• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of The THE EFFECTIVENESS OF PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION THERAPY ON MENSTRUAL PAIN INTENSITY IN ADOLESCENT WOMEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of The THE EFFECTIVENESS OF PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION THERAPY ON MENSTRUAL PAIN INTENSITY IN ADOLESCENT WOMEN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 2302-4283 (print) ISSN 2580-9571 (online)

Online di https://jurnal.poltekkes-soepraoen.ac.id DOI: 10.47794/jkhws

91 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023

PENGARUH RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP INTENSITAS NYERI MENSTRUASI MAHASISWA TINGKAT 2 AKADEMI KEPERAWATAN KESDAM

ISKANDAR MUDA BANDA ACEH

Ratna Juwita1, Eri Riana Pertiwi2

1,2Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh (Korespondensi: [email protected])

ABSTRAK

Pendahuluan: nyeri menstruasi dapat menghambat aktivitas remaja sehingga terjadi penurunan prestasi remaja di sekolah. Dengan pemberian Teknik relaksasi otot progresif. dapat mengurangi serangkaian kontraksi dan menimbulkan relaksasi pada otot tertentu yang dapat mempengaruhi rasa nyeri penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif dalam menurunkan intensitas nyeri menstruasi. Metode: penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan quasi eksperiment menggunakan pendekatan one group pre posttest design. populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa TK II Akper Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh sebanyak 239 orang, dan jumlah sampel sebanyak 42 orang yang dipilih secara purposive sampling. Terapi ini diberikan pada hari pertama sampai hari ketiga menstruasi, dilakukan dua kali dalam satu hari sebanyak 15 gerakan selama 30 menit. Intensitas nyeri menstruasi diukur menggunakan skala numerik dan dianalisis dengan uji paired t-test dan uji independent samples t-test. Hasil: Hasil Penelitian ini mayoritas responden berusia 20 tahun mencapai 54,8%, usia menarche mayoritas responen 12 tahun mencapai 31,0%, lama menstruasi mayoritas responden 1 sampai 6 hari mencapai 71,4% dan durasi nyeri mayoritas responden 3-4 hari mencapai 52,4 %. Teknik relaksasi otot progresif efektif dalam mengurangi nyeri menstruasi (ρ=0,000). Kesimpulan: Teknik relaksasi otot progresif efektif dalam mengurangi nyeri menstruasi. Diharapkan keluarga dan tenaga kesehatan dapat terlibat dalam menerapkan Teknik relaksasi otot progresif pada remaja untuk mengurangi nyeri menstruasi.

Kata kunci: menstruasi; nyeri; relaksasi otot progresif.

THE EFFECTIVENESS OF PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION THERAPY ON MENSTRUAL PAIN INTENSITY IN ADOLESCENT WOMEN

ABSTRACT

Introduction: Menstrual pain can inhibit the activities of adolescents so that there is a decrease in adolescent achievement at school. With the provision of progressive muscle relaxation techniques. can reduce a series of contractions and cause relaxation in certain muscles that can affect pain. This study aimed to determine the effect of progressive muscle relaxation in reducing pain intensity. Methods: This research is quasi-experimental research using a pre-posttest design approach. The population in this study was grade II students of Kesdam Iskandar Muda Nursing Academy that consists of 239 students. The total of sample

(2)

92 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023

was 42 students and selected by purposive sampling. This therapy is given on the first day to the third day of menstruation and performed twice a day for 15 movements for 30 minutes.

Results: The majority of respondents aged 20 years reached 54.8%. The age of menarche was the majority of respondents 12 years reached 31.0%. The length of menstruation for the majority of respondents 1 to 6 days reached 71.4% and the duration of pain in 3-4 days reached 52.4%. The progressive muscle relaxation technique is effective in reducing menstrual pain (ρ=0.000). Conclusion: Progressive muscle relaxation technique is effective in reducing menstrual pain. It is hoped that with the involvement of health workers and families, they can apply effective progressive muscle relaxation techniques in the adolescents to reduce pain.

Keywords: Menstruation; pain; Progressive muscle relaxation

PENDAHULUAN

Masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju usia dewasa. Perubahan fisik dan emosional secara kompleks akan terlihat pada masa ini. Perubahan primer yang tampak pada remaja perempuan yaitu perubahan seperti pertumbuhan puting susu dan payudara, pertumbuhan rambut di area pubis, area aksila, pinggul dan pelvis melebar, sedangkan perubahan sekunder yaitu

perubahan hormonal yang

menyebabkanterjadinya menarche atau menstruasi pada remaja. Menstruasi merupakan proses keluarnya darah melalui jalan lahir atau vagina yang terjadi secara berkala dan adanya siklik dari rahim yang disertai pelepasan lapisan endometrium (Hikmah et al., 2018). Remaja yang telah

mengalami menstruasi, biasanya akan mengalami beberapa permasalahan selama fase menstruasi seperti menstruasi yang tidak teratur, menorhagia, dismenore (nyeri menstruasi) dan gejala lainnya.

Hampir sekitar 60%-90% Wanita mengeluh nyeri saat menstruasi.

Dismenore merupakan nyeri yang dirasakan saat menjelang atau selama menstruasi. Nyeri tersebut dapat bersifat primer maupun sekunder yang akibatkan oleh adanya peningkatan hormone prostaglandin sehingga menyebabkan kontraksi pada otot uterus. Berdasarkan studi epidemiologi di negara Lebanon Prevalensi Nasional Primary Dysmenorrhea berkisar antara 38,1 dan 89,6 % dari katagori kelompok umur dan pekerjaan yang berbeda. Sementara di

INFO ARTIKEL Riwayat Artikel:

Diterima:10 Februari 2023 Disetujui: 3 April 2023

Tersedia secara online: 30 April 2023:

Alamat Korespondensi:

Nama:Ratna Juwita

Afiliasi: Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh

Alamat:Jalan Mayjen T. Hamzah Bendahara Lr. Bahagia Kuta Alam Banda Aceh

Email:[email protected]

(3)

93 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 Indonesia Prevalensi dismenorea sebesar

107.673 jiwa (64,25%), yang terdiri dari 59.671 jiwa (54,89%) mengalami dismenorea primer dan 9.496 jiwa (9,36%) mengalami dismenorea sekunder. Remaja yang mengalami Dismenore primer sebesar 60% - 75% dan sebanyak 30% - 60% remaja wanita yang mengalami dismenorea, sebesar 7 % - 15% tidak pergi ke sekolah.

Dampak negatif yang di sebabkan dismenore primer secara signifikan dapat berpengaruh pada kesehatan yang berkaitan dengan kualitas hidup, aktivitas sehari-hari, dan kinerja akademik. Sekitar 42% remaja menyatakan mengalami keterbatasan dalam kegiatan sehari-hari dan 17% tidak masuk kerja atau sekolah.

Remaja sering mengabaikan dampak dismenore primer meskipun dampak tersebut mempengaruhi aktivitas sehari- harinya, hal ini asumsikan oleh remaja sebagai hal yang tabu dan memalukan sehingga remaja menganggapnya sebagai kondisi yang tidak bisa di hindari saat menstruasi. Dismenore harus mendapatkan penanganan dengan segera agar tidak memperburuk kondisi remaja putri yang mengalami nyeri menstruasi saat belajar mengajar sehingga menimbulkan kesulitan untuk berkonsentrasi akibat ketidaknyamanan yang dirasakan saat nyeri haid (Fatsiwi Nunik Andari, M Amin, 2018).

Sebahagian besar remaja memilih untuk mengkonsumsi obat analgesic sebagai penghilang rasa nyeri. Padahal untuk mengurangi nyeri haid yang mengganggu tidak hanya menggunakan terapi farmakologi namun dapat diberikan terapi nonfarmakologi, salah satunya dengan melakukan relaksasi otot progresif.

Relaksasi otot progresif merupakan metode terapi peregangan dan relaksasi dari otot-otot pada tubuh yang telah terbukti memiliki manfaat secara fisiologis dan psikologis. Relaksasi otot progresif efektif dalam mengatasi sakit kepala, sakit punggung, efek samping kanker, insomnia, nyeri, dan tekanan darah tinggi (Gökşin &

Ayaz-Alkaya, 2018)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Dewi et al., 2018) di dapatkan hasil uji statistik dengan nilai p- value sebesar 0,000 karena p-value < dari α 0,05 maka Ho ditolak, yang berarti ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan skala nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di Kota Tasik Malaya.

Penelitian lainnya tentang manfaat Relaksasi otot progresif dalam mengurangi nyeri menstruasi juga dilakukan oleh (Fira et al., 2021) pada remaja putri di Desa Pulau Jambu Wilayah Kerja Puskesmas Kuok dengan hasil yang menunjukkan bahwa relaksasi otot progresif yang dilakukan efektif memiliki pengaruh terhadap penurunan skala nyeri menstruasi

(4)

94 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 (dismenore) dengan nilai p value 0,000 (<

0,05).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap intensitas nyeri menstruasi pada mahasiswi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pengetahuan mahasiswi dalam menurunkan intensitas nyeri menstruasi yang dialami dan dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi dalam menurunkan intensitas nyeri menstruasi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian Quasy Eksperimen dengan pendekatan pretest dan postest design, dalam penelitian ini terdiri dari satu kelompok yang dilakukan pengumpulan data sebanyak 2 (dua) kali yaitu sebelum perlakuan (pretest) dan setelah perlakuan (posttest). Penentuan besar sampel menggunakan rumus Slovin dengan jumlah sampel sebanyak 42 orang.

Pengambilan sampel menggunakan non probability sampling dengan Teknik purposive sampling yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan memilih sampel sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti. untuk menentukan sampel peneliti mengidentifikasi berdasarkan data mahasiswi yang ada di Akper Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh.

Penelitian ini dilakukan dari tanggal 27 Juni sampai dengan 22 Juli 2022 di Akper Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh. Variabel dalam penelitian ini adalah Terapi Relaksasi Otot Progresif dalam menurunkan intensitas nyeri menstruasi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan lembar kusioner yang berisi data demografi, lembar pengukuran nyeri (menggunakan Numeric Rating Scale) dan SOP teknik relaksasi otot progresif. Analisa data yang digunakan peneliti adalah univariat dan bivariat. Analisa univariat digunakan untuk melihat karakteristik responden mencakup, umur, usia menarche, lama menstruasi, durasi nyeri. Analisa bivariat menggunakan uji Independent Sample Test (paired sample T-Test) untuk melihat keefektifan Terapi Relaksasi Otot Progresif dalam mengurangi intensitas nyeri menstruasi. Penelitian ini sudah mendapatkan izin etik dari Unit Penelitian Pengabdian Masyarakat Akper Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh dengan nomor 52/UPPM/XI/2022.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan uraian tabel 1, hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini berumur 20 tahun sebesar 54,8%, sedangkan usia menarche yang paling banyak adalah usia

(5)

95 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 12 tahun mencapai 31,0%. Lama

menstruasi yang paling dominan adalah 1- 6 hari dengan persentase 71,4%, dan durasi nyeri merupakan persentase yang paling tinggi yang mencapai 52,4% selama 3-4 hari

Tabel 1 Karakteristik Responden

Karakteristik f %

Umur

a. 19 tahun 19 45,4 % b. 20 tahun 23 54,8%

Usia menarche f %

a. 10 tahun 8 19,0 % b. 11 tahun 10 23,8%

c. 12 tahun 13 31,0 % d. 13 tahun 11 26,2%

Lama Menstruasi

a. 1-6 hari 30 71,4%

b. 6- 10 hari

12 26,2%

Durasi Nyeri

a. 1-2 hari 20 47,6%

b. 3-4 hari 22 52,4%

Berdasarkan uraian varian 3, setelah dilakukan uji variable95 Independen Sample Test diperoleh hasil nilai p value 0,000 yang bermakna p value <α (0,05). Hal ini bermakna Ha diterima dan H𝑜 ditolak, maka dapat diambil kesimpulan bahwa variab relaksasi otot progresif efektif untuk mengurangi Intensitas nyeri menstruasi.

Tabel 2 Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Dalam Menurunkan Intensitas Nyeri Menstruasi Pada MahasiwiTingkat II Akper Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh

Katagori Mean N Std Deviasi

P- Value Nyeri

pretest 2,5714 42 0,83060 ,000 Nyeri

Postest 1,6429 42 0,53289

Variabel Independen: Tenik Relaksasi Otot Progresif

Variabel Dependen: Intensitas Nyeri Menstruasi

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisa distribusi responden yang telah di lakukan pada mahasiswa Tingkat II Akper Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh didapatkan dari 42 responden, mayoritas responden berusia 20 tahun. Menurut hasil penelitian (Kristina et al., 2021). Pada umur tersebut proses pematangan fungsi saraf rahim menjadi lebih optimal sehingga dapat meningkatkan sekresi prostaglandin yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa sakit ketika pada saat menstruasi (Hikmah et al., 2018). Hasil analisa distribusi responden berdasarkan usia menarche sebagian responden mengalami menarche pada usia 12 tahun. Hal ini diperkuat oleh adanya hasil penelitian yang menyatakan bahwa remaja yang mendapatkan menarche pada usia lebih awal dapat menjadi faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian dismenore, hal ini dikarenakan alat reproduksinya belum berkembang secara optimal dan masih terjadi penyempitan pada leher Rahim (Fatsiwi Nunik Andari, M Amin, 2018).

Selanjutnya distribusi responden berdasarkan lamanya menstruasi didapatkan sebagian responden mengalami lama menstruasi 1-6 hari sebanyak 30 (71,4%). Hal ini di perkuat dari hasil

(6)

96 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 penelitian (Herawati, 2017) bahwa

responden yang mengalami lama menstruasi yang normal dan mengalami dismenorea sebanyak 34 (22,7%) kemudian responden yang tidak mengalami lama menstruasi normal dan tetap mengalami dismenorea sebanyak 107 (71,3%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p

= 0,823 maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan proporsi kejadian yang mengalami dismenorea antara responden yang lama menstruasi normal dan yang lama menstruasi tidak normal (tidak ada hubungan yang signifikan antara lama menstruasi dengan dismenorea). Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa nyeri menstruasi mahasiswi yang di latih terapi relaksasi otot mengalami penurunan intensitas nyeri menstruasi, PValue

<0,005. hal ini membuktikan bahwa relaksasi otot progresif dapat mengurangi aktivitas basal sistem saraf parasimpatik karena membantu tubuh menjadi lebih rileks. Keadaan rileks secara fisiologis ditandai dengan penurunan kadar epinephrine dan non-epineprine dalam darah, penurunan frekuensi denyut jantung, penurunan frekuensi nafas, penurunan ketegangan otot, penurunan metabolisme, vasodilatasi dan peningkatan temperature ekstremitas.

International Association for The Study of Pain (IASP), menyatakan nyeri merupakan suatu rasa dan pengalaman

emosional yang tidak menyenangkan yang disertai oleh kerusakan jaringan aktual dan potensial, yang dapat digambarkan dalam ragam yang kerusakan, atau sesuatu yang digambarkan dengan terjadinya kerusakan.

Nyeri merupakan sensasi yang penting bagi tubuh manusia, rasa nyeri di akibatkan adanya stimulus dari reseptor sensorik, Reseptor nyeri berfungsi menerima rangsang nyeri yang dipengaruhi oleh kerja ujung syaraf bebas dalam kulit yang memberi respon terhadap stimuli yang kuat secara potensial (Dan et al., 2021). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nyeri haid yang dirasakan oleh wanita disebabkan karena adanya jumlah prostaglandin yang berlebihan pada darah menstruasi sehingga merangsang hiperaktivitas uterus (Syamsuryanita & Ikawati, 2022).

Relaksasi otot progresif efektif dalam mengurangi rasa nyeri saat menstruasi. Terapi ini merupakan salah satu penanganan secara nonfarmakologis yang mudah untuk diterapkan, aman saat dilakukan dan sederhana, serta dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien.

Relaksasi otot progresif juga menjadi bagian dari intervensi pada asuhan keperawatan dalam beberapa tahun terakhir karena teknik relaksasi ini secara sistematis dapat mengurangi stres, kecemasan, depresi, persepsi nyeri, ketegangan otot serta kontraksi, dan

(7)

97 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 memfasilitasi tidur (Nisha beegum, 2016).

Hal ini sejalan dengan (Februanti et al., 2021) yang mengatakan bahwa terapi relaksasi otot progresif sebagai salah satu metode nonfarmakologis yang efektif untuk mengurangi intensitas, durasi, dan jumlah obat nyeri yang digunakan oleh anak perempuan dengan dismenore primer karena dapat menyebabkan terjadinya pelepasan endorfin, menjadi lebih relaksasi, menghilangkan stres, dan dapat meningkatkan aliran darah yang dapat mengurangi keparahan dan durasi dari dismenore. Terapi Relaksasi otot progresif dalam pelaksanaanya tidak memerlukan sugesti maupun imajinasi dan terapi ini dilakukan dengan memusatkan perhatian pada aktivitas otot dengan cara mengidentifikasi otot yang tegang kemudian menurunkan ketegangan tersebut dengan relaksasi (Kustriyanti & Boediarsih, 2018).

Teknik Relaksasi Otot Progresif atau Progressive Muscle Relaxation (PMR) bermanfaat untuk menurunkan resistensi perifer dan meningkatkan elastisitas pembuluh darah, otot-otot dan peredaran darah sehingga menjadi lebih sempurna dalam mengambil dan mengedarkan oksigen. Relaksasi otot progresif juga bersifat vasodilator yang memiliki efek untuk memperlebar pembuluh darah dan dapat menurunkan tekanan darah secara langsung serta dapat mengurangi rasa nyeri. (Marwati et al.,

2020). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Dewi et al., 2018) dengan judul penelitian pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan nyeri.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh relaksasi otot progresif dalam menurunkan nyeri.

Pada saat melakukan relaksasi otot progresif individu menjadi lebih terkontrol ketika merasakan ketidaknyamanan atau rasa nyeri, stres fisik dan emosi terhadap nyeri. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan yang mana pemberian relaksasi otot progresif secara rutin dapat menurunkan intensitas nyeri menstruasi. Relaksasi otot progresif dapat menurunkan tingkat nyeri dengan mekanisme merangsang aktifitas modulasi refleks sistem saraf simpatis dan frekuensi yang dapat mempengaruhi tahanan perifer.

Dari hasil observasi sebelum diberikan terapi relaksasi otot progresif didapatkan bahwa responden mengalami nyeri sedang dan setelah diberikan tindakan relaksasi otot progresif mengalami penurunan nyeri, hal ini disebabkan dengan pemberian relaksasi otot progresif secara signifikan diharapkan mampu menurunkan ketengangan otot dan menurunkan rasa nyeri sehingga menjadi lebih rileks. Hal tersebut terjadi karena adanya relaksasi yang dapat menurunkan intensitas nyeri, meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah

(8)

98 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 serta merangsang sekresi hormon

endorphin (Akbar et al., 2018). Hormon ini berfungsi sebagai penenang alami yang diproduksi otak dan susunan saraf tulang belakang yang bekerja dengan mengikat reseptor opiat yang ada pada sistem limbik, otak tengah, medulla spinalis dan usus. Reseptor opiat dan opiat endogen kemudian membentuk suatu sistem penekanan nyeri instrinsik. Ikatan antara opiat dengan reseptor itulah yang akan dapat mengurangi nyeri dengan mencegah pelepasan neurotransmiter sebagai penghasil nyeri (Nevy & Nurastam, 2019).

Penurunan nyeri pada responden menunjukan bahwa terapi relaksasi otot progresif efektif menurunkan nyeri menstruasi. Dari hasil wawancara diketahui bahwa pada hari pertama setelah diberikan relaksasi otot progresif selama 30 menit responden merasa rileks dan merasa nyeri berkurang, kemudian pada hari kedua dan ketiga setelah pemberian dilakukan responden menytakan bahwa selama menjalankan relaksasi responden merasa nyeri otot berkurang, badan terasa lebih rileks, kram diperut berkurang, nyeri di bagian kepala dan payudara juga berkurang. Hal ini didukung dengan teori (Soesanto et al., 2010) yang mengemukakan bahwa relaksasi otot progresif dapat menurunkan stimulus mediator nyeri sehingga nyeri yang

dirasakan responden berkurang baik secara kuantitas maupun kualitas.

Relaksasi otot progresif dapat digunakan sebagai salah satu terapi komplementer untuk mengurangi rasa nyeri. Dimana pada saat terapi dilakukan responden dilatih untuk konsentrasi, mengatur pernafasan serta menjaga kondisi rileks (Richard & Sari, 2020).

Dengan mengatur pernafasan dapat membantu tubuh untuk mengsuplai oksigen sebanyak mungkin, kemudian mengeluarkan CO2 dari dalam tubuh.

Dimana kondisi pada ini tubuh responden mengalami perfusi yang adekuat karena dapat mengantarkan suplai darah yang cukup ke dalam sel. Dalam kondisi ini diharapkan tubuh responden dapat mengobati nyeri secara mandiri dan memperbaiki sel- sel tubuh yang rusak (Wijaya & Nurhidayati, 2020).

Dengan melakukan gerakan- gerakan relaksasi otot progresif secara bertahap dapat menurunkan ketegangan otot, menciptakan sensasi rileks, mengurangi ketidaknyamanan dan stress.

Penurunan nyeri dismenore setelah dilakukan relaksasi otot progresif terjadi karena adanya kontraksi pada otot-otot tertentu yang dapat menimbulkan efek relaksasi dan rasa nyaman, sehingga nyeri yang dirasakan menjadi teralihkan dan berkurang (Sulistyorini, 2019).

(9)

99 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 Menurut (Pragholapati, 2020)

gerakan-gerakan relaksasi otot progresif melibatkan kelompok otot yang ditegangkan dan dilemaskan yang mana gerakan tersebut dilakukan secara perlahan sehingga dapat membuat sinap-sinap saraf simpatis maupun parasimpatis menjadi rileks. Intervensi relaksasi otot progresif ini, membuat otot menjadi rileks karena adanya rangsangan impuls yang memblokade persepsi nyeri dan stres ke hipotalamus sehingga sensasi nyeri menjadi berkurang (Aziz Ismail & Elgzar, 2018). Teknik relaksasi otot progresif membantu meringankan ketidaknyamanan selama menstruasi terjadi melalui proses peningkatan vasodilatasi pembuluh darah, dan peningkatan sekresi hormon endorfin yang berfungsi memblok reseptor nyeri di otak sehingga nyeri dapat berkurang (Amalia, 2018).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada 42 diresponden didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan intensitas nyeri mentruasi setelah diberikan terapi relaksasi otot progresif karena responden mampu menerapkan relaksasi otot progresif sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang sudah ditetapkan sebelumnya

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, I., Eka, D., & Afriyanti, E. (2018).

Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Disminore pada Mahasiswa A 2018 Fakultas Keperawatan Unand. Ners Jurnal Keperawatan Volume 10, No 1, Maret 2014 : 1-9 Pelepasan, 2004.

Amalia, N. (2018). Pengaruh Teknik Relaksasi Progresif Terhadap Tingkat Nyeri Haid (Dismenorrhea) Pada Mahasiswi Di Universitas

’Aisyiyah Yogyakarta Naskah Publikasi Program Studi Prodi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta 2018.

http://digilib.unisayogya.ac.id/4218/

Aziz Ismail, N. I. A., & Elgzar, W. T. I.

(2018). The Effect of Progressive Muscle Relaxation on Post Cesarean Section Pain, Quality of Sleep and Physical Activities Limitation.

International Journal of Studies in

Nursing, 3(3), 14.

https://doi.org/10.20849/ijsn.v3i3.461 Dan, F., Di, P., Chasan, R. H., & Ternate,

B. (2021).

https://ejournal.unkhair.ac.id/index.p hp/kmj. 3, 35–40.

Dewi, P. K., Patimah, S., & Khairiyah, I. I.

(2018). Pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan nyeri punggung bagian bawah ibu hamil trimester III. Jurnal Bidan “Midwife Journal,” 4(02), 16–24.

https://www.neliti.com/publications/2 67044/pengaruh-relaksasi-otot- progresif-terhadap-penurunan-nyeri- punggung-bagian-bawah#cite.

Fatsiwi Nunik Andari, M Amin, Y. P.

(2018). Pengaruh Masase Effleurage Abdomen Terhadap Penurunan Skala Nyeri Dismenorea Primer Pada Remaja Putri. Keperawatan Sriwijaya, 5(2355), 8–15.

Februanti, S., Kartilah, T., & Cahyati, P.

(2021). Acupressure And Progressive

(10)

100 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 Muscle Exercise Therapy Reduced

Dysmenorrhea Of Late Adolescent In Tasikmalaya, Indonesia. European Journal of Molecular & Clinical Medicine, 7(10), 1756–1760.

Fira, H., Apriza, A., & Wati, N. K. (2021).

Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Skala Nyeri Menstruasi (Dismenore) Pada Remaja Putri Di Desa Pulau Jambu.

PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(1), 400–407.

https://doi.org/10.31004/prepotif.v5i1 .1550

Friska, K., & Priasmoro, D. P. (2014).

Perubahan Intensitas Nyeri Tengkuk Akibat Hipertensi Pada Lansia Dengan Implementasi Teknik Relaksasi Otot Progresif (Studi Kasus di Poli Jantung RS. Militer Kota Malang). Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti, 2(4), 282-285.

Gökşin, İ., & Ayaz-Alkaya, S. (2018). The Effectiveness of Progressive Muscle Relaxation on the Postpartum Quality of Life: A Randomized Controlled Trial. Asian Nursing Research, 12(2), 86–90.

https://doi.org/10.1016/j.anr.2018.03.

003

Herawati, R. (2017). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Nyeri Haid (Dismenorea) pada Siswi Madrasah Aliyah Negeri Pasir Pengaraian.

Materniry and Neonatal Jurnal Kebidanan, 2(3), 161–172.

Hikmah, N., Amelia, C. R., & Ariani, D.

(2018). Pengaruh Pemberian Masase Effleurage Menggunakan Minyak Aromaterapi Mawar terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dismenore pada Remaja Putri di SMK Negeri 2 Malang Jurusan Keperawatan. Journal Of Issues In Midwifery, 2(2), 34–45.

https://doi.org/10.21776/ub.joim.2018 .002.02.4

Kristina, C., Hasanah, O., & Zukhra, R. M.

(2021). Perbandingan Teknik Relaksasi Otot Progresif dan Akupresur Terhadap Dismenore Pada Mahasiswi FKP Universitas Riau.

Health Care : Jurnal Kesehatan,

10(1), 104–114.

https://doi.org/10.36763/healthcare.v1 0i1.96

Kustriyanti, D., & Boediarsih, B. (2018).

Terapi Relaksasi Otot Untuk Dysmenorrhea. Jurnal Kebidanan, 1–

8. file:///paper/Terapi-Relaksasi-Otot- Untuk-Dysmenorrhea-Kustriyanti- Boediarsih/ (diakses pada: 21 September 2020)

Marwati, A. W., Rokayah, C., & Herawati, Y. (2020). Pengaruh Progressive Muscle Relaxation Terhadap Skala Nyeri pada Pasien Post Sectio Caesaria. Jurnal Ilmu Keperawatan

Jiwa, 3(1), 59.

https://doi.org/10.32584/jikj.v3i1.472 Nevy, S., & Nurastam, M. (2019). Teknik

Relaksasi Otot Progresif dan Relaksasi Autogenik Terhadap Tingkat Nyeri pada Pasien Post Operasi Seksio Caesarea. Jurnal Keperawatan Terapan Vol. 05 No.

02, 2019 Poltekkes Kemenkes Malang, 05(02), 145–154.

Nisha beegum, prof. M. B. C. . (2016).

Effect of Progressive Muscle Relaxation Technique on Pain and Anxiety Among Post Caesarean Mothers. Ijsr - International Journal of Scientific Research, 5(3), 11–24.

Pragholapati, A. (2020). Effect Of Progressive Muscle Relaxation Technique On Pain In Post Sectio caesarea. Jurnal Kesehatan Dr.

Soebandi, 8(2), 112–122.

https://doi.org/10.36858/jkds.v8i2.21 6

Richard, S. D., & Sari, D. A. K. W.

(2020). Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Dalam Menurunkan

(11)

101 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 Nyeri Sendi Pada Lansia Di Posyandu

Lansia. Jurnal Penelitian Keperawatan, 6(1), 28–34.

https://doi.org/10.32660/jpk.v6i1.448 Soesanto, E., Istiarti, T., & Pietojo, H.

(2010). Hypertension Elderly Practices in Controlling Personal Health in the Mranggen Demak Health Center Area. Indonesian Health Promotion Journal, 5(2).

https://ejournal.undip.ac.id/index.php/

jpki/article/viewFile/18697/13074 Sulistyorini, C. (2019). Efektivitas

Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dismenore Pada Remaja Putri. Jurnal Medika : Karya Ilmiah Kesehatan,

4(1), 10–15.

https://doi.org/10.35728/jmkik.v4i1.6 9

Syamsuryanita, & Ikawati, N. (2022).

Perbedaan Pemberian Air Jahe dan Air Kelapa Terhadap Penurunan Nyeri Haid Pada Remaja Putri di SMAN 3 Makassar Tahun 2020.

Jurnal Inovasi Penelitian, 2(9), 3089–3096. https://stp-mataram.e- journal.id/JIP/article/view/1278 Wijaya, E., & Nurhidayati, T. (2020).

Penerapan Terapi Relaksasi Otot Progresif Dalam Menurunkan Skala Nyeri Sendi Lansia. Ners Muda, 1(2), 88.

https://doi.org/10.26714/nm.v1i2.564 3

.

Referensi

Dokumen terkait

Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Kelas VII dan VIII tentang Pre Menstruasi Syndrome (PMS) di SMP Purnama Sintang Tahun 2015 didapat hasil tidak seorangpun dari responden

Based on results study article found that therapy Effective progressive muscle relaxation and music therapy can reduce the stress experienced by students due to online learning

PENGARUH RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP INSOMNIA PADA LANSIA DI UPT PANTI WERDHA MOJOPAHIT KABUPATEN MOJOKERTO (The Effect Of Progressive Muscle Relaxation To Insomnia On The

Ketika seseorang melakukan relaksasi nafas dalam untuk mengendalikan nyeri yang dirasakan, maka tubuh akan meningkatkan komponen saraf parasimpatik secara stimulan,

Intensitas Nyeri Persalinan Ibu Primigravida Kala 1 Fase Aktif Sebelum dan Sesudah Diberikan Effleurage Massage Dan Terapi Musik Klasik Mozart Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

Hasil dan Diskusi Hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang berjudul Self Care Education Pada Remaja Putri dengan Penyuluhan Kesehatan dan Pelatihan Senam Disminore Dalam Upaya