EFEKTIVITAS JUS BUAH NAGA DENGAN KADAR HEMOGLOBIN MENINGKAT PADA IBU HAMIL
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian
Disusun oleh :
Nama : Maylinda Vebrianti NPM : 224201446102
Kelas : B1
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA 2023
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Permasalahan Kesehatan yang sering dialami Ibu Hamil di Trimester 3 di bulan ke 7 – 9 salah satunya adalah Rendahnya kadar Hemoglobin dalam darah. Rendahnya kadar Hemoglobin dalam darah atau yang lebih sering dikenal dengan Anemia pada ibu Hamil dapat disebabkan karena masih kurang dan rendahnya supan Gizi serta pengetahuan tentang pola makan yang baik dan seimbang. Anemia adalah kurangnya kadar hemoglobin dalam darah dalam batas normal untuk sekelompok orang yang berseangkutan. Kekurangan kadar Hemoglobin dalam darah Ibu Hamil dapat menimbulkan hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak, hingga kematian janin dalam kandungan. (Parulian et al., 2016) .
Prevalensi Anemia pada ibu Hamil meningkat pada tingkat yang dikhawatirkan di negara maju dan berkembang di seluruh dunia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2018, Menyatakan bahwa 41,8 % Penyebab kematian ibu di Negara Berkembang mengalami Anemia pada fase kehamilan. Salah satu komplikasi kehamilan pada ibu adalah Anemia 20 % hingga 89 % dengan menetapkan 11 gr % sebagai dasarnya (Aulya et al., 2021) .
Kejadian anemia atau kekurangan darah pada ibu hamil di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu sebanyak 48,9% (Kemenkes RI tahun 2019). Kondisi ini mengatakan bahwa anemia cukup tinggi di Indonesia dan menunjukkan angka mendekati masalah kesehatan masyarakat berat (severe public health problem) dengan batas prevalensi anemia lebih dari 40% .
Pada Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Banten berjumlah 107 kematian/100.000. Kelahiran hidup dengan penyebab kematian klasik yaitu perdarahan 55%, eklampsia 28%, infeksi 10% dan sebab lain 7%, dan salah satu penyebab dari perdarahan adalah karena anemia dalam kehamilan (Dinkes Banten,2018).
Sekitar 95% kasus anemia selama kehamilan adalah karena kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi). Penyebabnya biasanya asupan makanan tidak memadai (terutama pada anak perempuan remaja), kehamilan sebelumnya, atau kehilangan normal secara berulang zat besi dalam darah haid (yang mendekati jumlah tertentu, biasanya
berlangsung setiap bulan dan dengan demikian mencegah penyimpanan zat besi) (Proverawati, 2017).
Anemia bukan hanya berdampak pada ibu, melainkan juga pada bayi yang dilahirkan. Bayi yang dilahirkan kemungkinan besar mempunyai cadangan zat besi yang sedikit atau bahkan tidak mempunyai persediaan sama sekali, sehingga akan mengakibatkan anemia pada bayi yang dilahirkan. Dampak anemia pada ibu hamil dapat diamati dari besarnya angkat kesakitan dan kematian maternal, peningkatan angka kesakitan dan kematian janin, serta peningkatan resiko terjadinya berat badan lahir rendah (Kemenkes RI tahun 2022).
Dapat di simpulkan bahwa Kadar Hemoglobin rendah atau Anemia pada ibu hamil adalah penting yang harus di perthatikan. Kehamilan merupakan perubahan fisiologis pada wanita. Terdapat perubahan pada tubuh selama kehamilan, salah satunya adalah pada sistem permbuluh darah. Perubahan tersebut membuat volume plasma dalam darah meningkat hal ini mengakibatkan adanya pengenceran pada darah. Dari perubahan tersebut ibu hamil rentan mengalami anemia, dimana kondisi tubuh kekurangan darah.
(Mutoharoh et al., n.d.)
Pengambilan Respondens yang akan saya lakukan adalah di Provinsi Banten khususnya di Kelurahan Kramatwatu. Dikarenakan prevalensi pada ibu Hamil dengan kadar hemoglobin rendah cukup tinggi yaitu ditemukan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil di Kabupaten Serang (Kecamatan Baros, Pontang, dan Kramatwatu) masih cukup tinggi yaitu 72.5 % dengan rata-rata kadar Hb 9.7 gr/dL(Fadila, 2017).
Perbedaan penelitian saya dengan penelitian sebelumnya yaitu, Penelitian saya menggunakan Data Kuantitatif dengan Metode Eksperimen, dimana saya mengambil Eksperimen One Group sebanyak 30 Respondens dengan purposive Sampling.
Menggunakan 1 Variabel Independent dan 1 Variabel Dependent, dan data non parametrik menggunakan uji Chi -Square. Dan menggunakan desain One- Group pretest – posttest Research Design.
B. PERUMUSAN MASALAH
Pada masa sekarang ini banyak sekali ibu Hamil yang mengalami kurangnya kadar Hemoglobin dalam darah yang menyebabkan banyak sekali komplikasi, kecacatan pada bayi jika lahir hingga kematian yang berlangsung.
C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Keefektifan Jus Buah Naga dengan Kadar HB Rendah pada Ibu Hamil
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran Hubungan Ibu Hamil yang mengalami Anemia di Puskesmas Kramatwatu
b. Mengetahui gambaran Hubungan Jus Buah Naga pada Ibu Hamil
c. Mengetahui hubungan Jus Buah Naga dengan Kadar HB rendah Pada Ibu Hamil
D. MANFAAT PENELITIAN a. Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan informasi ilmiah bagi institusi Universitas Nasional tentang hubungan Keefektivan Jus Buah Naga dengan kadar HB rendah Pada Ibu Hamil
b. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti selama menjalani studi pendidikan dan saat bertugas di lapangan Praktek
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Teori dan Konsep Terkait 1. Anemia
a. Pengertian Anemia
Anemia adalah suatu kondisi dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin di dalamnya lebih rendah dari biasanya. Hemoglobin dibutuhkan untuk membawa oksigen dan jika ibu hamil memiliki terlalu sedikit atau sel darah merah yang abnormal, atau tidak cukup hemoglobin, akan ada penurunan kapasitas darah untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh. Hal ini menyebabkan gejala seperti kelelahan, lemah, pusing, dan sesak napas.
Anemia adalah masalah kesehatan masyarakat global yang serius yang terutama menyerang anak-anak dan wanita hamil. WHO memperkirakan bahwa 42% anak di bawah usia 5 tahun dan 40% wanita hamil di seluruh dunia menderita Anemia (Chendriany et al., 2021).
b. Kriterian Anemia
Penentuan kriteria anemia tergantung pada jenis kelamin, usia dan juga tempat tinggal. Kriterian anemia menurut WHO (1992) adalah :
1. Laki – laki dewasa : Kadar Hb <13g/dl 2. Wanita Dewasa tidak Hamil : Kadar Hb <12g/dl 3. Wanita Hamil : Kadar Hb <11g/dl 4. Anak Umur 6-14 tahun : Kadar Hb <12g/dl 5. Anak umur 6 bulan – 6 tahun : Kadar Hb <11g/dl
Kadar klinis anemia di indonesia umumnya jika dari hasil laboratorium di dapatkan :
1. Kadar Hb <10g/dl 2. Hematokrit <30g/dl
3. Eritrosit <2,8 juta/mm3 c. Klasifikasi Anemia
1. Anemia Berdasarkan Etiopatogenesis
a) Kekurangan bahan esensial pembentukan eritrosit b) Gangguan penggunaan besi
c) Kerusakan sumsum tulang
d) Kekurangan eritropoietin : pada pasien gagal ginjal kronik e) Pasca perdarahan akut
f) Akibat perdarahan kronik g) Anemia hemolitik
d. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk menentukan derajat anemia dan pengujian zat besi , yang dapat menggunakan pemeriksaan laboratorium.
Penentuan derajat anemia dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah rutin seperti HB,Ht,hitung jumlah RBC, bentuk RBC, jumlah retikulosit sementara, uji defisiensi besi melalui pemeriksaan feritin serum, kejenuhan tranferin dan protoporfin eritrosit .
Tes lain dapat dilakukan untuk mengidentifikasi masalah medis yang dapat menyebabkan anemia. Tes darah digunakan untuk mendiagnosis beberapa jenis anemia yang mencakup :
1. Kadar darah Vitamin B12, asam Folat , Vitamin, dan Mineral 2. Pemeiksaan sumsum tulang
3. Jumlah kadar hemoglobin 4. Hitung Retikulosit
5. Kadar Feritin 6. Kadar Besi
2. Anemia Dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan dapat diartikan ibu hamil yang mengalami defisiensi zat besi dalam darah. Selain itu anemia dala kehamilan dapat dikatakan juga sebagai suatu kondisi ibu dengan kadar hemoglobin (Hb) <11g/dl pada trimester I dan III sedangkan pada trimester II kadar hemoglobin <10,5.
1. Penyebab
Menurut Marmi (2011), penyebab anemia pada umumnya antara lain : a. Status gizi kurang.
Adanya kondisi malnutrisi atau kurang gizi pada ibu hamil. Pola makan ibu hamil yang terganggu diakibatkan rasa mual yang sering yang terjadi selama proses kehamilan.
b. Kurang asupan zat besi.
Kurangnya zat besi dalam diet makanan selama kehamilan. Faktor diet ini adalah faktor yang paling dominan dan sering terjadi sehingga menyebabkan anemia pada ibu hamil. Rendahnya cadangan zat besi pada ibu hamil diakibatkan menstruasi atau proses persalinan sebelumnya.
c. Malabsorbsi.
Malabsorbsi nutrisi atau gangguan penyerapan zat gizi dari makanan yang dimakan.
d. Kehilangan darah yang banyak, persalinan yang lalu, haid dan lain- lain.
e. Penyakit-penyakit kronis seperti TBC, paru, cacing usus, malaria dan lain-lain.
Menurut Kurniawan (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada ibu hamil antara lain :
1. Faktor Dasar a. Sosial ekonomi
Perilaku seseorang dibidang kesehatan dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi. Sekitar 2/3 wanita hamil di negara maju yaitu hanya 14%.
b. Pengetahuan
Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai sumber misalnya media masa, media elektronik, buku petunjuk kesehatan, media poster, kerabat dekat dan sebagainya. Kebutuhan ibu hamil akan zat besi (Fe) meningkat
0,8 mg sehari pada trimester I dan meningkat tajam selama trimester III yaitu 6,3 mg sehari. Jumlah sebanyak itu tidak mungkin tercukupi hanya melalui makanan apalagi didukung dengan pengetahuan ibu hamil yang kurang terhadap peningkatan kebutuhan zat besi (Fe) selama hamil sehingga menyebabkan mudah terjadinya anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil.
Ibu hamil dengan pengetahuan tentang zat besi (Fe) yang rendah akan berperilaku kurang patuh dalam mengkonsumsi tablet zat besi (Fe) serta dalam pemilihan makanan sumber zat besi (Fe) juga rendah. Sebaliknya ibu hamil yang memiliki pengetahuan tentang zat besi (Fe) yang baik, maka cenderung lebih banyak menggunakan pertimbangan rasional dan semakin patuh dalam mengkonsumsi tablet zat besi (Fe).
1) Pendidikan
Pendidikan adalah proses perubahan perilaku menuju kedewasaan dan penyempurnaan hidup. Biasanya seorang ibu khususnya ibu hamil yang berpendidikan tinggi dapat menyeimbangkan pola konsumsinya. Apabila pola konsumsinya sesuai maka asupan zat gizi yang diperoleh akan tercukupi, sehingga kemungkinan besar bisa terhindar dari masalah anemia.
2) Budaya
Faktor sosial budaya setempat juga berpengaruh pada terjadinya anemia. Pendistribusian makanan dalam keluarga yang tidak berdasarkan kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga, serta pantangan-pantangan yang harus diikuti oleh kelompok khusus misalnya ibu hamil, bayi, ibu nifas merupakan kebiasaan-kebiasaan adat-istiadat dan perilaku masyarakat yang menghambat terciptanya pola hidup sehat dimasyarakat
b. Faktor tidak langsung
1) Kunjungan Antenatal Care (ANC)
Antenatal Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Kasus anemia defisiensi gizi umumnya selalu disertai dengan mal nutrisi infestasi parasit, semua ini berpangkal pada keengganan ibu untuk menjalani pengawasan antenatal. Dengan ANC keadaan anemia ibu akan lebih dini terdeteksi, sebab pada tahap awal anemia pada ibu hamil jarang sekali menimbulkan keluhan bermakna. Keluhan timbul setelah anemia sudah ke tahap yang lanjut.
2) Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim. Paritas ≥ 3 merupakan faktor terjadinya anemia. Hal ini disebabkan karena terlalu sering hamil dapat menguras cadangan zat gizi tubuh ibu.
3) Umur
Ibu hamil pada usia terlalu muda (<20 tahun) tidak atau belum siap untuk memperhatikan lingkungan yang diperlukan untuk pertumbuhan janin. Disamping itu akan terjadi kompetisi makanan antar janin dan ibunya sendiri yang masih dalam pertumbuhan dan adanya pertumbuhan hormonal yang terjadi selama kehamilan.
Sedangkan ibu hamil diatas 30 tahun lebih cenderung mengalami anemia, hal ini disebabkan karena pengaruh turunnya cadangan zat besi dalam tubuh akibat masa fertilisasi.
4) Dukungan suami
Dukungan suami adalah bentuk nyata dari kepedulian dan tanggung jawab suami dalam kehamilan istri.
2. Tanda dan Gejala
Gejala umum pada anemia yaitu mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan kadar Hb. Gejala ini muncul pada setiap kasus anemia setelah penurunan Hb sampai kadar tertentu (Hb <8g/dl) . Sindrom anemia terdiri atas
rasa lemah, lesu, cepat lelah, telinga mendenging, mata berkunang-berkunang, kaki terasa dingin dan sesak nafas. Pada pemeriksaan seperti kasus anemia lainnya, ibu hamil tampak pucat, yang mudah diliat konjungtiva, mukosa mulut . telapat tangan dan jaringan dibawah kuku.
Menurut Soebroto , gejala anemia pada ibu Hamil diantaranya adalah : 1. Cepat lelah
2. Sering pusing
3. Mata berkunang – kunang 4. Lidah luka
5. Nafsu makan turun 6. Konsentrasi hilang 7. Nafas pendek
8. Keluhan mual dan muntah lebih hebat pada kehamilan muda
3. Derajat Anemia
Penentuan anemia tidaknya seorang ibu hamil menggunakan dasar kadar Hb dalam darah. Dalam Penentuan derajat anemia ada bermacam -macam pendapat :
1. Derajat anemia menurut WHO :
a. Ringan Sekali : Hb 10g/dl- batas normal b. Ringan : Hb 8g/dl - 9,9g/dl c. Sedang : Hb 6g/dl - 7,9g/dl d. Berat : Hb <5g/dl
2. Derajat Anemi menurut Depkes RI :
a. Ringan Sekali : Hb 11g/dl- batas normal b. Ringan : Hb 8g/dl - < 11g/dl c. Sedang : Hb 5g/dl - < 8g/dl d. Berat : Hb <5g/dl
2. Kehamilan
a. Pengertian Kehamilan
Beberapa pengertian dari kehamilan adalah sebagai berikut:
1) Kehamilan merupakan waktu transisi, yakni suatu masa antara kehidupan sebelum memiliki anak yang sekarang berada dalamkandungan dan kehidupan nanti setelah anak tersebut lahir (Sukarni dan Wahyu, 2013).
2) Kehamilan merupakan masa yang dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.
Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari). Kehamilan ini dibagi atas 3 semester yaitu; kehamilan trimester pertama mulai 0-14 minggu, kehamilan trimester kedua mulai mulai 14-28 minggu, dan kehamilan trimester ketiga mulai 28-42 minggu (Yuli, 2017). Peneliti merangkum dari kedua pengertian diatas bahwa, kehamilan adalah suatu proses yang natural bagi perempuan, dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin dengan rentang waktu 280 hari (40 minggu/ 9 bulan 7 hari)
b. Proses Kehamilan 1) Fertilisasi
Fertilisasi atau pembuahan terjadi saat oosit sekunder yang mengandung ovum dibuahi oleh sperma atau terjadi penyatuan ovum dan sperma. Penetrasi zona pelusida memungkinkan terjadinya kontak antara spermatozoa dan membran oosit. Membran sel germinal segera berfusi dan sel sperma berhenti bergerak. Tiga peristiwa penting terjadi dalam oosit akibat peningkatan kadar kalsium intraseluler yang terjadi pada oosit saat terjadi fusi antara membran sperma dan sel telur. Ketiga peristiwa tersebut adalah blok primer terhadap polispermia, reaksi kortikal dan blok sekunder terhadap polispermia.
Setelah masuk kedalam sel telur, sitoplasma sperma bercampur dengan sitoplasma sel telur dan membran inti (nukleus) sperma pecah. Pronukleus laki-laki dan perempuan terbentuk (zigot). Sekitar 24 jam setelah fertilisasi, kromosom memisahkan diri dan pembelahan sel pertama terjadi.
2) Nidasi
Umumnya nidasi terjadi di dinding depat atau belakang uterus, dekat pada fundus uteri.
Jika nidasi ini terjdi, barulah dapat disebut adanya kehamilan. Bila nidasi telah terjadi, mulailah terjadi diferensiasi zigot menjadi morula kemudian blastula (Sukarni dan Wahyu, 2013). Blastula akan membelah menjadi glastula dan akhirnya menjadi embrio sampai menjadi janin yang sempurna di trimester ketiga (Saiffullah, 2015)
c. Perubahan Fisiologi Kehamilan Terhadap Sistem Tubuh
Menurut Sukarni dan Margareth (2013), Fauziah dan Sutejo (2012), dan Yuli (2017), menuliskan bahwa perubahan-perubahan fisiologi yang terjadi adalah sebagai berikut:
1) Sistem reproduksi a) Uterus
Tumbuh membesar primer maupun sekunder akibat pertumbuhan isi konsepsi intrauterin.
Estrogen menyebabkan hyperplasia jaringan, progesteron berperan untuk elastisitas/
kelenturan uterus.
b) Vulva/ vagina
Terjadi hipervaskularisasi akibat pengaruh estrogen dan progesteron, menyababkan warna menjadi merah kebiruan(tanda Chadwick).
c) Ovarium
Sejak kehamilan 16 minggu, fungsi diambil alih oleh plasenta, terutama fungsi produksi progesteron dan esterogen. Selama kehamilan ovarium tenang/ beristirahat.
d) Payudara
Akibat pengaruh estrogen terjadi hyperplasia sistem duktusdan jaringan interstisial payudara. Mammae membesar dan tegang, terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofi kelenjar Montgomery, terutama daerah areola dan papilla akibat pengaruh melanotor.
Puting susu membesar dan menonjol.
2) Peningkatan berat badan.
Normal berat badan meningkat sekitar 6 sampai 16 kg, terutama dari pertumbuhan isi konsepsi dan volume berbagai organ/ cairan intrauerin.
3) Perubahan pada organ-organ sistem tubuh lainnya:
a) Sistem respirasi; kebutuhan oksigen menigkat sampai 20%, selain itu diafragma juga terdorong naik ke kranial terjadi hiperventilasi dangkal akibat kompensasi dada menurun.
Volume tidal meningkat, volume residu paru dan kapasitas vital menurun.
b) Sistem gastrointestinal; estrogen dan HCG meningkat dengan efek samping mual dan muntah, selain itu terjadi juga perubahan peristaltik dengan gejala sering kembung, konstipasi, lebih sering lapar/ perasaan ingin makan terus.
c) Sistem sirkulasi/ kardiovaskuler; tekanan darah selama pertengahan pertama masa hamil, tekanan sistolik dan diatolik menurun 5-10 mmHg. Selama trimester ketiga tekanan darah ibu hamil harus kembali kenilai tekanan pada trimester pertama.
d) Sistem integumen; Striae gravidarum, Linea nigra, dan Chloasma.
e) Sistem mukuluskeletal; kram otot, sendi-sendi melemah dan karies gigi.
f) Sistem perkemihan; sering berkemih.
g) Sistem hematologi
Menurut Gant (2010), perubahan yang terjadi pada sistem hematologi terkadi pada volume darah, dimana volume darah pada atau mendekati akhir kehamilan rata-rata adalah sekitar 45% di atas volume pada keadaan tidak hamil. Derajat peningkatan volume sangat bervariasi. Peningkatan terjadi pada trimester pertama, meningkat paling cepat selama trimester kedua, kemudian peningkatan dengan kecepatan lebih lambat selama trimester ketiga. Selain itu terjadi peningkatan peptida natriuretik atrium terjadi sebagai respons terhadap diet tinggi natrium. Perubahan hematokrit dan hemoglobin sedikit menurun selama kehamilan normal. Akibatnya viskositas darah berkurang.
4) Perubahan Psikologi pada Ibu Hamil
Menurut Yuli (2017), Kehamilan merupakan saat terjadinya krisis bila keseimbangan hidup ternggangu.
a) Teori krisis.
Tahap syok dan menyangkal, bingung dan preoccupation, tindakan dan belajar dari pengalaman, intervensi memudahkan kembali keadaan keseimbangan.
b) Awal penyesuaian terhadap kehamilan baik ibu maupun bapak mengalami syok:
(1) Persepsi terhadap peristiwa bervariasi menurut individu.
(2) Dukungan situsional penting untuk memberikan bantuan dan perhatian
(3) Mekanisme koping; kekuatan dan keterampilan dipelajari untuk mengatasi stress.
c) Lanjutan penyesuaian terhadap kehamilan
(1) Trimester pertama (bulan 1-3) : Ditandai dengan adanya penyesuaian terhadap ide-ide menjadi orang tua, tingkat hormon yang tinggi, mual dan muntah serta lebih.
(2) Trimester kedua (bulan 4-6) : Waktu yang menyenangkan, respons seksual meningkat, quickening memberikan dorongan psikologis.
(3) Trimester ketiga (bulan 7-9) : Letih, tubuh menjadi besar dan terlihat aneh, kegembiraan yang menyusut dengan kelahiran bayi.
d. ibu Hamil Golongan Resiko Tinggi
Sukarni dan Wahyu (2013), menulis ada beberapa golongan ibu hamil yang dikatakan memiliki risiko tinggi walaupun dalam kesehariannya hidup dengan sehat dan tidak menderita suatu penyakit. Golongan yang dimaksud berisiko tinggi meliputi:
1) Ibu hamil terlalu muda dan terlalu tua (< 16 tahun dan > 35 tahun).
2) Ibu baru hamil setelah perkawinan selama 4 tahun.
3) Jarak dengan anak terkecil dengan anak > 10 tahun.
4) Jarak kehamilan terlalu dekat yaitu < 2 tahun.
5) Terlalu banyak anak yaitu > 4.
6) Tinggi badan terlalu pendek < 145 cm.
7) Terlalu gemuk atau terlalu kurus, ini akan berpengaruh pada gizi keduanya.
8) Riwayat persalinan jelek.
9) Riwayat adanya cacat bawaan atau kehamilan masa lalu
10) Ibu seorang perokok berat, kecanduan obat dan memiliki hobi minum-minuman keras.
3. Buah Naga
Buah naga (Hylocereus sp.) merupakan tanaman jenis kaktus yang berasal dari Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Meksiko. Tanaman yang awalnya dikenal sebagai tanaman hias ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi karena buahnya berkhasiat menurunkan kadar gula darah dan kolesterol, mencegah kanker usus, penguat fungsi ginjal dan tulang, pelindung kesehatan mulut, pencegah pendarahan dan gejala keputihan, menguatkan daya kerja otak dan meningkatkan ketajaman mata.
Buah naga biasanya dikonsumsi dalam bentuk buah segar sebagai penghilang dahaga, karena buah naga mengandung kadar air tinggi sekitar 90% dari berat buah. Rasanya cukup manis karena mengandung kadar gula mencapai 13-18 briks. Buah naga juga dapat disajikan dalam bentuk jus, sari buah, manisan, maupun selai atau beragam bentuk penyajian sesuai selera.
Secara umum buah naga juga mengandung zat besi 0,65 mg, vitamin B1 0,28-0,043 g, vitamin B2 0,043- 0,045 g, vitamin B3 0,297-0,43 g, dan vitaminC 8-9 g, selain itu juga memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi yaitu 11,5 g, asam 0,139 g, protein 0,53 g, serat 0,71 g, kalsium 134,5 mg, fosfor 8,7 mg, magnesium 60,4 mg, vitamin C 9,4 mg.
Selain kandungan nutrisi pada buah naga tersebut dalam 100 g buah naga memiliki kandungan protein 0,53 gram (Elisa, 2016). Kemudian zat besi dalam buah naga akan berikatan dengan kandungan protein apoferin (4600.000) untuk membentuk ferritin.
Bila jumlah besi di dalam plasmaturun sangat rendah, besi akan dikeluarkan dari feritin dengan sangat mudah, besi kemudian ditranspor ke bagian tubuh yang memerlukan. Bila sel darah merah telah mencapai masa hidupnya dan dihancurkan, hemoglobin yang dikeluarkan dari sel dicernakan oleh sel retikuloendotel kemudian dapat disimpan dalam pangkalan ferritin atau dipakai kembali untuk pembentukan hemoglobin (Aulya, 2021).
Anemia Defisiensi Besi
Rendahnya masukan zat besi
Gangguan absorbsi Kehilangan besi akibat pendarahan
Kurang Gizi
Penyakit Menahun Peningkatan volume
plasma darah dan massa darah
Viskositas darah menurun
Hemodilusi 4. Kerangka Teori
Sebagai bahan acuan dalam penelitian ini, kerangka teori yang digunakan adalah Teori modifikasi Prawirodihardjo (2010), dan Sharon J.
Reeder (2015) yang dapat digambarkan sebagai berikut :
BAB III
METODE PENELITIAN Penyuluhan Klien
Mempengaruhi kadar HB dalam Tubuh
Konseling Nutrisi
Non Farmakologis Buah Naga
3.1 Kerangka Konsep
Kerangkan konsep memuat variabel bebas dan terikat yang akan diteliti serta variabel lainnya jika diperlukan. Secara skematis kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Bagan 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
3.2 Variabel dan Definisi Konseptual
Berdasarkan variabel pada kerangka konsep penelitian, maka penulis memberikan batasan-batasan dalam defenisi operasional sebagai berikut :
Tabel 3.1 Definisi Konseptual
No Variabel Defenisi Operasional
1. Kadar HB Ibu Hamil Hasil ukur kadar hemoglobin dalam darah ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia masa kehamilan
2. Pemberian Buah Naga Suatu cara nonfarmakologis dengan memberikan buah naga untuk meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah
Pre Test Proses Post Test
Kadar Hemoglobin Ibu Hamil
Pemberian Jus Buah Naga
Kadar Hemoglobin Ibu Hamil
3.3 Hipotesis Ha :
Adanya pengaruh pemberian buah naga terhadap peningkatan kadar hemoglobin ibu hamil
Ho :
Tidak adanya pengaruh pemberian buah naga terhadap peningakatan kadar Hemoglobin ibu hamil
3.4 Desain dan Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode studi literatur. Studi literatur bisa didapat dari berbagai sumber baik jurnal, buku, dokumentasi, internet dan pustaka. Metode studi literatur adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelolah bahan penulisan (Zed, 2008 dalam Nursalam, 2016). Jenis penulisan yang digunakan adalah studi literatur review yang berfokus pada hasil penulisan yang berkaitan dengan topik atau variabel penulisan.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data (Literatur) antara lain : 1. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode untuk mencari dokumen atau data- data yang dianggap penting melalui artikel atau jurnal serta melalui media elektronik yang kaitannya dengan diterapkannya penelitian ini. Dokumen yang telah diperoleh melalui jurnal sebelumnya kemudian dianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh (Saryono, 2011)
2. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan bisa didapatkan dari berbagai sumber, jurnal, buku dokumentasi, internet dan pustaka.
3.6 Teknik Pengolahan Data (Literatur)
Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari hasil-hasil penelitian yang sudah dilakukan dan diterbitkan dalam jurnal online nasional dan internasional. Dalam melakukan penelitian ini peneliti melakukan pencarian jurnal penelitian yang dipublikasikan di internet menggunakan seach engine Schoolar dengan kata kunci pemberian jus buah naga terhadap peningkatan kadar hemoglobin ibu hamil.
3.7 Metode Analisis Data (Literatur)
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis anotasi bibliografi (annotated bibliography). Anotasi berarti suatu kesimpulan sederhana dari suatu artikel, buku, jurnal, atau beberapa sumber tulisan yang lain, sedangkan bibliografi diartikan sebagai suatu daftar sumber dari suatu topik. Dari kedua definisi tersebut, anotasi bibliografi diartikan sebagai suatu daftar sumber sumber yang digunakan dalam suatu penelitian, dimana pada setiap sumbernya diberikan simpulan terkait dengan apa yang tertulis didalamnya. Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam suatu analisis anotasi bibliografi. Ketiga hal tersebut yaitu :
1. Identitas sumber yang dirujuk.
2. Kualifikasi dan tujuan penulis.
3. Simpulan sederhana mengenai konten tulisan.
4. Pentingnya sumber yang dirujuk dalam menjawab permasalahan yang telah dirumuskan.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S., (2016), Dasar Ilmu Gizi, PT Gramedia Pustaka, Jakarta
Arisman, M.B., (2017), Buku Ajar Ilmu Gizi Dalam Daur Kehidupan, Edisi-2, EGC, Jakarta Arisman, M.B., (2017), Gizi dalam Daur Kehidupan, EGC, Jakarta
Basuni, R., (2018), Gambaran sel darah merah, kadar haemoglobin, nilai hematokrit, dan indkes eritrosit pada kerbau lumpur (bubalus bublais) betina. Skripsi, Institut Pertanian Bogor
Cunningham, F.G., (2017), Obstetri Williams, Edisi 23, EGC, Jakarta
Demaeyer. E.M., (2016), Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defisiensi Besi. Alih Bahasa, Arisman, M.B., Widya Medika, Jakarta
Dinkes Prov. Banten., (2019), Profil Kesehatan Provinsi Banten Tahun 2019, Dinas kesehatan Provinsi Banten
Hidayat, A., (2017), Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif, Health Books, Jakarta
Istiyati, S., Satriyandari, Y., (2019), Hubungan Anemia Pada Ibu Hammil Dengan Kejadian BBLR Di RS PKU Muhammadiyah. Skripsi, Universitas ‘Aisyiyah, Yogyakarta
Notoatmodjo, S., (2016), Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta Proverawati, A., Asfuah, A., (2018), Anemia dan Anemia kehamilan. Nuha Medika,
Yogyakarta
Riskesdas., (2018), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI tahun 2018, dari http://www.depkes.go.id/resources/download
/infoterkini/materi_rakorpop_2018/Hasil%20Riskesdas%202018.pdf diakses tanggal 15 Desember 2020
Sari, W.A., (2015), Anemia Defisiensi Besi Pada Balita. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat/ Ilmu Kedokteran Pencegahan/ Ilmu Kedokteran Komunitas. Medan.
Skripsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatra Utara.
WHO., (2020). Prevalence of anemia in women. The global health observatory explore a world of health data. World Helath Organization. https://www.who.int/data /gho /data/indicators/indicator-details/GHO/prevalence-of-anaemia-in-women-of-
reproductive-age-(-) diakses tanggal 25 Desember 2020