R R egionalisme egionalismeSebagai implementasi Arsitektur Berkelanjutan
ARSITEKTUR ARSITEKTUR NUSANTARA NUSANTARA
01 Arsitektur Nusantara-Kelas F
PENDAHULUAN
Raisha Cana P. W/215060501111038 egionalisme dalam arsitektur merupakan sebuah perkembangan
PEMBAHASAN
G
ejala pada perkembangan Arsitektur Indonesia akibat pengaruh globalisasi dan universalisasi semakin jelas terlihat penurunannya. Dimana penerapan bentuk dan detail yang semakin minimalis tanpa adanya makna filosofis yang memaknai atau melatar belakangi dibalik pengaplikasian estetika pada suatu desain.Selain itu, seiring dengan perkembangan zaman, hal- hal khusus yang bersifat sakral, dan esensial semakin pudar. Bahkan, perkembangan yang pesat tersebut mampu mengubah tatanan kehidupan tanpa memerdulikan batas-batas geografis. Tak jarang pula, perkembangan arsitektur saat ini hanya mementingkan juga masih sangat jarang menerapkan konsep keberlanjutan sehingga tidak memiliki ketanggapan dalam mengarungi perkembangan zaman.
Arsitektur nusantara pun semakin dipertanyakan identitasnya sebagai “cerminan” kekayaan Arsitektur di Indonesia, seiring dengan berkembangnya zaman yang semakin modern.
Salah satu upaya untuk tetap merelevansikan arsitektur nusantara dengan perkembangan zaman sebagai strategi penanggulangan pengaruh globalisasi dan universalisasi adalah melalui penerapan regionalisme pada arsitektur sebagai implementasi arsitektur berkelanjutan.
R
NILAI KELOKALAN ATAU KESETEMPATAN
NILAI KESEMESTAAN
arsitektur yang memperhatikan karakteristik regional yang erat kaitannya dengan aspek budaya, iklim dan teknologi pada saat itu.Regionalisme dalam arsitektur memiliki dua nilai sebagai syarat atau kriteria yang harus dipenuhi.
Nilai Kesemestaan merujuk pada konsep keuniversalan dimana erat kaitannya dengan alam semesta. Konsep kesemestaan sejatinya merupakan hubungan manusia dengan alam semesta tempat yang ditinggalinya. Hal ini juga mengharuskan adanya hubungan antara kelokalan hingga membentuk suatu hubungan keuniversalan
Nilai Kesetempatan merujuk pada konteks lokalitas yang seringkali dicirikan dengan identitas. Dimana di setiap tempat, daerah, region atau wilayah pastinya memiliki persona dari banyak sudut atau aspek, mulai dari struktur, konstruksi, material, detail bangunan dan banyak hal lainnya yang menjadi sebuah keunikan dan kekhasan yang mampu memberikan identitas terhadap wilayah yang dilingkupinya,
ARSITEKTUR ARSITEKTUR
NUSANTARA NUSANTARA
rsitektur Nusantara sebagai cerminan kekayaan
ARSITEKTUR ARSITEKTUR
BERKELANJUTAN BERKELANJUTAN
Selain memiliki nilai-nilai diatas, Arsitektur Nusantara memiliki makna diakronik yang berasal dari bahasa Yunani, diimana "dia"
artinya melintas, melampaui, melalui dan
"chronos" artinya waktu.
Dalam sudut pandang arsitektur, makna diakronik dalam Arsitektur Nusantara berarti makna yang berhubungan dengan waktu atau proses dan sejarah. Dari hal tersebut, dapat disimpulkan secara bahasa sederhana, bahwa Arsitektur Nusantara merupakan karya yang
02 Arsitektur Nusantara-Kelas F
Arsitektur di Indonesia dinilai sudah tepat dan memenuhi
A
kedua kriteria dari regionalisme pada arsitektur, dikarenakan parameter di dalam arsitektur Nusantara sejalan dengan parameter dalam regionalisme Arsitektur, antara lain, yaitu ;
NILAI KELOKALAN / KESETEMPATAN
Masing-masing tempat, daerah, region di Indonesia1.
memiliki kekhasannya masing yang menjadikan arsitektur tersebut unik dan menarik dari sudut pandang penggunaan bahan, penyelesaian baik struktur, konstruksi maupun detail bangunan dengan implementasi sentuhan penyelesaian yang beragam sesuai pengetahuan, potensi, dan kearifan lokal masing-masing daerah yang menunjukkan pengetahuan terhadap teknologi yang dikaitkan dengan makna dibalik bentuk yang terjadi.
2. NILAI KESEMESTAAN
Disamping kekhasannya sebagai nilai kesetempatan, terdapat benang merah dalam arsitektur Nusantara yang dapat ditarik dari masing-masing region, daerah yang merupakan kesamaan pengetahuan yang tertuang dalam kesamaan bentuk fisiknya.
Bagaimana strategi penyelesaian untuk menanggulangi tantangan terhadap iklim tropis lembab dan kondisi alam Indonesia adalah bentuk sebuah keharmonisan yang dibangun oleh seluruh daerah di Indonesia.
bersifat lestari dan sustainable. Konsep sustainability dalam Arsitektur Nusantara erat kaitannya dengan makna diakronik di dalamnya. Dimana perpaduan pengetahuan tentang keberlanjutan dapat diterapkan dari berbagai aspek seperti penggunaan material, teknik konstruksi dan lain-lain.
Raisha Cana P. W/215060501111038
M M asjid asjid R R aya aya M M inang inang
NILAI KELOKALAN / KESETEMPATAN 1.
Nilai kelokalan/kesetempatan Masjid ini sangat jelas tergambar yaitu pengaplikasian kekhasan unsur-unsur Arsitektur Minangkabau sesuai dengan lokasi tempatnya berdiri.
Bentuk atap masjid tidak berkubah melainkan mengadopsi bentuk khas atap rumah Bagonjong Minangkabau yang menyerupai bentuk tanduk kerbau yang lancip.
ATAP BAGONJONG
TIANG RUMAH GADANG
Inovasi kebaruan sebagai bentuk penyesuaian perkembangan zaman yang juga menerapkan prinsip sustainability antara lain
Salah satu contoh penerapan Regionalisme Arsitektur dengan mengkinikan nilai nilai Arsitektur Nusantara sekaligus menerapkan prinsip sustainability adalah Masjid Raya Sumatera Barat (Padang) atau Masjid Mahligai Minang.
Masjid dihiasi dengan ukiran ornament dengan motif kain songket khas Minangkabau yang rumit dan indah.
REGIONALISME ARSITEKTUR MINANGKABAU
03
INOVASI PENERAPAN INOVASI PENERAPAN MAKNA DIAKRONIK MAKNA DIAKRONIK ARSITEKTUR NUSANTARA ARSITEKTUR NUSANTARA
Arsitektur Nusantara-Kelas F
Sistem tiang pada masjid juga mengadopsi model tiang pada rumah adat tradisional Gadang.
ORNAMEN MI NANG
MODIFIKASI ATAP
1. Bentuk atap pada masjid telah mengalami transformasi dimana dari bentuk atap yang memanjang hanya ke 2 arah saja kini menjadi 4 arah namun tetap dengan mempertahankan ujung lancipnya
2. Perubahan material pada atap yang semula berbahan dasar ijuk kemudian dikembangkan menjadi atap beton.
MODIFIKASI UKIRAN Ukiran pada masjid mengalami transformasi material yang semula berbahan dasar kayu kemudian dikembangkan sebagian ada yang menggunakan besi sebagai bahannya dan terdapat sebagian yang masih menggunakan material kayu.
IMPROVISASI KONSTRUKSI Masjid menerapkan elemen penguatan struktural yang mengadaptasi konstruksi rumah adat Gadang namun telah diperbarui dan disempurnakan agar tahan gempa
Raisha Cana P. W/215060501111038
PENUTUP
04
Dalam era globalisasi yang berkembang pesat, penting untuk memahami nilai pentingnya melakukan regionalisme arsitektur dengan mengadaptasi nilai-nilai kelokalan dan kesemestaan pada arsitektur Nusantara. Hal ini bukan hanya tentang menjaga warisan budaya, tetapi juga tentang menciptakan strategi arsitektur yang berkelanjutan dan relevan dalam menghadapi tantangan masa depan.
Selain itu, mengadopsi nilai-nilai kelokalan dan kesemestaan pada arsitektur Nusantara juga merupakan strategi yang penting dalam menghadapi tantangan arsitektur berkelanjutan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang ramah lingkungan, teknik konstruksi tradisional yang tahan gempa, dan adaptasi terhadap iklim setempat, kita dapat menciptakan bangunan yang lebih efisien dalam hal penggunaan sumber daya dan lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Selain itu, pendekatan ini juga mendorong kreativitas dalam desain arsitektur. Menerapkan nilai-nilai kelokalan dan kesemestaan tidak berarti harus stagnan atau terbelenggu dalam masa lalu. Sebaliknya, ini dapat menjadi sumber inspirasi untuk menggabungkan elemen-elemen tradisional dengan inovasi modern, menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan masa kini.
Dengan demikian, regionalisme arsitektur yang mengadaptasi nilai-nilai kelokalan dan kesemestaan pada arsitektur Nusantara tidak hanya memperkuat identitas budaya dan sejarah kita, tetapi juga memberikan landasan yang kuat bagi arsitektur berkelanjutan yang menghormati lingkungan dan meresapi nilai-nilai keberlanjutan. Ini adalah langkah penting dalam menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan di masa depan, sambil terus menjadi bagian dari dunia global yang terus berubah.