Laporan 5 praktikum fisiologi lingkungan
EFEK AEROSOL TERHADAP TUMBUHAN ANGIOSERM
Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat guna pelaksanaan praktikum Fisiologi Lingkungan
Oleh:
ULMI RAMAYUNITA 2108104010015
PROGRAM STUDI SARJANA BIOLOGI JURUSAN BIOLOGI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Aerosol adalah partikel mikroskopis, baik cair atau padat, yang ada di lingkungan. Beberapa sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh mata manusia dan terbuat dari molekul yang lebih kecil. Ada yang terlihat, namun ukurannya masih sangat kecil. Ukuran partikel menentukan periode waktu yang dihabiskannya di udara. Partikel yang lebih kecil dapat bertahan lebih lama di udara. Gravitasi menyebabkan partikel yang lebih besar mengendap di tanah.
Aerosol dapat disebabkan oleh proses alami, seperti debu dari daerah kering, garam dari laut, atau partikel yang dihasilkan oleh kebakaran hutan. Aerosol juga disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti polusi udara dan pembakaran bahan bakar fosil.(kruger 2012)
Semprotan aerosol adalah jenis sistem pelepasan yang menyebabkan kabut aerosol dalam bentuk partikel cair. Penggunaannya bisa melalui kaleng aerosol, berisi propelan bertekanan dan muatan. Saat katup wadah tidak terkunci, muatan akan keluar dari lubang kecil dan muncul ke permukaan sebagai kabut atau aerosol.
Selama pemuaian propelan untuk mengeluarkan muatan, hanya terjadi penguapan beberapa propelan di dalam kaleng, sehingga tekanan tetap dipertahankan. Partikel atau tetesan yang sangat halus dibiarkan tersuspensi karena penguapan cepat tetesan propelan di luar kaleng, sehingga meningkatkan bahaya kaleng aerosol (chylek 2019) 1.3 TUJUAN PENELITIAN
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan apakah penyemprotan aerasol mempunyai efek yang sama terhadap tumbuhan dikotil dam monokotil dan untuk menentukan apakah beberapa bahan kimia tertentu dapat bersifat lebih lethal terhadap tumbuhan dibandingkan dengan bahan kimia lainnya.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Semprotan aerosol memungkinkan pelepasan senyawa organik yang mudah menguap (VOC) ke atmosfer. Pelepasan ini memfasilitasi pencemaran lingkungan akibat interaksi VOC dengan oksida nitrogen. Reaksi ini menyebabkan terbentuknya lapisan ozon.
Selain itu, molekul ozon di permukaan tanah menimbulkan potensi ancaman terhadap lingkungan. Hal ini karena mereka juga dapat berinteraksi dengan sinar ultraviolet matahari untuk mengintensifkan pembentukan ozon di permukaan tanah, sehingga meningkatkan lapisan ozon pada hari-hari cerah.
Dengan mempertimbangkan dampak semprotan aerosol terhadap lingkungan, ingatlah juga bahwa tabung aerosol, dengan cara yang sama, meningkatkan polusi udara dan produksi kabut asap. VOC dalam tabung aerosol secara besar-besaran mengurangi visibilitas di lingkungan karena adanya kabut asap. Polutan gas tersebar luas di udara karena banyak nitrogen oksida yang dihasilkan seperti emisi industri dan kendaraan.Selanjutnya, tempat-tempat yang mengalami terlalu banyak kabut asap pada akhirnya menimbulkan terjadinya kabut asap regional. Kondisi tersebut merupakan salah satu dampak buruk kabut asap terhadap lingkungan karena kabut asap semakin parah pada lingkungan cuaca yang stagnan. Kondisi serupa terjadi pada hari-hari yang cerah.( breguier 2020)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 WAKTU DAN TEMPAT
Praktikum ini di lakukan di laboratorium fisiologi hewan, FMIFA ,universitas syiah kuala
3.2 ALAT DAN BAHAN
Alat -alat yang di gunakan pada praktikum ini adalah pot bunga ,
Bahan bahan yang di gunakan pada praktikum ini adalah tumbuhan monokotil ,tanah, dan cairan aerosol.
3.3 CARA KERJA
Isilah masing-masing pot bunga dengan tanah kebun, tanamlah biji-biji dikotil pada lima (5) buah pot, dan biji-biji monootil pada lima buah pot lainnya.
Kemudian Siramlah masing-masing pot secukupnya agar dapat tumbuh normal.
Apabila tanaman telah tumbuh mencapai ketinggian 6 hingga 8 cm, kerjakanlah selanjutnya sebagai berikut: a. Labellah 5 buah pot bunga dengan D1, D2, D3, D4 dan D5 dan labellah 5 buah pot yang lain dengan M1, M2, M3, M4 dan M5, Janganlah menyemprot pot bunga D1 dan M1. Pot-pot ini akan dipakai sebagai kontrol. c.
Semprotlah tanaman yang terdapat pada pot bunga D2 dan M2 dengan menggunakan
“Right Guard Deodorant” satu kali. Semprotlah pot bunga D3 dan M3 dengan “Right Guard Deodorant” pada saat waktu yang sama setiap hari selama 3 hari berturut-turut.
e. Semprotlah pot D4 dan M4 dengan “Style Hair Spray” satu kali. f. Semprotlah pot D5 dan M5 dengan “Style Hair Spray” pada saat waktu yang sama setiap hari selama 3 hari berturut-turut. g. Pemakaian “semprotan” harus dalam jumlah yang sama sebanyak mungkin, dengan memegang “kaleng” berjarak 10-15 cm di atas tanaman.
h. Amati dan catatlah datanya (gejala) setiap hari selama 2 minggu sesudah penyemprotan pertama.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL PERCOBAAN
Berdasarkan praktikum yang telah di lakukan di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.1. Pengamatan Efek Aerosol Terhadap Tumbuhan Angiosperm
No Tanaman Larutan Spray Perlakuan Gejala yang Tampak 1 Jagung (Merk) Hair Mist Kontrol Tidak ada gejala
Penyemprotan 1x
Daunnya layu dan berminyak
Penyemprotan 3x
Daunnya sangat layu dan berminyak (hampir mati) 2 Kacang
Merah
(Merk) Body Mist Kontrol Tidak ada gejala Penyemprotan
1x Daun s
Penyemprotan 3x
Daun 3 Kacang
Hijau
(Merk)
PelicinPakaian
Kontrol Tidak ada gejala Penyemprotan
1x
Daun sedikit layu namun masih kerhijauan Penyemprotan
3x
Daun menguning dan sangat layu
4.2. PEMBAHASAN
Larutan seperti body mist, hair mist, dan pelicin pakaian mengandung berbagai bahan kimia yang dirancang untuk aplikasi kosmetik atau penggunaan rumah tangga. Ketika digunakan pada tanaman angiosperma (tanaman berbunga), bahan kimia ini dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatan tanaman tersebut.
Berikut adalah penjelasan mengenai pengaruh masing-masing jenis larutan terhadap pertumbuhan angiosperma, Body mist dan hair mist umumnya mengandung alkohol, pewangi, pengawet, dan bahan tambahan lain seperti pelembap. Alkohol dapat
bersifat fitotoksik, mengganggu proses fotosintesis, respirasi, atau pertumbuhan sel.Penurunan Pertumbuhan: Paparan bahan kimia ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengurangi laju fotosintesis, dan menyebabkan kematian sel atau jaringan.( dutton 2018)
Pelicin pakaian biasanya mengandung bahan pelembut seperti silikon atau quaternary ammonium compounds, pewangi, dan surfaktan.,lapisan penutup,silikon atau bahan pelembut lainnya dapat membentuk lapisan pada permukaan daun, mengurangi transpirasi dan menghambat penyerapan CO2, yang diperlukan untuk fotosintesis.Gangguan stomata ,lapisan ini juga bisa menyumbat stomata (pori-pori kecil pada daun) sehingga mengganggu pertukaran gas.Toksisitas surfactan dan bahan kimia lain dalam pelicin pakaian dapat merusak sel tanaman, menyebabkan stres oksidatif, dan mengganggu fungsi fisiologis normal. Larutan body mist, hair mist, dan pelicin pakaian mengandung bahan kimia yang tidak dirancang untuk kontak dengan tanaman dan dapat mempengaruhi pertumbuhan angiosperma secara negatif. Bahan kimia ini dapat menyebabkan pengeringan, toksisitas, gangguan pada proses fisiologis, dan penurunan laju fotosintesis, yang semuanya berkontribusi pada penurunan kesehatan dan pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, penting untuk menghindari penggunaan atau paparan bahan-bahan ini pada tanaman untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan optimal mereka. ( britter 2020)
BAB V KESIMPULAN
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dijelaskan, maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut.
1. Zat eerosol dapat menghambat pertumbuhan pada tanaman
2. Bodi mist , hair mist dan pewaangi pakaian , mengandung alkohol yang dapat menghambat pertumbuhan ,sehingga tumbuhan akan mati
3. Zat aerosol juga memliki zat zat yang berbahaya bagi pertumbuhan tanaman
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Breguier, J.L.; Pawlowska, H.; Schuller, L.; Preusker, R.; Fischer, J.; and Fouquart, Y., (2020). Radiative Properties of Boundary Layerclouds: Droplet Effective Radius Versus Number Concentration, J. Atmos. Sci., 57, 803-821.
Chylek, P.; G.B. Lesins; G. Videen; J.G.D. Wong; R.G. Pinnick; D. Ngo; J.D. Klett, (2019). Black Carbon and Absorption of Solar Radiation By Clouds. J.
Geophys. Res., 101, 23 365-23 371.
Dutton, E.G.; J.R. Christy, (2018). Solar Radiative Forcing at Selected Locations and Evidence for Global Lower Tropospheric Cooling Following the Eruptions of El Chichón and Pinatubo. Geophysical Research Letters, 19, p. 2313-2316.
Britter, (2019). A Review of the Characteristics of Nanoparticles in the Urban Atmosphere and Prospects for Developing Regulatory Controls. Atmospheric Environment, 44.
Krüger, O.; Graßl, H., (2012). The Indirect Aerosol Effect Over Europe. Geophys.
Res. Lett., 29.