KAJIAN PEMBENIHAN IKAN KOI (Cyprinus rubrofuscus) DI CV. LABAIK KOI HATCHERY SUKABUMI, JAWA BARAT
LAPORAN PRAKTIK LAPANG II
Oleh:
ENDANG EVA PUJAWATI NRP. 56204213163
POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN 2023
KAJIAN PEMBENIHAN IKAN KOI (Cyprinus rubrofuscus) DI CV. LABAIK KOI HATCHERY SUKABUMI, JAWA BARAT
Oleh:
ENDANG EVA PUJAWATI NRP. 56204213163
Laporan Praktik Lapang Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mnegikuti Ujian akhir Semester
PROGRAM SARJANA TERAPAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI AKUAKULTUR POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN
JAKARTA 2023
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Kajian Pembenihan Ikan Koi (Cyprinus rubrofuscus) di CV. Labaik Koi Hatchery, Sukabumi - Jawa Barat
Penyusun : Endang Eva Pujawati
NRP : 56204213163
Program Studi : Teknologi Akuakultur
Menyetujui Dosen Pembimbing,
Dr. Moch. Nurhudah, A.Pi. M.Sc Pembimbing I
Prof. Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si Pembimbing II
Mengetahui,
Dr. Eng. Sinar Pagi Sektiana, S.St.Pi., M.Si Ketua Program Studi
Erni Marlina. S.Pi., M.Pi Sekretaris Program Studi
i
KATA PENGANTAR
Penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik Lapang 2 yang berjudul “Kajian Pembenihan Ikan Koi (Cyprinus rubrofuscus) di CV.
Labaik Koi Hatchery, Sukabumi-Jawa Barat”.
Laporan Praktik Lapang 2 ini terdiri dari 4 (empat) bab yaitu: Pendahuluan, Metode Praktik, Hasil dan Pembahasan, serta kesimpulan dan Saran. Bimbingan, koreksi, dan saran dari dosen pembimbing I Dr. Moch Nurhudah, A.Pi.,M.Sc dan Dosen Pembimbing II Prof. Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si dalam menyusun laporan ini diharapkan bisa menambah ilmu pengetahuan bagi penulis, khususnya dalam menyusun laporan Praktik Lapang 2.
Upaya maksimal telah penulis lakukan untuk merampung Laporan Praktik Lapang 2 ini, Oleh sebab itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat dibutuhkan penulis untuk menyempurnakannya Laporan Praktik Lapang 2 ini.
Serang, November 2023
Penulis
ii
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik Lapang 2 ini tepat pada waktu yang telah ditenetukan.Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Dr. Moch. Nurhudah, A.Pi. M.Sc, selaku dosen pembimbing l dan Bapak Prof. Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si selaku dosen pembimbing 2, yang telah memberikanmotivasi, semangat dan bimbingan dalam penyusunan Laporan Praktik Lapang 2 ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada:
1. Dr. Muhammad Hery Riyadi Alauddin. S.Pi., M.Si., selaku Direktur Politeknik AUP;
2. Dr. Heri Triyono, A.Pi., M.Kom.m., selaku Wakil Direktur l Politeknik AUP;
3. Yenni Nuraini. S.Pi., M.Sc., selaku Plt Wakil Direktur ll Politeknik AUP
4. Dr. Ita Junita Puspadewi, A.Pi., M.Pd., selaku Wakil Direktur lllPoliteknik AUP;
5. Dr. Eng Sinar Pagi Sektiana, S.St.Pi., M.Si., selaku Ketua Program Studi TeknologiAkuakultur Politeknik AUP;
6. Efrans selaku pemilik CV.Labaik Koi Hatchery Sukabumi
7. Kedua orang tua serta keluarga yang telah mendukung baik dalam hal materi dan spiritual;
8. Rekan Taruna/Taruni Program Studi Teknologi Akuakultur, Politeknik AUP yaitu Angakatan 56
9. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan Praktik Lapang 2.
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
UCAPAN TERIMAKASIH ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
1.3Batasan Masalah ... 2
2. METODE PRAKTIK ... 3
2.1Waktu dan Tempat ... 3
2.2Metode Pengumpulan Data ... 3
2.2.1 Data Primer ... 3
2.2.2 Data Sekunder ... 4
2.3 Alat dan Bahan ... 5
2.4 Metode Kerja ... 6
2.5Metode Pengolahan Data ... 8
2.5.1 Aspek Teknis ... 8
2.5.2 Aspek Finansial ... 9
2.6Metode Analisa Data ... 10
2.7 Identifikasi Masalah ... 10
3. KEADAAN UMUM ... 11
3.1 Sejarah Perusahaan ... 11
3.2 Struktur Organisasi ... 11
3.3Sarana dan Prasarana ... 11
3.3.1Fasilitas ... 11
3.3.2Sumber Air ... 12
4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 13
4.1Perencaan Target produksi ... 13
4.2Kesesuaian Lokasi ... 13
4.3 Persiapan Wadah dan Media Pemeliharaan ... 14
4.3.1 Kolam Pemeliharaan Induk ... 14
4.3.2 Bak Pemijahan dan Penetasan ... 15
4.3.3 Kolam Pendederan ... 16
4.4Manajemen Induk ... 17
4.5Seleksi Induk ... 17
4.6 Pemijahan dan Penetasan Telur ... 18
4.8 Manajemen Pemeliharaan Benih ... 21
4.9 Monitoring Hama dan Penyakit ... 25
4.10Panen dan Grading ... 27
4.13Packing dan Pemasaran ... 28
iv
4.14Performa Budidaya ... 28
4.14.1 Fekunditas ... 28
4.14.2 Fertilization Rate ... 29
4.14.3 Hatching Rate... 29
4.14.4 Survival Rate ... 30
4.15Identifikasi Masalah ... 30
4.16Analisa Finansial ... 31
5. SIMPULAN DAN SARAN ... 32
5.1Simpulan ... 32
5.2Saran ... 32
DAFTAR PUSTAKA ... 33
v
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Data Primer... 3
2. Data Sekunder ... 4
3. Alat Yang Digunakan ... 5
4. Bahan Yang Digunakan ... 6
5. Target Produksi ... 13
6. Kesesuaian Lokasi ... 13
7. Pengamatan Telur Ikan Koi ... 20
8. Fekunditas Ikan Koi ... 28
9. Nilai FR yang dihasilkan... 29
10. Nilai HR yang dihasilkan ... 29
11. Sintasan Benih ... 30
12. Identifikasi Masalah ... 31
13. Analisa Finansial ... 31
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Struktur Organisasi CV.Labaik Koi Hatchery ... 11
2. (a) Kolam Pemeliharaan Induk (b) Layout Kolam ... 15
3. (a) Bak Pemijahan dan Penetasan (b) Layout Bak... 16
4. Kolam Pendederan ... 16
5. (a) Induk Betina Matang Gonad (b) Induk jantan Matang Gonad ... 18
6. Telur Tidak Terbuahi ... 19
7. Larva ikan Koi ... 21
8. Proses Aklimatisasi Larva Koi ... 22
9. Grafik Pertumbuhan Benih Koi (Siklus 1) ... 23
10. Grafik Pertumbuhan Benih Koi (Siklus 2) ... 23
11. Grafik Hasil Pengukuran Suhu Kolam Pemeliharaan Benih ... 24
12. Grafik Hasil Pengukuran pH Kolam Pemeliharaan Benih ... 24
13. Grafik Hasil Pengukuran TDS Kolam Pemeliharaan Benih ... 25
14. Grafik Hasil Pengukuran DO Kolam Pemeliharaan Benih ... 25
15. Penyakit Pada Induk Ikan Koi (a. Hikkui) (b. Argullus) (c.Kutu Jarum) ... 27
16. Benih Koi Yang Siap Grading ... 27
vii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Peta Lokasi ... 37
2. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Induk ... 37
3. Hasil Pengukuran Kualitas Air Bak Pemijahan Siklus 1 ... 39
4. Hasil Pengukuran Kualitas Air Bak Pemijahan Siklus 2 ... 39
5. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Pendederan Siklus 1 Kolam A1 ... 40
6. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Pendederan Siklus 1 Kolam A2 ... 41
7. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Pendederan Siklus 1 Kolam A3 ... 42
8. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Pendederan Siklus 1 Kolam A4 ... 44
9. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Pendederan Siklus 1 Kolam A5 ... 45
10. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Pendederan Siklus 2 Kolam B1 ... 46
11. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Pendederan Siklua 2 Kolam B2 ... 48
12. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Pendederan Siklus 2 Kolam B3 ... 49
13. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Pendederan Siklus 2 Kolam B4 ... 50
14. Hasil Pengukuran Kualitas Air Kolam Pendederan Siklus 2 Kolam B5 ... 51
15. Data Pemijahan ... 52
16. Data Panen ... 52
17. Data Sampling Siklus 1 Kolam A1 ... 53
18. Data Sampling Siklus 1 Kolam A2 ... 59
19. Data Sampling Siklus 1 Kolam A3 ... 65
20. Data Sampling Siklus 1 Kolam A4 ... 71
21. Data Sampling Siklus 1 Kolam A5 ... 77
22. Data Sampling Siklus 2 Kolam B1 ... 83
23. Data Sampling Siklus 2 Kolam B2 ... 88
24. Data Sampling Siklus 2 Kolam B3 ... 93
25. Data Sampling Siklus 2 Kolam B4 ... 98
26. Data Sampling Siklus 2 Kolam B5 ... 103
27. Biaya Investasi ... 108
28. Biaya Tetap ... 109
29. Biaya Variabel ... 109
1 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumber daya alam di Indonesia dapat dikatakan sangat mendukung dalam budidaya ikan hias. Ikan hias merupakan salah satu komoditi perikanan yang potensial dalam menghasilkan devisa bagi negara dan mensejahterakan masyarakat perikanan. Pada saat ini peminat ikan hias terus bertambah dan semakin menyebar keseluruh lapisan masyarakat. Meskipun kemampuan daya belinya bervariasi, masyarakat perkotaan di Indonesia melengkapi rumahnya dengan akuarium-akuarium yang diisi beragam ikan hias salah satunya Ikan Koi (Bachtiar & Lentera, 2002).
Ikan Koi (Cyprinus rubrofuscus) merupakan ikan hias air tawar yang cukup popular di kalangan masyarakat karena mempunyai corak pada tubuh yang menarik serta warna yang indah bahkan beberapa masyrakat beranggapan bahwa ikan koi dapat mendatangkan keuntungan bagi pemiliknya. Setiap tahunnya permintaan ikan koi terus meningkat baik di pasar dalam maupun di luar negeri, sehingga ikan ini memiliki prospek usaha yang menjanjikan (Hendriana et.,al 2021). Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (2015), ikan yang berasal dari negara lain dan mudah didomestikasi serta cukup popular dibudidayakan di Indonesia yaitu ikan koi. Produksi ikan koi pada tahun 2019 triwulan III sebanyak 361.405 ekor dari produksi yang ditargetkan sebanyak 241.500 ekor (DJPB 2019). Nilai ekspor ikan koi di Indonesia terus mengalami peningkatan yaitu di tahun 2010 dengan nilai ekspor sekitar 12 juta dolar meningkat menjadi 20 juta dolar di tahun 2011 dan nilai ekspor ikan koi telah meningkat pada tahun 2016 mencapai 65 juta dolar. Peningkatan pasar terhadap ikan koi memacu pembudidaya ikan koi untuk meningkatkan usaha budidayanya (Ulfiana, 2012).
Komoditas ikan hias koi menjadi komoditas andalan di beberapa daerah seperti Sukabumi, Cianjur, Ciseeng, Bogor, Parung, dan Blitar karena telah berhasil mengangkat perekonomian masyarakat dan menjadikan sebagai alternative penghasilan. Tingginya permintaan pasar dari ikan koi di Indonesia maka harus diimbangi dengan ketersediaan benih ikan yang unggul dan bermutu tinggi. Salah satu faktor keberhasilan usaha budidaya ikan koi adalah tersedianya benih yang baik kuantitas maupun kualitas. Maka diperlukan manajemen budidaya yang baik sehingga akan menghasilkan benih ikan yang baik (Ishaqi & Sari, 2019). Oleh karena itu perlu adanya teknologi pembenihan yang mudah diaplikasikan oleh pembudidaya ikan sehingga dapat mendorong produksi benih yang berkualitas yang dapat bersaing dengan koi impor dan terjamin kontinuitas pasokannya. Benih ikan koi yang berkualitas akan menghasilkan corak warna yang pekat atau tebal, pertumbuhan yang relatif cepat, dan tahan terhadap penyakit (Nurhayati et al., 2022).
Untuk menunjang usaha budidaya ikan koi dengan jumlah permintaan yang tinggi, maka diperlukan kesediaan benih ikan koi yang berkualitas dalam jumlah yang besar.
Walaupun usaha pembenihan koi telah dilakukan, tetapi kebutuhan benih hingga saat ini masih belum tercukupi (Emiliana, 2016). Selain karena jumlah unit pembenihan yang tidak terlalu banyak, hal ini juga disebabkan oleh produktivitas pembudidaya pembenihan ikan koi dan pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan koi harus dikuasai. Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk memilih judul “Kajian Pembenihan Ikan Koi (C rubrofuscus) Di CV. Labaik Koi Hatchery, Sukabumi - Jawa Barat”.
2 1.2 Tujuan
Tujuan dari pelaksaan praktik pembenihan ikan Koi (C. rubrofuscus) di Cv. Labaik Koi Hatchery ini meliputi : Mengevaluasi teknik pembenihan, Mengevaluasi performa budidaya, Mengetahui dan menganalisis aspek finansial, Mengidentifikasi masalah apa saja yang dihadapi dalam proses pemeliharaan benih ikan.
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dari pelaksaan praktik ini :
1. Kegiatan teknik pembenihan ikan Koi (C. rubrofuscus) meliputi : persiapan wadah, persiapan media, pemeliharaan induk, seleksi induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva, pengelolaan pakan, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit.
2. Performa budidaya pembenihan ikan Koi (C. rubrofuscus) meliputi: Fekunditas, Fertilization Rate (FR), Hatching Rate (HR) dan Survival Rate (SR)
3. Identifikasi analisa finansial pada pemebnihan ikan Koi (C. rubrofuscus) meliputi:
Analisa Laba/Rugi , R/C Ratio, Payback Period, dan Break Even Point
4. Identifikasi masalah yang dilakukan penerapan 4M yaitu Man, Methode, Material, Machine
3 2. METODE PRAKTIK
2.1 Waktu dan Tempat
Praktik Lapang 2 ini mulai dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus 2023 sampai dengan tanggal 12 Oktober 2023 yang berlokasi di CV. Labaik Koi Hatchery Sukabumi, Jawa Barat.
2.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam pelaksanaan praktik lapang 2 ini adalah partisipasi aktif dengan mengikuti semua kegiatan yang berkaitan dengan pembenihan ikan koi di CV. Labaik Koi Hatchery, Sukabumi Jawa Barat. Data yang dikumpulkan selama praktek lapang 2 terdiri dari dua jenis yaitu data primer dan data sekunder.
2.2.1 Data Primer
Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dengan mengikuti dan mencatat secara aktif seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan di lokasi praktik. Pengambilan data berupa hasil wawancara, observasi dan pengamatan secara langsung di lapangan terkait dengan pra produksi, produksi disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Data Primer
No Kegiatan Data yang dikumpulkan
Pra Produksi
Kesesuaian Lokasi - Sumber air - Sumber listrik - Akesebilitas 1. Persiapan Wadah dan Media - Jenis wadah
- Ukuran wadah (panjang, lebar, tinggi) - Kontruksi wadah
- Metode persiapan Produksi
2. Pengelolaan Induk - Asal induk - Jumlah induk - Ukuran induk - Padat tebar
- Teknik pemberian pakan - Dosis pemberian pakan - Penelolaan kualitas air
- Penanganan hama dan penyakit
3. Pemijahan - Seleksi induk matang gonad
- Metode pemijahan - Waktu pemijahan - Fekunditas dan FR 4. Penetasan Telur - Pengamatan telur
- Waktu dan durasi penetasan - Jumlah telur menetas (HR)
4 Tabel 1. Data Primer (Lanjutan)
No Kegiatan Data Yang Dikumpulkan
5. Pemeliharaan Benih - Pengamatan pertumbuhan - Kualitas dan jenis larva - SR
6. Pengelolaan Kualitas Air - Pengukuran
- Parameter yang digunakan 7. Pengelolaan Pakan - Jenis Pakan
- Waktu Pemberian - Dosis pemberian - Cara pemberian 8. Pengendalian Hama dan
Penyakit
- Penerapan Biosecurity
- Pemantauan kesehatan benih dan induk
- Pencegahan hama dan penyakit 9. Pasca Produksi
Panen dan Pasca Panen - Cara panen - Sortir
- Alat dan bahan - Waktu panen
10. Pemasaran - Harga jual
- Transportasi - Tujuan pemasaran 11. Analisa Finansial - Laba rugi
- BEP - R/C Ratio - PP 2.2.2 Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui informasi tentang kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya. Adapun jenis data sekunder yang akan dikumpulkan meliputi data hasil pemeliharaan yang biasa dilakukan selanjutnya dilakukan pengkajian dengan cara membadingkan dengan literatur yang ada. Jenis data sekunder yang diambil disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Data Sekunder
No Data Yang Diambil Metode Frekuensi
Informasi Perusahaan 1. - Sejarah
- Kepemilikan
- Struktur Organisasi Perusahaan
Dokumen Perusahaan
2. Aset Investasi Perusahaan Wawancara dan Log Book
3. Target Produksi Wawancara dan Log Book
5 2.3 Alat dan Bahan
Dalam mendukung kegiatan praktik lapang II dibutuhkan alat dan bahan. Adapun alat dan bahan yang digunakan disajikan pada Tabel 3 dan 4.
Tabel 3. Alat Yang Digunakan
No Nama Spesifikasi Kegunaan
1. Termometer Untuk mengukur suhu
media
2. pH meter Digital (ketelitian Untuk mengukur pH (keasaman alkalinitas)
3. DO YSI Pro 20 Untuk mengetahui kadar
oksigen dalam kolam 4. TDS
5. Mikroskop Binokuler Sebagai alat bantu untuk
mengamati perkembangan telur
6. Preparate Berebntuk persegi
panjang berukuran 25,4mm x 76,2mm.
Sebagai tempat untuk menaruh telur ikan
7. Kateter Berukuran Untuk mengambil sampel
telur 8. Water Heater AMARA 50w 220volt-
240volt 50-60hz
Sebagai alat penghangat air untuk membantu mempertahankan suhu pada kolam amupun bak
10. Blower PF 60 Sebagai spenskulasi
11. Bak Pemijahan dan Penetasan
3m x 1m x 1m Wadah pemijahan dan penetasan telur 13. Milimeter Blok Electronic Digital
150mm
Untuk mengukur larva
14. Timbangan - Digital
- Duduk Gantung besi
Untuk mengetahui bobot induk dan sampel telur ikan.
15. Seser Benih - Berdiameter
30cm
Untuk mengambil benih dalam waring
16. Happa - Berukuran 5x1
meter
Untuk menyimpan benih saat dipanen
17. Pemberat - Batu Sebagai pemberat happa
agar tidak mengambang 18. Pompa Air - 150 watt Untuk menyalurkan air ke
bak pemijahan dan penetasan dan bak karantina dan bak penyimpanan benih sementara
6 Tabel 3. Alat Yang Digunakan (Lanjutan)
No Nama Spesifikasi Kegunaan
19. Selang Ukuran 3/8 inch Untuk pengaliran air 20. Tabung O2 Vol. 6 kubik Penyuplai oksigen untuk
packing 21. Plastic - Ukuran 58 x 80
- Ukuran
Untuk packing benih 22. Selang Aerasi Ukuran 3/16 inch Sebagai alat untuk
mensuplai oksigen 23. Waring
24. Genset Tiger TG4800E, 220V, 59 Hz, 3000 watt
25. Ember atau Baskom
Plastik Untuk menampung pakan
saat pemberian pakan
26. Centong Plastik Untuk sampling dan
mengaduk pakan
27. Kolam Induk 10,6 x 7,2 m2 Wadah pemelihraan induk 28. Kolam
Pemeliharaan
Ukuran 50 x 10 m2 Wadah untuk memelihara benih
29. Penutup Kolam Pemijahan
Ukuran 2,6 x 1 m Menjaga agar induk tidak loncat
Tabel 4. Bahan Yang Digunakan
No Nama Spesifikasi Kegunaan
1. Induk Betina Matang Gonad Sebagai bahan dalam proses pemijahan 2. Induk Jantan Matang Gonad Sebagai bahan dalam
proses pemijahan 3. Pakan Induk Pelet Apung Sebagai pakan induk
jantan/betina
4. Air Dari aliran air sungai Sebagai media dalam budidaya ikan koi
5. Pakan Larva Pelet Sebagai pakan buatan
untuk larva koi berumur 7- 30
6. Vitamin C Untuk daya tahan tubuh
ikan
7. Probiotik lactobacilus Untuk menumbuhkan
pakan alami 2.4 Metode Kerja
Data yang akan dikumpulkan berkaitan dengan persiapan wadah meliputi alat dan bahan yang akan digunakan, men catat fungsi masing-masing alat dan bahan, mengamati bahan yang digunakan.
7 a. Kesesuaian Lokasi
1. Mengamati kondisi sekitar lokasi budidaya seperti kondisi geografis dan tekstur tanah.
2. Melakukan pengukuran parameter kualitas sumber air.
3. Melakukan pengukuran perkiraan jarak tempuh transportasi untuk bahan data mengenai aksesibilitas.
4. Membuat peta lokasi.
b. Persiapan Wadah dan Media Pemeliharaan
1. Menyiapakan alat dan bahan yang akan digunakan yaitu sikat, ember dan air 2. Menutup saluran inlet dan membuka saluran outlet agar sisa air di kolam
terbuang keluar
3. Membersihkan kolam dari hama yang ada di dasar dan dinding kolam
4. Dasar kolam dibiarkan mongering dibawah sinar matahari langsung 3 – 7 hari sampai kolam terlihat bersih dari lumut.
5. Kemudian melakukan pengisian air dengan terlebih dahulu menutup saluran outlet dan membuka saluran inlet agar air tidak dapat langsung masuk ke dalam kolam
6. Selama pengisian air diberikan diberikan probiotik.
7. Membersihkan alat yang telah digunakan dan menaruh alat dan bahan tersebut ke tempat semula.
c. Pengelolaan Induk
1. Mengetahui jumlah induk betina dan Jantan dalam wadah pemeliharaan 2. Menelusuri asal induk dan memastikan induk bebas penyakit
3. Mengidentifikasi alat-alat yang digunakan dalam pengelolaan induk 4. Menghitung padat tebar induk dalam wadah pemeliharaan
5. Mengidentifikasi jenis dan dosis pemberian pakan induk d. Seleksi Induk
1. Menyiapkan alat yang akan digunakan yaitu seser, bak bundar, bak ukur dan timbangan
2. Mengamati dan menentukan induk yang sudah matang gonad 3. Mengukur panjang total dan berat induk
e. Pemijahan
1. Melakukan persiapan kolam pemijahan dengan membersihkan dan menyikat kolam dari kotoran pada dinding dasar kolam
2. Melakukan pemasangan kakaban
3. Memasang aerasi dan melakukan pengisian air
4. Memindahkan induk yang telah diseleksi ke dalam kolam pemijahan 5. Menghitung lamanya pemijahan dan mengamati proses pemijahan
6. Memindahkan induk jantan dan betina dan memasukkan ke bak karantina.
f. Penetasan Telur
1. Melakukan pengamatan perkembangan telur dengan mikroskop 2. Mencatat perkembangan telur dan durasi penetasan telur
3. Melakukan pengambilan sampel untuk menghitung fekunditas, Fertilization Rate, Hatching Rate, Survival Rate.
g. Pemeliharaan Larva
1. Memberi makan larva sehari 2 kali yaitu pagi dan sore
8
2. Mengecek kualitas air pada pagi dan sore hari 3. Mengecek saluran inlet dan outlet
4. Membersihkan kolam dari hama (lumut)
5. Melakukan sampling Panjang dan berat larva setiap 10 hari h. Monitoring Hama dan Penyakit
1. Mengamati kondisi ikan setiap pagi sebelum diberi pakan 2. Mengecek kualitas air yaitu pH, DO, Suhu,
3. Memastikan kualitas air tetap stabil sesuai SNI Ikan Koi 4. Mengidentifikasi parasite yang menempel pada ikan koi 5. Memisahkan ikan koi yang terkena parasit
6. Mengkarantina ikan koi yang terkena parasit.
i. Pengelolaan Kualitas Air
1. Mengidentifikasi alat-alat yang digunakan untuk mengukur kualitas air 2. Membuat jadwal pengukuran kualitas air yang dilakukan.
3. Mencatat tempat/stasiun dan waktu
4. Melakukan pengukuran kualitas air (suhu, pH dan DO) 5. Mencatat hasil pengukuran kualitas air
j. Panen
1. Merencanakan jadwal pemanenan benih
2. Mengidentifikasi peralatan yang digunakan dalam kegiatan panen 3. Melakukan dan mencatat teknik pemanenan yang akan dilakukan 4. Mencatat hasil panen dan menghitung hasil panen
5. Melakukan pengolahan perhitungan hasil panen
6. Melakukan dan mencatat teknik penyortiran yang akan dilakukan k. Packing
1. Melakukan packing dengan sistem tertutup
2. Menyiapkan plastik dan isi air seperempat dari total plastik lalu ikan dimasukan 3. Oksigen dimasukan sebanyak 2/3 volume rongga, dan Ikat bagian atas plastik
dengan menggunakan karet.
2.5 Metode Pengolahan Data
Metode pengolahan data merupakan kumpulan dari rumus-rumus yang digunakan selama melaksanakan kegiatan pembenihan ikan Koi. Metode pengolahan data meliputi pengukuran dan perhitungan yang dilakukan dalam sampling, perhitungan pada saat panen serta analisa finansial.
2.5.1 Aspek Teknis a. Fekunditas
Fekunditas adalah jumlah telur yang dihasilkan oleh induk betina per ekor sedangkan fekunditas nisbi adalah jumlah telur yang dihasilkan induk betina per satuan berat badan. Fekunditas dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut (Junior et al., 2005).
Fekunditas = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑟 (𝑔𝑟𝑎𝑚)
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑟 (𝑔𝑟𝑎𝑚) 𝑥 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 (𝐵𝑢𝑡𝑖𝑟) b. Fertilization Rate (FR)
Fertilization Rate merupakan presentase telur yang terbuahi dari jumlah telur yang
9
dikeluarkan pada proses pemijahan (Akbarurrasyid et al., 2020).
FR = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑏𝑢𝑎ℎ𝑖 (𝐵𝑢𝑡𝑖𝑟)
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑟(𝐵𝑢𝑡𝑖𝑟) 𝑥 100 c. Hatchung rate (HR)
Menurut (Akbarurrasyid et al., 2020) Hatching Rate (HR) adalah daya tetas telur atau jumlah telur yang menetas. Penetasan telur dapat disebabkan oleh faktor gerakan telur, perubahan suhu, intensitas cahaya, dan kadar oksigen terlarut.
HR = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑟 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑡𝑎𝑠 (𝐵𝑢𝑡𝑖𝑟)
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑟 𝐾𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 (𝐵𝑢𝑡𝑖𝑟) 𝑥 100 d. Survival rate (SR)
Survival Rate (SR) merupakan persentase tingkat kelangsungan hidup dengan membandingkan antara populasi akhir dan populasi awal menggunakan rumus (Widyatmoko et al., 2019)
SR = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑙𝑖ℎ𝑎𝑟𝑎𝑎𝑛 (𝐸𝑘𝑜𝑟)
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑙𝑖ℎ𝑎𝑟𝑎𝑎𝑛 (𝐸𝑘𝑜𝑟) 𝑥 100 2.5.2 Aspek Finansial
a. Laba Rugi
Menurut Sumardika (2013), analisa laba/rugi dihitung menggunakan rumus berikut:
Laba/Rugi = Total Pendapatan – Total Biaya
b. Ravenue Cost Ratio
Menurut (Mamondol, 2016), R/C ratio dapat dihitung menggunakan rumus dibawah ini.
R / C Ratio = 𝑇𝑅
𝑇𝐶
Keterangan :
TR = Totael Revenue / Total Penerimaan TC = Total Cost / Total Biaya
c. Break Event Point
Perhitungan BEP harga didapatkan dengan perbandingan antara jumlah dari perhitungan biaya tetab dan perbandingan antara jumlah dari perhitungan biaya tidak tetap dan hasil penjualan yang telah dihasilkan. Menurut (Primyastanto, 2011), Break Event Point dapat dihitung berdasarkan rumus berikut:
BEP Harga = 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 1− 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙
ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
Sedangkan BEP produksi/unit dihitung dengan melakukan perbanidngan antara jumlah nilai dari biaya tetap dengan jumlah dari harga jual yang telah di dapatkan yang sebelumnya telah dikurangi dengan biaya tidak tetap.
BEP Unit (Ekor) = 𝐵𝐸𝑃 (𝑅𝑝)
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝐽𝑢𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡− 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 (𝑈𝑛𝑖𝑡)
10 d. Payback Period
Menurut (Sumardika, 2013), Payback Periode dihitung menggunakan rumus berikut:
PP = 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖 𝑎𝑤𝑎𝑙
𝐾𝑒𝑢𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ x 1 tahun 2.6 Metode Analisa Data
Metode Analisa data yang digunakan dalam praktik lapang ini menggunakan metode deskriptif, yaitu dengan cara membahas dan menggambarkan hasil dan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan selama praktik secara relevan.
2.7 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dilakukan dengan metode 4M Analysis (man, methode, material, dan machine) dan Analysis Fishbone. Metode ini bertujuan untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi terkait dalam kualitas ikan yang dihasilkan untuk mengidentifikasi faktor mana yang paling dominan pengaruhya terhadap kualitas budidaya ikan Koi di CV. Labaik Koi Hatchery, Sukabumi dan merumuskan pemecahan yang paling tepat untuk diterapkan dalam peningkatan kualitas ikan Koi yang dibudidayakan dan pemasaran usaha dagang di CV. Labaik Koi Hatchery, Sukabumi Jawa Barat.
11 3. KEADAAN UMUM
3.1 Sejarah Perusahaan
Sejarah CV. Labaik Koi hatchery, Perusahaan ini resmi berdiri sejak tahun 2003.
Pada tahun 1985, sebenarnya pemilik usaha ini sudah mulai memiliki ketertarikan di bidang perikanan sehingga membuat kolam kolam pemancingan sederhana disekitar lokasi, namun untuk fokus pada pembenihan baru dilakukan pada tahun 2003. Usaha ini pada awalnya dirintis oleh Bapak alm. Yayan Suryana yaitu Bapak dari Efrans Harta Rahayu. Nama usaha Labaik Koi ini dibuat oleh pendiri perusahaan ini karena pemilik memiliki banyak koleksi ikan dan kecintaan pada ikan yang dibudidayakan. Seiring berjalannya waktu, kegiatan pembenihan disini makin berkembang mulai dari pembenihan ikan koi, ikan bawal air tawar, ikan patin, ikan hias maupun ikan konsumsi lainnya. Selama lebih dari 10 tahun Labaik Koi Hatchery ini berdiri, telah terjadi pasang surut dalam perkembangnan usahanya. Labaik Koi Hatchery ini pernah mengalami masa masa kesuksesannya di awal hingga pertengahan masa usaha ini.
3.2 Struktur Organisasi
Struktur organisasi di Labaik Koi Hatchery dibagi dengan beberapa tugas. Adapun struktur organisasi disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Struktur Organisasi CV.Labaik Koi Hatchery 3.3 Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan aset perusahaan yang memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran kegiatan budidaya ikan pada perusahaan Labaik Koi Hatchery Sukabumi, yaitu sebagai berikut :
3.3.1 Fasilitas
Dalam kegiatan produksi benih ikan, CV. Labaik Koi Hatchery memiliki fasilitas- fasilitas guna mendukung berjalannya kegiatan yaitu :
1. Bangunan Administrasi
Bangunan adminitrasi adalah bangunan yang digunakan sebagai tempat proses pencatatan semua biaya – biaya yang dikeluarkan Labaik Koi Hatchery serta pemasukan pendapatan perusahaan. Selain itu juga sebagai tempat penyimpanan arsip
KETUA
BENDAHARA SEKSI PRODUKSI
SEKSI IKAN HIAS
SEKSI IKAN
KONSUMSI PEMASARAN
12
– arsip penting tentang data karyawan, serta berfungsi sebagai kegiatan proses transaksi penjualan ikan.
2. Mess
Tempat yang disediakan oleh pemilik perusahaan untuk para karyawan/orang – orang yang sedang praktik yang dilengkapi dengan dapur. Mess yang ada berjumlah 3 kamar, dimana 2 digunakan oleh tenaga kerja dan 1 lagi digunakan sebagai tempat istirahat kerabat pemilik apabila datang ke lokasi usaha.
3. Hatchery
Ruangan ini berisi bak pemijahan dan aquarium yang digunakan dalam proses produksi larva ikan koi.
4. Gudang
Gudang adalah ruangan yang digunakan untuk menyimpan barang – barang produksi dan pakan. Perusahaan memiliki 3 gudang, yang mana Gudang 1 berada dibelakang dapur. Gudang 2 bertempat di dalam Hatchery atau berada dibelakang bangunan administrasi, gudang ini menyimpan peralatan pemeliharaan larva dan peralatan produksi seperti heater, saringan, selang, dan obat – obatan. Gudang 3 berada dekat kolam indukan, yang digunakan untuk menyimpan peralatan seperti happa, jaring, skop, 19 pacul, dan serokan.
5. Fasilitas Wadah Budidaya
Fasilitas wadah yang ada di ada di hatchery dan kolam indukan CV. Labaik Koi Hatchery ada 3, yaitu kolam induk dengan luas 10,6 x 7,2 m2 dan jenis wadah yaitu kolam beton yang berjumlah 1 unit, bak pemijahan penetasan dengan luas 3m x 1m x 1m dan jenis wadah kolam beton yang berjumlah 4 unit, kolam pendederan dengan luas 50 x 10m2 dan jenis wadah kolam tanah yang berjumlah 20 unit.
6. Kendaraan Operasional
Labaik Koi Hatchery memiliki kendaraan operasional sebagai alat transportasi penunjang dalam melakukan kegiatan untuk mengantar pesanan larva bawal dan untuk membeli pakan ikan untuk proses produksi binisnya. Kendaraan yang dimiliki berupa mobil pribadi jenis Rush dan motor jenis Mio J.
3.3.2 Sumber Air
Air merupakan komponen utama dalam kegiatan pembenihan ikan. Sumber air untuk kegiatan pembenihan dan kolam induk di hatchery CV. Labaik Koi Hatchery berasal dari sungai Cipelang yang mengalir melalui irigasi. Pada kegiatan pembenihan air ditampung terlebih dahulu di bak penampungan berupa bak beton berukuran 3 x 1 x 1 m.
Selanjutnya air dari bak penampungan dapat digunakan dan dialirkan ke wadah-wadah pembenihan menggunakan pompa.
13 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perencaan Target produksi
Target produksi dibuat dengan tujuan untuk menganalisa produksi yang dijalankan dan pendapatan yang harus dipenuhi agar dapat menutupi biaya operasional yang telah dikeluarkan serta untuk mendapat nilai keuntungan. Target produksi ditentukan berdasarkan hasil diskusi dan evaluasi pada siklus produksi sebelumnya. Adapun indikator target yang harus sudah ditentukan oleh CV. Labaik Koi Hatchery Sukabumi dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Target Produksi
No Indikator Target
1 Jumlah induk yang dipijahkan 3 Induk Betina dan 6 Induk Jantan
2 Jumlah produksi benih 240.000
3 Survival Rate 60%
4.2 Kesesuaian Lokasi
CV. Labaik Koi Hacthery terletak di kampung Jeruk Nyelap Jalan Pelabuhan II KM.
5,6 RT.01/02 kelurahan Situmekar Kecamatan Lembursitu Kota Sukabumi Jawa Barat.
Labaik Koi Hatchery ini memiliki luas tanah sebesar 3.438 m2 yang terdiri dari bangunan administrasi, mess karyawan, kolam induk, hatchery, kolam pemeliharaan dan gudang.
Secara geografis terletak pada koordinat 106° 45’ 50’’ Bujur Timur dan 106° 45’ 10’’ Bujur Timur, 6° 49’ 29’’ Lintang Selatan dan 6° 50’ 44’’ Lintang Selatan, terletak di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang ketinggiannya 584 m di atas permukaan laut, dengan suhu maksimum 29 °C. Hal ini sesuai dengan SNI (2014), yang menyatakan bahwa lokasi yang baik untuk usaha pembenihan ikan Koi yaitu terhindar dari banjir, erosi, cemaran limbah dan memiliki sumber air yang sesuai dengan kebutuhan hidup dan pertumbuhan ikan yang dibudidayakan serta tersedia sepanjang tahun. Adapun penilaian kesesuaian lokasi disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Kesesuaian Lokasi
No Kriteria Penilaian Keterangan Referensi
1 Aspek Teknis a. Jenis dan Tekstur Tanah
Sesuai Merupakan tanah padat dan berpasir yang cocok untuk pertumbuhan ikan
(Triyanti &
Mahasri, 2012)
b. Kondisi Sumber Air
Sesuai Memiliki sumber air yang tersedia sepanjang tahun
(Utami et al., 2019)
c. Pengelolaan Limbah
Kurang Sesuai
Limbah dibuang menuju sungai tanpa adanya pengelolaan terlebih dahulu
(Utami et al., 2019)
14 Tabel 6. Kesesuaian Lokasi (Lanjutan)
No Kriteria Penilaian Keterangan Referensi
2 Aspek Non Teknis a. Ketersediaan
Benih
Sesuai Ketersediaan induk dan benih yang cukup untuk kegiatan pembenihan
(Luthfi et al., 2018) b. Ketersediaan
sarana transportasi
Sesuai Memiliki sarana transportasi yang memadai
(Luthfi et al., 2018) c. Ketersediaan
tenaga kerja
Sesuai Tenaga kerja yang cukup berpengalaman dalam bidang
pembenihan
(Luthfi et al., 2018)
d. Ketersediaan sarana komunikasi
Sesuai Sarana komunikasi yang memadai
(Luthfi et al., 2018) e. Ketersediaan
listrik
Sesuai Memiliki listrik yang memadai
(Luthfi et al., 2018) f. Keamanan
Lokasi
Sesuai Memiliki keamanan yang baik seperti CCTV
(Luthfi et al., 2018) 4.3 Persiapan Wadah dan Media Pemeliharaan
4.3.1 Kolam Pemeliharaan Induk
Kolam yang digunakan merupakan kolam beton berbentuk persegi panjang dengan ukuran 10,6 x 7,2 m2 dan kedalaman 2 meter seperti pada Gambar 2. Hal ini sesuai dengan pernyataan Supriatna, (2013) kedalaman kolam pemeliharaan induk setidaknya 1,5 m lebih dalam lebih baik. Idealnya kolam Induk betina lebih dalam daripada kolam induk Jantan. Hal ini disebabkan karena induk betina memiliki badan lebih besar dibandingkan dengan induk Jantan (Tiana & Ir Murhananto, 2004).
Persiapan wadah pemeliharaan induk diambil dari data sekunder. Persiapan wadah yang dilakukan adalah dengan membuang air sampai surut dengan cara membuka pintu air outlet dan menutup pintu air inlet, kemudian membuang sisa kotoran dan membuang seluruh lumpur yang mengendap akibat terbawa arus dengan cara menyeret lumpur ke lubang outlet. Setelah kolam bersih, dilakukan pengecekan dinding kolam dari keretakan dan kebocoran. Lalu dilakukan pengeringan kurang lebih 3 hari.
Pengisian air dilakukan setelah kolam bersih sampai ketinggian 160 cm. pengisian air dilakukan dengan cara membuka inlet dan menutup outlet. Air yang digunakan yaitu dari sungai Cipelang yang dialirkan melalui sakuran irigasi hingga ke tempat budidaya.
Pengisian air membutuhkan waktu selama 1 jam.
15 (a)
(b)
Gambar 2. (a) Kolam Pemeliharaan Induk (b) Layout Kolam 4.3.2 Bak Pemijahan dan Penetasan
Bak pemijahan yang digunakan yaitu bak beton yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang dan luas 3m x 1m x 1m dan ketinggian air 0,5 m. Bak dan kontruksi pemijahan dan penetasan disajikan pada Gambar 3. Persiapan wadah pemijahan yang dilakukan adalah dengan menyikat dinding dan dasar kolam, hal ini bertujuan untuk membuang lumut dan sisa kotoran yang melekat pada dinding dan dasar kolam. Setelah dibersihkan kolam dikeringkan selama 2 hari agar ikan terbebas dari penyakit yang disebabkan oleh kolam yang tidak baik perawatannya. Kemudia kolam diisi dengan air bersih sampai ketinggian 50cm. Pemberian aerasi dilakukan untuk meningkatkan DO pada air pemijahan. Kemudian kakaban ditebar secara merata disetiap permukaan air sebagai menempelnya telur ikan Koi. Menurut (Suseno, 2002) bahwa kegiatan pemijahan, induk lebih senang berada di bawah substrat alami seperti eceng gondok yang berada di kolam untuk menempelkan telur-telurnya. Luas kakaban yang digunakan yaitu 150cm x 25cm. sebelum ditebar, kakaban dibersihkan dengan air bersih dan dijemur dibawah sinar matahari selama 1 hari.
16 (a)
(b)
Gambar 3. (a) Bak Pemijahan dan Penetasan (b) Layout Bak 4.3.3 Kolam Pendederan
Kolam pendederan yang digunakan di CV. Labaik Koi Hatchery yaitu kolam tanah berbentuk persegi panjang dengan ukuran 50 x 10 m2. Kolam pendederan disajikan pada Gambar 4. Persiapan wadah yang dilakukan yaitu membuang air dengan membuka outlet dan menutup inlet. Kemudian meratakan lumpur, lalu dilakukan pengeringan minimal 3 hari dengan tujuan untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit yang mungkin ada pada pemeliharaan sebelumnya saat pengeringan dilakukan pengecekan dinding kolam dari kebocoran. Setelah itu dilakukan pengisian air dengan cara menutup pintu outlet dan membuka pintu inlet. Pengisian air dilakukan hingga air mencapai 40cm atau ½ dari ketinggian kolam agar Cahaya matahari dapat masuk ke dalam dasar kolam. Menurut (Lutfiyah, 2021) kecerahan atau tingkat cahaya yang masuk ke dalam tambak juga harus sesuai karena apabila cahaya yang masuk terlalu sedikit dapat menghambat pertumbuhan fitoplankton sebagai pakan alami. Selanjutnya dilakukan pemupukan menggunakan pupuk kendang berupa kotoran puyuh sebanyak 500g/m2 untuk menumbuhkan fitoplankton dan zooplankton sebagai pakan alami.
Gambar 4. Kolam Pendederan
17 4.4 Manajemen Induk
Induk merupakan salah satu tahap yang perlu diperhatikan agar telur yang dihasilkan berkualitas baik. Menurut (Kusrini et al., 2015) menyatakan bahwa pemeliharaan induk dilakukan bertujuan untuk melakukan seleksi dan untuk mematangkan gonad agar ikan siap untuk dipijahkan. Derajat penetasan yang optimal dalam kondisi lingkungan yang baik, induk yang sehat dapat menghasilkan larva diatas 50%.
Indukan koi yang diperlihara berasal dari indukan lokal yaitu daerah blitar dan berasal dari petani sekitar yaitu sukabumi, jumlah indukan yang ada yaitu 80 induk.
Jenis-jenis induk koi yaitu Kohaku, showa, sanke, shiro, platinum, goromo, sushui. Umur indukan jantan yaitu 2 tahun dan betina berumur 2-4 tahun. Padat tebar induk yaitu 1 ekor/m3. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Nurhayati et al., 2022) bahwa padat tebar koi yang ideal untuk perfprma pematangan gonad ikan koi sebesar 1 ekor/m3. Penebaran ikan yang berasal dari luar kota dilakukan karantina terlebih dahulu selama kurang lebih 2 minggu bertujuan untuk mengurangi tingkat stress pada ikan karena berbedaan kualitas air, sedangkan ikan yang berasal dari dalam kota dilakukan dengan cara mengaklimatisasi terlebih dahulu selama 15 menit yang bertujuan untuk mengurangi stress akibat suhu yang berbeda.
Pakan merupakan salah satu faktor yang mempengarhui leberhasilan pemijahan, baik dari kualitas maupun kuantitas telur yang dihasilkan. Induk ikan koi diberi pakan pellet apung dengan kandungan Protein 31%, Lemak 5%, Serat 8%, Kadar Air 13%, Kadar Abu 12%. Metode pemberian pakan yaitu Restrited (jumlah pakan yang diberikan tergantung biomassa induk) dengan feeding rate 2%. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 09.00 dan sore hari pukul 17.00. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Khairuman & Amri, 2014) bahwa pakan untuk induk ikan Koi diberikan dengan kandungan protein pakan berkisar antara 27%-30% dengan frekuensi pemberian pakan dilakukan 2-3 kali misalnya pagi, sore dan malam hari.
Kualitas air merupakan faktor yang paling menentukan dalam proses produksi ikan karena air merupakan media hidup ikan. Pengelolaan kualitas air bertujuan agar kualitas air selalu terjaga dan sesuai dengan standar kualitas air untuk ikan koi. Pengelolaan air dilakukan dengan pengecekan suhu, pH, TDS dan DO. Pengecekan kolam indukan dilakukan dengan waktu yang berbeda-beda. Pengecekan suhu, pH dan TDS dilakukan setiap hari pada pagi pukul 06.00 WIB dan sore hari pada pukul 17.00 WIB. Sedangkan parameter DO dilakukan setiap satu minggu sekali pada pagi hari pukul 06.00 WIB dan sore hari pukul 17.00 WIB. Diperoleh hasil parameter kualitas air pada pemeliharaan kolam induk yaitu suhu antara 23°C-27,8°C, pH 7, dan DO antara 6,6-8 mg/l.
4.5 Seleksi Induk
Seleksi induk matang gonad merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam pembenihan, karena induk dengan kualitas yang baik akan menghasilkan benih yang unggul dan berkualitas. Hal ini sesuai dengan pendapat (Kurniawan et al., 2013) mengatakan bahwa Induk yang sudah matang gonad akan menghasilkan benih yang kualitas dan kuantitasnya baik. Induk koi diperoleh dari kolam-kolam pemeliharaan yang ada di Cv. Labaik Koi Hatchery. Sebelum di seleksi, terlebih dahulu induk dipuasakan atau diberokan selama 1 hari agar lebih mudah menentukan gonad telur bukan feses
18
dan membuat kualitas air pada kolam pemijahan tidak memburuk karena feses yang dikeluarkan.
Seleksi induk matang gonad dilakukan dengan observasi atau mengamati secara visual yang dilakukan pada jam 15.00 dengan perlahan dan hati-hati untuk menghindari induk stress. Seleksi indukan dilakukan dengan cara memilih calon induk dengan kriteria yang sudah ditentukan, yakni induk betina dengan umur 2 sampai 4 tahun yang sudah matang gonad dengan ciri ciri perut mengembang seperti pada Gambar 5(a). dan agak sedikit lembek jika disentuh. Apabila distripping mengeluarkan cairan telur berwarna kekuningan dan gerakan renangnya melamban. Sedangkan induk jantan berumur 2-3 tahun yang sudah matang gonad yaitu ditandai lubang urogenital yang terlihat cekung ke dalam dan keluarnya cairan sperma yang kental berwarna putih apabila perut diurut seperti pada Gambar 5(b). Hal ini sesuai dengan (Suseno, n.d.) bahwa induk betina yang siap memijah dapat dilihat dari pergerakan yang lamban, perut terlihat membesar, dan alat kelamin terlihat memerah, sementara induk jantan yang siap memijah jika di raba pada sirip dada dan overkulumnya akan terasa kasar dan pergerakannya relatif lebih gesit.
Gambar 5. (a) Induk Betina Matang Gonad (b) Induk jantan Matang Gonad 4.6 Pemijahan dan Penetasan Telur
Teknik pemijahan yang dilakukan yaitu pemijahan alami, yang berarti pemijahan yang tidak melibatkan peran dari manusia untuk memijahkan ikan Koi dan tidak ada pemberian hormon untuk merangsang gonad ikan. Selama praktik, dilakukan 2 kali pemijahan dengan perbandingan 1:3 yaitu 1 betina dan 3 jantan. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Kusrini et al., 2015) bahwa perbandingan induk dalam pelaksanaan pemijahan alami induk 1:1, 1:2, dan 1:3, tergantung kesiapan induk yang ada.
Penebaran induk dilakukan pada sore hari. Menurut (Ismail & Khumaidi, 2016) waktu pelepasan induk yang baik yaitu pada waktu pagi dan sore hari karena pada waktu tersebut suhu perairan cenderung rendah.
Pada saat menjelang proses pemijahan keadaan sekitar diharuskan dalam keadaan tenang dan gelap agar indukan tidak stress dan pemijahan dapat berlangsung sesuai yang diharapkan dan jaring penutup dipasang pada bak pemijahan untuk mecegah induk
A
B
Sperma ikan Koi
19
loncat. Pemijahan terjadi sekitar pukul 22.00-05.00 sesuai dengan pernyataan (Kusrini et al., 2015) bahwa pemijahan berlangsung pada dini hari pukul 00:00-06:00. Proses pemijahan ditandai dengan bunyi percikan air yang dihasilkan akibat proses pengejaran induk betina oleh pejantan kemudian induk betina mengeluarkan telur di permukaan air yang kemudian akan dibuahi oleh sperma jantan yang disemprotkan setelah telur itu keluar. Pada kegiatan pemijahan induk akan lebih senang berada di bawah substrat alami yang berada di bak yang digunakan sekaligus untuk menempelkan telur-telurnya (Suseno, 2002). Setelah pemijahan selesai, telur mulai menempel di substrat pada pukul 05.00.
Induk yang telah selesai memijah dipindahkan kembali ke kolam pemeliharaan induk. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Ramadhan et al., 2018) bahwa setelah pemijahan selesai, maka induk diangkat dari kolam pemijahan. Hal ini dilakukan agar induk tidak memakan kembali telur yang telah dikeluarkan. Sebelum induk dimasukan kedalam kolam pemeliharaan, induk diberi PK (Kalium Permanganat) untuk membunuh kuman agar induk terbebas dari penyakit. Setelah itu induk ditimbang terlebih dahulu agar mengetahui bobot akhir dari induk yang telah dipijahkan untuk menghitung fekunditas yang dihasilkan.
Penetasan telur dilakukan di wadah pemijahan. Telur yang menempel pada substrat dibiarkan menetas dalam wadah pemijahan. Telur ikan koi bersifat adhesive yaitu melekat pada substart, hal ini disebabkan adanya perekat yang mengandung glukoprotein pada telur yang matang, lapisan ini tidak terdapat pada telur yang belum matang (Woynarovich & Horváth, 1980). Ciri-ciri telur yang terbuahi transparan dan yang tidak terbuahi berwarna putih seperti pada Gambar 6. Menurut (Cole et al., 2010) telur yang tidak terbuahi kehilangan transparansinya dan menjadi keputih-putihan karena kuning telur pecah dan menutup ruang perivitelline, sehingga telur tersebut akan mati.
Kematian telur juga disebabkan oleh beberapa faktor antara lain pembuah yang tidak sempurna dan kondisi telur yang saling menempel atau saling tindih sehingga sirkulasi oksigen terganggu dan menyebabkan kematian (Setyono, 2009). Parameter kualitas air di amati pada setiap pemijahan dan penetasan dengan hasil suhu antara 25°C-27°C, pH 7 dan DO 6-7 mg/l. Hal ini sudah sesuai dengan (SNI, 1999) bahwa kualitas air untuk pemijahan dan penetasan telur ikan Koi yaitu suhu 25°C-30°C, pH 6,5-8,5 dan DO lebih dari 5.
Gambar 6. Telur Tidak Terbuahi
20 Tabel 7. Pengamatan Telur Ikan Koi
Fase Pengamatan Referensi Deskripsi Waktu
Fertilisasi Sel telur sudah
mengalami fertilisasi dengan sperma
05.00
Cleavage Terjadi pembelahan 2
sel
06.05
Cleavage Terjadi pembelahan 4
sel
07.15
Clevalage Terjadi pembelahan 8
sel
07.35
Clevalage Terjadi pembelahan 16
sel
07.55
Terjadi pembelahan 32 sel
08.15
Morula Terjadi pembelahan 64
sel
08.35
Blastula Terjadi pembelahan
mencapai 128 sel
09.35
Grastula 13.35
Grastula Bakal menjadi organ
sudah semakin jelas
14.35
Organogenesis Pada fase ini sudah
terlihat berbentuk mata dalam sel telur sudah terlihat pergerakannya
24 jam 14.35
21 Tabel 7. Pengamatan Telur Ikan Koi (Lanjutan)
Fase Pengamatan Referensi Deskripsi Waktu
Menetas Menetas pada jam ke-
48
05.35
Pengamatan dimulai pada jam 06.05 WIB, pada pukul 06.45 WIB mulai terjadi perubahan dan pada pukul 06.55 mulai mengalami pembelahan menjadi 2 sel.
Pengamatan selanjutnya mengalami perubahan pada pukul 07.15 yang membelah menjadi 4 sel dan pada pukul 08.15 terjadi pembelahan mencapai 32 sel. Sedangakan pada pukul 08.35 blastomer telah mencapai tahap morula. Tahap morula mulai terbentuk rongga yang disebut blastula. Fase ini berlangsung lama, pada pukul 14.35 sel telur memasuki tahap akhir grastula yaitu tahapbakal menjadi organ semakin jelas. Proses selanjutnya adalah tahap organogenesis dan dilakukan pengamatan selama 24 jam.
Tahap ini sel telur sudah mulai terlihat bagian kepala dan ekornya serta tulang punggung.
Pengamatan selanjutnya yaitu pada pukul 14.35 terlihat bentuk tubuh embrio sudah lengkap tinggal menunggu keluar. Pada pukul 05.00 telur menetas di jam ke-48 dengan suhu 26°C. Laju penetasan telur ikan koi terjadi setelah 48 jam setelah pembuahan pada suhu 25°C. Menurut (Cole et al., 2004) pada suhu 27-28°C telur menetas setelah 43 jam dari pembuahan dengan jumlah yang menetas 75-85%. Sedangkan menurut (Szabó et al., 2010), telur ikan akan menetas dalam waktu 15-18 jam setelah pembuahan pembuahan pada suhu 27-31°C. (Nica et al., 2012) menerangkan bahwa penetasan terjadi 7 hari setelah pembuahan pada suhu 18°C, 3 hari pada suhu 25°C, dan dua hari pada suhu 30°C.
4.8 Manajemen Pemeliharaan Benih
Larva dipanen pada umur 3 hari dengan ukuran antara 0.5-0.6 mm dan bobotnya antara 18-20 mg seperti pada Gambar 7. Pada saat itu kuning telur yang ada pada larva sudah habis dan larva berenang aktif. Pemanenan dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu rendah agar larva tidak stress dan mati. Pemanenan dimulai dengan pengangkatan kakaban dari kolam pemijahan dan titik aerasi dikurangi agar memudahkan pengamibilan larva. Larva diambil menggunakan seser dengan mesh 1 mm secara perlahan agar sisa telur yang tidak dibuahi tidak terambil dan teraduk.
Gambar 7. Larva ikan Koi
Larva yang dipanen kemudian ditampung di baskom sebelum dimasukan kedalam plastik packing yang kemudian dipindahkan ke dalam kolam pemeliharaan. Pemindahan
22
dilakukan di sore hari. Hal ini sesuai dengan pendapat (Kusrini et al., 2015) bahwa pemindahan larva ke kolam pendederan dilakukan pada pagi hari atau sore hari untuk menghindari suhu yang terlalu tinggi yang dapat mematikan benih ikan. Sebelum ditebar larva terlebih dahulu diadaptasikan (aklimatisasi) dengan media pemeliharaan yang disajikan pada Gambar 8. Pada siklus pertama kolam yang dibutuhkan untuk pemeliharaan larva yaitu 5 kolam, siklus kedua pemeliharaan dibutuhkan 5 kolam.
Gambar 8. Proses Aklimatisasi Larva Koi
Pada umur ke 3-6 hari larva memakan pakan alami berupa fitoplankton dan zooplankton (Moina sp, Daphnia sp) yang ada pada kolam pemeliharaan. Pemberian pakan alami diberikan secara ad libitum. Setelah larva berumur 7-30 hari diberi pakan tambahan yaitu pakan buatan berupa pellet SN-3 yang dibibis menggunakan probiotik dan fitofarmaka yang dicampur dengan air. Pakan pellet ini diberikan pada benih karena mengandung protein 33% yang bertujuan untuk memacu pertumbuhan benih. Hal ini sesuai dengan pendapat (Masitoh et al., 2015) bahwa kebutuhan protein dalam tubuh benih ikan sekurang-kurangnya adalah 30% untuk membentuk jaringan baru untuk pertumbuhan. Frekuensi pemberian pakan yaitu 1 kali dalam sehari pada pagi hari pukul 07.00 WIB. Metode pemberian pakan buatan dengan cara menyebar pakan ke seluruh permukaan kolam pemeliharaan.
Selama pemeliharaan benih dilakukan monitoring pertumbuhan. Monitoring pertumbuhan ini dilakukan untuk mengetahui pertambahan panjang dan berat ikan.
Pengukuran panjang menggunakan dan pengukuran berat ikan menggunakan timbangan digital. Berikut hasil yang diperoleh disajikan pada Gambar 9, 10.
0 2 4 6 8
DOC 14 DOC 21 DOC 28 Doc 36 DOC 43
Pertumbuhan Pnajnag (Cm)
Umur benih
Siklus 1
Kolam A1 Kolam A2 Kolam A3 Kolam A4 Kolam A5
23
Gambar 9. Grafik Pertumbuhan Benih Koi (Siklus 1)
Gambar 10. Grafik Pertumbuhan Benih Koi (Siklus 2)
Dari gambar 9 dan 10 menunjukan bahwa pertumbuhan panjang dan berat ikan Koi mengalami peningkatan yang artinya pakan yang diberikan dapat diserap oleh ikan dan pakan alami yang ada pada kolam melimpah sehingga ikan tidak kekurangan pakan.
Kualitas air merupakan faktor paling menentukan dalam proses produksi ikan karena air merupakan media hidup bagi ikan. Parameter kualitas air yang diukur yaitu suhu, pH, DO, TDS. Monitoring kualitas air bertujuan untuk menjaga dan membentuk warna pada ikan Koi.
0 2 4
DOC 14 DOC 21 DOC 28 DOC 36 DOC 43
Pertumbuhan Berat (g)
Umur benih
Siklus 1
Kolam A1 Kolam A2 Kolam A3 Kolam A4 Kolam A5
0 2 4 6
DOC 14 DOC 21 DOC 28 DOC 36
Pertumbuhan Panjang (cm)
Umur benih
Siklus 2
Kolam B1 Kolam B2 Kolam B3 Kolam B4 Kolam B5
0 0,5 1 1,5
DOC 14 DOC 21 DOC 28 DOC 36
Pertumbuhan Berat (g)
Umur benih
SIklus 2
Kolam B1 Kolam B2 Kolam B3 Kolam B4 Kolam B5
24 a. Suhu
Pengukuran suhu dilakukan pada pukul 06.00 WIB dan 17.00 WIB hal ini bertujuan untuk mengetahui fluktuasi suhu kritis pada kolam induk, penetasan dan pemeliharaan benih ikan Koi. Berikut grafik hasil pengukuran parameter suhu disajikan pada Gambar 11.
Gambar 11. Grafik Hasil Pengukuran Suhu Kolam Pemeliharaan Benih
Berdasarkan pengamatan rata-rata suhu pemeliharaan benih adalah 25℃ pada pagi hari dan 30℃ pada sore hari. Hal ini sesuai dengan pendapat (SNI, 1999) yang menyatakan bahwa suhu yang ideal bagi pertumbuhan Koi yaitu 25-30˚C.
b. pH
Pengukuran pH dilakukan pada pukul 06.00 WIB dan 17.00 WIB hal ini agar mengetahui fluktuasi pada pagi dan sore hari. Dilakukan pengecekan pH karena mempengaruhi warna yang di hasilkan oleh benih. Pada pelaksanaan praktik pH paling rendah terletak pada kolam yaitu 7,5. Sedangkan paling tinggi berada pada kolam B3 dengan nilai 9,6. Hal ini masih dalam batas toleransi SNI. Dan juga pada pelaksaan praktik tidak terjadi masalah. Menurut (Udin Sitanggang, 2010) bahwa pH yang ideal untuk Koi adalah 7,4. Koi masih mampu hidup sehat dengan pH 7-9. Fluktuasi pH pada kolam pemeliharaan siklus 1(A1, A2. A3, A4. A5), siklus ke 2(B1, B2, B3,B4, B5) disajikan pada Gambar 12.
Gambar 12. Grafik Hasil Pengukuran pH Kolam Pemeliharaan Benih c. TDS
TDS atau Total Dissolved Solids adalah jumlah semua ion kimia yang terlarut dalam air kolam. Zat – zat ini belum tentu merupakan bahan kimia yang “buruk”. Mereka kebanyakan mineral dan garam di kolam ikan koi. Hasil pengukuran TDS selama pemeliharaan induk, pemijahan, hingga penetasan telur menunjukkan 200 ppm.
Kolam A1
Kolam A2
Kolam A3
Kolam A4
Kolam A5
Kolam B1
Kolam B2
Kolam B3
Kolam B4
Kolam B5
Min 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25
Max 30 28 30 30 30 27 29 27 28 28
2223 2425 2627 2829 3031
Suhu℃
Kola m A1
Kola m A2
Kola m A3
Kola m A4
Kola m A5
Kola m B1
Kola m B2
Kola m B3
Kola m B4
Kola m B5
Min 7,49 7 7 7 7 7 7 7 6,69 7,6
Max 7,88 7,84 7,91 7,91 7,91 7,87 7,88 7,94 7,91 7,9 6
6,5 7 7,5 8 8,5
pH
25
Berdasarkan standar yang telah ditetapkan dalam (PP No 82, 2001) yang menjelaskan kisaran TDS untuk kegiatan budidaya ikan yaitu 1000mg/L, semakin kecil konsentrasi yang berada di perairan tersebut semakin baik juga untuk pemeliharaan ikan. Hasil pengukuran TDS disajikan pada Gambar 13.
Gambar 13. Grafik Hasil Pengukuran TDS Kolam Pemeliharaan Benih d. DO
Pengukuran suhu dilakukan pada setiap seminggu sekali pukul 06.00 WIB dan 10.00 WIB. Karena pada saat pelaksanaan praktik nilai DO memiliki kandungan DO yang tidak terdapat perbedaan yang nyata. Hal ini dibuktikan pada pelaksanaan praktik rata-rata DO terendah pada pagi hari berada pada kolam C3 yaitu 6,8 mg/l dan sore hari berada pada kolam B1 yaitu 7,7 mg/l. Sedangkan DO tertinggi berada pada kolam A1 dengan nilai 8,1 mg/l. Hal ini masih dalam batas toleransi SNI yaitu minimal 5,0 mg/l. Selain itu, pada kolam pemeliharaan tidak terdapat pemberian aerasi. Fluktasi DO pada kolam pemeliharaan siklus 1(A1, A2. A3, A4. A5), siklus ke 2(B1, B2, B3, B4, B5) disajikan pada Gambar 14.
Gambar 14. Grafik Hasil Pengukuran DO Kolam Pemeliharaan Benih 4.9 Monitoring Hama dan Penyakit
Monitoring hama dan penyakit yang dilakukan adalah pengamatan secara visual yaitu dengan melihat kondisi dari benih yang dipelihara. Hama yang ditemukan pada saat pemeliharaan benih yaitu ular dan burung, pada kolam indukan tidak ditemukan hama begitupun pada kolam pemijahan karena pada kolam pemijahan tertutup sehingga terhindar dari hama. Penyakit pada koi bisa disebabkan oleh virus, parasite dan juga bakteri serta faktor non infeksi yaitu kondsi air di tempat hidup ikan koi. Beberapa penyakit yang menyerang pada induk yaitu kutil, kutu jarum, dan argulus. Sedangkan
Kolam A1
Kolam A2
Kolam A3
Kolam A4
Kolam A5
Kolam B1
Kolam B2
Kolam B3
Kolam B4
Kolam B5 Min 119 120 120 127 122 121 121 127 124 127 Max 139 145 141 140 140 140 140 140 141 142
0 20 40 60 80 100 120 140 160
TDS (mg/l)
Kolam A1
Kolam A2
Kolam A3
Kolam A4
Kolam A5
Kolam B1
Kolam B2
Kolam B3
Kolam B4
Kolam B5
Min 6,9 6,8 6,9 6,8 7 6,8 6,8 6,9 7 7,3
Max 8,4 8 8,2 7,9 7,91 8 8 8,1 8 8
0 2 4 6 8 10
DO (mg/l)
26
penyakit yang menyerang benih ikan yaitu kutu jarum. Seperti hal nya manusia, ikan koi pun menunjukan gejala-gejala ketika kondisi tubuhnya mengalami gangguan dan pada saat itu juga dilakukan penanganan agar penyakit tidak menyebar yang mengakibatkan kematian massal. Adapun gejala-gejala dan penanganannya yaitu :
1. Kutu Jarum (Lerneae cyprinaceae)
Penyakit ini sebenarnya termasuk dalam golongan udang-udangan. Mereka biasanya mengubur diri dibawah sisik koi dan kemudian menjadi bersifat parasite.
Cacing jangkar bisa membuat kekuatan koi jauh menurun dan di sisi lain juga meningkatkan resiko terjadinya infeksi sekunder. Cacing jangkar bisa mudah dilihat dengan mata telanjang seperti pada gambar, meski kadang orang mengabaikan keberadaan cacing ini. Gejala yang ditimbulkan yaitu menurunnya kekebalan tubuh atau ikan menjadi lemas, berenang tidak beraturan dan sering menggesek-gesekan tubuhnya ke bagian pinggir kolam. Penanganan yaitu dengan cara mencabut menggunakan pinset.
2. Hikkui
Penyakit ini sering menyerang pada induk koi, jenis dari penyakit ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya dari serangan dari bakteri (Cyprinid Herpesvirus 1 (CyHV-1)). Pada gejala awal biasanya ikan koi akan mengalami perubahan warna (memudar), muncul benjolan sejenis tumor seperti pada gambar yang semakin lama semkain membesar dan banyak. Penanganan yang dilakukan yaitu dengan mengambil benjolan yang ada di tubuh ikan tersebut menggunakan alat berupa cutter, lalu luka tersebut diberi obat merah, setelah itu ikan di karantina di bak karantina selama 24 jam.
3. Argullus
Argulus atau kutu ikan merupakan parasite ikan dari golongan udang-udangan keluarga Branchira. Menurut (Juniarsih & Mahasri, 2017) Parasit ini masuk ke dalam akuarium biasanya melalui pakan hidup. parasit Argulus sering menyerang ikan budidaya pada bagian permukaan tubuh (kulit), sirip dorsal, sirip anal, sirip pectoral, sirip ventral, dan sirip caudal. Argulus akan menyerang ikan dnegan cara menempel dan menusuk pada tubuh inang dengan menggunakan stylet. Setelah Argulus menempelkan diri pada inang, parasit ini akan melepaskan zat anti koagulan yang berfungsi untuk mencegah pembekuan pada darah. Serangan parasit ini umumnya tidak menimbulkan kematian pada ikan yang terinfestasi, hal ini dikarenakan Argulus hanya menghisap darah inangnya menggunakan proboscis sehingga inang akan menjadi kurus. Infeksi dari parsit ini umumnya akan menyebabkan adanya luka pada permukaan tubuh, sirip geripis, warna tubuh terlihat pucat, lendir yang berlebihan, dan sisik lepas. Luka akibat serangan ektoparasit Argullus dapat menyebabkan infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri, jamur, dan virus. Pada penyakit Argullus pada induk ikan koi dapat dilihat pada Gambar 15. Penanganan yang dilakukan yaitu dengan cara dengan cara mencabut menggunakan pinset dengan hati-hati.
27
Gambar 15. Penyakit Pada Induk Ikan Koi (a. Hikkui) (b. Argullus) (c.Kutu Jarum) 4.10 Panen dan Grading
Benih dipanen pada saat umur 30-40 hari atau benih berukuran 5-7 cm. Panen dilakukan pada pagi hari yaitu sekitar pukul 06.30 WIB – 09.00 WIB atau saat suhu tidak terlalu tinggi. Hal ini dilakukan agar benih tidak mengalami stres dan mengalami kematikan akibat perubahan suhu yang drastis. Pemanenan benih dilakukan dengan cara menyurutkan air terlebih dahulu dengan mengganti pipa outlet dengan pipa yang telah dilubangi dan diberi saringan agar benih tidak ikut terbawa keluar saat proses penyurutan. Penyurutan dilakukan hingga ikan berkumpul di kamalir. Prosedur pemanenan dimulai dengan menggiring ikan ke ujung kamalir. Setelah ikan berkumpul diujung kamalir, Ikan diserok menggunakan seser dan dimasukkan ke dalam plastik pengemasan, kemudian plastik pengemasan diangkut dan ikan dilepaskan secara perlahan-lahan ke dalam wadah sortasi untuk di-grading.
Benih yang sudah dipanen kemudian ditampung pada hapa untuk dilakukan grading, benih yang ditampung dapat dilihat pada Gambar 16. Grading dilakukan pada pagi hari saat suhu tidak terlalu tinggi. Grading ini bertujuan untuk memisahkan benih ikan berdasarkan kualitasnya. Kualitas benih dibedakan berdasarkan warna dan corak warna benih tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat (Khairuman & Amri, 2014), bahwa benih yang sudah dipanen disimpan dalam satu wadah untuk selanjutnya dilakukan grading atau penyortiran. Penyortiran merupakan bagian seleksi dengan mengelompokan benih koi sesaui dengan kualitasnya. Grading dilakukan dengan mengambil sedikit demi sedikit benih yang sudah tertampung kemudian dimasukan kedalam bak yang telah diberi waring halus diatasnya dan diberi aerasi agar ikan tidak kekurangan oksigen.
Gambar 16. Benih Koi Yang Siap Grading
Grading benih dilakukan secara visual dengan melihat pola dan warna pada benih.
Benih ikan koi dibagi menjadi beberapa grade yaitu grade A, grade B dan grade C. Grade A adalah benih yang memiliki warna yang cerah atau kontras dan memiliki pola yang sudah terbentuk jelas dan rapi. Sedangkan benih grade B adalah benih yang warnanya kurang jelas atau kurang kontras serta pola yang terbentuk ditubuhnya kurang jelas atau
a b