1
EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN DI KECAMATAN KUBU,
KABUPATEN KARANGASEM
I Wayan Sedana
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2020
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, Berkat Rakhmat Nya Penelitan dan penulisan Karya ilmiah ‘ Evaluasi Kemampuan Lahan Untuk Prtanian Berkelanjutan di Kecamatan Kubu, Karangasem ‘ dapat terselesaikan dengan mengetahui faktor pembatas yang dapat menghabat npertumbuhan tanaman. Sehingga memudahkan dalam memberikan arahan penggunaan lahan sehingga dapat ditentukan pendekatan sesuai dengan permasalahannya, memperoleh peta kelas kemampuan lahan sebagai bahan informasi tentang sebaran potensi lahan di wilayah penelitian
Krieria yang digunakan untuk menentukan kelas kemampuan lahan menurut Arsyad,(1989) dimana lahan dikelompokkan menjadi delapan kelas dari kelas I sampai dengan Kelas VII didasarkan pada karakteristi dan kualitas lahan yang mencakup; sifat fisik,sifat kimiawi dan sifat biologi tanah.
Penulis menyadari bahwa penulisan ini belum sempurna, oleh karnanya kritik dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak sangat penulis harapkan.
Denpasar, Januari 2020
Penulis
3
DAFTAR ISI
Judul ... ... 1
Kata Pegantar ... 2
Daftar Isi ... 3
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 4
1.2 Tujuan Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanah dan Lahan ... 6
2.2. Sifat Sifat Dasar Tanah ... 10
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Identifikasi Kondisi Geografis ... 13
3.2 Methode Penelitian ... 13
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 13
4.1.1. Satuan Lahan ... 14
4.1.2. Kemampuan Lahan ... 24
4.2 Pembahasan ... 24
4.2.1. Kualitas Lahan ... 25
4.2.2. kelas Kemampuan Lahan ... 35
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 36
5.1. Kesimpulan ... 36
5.2. Saran ... 37
DAFTAR PUSTAKA ... 39
LAMPIRAN ... 41
4 I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Indonesia mempunyai pertanian lahan kering sekitar 111,4 juta ha atau 58.5% dari Luas seluruh daratan (Notohadiprawiro, 1989). Lahan kering di Bali khususnya cukup luas yaitu 15.721 ha, lahan kering ini tersebar sebagian besar di Kabupaten Jembrana, pantai utara Kabupaten Buleleng, Kecamatan Nusa Penida Kabupaten Klungkung, dan Kabupaten Karangasem. Kecamatan kubu merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan kering yang Luas di Kabupaten Karangasem (Bappeda Bali, 1989). Pertanian lahan kering mempunyai kondisi fisik dan potensi lahan sangat beragam dengan kondisi sosial ekonomi petani umumnya kurang mampu dengan sumberdaya lahan pertanian terbatas.
Selanjutnya Sudharto, dkk. (1995 dalam Syam dkk. 1996) mengemukakan bahwa lahan kering merupakan sumberdaya pertanian terbesar ditinjau dari segi luasnya, namun profil usaha tani pada agroekosistem ini sebagian masih diwarnai oleh rendahnya produksi yang berkaitan erat dengan rendahnya produktivitas lahan. Di beberapa daerah telah terjadi degradasi lahan karena kurang cermatnya pengelolaan konvensional dan menyebabkan petani tidak mampu meningkatkan pendapatannya
Sinukaban (1995) menegaskan bahwa didalam pengelolaan lahan tersebut hendaknya mencakup empat unsur yaitu : (1) perencanaan lahan yang sesuai dengan kemampuannya; (2) tindakan-tindakan khusus konservasi tanah dan air:
(3) menyiapkan tanah dalam keadaan olah yang baik; (4) menyediakan unsur hara yang cukup dan seimbang bagi tumbuhan. Lahan dengan kemampuan tinggi
5
diharapkan mempunyai potensi yang tinggi dalam berbagai penggunaan, sehingga memungkinkan penggunaan yang intensif untuk berbagai macam kegiatan.
Daerah penelitian merupakan lahan kering yang di dominasi penggunaan lahan tegalan seluas 10.750,21 ha tersebar sebagian besar di Desa Tianyar barat, Tianyar Tengah, Tianyar, Ban, Sukadana dan Kubu. Kebun campuran seluas 190,00 ha di Desa Tianyar Barat, dengan pengelolaan lahan secara tradisional tanpa disertai tindakan konservasi yang memadai. Akibat tidak adanya tindakan konservasi diduga telah terjadi penurunan produktivitas lahan didaerah penelitian (Kecamatan Kubu dalam angka 2017). Hal ini akan dapat mengancam penyediaan pangan dimasa yang akan datang.
Hal yang menjadi dasar pemilihan daerah penelitian ini adalah kurangnya data fisik tentang informasi dan potensi sumberdaya lahan pada tingkat semi detail pada daerah tersebut yang dapat digunakan sebagai informasi dalam menetukan penggunaan lahan yang sesuai dengan potensi lahan itu sendiri. serta faktor-faktor pembatas yang menjadi pembatas dalam penggunaan lahan sehingga dapat diketahui tindakan yang tepat untuk menanggulangi faktor-faktor pembatas tersebut.
1.2. Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan Penelitian adalah
Mengetahui Kelass Kemampuan Lahan dan mengetahui faktor pembatas di Daerah Penelitian.
6 II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kelas Kemampuan Lahan
Menurut Arsyad, (1989) kelas kemampuan lahan lahan dikelompokkan menjadi delapan kelas yaitu dari kelas I — Kelas VIII. Lahan Kelas I. Lahan kelas ini mempunyai sedikit hambatan yang membatasi penggunaannya. Lahan ini sesuai untuk berbagai penggunaan lahan pertanian mulai dari tanamari semusim dan tanaman pertanian pada umumnya, tanaman rumput, hutan dan cagar alam.
Pada lahan ini mempunyai kombinasi sifat dan kualitas yaitu (1) terletak pada topografi hampir datar (2) ancaman erosi kecil (3) mempunyai kedalaman efektif yang dalam (4) umumnya berdrainase baik (5) mudah diolah (6) kapasitas menahan air baik (7) subur atau responsif terhadap pemupukan (8) tidak terancam banjir (9) dibawah iklim setempat yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman umumnya, Di daerah beriklim kering yang sudah dibangun fasilitas irigasi, tanah ini dapat dimasukkan ke dalam kelas I jika mempunyai kombinasi sifat dan kualitas lahannya sesuai. Yang memungkinkan perbaikan dan pengelolaan pada awahiya. Tindakan ini dapat berupa pemupukan, dan pengapuran, penggunaan penutupan tanah dan pupuk hijau, penggunaan sisa-sisa tanaman dan pupuk kandang dan pergiliran tanaman.
Kelas II. Lahan dalam kelas ini mempunyai beberapa hambatan atau keragaman kerusakan yang mengurangi pilihan penggunaannya atau mengakibatkan adanya tindakan konservasi yang sedang. Lahan ini memerlukan pengelolaan yang hati-hati termasuk didalamnya tindakan-tindakan konservasi yang dapat menghambat kerusakan atau memperbaiki hubungan air dan udara jika
7
tanah diusahakan untuk pertanian. Hambatan pada kelas ini sedikit, dan tindakan yang diperlukan mudah diterapkan.
Hambatan atau ancaman kerusakan pada kelas ini adalah salah satu kombinasi dari pengaruh : (1) lereng yang landai (2) kepekaan erosi atau ancaman erosi sedang atau telah mengalami erosi sedang (3) kedalaman efektif agak dalam (4) struktur tanah dan day a olah agak kurang baik (5) salinitas ringan sampai sedang atau terdapat garam natrium yang mudah dihilangkan akan tetapi besar kemungkinan akan timbul kembali (6) kadang-kadang terkena banjir yang merusak (7) kelebihan air dapat diperbaiki dengan drainase, akan tetapi tetap ada sebagai pembatas yang sedang tingkatannya (8) keadaan iklim kurang sesuai bagi tanaman dan pengelolaan.
Tanah - tanah dalam kelas ini mempunyai pilihan penggunaan lahan yang kurang dan pengelolaan yang lebih berat dari tanah kelas I, dan pada tanah-tanah ini memerlukan sistem penanaman dan konservasi khusus, tindakan-tindakan pencegahan erosi, pengendalian air lebih atau metode pengolahan jika dipergunakan untuk tanaman semusim dan tanaman yang memerlukan pengolahan tanah.
Kelas III. Lahan pada kelas ini mempunyai hambatan yang berat yang mengurangi pilihan penggunaannya atau memerlukan tindakan konservasi khusus dan bisa juga keduanya. Lahan pada kelas ini mempunyai faktor pembatas yang sangat berat jika dipergunakan untuk tanaman yang memerlukan pengelolaan yang cukup baik. Tindakan konservasi yang diperlukan biasanya sulit diterapkan dan dipelihara, Lahan ini dapat dipergunakan untuk tanaman semusim dan
8
tanaman yang memerlukan pengolahan tanah, tanaman rumput padang rumput, hutan produksi, hutan lindung dan suaka margasatwa.
Hambatan yang terdapat pada lahan ini membatasi lama penggunaannya bagi tanaman semusim, waktu pengolahan, pilihan tanaman atau kombinasi dari pembatas pembatasnya. Hambatan atau ancaman yang disebabkan oleh beberapa hal ini adalah : (1) lahan mengalami erosi yang sangat berat (2) peka terhadap erosi atau telah mengalami erosi yang sangat berat (3) seringkali mengalami banjir yang merusak tanaman (4) lapisan bawah tanah yang berpermeabilitas lambat (5) kedalaman efektif yang dangkal terhadap batuan, lapisan padas keras (hardpan), lapisan padas rapuh (fragipan) atau lapisan Hat padat yang membatasi perakaran dan simpanan air (6) kapasitas menahan air rendah (7) terlalu basah atau masih terus jenuh air setelah didrainase (8) salinitas atau kandungan natrium sedang (9) hambatan iklim yang agak besar.
Kelas IV. Hambatan dan ancaman kerusakan, pilihan penggunaan serta tanaman lebih terbatas pada lahan ini lebih besar dari pada tanah-tanah pada kelas III. Jika dipergunakan untuk tanaman semusim perlu adanya pengelolaan yang lebih hati-hati dan tindakan konservasi yang sulit untuk diterapkan dan dipelihara, seperti teras bangku, saluran bervegetasi, dan dam penghambat, di samping tindakan yang dilakukan untuk memelihara kesuburan dan kondisi fisik tanah.
Lahan dalam kelas ini dapat dipergunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian pada umumnya, tanaman rumput, hutan produksi, padang pengembalaan, hutan lindung atau suaka alam.
9
Adanya hambatan atau ancaman kerusakan tanah-tanah di dalam kelas ini disebabkan oleh salah satu atau kombinasi faktor-faktor antara lain: (1) lereng yang miring atau berbukit, (2) kepekaan erosi yang besar (3) pengaruh bekas erosi agak berat yang telah terjadi (4) tanahnya dangkal (5) kapasitas menahan air yang rendah (6) sering tergenang yang mengakibatkan kerusakan berat pada tanaman (7) kelebihan air bebas dan ancaman penjenuhan terus terjadi setelah didrainase (8) salinitas atau kandungan natrium yang tinggi (9) keadaan iklim yang kurang menguntungkan.
Kelas V. Lahan pada kelas ini tidak terancam erosi tetapi mempunyai hambatan lain yang tidak praktis untuk dihilangkan sehingga membatasi pilihan penggunaannya, sehingga hanya sesuai untuk tanaman rumput, padang pengembalaan, hutan produksi atau hutan lindung dan suaka alam. Lahan pada kelas ini mempunyai macam hambatan penggunaan, tanaman dan pengeloiaan tanah. Pada umumya lahan ini terletak pada topografi datar atau hampir datar tetapi tergenang oleh air, sering terlanda banjir, atau berbatu-batu atau iklim yang kurang sesuai atau mempunyai kombinasi hambatan tersebut.
Kelas VI. Lahan pada kelas ini mempunyai hambatan yang berat sehingga tanah ini tidak sesuai dipergunakan untuk lahan pertanian. Penggunaannya terbatas untuk tanaman rumput atau padang pengembalaan, hutan produksi atau hutan lindung dan cagar alam. Lahan pada kelas ini mempunyai pembatas atau ancaman kerusakan yang tidak dapat dihilangkan berupa salah satu atau kombinasi berikut: (1) terletak pada lereng agak curam (2) ancaman erosi berat (3)
10
telah tererosi berat (4) mengandung garam laut atau natrium (5) berbatu-batu (6) daerah perakaran sangat dangkal (7) iklim yang tidak sesuai.
Kelas VII. Lahan pada kelas ini tidak sesuai untuk budidaya pertanian, Jika dipergunakan untuk padang rumput atau hutan produksi harus dilakukan dengan usaha pencegahan erosi yang berat. Lahan pada kelas ini yang solum tanahnya dalam dan tidak peka erosi jika dipergunakan untuk tanaman pertanian harus dibuat teras bangku yang ditunjang dengan cara vegetatif untuk konservasi tanah, di samping tindakan pemupukan. Tanah-tanah pada kelas ini mempunyai hambatan-hambatan atau ancaman kerusakan yang tidak dapat dihilangkan seperti: (1) terletak pada lereng yang curam (2) telah tererosi sangat berat berupa erosi parit (3) daerah perakaran sangat dangkal.
Kelas VIII. Lahan pada kelas ini tidak sesuai untuk budidaya pertanian, tetapi lebih sesuai untuk dibiarkan dalam keadaan alami. Lahan ini bermanfaat sebagai hutan lindung, tempat rekreasi atau cagar alam. Ancaman atau kerusakan pada lahan ini berupa : (1) terletak pada lereng yang sangat curam (2) berbatu (3) kapasitas menahan air rendah.
2.2. Subkelas Kemampuan Lahan
Pengelompokan dalam subkelas berdasarkan jenis faktor penghambat atau ancaman kerusakan. Jadi subkelas adalah pengelompokkan unit kemampuan lahan yang mempunyai jenis hambatan atau ancaman dominan yang sama jika dipergunakan untuk pertanian sebagai akibat sifat-sifat tanah, relief, hidrologi, dan iklim. Beberapa lahan terancam erosi jika tidak dilindungi sedangkan lainnya
11
secara alami selalu tergenang atau kelebihan air yang haras di drainasekan agar dapat ditanami. Lahan yang dangkal atau mudah kekeringan atau mempunyai kekurangan-kekurangan lain. Ada juga lahan yang terletak didaerah yang mempunyai iklim sedemikian rupa sehingga membatasi penggunaan tanah tersebut.
Terdapat beberapa jenis hambatan atau ancaman yang diketahui pada subkelas yaitu: ancaman erosi yang ditandai dengan huraf (e); keadaan drainase atau kelebihan air atau ancaman banjir ditandai dengan huruf (w); hambatan daerah perakaran ditandai dengan huruf (s); dan hambatan iklim ditandai dengan huruf (c), Subkelas menunjukkan kepada pemakai peta informasi tentang derajat dan jenis hambatan. Kelas kemampuan I tidak mempunyai subkelas.
Hambatan atau ancaman yang disebabkan oleh bahaya erosi, kelebihan air, kedangkalan, batuan, kapasitas menahan air yang rendah, salinitas atau kandungan garam, dapat dirubah atau sebagian dapat diatasi dan merupakan pembatas yang didahulukan dan pada iklim dalam menentukan subkelas.
Jika dua jenis penghambat yang dapat dirubah atau diperbaiki beruratan, maka penetapan subkelas dilakukan menurut prioritas berikut : e, w, s. Jika suatu lahan atau sejumlah lahan didaerah beriklim basah mempunyai ancaman erosi dan pembatas kelebihan air, maka lahan tersebut dimasukkan ke dalam subkelas e, jika suatu lahan mempunyai pembatas drainase dan keterbatasan daerah perakaran maka lahan tersebut di masukkan kedalam keias w. Pengelompokan lahan di daerah beriklim agak basah dan agak kering yang kebetulan mempunyai ancaman erosi dan hambatan iklim maka lahan tersebut digolongkan ke dalam subkelas e,
12
dan lahan yang mempunyai hambatan perakaran dan hambatan iklim maka tanah tersebut digolongkan ke dalam subkelas s.
Jika di perlukan untuk di dalam peta, kedua hambatan yang terdapat pada suatu lahan, maka hambatan yang dominan ditulis lebih dahulu. Hambatan prioritaslah yang dipergunakan dalam ringkasan penjelasan subkelas.
2.3. Satuan Kemampuan Lahan
Satuan kemampuan memberikan informasi yang lebih spesifik untuk setiap bidang lahan dari pada subkelas. Satuan kemampuan adalah pengelompokan lahan yang sama atau hampir sama kemampuannya bagi tanaman dan memerlukan pengelolaan yang sama atau memberikan tanggapan yang sama terhadap masukan pengelolaan yang diberikan. Tanahnya mungkin tergolong dalam sen tanah yang berbeda. Lahan yang dikelompokkan di dalam satuan kemampuan yang sama hams cukup seragam dalam sifat-sifat tanah dan lingkungan yang mempengaruhi kualitas lahan sehingga mempunyai potensi dan hambatan yang sama. Lahan didalam suatu satuan kemampuan hams cukup seragam dalam (a) produksi tanaman pertanian atau rumput dibawah tindakan pengelolaan yang sama. (b) kebutuhan akan tindakan konservasi dan pengelolaan yang sama dibawah vegetasi penutup yang sama, dan (c) mempunyai produktivitas potensial yang setara (perbedaan hasil rata-rata dibawah sistem pengelolaan yang sama tidak boleh lebih dari 25 %).
13 III. METODOLOGI
3.1 Deskripsi Daerah Penelitian
Secara administratif Kecamatan Kubu berbatasan dengan : sebelah utara berbatasan dengan Selat Lombok, di sebelah selatan bersebelahan dengan Kecamatan Bebandem, Kecamatan Selat, dan Kecamatan Abang, di sebelah barat bersebelahan dengan Kecamatan Selat, di sebelah timur berbatasan dengan Selat Lombok. Letak geografis Kecamatan Kubu yaitu : 8° 00' 00” sampai 8° 28' 45.4”
LS dan 115° 37' 17,8” sampai 115° 48' 30,8” BT.
3.2. Metode Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan metode survei lapangan dengan pendekatan satuan lahan. Pengambilan sampel tanah dilakukan secara statified purposif dengan satuan lahan sebagai stratumma. Jumlah sampel yang diambil secara purposif disesuaikan dengan luas satuan lahan pada daerah penelitian,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil
Data hasil penelitian diperoleh dari hasil pengamatan yang dilakukan di lapangan dan analisis sampel tanah yang dilakukan di laboratorium. Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk Tabel berupa karakteristik satuan lahan (Tabel 1), karakteristik lahan (Tabel 2), kriteria klasifikasi kemampuan lahan (Tabel 3), kelas subkelas kemampuan lahan (Tabel 4)
14 4.1.1 Satuan Lahan
Satuan lahan pada daerah penelitian digunakan sebagai satuan pemetaan terkecil yang dibatasi berdasarkan tumpang susun dari Peta lereng, Peta tanah dan Peta penggunaan lahan. Pembagian satuan lahan dalam penelitian ini tidak termasuk penggunaan lahan pemukiman dan pekarangan
Tabel 1. Karakteristik Satuan Lahan Daerah Penelitian
No Kode Satuan Lahan Lereng
(%) Tanah Penggunaan Lahan Luas (ha) 1 V 1 1 1 1 3 III C Kc 8-15 C Kebun campuran 86,48
2 V.I, 1.1.3,2 II BKc 3-8 B Kebun campuran 103,52
3 V.I. 1.1. 1.3V FTg 30-45 F Tegalan 879,86
4 V.3.2 III DTg 8-15 D Tegalan 553,50
5 V.1.1.1.1.3IV ETg 15-30 E Tegalan 613,26
6 VI 1 1 3 2 II A Tg 3-8 A Tegalan 913,26
7 V 1 1 1 1 3 IV E Tg 15-30 E Tegalan 661,36
8 V.3.2VD Tg 30-45 D Tegalan 558,26
9 V.I. 1.1. 2.3 III GTg 8-15 G Tegalan 837,26
10 V.3.2 II A.Tg 3-8 A Tegalan 1.122,00
11 V.3.2IV D.Tg 15-30 D Tegalan 516,95
12 V.I. 1.1.1 .3 IICTg 3-8 C Tegalan 511,09
13 V 1 1 1 1 3 m C Tg 8-15 C Tegalan 506,76
14 V.1.1.1.3.2IIATg 3-8 A Tegalan 954,24
15 V.I. 1.1.3 .2 II A 3-8 _ A Pasir kosong/proyek 689,04
16 V.I. 1.1 3 2IVATg 15-30 A Tegalan 718,88
17 V.I. 1.1.3.2 II A Tg 3-8 A Tegalan 714,48
Total 10.940,21
Keterangan:
Satuan Bentuk lahan
V. 1.1.1.1.3 : Lereng atas volkan sangat tertoreh V. 1.1.1.2.3 : Lereng tengah volkan sangat tertoreh V. 1.1.1.3.2 : Lereng bawah volkan cukup tertoreh V.3.2 : Aliran lahar muda agak tertoreh
15 Kelas Kemiringan Lereng:
II : 3-8% VI :45-65% IV : 15-30%
III :8-15% V :30-45%
a. Lereng atas volkan sangat tertoreh (V.1.1.1.1.3)
Berdasarkan famili tanah dan penggunaan lahannya, satuan bentuk lahan ini dibedakan menjadi 6 satuan lahan yaitu:
1) V.l.1.1.1.3 III C Kc. Satuan lahan ini meliputi luasan 86,48 ha dengan karakteristik : lereng berkisar dari 8% - 15% (agak miring atau bergelombang), famili tanah Typic Ustivitrands bersinder, Isohipertermik, penggunaan lahannya kebun campuran. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir berlempung, permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 70 cm, kadar bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi berat,
2) V.l.1.1.1.3 IV E Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 613,36 ha dengan karakteristik : lereng 15% - 30% (miring atau berbukit), famili tanah Typic Ustivitrands bersinder, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan.
Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir berlempung, permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 100 cm, kadar bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi sedang.
3) V.I. 1.1.1.3 V F Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 879,86 ha dengan karakteristik: lereng 30% - 45% (agak curam), famili tanah Typic Ustivitrands bersinder, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan dengan sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir berlempung, permeabilitas tanah
16
agak cepat kedalaman tanah 25 cm, kadar bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi sangat berat.
4) V.I. 1.1.1.3 IV E Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 661,36 ha dengan karakteristik : lereng 15% - 30% (miring atau berbukit), famili tanah Typic Ustivitrands bersinder, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan.
Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir berlempung, permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 100 cm, kadar bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi sedang.
5) V.I. 1.1.1.3 II C Tg, Satuan lahan ini meliputi luasan 511,09 ha dengan karakteristik : lereng 3% - 8% (landai atau berombak), famili tanah Typic Ustivitrands bersinder, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan dengan sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir lempung, permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 70 cm, kadar bahan organik rendah dan tingkat bahaya erosi berat.
6) V.I. 1.1.1.3 III C Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 506,76 ha dengan karakteristik : lereng 8% - 15%, famili tanah Typic Ustivitrands bersinder, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir berlernpung, permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 75 cm, kadar bahan organik rendah dan tingkat bahaya erosi berat.
b. Lereng tengah volkan sangat tertoreh (V.I.1.1.2.3)
Berdasarkan penggunaan lahan dan famili tanahnya, pada satuan bentuk lahan ini terdapat 1 satuan lahan (V.I. 1.1.2.3 III G Tg). Satuan lahan ini meliputi
17
luasan 837,26 ha dengan karakteristik : lereng 8% - 15% (agak miring atau bergelombang), famili tanah kompleks Typic Udivitrands, berabu vulkanik, Isohipertermik. Lithic Ustivitrands, skletal berabu vulkanik diatas fragmental atau bersinder, penggunaan lahan tegalan. Sifat fisik tanahnya : tekstur tanah pasir berlernpung, permeabilitas tanah agak cepat, kedalaman tanah 70 sampai 100 cm, kadar bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi sedang.
c. Lereng bawah volkan cukup tertoreh (V.l.1.1.3.2)
Berdasarkan famili tanah dan penggunaan lahannya, satuan bentuk lahan ini dibedakan menjadi 6 satuan lahan yaitu:
1) V.l.1.1.3.2 II B Kc. Satuan lahan ini meliputi luasan 103,52 ha dengan karakteristik : lereng 3% - 8%, famili tanah Thaptic Ustivitrands, bersinder diatas medial, isohipertermik Typic Ustivitrands bersinder, Isohipertermik, penggunaan lahan kebun campuran. Sifat fisik tanahnya:
tekstur tanah lempung berpasir, permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 100 cm, kadar bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi sedang.
2) V.I. 1.1.3.2 II A Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 913,26 ha dengan karakteristik : lereng 3% - 8%, famili tanah Kompleks Thaptic Ustivitrands bersinder di atas medial, isohipertermule. Thaptic Ustivitrands, bersinder diatas skletal medial, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah lempung berpasir,
18
permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 80 sampai kadar bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi berat.
3) V.I. 1.1.3.2 II A Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 954,24 ha dengan karakteristik : lereng 3% - 8%, famili tanah Kompleks Thaptic Ustivitrands bersinder di atas medial, isohipertermule. Thaptic Ustivitrands, bersinder diatas skletal medial, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah lempung berpasir, permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 80 sampai 100 cm, kadar bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi berat.
4) V.I. 1.1.3.2 II A. Satuan lahan ini meliputi luasan 689,04 ha dengan karakteristik : lereng 3% - 8%, famili tanah Kompleks Thaptic Ustivitrands bersinder di atas medial, isohipertermule. Thaptic Ustivitrands, bersinder diatas skletal medial, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah lempung berpasir, permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 100 cm, kadar bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi sedang.
5) V.I. 1.1.3.2 II A Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 714,48 ha dengan karakteristik : lereng 3% - 8%, famili tanah Kompleks Thaptic Ustivitrands bersinder di atas medial, isohipertermule. Thaptic Ustivitrands, bersinder diatas skletal medial, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah lempung berpasir, permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 100 cm, kadar bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi sedang.
19
6) V.I. 1.1.3.2 IV A Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 718,88 ha dengan karakteristik : lereng 15% - 30% (miring atau berbukit), famili tanah kompleks Thaptic Ustivitrands bersinder di atas medial, isohipertermule.
Thaptic Ustivitrands, bersinder diatas skletal medial, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir berlempung, permeabilitas tanah agak cepat kedalaman tanah 70 cm, kadar bahan organik rendah dan tingkat bahaya erosi berat.
d. Aliran lahar muda agak tertoreh (V.3.2)
Berdasarkan famili tanah dan penggunaan lahannya, satuan bentuklahan ini dibedakan menjadi 4 satuan lahan yaitu:
1) V.3.2 III D Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 553,50 ha dengan karakteristik : lereng berkisar 8% - 15% (agak miring atau bergelombang), farnili tanah Typic Ustivitrands, bersinder, Isohipertermik. Lithic Ustivitrands, bersinder diatas skletal medial, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir berlempung, kedalaman tanah 32 cm, kandungan bahan organik sangat rendah, permeabilitas tanah agak cepat dan tingkat bahaya erosi sangat berat.
2) V.3.2 V D Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 558,26 ha dengan karakteristik : lereng berkisar 30% - 45% (agak curam), famili tanah Typic Ustivitrands, bersinder, Isohipertermik. Lithic Ustivitrands, bersinder diatas skletal medial, Isohipertermik, penggunaan lahan
20
tegalan. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir berlempung, kedalaman tanah 10 cm, kandungan bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi sangat berat.
3) V.3.2 IV D Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 516,95 ha dengan karakteristik : lereng berkisar 15% - 30% (miring atau berbukit), famili tanah Typic Ustivitrands, bersinder, Isohipertermik. Lithic Ustivitrands, bersinder diatas skletal medial, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir berlempung, kedalaman tanah 100 cm, kandungan bahan organik rendah dan tingkat bahaya erosi sedang.
4) V.3.2 II A Tg. Satuan lahan ini meliputi luasan 1.122,00 ha dengan karakteristik : lereng berkisar 3% - 8% (berombak), famili tanah kompleks Thaptic Ustivitrands bersinder di atas medial, isohipertermule.
Thaptic Ustivitrands, bersinder diatas skletal medial, Isohipertermik, penggunaan lahan tegalan. Sifat fisik tanahnya: tekstur tanah pasir berlempurig, kedalaman tanah 40 cm, kandungan bahan organik sangat rendah dan tingkat bahaya erosi sangat berat.
.
21
Tabel 2. Karakteristik/Kualitas lahan Daerah Penelitian
Satuan lahan
Struktur
Tanah Tekstur
Salinitas/ke garaman (mm
h os/cm)
Bah an
organik (%) Permeabilitas cm/jam Kedalaman
Tanah (cm) Drainase Ston ines (%)
Rock out crop (%)
Bahaya
Banjir Lereng (%) Kepekaan Erosi (K)
Tingkat Erosi (ton/ha/th)
1 GM Ls 1,86 (SR) 0.9 (SR) 12,5 (agak cepat) 75 (S) Balk 2 1 b0 8-15 0,491 (T) B
2 GM Ls 1,86(SR) 0.9 (SR) 12,5 (agak cepat) 100 (D) Baik 0 0 b0 3-8 0,491 (T) S
3 GM Ls 1,86 (SR) 0.9 (SR) 12,5 (agak cepat) 25 (SD) Baik 10 15 b0 30-45 0,491 (T) SB
4 GB Ls 1.86(SR) 0.9 (SR) 1 2,5 (agak cepat) 32 (Dg) Baik 15 20 b0 8-15 0,491 (T) SB
5 GR Ls 1,86(SR) 0.9 (SR) 1 2,5 (agak cepat) 100(D) Baik 0 0 b0 15-30 0,407 (AT) S
6 GM Ls 1,86 (SR) 0.9 (SR) 12,5 (agak cepat) 80 (S) Baik 5 10 b0 3-8 0,407 (AT) B
7 GR Ls 1,86 (SR) 0.9 (SR) 12,5 (agak cepat) 100 (D) Baik 2 2 b0 15-30 0,407 (AT) S
8 GM Ls 1,22(SR) 0.9 (SR) 12,5 (agak cepat) 10 (Dg) Baik 60 30 b0 30-45 0,491 (T) SB
9 GB Ls 1,22(SR) 0.9 (SR) 1 2,5 (agak cepat) 125 (D) Baik 2 3 b0 8-15 0,491 (T) S
10 GB Ls 1,22(SR) 0.9 (SR) 12,5 (agak cepat) 40 (Dg) Baik 20 2 b0 3-8 0,491 (T) SB
11 GM Ls 1,3(SR) 1.8(R) 12,5 (agak cepat) IO()(D) Baik 10 2 b0 15-30 0,483 (T) S
12 GM Ls 1,3 (SR) 1.8(R) 12,5 (agak cepat) 75 (S) Baik 70 70 b0 3-8 0,483 (T) B
13 GR Ls 1,3 (SR) 1.8(R) 12,5 (agak cepat) 70 (S) Baik 80 70 b0 8-15 0,399 (AT) B
14 GB Ls 1,3 (SR) 1.8(R) 12,5 (agak cepat) 80 (S) Baik 60 50 b0 3-8 0,483 (T) B
15 GR Ls 1,12(SR) 1.8(R) 12,5 (agak cepat) 100 (D) Baik 90 40 b0 3-8 0,399 (AT) S
16 R Ls 1,12(SR) 1.8(R) 12,5 (agak cepat) 70 (S) Baik 75 10 b0 15-30 0,44 1 (T) B
17 GR Ls 1,12(SR) 1.8(R) 12,5 (agak cepat) 100 (D) Baik 60 20 b0 3-8 0,399 (AT) S
Keterangan :
LS : Sandy Loam S : Sedang Dg : Dangkal SD : Sangat dangkal D : Dal am T : Tinggi AT : Agak Tinggi B : Berat
SB : Sangat Berat GR : Granuler
e : Erosi R : Remah
t : Tekstur p : Permeabilitas b : Batuan b0 : Tidak ada banjir GM : Gumpal Menyudut GB : Gumpal Membulat
21
22
Berdasarkan hasil tabulasi dan analisis data terlihat bahwa sifat fisik tanah seperti : tekstur tanah pada seluruh satuan lahan adalah pasir berlempung; struktur tanahnya berkisar dari gumpal bersudut, gumpal membulat, granuler, dan remah;
Permeabilitas tanah tergolong agak cepat; Kandungan bahan organik berkisar antara sangat rendah sampai rendah; Drainase tanah pada semua satuan lahan tergolong baik; Batuan lepas di permukaan berkisar antara tidak ada, sedikit, sedang, dan banyak; Singkapan batuan berkisar antara tidak ada, sedikit. sedang, dan banyak; Ancaman banjir keseluruhan satuan lahan tergolong tidak terjadi/
tidak ada; Lereng permukaan berkisar antara berombak 3% - 8%), bergelombang (8% - 15%), agak berbukit (15% - 30%), dan agak curam (30% - 45%); Kepekaan erosi berkisar antara tinggi sampai agak tinggi; Tingkat bahaya erosi berkisar antara sedang, berat, sampai sangat berat, dari hasil yang diperoleh pada label 2, kemudian disesuaikan dengan kriteria klasifikasi kemampuan lahan Tabel 3.
23
Tabel 3. Kriteria Kelas Kemampuan Lahan
No
Faktor Penghambat Pembatas Lereng
Permukaan
Kepekaan Erosi
Tingkat Erosi
Kedalaman Tanah
Tekstur
Tanah Permeabilitas Drainase Rock Out
Croop Stoneniners Ancaman E^anjir
Kelas Kemampuan
Lahan
1 C KE5 e4 k1 t4 P4 d1 b0 b1 O0 VIe
2 B KE5 e2 k0 t4 P4 d1 b0 b0 O0 IVp
3 E KE5 e5 k2 t4 P4 d1 b2 b2 O0 VIIe
4 C KE5 e5 k2 t4 P4 d1 b2 b3 O0 VIIe
5 D KE4 e2 k0 t4 P4 d1 b0 b0 O0 IVtp
6 B KE4 e4 k1 t4 P4 d1 b1 b2 O0 VIe
7 D KE4 e2 k0 t4 P4 d1 b1 b1 O0 HIe
8 E KE5 e5 k3 t4 P4 d1 b2 b3 O0 VIIe
9 C KE5 e2 k0 t4 P4 d1 b1 b1 O0 IIIKE
10 B KE5 e5 k2 t4 P4 d1 b1 b0 O0 VIIe
11 D KE5 e2 k0 t4 P4 d1 b1 b2 O0 VIb
12 B KE5 e4 k1 t4 P4 d1 b3 b3 O0 VIeb
13 C KE4 e4 k1 t4 P4 d1 b3 b3 O0 VIeb
14 B KE5 e4 k1 t4 P4 d1 b2 b3 O0 VIeb
15 B KE4 e2 k0 t4 P4 d1 b2 b4 O0 VIIIb
16 D KE5 e4 k1 t4 P4 d1 b2 b3 O0 VIe
17 B KE4 e2 k0 t4 P4 d1 b2 b3 O0 Vb
Sumber: Arsyad(1989)
23
24 4.1.2. Kemampuan Lahan
Kemampuan lahan dalam penelitian diklasifikasikan sampai tingkat subkelas. Pada tingkat kelas dapat dibedakan menjadi 6 kelas, yaitu kelas III, IV, V, VI,VII dan VIII. Sebagai faktor pembatas pada tingkat subkelas adalah : kepekaan erosi (KE), tingkat erosi yang sangat berat (e), permeabilitas (p), dan batuan lepas di permukaan atau singkapan batuan (b).
Tabel 4. Kelas, Subkelas Kemampuan Lahan dan Faktor Pembatas Satuan
Lahan
Kelas Kemampuan Lahan
Sub-kelas
Kemampuan Faktor Pembatas
1 VI Vie Erosi
2 IV IVp permeabilitas
3 VII VIIe Erosi
4 VII VIIe Erosi
5 IV IVp permabilitas
6 VI VIe Erosi
7 III IIIe Erosi
8 vn VIIe Erosi
9 in IIIke Kepakaan erosi
10 VII VIIe Erosi
11 IV IVb Batuan lepas
12 VI VIeb Erosi, Singkapan batuan
13 VI VIeb Erosi, Batuan lepas
14 VI Vleb Erosi, Batuan lepas
15 VIII VIIIb Batuan lepas
16 VI VIe Erosi
17 V Vb Batuan lepas
4.2 Pembahasan
Pada sub-bab ini di bahas hubungan informasi dari berbagai aspek hasil penelitian, sehingga dalam penyajiannya dikelompokkan sesuai urutan tertentu yang mengacu pada tujuan penelitian.
25 4.2.1 Evaluasi Kualitas Lahan
Sesuai dengan kriteria karakteristik lahan yang dipakai sebagai penentu kelas kemampuan lahan dalam penelitian ini, maka karakteristik lahan yang diamati meliputi: tekstur, struktur, permeabilitas. bahan organik, kedalaman tanah, drainase, batuan lepas, singkapan batuan, ancaman banjir, lereng permukaan, kepekaan erosi dan tingkat erosi.
Tekstur Tanah
Tekstur merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kapasitas tanah untuk menahan air dan permeabilitas tanah.
Pasir dan debu, disebut juga fraksi non aktif yang biasanya dengan bahan- bahan lain membentuk kerangka tanah. Liat disebut sebagai fraksi aktif dan merupakan fraksi terpenting di dalam tanah karena mempunyai ukuran yang lebih kecil sehingga Hat menunjukkan permukaan efektif yang lebih besar dibandingkan dengan pasir dan debu (Kartasapoetra, 2000).
Tekstur tanah pada daerah penelitian tergolong kedalam tekstur pasir berlempung mengakibatkan kapasitas tanah untuk menahan air kecil dan permeabilitas tanahnya tergolong agak cepat. Hal ini disebabkan karena tekstur pasir berlempung mempunyai pori-pori makro lebih banyak dibandingkan pori- pori mikronya.
Tekstur tanah turut menentukan tata air dalam tanah yaitu berupa kecepatan infiltrasi, permeabilitas dan kemampuan tanah untuk menahan air.
Untuk menentukan apakah terjadi aliran permukaan atau tidak adalah sangat
26
bergantung pada dua sifat tanah yaitu kapasitas infiltrasi dan permeabilitas tanah.
Bila kapsitas infiltrasi dan permeabilitas besar seperti pada tanah pasir yang mempunyai kedalaman lapisan kedap yang dalam, walaupun dengan curah hujan yang lebat, kemungkinan untuk terjadi aliran permukaan kecil sekali. Sedangkan tanah yang bertekstur halus atau sangat halus akan menyerap air sangat lambat, sehingga dengan curah hujan yang cukup rendah pun akan menimbulkan aliran permukaan dan erosi dapat terjadi (Saifuddin Sarief, 1985; Asdak, 1995). Untuk mengatasi tekstur tanah ini dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik atau pemberian mulsa yang berguna mempertahankan air dan unsur hara.
Struktur Tanah
Struktur tanah adalah susunan agregat-agregat primer tanah secara alami menjadi bentuk tertentu atau menjadi agregat-agregat yang lebih besar yang dibatasi oleh bidang-bidang tertentu. Selanjutnya Foth (1994) mengemukakan bahwa Struktur berhubungan dengan agregasi partikel utama tanah menjadi partikel senyawa, atau kelompok partikel utama yang dipisahkan dari agregat yang berdekatan dengan permukaan yang lemah. Susunan agregat-agregat primer tersebut menentukan tipe Struktur. Tanah-tanah yang berstruktur kersai atau granuler lebih terbuka atau sarang dan akan meluluskan air lebih cepat dari pada yang berstruktur dengan susunan agregat yang lebih rapat.
Struktur tanah dapat dibagi dalam Struktur makro dan mikro. Struktur makro yaitu penyusunan agregat-agregat tanah satu dengan yang lainnya.
Sedangkan Struktur mikro ialah penyusunan butir-butir primer tanah kedalam
27
butir-butir majemuk/ agrgat-agregat yang satu sama lain di batasi oleh bidang- bidang belah alami.
Pengamatan di lapangan menunjukkan Struktur tanah yang beragam yaitu gumpal menyudut, gumpal membulat, dan granuler/remah. Perubahan sifat-sifat tanah di pengaruhi oleh kandungan bahan organik serta penutupan lahan, tidak adanya penambahan bahan organik maupun in organik yang menyebabkan perakaran tanaman rendah dengan fakta yang terjadi akar tanaman pada daerah penelitian sebagian besar menonjol keluar. Perakaran sangat erat kaitannya dengan struktur tanah, karena perakaran dapat membantu dalam memecahkan agregat-agregat tanah bersama mikroorganisme.
Struktur mempunyai pengaruh penting terhadap terjadinya erosi. Utomo (1985) mengatakan bahwa agregat tanah terbentuk karena adanya flokulasi serta bahan semen untuk mengikat butiran-butiran tanah. adanya flokulasi disebabkan sifat fisika dan kimia Hat, yaitu liat yang jenuh dengan ion-ion Ca dan Mg akan terflokulasi sedangkan yang jenuh dengan ion-ion Na akan terdispersi. Calsium dan magnesium serta basa bervalensi dua lainnya berfungsi juga sebagai pengikat.
Selain itu adanya bahan pengikat butir-butir primer sehingga terbentuk agregat yang mantap yang disebabkan oleh mycelia jamur dan actinomycetes.
Menurut Arsyad (1989), ada dua aspek struktur yang penting dalam hubungannya dengan erosi. (1) sifat-sifat fisik-kimia liat yang menyebabkan terjadinya flokulasi. (2) adanya bahan pengikat butir-butir primer sehingga terbentuk agregat yang mantap. Jadi pembentukan struktur yang mantap dipengaruhi oleh jenis kation yang teradsorbsi liat dan juga karena adanya bahan
28
pengikat (bahan semen). Selain tersebut di atas mycelia jamur dan actinomicetes juga dapat mengikat butir-butir primer mehjadi agregat-agregat yang lebih stabil.
Menurut Anna, dkk., 1997, struktur gumpal menyudut banyak terdapat pada horizon A dan B. Proses pembentukan struktur remah (granulasi) pada tanah tidak dapat terjadi dengan baik tanpa ada bahan organik. Bahan organik mengikat dan mereggangkan agregat sehingga memperbesar jumlah pori butir agregat tanah
Bahan Organik
Tumbuh-tumbuhan merupakan sumber utama bahan organik tanah.
Banyak tidaknya Vegetasi penutup tanah mempengaruhi seresah dari tanaman dan daya kerja akar. Kurangnya vegetasi penutup lahan menyebabkan daya kerja akar dan serasah sangat sedikit, sehingga aktivitas mikrobiologi akan terganggu, yang mengakibatkan kesuburan tanah akan rendah dan produksi dari tanaman akan turun. Fungsi lain dari akar tanaman dapat mendorong granulasi, karena gaya mekanis akar memecahkan gumpalan padat.
Berdasarkan hasil analisis kandungan bahan organik, pada lokasi penelitian bahan organiknya tergolong rendah sampai sangat rendah. Rendahnya bahan organik di sebabkan oleh rendahnya persentase tanaman penutup lahan, kurangnya penambahan bahan organik ke dalam tanah sehingga kurang tersedianya bahan organik dalam tanah. Rendahnya kandungan bahan organik secara alami dapat menyebabkan ketersediaan hara rendah. Tinggi rendahnya kandungan bahan organik dalam tanah akan berpengaruh terhadap kepekaan tanah terhadap erosi.
29
Bahan organik yang belum melapuk (masih dalam bentuk daun atau ranting-ranting) dapat melindungi tanah dari kekuatan perusak oleh butir-butir hujan yang jatuh ke permukaan tanah. Bahan organik yang telah melapuk mempunyai kemampuan menyerap air dan menahan air yang tinggi sehingga dapat mengurangi aliran permukaan, meningkatkan infiltrasi, memantapkan agregat tanah dan akhirnya mengurangi erosi (Asdak, 1995). Bahan organik yang rendah bahkan sampai sangat rendah menyebabkan kepekaan tanah terhadap erosi tinggi karena tidak mampatnya struktur tanah.
Presentase vegetasi penutupan lahan sangat jelas mempengaruhi kandungan bahan organik dalam tanah, sedangkan faktor iklim (suhu dan curah hujan) berpengaruh pada aktivitas jasad renik/mikroorganisme tanah dalam aktivitasnya menguraikan bahan organik. Dengan meningkatnya suhu maka laju kegiatan jasad renik/mikroorganisme dan penguraian bahan organik akan meningkat pula.
Permeabilitas
Permeabilitas tanah adalah cepat lambatnya air merembes ke dalam tanah dengan arah horizontal maupim vertikal. Dengan kata lain permeabilitas tanah adalah cepat lambatnya tanah meloloskan air ke dalam keadaan jenuh (Karma Iswasta Eka, 2003).
Hasil analisis sampel tanah menunjukkan bahwa permeabilitas tanah pada daerah penelitian keseluruhannya tergolong agak cepat. Hal ini dipengaruhi oleh tekstur tanah daerah penelitian (pasir berlempung) sehingga pori-pori makro yang
30
mendominsi. banyaknya pori-pori makro yang memungkinkan melewatkan air juga semakin cepat.
Permeabilitas merupakan kemampuan tanah untuk meneruskan air atau udara, terserapnya air oleh tanah tergantung dengan teksturnya, terutama pori-pori makro dan mikro sangat menentukan cepat lambatnya kelulusan air, banyaknya udara mengalir melewati suatu benda dalam satu satuan waktu dan dengan luas permukaan tebal, dan tekanan standar (Karma Iswasta Eka, 2003).
Kedalaman efektif tanah
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan diketahui pada daerah penelitian kedalaman efektif tanahnya berkisar yaitu: dangkal (25 - 50 cm), sedang (50 - 90 cm) dan dalam (lebih dari 90 cm). Pengaruh kedalaman tanah yaitu sebagai tempat berjangkarnya akar tanaman, oleh karena itu semakin dalam kedalaman tanah maka tempat berjangkarnya akar tanaman semakin dalam. Juga berpengaruh pada erosi makin dalam kedalaman tanahnya maka makin banyak air yang diserap sehingga aliran permukaan dapat dikurangi
Drainase Tanah
Drainase adalah pembuangan kelebihan air dan mempunyai tujuan untuk memperbaiki tata udara dan pencucian garam-garam tanah. Dalam arti keadaan air lebih, drainase menunjukkan frekuensi dan lamanya tanah bebas dari air lebih dan mencerminkan kecepatan air lebih keluar dari tanah. Cara mengeluarkan air tanah dapat berupa aliran permukaan atau melalui aliran ke bawah di dalam profil tanah.
31
Salah satu contoh tujuan drainase terdapat dalam bidang kehutanan yaitu menurunkan permukaan air tanah untuk menaikkan kedalaman perakaran (Foth, 1994).
Berdasarkan pengamatan di lapangan pada daerah penelitian menunjukkan drainasenya tergolong baik. Drainase yang baik menunjukkan peredaran udara dan tata airnya baik.
Salinitas Tanah
Salinitas tanah dinyatakan dalam kandungan garam terlarut. Garam menimbulkan perlawanan pada penyerapan air oleh tanaman, karena garam mereduksi potensial total dari air. Secara umum tanaman tidak memerlukan kandungan kadar garam yang tinggi, hal ini akan menyebabkan akar tanaman rusak.
Pengaruh buruk garam-garam bagi tanaman umumnya secara tidak langsung, yaitu peningkatan tekanan osmotik pada air tanah sehingga menyulitkan tanaman menyerap air terutama pada perakaran. Jadi efeknya sama pada tanah dalam keadaan kering (Nurhajati, 1986). Didaerah penelitian salinitas tanahnya tergolong sangat rendah sehingga tidak bersifat sebagai pembatas.
Batuan
Batuan berupa bahan kasar yang terdapat pada lapisan tanah atau di atas tanah permukaan tanah yang berukuran diatas 2 mm. Batuan di atas permukaan tanah dibedakan menjadi 2 macam yaitu : (1) batuan lepas adalah batuan yang
32
tersebar diatas permukaan tanah (stone), dan (2) singkapan batuan adalah batuan yang tersingkap di atas permukaan tanah, atau bagian dari batuan besar yang terbenam di dalam tanah tapi masih ada yang muncul ke permukaan tanah.
Penyebaran batuan lepas di permukaan tanah dikelompokkan sebagai berikut : b0 : tidak ada (kurang dari 0,01% areal/permukaan tanah tertutup batuan), bt : sedikit (0,01% sampai 3% permukaan tanah tertutup), b2 : sedang (3% sampai 15% permukaan tanah tertutup), b3 : banyak (15% sampai 90%
permukaan tanah tertutup), dan b4: sangat banyak (lebih dari 90% permukaan tanah tertutup)
Sedangkan penyebaran singkapan batuan (rock out crop) dikelompokkan sebagai berikut : bo : tidak ada (kurang dari 2% permukaan tanah tertutup), bi : sedikit (2% sampai 10% permukaan tanah tertutup), b2 : sedang (10% sampai 50% permukaan tanah tertutup), b3: banyak (50% sampai 90% permukaan tanah tertutup), dan b4 : sangat banyak (lebih dari 90% permukaan tanah tertutup).
Hasil pengamatan di lapangan batuan lepas berkisar dari tidak ada sampai sangat banyak (0 - 90%), sedangkan singkapan batuan berkisar dari tidak ada sampai banyak (0 - 70%). Walaupun demikian tanaman bisa tumbuh disela-sela bebatuan, karena lahannya mempunyai kedalaman sedang sampai dalam masih dapat ditanami tanaman keras atau tanaman hutan, misalnya : jati, mangga dan sebagainya.
33 Kemiringan dan Panjang Lereng
Kemiringan lereng merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kecepatan dan volume limpasan permukaan. Menurut Arsyad (1989) dan Utomo (1994) faktor topografi yang berperan pada proses erosi meliputi kemiringan lereng yang dinyatakan dalam satuan derajat atau persen, panjang lereng dengan satuan meter dan bentuk lahan (konfigurasi, keseragaman, dan arah lereng).
Makin curam lereng atau makin tinggi presentase kemiringan lereng, makin tinggi kecepatan aliran permukaan. Lereng yang makin curam dapat menyebabkan waktu yang digunakan untuk infiltrasi makin singkat akibatnya volume limpasan permukaan makin besar. Jadi artinya dengan makin curamnya lereng maka erosi yang terjadi semakin besar.
Asdak (1995) mengemukakan bahwa kedudukan lereng juga menentukan besar kecilnya erosi. Lereng bagian bawah lebih mudah tererosi dari pada lereng bagian atas karena momentum air limpasan lebih besar dan kecepatannya lebih terkonsentrasi ketika mencapai lereng bawah.
Panjang lereng, dihitung mulai dari titik pangkal aliran permukaan sampai suatu titik di mana air masuk ke dalam saluran atau kemiringan lereng berkurang sedemikian rupa sehingga kecepatan aliran air berubah. Berdasarkan beberapa penelitian bahwa makin panjang lereng maka makin besar pula kecepatan aliran permukaan sehingga pengikisan terhadap permukaan tanah yang dilewati makin besar. Kecepatan aliran air permukaan dalam jumlah banyak akan menambah daya kikis dan daya angkutnya (Kartasapoetra, 1988)
34
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan diketahui kemiringan lereng di daerah penelitian berkisar antara berombak (3-8%), bergelombang (8-15%), berbukit (15-30) sampai agak curam (30-45%) dengan nilai LSnya berkisar 2,50 sampai 30. Nilai LS pada suatu lahan dapat dihitung dengan persamaan:
LS = (0,00138 + 0,00965S + 0,00138S2)
Dimana: L = panjang lereng (m) S = kecuraman lereng (%).
Bahaya Banjir
Daerah penelitian dikategorikan tidak ada banjir karena dilihat dari bentuk wilayahnya yang berombak sampai agak curam dan tidak adanya sungai-sungai besar. Jika terjadi hujan lebih maka kemungkinan yang terjadi longsor lahan karena banyaknya alur-alur drainase dan penutupan lahan yang jarang.
Kepekaan Erosi (Nilai K)
Utomo (1989) dan Kartasapoetra (2000) mengemukakan kepekaan tanah terhadap erosi menunjukkan mudah atau tidaknya tanah mengalami erosi.
Kepekaan erosi ditentukan oleh: kandungan bahan organik, tekstur, struktur dan penneabilitas tanah. Wischmeier (1959) mengatakan kepekaan erosi tanah menunjukkan besarnya erosi yang terjadi dalam ton hektar tiap tahun, dari tanah yang terletak pada keadaan baku, dalam keadaan bera, tanpa tanaman atau tindakan konservasi tanah lainnya.
35
Kepekaan erosi dihitung berdasarkan rumus Wischmeier & Smith.
Berdasarkan hasil perhitungan kepekaan erosi daerah penelitian tergolong agak tinggi sampai tinggi. Nilai K dapat dihitung dengan persamaan:
100 K = {2,713(M)1,14 (10 -4) (12 -1,724 x a/100) + 3,25 (b - 2) + 2,5 (c - 3)}
Dimana : M = Parameter ukuran besar butir a = % bahan organik
b = Nilai struktur tanah c = Nilai permeabilitas tanah
Tingkat Erosi
Proses erosi oleh air merupakan kombinasi dua sub proses, yaitu (1) penghancuran struktur tanah menjadi butir-butir primer oleh energi tumbuk butir- butir hujan yang menimpa tanah, (2) perendaman oleh air yang tergenang dan pemindahan diikuti pengangkutan butir-butir tanah oleh air yang mengalir dipermukaan. Faktor yang mempengaruhi erosi adalah erosivitas, erodibilitas.
4.2.2 Kelas Kemampuan Lahan
Kelas/ sub kelas kemampuan lahan diperoleh dari hasil matching antara karakteristik lahan dengan kriteria klasifikasi kemampuan lahan. Berdasarkan hasil matching tersebut maka kelas kemampuan lahan daerah penelitian tergolong kelas III, IV, V, VI, VII dan VIII. Hampir sebagian besar satuan lahan mempunyai faktor pembatas utama adalah erosi dan batuan. Disamping erosi dan batuan lepas/singkapan batuan permeabilitas juga menjadi pembatas. Faktor pembatas permeabilitas dan batuan lepas maupun singkapan batuan terdapat pada satuan
36
unit lahan 2, 5, 9, 11, 15 dan 17. Kelas III dengan pembatas erosi (e) terdapat pada satuan lahan 7. Kelas VI dengan pembatas erosi (e) terdapat pada satuan lahan 1, 6, dan 16. Kelas VII dengan faktor pembatas erosi (e) terdapat pada satuan lahan 3, 4, 8, dan 10. Kelas III dengan pembatas kepekaan erosi (KE) terdapat pada satuan lahan 9. Kelas IV dengan faktor pembatas permeabilitas terdapat pada satuan lahan 2, dan 5. Kelas IV dengan faktor pembatas batuan lepas (b) terdapat pada satuan lahan 11. Kelas V dengan faktor pembatas batuan lepas (b) terdapat pada satuan lahan 17. Kelas VI dengan faktor pembatas erosi (e) dan singkapan batuan terdapat pada satuan lahan 12. Kelas VI dengan faktor pembatas erosi (e) dan batuan lepas (b) terdapat pada satuan lahan 13 dan 14. Kelas VIII dengan faktor pembatas batuan lepas (b) terdapat pada satuan lahan 15.
Faktor pembatas erosi merupakan pembatas utama dan mendominasi daerah penelitian. Tingginya tingkat erosi di daerah penelitian disebabkan oleh : rendahnya kandungan bahan organik, presentase penutupan lahan rendah dan tindakan pengelolaan lahan yang kurang baik.
Faktor pembatas erosi ini dapat diatasi dengan pembuatan terasering, tanaman penguat teras, pemberian mulsa dan penambahan bahan organik.
Sedangkan untuk faktor pembatas batuan dapat diatasi dengan penanaman tanaman keras.
V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
37
1. Lahan pada daerah penelitian mempunyai kelas kemampuan lahan dari kelas III. IV, V, VI, VII. dan VIII. dengan subkelas erosi (e). kepekaan erosi (KE). permeabilitas (p). dan batuan lepas/singkapan batuan.
2. Alternatif arahan pengelolaan lahannya digunakan untuk kawasan penyangga seluas 2568,33 meliputi satuan lahan 3, 5, 8, 11, dan 16.
Tindakan konservasinya berupa pembuatan terasering dengan tanaman penguat teras. penanaman dengan sistem tanam lorong bukit dengan penanaman tanaman kayu/hutan. dan penambahan bahan organik.
Budidava tanaman tahunan seluas 3,364,14 ha meliputi satuan lahan 1, 4, 7, 9, dan 13. Tindakan konservasinya berupa pembuatan terasering, penanaman tanaman penutup tanah, pemulsaan dan penambahan bahan organik. Budidava tanaman semusim seluas 5007,63 ha meliputi satuan lahan 2, 6, 10, 12, 14, 15, dan 17. Tindakan konservasinya berupa terasering, pergiliran dan pengaturan jarak tanam, penanaman penutup lahan, pemulsaan dan penambahan bahan organik.
5.2 Saran
Dari hasil penelitian ini dapat disarankan antara lain:
1. Perlu adanya tindakan konservasi tanah yang memadai untuk menekan tingkat bahaya erosi yang menjadi pembatas utama di daerah penelitian.
38
2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mencari pola-pola penggunaan/pengelolaan lahan yang paling tepat sesuai dengan faktor- faktor pembatas yang dimilikinya.
39
DAFTAR PUSTAKA
Adnayana Sandi, Made Sri Sumarniasih. Made Trigunasih. Nyoman Puja, Wiyanti dan Wayan Diara. 2001. Diktat Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Udayana.
Denpasar.
Anna K. Pairunan Yulius, Nanere J. L, Arifin, Solo S. R. Samosir. Romualdus Tangkaisari, Lolapua J. R, Ibrahim Bachrul, Hariadji Asmadi. 1997.
Dasar-Dasar Ilmu Tanah^Badan Kerjasama Perguraan Tinggi Negeri Indonesia Timur (PKS-PTN-INTIM). Ujung Pandang.
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press Bogor,
Asdak, C. 1995. DAS Sebagai Satuan Monitoring dan Evaluasi Lingkungan.
Seminar Sehari PERSAKI. 21 Desember 1995. Jakarta.
Bappeda, 1989.
Biro Pusat Statistik, 1989.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Karangasem. 200-2001 Data Statistik Penggunaan Lahan Di Kbupaten Karangasem.
FAO. 1995. Resource Management for Upland Area in Southeast Asia. Rapa Publication.
Fletcher, I. R dan R. G. Gibb. 1990. Pedoman Survey sumber Daya Lahan Untuk Perencanaan Konservasi Tanah di Indonesia Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Jakarta.
Foth Henry D. 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit” Erlangga”. Jakarta.
Hakim, Nurhayati, Yusuf Nyakpa, AM Lubis, Sutopo Ghani Nugroho, Rusdi Saul, Amindiha, Go Ban Hong dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.
Hardjowigeno. S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis^ Penerbit Akademika Pressindo. Jakam,
Harijogjo. 1980 Salah Satu Tehnik Menghitung Erodibilitas Tanah (Nilai K) Dengan Menggunakan Alat Bantu Komputer^ Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertaniatv Bogor.
Kartasapoetra. A. G. 1989. Kerusakan tanah Pertanian dan Usaha Untuk Merehabilitasinya. Bina Aksara Jakarta.
Kartasapoetra. A. G. 2000. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Penerbit
“Rineka Cipta”. Jakarta.
Karma Iswasta Eka. 2003. Manajemen Air. (?)
Mahfudz, 2001. Peningkatan Produktivitas Lahan Kritis Untuk Pemenuhan Pangan Melalui Usahatani Konservasi. Makalah Falsafah Sains (PPs 702) Program Pasca Sarjana/S3, Institut Pertanian Bogor.
Notohadiprawiro. 1989. Pertanian Lahan Kering di Indonesia : Potensi Prospek, Kendala dan Pengembangannya. Makalah Lokakarya Evaluasi Pelaksanaan Proyek Pengembangan Palawija SFCDP-USAID Bogor. 6-8 Desember 1989. 19 h.
Rahim Suplai Efendi. 2000. Pengendali Erosi Tanah Dalam Rangka Pelestarian Lingkungan Hidup. Bumi Aksara Jakarta.
40
Saifuddin Sarief, 1985. Beberapa Data dan Masalah Pengawetan Tanah dan Air, Faperta-UNPAD, Bandung.
Sitorus, Santun R. P. 1985. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Penerbit “Tarsito”
Bandung,
Sinukaban, N. 1995. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Bahan Kuliah pada Program Pascasarjana, IPB, Bogor.
Supraptoharjo, 1964. Kesesuaian Lahan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Syam, A, K. Kariyasa, E. Sujitno dan Z. Zaini. 1996. Presiding Lokakarya Evaluasi Hasil Penelitian Usahatani Lahan Kering, 1997. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Bogor.
Utomo Wani Hadi. 1985. Diktat Dasar-Dasar Fisika Tanah. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
Wischmeier, W. H. and D. D. Smith. 1949. Predicting Rainfall Erosion Losses.
US. Dept. Agric. Handbook. No. 537
41 LAMPIRAN
Lampiran 1. Parameter Ukuran Besar Butir (nilai M) (Hamer, 1981)
Kelas Tekstur Nilai M Kelas Tekstur Nilai M
Liat berat Liat
Liat berpasir
Lempung Hat berpasir Liat berdebu
Lempung berliat Pasir
210 750 1215 2160 2510 2830 3035
Pasir berlempung Lempung liat berdebu Lempung berpasir Lempung
Lempung berdebu Debu
3245 3770 4005 4390 6330 8245
*) Digunakan untuk pendugaan apabila data analisa besar butir hanya 3 fraksi atau berdasarkan pengamatan lapang
Lampiran 2. Klasifikasi Struktur Tanah (Arsyad, 1989)
Struktur Tanah (ukuran diameter) Kelas
Granuler sangat halus (<1 mm) Granuler halus (1-2 mm)
Granuler sedang sampai kasar (2-10 mm) Berbentuk blok, bloky, plat, masif
1 2 3 4 Lampiran 3. Klasifikasi Permeabilitas Tanah (Arsyad, 1989)
Kelas Permeabilitas Kecepatan (cm/jam) Kode
Lambat Agak lambat
Sedang Agak cepat
Cepat
<0,5 0,5 - 2,0 2,0 - 6,25 6,25 - 12,5
>12,5
5 4 3 2 1 Lampiran 4. Klasifikasi Nilai Erodibilitas (K) (Arsyad, 1989)
Kelas Nilai K Harkat
1 2 3 4 5 6
0,00-0,10 0,11-0,20 0,21-0,32 0,33 - 0,40 0,44 - 0,55 0,56 - 0,64
Sangat rendah Rendah Sedang Agak tinggi
Tinggi Sangat tinggi