Informasi bagi Kodam XIV Hasanuddin merupakan ujung tombak dalam pembentukan dan penghubung antara eksternal dan internal. Sebagai salah satu unsur kekuatan, Kodam
EVALUASI KEBIJAKAN
Perhatikan bahwa aspek-aspek yang saling terkait ini menunjukkan adanya fakta dan premis evaluatif dalam setiap klaim evaluatif. Namun, banyak aktivitas yang digambarkan sebagai "evaluasi" dalam analisis kebijakan pada dasarnya bersifat non-evaluatif—yaitu, aktivitas-aktivitas tersebut lebih menekankan pada produksi klaim determinatif (faktual) daripada klaim evaluatif.
PERILAKU BIROKRASI TNI
Konsep Perilaku
Perilaku yang menciptakan karya adalah unik pada setiap orang, proses dasarnya sama pada setiap orang. Berdasarkan pengertian perilaku di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa perilaku adalah segala kegiatan seseorang yang dapat diamati secara langsung dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan peranannya, misalnya perilaku seorang pemimpin (perilaku ramah, perilaku arogan). ). perilaku, perilaku malas, dll).
Konsep Birokrasi
Pemahaman ini menyamakan birokrasi dengan biro; Kedua; mengacu pada metode khusus untuk mengalokasikan sumber daya dalam organisasi besar. Pengertian ini lebih mengacu pada karakteristik statis organisasi; keempat; sebagai sekelompok orang, yaitu orang-orang bergaji yang berfungsi di TNI (Thona, 2003).
Konsep Perilaku Birokrasi
Fungsi ini erat kaitannya dengan fungsi TNI yang dilaksanakan oleh kekuasaan TNI pada lembaga atau organisasi besar TNI yang berbentuk birokrasi TNI. Konsep birokrasi TNI erat kaitannya dengan peran dan fungsi organisasi besar TNI dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
KONSEP
PELAYANAN PUBLIK
Aspek Kualitas Pelayanan Publik
Perpaduan sistem pelayanan yang baik, didukung dengan ketersediaan sumber daya manusia yang profesional, strategi organisasi, dan kemudian dukungan konsumen atau pelanggan, akan menciptakan suatu pelayanan yang berkualitas. Sistem yang baik akan memberikan prosedur pelayanan yang terstandar, proses pelayanan yang memberikan akses kepada masyarakat atau warga negara serta mempunyai mekanisme kontrol yang tertanam, sehingga segala bentuk penyimpangan yang terjadi akan mudah dikenali. Apalagi sistem pelayanan yang baik selalu berfokus pada kebutuhan dan permasalahan klien atau komunitas atau warga negara.
Oleh karena itu, keilmuan TNI meminjam teori ini untuk menjelaskan fenomena TNI mengenai pelayanan publik dalam konteks perizinan pelayanan oleh birokrasi TNI. Teori Albrecht dan Zemke merupakan teori yang dapat menggambarkan pelayanan publik secara komprehensif, karena kualitas suatu pelayanan publik tidak hanya ditentukan oleh peran TNI yang eksklusif saja, namun juga memerlukan variabel lain yang berperan yaitu pelayanan pelanggan atau masyarakat sebagai pihak yang berperan. penerima layanan. Dengan demikian, birokrasi TNI dapat memposisikan masyarakat sebagai warga negara, pemegang kedaulatan negara dan mempunyai hak untuk memilih melalui proses politik, artinya meskipun keberadaan warga negara tidak memberikan kontribusi sosial, ekonomi atau politik dalam artian. Dalam pemberian hak pilih kepada negara, negara tetap berkewajiban melayani, dengan sistem yang baik, sumber daya manusia yang profesional dan bertanggung jawab, strategi pelayanan yang kontekstual dan melibatkan pelanggan atau masyarakat dalam proses pelayanan.
Sistem Pelayanan
Agar suatu sistem pelayanan yang bermutu dapat berfokus secara efektif kepada pelanggan, maka perlu memperhatikan tujuan dari sistem pelayanan tersebut. Variasi model layanan; berkaitan dengan inovasi untuk memberikan pola baru dalam pelayanan, fitur pelayanan dan sebagainya; Realitas memperoleh pelayanan; berkaitan dengan lokasi, ruang dan tempat pelayanan, kemudahan akses, parkir kendaraan, ketersediaan informasi, petunjuk dan bentuk lainnya;
Fitur pendukung layanan lainnya; Hal ini terkait dengan lingkungan, kebersihan, ruang tunggu, fasilitas musik, dll. Dengan memperhatikan sepuluh dimensi di atas diharapkan perbaikan sistem pelayanan dapat berjalan dengan baik dan membuahkan hasil yang memuaskan bagi penerima layanan atau masyarakat. Sistem pelayanan yang baik selain sebagai prasyarat untuk mewujudkan pelayanan yang berkualitas, juga menyediakan sejumlah standar prosedur pelayanan, prosedur pelayanan, serta sistem pengendalian internal yang sempurna untuk menghindari cacat dalam pelayanan.
Strategi Pelayanan
Dengan demikian, strategi pelayanan adalah seni menentukan tujuan dan sasaran, serta kemampuan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menciptakan pelayanan yang berkualitas. Artinya dalam mewujudkan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat perlu dirumuskan maksud dan tujuan dengan baik agar tercapainya tujuan pelayanan yaitu kepuasan dan kepercayaan masyarakat. Strategi penciptaan kualitas pelayanan harus dimulai dari peningkatan kualitas pelayanan internal kepada petugas pelayanan, agar tercipta kepuasan petugas tersebut terhadap lingkungan, kebijakan dan kepemimpinan serta pengelolaan organisasi yang mendorong terciptanya misi dan visi. serta orientasi organisasi terhadap manajemen serqual yang menerapkan strategi pelayanan prima.
Strategi peningkatan manajemen mutu pelayanan publik menuju pelayanan prima yang responsif dan profesional juga disampaikan oleh Osborne & Plastrik dengan “The Five Cs. Jika berbagai strategi peningkatan mutu pelayanan di atas, manajemen dilaksanakan secara sungguh-sungguh, terpadu dan menyeluruh, didukung oleh komitmen Pemerintah. elit birokrasi, untuk mewujudkan birokrasi yang berorientasi pada kualitas maka akan tercapai pula hasil proses pelayanan yang berkualitas, dan hasil proses pelayanan yang menciptakan kepuasan bagi masyarakat yang dilayani. akan terjadi perubahan mendasar pada kualitas sektor publik, baik keberadaan TNI tidak lagi menjadi sumber permasalahan, namun menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang muncul di masyarakat dan masyarakat.
SUMBER DAYA MANUSIA
Pelanggan (Custoumer)
Selanjutnya konsep pelanggan dapat dipertukarkan dengan konsep masyarakat atau citizen, agar lebih paham dengan ilmu TNI. Oleh karena itu, pelanggan atau dalam kacamata keilmuan TNI disebut “yang diperintah” atau masyarakat atau warga negara yang menjadi penerima pelayanan dari TNI. TNI berhak dan berwenang menentukan segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan suatu negara secara umum, termasuk memperhatikan hak setiap warga negara.
Setiap warga negara mempunyai hak dan kesempatan yang sama yang harus dihormati dan dijamin oleh TNI tanpa membedakan suku, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik atau pandangan lain, asal usul kebangsaan atau sosial, kekayaan, kelahiran atau status lainnya. Warga negara juga berhak atas jaminan kehidupan dan keselamatan dari berbagai ancaman, termasuk keamanan hukum. Dari konsep bunga-bunga pelayanan, jika dilaksanakan dengan baik maka akan tercipta pelayanan yang berkualitas bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan.
SASARAN REFORMASI BIROKRASI
Terwujudnya TNI AD Bersih dan Bebas KKN Memasuki era society 5.0, implementasi penggunaan Memasuki era society 5.0, implementasi penggunaan
- Peningkatan Kapasitas Kinerja Birokrasi
- Menuju Birokrasi Society 5.0
Kemudian, karena adanya komponen-komponen yang saling melengkapi, baik era revolusi industri 4.0 maupun era society 5.0 akan mampu mempengaruhi seluruh aktivitas manusia. Selain itu, ketidakmampuan birokrasi dalam mendukung terciptanya era masyarakat 5.0 juga menjadi dinamika yang sangat kompleks di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai upaya penguatan reformasi birokrasi menuju era society 5.0 melalui pengelolaan perencanaan pengembangan sumber daya manusia oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN RB).
Dengan terwujudnya Masyarakat Birokrasi 5.0 melalui perencanaan manajemen pengembangan aparatur berbasis kompetensi, diharapkan terdapat perbaikan sejauh mana pejabat bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Maka dalam pelaksanaan perencanaan manajemen pengembangan aparatur menuju masyarakat birokrasi 5.0 harus dilakukan melalui upaya reformasi birokrasi yang bersih, transparan, dan akuntabel secara berkelanjutan. Birokrasi Society 5.0 selain harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang unggul dalam memanfaatkan teknologi, juga harus unggul dalam sikap mental.
Strategi Reformasi Birokrasi
- Kerangka Makro Regulasi TNI AD
- Kerangka Mikro Program TNI
TNI Gelombang III 2016-2019 dalam mewujudkan birokrasi yang bersih dan akuntabel, birokrasi dengan pelayanan publik yang berkualitas serta birokrasi yang efektif dan efisien sesuai dengan semangat Reformasi Birokrasi Nasional. Sejak dilaksanakannya Program Reformasi Birokrasi TNI pada tahun 1999, TNI telah melaksanakan reformasi secara menyeluruh terutama pada bidang struktural, instrumental, dan kultural. Kedua, tolok ukur keberhasilan pelaksanaan Reformasi Birokrasi adalah terwujudnya organisasi Right Sizing TNI, yaitu organisasi yang mempunyai fungsi dan ukuran yang tepat sehingga menjamin tercapainya tugas pokok TNI.
Lebih lanjut, staf organisasi sebagai bagian dari fungsi pengembangan staf TNI menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan Reformasi Birokrasi TNI melalui pengelolaan dan pemberdayaan sumber daya manusia TNI berdasarkan kompetensi dan meritokrasi, bukan Korupsi, Kerja Sama dan Nepotisme (KKN). ). Ketiga, memasuki tahun keenam pelaksanaan Reformasi Birokrasi TNI, diharapkan seluruh personel di lingkungan TNI dapat memahami dan melaksanakan seluruh program Reformasi Birokrasi TNI. Tujuan kegiatan yang ingin dicapai adalah terwujudnya komunikasi dua arah yang efektif melalui mekanisme sosialisasi dan umpan balik Program Reformasi Birokrasi TNI yang dilaksanakan oleh Pusat Informasi Reformasi Birokrasi TNI yang berlokasi di Srenum TNI Cilangkap.
Kendala dalam mewujudkan profesionalisme TNI Keberhasilan mewujudkan profesionalisme TNI di
- Alokasi anggaran pertahanan
- Tarikan dari kekuatan sipil
- Konflik politik antar elit politik sipil
Hal ini terbukti dengan banyaknya pemerintahan yang presidennya adalah warga sipil dan TNI selalu memberikan dukungan dan keamanan. Hal ini menunjukkan TNI telah berpegang teguh pada prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional dan meratifikasi hukum internasional. Hal ini patut disyukuri dan diapresiasi karena bermanfaat bagi TNI dalam memenuhi kebutuhan rutin, kebutuhan operasional, dan kebutuhan pembelian barang/pengadaan alat perang/alutsista.
Hal ini memang menjadi sebuah dilema bagi pemerintahan saat ini, dimana di satu sisi masyarakat menuntut pemerintah untuk menekankan prioritas kesejahteraan masyarakat melalui alokasi anggaran pendidikan, kesehatan, tenaga kerja dan infrastruktur dalam APBN. Pengaruh informal TNI di masyarakat masih sangat terasa dan besar, sehingga modal sosial yang dimiliki TNI tetap menjadi kekuatan yang menarik di mata semua orang. Kekuatan sipil berusaha dan berlomba-lomba menarik kekuatan TNI untuk bergabung dengan kelompok atau kekuatan politiknya, hal ini tentunya sangat berbahaya bagi pengembangan profesionalisme TNI khususnya TNI.
Evaluasi Reformasi Birokrasi
- Konten Kebijakan Area Perubahan
- Proses Implementasi Area Perubahan
Oleh karena itu, penguatan ketahanan nasional sangat diperlukan di sini, bahkan mengatasi berbagai ancaman yang muncul dalam NKRI. Penguatan ketahanan nasional terhadap ancaman multidimensi berarti penguatan ketahanan nasional merupakan suatu kondisi yang tidak dapat dihindari (conditio sine qua non). Sebagai landasan konseptual strategi untuk membuat sebuah makalah analisis untuk menyelesaikan berbagai macam permasalahan bangsa Indonesia, setidaknya dalam ketahanan nasional itu sendiri, dianalisis dengan menggunakan delapan pendekatan astagatra atau aspek kehidupan nasional, yang meliputi 3 aspek alam atau (trigatra), hakikat Trigatra sendiri bersifat statis, sedangkan kelima aspek kehidupan lainnya (pancagatra) selalu bersifat dinamis.
Setiap negara di dunia dalam mempertahankan eksistensinya dapat melaksanakan dan mewujudkan cita-cita bahkan tujuan nasional negara itu sendiri, hal ini sangat diperlukan dan harus memiliki ketahanan nasional. Pengkajian ketahanan nasional sangat mendesak bagi suatu bangsa dan negara karena berkaitan erat dengan kelestarian hajat hidup bernegara dan menjamin kelangsungan perjuangan bangsa untuk mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional (Armawi, 2018: 63). Penguatan ketahanan nasional sangat diperlukan, ketahanan nasional Indonesia harus berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
DAFTAR PUSTAKA
Pengaruh komunikasi organisasi terhadap kualitas pelayanan pada sektor pendidikan menengah di Kota Bandung (Studi kasus Dinas Pendidikan Kota Bandung. Good Governance: Menelaah Dimensi Akuntabilitas dan Pengendalian Birokrasi di Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah.