebagai fondasi utama dalam perancangan arsitektur, di mana setiap elemen bangunan dirancang secara responsif terhadap kondisi iklim lokal. Dalam konteks ini, bangunan tidak lagi dipandang sebagai objek yang pasif, melainkan sebagai sistem aktif yang mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam seperti sinar matahari, angin, dan kelembapan, bangunan dapat menciptakan kenyamanan termal secara alami.
Dimensi modern dihadirkan melalui teknologi konstruksi dan pendekatan desain kontemporer.
Struktur bambu yang diisi beton menjadi representasi inovasi teknologi konstruksi yang menggabungkan kearifan tradisional dengan kemampuan rekayasa modern. Teknik ini tidak sekadar memperkuat ketahanan struktur, tetapi juga menjadi narasi tentang dialog antara material tradisional dan teknologi mutakhir.
Konsep ini menciptakan arsitektur yang multidimensional: sebuah ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki kedalaman ekologis, kultural, dan filosofis. Bangunan dipahami sebagai organisme hidup yang bernegoisasi dengan konteksnya, bukan sekadar shelter atau objek statis.
22 Melalui pendekatan terintegrasi ini, arsitektur tidak lagi dipahami sebagai praktik desain semata, melainkan sebagai medium dialog kompleks antara manusia, alam, teknologi, dan budaya. Setiap elemen dirancang dengan kesadaran akan kompleksitas hubungan ini, menciptakan ruang arsitektur yang hidup, dan responsif.
5.2 Konsep Siteplan
Rencana tata letak massa bangunan dengan pendekatan bioklimatik dirancang untuk menciptakan keselarasan antara bangunan, manusia, dan lingkungan pesisir. Konsep dasar perencanaan mengutamakan orientasi bangunan yang responsif terhadap kondisi iklim setempat, dengan memperhatikan arah angin, intensitas matahari, dan topografi lahan.
Gambar 5. 2 Rencana Tata Letak Massa Bangunan
Massa bangunan disusun secara tersebar dan tidak masif, mempertahankan ruang terbuka hijau yang luas dan memaksimalkan sirkulasi udara alami. Setiap zona dibagi secara strategis, meliputi area publik seperti lobby dan restoran, area privat berupa kamar dan akomodasi, serta area rekreasi dan penunjang, yang saling terintegrasi namun tetap memiliki batasan fungsional yang jelas.
Gambar 5. 3 Ketinggian Lahan
23 Profil ketinggian lahan resort menunjukkan variasi topografis yang signifikan, dengan puncak tertinggi. Lokasi resort memiliki profil ketinggian lahan yang kompleks dan dinamis, dengan puncak tertinggi mencapai 58,69 meter di atas permukaan laut dan titik terendah pada kedalaman -46,19 meter di bawah permukaan laut. Rentang ketinggian total sebesar 104,88 meter ini menciptakan landscape geografis yang sangat variatif, memberikan tantangan sekaligus peluang desain arsitektur yang inovatif dan berkelanjutan.
Zona puncak lahan pada ketinggian 58,69 meter memberikan keunggulan panoramik yang luar biasa, memungkinkan pemandangan yang indah ke arah perairan dan wilayah sekitar. Kemiringan lereng yang signifikan membutuhkan strategi perancangan khusus, meliputi sistem terasering, struktur panggung bertingkat, dan metode stabilisasi tanah yang canggih untuk mencegah erosi dan menjamin keamanan konstruksi.
5.3 Konsep Bangunan
Tata letak ruang dalam mempertimbangkan sirkulasi yang lancar dan terintegrasi dengan kondisi klimatik setempat, mengoptimalkan potensi alami lokasi seperti arah angin, intensitas cahaya matahari, dan kelembapan udara.
Aktivitas yang diperlukan mencakup ruang-ruang fungsional seperti area penerima (lobby), ruang akomodasi, fasilitas rekreasi, restoran, dan ruang pertemuan, yang didesain dengan memperhatikan prinsip bioklimatik. Setiap ruang dirancang untuk memanfaatkan pencahayaan dan penghawaan alami, dengan bukaan-bukaan strategis yang memungkinkan sirkulasi udara optimal dan pengurangan beban pendinginan buatan.
Gambar 5. 4 Bentuk Massa Convention Hall
24 Massa convention hall tersebut dirancang sebagai struktur arsitektur multifungsi berlantai 3 yang tetap memakai pendekatan bioklimatik. Bangunan yang cukup luas ini mengintegrasikan prinsip- prinsip berkelanjutan melalui desain yang responsif terhadap kondisi iklim dan lingkungan pesisir.
Struktur vertikal tiga lantai memungkinkan fleksibilitas ruang yang optimal, dengan setiap level dirancang untuk memaksimalkan potensi view, pencahayaan alami, dan sirkulasi udara.
Pada setiap lantai, penggunaan material transparan dan bukaan lebar menjadi strategi utama untuk menciptakan ruang yang terhubung secara visual dengan lanskap eksternal. Fasad bangunan dilengkapi dengan sistem tritisan ekstra lebar, dan elemen peneduh yang mampu mengurangi beban panas matahari langsung sambil tetap mempertahankan keterbukaan visual. Sirkulasi udara dioptimalkan melalui desain bukaan silang, ventilasi vertikal, dan pengaturan massa yang memungkinkan aliran udara berkelanjutan di antara ruang-ruang dalam bangunan.
Zona ruang convention hall dibagi secara strategis, meliputi area utama pertemuan, ruang breakout, fasilitas pendukung, dan area transisi yang memungkinkan interaksi dinamis antara ruang interior dan eksterior. Struktur bangunan menggunakan sistem konstruksi ringan dengan material berkelanjutan seperti kayu olahan, kaca performa tinggi, dan elemen struktur yang memiliki jejak karbon rendah.
Gambar 5. 5 Rencana Bentuk Massa Penginapan Tipe 1
Rencana massa penginapan tipe 1 dalam perancangan resort mengadopsi pendekatan bioklimatik arsitektur yang komprehensif, menciptakan ruang hunian yang responsif terhadap kondisi iklim dan lingkungan pesisir. Massa penginapan menggunakan geometri linear dengan orientasi menghadap panorama laut, memaksimalkan view dan pencahayaan alami.
Desain fasad mengintegrasikan elemen arsitektur berkelanjutan seperti bukaan lebar, dan tritisan ekstensif yang mampu mengendalikan intensitas cahaya matahari serta menciptakan zona teduh.
Material konstruksi dipilih dengan mempertimbangkan aspek lokalitas dan keberlanjutan, seperti penggunaan kayu olahan setempat, material ringan, dan elemen kaca performa tinggi yang mampu mentransmisikan cahaya namun tetap meminimalisasi panas berlebih. Sistem ventilasi silang menjadi
25 strategi utama untuk menciptakan kenyamanan termal alami, dengan pengaturan bukaan yang memungkinkan sirkulasi udara optimal di setiap ruangan.
Gambar 5. 6 Rencana Bentuk Massa Tipe 2
Massa penginapan tipe 2 dirancang dengan sistem panggung yang inovatif, mengintegrasikan pendekatan bioklimatik arsitektur secara komprehensif dalam konteks lingkungan pesisir. Struktur bangunan diangkat di atas permukaan tanah dengan ketinggian bervariasi antara 1,5-2,5 meter, menciptakan ruang antara yang memungkinkan sirkulasi udara optimal, perlindungan dari kondisi lingkungan, dan konektivitas visual dengan lanskap sekitar. Desain panggung tidak hanya berfungsi struktural, tetapi juga menjadi strategi adaptasi terhadap dinamika topografis dan potensi perubahan iklim.
Gambar 5. 7 Rencana Bentuk Massa Tipe 3
Massa penginapan tipe 3 dirancang sebagai unit hunian premium yang mengintegrasikan pendekatan bioklimatik arsitektur dengan konsep kemewahan dan keberlanjutan. Desain arsitektur memaksimalkan view panoramik melalui bukaan luas dan pengaturan massa yang strategis, memungkinkan pengalaman visual yang tak terbatas ke arah lautan dan lingkungan sekitar.
Zona interior penginapan tipe 3 dibagi dalam beberapa area spesifik, meliputi ruang tidur utama, area privat, ruang transisi, dan fasilitas pendukung premium. Setiap unit dilengkapi dengan
26 ruang luar eksklusif berupa deck pribadi, infinity pool, dan area relaksasi yang terintegrasi langsung dengan lanskap.
Bentuk bangunan mengadopsi karakteristik arsitektur tropis pesisir, menggunakan material lokal yang responsif terhadap iklim, seperti kayu, bambu, atau batu alam. Struktur bangunan dirancang dengan sistem panggung atau bertingkat untuk meningkatkan sirkulasi udara dan melindungi
bangunan dari kondisi lingkungan ekstrem. Desain atap dan tritisan yang lebar berfungsi melindungi ruangan dari sinar matahari langsung sambil memungkinkan ventilasi silang yang efektif.
27
DAFTAR PUSTAKA
(Arsitektur et al. 2012)Arsitektur, Fakultas, D. A. N. Desain, Jurusan Teknik Arsitektur, Universitas Kristen, Duta Wacana, and Bobby Christian. 2012. “Tugas Akhir Perancangan Hotel Resort Di Kelurahan Manggar Kecamatan Balikpapan Timur, Kalimantan Timur.”
Boekoesoe, Bacharudin, Muh Rijal Syukri, and Zuhriati Djailani. 2023. “Penerapan Arsitektur Tropis Pada Hotel Resort Dikawasan Pantai Pohon Cinta.” JAMBURA Journal of Architecture 5(1):87–
91. doi: 10.37905/jjoa.v5i1.20516.
Fikram.M. 2022. “Proposal Tugas Akhir Seminar Proposal Tugas Akhir.” 1–16.
NABILA, YASMIN. 2020. “Perancangan Hotel Dan Resort Di Ledeng Bandung Laporan Pengantar Karya Tugas Akhir.” 1603164157.
28
HALAMAN PENYATAAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Anugrah Josua Purba
NIM : 121240133
Judul Tugas Akhir : Perancangan Resort Di Desa Merak Belatung Kecamatan Kalianda Lampung Selatan
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tugas akhir ini merupakan hasil karya saya sendiri, kecuali kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya dan terdapat di daftar pustaka.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa ada tekanan dan paksaan dari pihak manapun. Jika ternyata di kemudian hari pernyataan ini tidak benar maka saya bersedia mendapatkan sanksi akademik yang berlaku.
Lampung Selatan, 13 Desember 2024 Yang membuat pernyataan,
TTD
Anugrah Josua Purba 121240133