LMA atau acute non-lymphotic leukemia (LNLA) lebih sering terjadi pada orang dewasa (85%) dibandingkan anak-anak (15%). Sebagaimana hasil penelitian menyebutkan bahwa anak-anak dengan riwayat penggunaan insektisida rumah tangga memiliki risiko 5,25 kali lebih tinggi terkena leukemia dibandingkan anak-anak. Hasil penelitian menyebutkan bahwa orang tua yang merokok memiliki risiko 1,08 kali lebih tinggi terkena leukemia dibandingkan anak dengan orang tua yang tidak merokok (Paulina, 2013).
Pemeriksaan Penunjang
Penatalaksanaan Medis
Melalui pungsi lumbal, agen kemoterapi diberikan ke dalam cairan serebrospinal untuk mencegah sel leukemia di sistem saraf pusat. Terapi ini biasanya dilakukan untuk mencegah sel leukemia menyebar ke otak atau buah zakar.
Prognosis Leukemia
Konsep Dukungan Keluarga 1. Pengertian
Tujuan Dukungan Keluarga
Jenis Dukungan Keluarga
Dukungan instrumental adalah dukungan yang diberikan langsung oleh keluarga dan mencakup bantuan materi, seperti menyediakan tempat tinggal, meminjam atau memberi uang, dan membantu pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Dukungan instrumental kepada anak adalah dengan memberikan mainan kesukaan, mendongeng. Dukungan penghargaan terjadi melalui ekspresi penghargaan yang positif, termasuk pernyataan persetujuan dan penilaian positif terhadap gagasan, perasaan, dan prestasi orang lain yang berhubungan positif antara individu dan orang lain.
Faktor Yang Mempengaruhi
Dukungan dapat ditentukan oleh faktor usia, dalam hal ini tumbuh kembang, sehingga setiap kelompok usia memiliki pemahaman dan respon yang berbeda terhadap perubahan kesehatan. Keyakinan seseorang tentang dukungan dibentuk oleh variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan, pendidikan, dan pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan membentuk cara berpikir seseorang, termasuk kemampuan untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan kesehatan untuk menjaga kesehatan.
Aspek spiritual dapat dilihat dari cara seseorang menjalani kehidupannya, termasuk nilai-nilai dan keyakinan yang dipegangnya, hubungan dengan keluarga atau teman, dan kemampuan untuk menemukan harapan dan makna hidup. Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan risiko penyakit dan memengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan merespons penyakitnya. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang, biasanya akan semakin cepat pula respon terhadap gejala penyakit yang dirasakannya.
Latar belakang budaya memengaruhi kepercayaan, nilai, dan kebiasaan individu dalam pemberian dukungan, termasuk bagaimana kesehatan pribadi diterapkan.
Kecemasan Pada Anak 1. Pengertian
- Klasifikasi Tingkat Kecemasan
- Gejala
- Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan Pada Anak menurut Perry dan Potter (2010) yaitu
- Upaya yang dilakukan Untuk Mengatasi Kecemasan
- Alat Ukur Kecemasan
Hal ini karena laki-laki lebih aktif dan investigatif, sedangkan perempuan lebih sensitif dan banyak menggunakan perasaan. Kecemasan anak yang dirawat inap akan sangat terlihat pada hari pertama hingga kedua bahkan hingga hari ketiga dan biasanya pada hari keempat atau kelima kecemasan yang dirasakan anak akan mulai mereda. Kecemasan pada anak yang menjalani perawatan dapat berkurang berkat dukungan orang tua yang selalu mendampingi anak selama perawatan, teman anak yang datang berkunjung ke rumah sakit atau anak telah menjalin hubungan yang baik dengan tenaga kesehatan (perawat, dokter) sehingga dapat menurunkan tingkat kecemasan anak.
Lingkungan rumah sakit merupakan lingkungan yang baru bagi anak, sehingga anak seringkali merasa takut dan terancam dengan tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya. Lingkungan rumah sakit juga akan memberikan kesan tersendiri bagi anak, baik dari pihak tenaga medis, alat kesehatan maupun teman sekamar dengan anak, yang juga berdampak pada kecemasan anak, karena anak merasa terpisah dari orang tuanya. Wong (2013) menyatakan bahwa intervensi yang penting dilakukan oleh perawat pada anak yang mengalami kecemasan yaitu memberikan dukungan psikologis kepada anggota keluarga, menyiapkan anak sebelum masuk rumah sakit.
Peran tenaga kesehatan rumah sakit, dimana diharapkan tenaga kesehatan khususnya perawat harus menghormati posisi anak karena selain orang tua, perawat merupakan orang yang paling dekat dengan anak selama dirawat di rumah sakit. Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing dirinci lebih lanjut dengan gejala yang lebih spesifik. Setiap kelompok gejala diberi penilaian angka antara 0-4, artinya skor 0 tidak ada gejala (keluhan), skor 1 gejala ringan, skor 2 gejala sedang, skor 3 gejala berat, dan skor 3 gejala berat. 4 gejala yang sangat parah.
Kemudian masing – masing nilai numerik dari 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil ringkasan dapat diketahui derajat kecemasan seseorang yaitu nilai total kurang dari 14 tidak ada kecemasan, 14 – 20 kecemasan ringan, 21 – kecemasan sedang 27, nilai kecemasan berat 28-41 dan skor kecemasan sangat berat 42-56.
Konsep Supportive Educative System
Penelitian Lerdngammongkolkul et al (2011) pada kelompok eksperimen yang mendapatkan intervensi program pendidikan keperawatan suportif yang terdiri dari 2 hari pertemuan diselingi buklet perawatan penyakit dan tindak lanjut melalui telepon menunjukkan perubahan dan perbaikan perilaku asuhan keperawatan pada pasien ISPA infeksi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mohammadpour et al (2015), intervensi pendidikan suportif terdiri dari 3 pertemuan dengan 45 menit untuk setiap pertemuan, dan kemudian pada 45 hari pertama setelah pendidikan, peneliti menelepon pasien dalam kelompok eksperimen dan memberikan layanan konseling yang diperlukan. dalam hal perawatan diri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi dapat meningkatkan kemampuan perawatan diri pasien yang tidak dirawat di rumah sakit dan berdampak positif pada hasil kesehatan masyarakat.
Konsep Family Centered Care 1. Pengertian
Tujuan
Menurut Shield (2012), tujuan penerapan konsep pengasuhan berpusat pada keluarga dalam pengasuhan anak adalah agar orang tua dapat mengasuh anaknya selama proses penerimaan.
Element
Perawatan berorientasi keluarga menawarkan orang tua dan profesional kesempatan untuk menyumbangkan pengetahuan dan pengalaman mereka untuk pengembangan perawatan anak di rumah sakit. Menurut Shields (2012), pengasuhan berorientasi keluarga dapat diwujudkan melalui kerjasama orang tua dan profesional dalam fase kebijakan. Tujuannya adalah untuk mendukung keberhasilan perawatan anaknya di rumah sakit dengan memperhatikan tingkat perkembangan anak.
Unsur ini mewujudkan dua konsep yang seimbang yaitu, pertama, pengasuhan yang berpusat pada keluarga harus menggambarkan keseimbangan antara anak dan keluarga. Memahami dan memasukkan kebutuhan perkembangan bayi, anak-anak, remaja dan keluarganya ke dalam sistem perawatan kesehatan. Sistem pelayanan kesehatan yang fleksibel didasarkan pada pemahaman bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda terhadap pelayanan kesehatan, sehingga pelayanan kesehatan yang ada harus memenuhi kebutuhan dan kekuatan anak dan keluarga.
Selain layanan yang fleksibel, family centered care juga mendukung layanan kesehatan yang dapat diakses dengan mudah oleh anak dan keluarga, misalnya sistem pembayaran layanan kesehatan yang digunakan selama anak menjalani perawatan di rumah sakit menggunakan asuransi atau kesehatan negara dan swasta. asuransi, konsultasi kesehatan, prosedur pemeriksaan bedah. Seiring dengan pemahaman keluarga sebagai sumber kekuatan dan dukungan utama bagi anak, kebijakan mengenai kunjungan, izin menemani anak selama dirawat, harus disesuaikan dengan konsep pengasuhan yang berpusat pada keluarga. Dalam konsep perawatan yang berpusat pada keluarga, keluarga dipandang sebagai unsur yang tetap sedangkan keberadaan tenaga kesehatan bervariasi.
Konseling diberikan oleh profesional kesehatan untuk orang tua dan anak mengenai kebijakan, prosedur dan peraturan rumah sakit sebelum anak masuk. Perawat dapat mengaktifkan kelompok untuk berbagi pengalaman dalam merawat anaknya, baik melalui kegiatan informal maupun formal seperti seminar (Bissel, 2010). d) Lembaga perawatan keluarga. Fasilitas yang akan disediakan pada penerapan aplikasi pengasuhan keluarga adalah: ruang khusus untuk anak menyediakan tempat tidur untuk pengasuh, ruang untuk memajang foto keluarga, ruang santai khusus untuk orang tua menyediakan ruang bermain, menyediakan perpustakaan untuk anak, konsultasi untuk orang tua.
Model Keperawatan Dorothea E Orem
Teori Self Care
Untuk memahami teori perawatan diri, sangat penting untuk terlebih dahulu memahami konsep perawatan diri, agen perawatan diri, faktor pengkondisian dasar dan kebutuhan perawatan diri terapeutik. Perawatan diri adalah kinerja atau praktik kegiatan individu untuk mengambil inisiatif dan membentuk perilaku mereka dalam mempertahankan hidup, kesehatan dan kesejahteraan. Jika perawatan diri terbentuk secara efektif, maka akan membantu membentuk keutuhan struktur dan fungsi manusia serta berkaitan erat dengan perkembangan manusia.
Kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri dipengaruhi oleh basic conditioning factor seperti; usia, jenis kelamin, status budaya, sistem perawatan kesehatan, orientasi sosial budaya, sistem perawatan kesehatan, sistem keluarga, gaya hidup, lingkungan dan ketersediaan sumber daya Perubahan kesehatan (kelainan kesehatan) menyangkut konsekuensi perubahan struktur normal dan gangguan integritas individu untuk melakukan perawatan diri melalui penyakit atau cedera.
Teori Self Care Deficit
Perkembangan, lebih spesifik daripada universal, terkait dengan kondisi yang meningkatkan proses perkembangan siklus hidup seperti pekerjaan baru, perubahan struktur tubuh, dan kerontokan rambut. Perawat dapat membantu individu menggunakan beberapa atau semua metode ini untuk mencapai perawatan diri. Tindakan yang dapat dilakukan oleh perawat saat memberikan pelayanan keperawatan dapat disebut sebagai domain keperawatan.
Teori Nursing System
Badan keperawatan adalah sifat atau sifat lengkap yang diberikan kepada orang-orang yang terlatih dan terdidik sebagai perawat, yang dapat melakukan, mengetahui dan membantu orang lain menemukan kebutuhan perawatan diri terapeutik mereka, melalui pelatihan dan pengembangan badan perawatan diri. Suatu keadaan dimana individu tidak dapat melakukan tindakan perawatan diri dan menerima perawatan diri secara langsung dan ambulasi harus dikontrol dengan gerakan manipulatif atau adanya alasan medis tertentu. Ada tiga kondisi yang masuk dalam tiga kategori tersebut, yaitu: tidak mampu melakukan tindakan perawatan diri seperti koma, mampu mengambil keputusan, observasi atau pilihan tentang perawatan diri, namun tidak mampu melakukan ambulasi dan gerakan manipulatif tidak, tidak mampu melakukan keputusan yang tepat. tentang perawatan diri.
Situasi dimana perawat dan klien melakukan perawatan atau tindakan lain dan perawat atau pasien memainkan peran utama dalam mengukur kemampuan perawatan diri. Dalam sistem ini, orang dapat merancang, atau dapat belajar merancang, perawatan diri internal atau eksternal, tetapi mereka tidak dapat melakukannya tanpa bantuan.
Integrasi Teori Model Orem dengan Penelitian
Self care agency dapat berubah sewaktu-waktu tergantung dari faktor dasar conditioning yang mempengaruhinya, yaitu; usia, jenis kelamin, tahap perkembangan, status kesehatan, sistem perawatan, sistem keluarga, lingkungan, kondisi ekonomi dan budaya. Ketika terjadi ketidakseimbangan antara self care demand dan self care agency maka akan timbul self care deficit yang disebabkan oleh kurangnya dukungan keluarga dalam mengatasi kecemasan pada anak leukemia. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan intervensi sistem pendidikan suportif berupa pengajaran, bimbingan dan dukungan dengan tujuan meningkatkan dukungan keluarga dalam upaya menurunkan kecemasan anak penderita leukemia.
Penelitian Terkait
Kerangka Teori