Efisiensi Kinerja Mesin Ripple Mill pada Stasiun Kernel di PT X Jambi
Muhammad Ikbal Mawazin Qistan1, Satriana2*, Juanda3
1,2,3Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala Indonesia
*Koresponden email: [email protected]
Diterima: 3 Mei 2023 Disetujui: 15 Mei 2023
Abstract
Oil palm is a plant that produces CPO and palm kernel. One of the process stages in the production of palm kernel is the process of splitting the nut using a ripple mill machine. The purpose of this research is analyzing the performance efficiency of a ripple mill machine using the overall equipment effectiveness method. This study also to identify the causes the low performance of the ripple mill machine and its consequences using a fishbone diagram. The research procedure was carried out through several stages, availability ratio, performance ratio, quality ratio, OEE, well the causes of the low performance efficiency of the ripple mill. On the calculation results, that the average values of the availability ratio, performance ratio, quality ratio, and OEE are 70.08%, 69.57%, 100%, and 48.75%. With a fishbone diagram, can find out the causes of the downtime that occurs so that suggestions for improvements are made for the company in the future. There are 4 (four) internal factors that are observed to draw a fishbone diagram, namely human resources (HR), methods, machines, and materials, as well as 2 (two) external factors, namely environmental and government factors. After being analyzed, recommendations for improvement are then made.
Keywords: fishbone diagram, overall equipment effectiveness, palm kernel, ripple mill
Abstrak
Kelapa sawit merupakan tanaman yang menghasilkan CPO dan inti sawit. Salah satu tahapan proses dalam produksi inti sawit adalah proses pemecahan nut menghasilkan inti dan cangkang dengan menggunakan mesin ripple mill. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efisiensi kinerja mesin ripple mill menggunakan metode overall equipment effectiveness (OEE). Penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi sebab yang mempengaruhi rendahnya kinerja mesin ripple mill dan akibatnya dengan menggunakan diagram fishbone. Prosedur penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu menganalisis availability ratio, performance ratio, quality ratio, dan nilai OEE, serta penyebab rendahnya efisiensi kinerja mesin ripple mill. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai rata-rata dari availability ratio, performance ratio, quality ratio, dan nilai OEE adalah masing-masing 70,08%, 69,57%, 100%, dan 48,75%. Dengan diagram fishbone, penelitian ini bisa mengetahui penyebab terjadinya downtime yang terjadi sehingga dilakukan usulan perbaikan untuk perusahaan kedepannya. Faktor internal yang diamati untuk menggambar diagram fishbone ada 4 (empat) faktor, yaitu sumber daya manusia (SDM), metode, mesin, dan material, serta 2 (dua) faktor eksternal yaitu faktor lingkungan dan pemerintah.
Setelah dianalisis, kemudian dilakukan rekomendasi perbaikan.
Kata Kunci: diagram fishbone, overall equipment effectiveness, palm kernel, ripple mill
1. Pendahuluan
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) ialah tanaman penghasil minyak sawit yang dikenal luas dengan sebutan Crude Palm Oil (CPO). Bersumber pada proses produksinya, minyak sawit disuling menjadi minyak sawit mentah (CPO) dan inti sawit atau kernel. Kualitas kernel yang diproduksi dapat mempengaruhi minyak yang selanjutnya diproduksi selama pemrosesan di pabrik pengolahan inti [1].
Parameter kualitas kernel meliputi kadar kotoran, kadar air dan persentase kernel pecah. Proses pemecahan inti menggunakan mesin ripple mill.
Mesin ripple mill merupakan bagian yang menentukan kualitas kernel dalam produksi pada stasiun kernel dan menyebabkan masalah ketika mesin tidak bekerja secara efektif. Permasalahan umum dihadapi oleh perusahaan adalah seringnya mesin mengalami kerusakan secara tiba-tiba dan hasil produksi tidak memenuhi kriteria produksi yang ditentukan. Dalam menganalisis performa mesin baik produksi maupun
efisiensi mesin, diperlukan metode yang akurat untuk memastikan proses produksi yang menghasilkan kualitas produk yang diinginkan secara berkelanjutan.
Metode OEE (Overall Equipment Effectiveness) dapat digunakan dalam menentukan efisiensi kinerja mesin serta sumber daya pada mesin. Analisis ini terdiri dari tiga perhitungan yang saling berhubungan yaitu rasio ketersediaan (availability), rasio kinerja (performance) dan rasio kualitas (quality). Manfaat dari pengukuran OEE ini adalah perusahaan dapat melihat seberapa efisien sistem atau mesin mereka dan apakah masih layak digunakan dalam operasi produksi. Kesesuaian perangkat atau mesin ditentukan oleh tujuan perusahaan [2]. Ketika hasil pengukuran efisiensi rendah dilakukan identifikasi dan analisis untuk mengetahui penyebab rendahnya efisiensi mesin.
Diagram sebab akibat akan digunakan untuk menganalisis lebih lanjut dalam menemukan penyebab buruknya kinerja mesin dan sumber dayanya sehingga dapat ditemukan solusi untuk meningkatkan efisien mesin [3]. Langlang [4] dan Fauzi [5] menggunakan metode OEE dengan usulan perbaikan menggunakan diagram fishbone untuk meningkatkan kinerja mesin atau alat yang kurang efektif dan membantu menemukan solusi untuk masalah tersebut.
Peneliti biasanya menggunakan diagram fishbone untuk memproses dan menganalisis data. Sumber masalah dalam menentukan sebab dan akibat risiko adalah bahan baku, mesin, tenaga kerja, metode, lingkungan dan pengukuran [6]. Untuk membuktikan hipotesis secara empiris, pengumpulan data perlu diperiksa lebih dekat.
Data dibagi menjadi 2 (dua) bidang yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang berasal langsung dari sumber aslinya, orang atau beberapa orang yang memerlukan pengolahan lebih lanjut. Sebagai hasil wawancara atau tanggapan survey, data sekunder adalah data yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan dengan baik oleh sumber primer, pengumpul data atau pihak lain [7].
Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian ini berfokus untuk melihat efisiensi kinerja mesin ripple mill pada perusahaan PT X Jambi menggunakan analisa dengan metode overall equipment effectiveness (OEE) dan diagram fishbone dalam mengidentifikasi akar permasalahan dan memecahkan permasalahan yang ditemukan pada perusahaan tersebut.
2. Metode Penelitian
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada pabrik PT X Jambi. Penelitian berlangsung sejak Juni 2022 sampai dengan November 2022.
Metode Penelitian
Data pada penelitian diperoleh dari perusahaan PT X. Sedangkan objek penelitian yang dipilih pada penelitian yaitu mesin ripple mill. Objek ini dipilih karena mesin ini sering dilakukan perbaikan. Data dalam penelitian ini yaitu data informasi harian ripple mill berupa jam kerja, produk yang dihasilkan setiap hari, produk yang dihasilkan setiap jam, dan data downtime di PT X setiap harinya selama 1 (satu) bulan yaitu bulan Juni 2022. Data primer dikumpulkan melalui observasi yang didapatkan secara langsung ke pabrik dan wawancara dengan karyawan pabrik. Data yang diperoleh adalah data produksi dan data waktu kerja.
Data sekunder diperoleh dengan cara mengumpulkan dokumen dan arsip internal berkaitan dengan penelitian ini, yaitu meliputi data jam kerja karyawan, produk yang dihasilkan setiap hari, produk yang dihasilkan setiap jam, dan data downtime yang merupakan waktu yang terbuang akibat kerusakan mesin.
Analisis Data a) Availabillity ratio
Operating time = Loading time – Downtime Availabillity =
b) Performance ratio
Performance ratio =
c) Quality ratio
Quality ratio = x100%
d) Overall equipment effectiveness (OEE)
OEE = availability ratio x performance ratio x quality ratio
3. Hasil dan Pembahasan Spesifikasi Mesin Ripple Mill
Mesin ripple mill ini merupakan model ARM 6000 merek “Laju” produksi PT Sempurna Jaya Laju yang telah digunakan sejak 1996. Mesin ini memiliki kapasitas 30 ton/jam bahan baku dengan laju rotasi rotor 1440 rpm. Jarak rotor dengan ripple plate pada mesin ini sejauh 5,5 cm. Dalam sekali operasi, mesin yang dioperasikan oleh 1 (satu) orang operator ini dapat beroperasi selama 24 jam.
Ripple mill terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu rotor bar dan ripple plate. Rotor bar terdiri dari 28 batang Rotor bar terdiri dari lingkaran baja karbon yang terdiri dari 2 (dua) lapisan yaitu 14 batang dipasang di luar dan 14 batang di dalam. Penggerak utama ripple mill adalah motor listrik yang menggerakkan ripple mill dengan benih. Motor listrik dihidupkan, V-belt pertama di motor penggerak terus berputar hingga V- belt kedua dengan sabuk perantara. Selain itu, rotasi ditransmisikan oleh poros rotor dari pabrik poros.
Mesin ripple mill dan model 3D mesin dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. Model mesin ripple mill yang sama juga disebutkan dalam Bioenergyconsult [8].
Gambar 1. Mesin ripple mill Sumber : PT. X Jambi (2022)
Gambar 2. Model 3D mesin ripple mill Sumber : Tengbot 3D (2020) Availability Rasio
Mesin ripple mill memiliki kapasitas 30 ton/jam. Terdapat empat mesin ripple mill namun, hanya 1 (satu) mesin yang dapat dioperasikan. Berdasarkan data pada Tabel 1, masih terdapat mesin yang tidak beroperasi maksimal yaitu mesin bekerja tidak sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Mesin beroperasi setiap harinya tidak konsisten bahkan terdapat mesin yang beroperasi hanya dalam waktu yang singkat. Salah satu penyebab terjadinya kondisi ini adalah akibat kerusakan komponen mesin karena penggunaan yang terus-menerus. Komponen yang rusak nantinya akan diperbaiki atau diganti dengan yang baru.
Ripple plate Motor listrik
Rotor bar V-Belt
Tabel 1. Availability ratio mesin ripple mill Tanggal
Juni
Loading Time (Jam)
Operating Time (Jam)
Availability ratio (%)
1 12 12 100,00
2 12 10 83,33
3 12 9 75,00
6 12 7 58,33
7 12 8 66,67
8 12 11 91,67
9 12 10 83,33
10 12 10 83,33
13 12 4 33,33
14 12 6 50,00
15 12 5 41,67
16 12 8 66,67
17 12 9 75,00
20 12 10 83,33
21 12 7 58,33
22 12 7 58,33
23 12 8 66,67
24 12 6 50,00
27 12 9 75,00
28 12 7 58,33
29 12 11 91,67
30 12 11 91,67
Total 1.541,67
Rata-rata 70,08
Standar JIPM International 90 Sumber: Pengolahan Data, 2022
Penggantian komponen dengan yang baru dapat meningkatkan efisiensi kinerja mesin. Seperti pada tanggal 1 Juni 2022, mesin dapat bekerja dengan baik karena semua komponen yang rusak telah diganti.
Namun pada tanggal 13 Juni 2022 mesin beroperasi hanya selama 4 jam dikarenakan rotor bar mengalami keausan sehingga pertukaran membutuhkan waktu yang cukup lama. Setelah dilakukan pergantian, mesin belum beroperasi secara optimal dikarenakan seringnya sampah terikut masuk ke dalam ripple mill yang mengganggu kinerja mesin. Pada penelitian [9] nilai pada persentase availability ratio mesin ripple mill juga masih di bawah standar JIPM yaitu sebesar 78,09%. Rendahnya kedua nilai availability ratio ini dapat disebabkan oleh masih besarnya waktu downtime setiap melakukan proses perawatan mesin. Penyebab yang mempengaruhi terjadinya waktu downtime dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Penyebab downtime
No. Penyebab
1. Rotor bar patah 2. Kausan fan bel
3. Jatuh besi ke dalam ripple mill
4. Komponen bearing mesin ripple mill pecah 5. Kerusakan motor listrik
6. Masuknya jangkos ke dalam mesin ripple mill 7 Masuknya serat fiber ke dalam ripple mill
Sumber: Pengolahan Data, 2022 Performance Rasio
Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa rata-rata persentase performance ratio sebesar 69,57%. Nilai ini jauh di bawah nilai hasil pada penelitian Ananda dkk. [7]. Namun, nilai persentase performance ratio mesin ripple mill perusahaan tersebut juga masih di bawah standar JIPM yaitu sebesar 80,3%. Penyebab
seperti kecepatan putar rotor dan jarak antara rotor bar dengan ripple plate, kapasitas mesin, serta jenis kelapa sawit yang diolah seperti jenis dura dan tenera.
Tabel 3. Performance ratio ripple mill Tanggal
Juni
Total Produk (ton/shift)
Loading Time (jam)
kapasitas mesin (ton/jam)
Performance Ratio (%)
1 360 12 30 100
2 320 12 30 89
3 270 12 30 75
6 210 12 30 58
7 240 12 30 67
8 330 12 30 92
9 300 12 30 83
10 300 12 30 83
13 120 12 30 33
14 180 12 30 50
15 150 12 30 42
16 240 12 30 67
17 270 12 30 75
20 300 12 30 83
21 210 12 30 58
22 210 12 30 58
23 240 12 30 67
24 180 12 30 50
27 270 12 30 75
28 210 12 30 58
29 300 12 30 83
30 300 12 30 83
Total 1531
Rata-Rata 69,57
Standar JIPM International 95 Sumber: Pengolahan Data, 2022
Quality Rasio
Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa quality ratio setiap harinya memiliki nilai persentase di atas JIPM yaitu sebesar 100%. Pada penelitian Diniaty [10] nilai pada persentase quality ratio yaitu 100%.
Berdasarkan hasil pengolahan data diketahui bahwa selama proses produksi tidak terdapat kecacatan atau produk masih sesuai dengan standar. Hal ini dikarenakan hasil olahan berupa barang setengah jadi, yang nantinya akan diolah kembali.
Tabel 4. Quality ratio ripple mill Tanggal
Juni
Processed amount (ton/hari)
Defect amount
(ton)
Quality Ratio
(%)
1 706 0 100
2 648 0 100
3 574 0 100
6 476 0 100
7 471 0 100
8 460 0 100
9 467 0 100
10 468 0 100
13 359 0 100
14 365 0 100
15 368 0 100
16 375 0 100
17 400 0 100
20 413 0 100
21 421 0 100
22 417 0 100
23 447 0 100
24 514 0 100
27 564 0 100
28 544 0 100
29 570 0 100
30 550 0 100
Total 100
Rata-rata 100
Standar JIPM International 99 Sumber: Pengolahan Data, 2022 Overall Equipment Effectiveness (OEE)
Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa nilai OEE masih di bawah nilai JIPM yaitu sebesar 48,75%.
Hal ini dikarenakan nilai OEE dipengaruhi berdasarkan hasil perhitungan dari nilai ketiga faktor yaitu availability ratio, performance ratio, dan quality ratio. Berdasarkan nilai OEE yang didapatkan, diketahui bahwa efektivitas mesin ripple mill masih perlu dievaluasi untuk diperbaiki.
Tabel 5. OEE mesin ripple mill Availability
ratio
%
Performance ratio
%
Quality ratio
%
OEE
%
70,08 69,57 100 48,75
Sumber: Pengolahan Data, 2022 Diagram Fishbone
Berawal dari OEE yang masih di bawah standar JIPM, PT X harus melakukan perbaikan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi akar penyebab keterbatasan terkait penurunan produktivitas.
Gambar 3. Diagram fishbone
Permasalahan efisiensi kinerja mesin ripple mill rendah disebabkan oleh beberapa aspek antara lain sebagai berikut :
1) Sumber daya manusia (SDM)
Kesalahan yang sering diakibatkan kelalaian operator seperti membiarkan masuknya biji ke dalam ripple mill melebihi kapasitas maksimal sehingga rotor bar menjadi lebih cepat aus. Solusi perbaikan yang dapat diberikan yaitu dapat ditanggulangi dengan cara operator harus lebih teliti lagi dalam mengendalikan nut yang masuk ke dalam ripple mill. Selain itu, melakukan pengarahan dan penilaian rutin agar operator cepat pada permasalahan yang terjadi pada ripple mill. Kurangnya skill akibat ketidaktahuan pekerja dikarenakan tidak adanya pelatihan terhadap mengoperasikan mesin. Solusi yang diberikan yaitu memberikan pelatihan kerja kepada setiap operator dan pembantu mesin, serta asisten dapat mengawasi para pekerja dengan baik dan benar [11].
2) Metode
Masih banyak karyawan yang tidak mengikuti instruksi dari tim manajemen sehingga mengakibatkan hasil produksi yang tidak sesuai dengan instruksi. Solusi perbaikan yang bisa dilakukan dalam aspek metode adalah meletakkan SOP di setiap stasiun produksi dan secara bertahap mengeluarkan peringatan jika SOP tidak dilakukan dengan benar. Ini meminimalkan kesalahan dalam pengaturan mesin dan dapat meminimalkan kerusakan pada mesin. Disarankan perusahaan untuk menyediakan nut grading drum yang berfungsi untuk memisahkan nut berdasarkan ukurannya sehingga ketika melakukan pemecahan, mesin dapat bekerja secara efisien dan membuat nut menjadi pecah secara merata. Pengaturan jarak antara ripple plate dan rotor harus diperhatikan kerapatannya dan jangan terlalu rapat karena akan terdapat banyak kernel pecah dalam kernel storage [12].
3) Mesin
Jika kondisi mesin tidak dijaga, maka komponen mesin dapat cepat rusak sehingga kondisi mesin tidak optimal dan mengganggu proses produksi. Kerusakan mesin disebabkan oleh beberapa faktor seperti jenis sawit yang berkulit tebal dan umpan masuk yang berlebihan akan menyebabkan keausan pada rotor dan pelat gergaji, menyebabkan pelat menjadi tumpul, dan membengkokkan poros rotor, menyebabkan proses pemecahan menjadi tidak efektif. Solusi yang dapat diberikan adalah bila mesin sudah terlalu tua sebaiknya diganti. Namun, karena biaya untuk membeli mesin baru sangat tinggi, opsi lain adalah memperbaiki mesin secara bertahap. Hal ini dapat dicapai dengan mengajak operator dan produksi untuk terlibat dalam perawatan mesin dan pemeriksaan kesehatan. Faktor lainnya adalah mengoperasikan ripple mill secara berlebihan melebihi masa pakai yang direkomendasikan oleh produsen ripple mill [13].
4) Material
Jika terjadi kerusakan mesin, teknisi harus segera memperbaikinya, namun kurangnya ketersediaan suku cadang memaksa teknisi untuk menggunakan bahan dengan grade yang lebih rendah sehingga mesin dapat bekerja hanya sementara waktu sampai suku cadang tersedia. Solusi yang dapat diberikan yaitu Kepala Tata usaha (KTU) melakukan koordinasi yang baik dengan pihak penyediaan barang. Ketika jumlah barang yang tersedia sudah mulai menipis, KTU akan menambah persediaan barang sehingga tidak terjadi kekurangan barang. Dari segi material, terdapat komponen bahan yang digunakan pada mesin tidak terbuat dari bahan asli sehingga kualitasnya lebih rendah dari aslinya. Kualitas material yang tidak memenuhi persyaratan dapat menyebabkan komponen lebih cepat rusak selama masa pakai mesin yang lama. Solusi yang dapat diberikan yaitu sebaiknya pabrik menggunakan material dengan kualitas yang bagus dan tahan lama sehingga kinerja mesin tetap berjalan dengan stabil [14].
5) Lingkungan
Masih banyak pegawai yang tidak bekerja sesuai SOP yang telah ditentukan, baik SOP kerja maupun SOP peralatan kerja. Pekerja tidak memperhatikan kebersihan lingkungan kerja sehingga mesin-mesin di sekitarnya menjadi penuh debu yang dapat masuk ke dalam mesin dan menghambat fungsinya secara optimal. Solusi yang dapat diberikan yaitu dapat dievaluasi dengan melakukan kontrol secara bertahap untuk melihat kebersihan lingkungan produksi baik terjadwal seperti seminggu sekali maupun dadakan.
Hal ini dapat dilengkapi lagi dengan pemberian reward kepada karyawan yang berprestasi atau punishment kepada karyawan yang melanggar prosedur sehingga dapat meningkatkan kesadaran kepada karyawan akan kebersihan lingkungan dan produksi dapat berjalan dengan lancar. Tidak dilakukan pembersihan alat sebelum dan sesudah pergantian shift kerja membuat debu menempel pada mesin sehingga dapat menurunkan kinerja mesin ripple mill. Solusi yang dapat diberikan yaitu melakukan perawatan mesin oleh operator berupa membuat standar bersih pada pembersihan mesin sebelum dan sesudah pergantian shift kerja [15].
6) Pemerintah
Pemerintah mengeluarkan kebijakan yaitu larangan ekspor CPO dan produk turunannya dikarenakan ekspor CPO yang dijadikan bahan baku minyak goreng lebih besar daripada yang dibutuhkan dalam negeri sehingga pemerintah menutup ekspor CPO sampai kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Dampak yang terjadi akibat kebijakan ini membuat tangki penyimpanan menjadi penuh dan membuat penurunan harga TBS serta penurunan mutu TBS akibat buah menjadi restan sehingga ketika dilakukan pengolahan membuat kinerja mesin menjadi tidak optimal. Solusi yang diberikan yaitu pabrik dapat menyesuaikan pengolahan buah seperti mengatur suhu, waktu dan kecepatan putaran mesin sehingga mesin dapat bekerja dengan optimal. Kementerian Perdagangan melarang sementara ekspor minyak sawit dan berbagai produk turunannya. Larangan ini berdampak kepada penurunan harga TBS akibat larangan ekspor sehingga pabrik kelapa sawit kesulitan dalam menerima TBS dari petani karena TBS di pabrik mulai penuh [16].
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan pengolahan data serta analisis menggunakan metode OEE diperoleh nilai OEE pada bulan Juni 2022 masih dibawah standar JIPM yang berarti efisiensi kinerja mesin memiliki skor yang rendah sehingga perlu dilakukan peningkatan efisiensi mesin. Kemudian solusi untuk aspek SDM adalah melakukan pengarahan dan penilaian rutin agar operator cepat pada permasalahan yang terjadi pada ripple mill Aspek metode dapat diperbaiki dengan meletakkan SOP pada setiap stasiun produksi untuk meminimalisir kesalahan dan menambah nut grading drum untuk mempermudah kinerja ripple mill. Aspek mesin dapat diperbaiki dengan melakukan maintenance secara bertahap terhadap mesin. Aspek material dapat diperbaiki dengan lebih berkoordinasi dengan penyedia barang. Aspek lingkungan dapat diperbaiki dengan melakukan kontrol secara bertahap ke setiap stasiun produksi. Aspek pemerintah, pabrik dapat menyesuaikan pengolahan buah seperti mengatur suhu, waktu dan kecepatan putaran mesin sehingga mesin dapat bekerja dengan optimal.
5. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu perlu adanya penambahan karyawan sehingga proses pengolahan di pabrik dapat berjalan dengan maksimal. Melakukan evaluasi secara bertahap terhadap kinerja mesin ripple mill sehingga ketika mesin sudah bekerja dengan optimal akan berpengaruh terhadap penghasilan perusahaan, serta melakukan pengawasan maintenance yang ketat pada setiap mesin di stasiun pengolahan agar proses produksi berjalan lancar serta dilakukan pemahaman dan pembelajaran bagi pekerja sesuai SOP perusahaan.
6. Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan terima kasih terhadap seluruh pihak PT X yang sudah mengizinkan dan menyediakan data kepada penulis untuk melakukan penelitian di pabrik kelapa sawit.
7. Singkatan
CPO Crude palm oil
OEE Overall equipment effectiveness
SOP KTU TBS
Standar operasional prosedur Kepala tata usaha
Tandan buah segar
8. Daftar Pustaka
[1] Rantawi, A.B., Mahfud, A. dan Situmorang, E.R., "Korelasi antara kadar air pada kernel terhadap mutu kadar asam lemak bebas produk palm kernel oil yang dihasilkan (studi kasus pada PT XYZ),"
Industrial Engineering Journal, 6(1), 2017.
[2] Fahira, A.L. dan Hartini, S., "Analisis kinerja mesin produksi mills MNO menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) Studi Kasus: PT ISM Tbk Bogasari Flour Mills," Industrial Engineering Online Journal, 9(4), 2022.
[3] Puspita, L.E. dan Widjajati, E.P., "Pengukuran efektivitas mesin latexing pada produksi karpet permadani dengan menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) dan Overall Resource Effectiveness (ORE) di PT. XYZ," JUMINTEN, 2(4), pp.1–12, 2021.
[4] Jannah, Resa Miftahul, Supriyadi Supriyadi, and Ahmad Nalhadi. "Analisis Efektivitas pada Mesin Centrifugal dengan Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE)." Prosiding Seminar Nasional Riset Terapan| SENASSET. 2017.
[5] Fauzi, R., "Analisis efektivitas packer machine menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) (studi kasus : PT Semen Bosowa Banyuwangi)," (Studi Kasus: PT Semen Bosowa Banyuwangi). Diss. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2020.
[6] Zulfahmi, Z. dan Saputra, A., "Analisis risiko kerusakan mesin (Downtime) ripple mill stasiun kernel (studi kasus PT. Ujong Neubok Dalam)," SITEKIN: Jurnal Sains, Teknologi dan Industri, 19(2), pp.241–247, 2022.
[7] Ananda, R., Hernawati, T. dan Sibuea, S.R., "Analisa efektivitas produksi pada stasiun kernel menggunakan metode overall equipment effectiveness di PT. Varem Sawit Cemerlang," Buletin Utama Teknik, 17(2), pp.157–162, 2022.
[8] Setyawan, E., "Torrified PKS: An attractive biomass commodity in wes africa," Bioenergyconsult, 2022.
[9] Hamdy, M.I. dan Azizi, A., "Analisis nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) pada mesin ripple mill," Jurnal Teknik Industri, 3(1), 2017.
[10] Diniaty, D., "Analisis Total Produktive Maintenance (Tpm) pada stasiun kernel dengan menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) di PT. Surya Agrolika Reksatengku," Jurnal Teknik Industri: Jurnal Hasil Penelitian dan Karya Ilmiah dalam Bidang Teknik Industri, 3(2), pp.75–79, 2017.
[11] Siregar, K. dan Rizkiansyah, H., "Analisis efektivitas mesin ripple mill menggunakan metode overall equipment effectiveness (OEE)," Talenta Conference Series: Energy dan Engineering (EE), 5(2), pp.129–135, 2022.
[12] Sebayang, D.P.B. dan Purwanggono, B., "Pengendalian kualitas menggunakan metode statistical process control pada produk kernel (Inti Kelapa Sawit) (Studi Kasus PT Supra Matra Abadi),"
Industrial Engineering Online Journal, 2022.
[13] Denur, D., Hakim, L., Hasan, I. dan Rahmad, S., "Penerapan Reliability Centered Maintenance (RCM) pada mesin ripple mill," JISI: Jurnal Integrasi Sistem Industri, 4(1), pp.27–34, 2017.
[14] Amalia, W., Ramadian, D. dan Hidayat, S.N., "Analisis kerusakan mesin sterilizer pabrik kelapa sawit menggunakan failure modes dan effect analysis (FMEA)," Jurnal Teknik Industri: Jurnal Hasil Penelitian dan Karya Ilmiah dalam Bidang Teknik Industri, 8(2), pp.369–377, 2022.
[15] Effendi, Z. dan Rangkuti, I.U.P., "Analisa reliability, maintainability dan availability untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi sterilizer di pabrik kelapa sawit," Jurnal Agro Estate 1(1), pp.43–51, 2017.
[16] Amir, M., Nidhal, M. dan Alta, A., "Dari larangan hingga percepatan ekspor: mengapa intervensi harga minyak goreng tidak efektif," 2022.
[17] Tengbot, "3D Model collection palm oil mill machinery the actual size & general," Nut & Kernel Station, 2020.