Mohon Diperhatikan
Salindia ini dipergunakan hanya untuk kepentingan belajar Bapak dan Ibu Calon
Pengajar Praktik 12 secara mandiri.
TIDAK UNTUK DIBAGIKAN KEPADA PIHAK LAIN di luar Pembekalan ini.
Terima kasih. Selamat belajar!
SALAM
&
BAHAGIA
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Damai Sejahtera, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan,
Rahayu untuk kita semua di ruang virtual ini"
REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA
EKSPLORASI KONSEP MODUL 1.1
Pengembang Modul: Simon P. Rafael
PERKENALAN
Simon Petrus Rafael
Asal: Timor - NTT
(Co-Founder & Director – Sinambung Indonesia)
Pendidikan:
• S1 – FKIP UKSW, Salatiga. Jawa Tengah
• S2 – Teknologi Pendidikan, UPH
• Magister Filsafat – Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Pengalaman:
• Penulis Modul PPGP (Filosofi KHD & Coaching) dan INS PPGP, INS CPP, INS PSP
• Penulis Mata Kuliah “Filosofi Pendidikan Nasional” PPG Pra-Jabatan
• Education Specialist pemetaaan Kekuatan Widyaiswara GTK Kemendikbud (2020)
• Professional Certified Coach (PCC)
• Pelatih dan Pendamping Program JABAR MASAGI (2019)
• 2009 – sekarang: Pelatih Guru
• 2001 – 2009: WaKasek Kesiswaan & Guru Bahasa dan Sastra Bahasa Inggris SMA,
• Pembicara Pendidikan Karakter dan Pendidikan Inklusi (perspektif orang tua)
1. Membuka diri terhadap perbedaan dalam berpendapat, bertanya dan berbagi pengalaman;
2. Semua peserta berpartisipasi aktif dalam diskusi, apabila sudah mendapatkan
kesempatan bertanya dan berbagi pengalaman, maka berikan kesempatan yang sama bagi yang belum bertanya atau berbagi cerita;
3. Konsisten dengan waktu saat mempresentasikan ide, bertanya dan berbagi pengalaman.
4. Tekan ikon ‘raise hand’ bila hendak bertanya dan silahkan berbicara setelah
dipersilahkan; bila ada yang sedang bicara, mohon menunggu untuk dipersilahkan 5. Semua peserta membuka video (bila terkendala jaringan, peserta boleh menutup video);
6. Chatbox digunakan sebagai media bertanya dan berbagi pendapat dan pengalaman;
7. Menjaga ketenangan ruang virtual (gmeet) dengan selalu memonitor Microphone dan Video agar proses pembelajaran menjadi kondusif dan bermakna;
8. Mohon TIDAK MEREKAM sesi Elaborasi Pemahaman lalu dibagikan di sosial Media
Bagaimana kita berinteraksi?
KOMITMEN BELAJAR
Tenangkan hati dan pikiran
berdamai sejenak semua beban untuk hadir seutuhnya di ruang belajar virtual
Hadir Seutuhnya – (Presence & Mindfulness)
Bagaimana kita berinteraksi?
EKSPLORASI KONSEP BERSAMA
FASILITATOR/PENGAJAR PRAKTIK
TUJUAN PEMBELAJARAN SESI ELABORASI PEMAHAMAN
Peserta mampu memberikan perspektif reflektif kritis tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara dalam forum diskusi.
CAPAIAN PEMBELAJARAN
Setelah sesi, peserta akan memiliki:
◼ Pemahaman reflektif-kritis tentang dasar-dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara melalui diskusi virtual dan bersama instruktur,
◼ Sikap reflektif-kritis dalam merefleksikan dasar-dasar Pendidikan KHD pada konteks kelas dan sekolah
ALUR PRESENTASI
◼ Perkenalan & Komitmen Belajar
◼ Refleksi Pembuka
◼ Materi
◼ Dasar-Dasar Pendidikan KHD
◼ Refleksi di Padlet
◼ Penutup
MENGAPA?
SALAM
&
BAHAGIA
REFLEKSI PERSONAL ‘2
4 Pertanyaan Reflektif:
1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara
(KHD)
2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?
3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?
4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?
DASAR-DASAR PENDIDIKAN
KI HADJAR DEWANTARA
3 TULISAN KHD
◼ Lampiran 1. Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937
◼ Lampiran 2. Metode Montessori, Frobel dan Taman Anak. Wasita, Jilid No.1 Oktober 1928
◼ Lampiran 3. Pidato Sambutan Ki Hadjar Dewantara. Dewan Senat Universitas Gadjah Mada, 7 November 1956
MENU BELAJAR - DASAR-DASAR PENDIDIKAN KHD
1. Menuntun
2. Kodrat Anak - Merdeka Kodrat Anak - Bermain
3. Pendidikan yang Berpihak Pada Anak 4. Anak Bukan Tabularasa
5. Budi Pekerti
6. Petani/ Tukang Kebun Kehidupan
1. DASAR PENDIDIKAN KHD - MENUNTUN
“Maksud pendidikan itu adalah
menuntun
segala kekuatankodrat yang ada pada
anak-anak
, agar mereka dapat mencapai keselamat
an dan kebahagia
an yangsetinggi-tingginya baik sebagai
manusia
, maupun anggotamasyarakat”
(KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 4)
1. DASAR PENDIDIKAN KHD - MENUNTUN
“Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat
memperbaiki lakunya hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat
anak” (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 5)
1. DASAR PENDIDIKAN KHD – MENUNTUN
Selamat dan Bahagia
sebagai manusia dan
anggota masyarakat
Ing Ngarso Sung Tulodo
Ing Madyo Mangun
Karso Tut Wuri
Handayani
1. DASAR PENDIDIKAN KHD – MENUNTUN
Kaitan Modul 1.1 dengan Model Kompetensi KS & PS
dalam kaitannya dengan prinsip menuntun, apa yang dimaknai dari subindikator dibawah:
● 1.1.1. Makna, tujuan, dan pandangan hidup berdasarkan prinsip moral dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam menjalankan peran sebagai kepala sekolah dan pengawas sekolah
● 1.2.2. Cara adaptif melakukan pengembangan diri untuk meningkatkan pembelajaran &
mutu layanan satuan pendidikan yang berpusat pada peserta didik.
● 1.3.1. Interaksi aktif dan empatik terhadap peserta didik & Empati terhadap peserta didik dalam pengambilan keputusan pendampingan kepada kepala sekolah
Apa satu upaya yang perlu Bapak/Ibu lakukan untuk menguatkan peran tersebut?
2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - MERDEKA
Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri
Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat)
(KHD – Pendidikan dan Pengajaran Nasional, Desember 1928)
Menurut ajaran KHD:
Kemerdekaan = sifat manusia berbudaya Kemerdekaan punya 2 ciri dasar:
• secara lahir bebas
• secara batin mandiri
[Prakata Ketua Tim ML Taman Siswa, Buku Menuju Manusia Merdeka: p.xv]
Kodrat anak - Merdeka
2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - MERDEKA Manusia merdeka
"Beratlah kemerdekaan itu! Bukan hanya tidak terperintah saja, akan tetapi harus juga dapat menegakkan dirinya
dan mengatur perikehidupannya dengan tertib.
Dalam hal ini termasuklah juga mengatur tertibnya perhubungan dengan kemerdekaan orang lain."
[KHD, Prasaran #8 Kongres PPPKI ke-1, Surabaya, 31 Agustus 1928]
2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - MERDEKA
“Pengaruh pengajaran itu umumnya
memerdekakan manusia atas hidupnya lahir,
sedang merdekanya hidup batin itu terdapat dari pendidikan.”
▪ Merdeka batin - Pendidikan
▪ Merdeka lahir – Pengajaran
[KHD, Prasaran #5 Kongres PPPKI ke-1, Surabaya, 31 Agustus 1928]
2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - BERMAIN
▪ Bermain adalah salah satu kodrat anak
▪ Pikiran-Perasaan-Kemauan-Tenaga
(Cipta-Rasa-Karsa/Karya-Pekerti) sudah ada pada diri anak
▪ Permainan anak dapat menjadi bagian pembelajaran di sekolah
2. DASAR PENDIDIKAN KHD – BERMAIN 🡪 BELAJAR BUDI PEKERTI
Congklak
Gobak Sodor
BUDI
● pikiran/kognitif (cipta)
● perasaan/emosi-relasi (rasa)
● kemauan/kehendak (karsa) PEKERTI
● tenaga/perilaku/karya/bakti (raga)
3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK
Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapak karena hanya dua orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan
semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada
anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas (Karya Ki Hajar Dewantara, Pendidikan, halaman 382 – Buku Kuning)
“Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak.” (Ki Hajar Dewantara, 1922)”
[Asas Taman Siswa ke-7, diparafrasakan Profesor Sardjito, Rektor Universitas Gajah Mada di penganugrahan Doktor Honoris Causa kepada Ki Hajar Dewantara di bidang Ilmu Kebudayaan, Desember 1956.]
Blog Pak Iwan Syahril:
https://www.kompasiana.com/iwansyahril/5ae9d72816835f7afb296792/menuju-sistem-pendidikan-yang-berhamba-pada-sang-anak?page=a ll
3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK
’Kowe bakale dak mulya ake selawase’
(selamanya engkau akan aku muliakan)
3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK
Pemikiran tentang berhamba pada anak itu tercetus dari suatu
penyesalan yang pernah dirasakan oleh Soewardi ketika menghadapi setumpuk pekerjaan yang belum terselesaikan. Tangis Asti yang tiada henti-hentinya dirasakan sebagai suatu hambatan yang mengganggu tugasnya. Lalu dengan serta merta diseretnya anak itu keluar, dan
tanpa berpikir panjang, dibiarkannya Asti kecil menangis di balik hempasan pintu rumah. Salju yang berjatuhan di jendela tiba-tiba menyadarkan kekalutan pikirannya. Dia lari secepatnya, lalu
dibukanya pintu . . . dan Asti sudah tampak biru, menggigil
kedinginan. Soewardi menyesal, sangat menyesal. Sambil memeluk anaknya yang sedang tersengal-sengal berurai air mata itu,
terucaplah kata kasih sepenuh hati: “Kowe bakale dak mulya ake selawase” Arinya: “Selamanya engkau akan aku muliakan.”
Pengalaman Soerwardi menjadi salah satu teori Pendidikan dalam perguruan yang dicita-citakan. (Irna H.N. Hadi Soewita, Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan, 2019, hal.95-96)
NI ASTI
MAKAM KI HADJAR DAN NI HADJAR
3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK
untuk berhamba pada sang anak. – Pendidikan
yang Berpihak/Berpusat pada Murid
4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA
“Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”
Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar. Tujuan Pendidikan adalah menuntun
(memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis
samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan)
Pertanyaannya: bagaimana
menebalkan
nya?4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA
Menebalkan
laku
anak dengan kekuatan konteks diri anakdan sosio-kultural/budaya
4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA
Menebalkan
laku
anak dengan kekuatan konteks diri anak:Ekplorasi pengalaman (raga, indra, imaginasi) – Taman Indria
Mengenal &
menguasai Teks
Memperdalam &
memperluas Konteks
(keterampilan bertanya)
Tingkat SMA:
orientasi pilihan hidup/ passion
SD 1 - 3
Pengenalan Riset/Proyek durasi pendek (1 minggu,
dapat berkelompok)
≥ 4 SD
Riset durasi
semakin panjang (1 smt)
Dilakukan mandiri/
kolaborasi
5/10 ke depan
PAUD
Tahapan Pembelajaran Sanggar Anak Alam -
Yogyakarta PELAJAR MANDIRI
WIRAGA-WIRAM A (8-16 Tahun)
WIRAMA 16 - 24Tahun)
WIRAGA (0-8 Tahun) WIRAGA-WIRAMA (8-16 Tahun)
4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA
Menebalkan
laku
anak dengan kekuatan konteks diri anak:4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA
Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks sosio-kultural:
1. Menebalkan
laku
anak dalam sosial budaya MANGGARAI:Toing – Titong - Toming
Toing – Mengajar, Titong – Menuntun, Toming - Teladan
2. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Jawa Barat:
Niti Surti – Niti Harti – Niti Bukti – Niti Bhakti 🡪 Niti Jadi (Sajatining Ngahurip) 3. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Bali:
Tri Hita Karana: 3 Asal Kebahagiaan (harmoni dengan Tuhan, Manusia dan Alam)
4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA
Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks sosio-kultural:
4. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Orang Tulang Bawang Barat
NeNeMo (Nemen: kerja keras, Nedes: Ulet, Tangguh Sabar; Nerimo: Ikhlas ) – orang Tulang Bawang Barat
5. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Orang Biak - Papua
Mambri (baik, bijak, pemberani dalam berbuburu, melaut dan mengatur strategi) &
Binsyowi (murah hati dan penuh kasih sayang kepada semua orang)
6. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Madura:
Petuah dalam Budaya Madura (Baburughan Becce’) : Tiga perkara yang harus dimiliki oleh orang Madura:
1) kasih sayang; 2) hati yang bersih; 3) jujur
“KHD berpesan, pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan. Pada hal ini, kebudayaan dan pendidikan adalah satu kesatuan yang utuh.
Kebudayaan yang dimaksud adalah sebuah peradaban, sebuah cita-cita masyarakat yang ingin kita bentuk
sebagai sebuah bangsa, mimpi kita sebagai bangsa, itu semua kita semaikan benihnya, kita mulai kerjakan, dari apa yang kita kerjakan di pendidikan.”
_______________________________________________
Refleksi Dirjen GTK Iwan Syahril atas pemikiran KHD
Sosio kultural
5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI
“Budi pekerti, watak, karakter adalah bersatunya (perpaduan harmonis) antara gerak, pikiran, perasaan, dan kehendak atau
kemauan sehingga menimbulkan tenaga/semangat” (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.6, paragraph 3)
Budi: pikiran-perasaan-kehendak/kemauan Pekerti: tenaga
Cipta + Rasa + Karsa/Karya + Pekerti (tenaga) 🡪 Keseimbangan (keselarasan) Hidup
Contohnya pada permainan Gamelan & Menenun
5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI
5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI
Cipta + Rasa + Karsa/Karya + Pekerti (tenaga) 🡪 Keseimbangan (keselarasan) Hidup
. . .seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam jagung misalnya, hanya dapat
menuntun tumbuhnya jagung, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman jagung, memberi pupuk dan air,
membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.2, paragraph 1)
6. DASAR PENDIDIKAN KHD – PETANI
6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN
6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN
6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN
6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN
6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN
“Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan
dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia,
maupun anggota masyarakat”
Ki Hadjar Dewantara Pendidikan Abad XXI
Menuntun Kolaborasi, Kritis-Reflektif, Komunikasi, Kreatif, Inovatif Selamat dan Bahagia Wellbeing
7. RELEVANSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI
7. REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI
Masa Lampau – Pendidikan yang Menuntun
Masa Kini – Pendidikan Gotong
Royong (Kolaboratif – Reflektif – Kritis)
Masa Depan – murid Humanis (penuh kasih sayang, hati yang bersih, jujur) yang Selamat & Bahagia
(student wellbeing)
1. “Guru dan murid berkolaborasi untuk menginisiasi/menciptakan kedalaman (rasa takdjub dan kasmaran) spiritual, intelektual
dan sosial untuk mencapai ke
selamat
an dan kebahagia
an sebagaimanusia
” (Pengembang Modul 1.1)2. Siswa dan guru merdeka belajar yang berkolaborasi
bersama menggali dan mengembangkan potensi siswa dan
mengakomodasi karakteristik masing-masing untuk
mewujudkan student wellbeing (Ngakan Putu Suarjana (Pengawas) – Dinas Pendidkan Karangasem, Bali
(catatan: kata wellbeing dalam bahasa KHD – Selamat dan Bahagia; di Program Gubernur Jawa Barat, Jabar Masagi disebut BAGDJA)
8. REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI
REFLEKSI PERSONAL – PADLET 15’
4 Pertanyaan Reflektif:
1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara
(KHD)?
2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?
3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?
4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?
DIALOG & REFLEKSI
PENDIDIKAN ADALAH MENUNTUN KEKUATAN KODRAT ANAK
KI HADJAR DEWATARA
TERIMA KASIH
SALAM & BAHAGIA