• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETOS KERJA ISLAMI PDF

N/A
N/A
rizky zelda

Academic year: 2024

Membagikan "ETOS KERJA ISLAMI PDF"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

ETOS KERJA ISLAMI

(4) Bayu Santoso 231211035

(22) Muhammad Naufal Sa’ad Ar Radadi 231211052 (30) Rizky Zelda Zauchair Supriatna 231211060

Politeknik Negri Bandung

Jl. Gegerkalong Hilir, Ciwaruga, Kec. Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

Hakikat dan makna

Kata etos (ethos), berasal dari bahasa yunani yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistim nilai yang diyakininya. Dari kata etos dikenal pula kata etika, etiket, yang terkandung makna semangat yang kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal, lebih baik dan optimal dengan menghindari segala kerusakan, sehingga setiap pekerjaan yang dilakukannya akan diarahkan untuk mengurangi bahkan menghilangkan cacat dari hasil pekerjaannya. Sikap ini dalam islam dikenal dengan istilah ihsan.4

Dari penjelasan tersebut tersirat makna bahwa Etos berkaitan dengan nilai kejiwaan seseorang. Oleh karena itu seorang muslim harus mengisinya dengan kebiasaan kebiasaan yang positif, sehingga akan mencerminkan kepribadiannya sebagai seorang muslim yang pekerjaannya akan mengarah pada hasil yang baik dan sempurna.

Tuntunan Etos Kerja dan Kewirausawan

Etos kerja dalam Islam mencakup serangkaian nilai, prinsip, dan tindakan yang dianjurkan oleh agama Islam untuk membimbing perilaku dan sikap dalam dunia kerja. Berikut adalah beberapa tuntunan etos kerja dalam Islam:

1. Akan menjunjung tinggi nilai nilai kejujuran dalam melaksanakan aktivitasnya, karena dia memiliki keyakinan bahwa Allah adalah dzat yang maha melihat terhadap apapun dan dimanapun aktivitas yang dilakukan

(2)

dari manusia ketika diamanati untuk melakukan pekerjaan, bagi dia Allah adalah pengawas yang sesungguhnya. Allah

2. Akan selalu istiqomah / konsisten, yakni kemampuan untuk bersikap taat kepada azas, pantang menyerah dan mampu mempertahankan prinsip serta komitmenya walaupun harus berhadapan dengan resiko yang membahayakan dirinya, karena baginya bekerja adalah amanat yang wajib di tunaikan.

3. Akan selalu bertanggung jawab, yakni satu sikap yang ingin menunaikan segala aktivitasnya dengan sebaik baiknya, karena hasilnya harus dipertanggung jawabkan. Bagi seorang muslim pertanggung jawaban segala amal perbuatannya tidak hanya kepada manusia tetap juga harus dipertanggung jawabkan kepada Allah di akhirat.

4. Senantiasa ikhlas. Seorang muslim yang memiliki etos kerja islami, dia bekerja bukan kerena ingin menumpuk kekayaan, tapi dia melakukannya semata mata karena Allah, dia bekerja karena ada keyakinan bekerja adalah kewajiban dari Allah yang wajib ditunaikan, dan meninggalkannya adalah berdosa. Karena yang menjadi orientasi bekerjanya adalah Allah maka dia akan bekerja sebaik mungkin agar mendapat ridha dari Allah.

Nilai-Nilai Etos Kerja dan Kewirausawan

Nilai-nilai etos kerja Islam mencakup prinsip-prinsip yang didasarkan pada ajaran Islam dan norma-norma agama. Ini adalah nilai-nilai yang membimbing perilaku Muslim dalam dunia kerja dan mempengaruhi bagaimana mereka mendekati pekerjaan mereka. Berikut adalah beberapa nilai-nilai etos kerja Islam yang penting:

A. Kerja adalah rahmat. Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.

B. Kerja adalah amanah. Kerja merupakan titipan berharga yang dipercayakan pada kita sehingga secara moral kita harus bekerja dengan benar dan penuh

(3)

C. Kerja adalah panggilan. Kerja merupakan suatu darma yang sesuai dengan panggilan jiwa sehingga kita mampu bekerja dengan penuh integritas. Jadi, jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri, I'm doing my best!. Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.

D. Kerja adalah aktualisasi. Pekerjaan adalah sarana bagi kita untuk mencapai hakikat manusia yang tertinggi, sehingga kita akan bekerja keras dengan penuh semangat. Apa pun pekerjaan kita, entah dokter, akuntan, ahli hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa ada. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan daripada duduk termenung tanpa pekerjaan.

E. Kerja adalah ibadah. Bekerja merupakan bentuk bakti dan ketakwaan kepada Tuhan, sehingga melalui pekerjaan manusia mengarahkan dirinya pada tujuan agung Sang Pencipta dalam pengabdian. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.

F. Kerja adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan perasaan senang seperti halnya melakukan hobi. Sinamo mencontohkan Edward V Appleton, seorang fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan sains paling begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya.

G. Kerja adalah kehormatan. Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita. Sinamo mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja (menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah kehormatan. Hasilnya, semua novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.

H. Kerja adalah pelayanan. Manusia bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saja tetapi untuk melayani, sehingga harus bekerja dengan sempurna dan penuh kerendahan hati. Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga mercusuar, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.

(4)

Ayat-Ayat Tentang Etos Kerja dalam Islam

Terdapat beberapa ayat dalam Al-Qur'an yang memberikan panduan dan ajaran terkait etos kerja, kewirausahaan, dan keberhasilan. Berikut adalah beberapa di antaranya:

A. Kita temukan 22 kata ‘amilu (bekerja) di antaranya di dalam surat al- Baqarah: 62, an-Nahl: 97, dan al-Mukmin: 40.

B. Kata ‘amal (perbuatan) kita temui sebanyak 17 kali, di antaranya surat Hud: 46, dan al-Fathir: 10.

C. Kata wa’amiluu (mereka telah mengerjakan) kita temui sebanyak 73 kali, diantaranya surat al-Ahqaf: 19 dan surat al-Nur: 55.

D. Kata Ta’malun dan Ya’malun seperti dalam surat al-Ahqaf: 90 dan surat Hud: 92.

E. Kita temukan sebanyak 330 kali kata a’maaluhum, a’maalun, a’maluka,‘amaluhu, ‘amalikum, ‘amalahum, ‘aamul dan amullah.

Diantaranya dalam surat Hud: 15, al-Kahf: 102, Yunus: 41, Zumar: 65, Fathir: 8, dan at-Tur: 21

F. Terdapat 27 kata ya’mal, ‘amiluun, ‘amilahu, ta’mal, a’malu seperti dalam surat al-Zalzalah: 7, Yasin: 35, dan al-Ahzab: 31.

G. Disamping itu, banyak sekali ayat-ayat yang mengandung anjuran dengan istilah seperti shana’a, yasna’un, siru fil ardhi ibtaghu fadhillah, istabiqul khoirot, misalnya ayat-ayat tentang perintah berulang-ulang dan sebagainya.

(5)

DAFTAR PUSTAKA Sunardi Didi,

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini disebabkan karena kualitas kerja sebagai gambaran kemampuan pengurus dalam melakukan tugas yang diberikan sesusai dengan kemampuan, keahlian dan sesuai dengan syariat

Saran yang diusulkan adalah mempertahankan atau bahkan meningkatkan ketiga variabel tersebut khususnya kepemimpinan ethos kerja yang berdasarkan penelitian