• Tidak ada hasil yang ditemukan

Estetika Jawa dalam Perspektif Timur

N/A
N/A
dyah tri palupi

Academic year: 2024

Membagikan "Estetika Jawa dalam Perspektif Timur"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

WARISAN BUDAYA INDONESIA DALAM PERSPEKTIF ESTETIKA JAWA

1. Pengantar

Dalam kajian geo-budaya, Indonesia dikategorikan sebagai negara Timur bersama dengan negara-negara di wilayah Asia Iainnya. Sedangkan wilayah Eropa termasuk Amerika dikategorikan sebagai negara Barat, sehingga berpengaruh terhadap tatanan kebudayaannya. Kebudayaan Barat dianalogikan dengan unsur rasionalitas yang diidentikan dengan kapitalisme, teknologi, dan imperialisme. Sedangkan Kebudayaan Timur dianalogikan dengan suasana hati dan dikonotasikan sebagai negara-negara yang padat penduduk, serba miskin, terbelakang, dan amat tradisional.

Karakteristik nilai estetik timur lebih menekankan pada aspek intuisi, dimana pusat kepribadian seseorang bukanlah pada daya intelektualnya, melainkan ada dalam hati, yang mempersatukan akal budi, intuisi, kecerdasan, dan perasaan. Masyarakat Timur menghayati hidup dalam apa adanya, bukan semata akali. "Hati" atau "rasa" dinilai sebagai pengganti logika kaku yang serba terbatas menghadapi kebenaran hidup.

Manusia Timur memiliki suatu bentuk pemikiran berdasarkan intuisi, yang akrab, hangat, personal, dan biasanya memiliki kedekatan dengan realitas yang hakiki.

Kedua renungan filsafat di atas, memberikan informasi bahwa

rangkaian bentuk estetik Nusantara (Jawa), diimplementasikan lewat bahasa simbol yang lahir dari pencarian lewat sugesti alam. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat klasik saat itu di dalam usahanya untuk mendekatkan kita terhadap Tuhannya dengan cara mendekatkan dirinya dengan alam semestanya. Sehingga terjadi hubungan antara dirinya (mikrokosmos) dengan alam semesta dan lingkungannya

(makrokosmos) dan hubungan antara dirinya dengan Tuhannya

Estetika Jawa merupakan bagian dari kebudayaan Timur, namun penulis memisahkan dan membahas hanya pada estetika Jawa, bahkan lebih spesifik Jawa Surakarta dan Jawa Yogyakarta. Hal ini sengaja dipisahkan agar memiliki keseimbangan dengan kedayaan kebudayaan Timur yang berkembang di wilayah Jepang, Semenanjung Korea hingga Thailand. Meskipun kedayaan budaya Jawa pengaruhnya tidak seluas Budhisme, Zen, ataupun Taoisme, tetapi kebudayaan ini memiliki ciri khas tersendiri berupa paduan aneka budaya Timur dan juga kebudayaan Islam dan Jawa teradat. Bahkan setelah berlangsungnya proses kolonialisasi, kebudayaan Jawa semakin diperkaya oleh dinamika kebudayaan Barat.

(2)

Estetika Jawa Yogyakarta dapat disimak dalam pelbagai bentuk karya seni, baik seni bangunan, seni widya maupun pewayangan, seni sastra, dan pelbagai barang yang mengandung makna tertentu bagi orang Jawa. Kebudayaan Jawa, terutama yang berkaitan dengan ekspresi estetiknya mengandung sifat dan ciri-ciri utama diantaranya:

Bersifat Kontemplatif-Transedental

Masyarakat Jawa dalam mengungkapkan rasa keindahan yang terdalam, selalu mengaitkannya dengan perenungan (kontemplasi) yang mendalam, baik terhadap yang Mahakuasa, pengabdian kepada raja, kecintaan terhadap negara, penghayatan pada alam maupun merupakan pengejawantahan dari dunia mistis.

Apapun yang diungkapkan selalu mengandung makna untuk mengagungkan sesuatu atau mengungkap sesuatu. Tentu saja dalam tindakannya, banyak dipengaruhi oleh pelbagai hal, misalnya pengaruh dogma agama, adat, kebiasaan, daerah, teknik, bahan, dan pakem.

Bersifat Simbolistik

Masyarakat Jawa, dalam setiap tindakan berekspresi selalu mengandung makna simbolistik. Hal itu dapat diamati dalam seni pedalangan wayang kulit

purwa. Seni pedalangan hakikatnya merupakan rangkuman dari tindakan- tindakan simbolis yang terpadu. Hal itu tercermin mulai dari tujuan menyelenggarakan atau menanggap wayang yang bertujuan untuk kaul ataupun sebagai peringatan hari-hari bahagia. Lakon yang dipilih biasanya dikaitkan dengan tujuan menyelenggarakan hajat dan menanggap wayang. Para tokoh dalam pewayangan yang digelar pun merupakan simbol-simbol tertentu yang mencerminkan kehidupan dan falsafah masyarakat Jawa. Tindakan simbolis lainnya adalah penabuh gamelan dan sinden harus hadir sebagai pengiring untuk menghidupkan suasana dan mencerminkan suatu tataran tingkat kehidupan manusia. Begitu dhalang duduk di tempatnya dan ketika gendhing atau lagu patalon dibunyikan, berarti ruh atau jiwa manusia yang akan menghidupi wayang telah memasuki zat kehidupan.

Bersifat Filosofis

Masyarakat Jawa dalam setiap tindakannya selalu didasarkan atas sikap tertentu yang dijabarkan dalam pelbagai ungkapan hidup. Hal itu ditunjukkan oleh ungkapan aja dumeh (jangan sok), Ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya

(3)

begitu, tetapi jangan begitu), mamayu hayuning bawana (memelihara perdamaian dunia), dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan filosofis tersebut, hakikatnya melandasi sebuah sikap "Manusia Jawa" dalam perbuatannya.

Demikian pula dalam konsep estetik Jawa selalu bermakna filosofis. Hal itu terungkap pada falsafah yang menyertai pelbagai benda yang dibuat oleh orang Jawa. "Pacul" diartikan sebagai ngipatake sing muncul atau menyingkirkan penghalang. Dalam kehidupan manusia, pacul secara harfiah sebenarnya berfungsi untuk menyingkirkan tanah yang tidak rata. Kemudian tangkai pacul yang terbuat dari kayu disebut doran, yang artinya ndedonga marang Pangeran atau berdoalah kepada Tuhan. Tanpa doran, pacul tidak ada gunanya, karena itu manusia harus senantiasa berterima kasih kepada Sang Maha Pencipta.

Ketiga sifat di atas berlaku secara lentur pada ungkapan estetik orang Jawa. Hal ini berbeda dengan struktur estetika Barat yang lebih konservatif, terbuka terhadap kritik, dan dinamis. Struktur estetik Jawa lebih cenderung "demokratis", agak tertutup, dan bersifat statis. Demokratis bisa bermakna seni jika semuanya total; pemain, penonton, pengamat, pemberi dana, dan lingkungan menjadi satu pagelaran yang hidup dan saling melengkapi, terutama terlihat dalam pementasan wayang kulit. Bahkan kadang-kadang ungkapan estetik menjadi tidak dikenal lagi siapa penciptanya. Pertunjukan itu menjadi milik semua, dinikmati dan dihayati oleh semua. Meskipun demikian, aksentuasi selalu ada sebagai selingan atau penerobos kemonotonan. Dalam wayang kita mengenal tokoh panakawan yang selalu menghadirkan guyonan memikat, serta memecah suasana monoton tersebut, di samping bentuknya yang berbeda dari yang lain.

Ungkapan estetik Jawa agak tertutup, maksudnya dalam pelbagai jenis kesenian, budaya kritik belum tumbuh dengan baik, terutama kesenian yang bersifat tradisi. Oleh karena itu, terdapat kesulitan menelusuri pola perkembangan estetika Jawa tradisional yang diwarnai oleh kupasan apresiasi yang sistematis dan mendalam dari intelektual orang Jawa sendiri. Hal ini disebabkan ada keengganan dari masyarakat Jawa untuk mengritik atau membahas karya-karya kesenian, terutama yang lahir di kalangan istana; di samping budaya kritik sendiri belum tumbuh dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Para pengamat menafsirkan bahwa kebudayaan Jawa bersifat statis. Pengembangan dan inovasi baru jarang dilakukan, karena dikhawatirkan merusak pakem atau aturan-aturan permainan yang telah lama diyakini sebagai suatu kebenaran. Tetapi, jika kita kaji lebih

(4)

jauh dalam pelbagai konteks kebudayaan Jawa, sifat ketertutupan tersebut tidak begitu telak terkunci, namun masih memiliki keterbukaan. Hal itu terbukti bahwa terdapat pengaruh dari kebudayaan Hindu, Budha, Islam, Barat, serta kebudayaan lainnya, dan justru membangun kebudayaan Jawa secara lebih berbobot.

Di samping tiga faktor di atas, struktur estetika Jawa juga dibentuk oleh pelbagai unsur yang melandasi perilaku dan hierarki sosial. Dalam kebudayaan Jawa dikenal pula yang disebut sebagai "kesenian rakyat" dan "kesenian keraton". Kesenian rakyat amat populer di kalangan masyarakat Jawa, seperti tayuban, jembung, ketoprak, jaran kepang, wayang wong, lengger, ronggeng, dan sebagainya, sedangkan beberapa kesenian keraton, diantaranya seperti tari

kawruh, tari topeng, dagelan mataram, jathilan, tari gambyong, membatik, macapat, dan sebagainya. Beberapa jenis kesenian itu akhirnya merakyat juga, terutama setelah era kemerdekaan. Walaupun begitu, jarak antara kesenian rakyat dan kesenian keraton selalu ada. Hal itu disebabkan kesenian rakyat jauh lebih dinamis dan tidak mementingkan bobot filosofis yang dalam, sedangkan kesenian keraton umumnya mencoba mempertahankan tradisi dan pakem estetikanya, sehingga kemudian dalam perkembangan selanjutnya kedua kutub kesenian ini memiliki arah yang berbeda dalam banyak hal.

Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, karya estetik yang bermakna adalah karya estetik yang dapat dipahami oleh masyarakat dan melibatkan masyarakat banyak. Meskipun terdapat perkembangan karya estetik di lingkungan keraton, tetapi makna yang diperoleh terbatas hanya pada lingkungan elite tertentu saja, meskipun makna estetik yang kemudian berkembang menjadi perlambang kemajuan budaya Jawa secara keseluruhan.

Nilai estetik Jawa modern merupakan fenomena lain yang justru memiliki keunikan tersendiri. Jika dicermati dalam bentuk rumah, akan tampak sosok baru berupa perpaduan antara Jawa tradisi, estetik Barat modern, dan wujud paduan aneka gaya budaya. Estetika Jawa merupakan model analogis yang juga berkembang di daerah lain di wilayah Indonesia, seperti di tataran Sunda, Minangkabau, Toraja, Bali, Kutai, Lombok, hingga Irian.

(5)

1. Perkembangan estetika jawa 1.1. Zaman prasejarah (ciri-ciri) 1.2. Zaman Budha

Kebudayaan Timur (kerap dianalogikan dengan "suasana hati").Di belahan Timur, terutama Asia, filsafat Budhisme telah terbangun menjadi kedayaan tersendiri yang menekankan bahwa manusia telah mengalami pencerahan di luar pendekatan rasional. Di dunia Timur, aspek "rasa", luar akal, misteri, teka-teki, kekacauan, ketaklogisan, fantasi, dan sebagainya, diterima sebagai suatu dunia yang berada "di atas" yang bersifat rasional. Pemikiran lain, di belahan Timur yang amat berpengaruh selama berabad-abad adalah ajaran Zen, di samping ajaran Budhisme.

Ajaran Tao mengatur hidup batin manusia sedemikian rupa sehingga mereka merasa senada dengan "musik" alam semesta. Inilah yang dimaksud menjadi senada dengan

"Tao". Pemahaman terhadap materi ini merupakan salah satu jembatan untuk lebih dapat memahami materi berikutnya yaitu pemikiran estetika di Indonesia.

Di belahan Timur, terutama Asia, filsafat Budhisme telah terbangun menjadi kedayaan tersendiri yang menekankan bahwa manusia telah mengalami pencerahan di luar pendekatan rasional. Manusia mengalami proses pengosongan, penghampaan, peniadaan, untuk mencapai "kesadaran ontologis yang setinggitingginya", "melihat ke dalam hakikat benda-benda", dan juga untuk

"menyadari diri yang benar". Hanya mereka yang telah melalui latihan moral mampu mengembangkan kebajikan moral yang lebih tinggi, dan peningkatan konsentrasi mental untuk mengembangkan pengetahuan yang lebih tinggi dan selanjutnya mampu mencapai kebebasan. Di dunia Timur, aspek "rasa", luar akal, misteri, teka- teki, kekacauan, ketaklogisan, fantasi, dan sebagainya, diterima sebagai suatu dunia yang berada "di atas" yang bersifat rasional. Masyarakat Timur adalah masyarakat yang hidup dalam kebudayaan agraris yang senantiasa terbiasa dengan bahasa diam, tenang, langit, musim, tanah, awan, dan bulan. Umumnya mereka mengalami betapa alam menunjukkan diri dalam "diam", tetapi mengesankan. Dalam kesederhanaan hidup, masyarakat Timur lebih melatih dengan perasaan daripada pikiran. Perasaan lebih sulit diungkapkan lewat kata-kata, sehingga dihindari tingkah

(6)

banyak berbicara, tetapi lebih banyak "diam", lebih menggunakan tanda, sikap, dan komunikasi. Budhisme Zen termasuk wujud "Timur" menyangsikan kemampuan kata-kata. Pemikiran lain, di belahan Timur yang amat berpengaruh selama berabad- abad adalah ajaran Zen, di samping ajaran Budhisme. Ajaran Zen hakikatnya adalah suatu pancaran langsung di luar kitab suci, tidak bergantung pada kata-kata dan tulisan, langsung menuju ke hati, ke dalam hakikat sesuatu berupa

1.3. Zaman Hindu candi Prambanan

2. Kedua renungan filsafat di atas, memberikan informasi bahwa

3. rangkaian bentuk estetik Nusantara (Jawa), diimplementasikan lewat 4. bahasa simbol yang lahir dari pencarian lewat sugesti alam. Jadi tidak 5. mengherankan apabila masyarakat klasik saat itu di dalam usahanya 6. untuk mendekatkan kita terhadap Tuhannya dengan cara mendekatkan 7. dirinya dengan alam semestanya. Sehingga terjadi hubungan antara 8. dirinya (mikrokosmos) dengan alam semesta dan lingkungannya

9. (makrokosmos) dan hubungan antara dirinya dengan Tuhannya Estetika lokal jelas berbeda dengan estetika Barat. Lokal atau setempat yang dimaksud adalah berlaku di satu tempat saja, tidak merata. Jadi yang dimaksud dengan estetika lokal adalah keindahan yang berlaku di satu tempat dalam konteks ini Jawa. Estetika Jawa yang dimaksud dalam penulisan ini adalah warisan estetika budaya Jawa dari zaman Hindu-Budha hingga kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Hasil penggalian estetika Jawa itulah yang digunakan untuk

mengidentifikasi aplikasi keindahan yang bersifat lokal pada desain interior dan arsitektur tradisional Jawa. Penulis mencoba mengumpulkan

pendapat-pendapat yang berhubungan dengan estetika Jawa. Dimulai dari pedoman estetika zaman Hindu-Budha, dalam hal ini dijelaskan oleh Jakob Sumardjo. Keindahan zaman Hindu-Budha di Jawa

dipengaruhi oleh pandangan estetika India klasik, yang dikenal sebagai

10.Sad-angga, enam pokok atau enam pegangan keindahan, yaitu

10.1. Zaman Islam masjid gedhe , yogaya yg bentuk geometric, truntum, parang , kawung, suro

10.2. Zaman Prakemerdekaan sinto obong, bedoyo ketawang 10.3. Zaman Kemerdekaan bagong kusudiarjo, yapong 11. Jenis estetika jawa

11.1. Benda : arsitektur, rupa/kria (patung), relief candi, naskah kuno

Sejarah estetika di Indonesia Yuswadi Saliya (1999) menyatakan adanya empat ciri arsitektur tradisional di Indonesia, yaitu

 pertamasemuanya sarat dengan makna simbolik,

 kedua, rumah menjadi simpul generasi masa lalu dengan generasi masa datang,

 ketiga pemenuhan kebutuhan spiritual lebih diutamakan dari pada kebutuhan badani

(7)

 keempat, dikenalnya konsep teritorialitas dan kemudian mengejawantah menjadi batas. Ciri pertama dan kedua menunjukkan adanya kosmologi dan orientasi non badaniah, dan karena spiritual-lah yang diutamakan, maka kebutuhan badaniah cenderung akan dikorbankan demi kepentingan spiritual.

Dalam hal ini manusia merupakan pihak yang harus melakukan penyesuaian diri terhadap bentukan arsitektur (Soemardjan, 1983). Orientasi terhadap kosmologi ini masih banyak dijumpai di Indonesia hingga masa kini, terutama pada arsitektur tradisional. Hal ini bukan berarti bahwa semua arsitektur di Indonesia berorientasi pada kosmologi. Indonesia tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Pemikiran akan universalitas dan objektivitas Arsitektur Modern juga melanda arsitektur Indonesia.

Seperti juga di Barat, fenomena arsitektur yang polos, tanpa ornamen dan tanpa konteks juga terjadi di Indonesia. Seperti juga arus modernisme, arus Postmodernisme juga melanda Indonesia. Sebagai akibatnya, terjadi kesadaran akan konteks dan perlunya identitas. Hadirnya Arsitektur Modern dan Postmodern secara bersamaan dengan (masih) hadirnya arsitektur tradisional menunjukkan adanya dualisme dalam arsitektur Indonesia. Arsitektur Modern dan Postmodern menunjukkan arsitektur yang berorientas pada kebutuhan badaniah manusia, sementara arsitektur tradisional Indonesia berorientasi kepada kosmologi dan spiritual.

11.2. Tak benda :

11.2.1. Seni Pertunjukan : Srimpi Sangupati, Gambyong Retno Kusumo, Beksan Lawung Alit, Rengganis Banyuwangi, wayang

Wedhataya. Pemahaman terhadap konsep estetika pada seni pedalangan dan seni tari dalam bab ini menjadikan salah satu pijakan untuk dapat memahami materi berikutnya yaitu unsur pembentuk estetika karawitanUntuk membicarakan seni pertunjukan khususnya seni pedalangan dipadukan beberapa tulisan dari Purba Asmoro, Soewita Santoso dan Woro Aryandini. Pembahasan seni pedalangan ini menyangkut masalah pergelaran, cerita, dan penonton. Sedangkan pembicaraan tentang seni pertunjuan Tari, disampaikan tulisan Wahyu Santoso Prabowo. Tulisan tersebut membahas masalah; unsur estetika tari yang termuat dalam Serat Kridhwayangga, dan Serat

(8)

11.2.2. Tradisi Lisan dan Ekspresi: Geguritan Surakarta, Motif Batik Yogyakarta

11.2.3. Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional: Thiwul Gunung Kidul, Kerajinan Perak Kotagede, keris

11.2.4. Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta : Pranata Mangsa Surakarta, Wiwitan Panen Pari

11.2.5. Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan : Bedhaya Ketawang, Nyadran Agung Makam Sewu

12. Fungsi estetika jawa

12.1. sebagai upacara 12.2. sebagai tontonan 12.3. sebagai tuntunan 13. Kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait

(3) Estetika yang terkandung di dalam Batik Wonogiren Tradisi Tirtomoyo diungkap dengan menggunakan dasar teori estetika dari Darsono Sony Kartika, terdapat 4 macam

kriteria), dan menjadi bahasa sebagai sistem logika tradisional masyarakat Jawa. Fungsinya, untuk menata kehidupan yang lebih konkrit, sederhana, dan

Dengan demikian estetika berarti suatu teori yang meliputi: (1) Penyelidikan mengenai yang indah, (2) Penyelidikan mengenai prinsip-prisip yang mendasari

a. Diibandingkan dengan sistem logika lain, fuzzy logic bisa menghasilkan keputusan yang lebih adil dan lebih manusiawi. Fuzzy logic memodelkan perasaan atau intuisi

HIBAH BERSAING – STRUKRUR DAN ESTETIKA HUMOR SEBAGAI MODAL DASAR PELESTARIAN LUDRUK DI JATIM 6 UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta.. Tujuan khusus penelitian yang akan dilakukan

Dalam hal ini pula, untuk memperjelas dan memperkuat tulisan ini, akan dijelaskan pula tentang estetika sebagai logika yang juga merupakan salah satu konsep pemikiran Baumgarten,

Indikator-indikator estetika yang lain pada batik tulis adalah ragam hias tumbuh- tumbuhan (fauna laut), komposisi warna lebih kaya, dan potongan ragam hias yang unik

HASIL DAN PEMBAHASAN Kajian Estetika Timur Rumah Adat Sopo Godang Dari hasil penelitian yang dilaksakan pada bangunan Rumah Adat Sopo Godang Mandailing dalam kajian estetika timur,