• Tidak ada hasil yang ditemukan

ekologi fisiologi tumbuhan

N/A
N/A
Nida Iftina

Academic year: 2024

Membagikan "ekologi fisiologi tumbuhan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia-Nya sehingga makalah mengenai “Adaptasi Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Pada Kondisi Cekaman Kelebiha Air” dapat tersusun dan selesai. Tidak lupa penulis mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dalam memberikan gagasan maupun materi. Penulis berharap semoga makalah ini mampu menambah ilmu bagi para pembaca. Sehingga kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun meningkatkan isi makalah agar menjadi makalah yang lebih baik lagi.

Karena keterbatasan ilmu maupun pengalaman penulis, penulis merasa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis sangat berharap saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Surakarta, 21 April 2019

Penulis

(2)

KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah 2 1.3 Tujuan 2

BAB II PEMBAHASAN 4 2.1 Deskripsi Tebu4

2.2 4 2.3 4

BAB III PENUTUP 7 3.1 Kesimpulan 7 3.2 Saran 7

DAFTAR PUSTAKA 8

(3)

BAB II PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peningkatan suhu bumi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mempelihatkan kenaikan yang signifikan yaitu akibat kenaikan kadar CO2 di atmosfir sehingga terjadilah fenomena global warming. Berdasarkan data dari NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), konsentrasi CO2 di atmosfer sudah melebihi 400 ppm dari yang sebelumnya sekitar 380 ppm (Serres and Voesenek, 2008). Dampak pemanasan global ini dapat mempengaruhi metabolisme tanaman dan menurunkan hasil panen. Perubahan iklim dapat mempengaruhi sebaran curah hujan menjadi tidak merata. Kondisi seperti ini dapat memperburuk kondisi drainase lahan sehingga menyebabkan genangan pada areal pertanian khususnya areal pertanaman tebu.

Genangan ini merupakan gangguan alam yang dapat mengganggu pertumbuhan, mempengaruhi produksi tanaman, dan produksi ternak di seluruh dunia. Keadaan seperti ini dapat bersifat permanen, sering, musiman, atau temporer.

Cekaman air berdasarkan kondisi pertanaman dibagi menjadi dua yaitu kondisi jenuh air (waterlogging) dimana hanya akar tanaman yang tergenang air dan kondisi dimana tanaman sepenuhnya tergenang air (complete submergence). Kondisi lahan yang tergenang dapat menurunakan pertukaran gas antara tanah dan udara yang mengakibatkan menurunnya ketersediaan oksigen bagi akar tanaman sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan kata lain tanaman dapat mengalami hipoksia yang akan mengalami keracunan. Selain itu, lahan yang tergenang berpengaruh terhadap proses fisiologi pada tanaman antara lain respirasi, permeabilitas akar, penyerapan air dan hara, serta memacu pembentukan akar adventif pada bagian di dekat permukaan tanah bagi tanaman yang tahan terhadap cekaman.

Munculnya stress lingkungan abiotik seperti cekaman kelebihan air dapat menyebabkan perubahan bentuk dan tampilan morphologi tanaman khususnya akar.

Dalam kondisi genangan akar tanaman akan cenderung memanjang lebih cepat menuju daerah yang kaya oksigen dan nitrogen sehingga pertumbuhan akar akan terlihat lebih dominan dibanding pada kondisi normal. Salah satu mekanisme tanaman tebu terhadap stress abiotik adalah respons membuka dan menutupnya stomata.

Menurut Soleh dkk. (2017), pada kondisi cekaman abiotik seperti genangan air,

(4)

tanaman mengalami cekaman yang mempengaruhi tingkat metabolime dan mempengaruhi penurunan laju fotosintesis. Selain itu, tanaman tebu akan memproduksi akar serabut lebih banyak untuk mencapai permukaan air dalam mengambil oksigen.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada makalah ini antara lain:

1. Apa saja macam-macam cekaman kelebihan air?

2. Apa saja mekanisme fisiologi tumbuhan terhadap cekaman air?

3. Bagaimana respon atau mekanisme tanaman tebu terhadap cekaman air?

1.3 Tujuan

Tujuan dari makalah ini antara lain :

1. Mengetahui macam-macam cekaman kelebihan air

2. Megetahui mekanisme fisiologi tumbuhan terhadap cekaman air

3. Mengetahui respon atau mekanisme tanaman tebu terhadap cekaman air.

1.4

(5)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi Tebu

Tebu (Saccharum officinarum) merupakan tanaman perkebunan semusim.

Tanaman tebu adalah salah satu anggota famili rumput-rumputan (Graminae) yang merupakan tanaman tropis, tetapi dapat pula tumbuh baik dan berkembang di daerah subtropis pada berbagai jenis tanah dari daratan rendah hingga ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut (dpl). Manfaat utama tebu adalah sebagai bahan baku pembuatan gula pasir. Ampas tebu atau disebut bagasse adalah hasil samping dari proses ekstraksi cairan tebu yang berasal dari bagian batang tanaman tebu. Klasifikasi tanaman tebu menurut Indrawanto et al. (2010), sebagai berikut.

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermathophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledone, Ordo : Glumiflorae /Poales Familli : Graminae /Poaceae Genus : Saccharum

Spesies : Saccharum officinarum L.

Batang tebu bersifat keras, tidak bercabang, dan tumbuh tegak. Tinggi batangnya dapat mencapai kurang lebih 3-5 m. Kulit batang berwarna hijau, kuning, ungu, merah tua atau kombinasinya. Pada batang terdapat lapisan lilin yang berwarna putih ke abu-abuan dan umumnya terdapat pada tanaman tebu yang masih muda.

Daun tebu merupakan daun tidak lengkap karena hanya terdiri dari pelepah dan helaian daun, tidak memiliki tangkai daun. Letak daun berpagkal pada buku batang dan bentuk daun berwujud helaian dengan kedudukan yang berseling. Pelepah memeluk batang, makin ke atas makin sempit. Pada pelepah terdapat bulu-bulu dan telinga daun. Tulang daun sejajar, di tengah berlekuk, tepi daun kadang-kadang bergelombang (Indrawanto et al., 2010)

Tebu mempunyai akar serabut berwarna putih yang panjangnya dapat mencapai satu meter. Sewaktu tanaman masih muda atau berupa bibit, ada 2 macam akar yaitu akar setek dan akar tunas. Akar setek berasal dari setek batangnya, tidak

(6)

jangkar tanaman sehingga tebu dapat berdiri kokoh. Akar tunas berasal dari tunas, berumur panjang, dan tetap ada selama tanaman masih tumbuh.

Bunga tebu merupakan bunga majemuk yang tersusun dari beberapa malai (sekumpulan bunga padi atau spikelet) dengan pertumbuhan terbatas. Panjang bunga majemuk 70-90 cm. Setiap bunga mempunyai tiga daun kelopak, satu daun mahkota, tiga benang sari, dan dua kepala putik. Cabang bunga pada tahap pertama berupa karangan bunga dan pada tahap selanjutnya berupa tandan dengan dua bulir yang panjangnya 3-4 mm (Sinaga dan Susanto, 2010).

Setiap tanaman mempunyai ketahanan yang berbeda-beda dalam menghadapi kondisi stress air. Ketahanan tanaman terhadap stress air dapat digolongkan menjadi tiga yaitu:

1. Escape : tanaman menyelesaikan siklus hidup sebelum kekeringan terjadi lebih berat.

2. Avoidance : tanaman dapat mempertahankan kandungan air relative tinggi dalam jaringan tanaman meskipun terjadi kekeringan.

3. Tolerance : tanaman dapat bertahan hidup meskipun kandungan air dalam jaringan rendah.

Pada tebu dengan kondisi yang mengalami cekaman kelebihan air akan beradaptasi dengan avoidance dan tolerance. Respon avoidance dilakukan dengan

akar tanaman akan cenderungmemanjang lebih cepat menuju daerah kaya akan oksigen sehinggapertumbuhan akar akan terlihat lebih dominan dibanding pada kondisi normal (Soleh dkk, 2017) untuk pengikatan unsur hara khususnya nitrogen lebih maksimal yang disebabkan karena beberapa akar mengalami kerusakan akibat cekaman air, sehingga nitrogen dan air dapat tetap disalurkan ke daun dan tanaman mampu melakukan fotosintesis walaupun tidak sebaik pada waktu tanaman tidak mengalami cekaman air. Respon tolerance pada tanaman tebu dalam kondisi cekaman genangan air dilakukan dengan Adanya peningkatan kerapatan stomata diduga karena tingginya jumlah air yang masuk melalui akar yang naik ke daun. Stomata akan membuka jika tekanan turgor kedua sel penjaga meningkat, peningkatan tekanan turgor sel penjaga disebabkan oleh masuknya air ke dalam sel penjaga tersebut. Pada saat pemberian perlakuan cekaman air, tanaman mengalami stress karena tingginya jumlah air yang masuk kedalam jaringan tanaman sehingga tekanan turgor meningkat drastis dan sel penjaga terbuka yang menyebabkan banyak stomata yang terbuka. serta tanaman tebu yang

(7)

mengalami cekaman air memiliki kandungan brix yang cukup tinggi dikarenakan saat tanaman tergenang air menyebabkan unsur hara yang terdapat pada media tanam menjadi terlarut dan tidak terbuang dari media tanam sehingga tanaman lebih mudah menyerap unsur hara lalu digunakan tanaman dalam melakukan proses fotosintesis, dibandingkan dengan tanaman tebu yang tidak diberi perlakuan cekaman air unsur hara yang terlarut dalam air tidak dapat diserap secara optimal karena sebagian terbuang bersama air yang disiramkan ke media tanam. Selain itu umur tanaman tebu masih muda dimana berada dalam fase vegetatif, sehingga produksi sukrosa yang dihasilkan masih tinggi dan akan ditransportkan ke organ tanaman yang sedang tumbuh, namun kelebihan sukrosa tersebut nantinya akan disimpan pada bagian batang dari tanaman tebu.

(8)

PENUTUP

1.1

Kesimpulan

1.

2.

3.2

Saran

Demikianlah pokok bahasan makalah ini yang dapat penulis paparkan. Besar harapan penulis makalah ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak. Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar makalah ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Indrawanto, C., S. Purwono, M. Syakir, W. Rumini. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Tebu. Jakarta: Eska Media.

Serres, B.J and L.A.C.J. Voesenek. 2008. Flooding stress: Acclimations and Genetic Diversity. Annual Review of Plant Biology. 59: 313–339.

Sinaga dan S. Susanto. 2010. Peningkatan Kualitas Pertumbuhan Tebu Varietas Tebu Berastagi dengan Pupuk dan Blotong. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Soleh, M.A., R. Manggala, Y. Maxiselly, M. Ariyanti, dan I.R.D. Anjarsari. 2017. Respons Konduktansi Stomata Beberapa Genotipe Tebu sebagai Parameter Toleransi terhadap Stress Abiotik. Jurnal Kultivasi. 16(3): 490-493.

Referensi

Dokumen terkait

Berbeda halnya dengan cekaman kekeringan, perlakuan PQ tidak menyebabkan peningkatan kandungan ASA daun yang berarti pada semua tanaman.. Begitu juga dengan kandungan

Menurut Wijiyono (2009) terjadinya kenaikan kandungan unsur hara fosfor diduga disebabkan oleh adanya laju dekomposisi yang tinggi menyebabkan pelepasan unsur hara P lebih

Dengan perpaduan antara pasir, arang sekam dan pupuk kandang GA akan dihasilkan media tanam dengan tektur yang baik dan kandungan unsur hara yang cukup sehingga

unsur hara yang cukup dan lengkap seperti unsur hara makro dan mikro, pupuk kandang juga memperbaiki struktur tanah, menambah kandungan hara, bahan organik tanah,

Hal ini dikarenakan kandungan unsur hara pada POC tandan kelapa masih belum cukup untuk penambahan luas daun, selain itu medium tanam yang digunakan dalam

Pada jarak tanam rapat menyebabkan terjadinya persaingan antar tanaman budidaya itu sendiri dalam perebutan unsur hara, cahaya, kelembapan, dan air, sehingga

Media tanam yang baik mengandung unsur hara yang cukup, bertekstur ringan dan dapat menahan air sehingga menciptakan kondisi yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman..

Berbeda halnya dengan cekaman kekeringan, perlakuan PQ tidak menyebabkan peningkatan kandungan ASA daun yang berarti pada semua tanaman.. Begitu juga dengan kandungan