• Tidak ada hasil yang ditemukan

ES Pertemuan 7 - Common Sense Reasoning

N/A
N/A
Masbianto Subianto

Academic year: 2024

Membagikan "ES Pertemuan 7 - Common Sense Reasoning"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK INFERENSI

EXPERT SYSTEM

Subianto, S.Kom., M.Kom.

(2)

Common Sense Reasoning

Melalui common sense (pengalaman), manusia belajar untuk memecahkan masalahnya secara efisien.

Dalam sistem pakar, dapat dikategorikan sebagai Heuristic.

Mengacu pada kemampuan mirip manusia untuk membuat asumsi tentang situasi sehari-hari yang kita hadapi. Ini

melibatkan pemahaman sifat benda-benda fisik, sifat- sifatnya, dan niat orang.

(3)

Beberapa poin penting tentang Common Sense Reasoning

Asumsi Mirip Manusia: AI dengan penalaran akal sehat dapat membuat penilaian yang mirip dengan psikologi rakyat manusia dan fisika naif1.

Pengetahuan Akal Sehat: Ini termasuk fakta-fakta dasar tentang peristiwa, efek, keyakinan, keinginan, dan dunia fisik1.

Tantangan: Mengotomatiskan penalaran akal sehat sulit karena kompleksitas pemikiran manusia dan banyaknya pengetahuan implisit yang kita gunakan1.

Aplikasi: Ini digunakan dalam tugas-tugas seperti visi komputer dan manipulasi robot, di mana memahami dunia fisik sangat penting

(4)

Logical Symbol

Simbol Arti Bentuk

¬/~ Tidak/Not/Negasi Tidak...

^ Dan/And/Konjungsi ...dan...

∨ Atau/Or/Disjungsi ...atau...

→ Implikasi Jika...maka....

↔ Biimplikasi ...bila dan hanya bila....

(5)

Reasoning dengan Logika

Modus Ponen

Definisi: Rule dari logika yang menyatakan bahwa

jika A adalah benar dan A implies B adalah juga

benar, maka dapat diasumsikan bahwa B benar.

(6)

Contoh:

A = Udara Cerah

B = Kita akan pergi ke pantai

A→B = Jika udara cerah, maka kita pergi ke pantai

kesimpulan berdasarkan Modus Ponen bahwa,

“Kita akan pergi ke Pantai”

(7)

Resolusi

Definisi: Strategi inferensi yang digunakan pada sistem logika untuk menentukan kebenaran dari suatu

assertion (penegasan)

Metoda Resolusi mencoba untuk membuktikan bahwa

beberapa teorema atau ekspresi sebagai proposisi P

adalah TRUE, dengan memberikan sejumlah aksioma

dari masalah tersebut.

(8)

Proof by Refutation, suatu teknik yang ingin membuktikan bahwa ⌐P tidak dapat menjadi TRUE.

Resolvent : ekspresi baru yang muncul dari metode resolusi

yang merupakan gabungan (union) dari aksioma yang ada

dengan teorema negasi.

(9)

Misalnya:

Ada aksioma:

(A→B) Λ (B→C) Λ ¬ (A→C)

Resolvent tersebut kemudian ditambahkan pada list dari

aksioma dan akan menghasilkan resolvent baru. Proses ini

berulang sampai menghasilkan kontradiksi.

(10)

Mengubah suatu kalimat (konversi) ke bentuk CNF (Conjunctive Normal Form)

Hilangkan implikasi dan ekuivalensi

• x → y menjadi ¬ x ∨ y

• x ↔ y menjadi (¬ x ∨ y) ∧ (¬ y ∨ x)

Kurangi lingkup semua negasi menjadi satu negasi saja • ¬ (¬ x) menjadi x

• ¬ (x ∨ y) menjadi (¬ x ∧ ¬ y)

• ¬ (x ∧ y) menjadi (¬ x ∨ ¬ y)

Gunakan aturan assosiatif dan distributif untuk mengkonversi menjadi conjuction of disjunction

• Assosiatif : (A∨ B)∨ C menjadi A∨ (B∨ C)

• Distributif : (A ∧ B)∨ C menjadi (A∨ C) ∧ (B ∨ C)

Buat satu kalimat terpisah untuk tiap-tiap konjungsi

(11)

Ekspresi to CNF

(A→B) Λ (B→C) Λ ¬ (A→C)

≡ (¬A v B) Λ (¬B v C) Λ ¬(¬A V C) A→B

≡ (¬A v B) Λ (¬B v C) Λ (¬ ¬A Λ¬C) De Morgan’s Law

≡ (¬A v B) Λ (¬B v C) Λ (A Λ ¬C) Law of Double Negation

≡ (¬A v B) Λ (¬B v C) Λ A Λ ¬C Asosiatif Jadi bentuk CNF yang diperoleh adalah:

(¬A v B) Λ (¬B v C) Λ A Λ ¬C

(12)

Inverted Tree

(¬AVB) ^ (¬BVC) A ¬C

(¬AVC)

C

T resolved

Resolvent clause

(13)

◼ ┴ adalah Falsum , yakni konstanta proposisional yang selalu

bernilai salah. Artinya jika nilai kebenaran dari premis-premis

dan negasi kesimpulan-kesimpulan bernilai Salah (falsum),

maka argumen pasti valid.

(14)

Nonresolusi

Pada resolusi, tidak ada pembedaan antara goals (tujuan), premises maupun rules. Semua dianggap sebagai aksioma dan diproses dengan rule resolusi untuk inferensi.

Cara tersebut dapat menyebabkan kebingungan karena menjadi tidak jelas apa yang ingin dibuktikan

Teknik Nonresolusi atau natural-deduction mencoba mengatasi hal tersebut dengan menyediakan beberapa statement sebagai goal-nya

Untuk membuktikan [H Λ (A → B) → C]:

If (B → C), then membuktikan (H → A)

(15)

contoh kasus :

Akan dibuktikan apakah Jack suka tim sepakbola Arema-Malang.

Asumsinya adalah bahwa

semua orang yang tinggal di Malang menyukai Arema.

Karenanya,

jika diketahui bahwa Jack tinggal di Malang, maka bisa membuktikan tujuan kita.

(16)

Kasus tadi dapat direpresentasi menjadi:

Antecedents:

[Lives-Malang(Jack) Λ (Lives-Malang(X) Likes-Arema(X))

Goals:

Likes-Arema(Jack)]:

Pada contoh tersebut, dapat dibuktikan goal-nya jika (Lives-Malang(X) Likes-Arema(X)), dan

(Lives-Malang(Jack)) adalah BENAR.

(17)

Beberapa hukum dalam Inferensi dengan Logika

(18)

Beberapa hukum dalam Inferensi dengan Logika

(19)

INFERENCING DENGAN RULES:

FORWARD dan BACKWARD CHAINING

Inferensi dengan rules merupakan implementasi dari modus ponen, yang direfleksikan dalam mekanisme search (pencarian).

Firing a rule: Bilamana semua hipotesis pada rules (bagian “IF”) memberikan pernyataan BENAR

Dapat mengecek semua rule pada knowledge base dalam arah forward maupun backward

Proses pencarian berlanjut sampai tidak ada rule yang dapat digunakan (fire), atau sampai sebuah tujuan (goal)tercapai.

Ada dua metode inferencing dengan rules, yaitu Forward Chaining atau Data- Driven dan Backward Chaining atau Goal-Driven.

(20)

BACKWARD CHAINING

Pendekatan goal-driven,

Jika suatu aplikasi menghasilkan tree yang sempit dan cukup dalam, maka gunakan backward chaining.

HIPOTESIS SEBAB

(21)

Inductive

Mundur /ke belakang, dari goal (noda tujuan) bergerak ke keadaan awal

Diagnosa

Disebabkan oleh apa ?

Apa yang menjadi penyebab ?

BACKWARD CHAINING

(22)

FORWARD CHAINING

Multipel inferensi

Jika klausa premis sesuai dengan situasi (bernilai TRUE), maka proses akan meng-assert konklusi

Forward Chaining adalah data driven karena inferensi dimulai dengan informasi yg tersedia dan baru

konklusi

diperoleh

INFORMASI KONKLUSI

(23)

Forward-Chaining

Deductive

Maju / ke depan, dari keadaan awal menuju ke tujuan (goal)

Apa akibatnya ?

Mengakibatkan apa ?

(24)

Backward atau Forward ?

Contoh 1.

Anda ingin terbang dari Denver ke Tokyo dan tidak ada penerbangan langsung antara kedua kota tersebut. Jadi, anda harus menemukan connecting flight dari Denver yang berakhir di Tokyo.

Contoh 2

Mobil anda mogok dan anda ingin mencari tahu mengapa mobil tersebut mogok ?

(25)

Motor Inferensi

Contoh: Ada 10 aturan yang tersimpan dalam basis

pengetahuan. Fakta awal yang diberikan hanya: A & E (artinya:

A dan E bernilai benar). Ingin dibuktikan apakah K bernilai benar (hipotesis: K)?

No. Aturan

R-1 IF A & B THEN C R-2 IF C THEN D R-3 IF A & E THEN F R-4 IF A THEN G

R-5 IF F & G THEN D R-6 IF G & E THEN H R-7 IF C & H THEN I R-8 IF I & A THEN J R-9 IF G THEN J R-10 IF J THEN K

(26)

Motor Inferensi

• Forward Chaining

– Munculnya fakta baru pada saat inferensi:

Aturan Fakta Baru

R-3 F

R-4 G

R-5 D

R-6 H

R-9 J

R-10 K

(27)

Motor Inferensi

• FORWARD CHAINING:

A

E Fakta

Fakta

R-3 F

R-4 G

R-5 D

R-6 H

J K

R-9 R-10

(28)

Motor Inferensi

• BACKWARD CHAINING

– Alur inferensi:

J I

A

C

H

A

B K R-10

R-8 R-7 R-1

Fakta

Tidak diketahui (a) Pertama: Gagal

J G A

K R-10 R-9 R-4

Fakta

(b) Kedua: Sukses

(29)

Contoh Kasus

Sistem Pakar: Penasihat Keuangan

Kasus : Seorang user ingin berkonsultasi apakah tepat jika dia berinvestasi pada stock IBM?

Variabel-variabel yang digunakan:

A = memiliki uang $10.000 untuk investasi

B = berusia < 30 tahun

C = tingkat pendidikan pada level college

D = pendapatan minimum pertahun $40.000

E = investasi pada bidang Sekuritas (Asuransi)

F = investasi pada saham pertumbuhan (growth stock)

G = investasi pada saham IBM

Setiap variabel dapat bernilai TRUE atau FALSE

(30)

FAKTA YANG ADA:

Diasumsikan si user (investor) memiliki data:

Memiliki uang $10.000 (A TRUE)

Berusia 25 tahun (B TRUE)

Dia ingin meminta nasihat apakah tepat jika berinvestasi pada IBM stock?

RULES

R1 : IF seseorang memiliki uang $10.000 untuk

berinvestasi AND dia berpendidikan pada level college THEN dia harus berinvestasi pada bidang sekuritas

R2 : IF seseorang memiliki pendapatan pertahun min

$40.000 AND dia berpendidikan pada level college THEN dia harus berinvestasi pada saham pertumbuhan (growth stocks)

(31)

Rules :

R3 : IF seseorang berusia < 30 tahun AND dia

berinvestasi pada bidang sekuritas THEN dia sebaiknya berinvestasi pada saham pertumbuhan

R4 : IF seseorang berusia < 30 tahun dan > 22 tahun THEN dia berpendidikan college

R5 : IF seseorang ingin berinvestasi pada saham

pertumbuhan THEN saham yang dipilih adalah saham IBM.

(32)

Rule simplification:

– R1: IF A and C, THEN E

– R2: IF D and C, THEN F

– R3: IF B and E, THEN F

– R4: IF B, THEN C

– R5: IF F, THEN G

(33)

Solusi dengan Backward Chaining

(34)

Solusi dengan Forward Chaining

(35)

Inferensi dengan rules dapat sangat efektif, tapi terdapat beberapa keterbatasan.

Misalnya, perhatikan contoh berikut:

Proposisi 1 : Semua burung dapat terbang

Proposisi 2 : Burung Unta (Kasuari) adalah burung

Konklusi : Burung Unta dapat terbang

Konklusi tersebut adalah valid, tetapi dalam

kenyataannya adalah salah, karena burung unta tidak dapat terbang. Untuk kasus seperti ini maka terkadang kita harus menggunakan teknik inferensi yang lain.

(36)

Fungsi dari Inference Engine

1. Fire the rules

2. Memberikan pertanyaan pada user

3. Menambahkan jawaban pada Working Memory (Blackboard)

4. Mengambil fakta baru dari suatu rule (dari hasil inferensi)

5. Menambahkan fakta baru tersebut pada working memory

6. Mencocokan fakta pada working memory dengan rules

7. Jika ada yang cocok (matches), maka fire rules tersebut

8. Jika ada dua rule yang cocok, cek dan pilih rule mana yang menghasilkan goal yang diinginkan

9. Fire the lowest-numbered unfired rule

(37)

INFERENCE TREE (POHON INFERENSI)

Penggambaran secara skematik dari proses inferensi

Sama dengan decision tree

Inferencing: tree traversal

Advantage: Panduan untuk Explanations Why

dan How

(38)

Referensi

Dokumen terkait

This project proposes to apply ontology technique and case-based reasoning to develop an itinerary planning system by supporting users in organizing long, medium

Therefore, the aim of this project is to build a Real Estate Recommender System and implement recommendation approaches such as a Case-Based Reasoning approach for the search engine

The reasoning mechanism of the NaLURI question answering system couples the novel idea of complexity reduction during answer discovery in a network-oriented knowledge base with

The knowledge engineer establishes what reasoning methods the expert uses to handle facts and rules and decides how to represent them in the expert system.. The knowledge

‹ and operator ‹ atomic sentence ‹ backward chaining ‹ existential quantifier ‹ expert system shell ‹ forward chaining ‹ higher order logic ‹ Horn clause ‹ inference ‹

No Literature Methods used Benefits 1 Common Sense-Based Reasoning Using External Knowledge for Question Answering [11] Paths with two or less hops Unwanted edges removed 2

Description Script ID UMSP010531 Script Name Generate a PPMP report for Non-Common Use Items Information System Supplies, Procurement, and Campus Management Information System

Perbedaan Common Law System dengan Civil Law System Perbedaan Civil Law System Eropa Continental Common Law System Anglo- Saxon Sumbernya Produk legislative Produk