Evaluasi Hambatan Samping Terhadap Kinerja Jalan (Studi Kasus JL. T. Panglima Nyak Makam Kecamatan Syiah
Kuala Kota Banda Aceh)
Laras Putri Ayunda*1, Meliyana 2, Tety Sriana,3
Diterima ...; Disetujui …………..; Dipublikasi ……….
Abstract : The road is a means of transportation to reach one destination from another destination for every road user who passes it. Therefore, the condition of a road is very influential for the comfort and safety of every road user. Jalan P. Nyak Makam is a collector road with type 4/2 D located in the city of Banda Aceh. The research location is in front of the BPK office to the Gramedia bookstore where along the road there are side obstacles that can cause low capacity caused by pedestrians, parking or stopping vehicles, incoming or outgoing vehicles and slow vehicles. This study aims to determine the side friction, traffic characteristics and road performance. Data collection was carried out for three days, namely Monday, Thursday and Saturday, divided into three times, namely peak hours in the morning, afternoon and evening. The survey conducted is a survey of traffic volume, side friction, speed and road geometry. The data obtained were analyzed based on MKJI. Based on the calculation results at the peak hour of the side friction at the BPKP-Lampineung intersection of 368 events / hour and the lowest of 233 events / hour, the highest peak volume was 2133 pcu / hour and the lowest was 828 pcu / hour with a degree of saturation of 0.71. For the direction of Lampineung-Simpang BPKP, the highest side resistance was 333 events / hour and the lowest was 271 events / hour, the highest peak volume was 1878 pcu / hour and the lowest was 879 pcu / hour saturation 0,83. The results showed that the road performance for the BPKP-Lampineung Intersection direction still met the MKJI criteria, namely DS <0.75, while for the Lampineung-Simpang BPKP direction it showed that the road performance did not meet the MKJI criteria, namely> 0.75.
Keywords: side friction, traffic characteristics, road performance, degree of saturation
Abstrak : Jalan merupakan salah satu sarana transportasi yang digunakan oleh setiap pengguna jalan yang melintas untuk mencapai suatu tujuan dari tujuan yang lain. Oleh karena itu, kondisi jalan berdampak besar terhadap kenyamanan dan keamanan setiap pengguna jalan. Jalan P.Nyak Makam merupakan jalan kolektor dengan tipe 4/2 D terletak di kota Banda Aceh. Lokasi penelitian berada di depan kantor BPK hingga toko buku Gramedia dimana disepanjang jalan terdapat hambatan samping yang dapat menyebabkan kapasitas yang rendah yang disebabkan oleh pejalan kaki, kendaraan parkir atau berhenti, kendaraan keluar atau masuk dan kendaraan lambat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hambatan samping, karakteristik lalu lintas dan kinerja jalan. Pengambilan data dilakukan selama tiga hari yaitu Senin, Kamis dan Sabtu dibagi menjadi tiga waktu yaitu jam puncak pagi, siang dan sore hari. Survei yang dilakukan adalah survei volume lalu lintas, hambatan samping, kecepatan dan geometrik jalan. Data yang didapat dianalisa berdasarkan MKJI.
Berdasarkan hasil perhitungan pada saat jam puncak hambatan samping arah Simpang BPKP-Lampineung sebesar 368 kejadian/jam dan terendah 233 kejadian/jam, volume puncak tertinggi sebesar 2133 smp/jam dan terendah sebesar 828 smp/jam dengan derajat kejenuhan 0,71. Untuk arah Lampineung-Simpang BPKP hambatan samping tertinggi sebesar 333 kejadian/jam dan terendah sebesar 271 kejadian/jam, volume puncak tertinggi 1878 smp/jam dan terendah sebesar 879 smp/jam dengan derajat kejenuhan 0,83. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja jalan untuk arah Simpang BPKP-Lampineung masih memenuhi kriteria MKJI yaitu DS < 0,75 sementara untuk arah Lampineung-Simpang BPKP menunjukkan bahwa kinerja jalan sudah tidak memenuhi kriteria MKJI yaitu > 0,75.
Kata kunci : hambatan samping, karakteristik lalu lintas, kinerja jalan, derajat kejenuhan
1. Pendahuluan
Jalan merupakan salah satu sarana transportasi untuk mencapai satu tujuan dari satu tujuan lain bagi setiap pengguna jalan yang melewatinya, oleh karena itu kondisi suatu jalan sangat berpengaruh bagi kenyamanan dan keselamatan setiap para pengguna jalan raya, jalan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu kota dan tercapainya stabilitas sosial yang sehat dan dinamis. Bertambahnya jumlah kendaraan dari tahun ke tahun yang tidak sesuai lagi dengan kapasitasnya maka sering menimbulkan kemacetan arus lalu lintas, kemacetan dalam berlalu lintas merupakan hal tidak asing lagi kita lihat dikota-kota besar.
Kemacetan juga sering diakibatkan karena kendaraan yang menggunakan bahu jalan sebagai jalan pintas untuk menghindari kemacetan, hal yang seperti ini yang menyebabkan bahu jalan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Perkembangan pada suatu kota akan menyebabkan adanya berbagai kegiatan masyarakat sehingga terjadinya suatu pergerakkan. Pergerakkan ini dapat menimbulkan volume lalu lintas yang meningkat, sehingga timbul permasalahan kemacetan, hambatan samping dan terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Hambatan samping juga dapat menyebabkan kapasitas yang rendah yang disebabkan oleh pejalan kaki/pedestrian, kendaraan parkir/berhenti, kendaraan
keluar/masuk dan kendaraan lambat. Beberapa aktivitas tersebut merupakan hambatan samping yang sangat berpengaruh pada kinerja jalan antara lain yaitu : kemacetan kendaraan terhadap volume lalu lintas, kecepatan laju pengendara berkurang, derajat kejenuhan, kapasitas jalan menjadi rendah atau daya tampung jalan berkurang serta tingkat pelayanan jalan menjadi kurang baik.
Jalan T. Panglima Nyak Makam Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh merupakan jalan 4 lajur 2 arah dengan median.
Di sepanjang ruas jalan T. Panglima Nyak Makam menuju Simpang BPKP terdapat jalan masuk ke Jl T. Panglima Nyak Makam yaitu Jl.Teuku Adee Utama. Di sepanjang jalan tersebut terdapat beberapa hambatan samping yang dapat menyebabkan kapasitas jalan menurun berupa pedagang kaki lima, kendaraan lambat, pejalan kaki, kendaraan keluar masuk, dan kendaraan yang parkir di sepanjang badan jalan tersebut, lokasi penelitian pengamatan yang akan diamati sepanjang 200 meter dimulai dari Kantor BPK sampai Gramedia.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukan penelitian terhadap hambatan samping, karakteristik dan kinerja Jalan P. Nyak Makam.
2. TINJAUAN KEPUSTAKAAN Klasifikasi Jalas
Jalan adalah prasarana transportasi darat
yang mencakup seluruh bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan peralatan yang digunakan untuk angkutan umum. Bangunan dan perlengkapan tersebut terletak di atas tanah, di bawah tanah dan dipermukaan air, serta di atas air. Permukaan (tetapi tidak termasuk) rel kereta api dan jalan raya kabel. Lapisan perkerasan berfungsi untuk menerima dan membubarkan beban lalu lintas tanpa menyebabkan kerusakan yang berarti pada konstruksi jalan itu sendiri. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, kelas jalan dibagi menjadi jalan kelas I, II, III dan kelas khusus yang terlihat pada tabel 2.1.
Sedangkan menurut PP No 34 tahun 2006, jalan dikelompokkan berdasarkan statusnya yang bertujuan untuk penentuan pembebanan anggaran biaya yaitu jalan Nasional, provinsi, kabupaten, kota dan desa.
Tabel 1 Pembagian Kelas Jalan dan Daya Dukung Beban
Sumber : Peraturan Perundangan UU No 22 Tahun 2009
Geometrik Jalan
Sukirman (2010) mengemukakan bahwa
“geometri” mengacu pada badan jalan yang tanahnya vertical dan horizontal, dan premisnya adalah bahwa badan/bentuk permukaan bumi tidak rata. Tujuannya untuk menjalin hubungan yang baik antara ruang dan waktu sesuai
dengann kebutuhan kendaraan terkait, sehingga menghasilkan ruas jalan yang memenuhi syarat kenyamanan,keamanan dan efesiensi yang optimal. Saat membangun jalan raya akan dipengaruhi oleh medan, masyarakat, dan ekonomi. Geometri jalan perkotaan meliputi jenis jalan,lebar jalan, kerb, bahu jalan dan median.
Tipe Jalan
Beberapa jenis jalan menunjukkan kinerja yang berbeda dalam situasi alokasi lalu lintas tertentu, jenis jalan diwakili oleh penampang jalan yang ditunjukkan dengan jumlah jalur dan arah di setiap ruas (MKJI, 1997).
Lebar Jalur Lalu Lintas
Sukirman (1994) menunjukkan bahwa jalur lalu lintas adalah semua bagian trotoar yandiperuntukkan bagi lalu lintas kendaraan.
Kecepatan dan kapasitas perjalanan meningkat seiring dengan bertambahnya jalan raya. Jumlah jalur ditentukan oleh marka jalan atau lebar jalan efektif (Wce).
Kreb (crubs)
Sebagai pembatas antara jalur lalu lintas dan trotoar, trotoar akan mempengaruhi pengaruh gesekan samping terhadap kapasitas dan kecepatan. Kapasitas jalan dengan kerb lebih sedikit dibandingkan dengan jalan berpundak (MKJI 1997).
Bahu Jalan
Sukirman (1994) mengemukakan bahwa bahu adalah jalur yang berdekatan dengan jalur lalu lintas, dan fungsinya sebagai berikut:
1. Ruangan tempat kendaraan diparkie sementara.
2. Hindari ruangan dengan keadaan darurat untuk mencegah kecelakaan.
3. Ruang pembantu untuk perbaikan atau pemeliharaan jalan.
4. Memberikan dukungan untuk
pembangunan jalan darinsamping.
Median
Dalam arus tertinggi, nilai antara biasanya diperlukan untuk memisahkan aliran ke arah yang berlawanan. Garis tengah adalah bagian dari tengah badan jalan raya yang secara fisik memisahkan arus lalu lintas yang berlawanan arah. Garis median jalan (garis pemisah antara) dapat berbentuk garis median yang ditinggikan, garis median tersembunyi atau garis rata.
Volume Lalu Lintas
Volume lalu lintas mengacu pada jumlah kendaraan yang melewati titik atau garis tertentu pada persimpangan jalan. Data perhitungan lalu lintas merupakan informasi yang dibutuhkan dalam tahap perencanaan, perancangan, pengelolaan dan pengoperasian jalan. Menurut penelitian Sukirman (1994), volume lalu lintas menunjukkan banyaknya kendaraan yang melewati suatu titik pengamatan dalam satuan waktu (hari, jam, menit). Untuk menentukan jumlah dan lebar jalur, satuan volume lalu lintas yang umum digunakan adalah volume lalu lintas harian rata-rata, volume waktu perencanaan dan
kapasitas. Lajur arus dapat ditemykan dengan rumus berikut:
Qsmp = (emp LV × LV + emp HV × HV + empMC × MC) ...(2.1)
Dimana:
Q : volume kendaraan bermotor ( smp/jam) EmpLV : nilai ekivalen mobil penumpang
untuk kendaraan ringan
EmpHV : nilai ekivalen mobil penumpang untuk kendaraan berat
EmpMC : nilai ekivalen mobil penumpang untuk sepeda motor
LV : notasi untuk kendaraan ringan HV: notasi untuk kendaraan berat MC: notasi untuk sepeda motor
Kecepatan
Menurut MKJI (1997) kecepatan perjalanan dianggap sebagai indicator utama untuk mengukur kinerja suatu ruas jalan karena mudah untuk dipahami dan diukur. Kecepatan mengemudi didefinisikan sebagai kecepatan rata-rata ruang kendaraan ringan (LV) di sepanjang ruas jalan. Kecepatan dapat ditemukan dengan rumus berikut:
V= L
TT ...
(2.2) Dimana:
V = Kecepatan rata-rata ruang LV (km/jam) L = Panjang segmen jalan (km)
TT= Waktu tempuh rata-rata LV sepanjang segmen jalan (jam)
Kinerja Jalan
Menurut Bukhari (2004), kinerja jalan merupakan nilai yang tidak ada kaitannya dengan stiap elemen operasi, dan tentunya memiliki arti tertentu bagi kelancaran lalu lintas itu sendiri. Kinerja jalan dinyatakan dalam kecepatan dan kejenuhan yang digunakan sebagai indicator perilaku lalu lintas dijalan raya.
Hambatan Samping
Banyaknya aktivitas pinggir jalan di Indonesia biasanya menimbulkan konflik yang sangat besar dan berdampak besar pada penghambat jalan terutama pada kapasitas dan kinerja jalan di Kawasan jalan perkotaan.
Seperti:
1. Pejalan kaki,
2. Kendaraan lambat seperti becak, dan sepeda, kereta kuda,
3. Parkir dibahu jalan (on street parking), 4. Kendaraan berhenti,
5. Kendaraan masuk dan keluar.
Tabel 2 Faktor Bobot Hambatan Samping
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia (1997)
Kinerja Jalan
Menurut MKJI (1997) kinerja jalan didefinisikan sebagai arus maksimum suatu titik di jalan yang dapat dilalui per satuan jam dalam kondisi tertentu. Untuk jalan dua lajur dua arah, performa ditentukan untuk lalu lintas dua arah (kombinasi dua arah), namun untuk jalan multi lajur harus dilakukan persiapan untuk setiap arah dan kapasitas ditentukan sesuai dengan lajur masing-masing. Kinerja jalan dapat dihitung menggunakan rumus berikut:
C = Co x FCw x FCsp x FCsf x
FCcs... (2.5) Dimana:
C = kinerja ruas jalan (smp/jam) Co = kinerja dasar (smp/jam)
FCw = faktor penyesuaian lebar jalur lalu- lintas
FCSP = faktor penyesuaian pemisahan arah FCSF = faktor penyesuaian akibat hambatan samping
FCCS = faktor penyesuaian ukuran kota
Derajat Kejenuhan
Derajat kejenuhan (degree of saturation) didefinisikan sebagai rasio arus lalu lintas (smp/jam) terhadap kapasitas (smp/jam), digunakan sebagai faktor utama dalam menentukan tingkat kinerja persimpangan dan ruas jalan. Nilai DS menunjukkan apakah ruas jalan tersebut memiliki masalah kapasitas.
DS=Q/C ... (2.6) Dimana:
DS = Derajat kejenuhan
Q = Volume lalu lintas (smp/jam) C = Kapasitas (smp/jam)
3. METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini dijelaskan mengenai metode yang digunakan dalam pengumpulan data dan analisis data. Dengan menggunakan metode kapasitas jalan indonesia (MKJI) 1997.
Data yang dibutuhkan adalah volume lalu lintas, hambatan samping dan waktu tempuh didapat saat survey langsung di lapangan. Dengan pencatatan setiap jumlah kendaraan dan hambatan samping. Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Ada empat survei primer yang akan dilakukan yang nantinya data hasil survei tersebut berguna untuk dijadikan acuan dalam evaluasi hambatan samping terhadap kinerja jalan. Survei geometri pada ruas jalan jalan T.
Panglima Nyak Makam meliputi keadaan geometri jalan seperti, tipe jalan, lebar jalur jalan, pemisahan arah, ada tidaknya median, ada tidaknya trotoar, panjang jalan dan tingkat kerusakan jalan. Melalui metode kecepatan lapangan, metode pengumpulan data waktu tempuh kendaraan lapangan dilakukan dengan mengukur waktu tempuh. Metode kecepatan lokal dirancang untuk mengukur karakteristik kecepatan suatu lokasi tertentu dalam lalu lintas. Lakukan sebanyak mungkin jenis kendaraan agar dapat menggambarkan situasi sebenarnya dilokasi. Metode pengumpulan data lalu lintas dilakukan secara manual.
Pengumpulan data ini dilakukan untuk mendapatkan data volume lalu lintas di jalan dua arah. Sebelum melakukan survei
lapangan, kumpulkan data tambahan terlebih dahulu seperti : Peta Provinsi Aceh, peta lokasi penelitian pada ruas jalan T. Panglima Nyak Makam Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh dan data jumlah penduduk Kota Banda Aceh.
Analisis Data
Setelah tahapan pengolahan data selesai dilakukan, tahapan selanjutnya adalah tahapan analisis data. Operasi yang dilakukan pada tahap ini adalah:
a. Kecepatan Lalu lintas
Perhitungan kecepatan setempat dan kecepatan rata-rata dilakukan setelah data waktu tempuh dari setiap jenis kendaraan tercatat dan tersusun selama jam pengamatan.
b. Volume lalu lintas
Setelah dilakukan pengumpulan data lalu lintas selama periode pengamatan, maka dihitung jumlah kendaraan dengan cara mengkonversi jumlah tiap jenis kendaraan menjadi konversi (smp) penumpang.
c. Hambatan Samping
Data yang diperoleh dalam survei ini meliputi kendaraan yang diparkir dibahu jalan, pejalan kaki (menyeberang jalan), kendaraan yang masuk dan keluar jalan, dan kendaraan lambat.
d. Kinerja Jalan
Kinerja pada JL.T. Panglima Nyak Makam Kec Kuta Alam Kota Banda Aceh. Ditentukan
sesuai arah jalan masing-masing menurut pedoman MKJI(1997), perhitungan setiap ruas jalan termasuk faktor penyesuaian yang diperlukan.
e. Derajat Kejenuhan
Kejenuhan digunakan sebagai faktor untuk menentukan tingkat kinerja persimpangan dan ruas jalan.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN Geometrik Jalan
Jalan T. Panglima Nyak Makam merupakan salah satu jalan kolektor yang terletak di Kecamatan Syiah Kuala. Jalan tersebut merupakan jalan 4 lajur 2 arah. Pengukuran jalan dilakukan 2 orang surveyor pada kondisi jalan yan sepi. Penampang ruas jalan P.Nyak Makam memiliki lebar 6,3m, bahu jalan dari arah Lampineung-Simpang BPKP selebar 1m, dan trotoar terdapat pada arah Simpang BPKP- Lampineung dengan bahu jalan 1m dan lebar median jalan 2m.
Gambar lay out penampang melintang jalan dapat dilihat pada Gambar 1 sebagai berikut:
Gambar: Gambar Lay Out Penampang Jalan T.Panglima Nyak Makam
Kecepatan
Kecepatan merupakan salah satu komponen utama arus lalu lintas, termasuk kepadatan dan
volume lalu lintas. Selain indicator kecepatan, juga tedapat indicator hambatan. Perlu menganalisa kecepatan dan hambatan untuk menentukan performa dan masalah lalu lintas.
Untuk arah Simpang BPKP-Lampineung kecepatan tertinggi adalah 32,21 km/jam dan terjadi pada hari Senin untuk kecepatan terendah sebesar 13,65 km/jam terjadi pada hari Sabtu untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2 sebagai berikut
Untuk arah Lampineung- Simpang BPKP kecepatan tertinggi adalah 34,65 km/jam dan terjadi pada hari Senin untuk kecepatan terendah sebesar 16,16 km/jam terjadi pada hari Sabtu untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3 sebagai berikut:
Volume Lalu Lintas
Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama 3 hari yaitu hari Senin, Kamis, dan Sabtu maka di peroleh data volume lalu lintas pada ruas jalan Nyak Makam. Pengamatan yang dilakukan dimulai pada
pukul 07.00 sampai 09.00 WIB untuk pengamtan pagi, pukul 12.00 sampai dengan 14.00 Wib untuk pengamatan siang, dan pukul 16.00 sampai dengan 18.00 WIB untuk pengamatan Sore. Hasil pengamatan volume lalu lintas arah Simpang BPKP- Lampineung diubah menjadi satuan Mobil Penumpang (SMP) dengan mengalikan Ekivalen Mobil penumpang (EMP) dengan jumlah kendaraan. Adapun rekapitulasi volume untuk setiap arah dapat dilihat pada Gambar 4 di bawah ini:
Data volume lalu lintas disajikan perjam dari waktu pengamatan 6 jam pada waktu pengamatan pagi, siang dan sore. Dari gambar 4.4 volume lalu lintas tertinggi arah Simpang BPKP-Lampineung terdapat pada hari Kamis pukul 17.00-18.00 dengan nilai 1878 smp/jam dan terendah pada hari Kamis pukul 07.00-08.00 dengan nilai 879 smp/jam. Untuk arah Lampineung-Simpang BPKP gambar 5 dapat dilihat di bawah ini:
Hambatan Samping
Hambatan merupakan aktivitas trotoar yang sering menimbulkan konflik dan terkadang berdampak signifikan terhadap arus lalu lintas.
Hambatan samping pada ruas jalan tersebut dicatat sesuai dengan jenis kendaraan yang melewati ruas jalan tersebut. Hambatan samping meliputi pejalan kaki (PED), kendaraan parkir (PSV), kendaraa keluar/masuk (EEV), dan kendaraan lambat (SMV). Untuk lebih jelasnya hasil rekapitulasi hambatan samping dapat dilihat pada Tabel 3:
Tabel 3 Rekapitulasi Hambatan Samping
Kinerja Jalan
Parameter kinerja jalan diwakili oleh saturasi. Kejenuhan didefinisikan sebagai rasio volume lalu lintas terhadap kapasitas dan digunakan sebagai factor utama dalam menentukan tingkat kinerja suatu ruas jalan.
Untuk jalan nyak makan digunakan factor penyesuaian sebagai berikut:
a. Arah Lampineung-Simpang BPKP 1. Kondisi ruas jalan empat jalur terbagi atau
jalan satu arah maka berdasarkan Tabel B.2.2 digunakan C0 = 1650 smp/jam dengan jumlah jalur 2.
2. Lebar jalur lalu lintas sebesar 3,15 meter, maka berdasarkan Tabel B.2.3 digunakan faktor penyesuaian kapasitas untuk pengaruh lebar jalur (Fcw) sebesar 0,92.
3. Untuk pemisah arah diambil volume lalu lintas terhitung untuk arah Lampineung- Simpang BPKP sebesar 2133 dan 1593 smp/jam. Sehingga didapat pemisah arah
2133
2133+1593=0,57
100 =57=¿60 % . 4. Tipe jalan 4/2 UD maka berdasarkan Tabel
B.2.4 faktor penyesuaian kapasitas pemisah arah (FCsp) diambil 0,97.
5. Faktor penyesuaian kapasitas untuk pengaruh hambatan samping dan lebar bahu (FCsf) Tabel B.2.5 kondisi Jalan P.Nyak Makam termasuk kelas hambatan samping L dengan lebar bahu dari arah Lampineung-Simpang BPKP 1,00 meter maka diambil nilai 0,97.
6. Faktor penyesuaian kapasitas ukuran kota (FCcs) Tabel B.2.6 dengan jumlah penduduk 270.321 jiwa dapat dilihat pada lampiran B.4.9 halaman 61 diambil dari data BPS Kota Banda Aceh maka nilai diambil 0,90.
Setelah diperoleh nilai persamaan maka didapat hasil kinerja ruas jalan arah Lampineung- Simpang BPKP sebesar 2571 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.3 di bawah:
b. Arah Simpang BPKP-Lampineung
1. Kondisi ruas jalan empat jalur terbagi atau jalan satu arah maka berdasarkan Tabel B.2.2 digunakan C0 = 1650 smp/jam.
2. Lebar jalur lalu lintas sebesar 3,15 meter, maka berdasarkan Tabel B.2.3 digunakan faktor penyesuaian kapasitas untuk pengaruh lebar jalur (Fcw) sebesar 0,92
3. Untuk pemisah arah diambil volume lalu lintas terhitung untuk arah Simpang BPKP- Lampineung sebesar 1878 dan 1678
smp/jam. . Sehingga didapat pemisah arah 1878
1878+1678=0,52
100=52=¿50 % . 4. Tipe jalan 4/2 UD maka berdasarkan Tabel
B.2.4 faktor penyesuaian kapasitas pemisah arah (FCsp) diambil 1
5. Faktor penyesuaian kapasitas untuk pengaruh hambatan samping dan lebar bahu (FCsf) Tabel B.2.5 kondisi Jalan P.Nyak Makam termasuk kelas hambatan samping L dengan lebar bahu dari arah Lampineung-Simpang BPKP 1,00 meter maka diambil nilai 0,97.
6. Faktor penyesuaian kapasitas ukuran kota (FCcs) Tabel B.2.6 dengan jumlah penduduk 270.321 jiwa dapat dilihat pada lampiran B.4.9 halaman 61 diambil dari data BPS Kota Banda Aceh maka nilai diambil 0,90.
Setelah diperoleh nilai persamaan maka didapat hasil kinerja ruas jalan arah Simpang BPKP-Lampineung sebesar 2650 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah:
Tabel 4 Kinerja Jalan
Derajat Kejenuhan
Berdasarkan derajat kejenuhan dihitung berdasarkan volume lalu lintas tertinggi untuk masing-masing arah sebagai berikut:
Arah Simpang BPKP-Lampineung DS = Q/C
= 1878/2650
= 0,71
Arah Lampineung-Simpang BPKP
= 2133/2570
= 0,83
Tabel 5 Derajat Kejenuhan
5. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Jalan P.Nyak Makam terletak di Kecamatan Syiah Kuala dengan lebar badan jalan 3,15 meter, dengan lebar bahu jalan 1 meter dan lebar trotorar 2 meter. Jalan 4 lajur 2 arah terbagi oleh median.
2. Dari hasil pengamatan langsung dilapangan dapat dilihat volume lalu lintas paling padat terjadi pada saat jam puncak 17.00-18.00 pada hari kamis untuk arah jalan Simpang BPKP-Lampineung sebesar 1878 SMP/Jam dan terendah pada hari kamis pukul 07.00- 08.00 sebesar 879 SMP/Jam arah Lampineung-Simpang BPKP volume lalu lintas paling padat terjadi pada saat jam puncak 16.00-17.00 pada hari senin sebesar 2133 smp/jam dan terendah pada hari kamis sebesar 828 smp/jam.
3. Hambatan samping paling padat terjadi pada saat jam puncak yaitu pukul 16.00-17.00 WIB pada hari senin untuk jalan Simpang BPKP-Lampineung sebesar 477,2
Kejadian/Jam dan arah Lampineung- Simpang BPKP sebesar 586,5 Kejadian/Jam.
4. Pada kondisi eksisting untuk kinerja ruas jalan, kondisi untuk ruas jalan Simpang BPKP-Lampineung masih memenuhi nilai derajat kejenuhan (DS) dengan nilai DS = 0,71 yang disyaratkan yaitu kurang dari 0,75.
5. Pada kondisi Lampineung-Simpang BPKP nilai derajat kejenuhan (DS) = 0,83 dimana sudah tidak memenuhi nilai yang disyaratkan yaitu 0,75.
6. Kinerja jalan arah Simpang BPKP- Lampineung 2650 smp/jam dan arah Lampineung-Simpang BPKP 2571 smp/jam.
Saran
Adapun saran yang dapat diambil dari permasalahan ini adalah sebagai berikut:
1. Diperlukan tingkat kesadaran masyarakat untuk tidak parkir atau berhenti dibahu jalan.
Petugas yang berwenang harus tetap waspada melarang keras dan menjatuhkan sanksi atas pelanggaran.
2. Untuk mengatasi nilai DS yang lebih besar yaitu 0,83 sebaiknya melakukan pelebaran jalan pada bahu jalan atau membuat tempat parkir diluar badan jalan.
DAFTAR PUSTAKA
Sukirman,1994. Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Jalan
Anonim, 1997. Pedoman teknik Penyelenggaraan Fasilitas Parkir,Departemen Perhubungan Direktur Jendral Perhubungan
Darat.
Manual kapasitas jalan Indonesia 1997, Direktorat Jendral Bina Marga, Departemen Pekerjaan umum RI, Jakarta.
Bukhari, 2004. Rekayasa Lalulintas, Bidang Studi Teknik Transportasi, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.
Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia, 2006, PP No.34 Tahun 2006 Tentang jalan, Jakarta
2009, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Dapertemen Perhubungan, Jakarta.
Sukirman,2010. Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya, No 13/83. Dirjen Bina Marga.
Ahmad Rizani,2013. Evaluasi Akibat Hambatan Jalan Akibat Hambatan Samping (studi kasus pada jalan Soetoyo Banjarmasin).
Politeknik Negeri Banjarmasin
Manual kapasitas jalan Indonesia 2014, Direktorat Jendral Bina Marga, Departemen Pekerjaan umum RI, Jakarta.
Anugerah Kurniawan Santoso dan Theresia Maria Candra Agusdini,2016 .Evaluasi Kinerja Jalan Akibat Hambatan Samping dijalan Raya Tanah Merah Bangkalan. Institut Teknologi Adhitama Surabaya
Anisa Zufira,2017. Evaluasi Hambatan Samping Terhadap Kinerja Ruas Jalan Prof.
A. Majid Ibrahim Punge Jurong Banda aceh.
Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh
Pinondang Benedictus Simbolon,2017.
Evaluasi Hambatan Samping Terhadap
Kinerja Ruas Jalan Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh
Dr. Ir. H.Darwis, M.Sc, 2018. Dasar-Dasar Mekanika Tanah. Pustaka AQ. Nyutrah Yogyakarta.
Septyanto Kurniawan dan Agus Surdono,2019. Analisis Pengaruh Hambatan Samping Terhadap Kinerja Ruas Jalan Brigjend Suuyono Kota Metro.