Mengintegrasikan Mindfulnes Parenting Melalui Pendekatan Holistik Untuk Meningkatkan Pola Asuh Orangtua Sebagai Strategi Memberantas Stunting
Oleh :
1.Lia Febiola ( Politeknik Kemenkes Palembang) 2. Nayla Fibri Anjani (UIN Raden Fatah)
Pendahuluan
Stunting adalah kegagalan pertumbuhan pada janin atau anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi yang terjadi pada saat kelahiran prematur. Namun, stunting dapat juga terjadi jika anak berusia 2 tahun lebih pendek dibandingkan teman seusianya dan memiliki indeks TB/U di bawah -2 SD menurut standar WHO (2020). Menurut WHO dan World Bank Group (2021), berdasarkan laporan UNICEF, sekitar 149,2 juta anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia menderita stunting; 2020. Menurut Kementerian Kesehatan RI berdasarkan data profil, angka kejadian stunting di Indonesia diperkirakan mencapai 21,6% pada tahun 2022.
Saat ini angka stunting di Sumsel pada tahun 2022 hampir sama dengan angka stunting di Indonesia secara keseluruhan, yaitu sebesar 18,6%. Kota Palembang menempati urutan kedua terbawah dari 17 kotamadya, dengan pangsa sebesar 16,1%
(Profil Kesehatan Sumatera Selatan, 2021). Meskipun negara ini mempunyai tujuan untuk mengurangi prevalensi stunting menjadi 14% pada tahun 2024, permasalahannya masih tetap ada. Meskipun pemerintah telah melaksanakan berbagai program penurunan kasus stunting dengan berbagai cara, namun angka stunting di Indonesia masih stagnan selama lebih dari lima tahun dan belum ada perbaikan yang berarti.
Kegagalan tumbuh kembang (HPK) terjadi pada anak usia dibawah 5 tahun pada 1.000 hari pertama kehidupannya dan mengalami kegagalan pertumbuhan akibat gizi buruk kronis (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bapenas, 2018). Hal ini
menyebabkan berbagai kelainan pada tumbuh kembang anak sehingga lebih mudah terserang penyakit atau meningkatkan risiko terkena penyakit. Tidak jarang anak stunting mempunyai permasalahan pada perkembangan otak dan fisiknya.
Banyak faktor yang dapat menimbulkan kejadian stunting pada anak kecil. Penyebab langsungnya adalah kurangnya asupan nutrisi dan adanya penyakit menular (Unicef, 1990; Hoffman, 2000; Urata, 2003). Faktor lainnya adalah kurangnya pengetahuan ibu, pola pengasuhan yang salah, sanitasi yang buruk, dan 4.444 layanan kebersihan dan kesehatan (UNICEF, 1990).Selain itu, masyarakat belum menyadari bahwa anak kecil merupakan sebuah masalah Pasalnya, masyarakat memandang anak kecil sebagai anak yang beraktivitas normal, bukan sebagai anak kurus yang memerlukan penanganan segera. Situasi serupa juga terjadi pada gizi ibu selama kehamilan.Masyarakat belum menyadari pentingnya nutrisi selama kehamilan dan berkontribusi terhadap status gizi calon bbayi (UNICEF Indonesia, 2013). Oleh karena itu, mengatasi permasalahan gizi secara holistik bukanlah tugas yang mudah.
Mindful parenting (MINDTING) adalah pendekatan pengasuhan yang memberikan perhatian dan kesadaran terhadap proses pengasuhan (Kiong, 2015). Semakin sadar dan fokus orangtua terhadap anaknya, maka semakin besar kemungkinan mereka terlibat dalam pengasuhan anak (Fajriati dan Kumalasari, 2021). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pola asuh mindfulness orangtua dalam mengasuh anak dalam upaya menuju generasi emas 2045.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berdasarkan penelitian kepustakaan. Penulis memperoleh data yang diperlukan melalui literatur dari buku, majalah, artikel, dan media lain yang berkaitan dengan topik penelitian. Penelitian kepustakaan adalah suatu metode pengumpulan data dari berbagai sumber kepustakaan yang digunakan untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang sedang diteliti. Penelitian perpustakaan dapat didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengumpulan data perpustakaan dan cara bahan penelitian dibaca, dicatat, dan diproses (Zed, 2003).Tinjauan pustaka juga memungkinkan untuk menggali
berbagai referensi dan temuan penelitian serupa sebelumnya untuk memperoleh landasan teori atas masalah yang sedang diteliti.
Pembahasan
Mindfulness Parenting Cegah Stunting (MPCS) merupakan pendekatan pengasuhan yang menggabungkan kesadaran saat ini, penerimaan, dan empati untuk mencegah terhambatnya pertumbuhan anak. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020) Konsep ini berfokus pada pengembangan kepercayaan diri, pengelolaan emosi, dan komunikasi yang efektif. Mempraktikkan pola asuh penuh perhatian membantu orang tua menerima anak-anaknya apa adanya, mengembangkan kesadaran akan pikiran, perasaan, dan perilaku anak-anaknya, serta mengelola emosi dan stres secara efektif. Hal ini membantu menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis, mendukung, dan penuh kasih sayang (Imam B. Prasodjo, 2018). Pendekatan ini membantu orang tua memahami dan menerima perilaku anak mereka tanpa menghakimi dan mengelola emosi anak mereka dengan lebih baik.
Model Mindful Parenting terdiri dari lima aspek:
a. Mendengarkan dengan Penuh Kasih: Memberikan perhatian yang baik ketika berinteraksi dengan orang lain.
b. Tanpa menghakimi: Pahami perilaku anak Anda tanpa membuat penilaian negatif.
c. Regulasi Emosional: Mengembangkan kesabaran untuk menghadapi tantangan dalam mengasuh anak.
d. Pengendalian diri: menunjukkan kebijaksanaan dalam menghadapi situasi.
e. Kasih sayang: Membangun ikatan emosional yang kuat dengan anak (Kiong, 2015;
Duncan et al., 2009).
Melalui pendidikan mindfulness, orang tua tidak hanya mempelajari pentingnya gizi, tetapi juga bagaimana menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak yang sehat. Intervensi berbasis mindfulness dapat meningkatkan kesadaran akan dampak pola asuh orang tua terhadap risiko stunting.
Oleh karena itu, memasukkan mindfulness ke dalam pola asuh adalah strategi yang efektif untuk mencegah keterlambatan pertumbuhan dan mendukung perkembangan anak secara keseluruhan.
Ada beberapa komponen utama yang membuat mindfullness parenting penting dalam pencegahan stunting :
1. Pemantauan Nutrisi Lebih Baik : Dengan perhatian penuh, orang tua lebih mampu memantau asupan gizi anak, memastikan bahwa mereka menerima nutrisi yang cukup dan seimbang.
2. Responsif terhadap Kebutuhan Anak : Mindfulness memungkinkan orang tua untuk lebih cepat merespons kebutuhan anak, termasuk kebutuhan medis atau tanda- tanda awal gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan stunting.
3. Peningkatan Kesehatan Mental Orang Tua : Praktik mindfulness juga membantu orang tua mengelola stres dan menjaga keseimbangan emosional, yang secara langsung mempengaruhi kemampuan mereka untuk merawat anak dengan baik.
Implementasi mindfullness parenting yang akan dilaksanakan agar bisa menjadi upaya dalam pencegahan stunting:
1. Sediakan Makanan Sehat dan Seimbang, fokus pada pemberian makanan yang kaya akan nutrisi, seperti buah-buahan, sayuran, protein, dan biji-bijian.
2. Ciptakan Rutinitas Makan yang Teratur dengan memberi anak makan pada waktu yang sama setiap hari untuk membangun kebiasaan makan yang sehat.
3. Libatkan anak dalam proses Memasak ajak anak untuk berpartisipasi dalam menyiapkan makanan, sehingga mereka lebih sadar akan pentingnya nutrisi.
4. Latih Kesabaran dan Penerimaan dengan cara jangan memaksa anak untuk makan, tetapi dorong dengan lembut dan penuh kesabaran.
5. Berikan Stimulasi yang Cukup dengan melakukan aktivitas yang merangsang perkembangan otak, seperti membaca, bermain, dan berbicara dengan anak.
6. Memperhatikan Tanda-Tanda Kesehatan, amati dan catat perubahan fisik dan perilaku anak yang mungkin menunjukkan masalah kesehatan.
Mindfullnes parenting dan pendekatan holistic berperan besar dalam pencegahan stunting. Pendekatan holistik terhadap pencegahan dan pengobatan stunting menekankan pada penggabungan intervensi gizi yang spesifik dan sensiti. Penekanannya adalah pada upaya preventif, karena stunting merupakan masalah jangka panjang yang memerlukan strategi komprehensif Penyelesaian masalah stunting sebaiknya dirancang dengan mengadopsi pendekatan holistic. Model ini memusatkan kolaborasi dengan melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, mitra terkait, masyarakat dan media. Model kolaborasi ini dapat diadopsi dalam upaya percepatan penurunan stunting (Dewi et al., 2023) Maka dari itu, Pelatihan dan pendampingan yang intensif perlu diselenggarakan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Misalnya saja dengan melakukan kegiatan Parenting Class khususnya didesa-desa sebagai bagian dari kursus parenting yang dapat memperluas pengetahuan orang tua mengenai pola asuh aktif dan pola asuh, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal serta terhindar dari keterlambatan tumbuh kembang.
Dalam Hal ini, tim parenting class dapat memberikan pemahaman kepada para orang tua melalui kegiatan berupa edukasi meliputi, berbagai wawasan mengenai stunting, melakukan penyuluhan gizi seimbang, serta melakukan persuasi untuk dapat hadir terus dalam kegiatan posyandu ibu dan anak. Langkah pertama melalui edukasi stunting, mulai dari pengenalan ciri-ciri stunting dan bentuk pencegahannya, seperti yang tersaji dalam gambar 1.
Gambar 1. Edukasi Stunting
Langkah selanjutnya, tim dapat memberikan pemahaman mengenai pencegahan dengan program pemerintah yaitu pemenuhan gizi seimbang pada balita. Seimbang yang dianjurkan oleh pemerintah dalam program “Isi Piringku”. Pemenuhan Pola makan yang seimbang bagi anak usia dini dan ibu hamil merupakan langkah awal dalam mencegah terjadinya stunting, dan anak usia dini merupakan tahap pertama yang harus dijaga agar tumbuh kembangnya optimal (Zurhayati & Hidayah, 2022). Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Ahmad et al. (2023) menyatakan bahwa pemberian makanan pendamping ASI yang bergizi seimbang merupakan salah satu faktor pendukung tumbuh kembang anak usia dini. Pola makan yang seimbang dan sehat juga berperan dalam menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh agar terhindar dari penyakit kronis dan tidak menular (Atasasih & Mulyani, 2022).
Gambar 2. Pedoman Isi Piringku
Kegiatan ini dilakukan secara door to door dan menyasar ibu-ibu yang beberapa kali keluar dari Puskesmas Terpadu. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengedukasi para ibu tentang pentingnya kunjungan rutin ke puskesmas untuk memantau tumbuh kembang anaknya. Hal ini sesuai dengan penelitian Hasanah dkk. (2023) Salah satu pilihan pencegahan dini untuk mengatasi kegagalan pertumbuhan adalah dengan memantau kehamilan secara ketat atau memantau tumbuh kembang bayi di unit medis integratif.
Kegiatan ini merupakan salah satu implementasi dari Intervensi Sensitif yang saat ini menjadi fokus utama intervensi stunting di Indonesia.
Gambar 3. Pemberian Pemahaman Pentinya Posyandu
Kesimpulan
Mindfulness Parenting Cegah Stunting (MPCS) merupakan pendekatan pengasuhan holistik yang mengintegrasikan kesadaran saat ini, penerimaan dan empati untuk mencegah keterlambatan pertumbuhan anak. Konsep ini berfokus pada pengembangan kepercayaan diri, pengelolaan emosi dan komunikasi efektif melalui lima aspek utama:
mendengarkan dengan kasih, tanpa menghakimi, regulasi emosional, pengendalian diri dan kasih sayang. Dengan demikian, MPCS membantu orang tua menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak sehat dan optimal (Kementerian Kesehatan RI, 2020).
Pendidikan mindfulness memainkan peran penting dalam pencegahan stunting dengan membantu orang tua menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak sehat. Intervensi ini meningkatkan kesadaran akan dampak pola asuh terhadap risiko stunting dan memfasilitasi pengembangan keterampilan parenting yang efektif.
Mindfulness parenting, yang mencakup pemantauan nutrisi, responsif terhadap kebutuhan anak, dan peningkatan kesehatan mental orang tua, merupakan strategi komprehensif untuk mencegah keterlambatan pertumbuhan dan mendukung perkembangan anak secara keseluruhan.
Pelatihan dan pendampingan intensif melalui Parenting Class dan kegiatan posyandu ibu-anak merupakan strategi efektif untuk mencegah stunting. Kegiatan ini mencakup edukasi tentang pengenalan ciri-ciri stunting, pencegahan, serta pemenuhan gizi seimbang melalui program "Isi Piringku". Pemantauan rutin di puskesmas dan pola makan seimbang juga penting untuk mendukung tumbuh kembang anak optimal. Dengan demikian, orang tua dapat memahami pola asuh yang tepat dan mencegah keterlambatan pertumbuhan anak (Zurhayati & Hidayah, 2022; Ahmad et al., 2023; Atasasih & Mulyani, 2022; Hasanah dkk., 2023).