EUTHANASIA
Euthanasia atau biasa disebut dengan mercy killing. Euthanasia biasa didefinisikan sebagai a good death atau mati dengan tenang. Hal ini dapat terjadi karena dengan pertolongan dokter atas permintaan dari pasien ataupun keluarganya, karena penderita yang sangat hebat, dan tiada akhir, ataupun tindakan membiarkan saja oleh dokter kepada pasien yang sedang sakit tanpa menentu tersebut, tanpa memberikan pertolongan pengobatan seperlunya.
Universal Declaration of Human Right, maka dalam pasal 3 nya, disebutkan bahwa :
“Everyone has the right to live liberty and the security of person (Sir Francis Vallat, 1970 : 119). Setiap orang berhak akan hidup, kemerdekaan dan keamanan.
Apakah seorang dokter mempunyai hak hukum untuk mengakhiri hidup seseorang pasien, atas permintaan pasien itu sendiri atau dari keluarganya, dengan dalih untuk menghilangkan atau mengakhiri penderitaan yang berkepanjangan, tanpa dokter itu sendiri menghadapi konsekuensi hukum.
Di beberapa Negara seperti Amerika Serikat, seorang yang gagal melakukan bunuh diri dapat dipidana. Jadi perbuatan bunuh diri yang gagal itu merupakan perbuatan pidana.
Begitu juga di Negara Israil percobaan perbuatan bunuh diri merupakan perbuatan yang dilarang dan diancam pidana
Dilihat dari segi agama, baik itu Agama Islam, Kristen, Katholik, dan sebagainya maka euthanasia dan suicide merupakan perbuatan yang terlarang. Sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu adalah berasal dari pencipta-Nya yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT) jadi perbuatan yang menjurus kepada tindakan pemberhentian hidup yang berasal dari Yang Maha Esa itu, merupakan perbuatan yang bertentangn dengan kehendak Tuhan, oleh karenanya tidak benarkan
EUTAHANASIA DALAM KUHP
Dalam pasal 344 KUHP, disebutkan bahwa :
Barang siapa merampas nyawa
orang lain atas permintaan sendiri
yang jelas dinyatakan dengan
kesungguhan hati, diancam dengan
pidana penjara paling lama dua
belas tahun
Dari bunyi pasal tersebut, dapat disimpulkan, bahwa seseorang tidak diperbolehkan melakukan pembunuhan terhadap orang lain, walaupun pembunuhan itu dilakukan dengan alasan atas permintaan si korban sendiri. Sulit rasanya membayangkan seseorang yang sampai hati “membunuh” atau dengan perkataan lain “merampas nyawa” orang lain apalagi yang dikenalnya atau yang perlu ditolongkan, atas permintaan yang bersangkutan yang tengah menderita sakit parah yang tak tersembuhkan misalnya
Dr. Sahetapy di dalam tulisannya pada Majalah Badan Pembinaan Hukum Nasional, membedakan euthanasia ini ke dalam tiga jenis yaitu :
Actiono permit death to occur
Failure to take action to prevent death Positive action to cause death
EUTHANSIA PASIF
Jenis euthanasia yang pertama, kematian dapat terjadi karena pasien dengan sungguh- sungguh dan secara cepat menginginkan untuk mati. Dalam hal ini pasien sadar dan tahu bahwa penyakit yang dideritanya itu tidak dapat disembuhkan walaupun dengan perawatan dan pengobatan secara baik. Oleh sebab itu pasien meminta untuk pulang dan tidak diadakan perawatan lagi,
EUTHANASIA DARI PIHAK DOKTER
Jenis euthanasia yang kedua, kematian terjadi karena kelalaian atau kegagalan dari seorang dokter dalam mengambil tindakan untuk mencegah adanya kematian. Hal ini terjadi bilamana dokter akan mengambil suatu tindakan guna mencegah kematian, akan tetapi ini tidak mengerjakan suatu apapun karena ia tahu bahwa pengobatan yang akan diberikan kepada pasien itu adalah sia-sia belaka
EUTHANASIA AKTIF
Euthanasia jenis yang ketiga tindakan yang aktif dari dokter untuk mempercepat terjadinya kematian, jadi berbeda dengan jenis yang pertama di atas, yang bersifat pasif, maka pada jenis yang ketiga ini bersifat aktif (causation) dan tindakan yang aktif ini, seorang pasien akan segera mati dengan tenang, misalnya dengan memberikan injeksi dengan obat yang menimbulkan kematian, obat penghilang rasa kesadaran dalam dosis yang tinggi.
Apabila dikaitkan dengan ketiga jenis euthanasia tersebut, maka rumusan yang terdapat di dalam pasal 344 KUHP adalah sesuai dengan jenis euthanasia yang ketiga, yaitu euthanasia yang bersifat aktif. Namun masalahnya sekarang adalah apakah pasal 344 KUHP itu dapat diterapkan atau dapat dipakai sebagai dasar penuntutan oleh jaksa ?
Masalah euthanasia biasanya dikaitkan
dengan masalah suicide atau bunuh diri dalam hukum Pidana I masalah suicide yang perlu
dibahas adalah apakah seorang yang
mencoba bunuh diri atau membantu orang lain untuk melakukan suatu kejahatan
merupakan perbuatan pidana.
Pengaturan masalah euthanasia di Indonesia, satu-satunya hanya terdapat di dalam pasal 344 KUHP.
Pasal ini melarang adanya
euthanasia yang aktif, yaitu suatu tindakan yang positif dari dokter
untuk mempercepat terjadinya kematian. Pasal 344 KUHP,
merupakan pengkhususan dari pasal 338 KUHP, yang mengatur tentang
perampasan nyawa orang lain secara umum. Masalah euthanasia hanya dapat diterapkan pada pasal
344 KUHP
Walaupun telah diadakan pengaturan
secara khusus, tetapi penerapan pasal 344 KUHP ini dirasakan sangat sulit, hal ini disebabkan karena pasal ini menyebutkan
adanya unsur “atas permintaan sendiri”, yan gjelas dinyatakan dengan
kesungguhan hati”. Barang siapa seandainya si pasien tersebut ini
apersistent vegetative state, sehingga ia tidak dapat berkomunikasi ? Untuk
memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal 344 KUHP ini, memang sulit.
Oleh karenanya masalah euthanasia tidak pernah terjadi di Indonesia yang sampai
diajukan ke pengadilan.