• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKSPLORASI KONSEP Modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan KHD 28 Oktober 2024

N/A
N/A
citra trisnawati

Academic year: 2025

Membagikan "EKSPLORASI KONSEP Modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan KHD 28 Oktober 2024"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

Mohon Diperhatikan

Salindia ini dipergunakan hanya untuk kepentingan belajar Bapak dan Ibu Calon

Pengajar Praktik 12 secara mandiri.

TIDAK UNTUK DIBAGIKAN KEPADA PIHAK LAIN di luar Pembekalan ini.

Terima kasih. Selamat belajar!

(2)

SALAM

&

BAHAGIA

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Damai Sejahtera, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan,

Rahayu untuk kita semua di ruang virtual ini"

(3)

REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA

EKSPLORASI KONSEP MODUL 1.1

Pengembang Modul: Simon P. Rafael

(4)

PERKENALAN

Simon Petrus Rafael

Asal: Timor - NTT

(Co-Founder & Director – Sinambung Indonesia)

Pendidikan:

S1 – FKIP UKSW, Salatiga. Jawa Tengah

S2 – Teknologi Pendidikan, UPH

Magister Filsafat – Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Pengalaman:

Penulis Modul PPGP (Filosofi KHD & Coaching) dan INS PPGP, INS CPP, INS PSP

Penulis Mata Kuliah “Filosofi Pendidikan Nasional” PPG Pra-Jabatan

Education Specialist pemetaaan Kekuatan Widyaiswara GTK Kemendikbud (2020)

Professional Certified Coach (PCC)

Pelatih dan Pendamping Program JABAR MASAGI (2019)

2009 – sekarang: Pelatih Guru

2001 – 2009: WaKasek Kesiswaan & Guru Bahasa dan Sastra Bahasa Inggris SMA,

Pembicara Pendidikan Karakter dan Pendidikan Inklusi (perspektif orang tua)

(5)

1. Membuka diri terhadap perbedaan dalam berpendapat, bertanya dan berbagi pengalaman;

2. Semua peserta berpartisipasi aktif dalam diskusi, apabila sudah mendapatkan

kesempatan bertanya dan berbagi pengalaman, maka berikan kesempatan yang sama bagi yang belum bertanya atau berbagi cerita;

3. Konsisten dengan waktu saat mempresentasikan ide, bertanya dan berbagi pengalaman.

4. Tekan ikon ‘raise hand’ bila hendak bertanya dan silahkan berbicara setelah

dipersilahkan; bila ada yang sedang bicara, mohon menunggu untuk dipersilahkan 5. Semua peserta membuka video (bila terkendala jaringan, peserta boleh menutup video);

6. Chatbox digunakan sebagai media bertanya dan berbagi pendapat dan pengalaman;

7. Menjaga ketenangan ruang virtual (gmeet) dengan selalu memonitor Microphone dan Video agar proses pembelajaran menjadi kondusif dan bermakna;

8. Mohon TIDAK MEREKAM sesi Elaborasi Pemahaman lalu dibagikan di sosial Media

Bagaimana kita berinteraksi?

KOMITMEN BELAJAR

(6)

Tenangkan hati dan pikiran

berdamai sejenak semua beban untuk hadir seutuhnya di ruang belajar virtual

Hadir Seutuhnya – (Presence & Mindfulness)

Bagaimana kita berinteraksi?

(7)

EKSPLORASI KONSEP BERSAMA

FASILITATOR/PENGAJAR PRAKTIK

(8)

TUJUAN PEMBELAJARAN SESI ELABORASI PEMAHAMAN

Peserta mampu memberikan perspektif reflektif kritis tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara dalam forum diskusi.

(9)

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah sesi, peserta akan memiliki:

Pemahaman reflektif-kritis tentang dasar-dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara melalui diskusi virtual dan bersama instruktur,

Sikap reflektif-kritis dalam merefleksikan dasar-dasar Pendidikan KHD pada konteks kelas dan sekolah

(10)

ALUR PRESENTASI

Perkenalan & Komitmen Belajar

Refleksi Pembuka

Materi

Dasar-Dasar Pendidikan KHD

Refleksi di Padlet

Penutup

(11)

MENGAPA?

SALAM

&

BAHAGIA

(12)

REFLEKSI PERSONAL ‘2

4 Pertanyaan Reflektif:

1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara

(KHD)

2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?

3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?  

4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?

(13)

DASAR-DASAR PENDIDIKAN

KI HADJAR DEWANTARA

(14)

3 TULISAN KHD

Lampiran 1. Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937

Lampiran 2. Metode Montessori, Frobel dan Taman Anak. Wasita, Jilid No.1 Oktober 1928

Lampiran 3. Pidato Sambutan Ki Hadjar Dewantara. Dewan Senat Universitas Gadjah Mada, 7 November 1956

(15)

MENU BELAJAR - DASAR-DASAR PENDIDIKAN KHD

1. Menuntun

2. Kodrat Anak - Merdeka Kodrat Anak - Bermain

3. Pendidikan yang Berpihak Pada Anak 4. Anak Bukan Tabularasa

5. Budi Pekerti

6. Petani/ Tukang Kebun Kehidupan

(16)

1. DASAR PENDIDIKAN KHD - MENUNTUN

“Maksud pendidikan itu adalah

menuntun

segala kekuatan

kodrat yang ada pada

anak-anak

, agar mereka dapat mencapai ke

selamat

an dan ke

bahagia

an yang

setinggi-tingginya baik sebagai

manusia

, maupun anggota

masyarakat

(KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 4)

(17)

1. DASAR PENDIDIKAN KHD - MENUNTUN

“Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya

kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat

memperbaiki lakunya hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat

anak” (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 5)

(18)

1. DASAR PENDIDIKAN KHD – MENUNTUN

Selamat dan Bahagia

sebagai manusia dan

anggota masyarakat

Ing Ngarso Sung Tulodo

Ing Madyo Mangun

Karso Tut Wuri

Handayani

(19)

1. DASAR PENDIDIKAN KHD – MENUNTUN

Kaitan Modul 1.1 dengan Model Kompetensi KS & PS

dalam kaitannya dengan prinsip menuntun, apa yang dimaknai dari subindikator dibawah:

1.1.1. Makna, tujuan, dan pandangan hidup berdasarkan prinsip moral dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam menjalankan peran sebagai kepala sekolah dan pengawas sekolah

1.2.2. Cara adaptif melakukan pengembangan diri untuk meningkatkan pembelajaran &

mutu layanan satuan pendidikan yang berpusat pada peserta didik.

1.3.1. Interaksi aktif dan empatik terhadap peserta didik & Empati terhadap peserta didik dalam pengambilan keputusan pendampingan kepada kepala sekolah

Apa satu upaya yang perlu Bapak/Ibu lakukan untuk menguatkan peran tersebut?

(20)

2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - MERDEKA

Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri

Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat)

(KHD – Pendidikan dan Pengajaran Nasional, Desember 1928)

(21)

Menurut ajaran KHD:

Kemerdekaan = sifat manusia berbudaya Kemerdekaan punya 2 ciri dasar:

• secara lahir bebas

• secara batin mandiri

[Prakata Ketua Tim ML Taman Siswa, Buku Menuju Manusia Merdeka: p.xv]

Kodrat anak - Merdeka

(22)

2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - MERDEKA Manusia merdeka

"Beratlah kemerdekaan itu! Bukan hanya tidak terperintah saja, akan tetapi harus juga dapat menegakkan dirinya

dan mengatur perikehidupannya dengan tertib.

Dalam hal ini termasuklah juga mengatur tertibnya perhubungan dengan kemerdekaan orang lain."

[KHD, Prasaran #8 Kongres PPPKI ke-1, Surabaya, 31 Agustus 1928]

(23)

2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - MERDEKA

Pengaruh pengajaran itu umumnya

memerdekakan manusia atas hidupnya lahir,

sedang merdekanya hidup batin itu terdapat dari pendidikan.

Merdeka batin - Pendidikan

Merdeka lahir – Pengajaran

[KHD, Prasaran #5 Kongres PPPKI ke-1, Surabaya, 31 Agustus 1928]

(24)

2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - BERMAIN

Bermain adalah salah satu kodrat anak

Pikiran-Perasaan-Kemauan-Tenaga

(Cipta-Rasa-Karsa/Karya-Pekerti) sudah ada pada diri anak

Permainan anak dapat menjadi bagian pembelajaran di sekolah

(25)

2. DASAR PENDIDIKAN KHD – BERMAIN 🡪 BELAJAR BUDI PEKERTI

Congklak

Gobak Sodor

BUDI

● pikiran/kognitif (cipta)

● perasaan/emosi-relasi (rasa)

● kemauan/kehendak (karsa) PEKERTI

● tenaga/perilaku/karya/bakti (raga)

(26)

3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapak karena hanya dua orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan

semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada

anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas (Karya Ki Hajar Dewantara, Pendidikan, halaman 382 – Buku Kuning)

Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak,  bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak.” (Ki Hajar Dewantara, 1922)”

[Asas Taman Siswa ke-7, diparafrasakan Profesor Sardjito, Rektor Universitas Gajah Mada di penganugrahan Doktor Honoris Causa kepada Ki Hajar Dewantara di bidang Ilmu Kebudayaan, Desember 1956.]

Blog Pak Iwan Syahril:

https://www.kompasiana.com/iwansyahril/5ae9d72816835f7afb296792/menuju-sistem-pendidikan-yang-berhamba-pada-sang-anak?page=a ll

(27)

3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

’Kowe bakale dak mulya ake selawase’

(selamanya engkau akan aku muliakan)

(28)

3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

Pemikiran tentang berhamba pada anak itu tercetus dari suatu

penyesalan yang pernah dirasakan oleh Soewardi ketika menghadapi setumpuk pekerjaan yang belum terselesaikan. Tangis Asti yang tiada henti-hentinya dirasakan sebagai suatu hambatan yang mengganggu tugasnya. Lalu dengan serta merta diseretnya anak itu keluar, dan

tanpa berpikir panjang, dibiarkannya Asti kecil menangis di balik hempasan pintu rumah. Salju yang berjatuhan di jendela tiba-tiba menyadarkan kekalutan pikirannya. Dia lari secepatnya, lalu

dibukanya pintu . . . dan Asti sudah tampak biru, menggigil

kedinginan. Soewardi menyesal, sangat menyesal. Sambil memeluk anaknya yang sedang tersengal-sengal berurai air mata itu,

terucaplah kata kasih sepenuh hati: “Kowe bakale dak mulya ake selawase” Arinya: “Selamanya engkau akan aku muliakan.”

Pengalaman Soerwardi menjadi salah satu teori Pendidikan dalam perguruan yang dicita-citakan. (Irna H.N. Hadi Soewita, Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan, 2019, hal.95-96)

(29)

NI ASTI

(30)

MAKAM KI HADJAR DAN NI HADJAR

(31)

3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

untuk berhamba pada sang anak. – Pendidikan

yang Berpihak/Berpusat pada Murid

(32)

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

“Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”

Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar. Tujuan Pendidikan adalah menuntun

(memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis

samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan)

Pertanyaannya: bagaimana

menebalkan

nya?
(33)

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

Menebalkan

laku

anak dengan kekuatan konteks diri anak

dan sosio-kultural/budaya

(34)

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

Menebalkan

laku

anak dengan kekuatan konteks diri anak:

Ekplorasi pengalaman (raga, indra, imaginasi) – Taman Indria

Mengenal &

menguasai Teks

Memperdalam &

memperluas Konteks

(keterampilan bertanya)

Tingkat SMA:

orientasi pilihan hidup/ passion

SD 1 - 3

Pengenalan Riset/Proyek durasi pendek (1 minggu,

dapat berkelompok)

≥ 4 SD

Riset durasi

semakin panjang (1 smt)

Dilakukan mandiri/

kolaborasi

5/10 ke depan

PAUD

Tahapan Pembelajaran Sanggar Anak Alam -

Yogyakarta PELAJAR MANDIRI

WIRAGA-WIRAM A (8-16 Tahun)

WIRAMA 16 - 24Tahun)

WIRAGA (0-8 Tahun) WIRAGA-WIRAMA (8-16 Tahun)

(35)

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

Menebalkan

laku

anak dengan kekuatan konteks diri anak:
(36)

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks sosio-kultural:

1. Menebalkan

laku

anak dalam sosial budaya MANGGARAI:

Toing – Titong - Toming

Toing – Mengajar, Titong – Menuntun, Toming - Teladan

2. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Jawa Barat:

Niti Surti – Niti Harti – Niti Bukti – Niti Bhakti 🡪 Niti Jadi (Sajatining Ngahurip) 3. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Bali:

Tri Hita Karana: 3 Asal Kebahagiaan (harmoni dengan Tuhan, Manusia dan Alam)

(37)

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks sosio-kultural:

4. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Orang Tulang Bawang Barat

NeNeMo (Nemen: kerja keras, Nedes: Ulet, Tangguh Sabar; Nerimo: Ikhlas ) – orang Tulang Bawang Barat

5. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Orang Biak - Papua

Mambri (baik, bijak, pemberani dalam berbuburu, melaut dan mengatur strategi) &

Binsyowi (murah hati dan penuh kasih sayang kepada semua orang)

6. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Madura:

Petuah dalam Budaya Madura (Baburughan Becce’) : Tiga perkara yang harus dimiliki oleh orang Madura:

1) kasih sayang; 2) hati yang bersih; 3) jujur

(38)

“KHD berpesan, pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan. Pada hal ini, kebudayaan dan pendidikan adalah satu kesatuan yang utuh.

Kebudayaan yang dimaksud adalah sebuah peradaban, sebuah cita-cita masyarakat yang ingin kita bentuk

sebagai sebuah bangsa, mimpi kita sebagai bangsa, itu semua kita semaikan benihnya, kita mulai kerjakan, dari apa yang kita kerjakan di pendidikan.”

_______________________________________________

Refleksi Dirjen GTK Iwan Syahril atas pemikiran KHD

Sosio kultural

(39)

5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI

Budi pekerti, watak, karakter adalah bersatunya (perpaduan harmonis) antara gerak, pikiran, perasaan, dan kehendak atau

kemauan sehingga menimbulkan tenaga/semangat(KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.6, paragraph 3)

Budi: pikiran-perasaan-kehendak/kemauan Pekerti: tenaga

Cipta + Rasa + Karsa/Karya + Pekerti (tenaga) 🡪 Keseimbangan (keselarasan) Hidup

Contohnya pada permainan Gamelan & Menenun

(40)

5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI

(41)

5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI

Cipta + Rasa + Karsa/Karya + Pekerti (tenaga) 🡪 Keseimbangan (keselarasan) Hidup

(42)

. . .seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam jagung misalnya, hanya dapat

menuntun tumbuhnya jagung, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman jagung, memberi pupuk dan air,

membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.2, paragraph 1)

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – PETANI

(43)

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN

(44)

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN

(45)

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN

(46)

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN

(47)

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN

(48)

“Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat

yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan

dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia,

maupun anggota masyarakat”

Ki Hadjar Dewantara Pendidikan Abad XXI

Menuntun Kolaborasi, Kritis-Reflektif, Komunikasi, Kreatif, Inovatif Selamat dan Bahagia Wellbeing

7. RELEVANSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI

(49)

7. REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI

Masa Lampau – Pendidikan yang Menuntun

Masa Kini – Pendidikan Gotong

Royong (Kolaboratif – Reflektif – Kritis)

Masa Depan – murid Humanis (penuh kasih sayang, hati yang bersih, jujur) yang Selamat & Bahagia

(student wellbeing)

(50)

1. “Guru dan murid berkolaborasi untuk menginisiasi/menciptakan kedalaman (rasa takdjub dan kasmaran) spiritual, intelektual

dan sosial untuk mencapai ke

selamat

an dan ke

bahagia

an sebagai

manusia

(Pengembang Modul 1.1)

2. Siswa dan guru merdeka belajar yang berkolaborasi

bersama menggali dan mengembangkan potensi siswa dan

mengakomodasi karakteristik masing-masing untuk

mewujudkan student wellbeing (Ngakan Putu Suarjana (Pengawas) – Dinas Pendidkan Karangasem, Bali

(catatan: kata wellbeing dalam bahasa KHD – Selamat dan Bahagia; di Program Gubernur Jawa Barat, Jabar Masagi disebut BAGDJA)

8. REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI

(51)

REFLEKSI PERSONAL – PADLET 15’

4 Pertanyaan Reflektif:

1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara

(KHD)?

2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?

3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?

4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?

(52)

DIALOG & REFLEKSI

(53)

PENDIDIKAN ADALAH MENUNTUN KEKUATAN KODRAT ANAK

KI HADJAR DEWATARA

TERIMA KASIH

SALAM & BAHAGIA

Referensi

Dokumen terkait

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN TINGKAT KECERDASAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DITINJAU DARI.. STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DI SD

Berdasarkan latar belakang diatas penulis mengambil judul penerapan pendidikan kesehatan pada ibu tentang tumbuh kembang anak usia toddler agar orang tua mengetahui

Metode yang tepat digunakan baik orang tua (ayah dan ibu) maupun pendidik (guru TK) dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada anak usia usia dini menurut konsep pendidikan islam

Orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak sempat untuk mengurus anak-anaknya dengan pendidikan agama dirumah seperti menyuruh anak untuk

Untuk itu hal pertama yang diperhatikan dalam keluarga adalah pola asuh yang di lakukan oleh bapak dan ibu dalam pergaulan, antara anak dan orang tua perlu

Inovasi pendidikan ialah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik