Nama : Corry Marnita Elizabeth Situmorang NIM : F0321072
Kelas : Akuntansi C
Tugas : OBTAIN A CASE OF ETHICAL BREACH (ASEAN COUNTRIES)
Kasus PT. Great River International dan KAP Johan Malonda dan Rekan (Akuntan Justinus)
A. Profil Perusahaan
PT Great River International merupakan perusahaan pakaian jadi berkualitas tinggi dan terkemuka di Indonesia.Didirikan pada tahun 1976 oleh Sukanta Tanudjaja dan Sunjoto Tanudjaja dengan nama PT Great River Garments Industries, dengan karyawan 150 orang. Perusahaan ini memproduksi celana dalam wanita dan pria, baju dan celana untuk pria, serta juga memproduksi pakaian anak-anak. Perusahaan juga bekerja sama dengan PT the Triumph International, Amo, dan Nina Capiona.
PT Great River juga mendistribusikan produkproduknya melalui sekutu dan anak perusahaan pemasaran dan distribusi unit, dan gerai lainnya. Distribusi terutama di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Peningkatan-peningkatan telah di alami oleh PT Great River. Menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri, meningkatnya karyawan hingga ribuan karyawan. Mendirikan anak perusahaan yaitu PT Inti Fasindo
Internasional untuk menangani usaha distribusi dan retail.
B. Kronologi Kasus
Terjadi kejatuhan yang amat mendalam pada tahun 2006 Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melimpahkan kasus penyajian laporan keuangan PT Great River International Tbk. ke kejaksaan tinggi. Ketua Bapepam Fuad Rahmany menyatakan telah menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan perusahaan tekstil tersebut. “Dalam kasus Great River ini, akuntan dengan emitennya terlibat konspirasi,” katanya. Bapepam menyidik akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan Great River tahun buku 2003. Bapepam juga sudah menetapkan empat anggota direksi Great River sebagai tersangka, termasuk pemiliknya, Sunjoto Tanudjaja.
Penyidikan berdasarkan hasil pemeriksaan adanya indikasi penipuan dalam penyajian laporan keuangan. Pasalnya, BAPEPAM menemukan kelebihan pencatatan atau overstatement penyajian account penjualan dan piutang dalam laporan tersebut.
Kelebihan itu berupa penambahan aktiva tetap dan penggunaan dana hasil emisi obligasi yang tanpa pembuktian. Ketua Bapepam Fuad Rahmany menyatakan penyidikan menemukan adanya indikasi konspirasi manajemen Great River dengan akuntan publik dalam menyajikan laporan keuangan.
Kasus Great River sendiri mencuat ke publik seiring terjadinya gagal bayar obligasi yang diterbitkan perusahaan produsen pakaian tersebut. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengindikasikan terjadi praktik overstatement (pernyataan berlebihan) penyusunan laporan keuangan yang
melibatkan auditor independen, yakni akuntan publik Justinus Aditya Sidharta. Badan
Pengawas Pasar Modal menemukan adanya kejanggalan dalam transaksi perdagangan saham PT Great River International Tbk. Kejanggalan ditemukan setelah pengawas pasar modal itu melakukan pemeriksaan atas dugaan perdagangan semu
(manipulasipasar) saham Great River. Kepala Biro Pemeriksaan dan Penyidikan Abraham Bastari mengungkapkan, dalam pemeriksaan dugaan manipulasi pasar tersebut, Bapepam telah menemukan ada satu nasabah atau pembeli (investor) saham Great River yang fiktif Sejak mengalami gagal bayar bunga obligasi, GRI belum mendapatkan investor yang bersedia menyuntikkan dana segar untuk membiayai operasi perusahaan. Akibatnya, Great River kesulitan arus kas. Suspensi itu sendiri ditetapkan menyusul kegagalan Great River untuk membayar bunga obligasi sebesar Rp 11 miliar yang telah jatuh tempo.
Belakangan diketahui bahwa utang perusahaan itu mencapai Rp 600 miliar.
Setelah melewati serangkaian penyelidikan, Sunjoto Tanudjaja, bos PT Great River, ditetapkan sebagai tersangka. Dia dianggap menabrak sejumlah aturan. Salah satunya mengemplang utang Bank Mandiri. Kepada wartawan beberapa waktu lalu mantan Direktur Utama Bank Mandiri E. C. W. Neloe mengatakan, total utang PT Great River kepada Bank Mandiri mencapai Rp 250 miliar. Utang itu terdiri dari obligasi Great River senilai Rp 50 miliar dan pinjaman Rp 200 miliar. Sunjoto Tanudjaja selaku pemengang saham PT Great River telah melarikan diri dan
menghilang ditengah kerisauan yang terjadi pada PT Great River
C. Analisa Pelanggaran Kasus PT Great River
Yang terjadi pada PT Great River adalah salah satu kecurangan yang terjadi yang dilakukan oleh Akuntan dan pihak Management yaitu akuntan publik yang bernama Justinus Aditya Sidharta dan pemilik PT Great River yaitu Sunjoto Tanudjaja. Pencatatan pengelembungan dana yang telah dilakukan oleh PT Great River telah membuat banyak orang yang seperti pemerintah, bank, pemegang saham, dan parakayawan pada PT Great River merasakan akibatnya sekarang. Seperti yang kita tahu Justinus adalah external auditor dari PT Great River. Seharusnya sebagai akuntan publik, harus memegang teguh prinsip-prinsip atau butir-butir yang ada pada IAI ( Ikatan Akuntan Indonesia). Tidak memihak pada perusahaan dan tidak memihak pada pihak external. Bersikap objektif dengan laporan keuangan yang ada. Seringkali disini timbul permasalahnya. Karena adanya pressure dari pihak management dengan menawarkan sejumlah dana untuk memuluskan laporan keuangan yang diaudit.
Akuntan mulai tertarik dengan imbalan yang diberikan dan melakukan kecurangan yang tidak bertetika. Seharusnya para akuntan publik selain mempunyai skill yang baik, seharusnya mempunyai karakter yang baik pula agar profesinya selaras dengan aturan-aturan yang ada pada IAI.
Hal-hal yang telah dilanggar oleh Justinus Aditya Sidharta yang telah menjadi rekan kerja PT Great River selama beberapa tahun adalah:
- Tidak bersifat objektif. Justinus tidak bersifat objektif dalam pengauditan laporan keuangan PT Great River. Seharusnya sebagai akuntan publik harus objektif tidak memihak pada PT Great River atau pihak external maupun kepentingan pribadi.
Pada kasus ini Justinus bertidak subjektif dengan membenarkan penggelembugan dana yang terjadi, memihak pada perusahaan.
- Integritas dan Kepentingan Publik. Laporan keuangan yang telah diaudit adalah untuk pihak external perusahaan. Jadi serharusnya laporan keuangan itu
berdasarakan apa yang terjadi pada perusahaan tersebut tidak boleh merekayasa laporan keuangan. Apa yang telah dilakukan Justinus merugikan pihak luar yaitu para pemegang saham yang membeli saham PT Great River di Bursa Efek, pemerintah (pajak), dan para karyawan yang bekerja di PT Great River.
- Profesional. Justinus tidak profesional pada profesinya sebagai akuntan publik.
Karena adanya kasus ini membuat profesi akuntansi dipandang sebelah mata oleh masyarakat dan menurunnya kepercayaan publik terhadap profesi akuntasi.
Seharunya Justinus menjunjung tinggi profesinya agar profesi akuntan mendapat kerpercayaan penuh oleh masyarakat