• Tidak ada hasil yang ditemukan

ekonomi islam makalh

N/A
N/A
Nada Arrahman

Academic year: 2024

Membagikan "ekonomi islam makalh"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Sistem ekonomi syari‟ah dengan berbagai bentuknya, di antaranya perbankan syari‟ah dan lembaga keuangan syari‟ah lainnya, telah mengalami pertumbuhan yang pesat. Hal tersebut merupakan efek positif dari telah terbuktinya sistem perbankan syari‟ah ketika dihadapkan dengan krisis moneter dipelbagai belahan dunia pada era tahun 1990-an sehingga animo masyarakat dunia terhadap penerapan sistem ekonomi syari‟ah semakin meningkat.1

Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Bahkan dalam kurun waktu tiga puluh tahunan aset lembaga keuangan syari‟ah di Indonesia per Oktober 2013 saja sudah mencapai Rp. 229.56 trilyun.2 Pertumbuhan aset tersebut juga diiringi dengan pertumbuhan jumlah nasabah dan jumlah kelembagaan keuangan syari‟ah di Indonesia. Dapat difahami dengan banyaknya jumlah nasabah dan jumlah kelembagaan keuangan syari‟ah ini maka kemungkinan timbulnya sengketa di antara mereka juga makin besar. Selain dari sektor perbankan syari‟ah, sengketa ekonomi syari‟ah juga dapat muncul dari sektor non-perbankan syari‟ah, seperti antar individu yang sedang terikat kontrak ekonomi syari‟ah. Banyaknya sengketa ekonomi syari‟ah tersebut, maka perlu ada lembaga yang dapat dijadikan rujukan untuk menyelesaikannya. Penyelesaian itu sendiri dapat melalui jalur non-litigasi seperti musyawarah dan mediasi perbankan, serta melalui jalur litigasi yaitu melalui arbitrase dan lembaga peradilan.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana Sistem Kekuasaan Kehakiman Menurut Islam ?

2. Apa Yang Dimaksud Dengan Ash-Shulhu (Perdamaian) Menurut Ekonomi Islam ? 3. Apa Yang Dimaksud Dengan Arbitrase Menurut Ekonomi Islam?

3. Bagaimana Mekanisme Penyelesaian Sengketa Ekonomi Islam ?

1 Abdul Halim Muhamad Sholeh, Sengketa Ekonomi Syari’ah dan Kesiapan Peradilan Agama, Jurnal Bimas Islam Vol.8. No.I ,2015,hlm.68.

2 Wawancara Ekslusif dalam Majalah Peradilan Agama, (Edisi 3 Des 2013 – Feb 2014), hlm. 50.

(2)

2 C. TUJUAN

1.Untuk Mengetahui Sistem Kekuasaan Kehakiman Menurut Islam 2.Untuk Mengetahui Ash-Shulhu (Perdamaian) Menurut Ekonomi Islam 3.Untuk Mengetahui Arbitrase Menurut Ekonomi Islam

4. Untuk Mengetahui Mekanisme Penyelesaian Sengketa Ekonomi Islam

(3)

3 BAB II PEMBAHASAN

A. SISTEM KEKUASAAN KEHAKIMAN MENURUT ISLAM

Pelembagaan kekuasaan yudikatif dalam rentang sejarah kekuasaan kehakiman Islam dilaksanakan oleh beberapa lembaga yang masing-masing memiliki tugas dan kewenangannya, namun demikian semua lembaga tersebut berada pada satu atap pelaksana umum kekuasaan yudikatif. Jika pada masa dinasti Umayah pelaksana umumnya disebut al-nizham al-qadha‟i (pelaksana hukum), sedangkan pada masa dinasti Abbasiyah disebut dengan al-nizham almazhalim yakni lembaga yang bertugas memberi penerangan dan pembinaan hukum, menegakan ketertiban hukum, baik di lingkungan pemerintahan maupun di lingkungan masyarakat.

Meskipun kedua dinasti tersebut berbeda penggunaan peristilahan untuk pelaksana kekuasaan kehakiman, akan tetapi masing-masing badan yang berada di bawahnya sama-sama memiliki tiga badan peradilan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman, yakni Wilayah al- Qadha`, Wilayah al-Hisbah, dan Wilayah al-Mazhalim. Bahkan pada Dinasti Mamluk terdapat satu pelaksana kekuasaan kehakiman lagi, yakni Mahkamah Militer (Mahkamah alAsykariyah), dan kesemua lembaga tersebut berada di bawah naungan al-Qadhi al-Qudha`-semacam Mahkamah Agung di Indonesia yang membawahi lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Tata Usaha Negara, dan Peradilan Militer.

1. Kekuasaan Al-Qadha

Qadha adalah suatu lembaga hukum yang bertugas menyelesaikan pertikaian yang berhubungan dengan agama secara umum dan meluas dan statusnya guna menampakkan hukum agama, bukan menetapkan sesuatu hukum, karena hukum telah ada dalam hal apa pun yang di hadapi hakim. Hakim hanya menerangkannya ke dalam alam kenyataan, bukan menetapkan sesuatu yang belum ada.3

3 Hasbi Ash-Ahiddieqy, Peradilan dan Hukum Acara Islam, sebagaimana dikutip Zakaria Syafe`i dalam Negara dalam Persepektif Islam Fiqih Siyasah, h. 123.

(4)

4

Badan al-qadha ini dipimpin oleh seorang qadhi yang bertugas membuat fatwa-fatwa hukum dan peraturan yang digali langsung dari Al-Qur`an, Sunah rasul, ijma`, atau berdasarkan ijtihad. Badan ini bebas dari pengaruh penguasa dalam menetapkan keputusan hukum, sekalipun terhadap penguasa. Dalam konteks Indonesia, Qadha ini dapat disamakan dengan badan peradilan agama dan peradilan umum. Sedangkan bila dilihat dari persepektif kontemporer, fungsi lembaga qadhi dapat dikatakan mirirp dengan fungsi badan yudikatif dan legislatif. Pada satu sisi, qadhi mengurusi kasus yang membutuhkan penyelesaian secara hukum Islam, dan mengadili perkara-perkara perdata dan pidana berdasarkan hukum Islam. Pada sisi lain, qadhi juga memiliki kewajiban untuk melakukan ijtihad dalam rangka legislasi4 termasuk mengeluarkan fatwa yang diderivasikan dari syariah.

2. Kekuasaan Al-Hisbah

Hisbah adalah suatu tugas keagamaan yang dilaksanakan oleh penguasa dalam bidang amar ma`ruf nahi munkar. Orang yang memegang lembaga ini disebut muhtasib yang bertugas

“mengawasi berlaku tidaknya undang-undang umum dan adab-adab kesusilaan yang tidak boleh dilanggar oleh seorang pun seperti menangani kriminal yang perlu penyelesaian segera, mengawasi hukum, mengatur ketertiban umum, menyelesaikan masalah-masalah kriminal, mencegah terjadinya pelanggaran hak-hak tertangga, serta menghukum yang mempermainkan hukum syariat.5

Ungkapan di atas memberikan suatu gambaran bahwa lembaga hisbah menyerupai

“kepolisian”.di samping itu, dapat pula disamakan dengan jawaban penuntut umum (kejaksaan).

Namun, bila ditinjau dari sisi lain, kiranya dapat dikatagorikan pula sebagai lembaga pengadilan, hanya statusnya lebih rendah dari lembaga qadha.6

Hisbah yang bergerak dalam lapangan dawah amar ma‟ruf nahi munkar yang dilaksanakan oleh pihak penguasa tentu berbeda dengan amar maruf nahimunkar yang dilaksanakan oleh muslim, baik secara individu maupun kolektif, sekaslipun pelaksanaannya merupakan suatu kewajiban, atau dihukum wajib. Perbedaannya adalah sebagai berikut. 1.

4 Hasanuddin Hambali, Nurdin, Tarikh At-Tasyri` Al-Islami, (Serang, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2013), hlm. 7.

5 Farid Wajdi, Suhrawardi, 2020, Hukum Ekonomi Islam, Jakarta : Sinar Grafika, hlm. 305

(5)

5

Menyuruh ma‟ruf dan mencegah munkar adalah fardhu a‟in bagi muhtasib, karena dmemang diangkat untuk itu dan diberi gaji, sedang untuk orang yang lain merupakan fardhu kifayah. 2.

Muhtasib adalah orang-orang yang di tugaskan untuk bertindak atas seseorang yang membuat kemunkaran dan wajib memberi bantuan kepada orang yang meminta bantuannya. 3. Muhtasib harus membahas dan meneliti kemunkaran-kemunkaran yang nhyata untuk mencegah terjadinya, nsebagaimana dia harus mjemeriksa tentang perbutan-perbuatan ma‟ruf yang tidak di erjakanb oleh orang yang harus mengerjakannya 4. Muhtasib dapat mengangkat beberapa pegawainya untuk mnejalankan tugas hisbah dan dia diberi hal menjalankan hukuman ta‟zir terhadap orang- orang yang mengerjakan kemunkaran.7

3. Kekuasaan Al- Madzhalim

Al-Madzalim adalah salah satu komponen peradilan yang berdiri sendiri dan merupakan peradilan untuk mengurusi penyelesaian perkara perselisihan yang terjadi antara rakyat dan negara. Lembaga ini termasuk dalam yudikatif (kekuasaan kehakiman) yang lebih tinggi dari kekuasaan qadhi dan muhtasib. Lembaga ini bertugas, memeriksa perkara-perkara penganiyaan yang dilakukan oleh penguasa dan hakim-hakim atau anak-anak dari orang-orang yang berkuasa dan yang diperiksa dalam lembaga in adalah perkara-perkara yang diajukan oleh seorang yang teraniaya dan sebagiannya pula tidak memerlukan pengaduan dari yang bersangkutan.8

Selain itu, lembaga ini juga menangani kasus-kasus penganiayaan yang dilakukan oleh pejabat tinggi, bangsawan, hartawan, atau keluarga sultan terhadap rakyat biasa. Secara operasional, qadhi madhzalim bertugas menyelesaikan perkara yang tidak dapat diputuskan oleh qadha dan muhtasib, meninjau kembali putusan yang dibuat oleh dua hakim tersebut, atau menyelesaikan perkara banding.

Karena status lembaga ini sebagai lembaga tertinggi negara, maka dapatlah diidentikan dengan pengadilan tinggi atau Mahkamah Agung yang berfungsi menyelesaikan dengan pengadilan tinggi atau mahkamah agung yang berfungsi meneyelesaikan perkara-perkara banding (apel) atau kasasi yang belum tuntas diselesaikan oleh pengadilan pada tingkat bawahnya.

7 Zakaria Syafe`i, Negara, ..., h. 125.

8 Hasbi Ash-Shiddieqy, Peradilan dan Hukum Acara Islam, sebagaimana dikutip Zakaria Syafe`i dalam Negara dalam Perspektif Islam Fiqih Siyasah, h. 126.

(6)

6

Badan tersebut memiliki Mahkamah Madzalim. Sidangnya selalu diselenggarakan di masjid dan dihadiri oleh lima unsur sebagai anggota sidang:

1). Para pembela dan pembantu sebagai juri yang berusaha sekuat tenaga meluruskan penyimpangan-penyimpangan hukum.

2). Para hakim mempertahankan wibawa hukum dan mengembalikan hak kepada yang berhak.

3). Para fuqaha tempat rujukan qadhi madhalim bila menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan masalah yang musykil dari segi hukum syariat.

4). Para katib mencatat pernyataan – pernyataan dalam sidang dan keputusan sidang.

5). Para saksi memberi kesaksian terhadap masalah yang diperkarakan, dan menyaksikan bahwa keputusan yang diambil hakim adalah benar dan adil.9

. Wilayat al-madzalim ini juga menangani tindakan pejabat-pejabat negara termasuk hakim yang berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat. Kalau dibandingkan dengan lembaga-lembaga kehakiman sekarang, bisa dipadankan dengan Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung, sebagai tempat bagi orang yang kalah dan tak puas yang mengajukan perkaranya kembali.

Dengan adanya Mahkamah Agung dan ketuanya ini, kekuasaan negara di bidang pengadilan bertambah lengkap. Dibawah Mahkamah Agung ada pengadilan tinggi dan di bawahnya ada pengadilan negara.10

B. PERDAMAIAN (AS-SHULHU) 1. Pengertian

Secara bahasa, “sulh” berarti meredam pertikaian, sedangkan menurut istilah “sulh” berarti suatu jenis akad atau perjanjian untuk mengakhiri perselisihan/pertengkaran antara dua pihak yang bersengketa secara damai. Menyelesaikan sengketa berdasarkan perdamaian untuk mengakhiri suatu perkara sangat dianjurkan oleh Allah swt sebagaimana tersebut dalam surat An Nisa. ayat 126 yang terjemahnya “Perdamaian itu adalah perbuatan yang baik”.Ada tiga rukun

9 Zakaria Syafe`i, Negara, ..., h. 126.

10 Ibid, hlm.128

(7)

7

yang harus dipenuhi dalam perjanjian perdamaian yang harus dilakukan oleh orang melakukan perdamaian, yakni ijab, qabul dan lafazd dari perjanjian damai tersebut.11

Tentang (AW Munawir, Kamus Al Munawir:1984: 843) subyek atau orang yang melakukan perdamaian harus orang cakap bertindak menurut hukum. Selain dari itu orang yang melaksanakan perdamaian harus orang yang mempunyai kekuasaan atau mempunyai wewenang untuk melepaskan haknya atau hal-hal yang dimaksudkan dalam perdamaian tersebut. Belum tentu setiap orang yang cakap bertindak mempunyai kekuasaan atau wewenang. Orang yang cakap bertindak menurut hukum tetapi tidak mempunyai wewenang untuk memiliki seperti pertama : wali atas harta benda orang yang berada dibawah perwaliannya, kedua : pengampu atas harta benda orang yang berada di bawah pengampuannya, ketiga : nazir (pengawas) wakaf atas hak milik wakaf yang ada di bawah pengawasannya.12

2. Dasar Hukum

Perdamaian dalam syariat Islam sangat dianjurkan sebab dengan perdamaian akan terhindarlah kehancuran silaturahim (hubungan kasih sayang) seka ligus permusuhan di antara pihak-pihak yang bersengketa dapat diakhiri Adapun dasar hukum anjuran diadakannya perdamaian dapat dilihat dalam ketentuan Alquran, Hadis, dan Ijma. Firman Allah: "Jika dua golongan orang beriman bertengkar, damai kanlah mereka. Tetapi jika salah satu dari kedua (golongan) berlaku aniaya terhadap yang lain, maka perangilah orang yang aniaya sampai kembali kepada perintah Allah. Tetapi jika ia telah kembali damaikanlah keduanya dengan adil, dan bertindaklah benar." (QS. Al-Hujarat, 49: 9), Rasulullah bersabda: "Perjanjian di antara orang-orang muslim itu boleh, kecuali perjanjian yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yung halal.13 At Tirmizi dalam hal ini menambahkan, "(Muamalah) orang-orang muslim itu berdasarkan syarat-syarat mereka."

Khalifah Umar bin al-Khathab di dalam suatu peristiwa mengungkapkan, "Tolaklah permusuhan hingga mereka berdamai, karena pemutusan perkara melalui pengadilan akan mengembangkan kedengkian di antara mereka (pihak yang bersengketa)."

11 Nurhayati, Penyelesaian Sengketa dalam Hukum Ekonomi Islam , Jurnal Ekonomi Syariah,Vol.3,No.1,2019, hlm.3.

12 Ibid, hlm.3.

13 Sayyid Sabiq,1987.Fikih Sunnah Jilid 13, terj. Kamaluddin A.Marzuki, Bandung: PT. Al-Ma’arif,hlm.190.

(8)

8

Ungkapan Umar itu tentunya dapat diterima, sebab penyelesaian perkara melalui pengadilan pada hakikatnya hanyalah penyelesaian yang bersifat formalitas belaka. Pihak-pihak yang bersengketa dipaksakan untuk menerima putusan tersebut walaupun terkadang putusan badan peradilan itu tidak memenuhi rasa keadilan. Konsekuensinya, terkadang masih ada lagi lanjutan persengketaan itu di luar sidang. Bahkan sering salah satu pihak bertindak main hakim sendiri untuk memenuhi rasa keadilannya.

3. Rukun dan Syarat Ash-Shulhu a. Sighat (Ijab dan Kabul)

Menurut ulama‟ Hanafiyah, yang menjadi rukun perjanjian perdamaian hanyalah ijab dan qabul antara pihak yang melakukan akad.14 Ulama‟ lain berpendapat, bahwa rukun ash-shulhu ada empat yakni adanya dua orang yang melakukan akad, ijab qabul, persoalan yang diperselisihkan (mushalih „anhu) dan bentuk perdamaian yang mereka sepakati (badl al- shulh).15 Menurut Hendi Suhendi dalam buku fiqh mu'amalah disebutkan bahwa rukun-rukun ash-shulhu adalah sebagai berikut:

a. Mushalih, yaitu masing-masing pihak yang melakukan akad perdamaian untuk menghilangkan permusuhan atau sengketa.

b. Mushalih „anhu, yaitu persoalan-persoalan yang diperselisihkan atau disengketakan.

c. Mushalih „alaih, yaitu hal-hal yang dilakukan oleh salah satu pihak terhadap lawannya untuk memutuskan perselisihan, hal ini disebut juga dengan badal al-shulhu

d. Shighat ijab dan qabul antara dua pihak yang melakukan perdamaian.16Ijab dan qabul dapat dilakukan dengan lafad-lafad atau dengan apa saja yang menunjukkan adanya ijab dan qabul, seperti misalnya ucapan terdakwa: “aku berdamai denganmu, kubayar upahmu yang lima puluh dengan seratus”. Dan pihak lain berkata: “ telah aku terima”.

Apabila rukun itu telah terpenuhi maka perjanjian perdamaian di antara para pihak yang bersengketa telah berlangsung dengan sendirinya, dan dengan perjanjian perdamaian itu maka

14 Drs. Helmi Karim, Fiqih Muamalah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993, Cet. Ke 1, hlm. 49

15 Ibid ,hlm.57

16 Hendi Suhendi, Fiqh Mu'amalah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 174

(9)

9

lahirlah suatu ikatan hukum, yang masing-masing pihak berkewajiban untuk memenuhi atau menunaikan pasal-pasal perjanjian perdamaian. Jika salah satu pihak tidak menunaikannya, pihak yang lain dapat menuntut agar perjanjian itu dilaksanakan (dapat dipaksakan pelaksanaannya). Perdamaian ini tidak dapat dibatalkan secara sepihak, kalaupun hendak dibatalkan harus berdasarkan kepada kesepakatan kedua belah pihak.17 Dengan adanya akad ini penggugat berpegang kepada mushalih „alaih dan tergugat tidak berhak lagi meminta dan menggugurkan gugatannya, karena suaranya tidak lagi didengar.18

b. Menyangkut Subjek (Pihak-Pihak yang Mengadakan Perjanjian Perdamaian)

Tentang subjek/orang yang melakukan perdamaian harus orang yang cakap bertindak menurut hukum. Orang yang cakap bertindak adalah orang yang telah dewasa menurut hukum.

Orang yang melakukan perjanjian perdarmaion selain cakap bertindak menurut hukum, juga harus orang yang mempunya kekuasaan atau mempunyai wewenang untuk melepaskan haknya atas hal-hal yang dimaksudkan dalam perdamaian tersebut. Belum tentu setiap orang yang cakap bertindak mempunyai kekuasaan atau wewenang.19

Orang yang cakap bertindak menurut hukum tetapi tidak mempunyai kekuasaan atau wewenang itu seperti :

1) wali, atas harta benda orang yang berada di bawah perwaliannya,

2) pengampu, atas harta benda orang yang berada di bawah pengampuannya,

3) nadzir (pengawas) wakaf, atas hak milik wakaf yang ada di bawah pengawasannya.

Ketidakbolehan wali, pengampu, serta nadzir dapat diterima, fika seandainya dibolehkan, dikhawatirkan akibat yang timbul dari perjanjian perdamaian dapat mengakibatkan kerugian bagi pemegang hak

c. Menyangkut Objek Perdamaian

Tentang objek perdamaian harus memenuhi ketentuan sebagai berikut.

17 Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Jakarta: Sinar Grafika, cet-1, 2000, hlm. 180

18 Sayyid Sabiq, Op. cit, hlm. 190

19 Sayyid Sabiq, Op. cit, hlm. 190

(10)

10

1) Berbentuk harta (dapat berupa benda berwujud, seperti tanah dan dapat juga berupa benda tidak berwujud, seperti hak milik intelektual) yang dapat dinilai atau dihargai, dapat diserahterimakan, dan bermanfaat.

2) Dapat diketahui secara jelas, sehingga tidak melahirkan kesamaran dan ketidakjelasan.

Sengketa dalam kegiatan ekonomi objeknya adalah berkenaan dengan harta benda. Disebut harta benda apabila memiliki unsur-unsur seperti berikut.

1) Sesuatu yang berwujud dan bersifat material.

2) Sesuatu yang secara tradisi (kebiasaan masyarakat) dipandang mem- punyai nilai harta.

3) Sesuatu yang secara syar'i halal

4) Sesuatu yang dapat disimpan dan dimiliki.

5) Sesuatu yang dapat diambil manfaatnya."20 d. Persoalan yang Boleh Didamaikan

Tidaklah segala sesuatu persoalan dapat didamaikan (diadakan perjanjian perdamaian).

Sengketa atau pertikaian yang dapat didarnaikan jika menyangku hal berikut.

1) Pertikaian itu berbentuk harta yang dapat dinilai.

2) Pertikaian itu menyangkut hak manusia yang boleh diganti.

4. Pelaksana Perdamaian

Pelakasana perdamaian, pelaksana perjanjian damai bisa dilaksanakan dengan dua cara, yakni di luar sidang pengadilan atau melalui sidang pengadilan.

a. Diluar sidang Pengadilan, penyelesaian sengketa dapat dilaksanakan baik oleh mereka sendiri (yang melakukan perdamaian) tanpa melibatkan pihak lain, atau meminta bantuan orang lain untuk menjadi penengah (wasit), itulah yang kemudian disebut dengan arbitrase, atau dalam syariat Islam disebut dengan hakam.

20 Ghufran A. Mas’adi, 2002, Fiqh Muamalah Kontekstual, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, hlm.12.

(11)

11

b. Pelaksanaan perjanjian damai melalui sidang Pengadilan dilangsungkan pada saat perkara sedang diproses dalam sidang Pengadilan. Di dalam ketentuan perundang-undangan ditentukan bahwa sebelum perkara diproses, atau dapat juga selama diproses bahkan sudah diputus oleh Pengadilan tetapi belum mempunyai kekuatan hukum tetap, hakim harus menganjurkan agar para pihak yang bersengketa supaya berdamai. Seandainya hakim berhasil mendamaikan pihak- pihak yang bersengketa, maka dibuatlah putusan perdamaian, kedua belah pihak yang melakukan perdamaian itu dihukum untuk mematuhi perdamaian yang telah mereka sepakati.21

5. Pembatalan Perdamaian

Pada dasarnya perjanjian perdamaian tidak dapat dibatalkan secara sepihak telah mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan keputusan peng tingkat terakhir (berkekuatan hukum tetap for krucht van gereken tetapi perjanjian perdamaian tersebut masih mungkin untuk dibatalkan, yang telah teradi suatu kekhilafan mengenai subjeknya (orangnya) atau telah terjadi kekhilafan terhadap pokok perselisihan.22

Akta perdamaian yang diputuskan oleh hakim, memiliki kekuatan eksekutorial sama seperti putusan hakim vang telah berkekuatan hukum tetap. Begitu puri, tentu selalu ada pengecualian (escape clause) dalam hukum Landasan hukum yang terkait dengan pembatalan akta perdamaian, yakni Pasal 1859, 1860, dan 1861 KUH Perdata. Secara tegas ketentuan dalam Pagal 1859 KUH Perdata menyatakan perdamaian dapat dibatalkan bila telah terjadi suatu kekeliruan mengenai orang yang bersangkutan atau pokok perselisihan. Perdamaian dapat dibatalkan dalam segala hal, bila telah dilakukan penipuan atau paksaan.23

Selain itu suatu akta perdamaian dapat dibatalkan, yaitu apabila isinya bertentangan dengan undang-undang. Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) dalam Putusan MA Nomor 454 K/Pdt/1991 yang merumuskan norma, akta perdamaian dapat dibatalkan jika

21 Nurhayati, Penyelesaian Sengketa dalam Hukum Ekonomi Islam , Jurnal Ekonomi Syariah,Vol.3,No.1,2019, hlm.4- 5.

22 Farid Wajdi, Suhrawardi, 2020, Hukum Ekonomi Islam, Jakarta : Sinar Grafika, hlm. 312

23 Ibid, hlm.312

(12)

12

isinya bertentangan dengan undang- undang.Pembatalan terhadap suatu akta perdamaian dapat dilakukan oleh salah satu pihak yang berperkara di pengadilan. Apabila alasan pembatalan tersebut dikarenakan adanya kekeliruan mengenai orang yang bersangkutan atau pokok perselisihan, dan dilakukan dengan penipuan atau paksaan serta bertentangan dengan undang-undang.

C. ARBISTRASE (TAHKIM)

1. Pengertian Arbistrase

Jika menurut pengertian Indonesia Kata "arbitrase" berasal dari berarti perwasitan, arbitrase bahasa Inggris " arbitration", Pengertian arbitrase menurut UU. No. 30 Tahun 1999 pada pasal 1 di sebutkan : " Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbit-rase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa". (UU. No.30.1999: Pasal 1 ayat 1).Sampai saat ini masih belum terdapat batasan pengertian arbitrase yang dapat dijadikan patokan. Oleh karena untuk membuat definisi arbitrase, sebagaimana dinyatakan oleh Huala Adolf, memang tidaklah mudah. (Huala Adolf, 1991: 9).

Dalam perspektif Islam, “arbitrase” dapat dipadankan dengan istilah “tahkim”. Tahkim sendiri berasal dari kata “hakkama”. Secara etimologi, tahkim berarti menjadikan seseorang sebagai pencegah suatu sengketa. Secara umum, tahkim memiliki pengertian yang sama dengan arbitrase yang dikenal dewasa ini yakni pengangkatan seseorang atau lebih sebagai wasit oleh dua orang yang berselisih atau lebih, guna menyelesaikan perselisihan mereka secara damai, orang yang menyelesaikan disebut dengan “Hakam”

Pengertian arbitrase menurut para ahli secara prinsipil tidaklah jauh berbeda. Seperti yang dikemukakan oleh R. Subekti senada dengan pendapat Sudikno Merokusumo yang mengartikan arbitrase atau perwasitan sebagai suatu prosedur penyelesaian

sengketa diluar peradilan atas kesepakatan para pihak bersang-kutan oleh seorang wasit atau lebih. (Subekti, 1992: 181).

2. Dasar Hukum

Adapun sebagai dasar hukum arbitrase di Indonesa sebelum disahkan dan dibelakukan Undang-undang nomor 30 tahun 1999 adalah mengacu pada :

(13)

13 a. Aturan Peralihan Undang-undang Dasar 1945;

Pasal II Aturan Peralihan Undang-undang Dasar 1945 menentukan segala badan Negara dan peraturan yang ada mash langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut undang-undang dasar ini. Jadi dengan sendirinya ketentuan hukum kolonial mash tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diatur menurut Undang-undang Dasar 1945. Oleh karena itu hukum acara perdata kita masih bersumber pada HIR dan RBG.

b. HIR dan RBG

Pasal 377 HIR/705 RBG ditetapkan jika orang Indonesia atau Timur Asing menghendaki perselisihan mereka diputuskan oleh juru pisah atau arbiter, maka mereka wajib menuruti peraturan pengadilan perkara yang berlaku bagi bangsa Eropah. Jadi pasal ini memberikan kemungkinan untuk menyelesaikan sengketa dengan cara mengadakan arbitrase yang diadakan olkeh para pihak. Pembentukan dan cara kerjanya tunduk pada hukum acara perdata orang Eropa.

c. Regulation on Civil Procedure (RV).

Dalam RV pada pasal 615 sampai dengan pasal 651 telah diatur pedoman umum arbitrase. RV antara lain menentukan diperkenankannya kepada siapa saja terlibat dalam suatu sengketa yang mengenai hak-hak yang berada dalam kekuasaannya untuk melepaskannya, untuk menyerahkan pemutusan sengketa tersebut kepada seorang atau beberapa orang wasit. Bahkan diperkenankan mengikatkan diri satu sama lain untuk menyerahkan sengketa-sengketa yang mungkin timbul dikemudian hari kepada pemutusan seorang atau beberapa orang wasit. Dengan demikian sebelum Indonesia merdeka sudah dikenal adanya arbitrase atau perwasitan sebagai pemutus perselisihan atau sengketa.

d. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW)

Berdasarkan Pasal 1851 BW dimungkinkan penyelesaian perselisihan di luar pengadilan yang dituangkan dalam sebuah akta poerdamaian (dading).

e. Undang-undang nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Penyelesaian perselisihan di luar pengadilan dapat dibaca dalam penjelasan Pasal 3 Undang-undang, yang antara lain menyetakan penyelesaian perkara di luar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui wasit (arbitrase) tetap diperbolehkan.

f. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. Pasal 39 dan ditetapkan pengaturan susunan, kekuasaan dan jalan pengadilan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

(14)

14

Pasal 15 dan 108 Undang-undang ini menentukan Mahkamah Agung juga memutus pada tingkatan peradilan kedua atas putusan-putusan wasit yang ternyata mengenai nilai harga dua puluh lima rupiah atau lebih. (Disarikan dari Rachmadi Usman, 2000, Jakarta: Djambatan, hal.

88)

Dengan keluarnya Undang-undang Nomor 30 tahun 1999 tentang arbitrase, maka ketentuan dan perundangan yang diperlakukan sebelumnya sebagai dasar berlakunya arbitrase di Indonesia dinyatakan tidak berlaku lagi.

D. SENGKETA EKONOMI ISLAM

Kekuasaan Peradilan Agama berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006 lebih luas dari pada Undang-undang Nomor 7 tahun 1989. Peradilan Agama sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bertugas menyelenggarakan penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat pencari keadilan perkara tertentu, antar orang yang beragama Islam dalam bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah, dan ekonomi syariah. Landasan hukum positif penerapan hukum Islam diharapkan lebih kokoh dengan Undangundang Nomor 3 Tahun 2006 ini, karena telah menghapus permasalahan pilihan hukum.24

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 kedudukan Badan Peradilan Agama semakin eksis. Hal ini seiring bertambahnya kewenangan absolut Peradilan Agama dalam menangani perkara-perkara tertentu. Lebih jelasnya, perbedaan mendasar tersebut adalah Peradilan Agama semakin mendapatkan kepercayaan masyarakat dan negara Indonesia untuk mengadili dan menyelesaikan perkaraperkara selain yang telah diuraikan di atas juga terhadap perkaraperkara sebagai berikut : Pertama, Perkara zakat; sengketa zakat suatu saat pasti muncul jika terjadi penyimpangan penggunannya, tidak didistribusikan sebagaimana mestinya, dan lain- lain. Kedua, Perkara infaq; jika suatu saat institusi keagamaan yang dananya bersumber dari infaq, lalu timbul gugatan. Ketiga, Perkara dibidang ekonomi syariah; sektor ekonomi syariah yang lebih luas lagi dari pada zakat dan infaq dan keempat Perkara Penetapan Pengangkatan Anak berdasarkan Hukum Islam.25

24 Afdol, Legislasi Hukum Islam di Indonesia, (Surabaya: Airlangga University Press, 2006), hlm. 119.

25 Mohammad Daud Ali, Lembaga-lembaga Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo, 1995), hlm 96.

(15)

15

Adapun yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsipsyari‟ah, meliputi Bank Syariah, Asuransi Syariah, Reasuransi, Reksa dana Syariah, Obligasi Syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah, Sekuritas Syariah, Pegadaian syariah, Dana Pensiun Lembaga Keuangan Syariah dan Lembaga Keuangan Mikro-Syariah.26

1. Proses Penyelesaian Perkara/Sengketa Ekonomi Syariah Proses penyelesaian

perkara/sengketa ekonomi syariah dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yakni luar pengadilan (non-litigasi) dan pengadilan (litigasi).

a. Proses Penyelesaian Perkara atau Sengketa Ekonomi Syariah di Luar Pengadilan

Alternative Dispute Resolution (ADR) adalah penyelesaian sengketa yang dilakukan di luar pengadilan yang ada di Indonesia. ADR merupakan penyelesaian perkara atau sengketa yang dilakukan atas dasar keinginan dari pada pihak yang bersengketa guna menyelesaikan perkara/sengketa mereka di luar pengadilan, dalam artian di luar ajudikasi standar konvensional.

Dasar hukum penyelesaian sengketa di luar Pengadilan sebagai berikut.

1) Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 beserta dengan penjelasannya:

"Semua peradilan di seluruh wilayah Republik Indonesia adalah Peradilan Negara dan ditetapkan dengan undang-undang."

2) Pasal 1851, 1855, dan 1858 KUH Perdata yang pada intinya membuka ruang perdamaian untuk mengakhiri perselisihan serta pengakuan kekuatan putusan perdamaian.

3) Pasal 6 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Secara substansi menyatakan sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa.

26 Mardani, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), hlm. 58.

(16)

16

Sekaligus mewajibkan didaftarkannya perjanjian perdamaian di Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 hari sejak penandatanganan.

Perjanjian tersebut bersifat final dan mengikat para pihak untuk di- ksanakan dengan iktikad baik. Bagaimana halnya bila salah satu pihak tidak melaksanakan perjanjian tersebut Perjanjian perdamaian yang dituangkan dalam sebuah Akta Notaris merupakan akta otentik.

b. Mediasi dan Arbitrae di Basyarnas

Proses ini pada umumnya dilakukan melalui mediasi dan arbitrase di 193 Badan Arbitrase Syariah Nasional) pada awal didirikan pada 21 Oktober 1993 leh MUI bernama BAMUI.

Untuk Mengantisipasi potensi sengketa yang diakibatkan wanprestasi atas ikatan perjangan Untuk mengantisipasi laju pertumbuhan perbankan syariah dan mene telah dibangun, maka pada tahun 2003 MUI melalui SK No. Kep-09/MUD 2003 tanggal 30 Syawal H/24 Desember 2003 M. Ketika itu ditandatangani oleh Dr. KH. M.A. Sahal Mahfudh selaku Ketua Umum dan Prof.

Dr. HAM Dien Syamsuddin selaku Sekretaris Umum MUI menetapkan sebagai berikut : 1) Mengubah nama BAMUI menjadi Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas).

2) Mengubah bentuk badan hukum BAMUI dari yayasan menjadi badan yang berada di bawah MUI dan merupakan perangkat organisasi MUI.

3) Tugas dan fungsi Basyarnas bersifat otonom dan independen

Pendirian badan arbitrase Islam di Indonesia sebagai sarana untuk menyelesaikan sengketa lembaga keuangan syariah, baik perbankan syariah, asuransi syariah, pengadaian syariah, dan bisnis-bisnis Islam lainnya yang sifatnya formal, seperti perhotelan syariah. Lembaga arbitrase syariah ini merupakan bentuk penyelesaian sengketa non-litigasi yang menempuh jalur- jalur mediasi dan perdamaian.

Basyarnas adalah arbitrase syariah atau lembaga hakam yang didirikan atas prakarsa MUI yang termasuk dalam organisasi MUI.27 Kesepakatan untuk melimpahkan perkara atau sengketa

27 Pasal 1 ayat (1) Pedoman Dasar Badan Arbitrase Syariah Nasional.

(17)

17

ke Basyarnas dilakukan oleh pihak yang berperkara dengan mencantumkan klausula arbitrase di dalam satu draft perjanjian atau dengan perjanjian arbitrase tersendiri. Draft yang dibuat kemudian disetujui para pihak, baik sebelum maupun sesudah timbul perkara atau sengketa.28 2. Mediasi

Mediasi merupakan suatu proses perdamaian yang dilakukan oleh pihak berperkara atau bersengketa yang diserahkan kepada seorang mediator untuk mencapai hasil akhir yang adil, tidak perlu mengeluarkan biaya terlalu besar, tetapi dapat diterima och kedua pihak dengan sukarela." Ketentuan mediasi dapat ditemukan dalam Pasal 6 ayat (3) dan ayat (5) UU No. 30 Tahun 1990. Mediasi melibatkan pihak yang bersifat netral, yaitu pihak ketiga dan berfungsi sebagai mediator. Mediasi dijalankan berdasarkan kesepakatan dan kehendak oleh para pihak.

Secara prinsipil dalam sebuah proses penyelesaian sengketa di lembaga peradilan terlebih dahulu harus melalui sebuah proses perdamaian (mediasi) yang sesuai dengan ketentuan pada Pasal 7 PERMA No. 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan menyatakan: "Pada hari sidang yang telah ditentukan yang dihadiri oleh kedua belah pihak, hakim mewajibkan para pihak untuk menempuh mediasi." Jika mediasi menghasilkan mufakat atasperdamaian, para pihak yang dibantu oleh mediator membuat rumusan secara tertulis sesuai dengan kesepakatan yang dicapai (akta perdamaian) yang ditandatangani para pihak beserta mediatornya.29

Selain arbitrase dan mediasi, masih ada alternatif lain dalam penyelesaian sengketas, yakni sebagai berikut :

a. Konsultasi Black.s Law Dictionary memberi pengertian Konsultasi adalah “aktivitas konsultasi atau perundingan seperti klien dengan penasehat hukumnya”

b. Negosiasi adalah proses yang dilakukan oleh dua pihak dengan permintaan (kepentingan) yang saling berbeda dengan membuat suatu persetujuan secara kompromis dan memberikan kelonggaran.

28 Pasal 2 Peraturan Prosedur Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas).

29 Baca Pasal 17 ayat (1) Perma No.1 Tahun 2008 tentang prosedur mediasi dipengadilan

(18)

18

c. Konsiliasi adalah penciptaan penyesuaian pendapat dan penyelesaian suatu sengketa dengan suasana persahabatan dan tanpa ada rasa permusuhan yang dilakukan di pengadilan sebelum dimulainya persidangan dengan maksud untuk menghindari proses legitasi.

d. Pendapat atau Penilaian Ahli (Muhammad Ibnu Farhum: 1031:19) Bentuk ADR lainnya yang diintrodusir dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1990 adalah pendapat (penilaian) ahli.

Dalam rumusan pasal 52 Undang-Undang ini dinyatakan bahwa para pihak dalam suatu perjanjian berhak untuk memohon pendapat yang mengikat dari lembaga arbitrase atas hubungan hukum tertentu dari suatu perjanjian.

3. Penyelesaian Sengketa Ekonomi Islam Melalui Pengadilan (Litigasi)

Ketika terjadi satu problem dalam sidang ekonomi berbasis syariah bisa terlebih dahulu diselesaikan melalui cara sulhu dan tahkim. Ketika dua metode tersebut belum bisa menyelesaikan permasalahan atau dinilai tidak efektif dalam menyelesaikan permasalahan maka kasus tersebut dibawa keranah peradilan agama. Permasalahan ini sudah diatur dalam perundang-undangan No. 48 tahun 2009. Dalam perundangan-undangan tersebut sudah diatur terkait asas-asas peradilan yang di tuliskan secara gamblang dan tegas. Dalam perundang- undangan tersebut disebutkan bahwasanya ada empat lembaga peradilan di Indonesia.

Persoalan tentang tugas dari peradilan agama juga diatur dalam pasal 49 UUPA. Bisa difahami bahwasanya tugas dari peradilan Agama yaitu memeriksa, memutus serta menyelesaikan permasalahan yang sedang ditangani. Jenis-jenis permasalahan dalam peradilan agama merupakan seputar permasalahan hukum keluarga islam. Penjelasan terkait permasalahan disini ialah ekonomi berbasis syariah dimana sistem perekonomian tersebut ialah, satu perlakukan dari sistem satu bisnis yang dijalankan berdasarkan konsep-konsep syariah. Bentuk- bentuk dari lembaga perekonomian yang berasakan syariah ialah diantaranya Bank syariah, Asuransi syariah dan lain sebagainya.

Tata cara dalam menyelesaikan permasalahan dari kasus ekonomi berbasis syariah sudah diatur dalam peraturan Mahkamah Agung No. 14 Tahun 2016. Dalam proses penyelesaian konflik dalam bidang ini di sesuaikan dengan konsep-konsep syariah serta peraturan dari Peradilan Agama. Diatur bahwasanya segala konflik yang terjadi dalam urusan bisnis dengan

(19)

19

peraturan syariah bisa di ajukan terhadap peradilan dengan bentuk gugatan sederhana ataupun gugatan peradilan biasa.

1) Tata cara penyelesaian perkara dengan gugatan sederhana Sengketa yang terjadi bisa diajukan dengan cara mengajukan gugatan baik secara tertulis ataupun lisan. Dalam pengajuan tertulis bisa dalam bentuk cetak maupun pendaftaran via online. Proses penyelidikan satu konflik ekonomi syariah bisa dilakukan dengan cara sederhana, yaitu penyelidikan pada kasus ekonomi syariah yang menurut peraturan peradilan tahun 2015 nomor dua, bahwasannya nilai gugatannya sebesar Rp. 200.000.000,- dan terjadi perubahan pada peraturan tahun 2019 nomor 4 yaitu sebesar Rp. 500.000.000,-. Dari perubahan yang terjadi sifat dari gugatan menjadi lebih cepat, sederhana dan dengan biaya rendah.

2) Tata cara penyelesaian dengan gugatan acara biasa Untuk mnyelesaikan satu permasalahan dalam bidang perekonomian terutama yang berbasis syariah cukup hanya dengan menggunakan gugatan tipe sederhana. Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat dengan tipe kasus sederhana agar dalam prosesnya tidak terlalu rumit. Aturan dari penuntasan sengketa dalam bidang ekonomi syariah sudah tertera dalam peraturan UU No.3/2006 yang menjadi perubahan dari UU terdahuluunya. kewenangannya juga diperkuat dengan keputusan dari MK No. 93/PUU-X/2012. Dari sejumlah aturan tersebut memberikan arahan bahwasanya satu kasus gugatan sederhana bisa diselesaikan di peradilan agama.

Berikut ialah tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh penggugat dan tergugat ketika menyelesaikan konflik pada pengadilan Agama: 1) pengajuan penggugatan kepada lembaga peradilan, 2) kubu-kubu yang bersangkutan akan dipanggil, 3) sidang kedua pembacaan gugatan, apabila disidang pertama gagal mediasi, 4) proses memberikan alasan sebagai bentuk penjawaban dari kubu yang digugat, 5) mengikuti persidangan berbasis replik serta duplik, 6) tahap berikutnya ialah pengkroscekan dari data yang dijadikan sebagai bukti oleh pihak pengadilan, 7) perundingan antara majelis hakim, 8) pengumuman hasil musyawarah sebagai hasil dari keputusan persidangan. Kemudian semua pihak yang memiliki keterkaitan bisa meminta salinan dari lembar keputusan yang di putuskan oleh hakim dalam persidangan. Apabila

(20)

20

ada dari salah satu pihak yang merasa keberatan, sebaiknya bisa mengajukan laporan ulang didalam kurun waktu 7 hari, untuk melakukan banding.30

4. Sumber Hukum Materil Berkaitan Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah

Peraturan perundang-undangan yang harus dipahami oleh hakim PA berhubungan dengan bank indonesia adalah sebagai berikut :

a. Peraturan Perundang-undangan Berkaitan dengan Bank Indonesia

Peraturan perundang-undangan berkaitan dengan BI meliputi bidang obligasi, surat berharga berjangka, sekuritas, pembiayaan, penggadaian, dana pensiun lembaga keuangan, bisnis syariah, termasuk wakaf, zakat, infaq, dan shadaqah yang bersifat komersial, baik yang bersifat kontensius maupun volunteer, bank, lembaga keuangan mikro, asuransi, reasuransi, reksadana yang kesemuanya ada label syariah di belakangnya.

Di luar ketentuan hukum positif seperti disebutkan sebelumnya masih ada sumber lain, yakni Fatwa DSN-MUL Lembaga ini mempunyai kewenangan untuk menetapkan fatwa tentang produk dan jasa dalam kegiatan usaha bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

b. Akad Perjanjian (Kontrak)

Kata akad bersumber dari bahasa Arab, yaitu al-aqdu berarti menyimpul atau mengikat janji. Sebagian ahli bahasa ada yang melafalkan akad bermakna simpul atau buhul. Melakukan ikatan atau perjanjian jual beli diistilahkan dengan aqdu al-buyu. Akad disebut juga dengan perjanjian dan perikatan. Akad merupakan perikatan yang lahir dari perjanjian.

Unsur akad dalam perspektif fikih memiliki 4 (empat) dasar yang ho dipenuhi pada setiap akad, yaitu pertama, para pihak yang bestro kedua, objek akad, ketiga, substansi (materi) akad, keempat, rukan akad Setiap unsur akad memiliki persyaratan yang harus dipenuhi agar skad n dianggap sahih dan valid. Sumber akad dalam hukum Islam meliputi pertama, akad atau perjanjian; kedua, kehendak sepihak (al-iradah al-munfaridah), ketiga, pes buatan merugikan (al- fi'l al-dar), keempat, perbuatan yang bermanfaat falfi al-nafi) dan kehendak syara

30 Andri Soemitra, Hukum Ekonomi Syari’ah dan Fiqh Muamalah..., 266-68.

(21)

21

Konsistensi pihak yang berkontrak untuk menjaga apa yang disepakati dalam kontrak harus menjadi komitmen bersama. Untuk mencapai komitmen itu, kedua belah pihak yang berkontrak harus sejajar dalam rangka mencapai kesepakatan sebagaimana dituangkan dalam kontrak.

Dalam menyelesaikan perkara sengketa ekonomi Islam, sumber hukum utama adalah perjanjian, sedangkan yang lain merupakan pelengkap saja. Oleh karena itu, hakim harus memahami apakah suatu akad perjanjian itu sudah memenuhi syarat dan rukun sahnya suatu perjanjian. Apakah suatu akad perjanjian itu sudah memenuhi asas kebebasan berkontrak, asas persamaan dan kesetaraan, asas keadilan, asas kejujuran dan kebenaran, serta asas tertulis.

Hakim juga harus meneliti apakah akad perjanjian itu mengandung hal-hal yang dilarang oleh syariat Islam, seperti mengandung unsur riba dengan segala bentuknya, ada unsur gharar atau tipu daya, unsur maisir atau spekulatif, dan unsur dhulm atau ketidakadilan. Jika unsur- unsur ini terdapat dalam akad perjanjian itu maka hakim dapat menyimpang dari isi perjanjian tersebut.

c. Fiqih dan Ushul Fiqih

Dari kitab tersebut diketahui qawaid fiqiyah adalah kaidah atau dasar fikih yang bersifat umum yang mencakup hukum syara menyeleruh dari berbagai bab dalam masalah-masalah yang masuk di bawah cakupan. DSN-MUI dalam menetapkan berbagai fatwa tentang ekonomi syariah sebagaimana yang terdapat dalam buku Himpunan Fatwa DSN-MUI, hampir semua fatwanya selain ber-hujjah pada Alquran dan As-Sunnah serta aqwal ulama juga ber-hujjah kepada qowaidul fiqhiyyah.

d. Adat Kebiasaan

Islam Tidak Menjelaskan semua persoalan hukum,terutama dalam bidang muamalah didalam Alquran dan As-sunnah. Islam meletakkan prinsip-prinsip umum yang dapat dijadikan pedoman oleh para mujtahid untuk berijtihad menentukan hukum terhadap masalah-masalah baru yang sesuai dengan tuntutan zaman.

e. Yurisprudensi

Yurisprudensi mempunyai kedudukan yang sangat penting d memutuskan perkara yang serupa. Dengan kata lain, bahwa yuraprades merupakan sumber hukum formil dalam sebuah

(22)

22

negara Yurispra penting dipelajari di samping perundang-undangan yang ada, kare dalam yurisprudensi terdapat banyak garis-garis hukum yang berlaku dan masyarakat namun tidak terbaca dalam undang-undang, Jadi, membe hukum dalam perundang-undangan saja tanpa mempelajari pursprun tidaklah lengkap.

(23)

23 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN

Pelaksana kekuasaan kehakiman memiliki tiga badan peradilan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman, yakni Wilayah al-Qadha`, Wilayah al-Hisbah, dan Wilayah al-Mazhalim.

Bahkan pada Dinasti Mamluk terdapat satu pelaksana kekuasaan kehakiman lagi, yakni Mahkamah Militer (Mahkamah alAsykariyah), dan kesemua lembaga tersebut berada di bawah naungan al-Qadhi al-Qudha`-semacam Mahkamah Agung di Indonesia yang membawahi lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Tata Usaha Negara, dan Peradilan Militer.

Ash-shulhu berarti suatu jenis akad atau perjanjian untuk mengakhiri perselisihan/pertengkaran antara dua pihak yang bersengketa secara damai. Menyelesaikan sengketa berdasarkan perdamaian untuk mengakhiri suatu perkara.

Arbitrase atau dalam islam disebut dengan “tahkim” berarti menjadikan seseorang sebagai pencegah suatu sengketa. Secara umum, tahkim memiliki pengertian yang sama dengan arbitrase yang dikenal dewasa ini yakni pengangkatan seseorang atau lebih sebagai wasit oleh dua orang yang berselisih atau lebih, guna menyelesaikan perselisihan mereka secara damai.

Perkara/sengketa ekonomi syariah dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yakni luar pengadilan (non-litigasi) dan pengadilan (litigasi). Penyelesaian sengketa luar pengadilan bisa dilakukan dengan cara Mediasi,Negoisasi,Konsiliasi,Konsultasi dan Penilaian Ahli.

(24)

24 DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim Muhamad Sholeh, Sengketa Ekonomi Syari‟ah dan Kesiapan Peradilan Agama, Jurnal Bimas Islam Vol.8. No.I ,2015

Andri Soemitra, 2019, Hukum Ekonomi Syari‟ah dan Fiqh Muamalah,Jakarta : Kencana.

Afdol, 2006, Legislasi Hukum Islam di Indonesia, Surabaya: Airlangga University Press.

Drs. Helmi Karim, Fiqih Muamalah, 1993, Jakarta :PT. Raja Grafindo Persada.

Farid Wajdi, Suhrawardi, 2020, Hukum Ekonomi Islam, Jakarta : Sinar Grafika.

Ghufran A. Mas‟adi, 2002, Fiqh Muamalah Kontekstual, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Hasanuddin Hambali, Nurdin, 2013, Tarikh At-Tasyri` Al-Islami, (Serang, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)

Hendi Suhendi,2002, Fiqh Mu'amalah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Mardani, 2007,Hukum Acara Peradilan Agama, Jakarta: Sinar Grafika.

Mohammad Daud Ali, 1995, Lembaga-lembaga Islam di Indonesia,Jakarta: Raja Grafindo.

Nurhayati,2019, Penyelesaian Sengketa dalam Hukum Ekonomi Islam , Jurnal Ekonomi Syariah,Vol.3,No.1.

Sayyid Sabiq,1987.Fikih Sunnah Jilid 13, terj. Kamaluddin A.Marzuki, Bandung: PT. Al- Ma‟arif.

Suhrawardi K. Lubis, 2000,Hukum Ekonomi Islam, Jakarta: Sinar Grafika, cet-1.

Zakaria Syafe`i ,1998, Negara dalam Perspektif Islam." Alqalam, vol. 13, no. 72.

Wawancara Ekslusif dalam Majalah Peradilan Agama, (Edisi 3 Des 2013 – Feb 2014).

Pasal 2 Peraturan Prosedur Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas).

Pasal 17 ayat (1) Perma No.1 Tahun 2008 tentang prosedur mediasi dipengadilan Pasal 1 ayat (1) Pedoman Dasar Badan Arbitrase Syariah Nasional.

Referensi

Dokumen terkait

1) Penyelesaian sengketa ekonomi syariah dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama. 2) Dalam hal para pihak telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelesaian sengketa diluar pengadilan (non litigasi) serta hambatan-hanbatan dalam proses penyelesaian sengketa atas

Wewenang advokat dalam penyelesaian sengketa perdata secara perdamaian di pengadilan berdasarkan surat kuasa. Kendala yang dihadapi oleh advokat dalam penyelesaian sengketa

Penyelesaian sengketa yang ditempuh oleh para pihak dapat berupa penyelesaian sengketa melalui pengadilan maupun di luar pengadilan, namun penyelesaian sengketa yang

Mediasi diluar pengadilan merupakan solusi lain untuk menyelesaikan sengketa/kasus atau dengan kata lain dengan menggunakan alternatif penyelesaian sengketa diluar

Upaya diluar pengadilan dengan alternatif penyelesaian sengketa tanpa intervensi pihak ketiga yang dapat dilakukan konsumen pengguna jasa pengiriman Lion Parcel

Putusan Sidang Penyelesaian Sengketa Bisnis di Luar Pengadilan Berdasarkan Hukum di Indonesia ... Sumber Hukum Penyelesaian Sengketa Bisnis di Luar Pengadilan di

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelesaian sengketa diluar pengadilan (non litigasi) serta hambatan-hanbatan dalam proses penyelesaian sengketa atas