1
DISCOVERY LEARNING
“
FAKTOR ESSENSIAL DAN PROSES PERSALINAN”
DOSEN PENGAMPU : NS. SAIDA, S.KEP., M.KES.
DISUSUN OLEH : NURIFFAH AHMAD
K1A223006
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI
2024
2 A. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN
Terdapat lima faktor esensial yang mempengaruhi proses persalinan dan kelahiran.
Faktor-faktor tersebut dikenal dengan lima P : Passenger (penumpang, yaitu janin dan dan plasenta), Passageway (jalan lahir), Power (kekuatan), Position (posisi ibu) dan Psychologic respon (respon psikologis) (Astuti et al., 2023).
1. Passanger (Penumpang)
Passanger atau janin bergerak sepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor, yakni ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin. Karena plasenta juga harus melewati jalan lahir, maka plasenta dianggap juga sebagai bagian dari passenger yang menyertai janin. Namun plasenta jarang menghambat proses persalinan pada persalinan normal (Astuti et al., 2023).
2. Passageway (Jalan Lahir)
Jalan lahir terdiri dari panggul ibu yakni bagian tulang yang padat, dasar panggul, vagina dan introitus (lubang luar vagina). Lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut menunjang keluar bayi meskipun itu jaringan lunak, tetapi panggul ibu lebih berperan dalam proses persalinan. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang relatif kaku. Oleh karena itu ukuran dan bentuk panggul perlu diperhatikan sebelum persalinan dimulai (Astuti et al., 2023).
3. Power (Kekuatan)
Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi dari ligament. Kekuatan primer yang diperlukan dalam persalinan adalah His yaitu kontraksi otot-otot rahim, sedangkan kekuatan sekundernya adalah tenaga meneran ibu. His adalah kontraksi otot-otot rahim pada persalinan.
Resultan efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis atau jalan lahir yang membuka untuk mendorong isi uterus keluar (Astuti et al., 2023).
4. Position (Posisi Ibu)
Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologis persalinan. Mengubah posisi membuat rasa letih hilang. memberikan rasa nyaman, dan memperbaiki sirkulasi. Posisi
3 yang baik dalam persalinan yaitu posisi tegak meliputi posisi berdiri, berjalan, duduk, dan jongkok. Posisi tegak dapat memberikan sejumlah keuntungan, hal ini dikarenakan posisi tegak memungkinkan gava gravitasi membantu penurunan janin, dapat mengurangi insiden penekanan tali puast, mengurangi tekanan dalam pembuluh darah ibu dan mencegah kompresi pembuluh darah disertai posisi tegak dapat membuat kerja otot-otot abdomen lebih sinkron (saling menguatkan) dengan rahim saat ibu mengedan (Astuti et al., 2023).
5. Psycologis Respons (Psikologis)
Psikologis adalah kondisi psikis klien dimana tersedianya dorongan positif, persiapan persalian, pengalaman lalu, dan strategi adaptasi/coping. Psikologis adalah bagian yang krusial saat persalinan, ditandai dengan cemas atau menurunnya kemampuan ibu karena ketakutan untuk mengatasi nyeri persalianan. Respon fisik terhadap kecemasan atau kekuatan ibu yaitu dikeluarkannya hormon katekolamin. Hormon tersebut menghambat kontraksi uterus dan aliran darah ke plasenta (Astuti et al., 2023).
B. MEKANISME PERSALINAN NORMAL
Mekanisme persalinan normal terdiri dari beberapa fase (Surmayanti et al., 2022) : 1. Enggamement
Mekanisme yang digunakan oleh diameter biparietal-diameter transversal terbesar janin pada presentasi oksiput untuk lewat PAP. Terjadi pada minggu-minggu terakhir kehamilan atau mungkin tidak terjadi sampai setelah dimulainya persalinan. Pada beberapa wanita hamil, kepala janin dapat bebas bergerak di atas PAP (kepala mengambang/floating).
2. Descent (Penurunan)
Pada primipara, masuknya kepala janin ke dalam PAP terjadi sebelum persalinan, sedangkan turunannya kepala terjadi setelah itu, biasanya pada awal kala II. Pada nulipara, masuk dan turunnya kepala janin ke dalam panggul terjadi bersamaan.
4 3. Fleksi
Begitu desensus mengalami tahanan, baik dari serviks, dinding panggl, atau dasar panggul, biasanya terjadi fleksi kepala. Dagu mendekat ke dada janin dan diameter suboksipitobregmatika yang lebih pendek menggantikan diameter oksipifrontal yang lebih panjang.
4. Putar Paksi Dalam (Interna Rotation)
Pemutaran kepala sehingga oksiput perlahan-lahan bergerak dari posisi asalnya ke anterior menuju simfisi pubis, atau yang lebih jarang ke posterior menuju lubang sacrum.
Meski selalu dikaitkan dengan desensus, rotasi interna biasanya belum terjadi sampai kepala mencapai dasar spina dan oleh karenanya sudah cakap (engaged).
5. Ekstensi
Setelah rotasi interna, kepala terfleksi maksimal mencapai vulva, kemudian mengalami ekstensi yang esensial untuk kelahiran, Dasar oksiput berkontak langsung dengan margo interior simfisis pubis. Pada saat kepala menekan lorong panggul, terdapat dua kekuatan, yaitu diberikan oleh uterus, bekerja lebih ke posterior dan yang ditimbulkan oleh dasar panggul yang resisten dan simfisis, bekerja lebih ke anterior.
6. Putar Paksi Luar (Eksterna Rotation)
Kepala yang sudah dilahirkan sebelumnya mengalami pemulihan. Jika oksiput pada mulanya mengarah ke kiri, bagian ini akan berotasi kearah tuberositas iskhii kiri, bila asalnya mengarah ke kanan, oksiput akan berotasi ke kanan.
7. Ekspulsi
Segera setelah rotasi eksterna, bahu depan akan tampak dibawah simfisis pubis, perineum segera teregang oleh bahu belakang. Setelah kedua bahu tersebut lahir, sisa badan bayi lainnya akan segera terdorong ke luar.
C. TAHAP PERSALINAN
Tahap tahap persalianan dibagi menjadi empat yaitu (Utami et al., 2022) :
5 1. Kala I
Kala satu persalinan dimulai sejak awal kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi, intensitas dan durasi) hingga serviks menipis dan membuka lengkap (10cm).
Kala satu ini terdiri dari tiga fase yaitu: fase laten, fase aktif, dan fase transisi., a. Fase laten berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
b. Fase aktif dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm.
Fase aktif ini di bagi dalam tiga fase lagi yaitu:
a) Fase akselerasi yaitu pembukaan 3 cm menjadi 4 cm dalam waktu 2 jam.
b) Fase dilatasi maksimal yaitu pembukaan 4 cm menjadi 9 cm dalam waktu 2 jam.
c) Fase deselarasi yaitu pembukaan lambat kembali, dari pembukaan 9 cm sampai pembukaan lengkap (10 cm) dalam waktu 2 jam. Fase- fase tersebut dijumpai pada primigravida, sedangkan dalam multigravida juga terjadi fase tersebut, akan tetapi fase laten, fase aktif dan fase deselerasi lebih pendek.
2. Kala II
Kala dua persalinan dimulai pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. His menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih lama, sangat kuat.
Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala II.
3. Kala III
Kala tiga dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahimya plasenta dan selaput ketuban. Plasenta lepas normal spontan 5-15 menit setelah bayi lahir. Tahap ini berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Karakteristik pelepasan plasenta ditandai dengan uterus bulat dan keras, tiba-tiba darah keluar dan tali pusat memanjang. Kelahiran plasenta setelah 45 menit sampai 60 menit masih dianggap normal.
4. Kala IV
Persalinan kala empat dimulai setelah lahirnya plasenta di berakhir dua jam pertama post partum. Tahap ini disebut tahap pemulihan.
6 DAFTAR PUSTAKA
Astuti, N. T., Kep, M., Mat, S., Saudah, N., Lastari, A. I. F., Dafroyati, Y., ... &
Mukhoirotin, S. K. (2023). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Mahakarya Citra Utama Group.
Surmayanti, S., Sainah, S., & Sofyan, M. (2022). Buku Ajar Keperawatan Maternitas.
Penerbit P4I.
Utami Lubis, D. P., Wahyuningsih, W., Samutri, E., & Murniasih, E. (2022).
PERAWATAN MATERNITAS; Buku Ajar.