• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETIKA BERDAKWAH DALAM QS. AL-BAQARAH [2] AYAT 44

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "ETIKA BERDAKWAH DALAM QS. AL-BAQARAH [2] AYAT 44"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

27

ETIKA BERDAKWAH DALAM QS. AL-BAQARAH [2] AYAT 44

Rosa Lestari

STID Mustafa Ibrahim Al-Ishlahuddiny

Abstract

This study aims to examine the ethics of preaching as referred to in the Qur'an Surah Al-Baqarah [2]: verse 44 and its relation to today's da'wah. So this research is essential to be discussed. The results and discussion show that the Qur'an Surah Al-Baqarah [2]: verse 44 has indicated the ethics of a preacher to become a role model through the balagiy element in the editorial of the verse using IstifhamTaubikh.

The form of a question containing criticism is addressed to religious leaders who command goodness while they themselves do not do it.

Through this research, a common thread can be drawn that the call for da'wah without a role model from the da'i has received direct criticism from Allah SWT. However, it's sad that today's da'wah actors only make da'wah as industrial content and material so that the essence and ethics of da'wah are lost. It is recommended for commentators, hadith experts and communication experts to expand the sub-material of this research, so that it can significantly influence da'wah actors to be careful and become role models for their da'wah targets.

The method used in this study is a type of qualitative research using library research. The results of this discussion show that the most important ethic of preaching is to be a role model for what is preached.

Keywords: Al-Qur`an, Tafsir, da'wah, ethics, role model, modern

Penelitian ini betujuan untuk menelaah etika berdakwah yang dimaksudkan pada Qur’an Surat Al-Baqarah [2]: ayat 44 dan kaitannya dengan dakwah masa kini. Sehingga penelitian ini esensial untuk dibahas. Hasil dan pembahasan ini menunjukkan bahwasannya Qur’an Surat Al-Baqarah [2]: ayat 44 telah mengindikasikan etika seorang pendakwah agar menajdi role model melalui unsur balagiy dalam redaksi ayat yang menggunakan Istifham taubikh. Bentuk pertanyaan yang mengandung kecaman ditujukan kepada para tokoh agama yang memerintahkan kebaikan sedang mereka sendiri tidak melakukannya. Melalui penelitian ini dapat diambil benang merah bahwasannya seruan dakwah tanpa role model dari da’i mendapat kecaman langsung dari Allah Swt.

Namun, mirisnya masa kini pelaku dakwah, hanya menajdikan dakwah sebagai konten dan bahan industri semata sehingga hilanglah esensi dan etika dakwah. Direkomendasikan kepada ahli tafsir, ahli hadis dan ahli komunikasi untuk memperluas sub materi dari penelitian ini, sehingga secara signifikan dapat memberikan

(2)

28 pengaruh bagi pelaku dakwah agar berhati-hati dan menjadi role

model bagai sasaran dakwahnya.

Kata kunci: Al-Qur`an, Tafsir, dakwah, etika, role model, modern

PENDAHULUAN

Berdakwah pada dasarnya diwajibkan bagi setiap Muslim. Berbagai macam retorika dan metode dakwah dapat kita jumpai di mana saja berkat kemajuan teknologi. Bahaya para tokoh agama saat ini ketika agama sudah menjadi perusahaan dan perindustrian, bukan lagi akidah, pembebas, dan pembela manusia dari kesesatan ialah mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hati mereka. Apalagi kemajuan teknologi saat ini membuat dakwah hanya sebagai konten, tidak diamalkan terlebih dahulu oleh sang creator atau pendakwah, sehingga hilang esensi dakwah yakni menjadi role model atau uswatun hasanah. Sehingga pada saat menonton ceramah- ceramah saat ini seperti tidak memiliki dzauq, perasaan termotivasi untuk melakukan kebaikan.

Para tokoh agama dalam dakwahnya juga menganjurkan kebaikan- kebaikan yang membuat para mad’u terkesima dan termotivasi untuk melakukan kebaikan. Penelitian terdahulu telah meninggung beberapa etika berdakwah (Muliawati Berawi, 2019, Eko Zulfikar dan Ahmad Zainal Abidin, 2019). Perbedaan penelitian ini terletak pada penafsiran Qur’an Surat Al- Baqarah [2]: ayat 44 dan menyoroti unsur balagiy yang terdapat dalam redaksi ayat. Permasalah utama pada penilitian ini adalah bentuk kecaman Allah terhadap para tokoh agama yang tidak menjadi role model bagi sasaran dakwah (mad’u). Manfaat penelitian ini terbagi pada manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis di mana penulis mengharapkan penambahan wawasan untuk diri penulis sendiri dan masyarakat mengenai etika dakwah dalam Qur`an Surat Al-Baqarah [2]: ayat 44. Sedangkan manfaat praktis, di mana penelitian ini diharapkan menjadi acuan solusi bagi para tokoh agama agar tidak sekedar berdakwah hanya untuk keperluan konten dan bahan industri.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode kepustakaan (library research).

Penelitian ini menggunakan jenis data yang meliputi data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah Al-Qur`an. Dan data sekunder dikutip dari kitab-kitab tafsir, buku-buku keislaman, jurnal dan lain-lain. Sekaligus pada penelitian ini menggunkan metode penafsiran tematik (maudhu’i) yakni mengambil satu ayat berdasarkan tema dakwah.

Hasil dari pembahasan ini menunjukkan bahwa etika berdakwah yang paling utama adalah menjadi teladan bagi apa yang didakwahkan. Pada

(3)

29 umunnya jenis penafsiran seperti ini relatif memberikan solusi yang sempurna terhadap pokok permasalahan yang dibahas. (M. Quraish Shihab, 1993).

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Etika Berdakwah

Istilah etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Kat Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti: tempat tinggal yang biasa; padang rumput; kandang; kebiasan; adat; akhlak; watak; perasaaan; sikap; cara berpikir; dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah “etika”. Secara terminologis menurut Ahmad Amin, etika berarti ilmu yang emnjelaskan baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka, dan menunjukkan jalan yang seharusnya diperbuat.

Islam merupakan agama yang selalu mendorong umatnya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Kemajuan dan kemunduran Islam sangat berkaitan dengan kegiatan dakwah yang dilakukan pemeluknya.

Dakwah hendaklah disampaikan dengan cara yang baik, bijak penuh hikmah dan bermutan pelajaran yang berharga. Dakwah akan sampai kepada sasaran dakwah (mad’u) dan dengan ringan diamalkan manakalah da’i menyampaikan dengan teknik komunikasi yang memikat dan memotivasi mad’u untuk mengamalkan isi dakwah. Pemahaman dan pengamalan muatan dakwah sangat penting bagi da’i untuk memotivasi mad’u.Pada dasarnya hakikat dakwah adalah seruan atau ajakan kepada masyarakat dengan menyentuh hatinya, agar mereka menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam. Namun, mengingat untuk menyentuh hati sasaran dakwah sangat sulit, maka diperlukan beberepa etika bagi para da’i dalam menyebarluaskan dakwah. Adanya etika dalam berdakwah ini sangat penting dan menentukan, karena keberhasilan dakwah akan memberikan pengaruh besar kepada setiap pribadi untuk senantiasa konsisten dalam menjalankan kehidupan beragama.

Salah satu ayat Al-Qur`an yang akan kita soroti bersama yang berbicara tentang etika berdakwah adalah QS. Al-Baqarah[2]: 44.

Penafsiran Terkait dengan Etika Berdakwah QS. Al-Baqarah [2]: 44 “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah [2]: 44)

Unsur Konteks

Pada ayat di atas terdapat dua redaksi istifham. Yang pertama adalahَْمُك سُغْن أَ ن ْو سْن ت وَ ِ رِبلاِبَ ساَّنلاَ ن ْو ُرُمْأ تَ أMengapa kamu suruh orang lain

(4)

30 (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri.

Redaksi istifhâm ini mengandung makna taqrir, taubîkhdan ta’jib. Berfungsi untuk mencela. Dalam susuan ini terkandung celaan dan teguran yang keras.

Istifhâm yang kedua adalah ََ ن ْوُلِقْع تَ لا ف أMaka tidaklah kamu berpikir?

mengandung makna taubîkh.Kalimattanya untuk mengingkari mereka dan sebagai tamparan bagi mereka, dan ini lebih keras dari yang pertama (dari istifham yang pertama). Kedua istifhâmtersebut menggunakan perangkat Tanya hamzah (أ).

Asbabun Nuzul

“Al-Wahidi dan ats-Tsa’labi” meriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya:

ayat ini (nomor 44) turun berkenaan dengan kaum Yahudi yang tinggal di Madinah. Seseorang di antara mereka biasanya berkata kepada orang Islam yang menjadi iparnya, kerabatnya atau saudara sesusuannya, “Tetaplah berpegang kepada agama yang kau peluk itu. Laksanakan perintah agamamu.

Orang ini-maksudnya Muhammad Saw-dan ajarannya adalah benar”. Mereka menyuruh orang lain berbuat demikian tetapi mereka sendiri tidak melakukannya.As-suddi berkata: Bani Israel dahulu menyuruh orang-orang untuk menaati Allah, bertakwa kepada-Nya, dan berbuat kebajikan, tetapi mereka sendiri tidak melakukan hal itu. Maka Allah ‘Azza wa Jalla mencela mereka.”

Dari sebab turunnya ayat ini, sebagaimana dipaparkan di atas, jelas bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan kaum ahli kitab, khusunya para pendeta dan biarawan, mereka dulu menyuruh orang-orang melakukan kebajikan dan berpegang teguh kepada agama Islam, sementara mereka melupakan diri mereka. Ini memancing rasa heran, sebab orang yang menyuruh melakukan sesuatu semestinya menjadi suri teladan, dia harus mendahului melakukan apa yang ia perintahkan kepada orang lain. Jika tidak, ibaratnya seperti lampu yang memberi penerangan bagi orang lain sementara dirinya sendiri terbakar.Teguran keras ini adalah kepada pemuka-pemuka dan pendeta-pendeta mereka. Inilah penyakit pemuka-pemuka atau yang disebut pendeta atau ahbar mereka pada waktu itu"

Dalam tafsir al-Mizan dijelaskan bahwa Allah memulai teguran terhadap kaum Yahudi. Allah mengingatkan mereka akan karunia-karunia yang dianugerahkan, tentang kehormatan yang diberikan dengan mengontraskann- ya dengan sikap tidak bersyukur dan sikap durhaka mereka dengan memperlihatkan betapa pada setiap momen mereka membayar karunia- karunia Allah dengan sikap tidak mengindahkan perjanjian mereka, memberontak terang-terangan terhadap perintah-perintah Allah dan bahkan kemusyrikan.

Dalam beberapa riwayat juga disebutkan buruknya etika seseorang yang mengajak kepada kebaikan namun dirinya sendiri meninggalkan.

(5)

31

َْبَ ُقا حْسِإ وَ ٍرْي مُنَ ِنْبَِاللهَِدْب عَ ُنْبَُدَّم حُم وَ ة بْي شَيِب أَ ُنْبَ ِرْك بَوُب أ وَ،ى يْح يَ ُنْبَى يْح يَا ن ثَّد ح

َ ُن

ٍَبْي رُكَوُب أ وَ ميِها رْبِإ -

ٍَبْي رُكَيِب ِلَُِظْفَّللا و َ -

َْخ أَ:ُقا حْسِإ وَى يْح يَ لا ق َ

َ: نو ُر خ ْلْاَ لا قوَ،ا ن ر ب

َا ن ثَّد ح -

َ لَ أَ:ُه لَ ليِقَ: لا قَ،ٍدْي زَ ِنْبَ ة ما سُأَ ْن عَ،ٍقيِق شَ ْن عَ، ُش مْع ْلِاَا ن ثَّد حَ، ة يِوا عُمَوُب أ َ

َ؟ْمُكُعِمْسُأَ َّلَِإَُهُمِ ل كُأَ لََيِ ن أَ ن ْو ر ت أَ: لا ق فَ؟ُه مِ ل كُت فَ نا مْثُعَى ل عَ ُلُخْد ت

َا ميِفَُهُتْمَّل كَْد ق لَِالله و

،ٍد ح ِلَُِلوُق أَ لَ وَ،ُه ح ت فَْن مَ ل َّو أَ نوُك أَْن أَُّب ِحُأَ لََا ًرْم أَ حِت تْف أَْن أَ نوُدَا مَ،ُه نْي ب وَيِنْي ب

َُنوُك ي َ

َُاللهَىَّل صَِاللهَ لوُس رَ ُتْعِم سَا مَ دْع بَ ِساَّنلاَ ُرْي خَُهَّنِإَ:ا ًريِم أََّي ل ع :ُلوُق يَ مَّل س وَِهْي ل ع َ

َى ت ْؤُيَ"

َِحْلاَ ُروُد يَا م كَا هِبَ ُروُد ي فَ،ِهِنْط بَ ُبا تْق أَ ُقِل دْن ت فَ، ِراَّنلاَيِفَى قْلُي فَ،ِة ما يِقْلاَ م ْو يَ ِلُج َّرلاِب

َ ُرا م

ى ح َّرلاِب

َ ؟ ك لَا مَ ُن لاُفَا يَ: نوُلوُق ي فَ، ِراَّنلاَ ُلْه أَ ِهْي لِإَ ُعِم تْج ي فَ،

َ، ِفو ُرْع مْلاِبَ ُرُمْأ تَ ْنُك تَ ْم ل أ

َ ِر كْنُمْلاَ ِن عَى هْن أ وَ،ِهيِتآَ لَ وَ ِفو ُرْع مْلاِبَ ُرُمآَ ُتْنُكَْد قَ،ى ل بَ:ُلوُق ي فَ؟ ِر كْنُمْلاَ ِن عَى هْن ت و

،"َِهيِتآ و

Artinya: Yahya bin Yahya, Abu Bakar bin Abu Syaibah, Muhammada bin Abdullah bin Numair, Ishaq bin Ibrahim, dan bu Kuraib menyampaikan kepada kami dengan lafaz milik Abu Kuraib, Yahya bin Ishaq menggunakan lafaz Akhbaraana, sedangkan para perawi lainnya menggunakan lafaz haddatsana dari Abu Mauwiyah dari al-A’masy, dari Syaqiq bahwa Usamah bin Zaid ditanya

“Mengapa engkau tidak masuk menemui Usman dan berbicara dengannya?”

Usamah berkata, “Apakah kalian menyangka jika aku berbicara kepadanya aku harua emmperdengarkannya kepada kalian? Demi Allah, aku telah berbicara kepadanya, berdua natara akau dan dia tanpa harus membuka suatu fitnah. Aku tidak suka bila menjadi orang pertama yang membukanya. Aku juga tidak mengatakan kepada seorang pun yang menjadi pemimpinku bahwa dia adalah sebaik-baik manusia setelah aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Pada Hari Kiamat nanti seorang lelaki akan dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar dengan cepat. Kemudian dia berputar membawa isi perutnya seperti seekor keledai memutari penggilingan. Penghuni neraka lantas mengerrumuninya dan bertanay, ‘Hai Fulan, kenapa engkau disiksa sperti ini?

Bukankah engkau memerinthakan kebaikan dan melarang kemungkran? ‘Dia menjawab, ‘Benar, dahulu aku memerintah kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya; dan aku melarang kemungkaran, tetapi aku melakukannya.”

(HR. Muslim)

Dengan demikian, amar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan pengamalannya merupakan suatu kewajiban yang tidak gugur salah satu dari keduanya dengan meninggalkan yang lainnya. Demikian menurut pendapat yang paling shahih dari para ulama salaf maupun khalaf.

(6)

32 Fungsi Sosial

Ayat ini mengandung etika dakwah yang paling esensi yaitu menjadi role model. Hendaknya setiap tokoh agama yang berdakwah menjadi panutan atas setiap petuah dan ajakan yang dilontarkan dalam dakwahnya. Ayat ini mengandung kecaman kepada setiap penganjur agama yang melakukan hal- hal yang bertentangan dengan apa yang dianjurkannya. Ada dua hal yang disebut oleh ayat ini yang seharusnya menghalangi pemuka-pemuka agama itu melupakan diri mereka. Pertama bahwa mereka menyuruh orang lain berbuat baik. Seorang yang memerintahkan sesuatu pastilah dia mengingatnya.

Sungguh aneh bila mereka melupakannya. Yang kedua adalah mereka membaca kitab suci. Bacaan tersebut seharusnya mengingatkan mereka.

Tetapi ternyata, keduanya tidak mereka hiraukan sehingga sungguh wajar mereka dikecam. Walaupun ayat ini turun dalam konteks kecaman kepada para pemuka Banî Isrâ’îl, ia tertuju pula kepada setiap orang terutama para muballigh dan para pemuka agama. Jangan sampai seorang pendakwah memerintahkan hal yang ia sendiri tidak melakukannya. Pendakwah semacam inilah yang di taubikh, dikecam dengan keras oleh Allah Swt sebagai seseorang yang kurang berakal.

Di samping ditujukan kepada tindakan bani Israil, nash Al-Qur`an ini juga ditujukan kepada semua manusia, khususnya tokoh-tokoh agama. Nash ini berlaku abadi, tidak hanya untuk satu kaum dan satu generasi saja.

Bahaya para tokoh agama saat ini ketika agama sudah menjadi perusahaan dan perindustrian, bukan lagi akidah, pembebas, dan pembela manusia dari kesesatan ialah mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hati mereka. Banyak dari pemuka agama yang berdakwah hanya untuk kepentingan politik dan golongan tertentu, kemudian ada juga yang berdakwah hanya untuk popularitas dan sumber industri. Yang dari semua yang disampaikan tidak ada satupun yang sesuai dengan akhlak sang pendakwah. Sering kali mereka menganjurkan untuk melakukan kebaikan, padahal mereka sendiri tidak mengamalkannya. Orang-orang semacam inilah yang menjadi sasaran taubikh dari Allah Swt sekaligus menujukkan bahwa hal yang paling esensi dalam dakwah adalah menjadi role model, yakni panutan dan suri tauladan yang benar dan baik sesuai dengan yang Rasulullah Saw ajarkan. Sebagaiman firman Allah Swt dalam QS. Al-Ahzab [33]: 21

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengnigat Allah”.

Ayat ini jelas bahwa Rasulullah adalah role model bagi setiap kebaikan yang beliau petuahkan kepada umatnya. Hendaklah para tokoh agama yang berdakwah di jalan Allah juga meniru Rasulullah sebagai panutan sehingga apa yang didakwahkan terlebih dahulu telah diamalkan.

(7)

33 KESIMPULAN

Penafsiran QS. Al-Baqarah[2]: 44 telah mengindikasikan etika seorang pendakwah agar menajdi role model melalui unsur balagiy dalam redaksi ayat yang menggunakan Istifham taubikh. Bentuk pertanyaan yang mengandung kecaman ditujukan kepada para tokoh agama yang memerintahkan kebaikan sedang mereka sendiri tidak melakukannya. Melalui penelitian ini dapat diambil benang merah bahwasannya seruan dakwah tanpa role model dari da’i mendapat kecaman langsung dari Allah Swt. Namun, mirisnya masa kini pelaku dakwah, hanya menajdikan dakwah sebagai konten dan bahan industri semata sehingga hilanglah esensi dan etika dakwah. Direkomendasikan kepada ahli tafsir, ahli hadis dan ahli komunikasi untuk memperluas sub materi dari penelitian ini, sehingga secara signifikan dapat memberikan pengaruh bagi pelaku dakwah agar berhati-hati dan menjadi role model bagai sasaran dakwahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Juz 8, terj. Lubabut tafsir min Ibnu Katsir, terj. M. Abdul Goffar, dkk, Bogor:

Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2004

Al-Khawarizmi, Abu al-Qasim Jarullah Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari Tafsir al-Kasysyaf, Beirut: Dar al-Marefah, 2009

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurahman, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, terj. Al-Mishbaahul Muniir fii Tahdziibi Tafsiiri Ibni Katsir, terj. Ahmad Saikhu, Jakarta:

Pustaka Ibnu Katsir, 2016

Al-Qusyairi, Muslim bin al-Hajjaj Ensiklopedia Hadis 4, Shahih Muslim 2, terj.

Masyhari dan Tatam Wijaya, Jakarta: Almahira, 2012

Amrullah, Abdul Malik Abdul Karim Tafsir al-Azhar Jilid 4, Singapura: Pustaka Nasional, tt

An-Naisaburi, Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi Abul Hasan al-Musnad as- Shahih al-Mukhtashar binaql an al-Udl ILA Rasulillahi Shallahualaihi Wasallam, (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, tt

Asy-Syaukani, Imam, Tafsir Fathul Qadir Jilid I, terj. Fathul Qadir (Al Jami’ baina Ar Riwayah WA Ad-Dirayah min ilm Al-Tafsir), terj. Amir Hamzah Fachruddin dan Asep Saifullah, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008

Az-Zuhaili, Wahbah, Tafsir al-Munir Jilid 4, terj. Al-Tafsir (al-Munir fi al-Aqidat wa al-Syariat wa al-Manhaj), terj. Abdul Hayyie al-Katani, dkk, Jakarta:

Gema Insani, 2013

Berawi, Muliawati Etika Dakwah Pada Masyarakat Global, e-Journal Ilmu Dakwah dan Pembangunan, Vol. 17, No. 1, Tahun 2019

Bertens, K. Etika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama 2002

(8)

34 Eko Zulfikar dan Ahmad Zainal Abidin, Etika Berrdakwah di Era Industri 4.0;

Tinjauan dalam Normativitas Al-Qur`an dan Hadis, e-Journal Dakwah, Vol 20, No. 1, Tahun 2019.

Quthb, Sayyid Tafsir fi Zhilalil Qur`an (Di bawah Naungan Al-Qur`an), terj. Fi Zhilalil Qur`an, terj. As’ad Yasin, dkk, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000 Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Mishbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur`an)

Jakarta: Lentera Hati, 2002

Thabathab’i, Sayyid Muhammad Husain, Tafsir al-Mizan, terj. Al-Mizan: an Exegesis of Qur`an Volume 1, terj. Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2010

Referensi

Dokumen terkait

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu; (1) Standard Operational Procedures (SOP) penangguhan hutang terhadap pembiayaan mura>bah}ah{ bermasalah, (2)

Inilah yang dimaksud dengan membunuh anak dan keluarganya, yakni badan menjadi rentan penyakit, dan seringkali merasakan susahnya (orang yang berbuat syirik, anak

yakni, bila seseorang didatangi oleh seseorang yang datang kerumahnya dan diberikan sajian dan hidangan, namun orang tersebut bergeming dan tidak segera menyantap makanan

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan terkait Standard Operational Procedures (SOP) penangguhan hutang dan pelaksanaannya yang dilakukan oleh BNI Syariah

Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu. Dari tidak senang mencium anak, menjadi tradisi senang menunjukkan kasih sayang. Mencium anak

Ia menjadi guru di daerah tersebut pada abad ke-19 dan menikah dengan beberapa perempuan dari klan matrilineal yang memiliki kedudukan tinggi dan masih keturunan

Karena sifat-sifat profesional seperti kemampuan, kesadaran, sesuai dengan katakter yang menjadi esensi pada ayat tersebut tidak hanya untuk untuk mereka

Kedua, makna ayat ini adalah bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai orang yang mencakup semua manusia seluruhnya dengan penyampaian risalah dan pemberian peringatan yang mencakup