• Tidak ada hasil yang ditemukan

efektivitasrelaksasi genggam jari dan relaksasi otot

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "efektivitasrelaksasi genggam jari dan relaksasi otot"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Apakah relaksasi genggaman jari dan relaksasi otot progresif efektif terhadap tingkat nyeri pasca laparotomi dengan anestesi umum?” Terdapat perbedaan efektivitas tingkat nyeri antara relaksasi genggaman jari dan relaksasi otot progresif pada pasien pasca laparotomi dengan anestesi umum di RS Mardi Waluyo Blitar Tingkat nyeri sebelum dan sesudah relaksasi genggaman jari, relaksasi otot progresif dan kelompok kontrol.

Sedangkan data spesifiknya adalah tingkat nyeri sebelum dan sesudah relaksasi genggaman jari dan relaksasi otot progresif, serta kelompok kontrol. Berdasarkan hasil kesimpulan penelitian mengenai efektivitas relaksasi jari dan otot progresif terhadap tingkat nyeri pada pasien pasca operasi laparotomi di Ruang Dahlia RS Mardi Waluyo Blitar diatas, peneliti ingin memberikan saran sebagai berikut. Efektivitas relaksasi genggaman jari terhadap penurunan skala nyeri pada pasien pasca operasi caesar di RS Prof. rumah sakit daerah.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas relaksasi genggaman jari dan relaksasi otot progresif terhadap tingkat nyeri pada pasien pasca operasi laparotomi dengan anestesi umum.

Gambar 2.1 Numeric Rating Scale (NRS) Sumber: Sulistyo, 2013
Gambar 2.1 Numeric Rating Scale (NRS) Sumber: Sulistyo, 2013

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Dasar Relaksasi Genggam Jari

Konsep Dasar Relaksasi Otot Progresif

Relaksasi otot progresif adalah teknik mengendurkan otot-otot bagian dalam pada bagian tubuh tertentu atau seluruhnya melalui program terapi ketegangan otot. Gerakan membuka: Pejamkan mata secara perlahan, lanjutkan dengan menarik napas dalam-dalam, menghirup udara melalui hidung, menghembuskannya perlahan melalui mulut. Tarik jari-jari kaki ke atas dan regangkan kaki serta betis selama beberapa detik, tarik napas melalui hidung, lalu rilekskan kembali, buang napas melalui mulut.

Luruskan kedua kaki, lalu regangkan paha dan bokong selama beberapa detik dengan bersandar pada tumit kaki sambil menarik napas melalui hidung, lalu rileks kembali sambil menghembuskan napas melalui mulut. Luruskan kedua lengan dan jari, lalu regangkan otot-otot tangan dan jari sambil mengepalkan tangan erat-erat selama beberapa detik sambil menarik napas melalui hidung, lalu melepaskannya kembali sambil menghembuskan napas melalui mulut.

Konsep Dasar Nyeri

Karena struktur reseptornya kompleks, nyeri yang timbul bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi. Nyeri yang timbul dari reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap transeksi organ, namun sangat sensitif terhadap kompresi, iskemia, dan inflamasi. Peningkatan perhatian dikaitkan dengan peningkatan nyeri, sedangkan gangguan dikaitkan dengan penurunan respons nyeri.

Nyeri radiasi adalah sensasi nyeri yang menjalar dari lokasi awal cedera hingga ke bagian tubuh lainnya. Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi setelah cedera akut, penyakit, atau prosedur pembedahan dan mempunyai onset yang cepat, intensitas bervariasi (ringan sampai berat), dan berlangsung dalam waktu singkat (Meinhart dan McCaffery dalam Smalzer, 2001).

Konsep Dasar Laparatomi

Bab ini menguraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai efektivitas pemberian tindakan relaksasi jari tangan dan otot progresif terhadap tingkat nyeri pada pasien pasca operasi laparotomi dengan anestesi umum di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Data khusus disajikan mengenai hasil tingkat nyeri pada pasien pasca operasi dengan anestesi umum. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat nyeri pasca operasi laparotomi pada pasien pasca relaksasi otot progresif berada pada kategori nyeri skala sedang.

Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul “Efektivitas Relaksasi Genggaman Jari dan Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tingkat Nyeri Pada Pasien Pasca Operasi Laparotomi di Ruang Dahlia RS Mardi Waluyo Blitar” yang dilakukan pada tanggal 28 Januari hingga 31 Maret 2020 ., dapat disimpulkan bahwa. Efektivitas Teknik Relaksasi Otot Progresif dan Relaksasi Autogenik Terhadap Tingkat Nyeri Pada Pasien Pasca Operasi Caesar Di Ruang Cempaka RSUD Ngudi Waluyo.

Tabel 3.1 Tabel Desain Penelitian
Tabel 3.1 Tabel Desain Penelitian

Konsep General Anastesi

Kerangka Konsep

Trauma perut (tumpul dan tajam) atau pecahnya hati, peritonitis, perdarahan saluran cerna. Pendarahan Dalam), penyumbatan di usus kecil dan besar, massa di perut. Usia, jenis kelamin, budaya, makna nyeri, perhatian, kecemasan, kelelahan, dukungan sosial dan keluarga, gaya koping. Dari kerangka konsep di atas diketahui bahwa operasi laparotomi dilakukan bila pasien mempunyai indikasi antara lain trauma perut (tumpul dan tajam) atau pecahnya hati, peritonitis, perdarahan pada saluran cerna (Internal Bleeding), sumbatan pada saluran cerna kecil dan besar. usus, dan massa perut.

Pasien yang menjalani operasi laparotomi akan mengalami kerusakan jaringan setelah operasi akibat rangsangan mekanis yang mencegah timbulnya nyeri. Penatalaksanaan nyeri dapat dilakukan dengan dua cara, pertama penatalaksanaan farmakologis yaitu induksi/anestesi dan analgesik, sedangkan kedua penatalaksanaan nonfarmakologis meliputi relaksasi genggaman jari dan relaksasi otot progresif. Teknik relaksasi genggaman jari menghasilkan rangsangan hidung ketan yang mengaktifkan transmisi serabut sensorik A-beta, setelah itu sel penghambat pada tanduk dorsal menghambat transmisi nyeri dan gerbang klik menutup dan memastikan tidak ada nyeri yang ditransmisikan, sedangkan teknik relaksasi genggaman jari progresif. teknik relaksasi penyebab CRH. Sekresi ACTH menurun dan adrenalin juga menurun sehingga melepaskan penghambat transmisi nyeri yaitu serotonin, opioid, endogen (endorphin enkaphalin), yang merangsang saraf parasimpatis dan selanjutnya memastikan nyeri tidak menular.

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat nyeri pasien setelah dilakukan relaksasi genggam jari masuk dalam kategori nyeri skala sedang.

METODE PENELITIAN

Kerangka Kerja Penelitian

Seluruh pasien pasca operasi laparotomi dengan anestesi umum di RS Mardi Waluyo Blitar dengan jumlah responden 30 orang dalam 3 bulan terakhir.

Populasi, Sampel, dan Sampling

Variabel Penelitian

Definisi Operasional

Lokasi dan Waktu Penelitian

Perbedaan intensitas nyeri antara pemberian relaksasi autogenous dan relaksasi genggaman jari pada pasien pasca operasi laparotomi di ruang Emerald (bedah) RS Lavalette.

Tahap Pengumpulan Data

Instrumen Pengumpulan Data

Teknik Pengolahan Data

Pengolahan Data

Moewardi, terdapat perbedaan tingkat nyeri yang signifikan pada relaksasi cubitan jari sebelum dan sesudah. Moewardi, terdapat perbedaan signifikan relaksasi otot progresif sebelum dan sesudah tingkat nyeri. Namun secara statistik teknik relaksasi otot progresif mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam menurunkan tingkat nyeri dibandingkan dengan teknik relaksasi genggaman jari dan kelompok kontrol.

Analisa Data

Penyajian Data

Hasil analisis data pada penelitian ini akan disajikan dalam bentuk tabel untuk menyajikan karakteristik responden berdasarkan data demografi atau data umum, seperti: usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan tertinggi, diagnosis medis, dan riwayat bedah. Selain itu, data tingkat nyeri ditampilkan dalam bentuk tabel untuk menggambarkan rata-rata data sebelum dan sesudah secara keseluruhan dan keseluruhan serta akan disajikan dalam bentuk naratif yaitu menyampaikan dari pengumpulan data hingga kesimpulan.

Etika Penelitian

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Tempat Penelitian

Lokasi pengambilan data penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Daerah Mardi Waluyo Kota Blitar yang merupakan rumah sakit milik pemerintah daerah Kota Blitar yang terletak di Jl. Kalimantan 113 Blitar, rumah sakit ini mempunyai visi yaitu Menjadi RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar sebagai rumah sakit utama pilihan yang dapat dipercaya melayani seluruh masyarakat pada tahun 2021. RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar merupakan rumah sakit non pendidikan kelas B berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 735/MENKES/SK/VI/2007 dan sejak tanggal 18 Maret 2009 RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar didirikan .

Jenis kasus operasi laparotomi di ruang Dahlia dengan menggunakan anestesi umum antara lain kasus perforasi, hernia umbilikalis, kollitiasis, divertikulitis, radang usus buntu akut, dan peritonitis. Penatalaksanaan nyeri pada pasien pasca operasi di Ruang Dahlia menggunakan teknik farmakologi yang bekerjasama dengan dokter dan teknik non farmakologi. Teknik non farmakologi yang dilakukan di Ruang Dahlia berdasarkan dokumen SOP arsip RSUD Mardi Waluyo yaitu penggunaan metode relaksasi nafas dalam.

Untuk implementasi dalam pengobatan pasien adzalah nyeri dengan melakukan penilaian pasien sesuai formulir penilaian nyeri awal untuk pasien dewasa, selanjutnya akan dinilai kembali menggunakan formulir penilaian ulang nyeri setelah dilakukan intervensi farmakologi dan non farmakologi. Dalam penilaian nyeri dan penentuan skala nyeri menggunakan alat ukur skala nyeri VAS (Visual Analog Scale).

Data Umum

Berdasarkan Tabel 4.1 terlihat bahwa dari 10 responden tiap kelompok, rentang usia terbesar pada kelompok genggaman jari adalah pada rentang usia 46-55 tahun, yaitu sebanyak 4 responden (40%), sedangkan usia terendah adalah 40 responden. rentang usia 26-35 tahun yaitu 0 responden (0%). Pada kelompok otot progresif jumlah terbesar terdapat pada kategori umur 56-65 tahun sebanyak 3 responden (30%), sedangkan kategori umur terendah 36-45 tahun sebanyak 1 responden (10%). Pada kelompok kontrol tanpa pengobatan, jumlah terbesar terdapat pada kategori usia 36-45 tahun sebanyak 3 responden (30%) dan 56-65 tahun sebanyak 3 responden (30%), sedangkan kategori usia terendah adalah 17-25 tahun. bertahun-tahun. yaitu 0 responden (0%).

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin masing-masing kelompok sebanyak 10 responden menunjukkan bahwa pada kelompok genggaman jari dengan jenis kelamin terbesar yaitu berjenis kelamin laki-laki sebanyak 6 responden (60%), sedangkan perempuan sebanyak 4 responden (40%). Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan masing-masing kelompok sebanyak 10 responden menunjukkan bahwa pada kelompok genggaman jari tingkat pendidikan tertinggi adalah SD sebanyak 4 responden (40%), sedangkan yang paling sedikit adalah SI sebanyak 1 responden (10%). ). Pada kelompok otot progresif, tingkat pendidikan tertinggi adalah SMA sebanyak 4 responden (40%), sedangkan SD, SMP dan S1 masing-masing sebanyak 2 responden (20%).

Pada kelompok kontrol tanpa perlakuan, tingkat pendidikan tertinggi adalah SD sebanyak 5 responden (50%), sedangkan terendah S1 sebanyak 1 responden (10%). Karakteristik responden berdasarkan diagnosa dari 10 responden setiap kelompok menunjukkan bahwa pada kelompok genggaman jari diagnosis tertinggi adalah perforasi yaitu 4 responden (40%), sedangkan diagnosis lainnya masing-masing 1 responden (10%). Pada kelompok otot progresif diagnosis terbanyak adalah perforasi yaitu 4 responden (40%), sedangkan diagnosis paling sedikit adalah divertikulitis yaitu 0 responden (0%).

Karakteristik responden berdasarkan riwayat operasi masing-masing kelompok sebanyak 10 responden menunjukkan bahwa pada kelompok finger grip riwayat operasi tertinggi tidak pernah sebanyak 8 responden (80%), sedangkan yang paling sedikit sebanyak 2 responden (20%). Pada kelompok otot progresif, riwayat operasi terbanyak sebanyak 8 responden (80%) yang belum pernah menjalani operasi, sedangkan riwayat operasi paling sedikit sebanyak 2 responden (20%). Pada kelompok kontrol tanpa pengobatan riwayat operasi terbanyak sebanyak 7 responden (70%), sedangkan riwayat operasi paling sedikit sebanyak 3 responden (30%).

Data Khusus Penelitian

  • Tingkat Nyeri Pada Pasien Post Op Laparatomi Pasien Sebelum dan
  • Tingkat Nyeri Pada Pasien Post Op Laparatomi Pasien Sebelum dan

Dari hasil uji statistik uji t berpasangan (terlampir) yang menunjukkan p-value = 0,015 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tingkat nyeri sebelum dan sesudah relaksasi genggaman jari. Berdasarkan hasil uji statistik uji t berpasangan (terlampir) yang menunjukkan p-value = 0,003 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tingkat nyeri sebelum dan sesudah relaksasi otot progresif. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata skala nyeri pasien pasca laparotomi sebelum dilakukan relaksasi otot progresif berada pada kategori nyeri sedang dan kategori nyeri berat.

Saya menyatakan telah mendapat penjelasan secara rinci dan memahami penelitian yang akan dilakukan oleh Nisrina Fauziah yang berjudul “Efektivitas relaksasi genggaman jari dan relaksasi otot progresif terhadap tingkat nyeri pada pasien anestesi umum pasca operasi laparotomi”.

Tabel 4.3 Prosentase   tingkat   nyeri   pada   pasien   post  op laparatomi sebelum dan sesudah dilakukan tindakan Relaksasi Otot Progresif di Ruang Dahlia RSUD Mardi Waluyo Blitar.
Tabel 4.3 Prosentase tingkat nyeri pada pasien post op laparatomi sebelum dan sesudah dilakukan tindakan Relaksasi Otot Progresif di Ruang Dahlia RSUD Mardi Waluyo Blitar.

Gambar

Gambar 2.1 Numeric Rating Scale (NRS) Sumber: Sulistyo, 2013
Tabel 3.1 Tabel Desain Penelitian
Gambar 3.1 Kerangka KerjaMENGOBSERVASI
Tabel 3.2 Tabel Definisi Operasional No Variabel Definisi
+5

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji hipotesis ini menyatakan bahwa harga sig(2-.tailed) > 0,05. Berdasarkan hasil yang diperoleh peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa H0 diterima atau H1 ditolak,

Hasil uji T (t-test) kelas kontrol dan eksperimen memiliki nilai signifikan (2-tailed) 0.000 < 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga terjadi signifikan

Variabel ketersediaan karkas ayam broiler, yaitu signifikasi > α memiliki signifikasi sebesar 0,258 > 0,050, H0 diterima dan H1 ditolak, sehingga harga

keperawatannya dengan kualitas tidak baik, sebanyak 11 orang (30,6%). 2- tailed) = 0,291 > nilai a = 0,05 yang artinya H0 diterima dan H1 ditolak artinya secara

Hasilnya coba perhatikan tabel ANOVA di atas mendapatkan nilai “sig” (0.000) lebih kecil dari nilai alfa (0,05) maka H0 ditolak atau H1 diterima berarti Kadar glukosa

Hasil uji T (t-test) kelas kontrol dan eksperimen memiliki nilai signifikan (2-tailed) 0.000 < 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga terjadi signifikan

Berdasarkan uji hipotesis menunjukkan bahwa nilai signifikan 2-tailed adalah 0,000, Karena nilai signifikan 2-tailed 0,000 < α = 0.05 maka Ho ditolak dan H1 diterima, yang berarti

Variabel perputaran piutang diperoleh nilai prob > α=5% 0,127 > 0,05 dan berdasarkan nilai ini dapat dinyatakan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, sehingga secara parsial perputaran