Pendahuluan
Implementasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Awik-Awik
Pendahuluan
Sekolah juga berperan penting dalam mewariskan kearifan lokal yang hidup pada masyarakat sekitar sekolah, misalnya Awik-awik di Desa Sesaot. Sekolah melalui warga sekolah seperti guru dan siswa dapat mempelajari awik-awik untuk memperkuat kearifan lokal melalui IPS.
Landasan Teori
Di Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, terdapat kearifan lokal yang disebut Awik-awik. Oleh karena itu, setiap warga desa yang menaati Awik-awik dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Metode Penelitian
Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas meliputi kegiatan penerapan kearifan lokal Desa Sesaot Awik-awik dalam mata pelajaran IPS di SMP yaitu SMPN 5 Narmada. Setelah pembelajaran IPS dengan penerapan kearifan lokal Desa Awik-awik pada pembelajaran IPS menggunakan SOL, peneliti mengajukan pertanyaan kepada guru dan siswa mengenai pendapatnya terhadap pembelajaran yang berlangsung.
Simpulan
Apa tanggapan mereka setelah mengetahui penerapan kearifan lokal dalam pembelajaran IPS, Naheka Suardika dan Ni Komang Agastia berpendapat bahwa: “dengan pembelajaran awik-awik memberikan pengetahuan dan kesadaran bahwa kita mempunyai kewajiban untuk melestarikan hutan yang dipelajari. di IPS, apalagi jika ada praktik menanam pohon.” Pada tataran implementasi nilai-nilai awik-awik dalam pembelajaran IPS sudah mampu membangun karakter siswa setelah melalui proses pembelajaran dan praktik lapangan.
Daftar Pustaka
Journal of Environmental Sustainability, 1 (1), p. 2015), Dimensions of Women's Empowerment: A Case Study of Pakistan, Journal of Economics and Sustainable Development, 6 (1), p. International Journal of the Commons, 4(1), p. 2015) Scientific knowledge-based culture and local wisdom in Karimunjawa for maintaining growing soft skills, International Journal of Science and Research (IJSR).
Pelestarian Budaya Lokal di SMA Negeri 1 Bayan
Kerangka Teori
Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh peneliti dari wawancara dan observasi yang merupakan gabungan antara mendengarkan, mengamati dan bertanya. Data yang dikumpulkan melalui metode ini merupakan jawaban dari setiap pertanyaan yang telah disusun mengenai jenis-jenis budaya lokal yang dilestarikan di SMAN 1 Bayan Kabupaten Lombok Utara. Data yang dikumpulkan dalam teknik ini merupakan informasi dari sumber-sumber yang berkaitan dengan pelestarian budaya lokal yang dilestarikan oleh SMAN 1 Bayan.
Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang tidak diperlihatkan secara langsung kepada orang yang diteliti, tetapi diawali dengan suatu dokumen. Dalam hal ini peneliti akan menggunakan analisis interaktif Miles dan Hubermen untuk menganalisis data yang diperoleh. Data yang direduksi dalam penelitian ini, peneliti mengambil data yang berkaitan dengan pelestarian budaya lokal.
Pada titik ini peneliti mengambil data terkait pelestarian budaya lokal di SMAN 1 Bayan. Ketelitian dalam observasi dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data terkait pelestarian budaya lokal di SMAN 1 Bayan Lombok Utara dengan cara mewawancarai sejumlah informan sebagai sumber data primer dan meminta foto sebagai data sekunder. Penggunaan bahan referensi adalah memberikan dukungan untuk membuktikan data yang ditemukan peneliti.
Paparan Data dan Penemuan Penelitian
Selama saya menjadi guru di SMAN 1 Bayan, pertama kali saya mengenakan pakaian adat Bayan untuk upacara HUT sekolah, budaya lokal Gendang Beleq, budaya Gegerok, dan kemudian pada tahun 2012, saya menjadi pengawas OSIS yang melaksanakan atau melestarikan budaya Perisean. pada pertemuan kelas. Kami semua dari keluarga besar sekolah mengenakan pakaian adat Bayan untuk upacara bendera sumpah pemuda sekaligus HUT SMAN 1 Bayan. Terdapat informasi terkait nilai-nilai pendidikan yang terdapat pada budaya lokal yang dilestarikan oleh SMAN 1 Bayan.
Berbagai budaya yang dilestarikan di SMAN 1 Bayan memakai pakaian adat Bayan, Gendang Beleq, Gegerok Tandak dan Perisean. Mengenakan pakaian adat Bayan di SMAN 1 Bayan sejak sekolah tersebut mendapat Program Sekolah Percontohan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal (RPBKL) pada tahun 2011. Oleh karena itu SMAN 1 Bayan menjalankan salah satu fungsinya sebagai lembaga pendidikan, yaitu pelestarian budaya.
Gegerok Tandak merupakan tradisi masyarakat Bayan yang dipelihara oleh salah satu lembaga pendidikan formal yaitu SMAN 1 Bayan. Nilai-nilai religi yang terdapat pada budaya lokal yang dilestarikan di SMAN 1 Bayan terdapat pada budaya penggunaan pakaian adat dan Gegerok Tandak. 120 Dengan berbagai kegiatan sosial yaitu pembentukan nilai-nilai sosial yang terdapat pada budaya lokal yang dilestarikan di SMAN 1 Bayan Lombok Utara.
Kesimpulan
6 I gde Parimarhta dkk, Ritual Rebo Buntung di Desa Pringgabaya Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur, (Bali: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2012) hal.20. 29 I Gde Parimarhta dkk, Ritual Rebo Buntung di Desa Pringgabaya, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, (Bali: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia, 2012) hal.3. 32 I Gde Parimarhta dkk, Ritual Rebo Buntung di Desa Pringgabaya, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, (Bali: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia, 2012) hal.3.
Pada bulan Safar, masyarakat Desa Pringgabaya mulai bersiap untuk melaksanakan upacara adat Rebo Buntung atau ada yang bilang Rabu Bontong. Ritual Rebo Buntung sendiri dilakukan di Pantai Tanjung Menangis yang terletak di Dusun Ketapang karena Dusun Ketapang berbatasan langsung dengan pantai. Desa Pringgabaya merupakan desa induk di Kecamatan Pringgabaya yang memiliki desa tempat dilaksanakannya ritual budaya Rebo Tutung yang disebut Dusun Ketapang. Desa ini memiliki pantai.
52 I Gde Parimarhta dkk, Ritual Rebo Buntung di Desa Pringgabaya, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, (Bali: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia, 2012) hal.3. 53 I Gde Parimarhta dkk, Ritual Rebo Buntung di Desa Pringgabaya, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, (Bali: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia, 2012) hal.12. Berikut data yang diperoleh mengenai nilai-nilai sosial yang terkandung dalam budaya rebo buntung di Desa Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur.
Analisis Nilai Pendidikan dalam Budaya Rebo
Kajian Teori
Budaya Rebo Buntung merupakan tradisi budaya suku Sasak Lombok yang dilakukan setiap tahunnya oleh masyarakat desa Peringgabaya yang dilakukan di salah satu pantai yang bernama Pantai Tanjung Menangis atau yang sering disebut oleh masyarakat Pringgabaya sebagai Pantai Ketapang. berabad-abad dari generasi ke generasi. Tunggul Rebo terdiri dari dua kata yaitu “Rebo” dan “Buntung”. Rebo artinya Rabu dan stump artinya cabut yang artinya Rabu cabut. Ritual Rebo Buntung di kalangan masyarakat Lombok Timur tidak hanya sekedar untuk melaksanakan upacara keagamaan yang dipersembahkan kepada Allah SWT, namun juga memiliki tujuan sosial dan pendidikan di baliknya.
Ritual rebo buntung ini dilakukan untuk menjauhkan mereka dari segala macam penyakit dan mara bahaya yang akan diturunkan oleh Allah SWT, sehingga pada saat acara ritual ini masyarakat harus keluar rumah dan melakukan ritual bersama-sama, yaitu pada hari Rabu terakhir di bulan tersebut. Shafar. Menurut keterangan Lalu Mahfuz pada workshop Rebo Buntung di desa Pringgabaya, beliau mengatakan: Rebo Buntung sudah dipentaskan sejak dahulu kala dan diwariskan serta terus dipertahankan sebagai acara tahunan masyarakat Pringgabay. Dijelaskan pula bahwa tradisi rebo buntung berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari bahaya dan musibah di laut seperti ombak besar, angin kencang, cuaca yang tidak menentu, dan inilah niat masyarakat jaman dulu untuk melakukan upacara rebo buntung ini. tapi tidak wajib, kalau ada uang bisa dilaksanakan, tapi kalau tidak ada uang tidak bisa dilaksanakan, yang penting tujuannya untuk membuat pengamanan.” 33. Dua minggu sebelum klimaks pelaksanaan Di Rebo Bontonga, pemerintah desa Pringgabaya bersama para tetua adat dan tokoh masyarakat Pringgabaya mulai mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan upacara adat Rebo Buntung.
Pada hari Rebo Buntung ini, masyarakat diimbau untuk tidak berdiam diri di rumah, dalam artian masyarakat diingatkan untuk melaksanakan Ritual Rebo Buntung yang puncaknya diadakan di tepi pantai. Perbedaan ritual adat rebo buntung di desa Pernggabaya dengan ritual adat rebo buntung di desa lain terletak pada pengucapan namanya, bahkan di Lombok Utara dan Donggala. Namun di Sulawesi Tengah disebut mandi syafar di setiap daerah, sedangkan di Pringgabaya disebut rebo. 38 rebo buntung di desa dan kota lain disebut juga mandi safar, yaitu masyarakat menyambut rebo buntung hanya dengan mandi di pantai. atau di tepi sungai pada sore hari atau saat 'Ashar, berbeda dengan masyarakat Pringgabaya yang menyambut hari Rebo Buntung dengan berbagai aktivitas menyenangkan dan aktivitas yang menjadi bagian dari acara ritual Rebo Buntung.
Paparan Data Dan Temuan
Dari seluruh wawancara di atas terlihat bahwa waktu penyelenggaraan Rebo Buntung ini adalah tanggal 29 atau 30 bulan Safar yang jatuh pada hari Rabu terakhir bulan Safar, bulan Safar adalah hari kedua. bulan dalam kalender Hijriah. Dari berbagai pendapat terlihat dikatakan Rebo Buntung karena pada hari itu Allah menurunkan berbagai jenis penyakit ke desa tersebut sehingga yang melaksanakannya akan beruntung karena menurut warga Priggabaya terbebas dari segala jenis. penyakit. Dari hasil wawancara, bentuk pelaksanaan ritual adat Rebo Buntung yang diutamakan adalah mandi dan sembahyang di tepi pantai, namun seiring berjalannya waktu terjadi modernisasi dalam perayaan tersebut yaitu menambahkan perayaan Tetulaq Tamperan sebagai daya tarik. . dan juga mengadakan perlombaan dan hiburan pada hari ritual Rebo Buntung.
Bentuk penyajian Rebo Buntung sebelumnya sangat kental dengan ritual keagamaan yaitu setiap pesantren (musholla) berkumpul untuk membaca Surah Yasin pada siang dan malam Rebo Buntung. Mandi doa lalu zikir di pantai merupakan bagian dari tradisi Rebo Buntung yang terus dilakukan oleh masyarakat Pringgabaya, sebuah tradisi yang terus dilakukan oleh masyarakat Pringgabaya. “Nelayan disini pasti hadir, bahkan alat pembuatannya kadang dibawa oleh masyarakat karena perayaan Rebo Buntung merupakan festival yang kita rayakan bersama di Pringgabaya” 68.
Hal senada juga disampaikan oleh Bapak Judan Putrabaya yang menyatakan bahwa: “setiap perayaan Tunggul Rebo, para nelayan menyembelih kerbau atau kambing kemudian memasaknya untuk disajikan kepada para tamu undangan pada saat peringatan di pantai”69. Perayaan Rebo Buntung di Pringgabaya, kami melaksanakan sholat sunnah, yang penting sholat sunnah 2 rakaat baik itu sholat sunah untuk menangkal balaka, karena kami yakin masyarakat Pringgabaya akan mewarisi berbagai jenis penyakit pada hari itu. , kita melakukan wirid di pantai agar terlindung dari mara bahaya”71. Berdasarkan hasil wawancara dengan kedua narasumber tersebut, pendidikan agama dalam budaya Rebo Buntung sangat kental. Setiap mendekati bulan Syafar atau perayaan Rebo Buntung, masyarakat Pringgabay membakar potongan-potongan Alquran tersebut agar tidak terinjak-injak. dan tersebar sebagai penghormatan terhadap kitab suci, selain itu masyarakat melaksanakan shalat dua rakaat untuk melindungi diri dari berbagai penyakit.
Penutup
Glosarium
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lunturnya Nilai-