FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN KELUARGA PASIEN YANG DIRAWAT DI UNIT PERAWATAN KRITIS
FACTORS AFFECTING THE LEVEL OF ANXIETY IN FAMILY OF PATIENTS HOSPITALIZED IN CRITICAL CARE UNIT
Harlina1, Aiyub2
1Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
2Bagian Keilmuan Keperawatan Jiwa Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh e-mail:[email protected]; [email protected]
ABSTRAK
Kecemasan adalah suatu sinyal yang memperingatkan adanya bahaya yang mengancam. Faktor yang mempengaruhi kecemasan dibagi menjadi dua meliputi faktor internal (jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman di rawat) dan eksternal (kondisi medis/diagnosis penyakit, akses informasi, komunikasi terapeutik, lingkungan, fasilitas kesehatan). Keluarga yang anggotanya masuk rumah sakit akan mengalami ketakutan dan kecemasan, hal ini merupakan reaksi yang khas ketika anggota keluarganya masuk rumah sakit, tetapi emosi ini di ekspresikan dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa anggota keluarga akan bekerja sama dengan tenaga medis untuk memberikan yang terbaik bagi anggota keluarga yang sedang di rawat.Tujuan dari penelitian ini mengetahui adanya pengaruh antara faktor Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pengalaman dengan tingkat kecemasan. Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 15-28 Mei 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional study. Populasi yang digunakan adalah keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Daerah Meuraxa Banda Aceh dengan sampel 40 keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis. Penentuan sampel menggunakan Purposive Sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kecemasan adalah Hamilton Ranting Scale for Axiety (HAR-S), terdiri dari 14 kelompok gejala serta data demografi. Hasil penelitian tingkat kecemasan didapatkan 2 orang (5,0%) mengalami kecemasan ringan, 10 orang (25,0%), mengalami kecemasan sedang , 23 orang (57,5%), mengalami kecemasan berat,dan 5 orang (12,5%), mengalami kecemasan sangat berat.
Uji person produk moment dan uji Spearmen Rank Correlation Test menunjukkan ada pengaruh antara tingkat kecemasan dengan umur nilai p=0,003, (P<α0,05), sedangkan pada Jenis kelamin nilai p=0,011(P<α0,05), pendidikan nilai p=0,009 (P<α0,05), pengalaman nilai p=0,002 (P<α0,05), kesimpulan ada pengaruh antara faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan keluarga. Saran diharapkan bagi dapat memberikan informasi sehingga pelayanan untuk keluarga berupa komunikasi, bimbingan dan konseling kepada keluarga, agar keluarga dapat mengatasi kecemasan kearah yang adaptif sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan keluarga dan meningkatkan pelayanan fasilitas yang diberikan kepada keluarga di ruang
Kata kunci : Faktor-faktor kecemasan, Keluarga, Perawatan Kritis ABSTRACT
Anxiety is a signal that warns if a dangerous thing threatens. Factors affecting the anxiety are divided into two:
internal factors (sex, age, education level, and in-patient experience) and external factors (medical condition/disease diagnosis, information access, therapeutic communication, environment, health facilities).. Some family members will cooperate with the medical members to provide the best care to the patients who are being treated. The purpose of this study was to know the influence of age, sex, education, and experience factors to the anxiety level. The research was conducted on May 15th – 28th, 2018. The research method used was descriptive correlative with cross sectional study approach. The population were the family of patients hospitalized at the Critical Care Unit of Meuraxa Regional General Hospital Banda Aceh. There were 40 respondents chosen as research sample who were obtained by employing purposive sampling technique. The instrument used to measure the anxiety level is Hamilton Branch Scale for Anxiety (HAR-S), consist of 14 symptoms and demographic data. The results showed 2 people (5.0
%) experienced mild anxiety, 10 people (25.0 %) experienced moderate anxiety, 23 people (57.5 %) experienced severe anxiety, and 5 people (12.5 %) experienced panic-level anxiety. Based on the Pearson test of product moment and the test of Spearmen Rank Correlation Test showed that there were the influence between the level of anxiety and age with the p-value p=0,007 (P< α0,05), while at the sex p-value= 0.011 (P <α0,05), education with the p- value=0,009 (P<α0,05), experience p-value=0.001 (P <α0,05). It can be concluded that there was the influence between the factors affecting the family level of anxiety. It is suggested to provide the information in the form of communication, guidance, and counseling to the family, so that the family can overcome the anxiety to the adaptive way, besides it also can reduce the family level of anxiety and improve the service facilities provided to the family.
Keywords : anxiety factors, family, critical care
JIM FKep Volume III No. 3 2018
PENDAHULUAN
Salah satu masalah yang dialami keluarga ketika anggota keluarganya dirawat di Unit Perawatan Kritis adalah kecemasan.Keluarga sering menunjukan sikap yang berlebihan akibat kecemasan yang mereka alami (Kuraesin 2009). Masalah kecemasan yang dialami keluarga dipandang sebagai ancaman yang menganggu perasaan dan menimbulkan beban psikologis. Cemas disebabkan krisis situasi, tidak terpenuhinya kebutuhan, perasaan tidak berdaya dan kurang kontrol terhadap situasi dalam kehidupan situasi ini sering dialami keluarga bila mengetahui salah satu anggota keluarganya di rawat di Unit Perawatan Kritis (Geraw, 1998 dikutip dalam Kumala sari, 2010).
Hasil Penelitian yang dilakukan di Amerika didapatkan lebih dari 23 juta orang setiap tahun mangalami gangguan kecemasan.
Sementara Hasil penelitian lain di New York didapatkan bahwa dari 50 ribu orang yang anggota keluarganya dirawat di rumah sakit, 30% mengalami kecemasan berat.
Kecemasan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu takut akan kecacatan (63%), takut kehilangan (21,3%), masalah sosial ekonomi (10,7%), takut akan hal yang tidak diketahui/kurangnya informasi (5%) (Geraw,1998 dikutip dalam Kumala sari, 2010).
Berdasarkan Data dari RSUDM Kota Banda Aceh pada tahun 2017 dari 529 pasien yang di rawat di ruang ICU didapat 139 pasien (25%) meningal dunia dan dari 576 pasien di ruang ICCU di dapat 55 pasien (8%) meninggal dunia (Rekam Medik RSUDM Provinsi Aceh 2018). Ini diperkirakan menjadi salah satu faktor pemicu yang menyebabkan keluarga pasien yang dirawat di unit perawatan kritis mengalami kecemasan.sementara hasil wawancara yang dilakukan terhadap 10 keluarga pasien di RSUDM Kota Banda Aceh di ruang perawatan intensive (ICU) di dapatkan bahwa 5 keluarga mengalami perasaan takut, tidak bisa tidur, dan sedih.
Menurut Raharjo, (2015), dampak kecemasan keluarga pasien yang terjadi di
Unit Perawatan Kritis yaitu keluarga sulit tidur, ditandai tengah malam keluarga menayakan kondisi keluarganya yang sakit , keluarga bingung saat diinformasikan total biaya, keluarga sangat kaget bila terdengar suara tiba-tiba, tidak nafsu makan karena memikirkan kondisi keluarganya yang dirawat .
Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan atau memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman. Faktor yang mempengaruhi kecemasan dibagi menjadi dua meliputi faktor internal (jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman di rawat) dan eksternal (kondisi medis/diagnosis penyakit, akses informasi, komunikasi terapeutik, lingkungan, fasilitas kesehatan) (Kaplan & Sadock, 1997). Keluarga yang anggotanya masuk rumah sakit akan mengalami ketakutan dan kecemasan, hal ini merupakan reaksi yang khas ketika anggota keluarganya masuk rumah sakit, tetapi emosi ini di ekspresikan dengan cara yang berbeda- beda. Beberapa anggota keluarga akan bekerja sama dengan tenaga medis untuk memberikan yang terbaik bagi anggota keluarga yang sedang di rawat (Hariyanto dkk, 2005).
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan keluarga pasien yang di rawat di unit perawatan kritis rumah sakit meuraxa”.
METODE
Peneltian ini termasuk penelitian deskriptif korelatof dengan menggunakan pendekatan cross sectional study yang dilaksanakan pada tanggal 15-28 Mei 2018 di Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh di Unit Perawatan Kritis. Sampel dalam penelitian ini adalah 40 keluarga pasien dengan teknik purposive sampling.
Sebagai alat pengukur data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kuesioner pengukur tingkat kecemasan /Hamilton
JIM FKep Volume III No. 3 2018
Anxiety Rating Scale (HARS) Kuesioner HARS dikembangkan oleh Dr. M. Hamilton tahun 1959.). Kuesioner yang digunakan terdiri dari dua bagian, yaitu: data demografi.
Data di olah dengan langkah-langkah:
editing, coding, transfering, dan tabulating.
Penelitian dilakukan setelah mendapatkan surat lulus uji etik dari Komite Etik Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala yang bertujuan untuk melindungi dan menjamin kerahasiaan responden. Peneliti dalam penelitian ini menekankan beberapa etika yaitu: principle of beneficence, the principle of respect for humandignity, the principle of justice dan Informed concent.
Analisa data terdiri dari analisa univariat dan bivariat. Analisa univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel, dan anlisa bivariat untuk melihat pengaruh dari setiap variabel.
HASIL
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 40 responden, didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Data demografi kelompok umur
Umur depkes 2006 f %
RemajaAkhir (17-25) Dewasa Awal (26-35) Dewasa Akhir (36-45) Lansia Awal (46-55)
4 16 13 7
10,0 40,0 32,0 17,5
Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi responden kelompok umur yang paling banyak yaitu umur 26-35 tahun sebanyak 16 responden (40,0%).
Tabel 2. Data demografi kelompok jenis kelamin
Jenis kelamin f % Laki-laki
perempuan
19 21
47,5 52,5
Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi responden kelompok Untuk Jenis kelamin responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 21 orang (52,5%).
Tabel 3. Data demografi kelompok pendidikan
pendidikan f %
tinggi menengah dasar
10 14 16
25,0 35,0 40,0
Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi responden kelompok Untuk tingkat pendidikan sebagian besar responden terbanyak adalah pada tingkat pendidikan dasar, sebanyak 16 responden (40.0%).
Tabel 4. Data demografi kelompok pengalaman
Pengalaman merawat pasien
f %
Pernah Tidak pernah
18 22
45,0 55,0
Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi responden kelompok pengalaman dalam merawat pasien di Unit Perawatan Kritis paling banyak didapatkan tidak pernah mempunyai pengalaman sebanyak 22 responden (55.0%)
Tabel 5 Tingkat Kecemasan
kecemasan f %
Ringan sedang berat Sangat berat
2 10 23 5
5,0 25,0 57,5 12,5
Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi pada tingkat kecemasan keluarga dalam merawat pasien di Unit Perawatan Kritis berada pada tingkatan berat, yaitu 23 responden (57,5%).
B. Analisa Bivariat
Tabel 2.1 Pengaruh jenis kelamin terhadap tingkat kecemasan keluarga
JIM FKep Volume III No. 3 2018
umur f r Tingkat 17-25 thn
Kecemasan 26-35thn 36-45 thn 46-55 thn
4 16 13 4
0,461
p-value 0,003
Nilai p yang diperoleh dari uji pearson product momentpada tingkat kecemasan adalah 0,007 nilai ini lebih kecil dari 0,05 yang bearti ada pengaruh umurterhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh.
Tabel 2.2 pengaruh jenis kelamin terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa BandaAceh
Jenis kelamin f r
Tingkat laki-laki Kecemasan perempuan
19 21
0,3 96
P value 0,001 Nilai p yang diperoleh dari uji pearson produk momen tpada tingkat kecemasan adalah 0,011 nilai ini lebih kecil dari α 0,05 yang berarti ada pengaruh jenis kelamin terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh Tabel 2.3 pengaruh pendidikan terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa BandaAceh.
pendidikan f r
Tingkat tinggi Kecemasan menengah
dasar
25,0 35,0 40,0
0,410
p-value 0,009
Nilai p yang diperoleh dari uji Spearmen Rank Correlation Test pada tingkat kecemasan adalah 0,009 nilai ini lebih kecil dari 0,05 yang berarti ada pengaruh pendidikan terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh.
Tabel 2.5 pengaruh pengalaman merawat pasien terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa BandaAceh.
Pengalaman dalam merawat pasien
f r
Tingkat pernah Kecemasan tidak
pernah
18 22
0,489
p-value 0,001
Nilai p yang diperoleh dari uji spearman rank correlation pada tingkat kecemasan adalah 0,001 nilai ini lebih kecil dari α 0,05 yang berarti ada pengaruh pengalaman terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh PEMBAHASAN
Tingkat Kecemasan
Hasil analisa data tentang tingkat kecemasan didapatkan sebagian besar responden yang diteliti yaitu 2 orang (12.5%) mengalami kecemasan ringan, 10 orang(25,0%), mengalami kecemasan sedang, 23 orang (57,5%), mengalami kecemasan berat,dan 5 orang (12,5%), mengalami kecemasan sangat berat. Dari data tersebut bisa disimpulkan bahwa presentase yang paling tinggi berada pada tingkat Kecemasan berat.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Isni N,R (2013) dalam penelitian tentag faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Ruang ICU RSUD DR. MM Dunda Limboto dengan hasil tidak cemas 4 orang (12,1%), cemas ringan 5 orang (14,2%), cemas sedang 10 orang (30,3%), cemas berat 14 responden
JIM FKep Volume III No. 3 2018
(42,2%). Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Simamora (2012) mengenai tingkat kecemasan keluarga di ruang HCU di RSU Sumedang, yaitu dari 33 responden (51,5%) responden mengalami kecemasan sedang.
Dari hasil analisa jawaban responden didapatkan bahwa nilai tertinggi ada pada pertanyaan nomor 1 dan 2. Pertanyaan nomor 1 mengidentifikasi tentang: cemas, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tersingung, dan pertanyaan nomor 2 mengidentifikasi tentang: keteganggan merasa tegang, gemetar, mudah terganggu, dan lesu. Ini menunjukan bahwa rata-rata responden mengalami gejala kecemasan yang ditanyakan pada pertanyaan 1 dan 2.
Semua gejala tersebut merupakan respon psikologis dan fisiologis dari kecemasan yang timbul akibat adanya stersor dan ancaman integritas biologis dan konsep diri (Ann Isac,1996 dikutip dalam Nurkholis 2008).
Respon psikologis merupakan respon, tingkahlaku atau sikap terhadap rangsangan/masalah tertentu yang berkaitan dengan keadaan jiwa individu. Sedangkan respon fisiologis adalah suatu respon individu secara fisik yang ditandai dengan insomia, ketakutan, gelisah, wajah tengang, dan kelemahan secara umum.
Pengaruh Umur Terhadap Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis.
Berdasarkan uji statistik pearson product moment nilai p yang diperoleh dari pada tingkat kecemasan adalah 0,007 nilai ini lebih kecil dari 0,05 yang bearti ada pengaruh umurterhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Aan,(2015) yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara umur terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di ruang intensif care RSUD provinsi
NTB dengan nilai dengan nilai p 0,003 lebih kecil dari α0,05 .
Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Yuliana,E (2013) yang menunjukkan bahwa nilai dengan nilai p 0,001 lebih kecil dari α 0,05 yang bearti terdapat pengaruh antara umur terhadap tingkat kecemasan keluarga di Ruang High Care Unit (HCU) Rumah Sakit Immanuel Bandung. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Kaplan dan Sadock (1997) yaitu gangguan kecemasan dapat terjadi pada semua usia, lebih sering pada usia dewasa. Hasil penelitian menunjukan kesamaan dangan teori yang disampaikan oleh Asmidi, (2008), dimana tingkat perkembangan pada individu juga mempengaruhi respon tubuh terhadap kecemasan dimana semakin matang perkembangan seseorang maka semakin baik pula kemampuan untuk mengatasi permasalahannya.
Sementara itu Menurut Long, (1996) dikutip dalam Nursalam, (2001), menyatakan bahwa semakin tua umur seorang maka penggunaan koping akan lebih konstruktif. Semakin bertambah usia seseorang, semakin meningkat pula kedewasaan tekhnis dan psikologisnya yang menunjukan kematangan jiwa dalam arti semakin bijaksana, berpikir rasional,pengendalian emosi dan toleransi terhadap orang lain (Siagian, 1995 dikutip dalam Wibowo, 2001). Selain itu Stuart dan Laraia (2006), menyatakan bahwa umur berhubungan dengan pengalaman seseorang dalam menghadapi berbagai macam stressor, kemampuan memanfaatkan sumber dukungan dan keterampilan koping. Hal ini dapat disimpulan bahwa semakin tua umur seorang maka penggunaan koping akan lebih baik.
Pengaruh Jenis Kelamin Terhadap Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis
Berdasarka uji statistik pearson product moment nilai p yang diperoleh dari pada tingkat kecemasan adalah 0,011 nilai ini lebih kecil dari α 0,05 yang berarti ada pengaruh jenis kelamin terhadap tingkat kecemasan
JIM FKep Volume III No. 3 2018
keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Aan D,S (2015) yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara jenis kelamin terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di ruang intensif care RSUD provinsi NTB dengan nilai dengan nilai p 0,05.
Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Yuliana,E (2013) yang menunjukkan bahwa nilai dengan nilai p 0,008 lebih kecil dari α 0,05 yang bearti terdapat pengaruh antara jenis kelamin terhadap tingkat kecemasan keluarga di Ruang High Care Unit (HCU) Rumah Sakit Immanuel Bandung. Hasil diatas sesuai dengan pendapat Sunaryo (2004) bahwa pada umumnya seorang laki- laki dewasa mempunyai mental yang kuat terhadap sesuatu hal yang dianggap mengancam bagi dirinya dibandingkan perempuan. Selain itu menurut Myers (1983) perempuan sering cemas akan ketidakmampuannya dibandingkan dengan laki-laki. Laki-laki lebih aktif, eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif.
Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibandingkan perempuan (Power dikutip dalam Myers, 1983). Sehingga dapat disimpulkan bahwa laki-laki lebih bisa menyelesaikan masalah dengan tenang sehingga kecemasan yang dialami mereka juga lebih rendah.
Pengaruh Pendidikan terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis.
Berdasarkan uji statistik Spearman Rank Correlation nilai p yang diperoleh dari uji pada tingkat kecemasan adalah 0,009 nilai ini lebih kecil dari 0,05 yang berarti ada pengaruh pendidikan terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Adilah (2010) yang menunjukkan nilai p- value 0,004 lebih kecil dari α0,05 bahwa ada pengaruh pendidikan dengan tingkat kecemasan keluarga pasien preoperasi di ruang operasi RSUD Labuang Baji Makassar dengan.
Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Taufik,(2015) yang menunjukan nilai p-value 0,000 lebih kecil dari α 0,05 yang artinya pendidikan juga berpengaruh dengan tingkat kecemasan keluarga pasien di Rumah Sakit Umum dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
penelitian ini juga didukung oleh penelitian Aan, (2015) yang menunjukkan nilai p value 0,024 lebih kecil dari α0,05 bahwa terdapat pengaruh antara pendidikan terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di ruang intensif care RSUD provinsi NTB.
Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan mereka lebih mudah mengalami kecemasan dibandingkan dengan yang berpendidikan tinggi.
Pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi- potensi rohani sesuai dengan nilai- nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan (Ihsan, 2003). Pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk mendapatkan dan mencerna informasi secara lebih mudah (Videbeck, 2008). Tingkat pendidikan yang tinggi pada seseorang akan membentuk pola yang lebih adaptif terhadap kecemasan, sedangkan merekan memiliki tingkat pendidikan rendah cenderung mengalami kecemasan karena kurang adaptif terhadap hal- hal yang baru. Hal ini didukung dengan teori Gass dan Curiel (2011) serta Feist (2009) dimana tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki respon adaptasi yang lebih baik karena respon yang diberikan lebih rasional dan memengaruhi kesadaran dan pemahaman terhadap stimulus.
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2013), pendidikan adalah salah satu usaha mengembangkan kepribadian dan
JIM FKep Volume III No. 3 2018
kemampuan dalam dan diluar sekolah dan berlangsung sepanjang hidup.Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi kecemasan, karena tingkat pendidikan akan mempengaruhi penggunaan koping. Hal ini didukung oleh hasil Penelitian Gallo (1997), yang mendapatkan bahwa tingkat pendidikan membuat respon individu lebih baik terhadap kecemasan. Dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan rendah akan cenderung lebih mengalami kecemasan karena pola adaptif yang kurang terhadap hal yang baru dan mengakibatkan pola koping yang kurang pula. Maka semakin rendah tingkat pendidikan maka semakin tinggi tingkat kecemasan, begitu pula sebaliknya.
Pengaruh Pengalaman terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis
Berdasarkan uji statistik Spearman Rank Correlation nilai p yang diperoleh dari uji tingkat kecemasan adalah 0,001 nilai ini lebih kecil dari α 0,05 yang berarti ada pengaruh pengalaman terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Aan D,S (2015) yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara pengalaman terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di ruang intensif care RSUD provinsi NTB dengan nilai p 0,048.
Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Yuliana,E (2013) yang menunjukkan bahwa nilai dengan nilai p 0,004 lebih kecil dari α 0,05 yang bearti terdapat pengaruh antara pengalaman terhadap tingkat kecemasan keluarga di Ruang High Care Unit (HCU) Rumah Sakit Immanuel Bandung
Hasil penelitian ini didukung oleh teori dari Kaplan dan Sadock (2010) yaitu keluarga yang baru pertama kali anggota keluarganya dirawat akan berbeda dengan yang sudah beberapa kali menghadapi hal yang sama dirawat di rumah sakit, hal itu karena sudah terbentuk koping yaitu upaya berupa aksi berorientasi dan intra fisik, untuk mengelola
(mentoleransi, menampung, meminimalkan) lingkungan dan kebutuhan internal mengenai hal tersebut. Keluarga yang mempunyai kemampuan pengalaman dalam menghadapi kecemasan dan punya cara menghadapinya akan cenderung menganggap stres berat sebagai masalah yang bisa diselesaikan. Tiap pengalaman merupakan sesuatu yang berharga, karena belajar dari pengalaman dapat meningkatkan ketrampilan menghadapi kecemasan. Hal ini menunjukan adanya kesesuaian hasil penelitian, dengan pendapat Horney dikutip dalam Trismiati (2006) yang mengatakan bahwa pengalaman masa lalu individu dalam menghadapi kecemasan dapat mempengaruhi individu ketika menghadapi stressor yang sama karena individu memiliki kemampuan beradaptasi atau mekanisme koping yang lebih baik, sehingga tingkat kecemasan pun akan berbeda dan dapat menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih ringan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh. Maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Meuraxa ada 4 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien yaitu pada tingkat kecemasan berat sebanyak 23 responden (57,5%) dengan faktor yang mempengaruhi sebagai berikut. Terdapat pengaruh umur terhadap Tingkat Kecemasan Keluarga di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umun Daerah Meuraxa Banda Aceh dengan nilai p=0,007(p< α 0,05). Terdapat pengaruh jenis kelamin terhadap Tingkat Kecemasan Keluarga di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umun Daerah Meuraxa Banda Aceh dengan nilai p=0,011 (p<α 0,05).
Terdapat pengaruh pendidikan terhadap Tingkat Kecemasan Keluarga di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umun Daerah Meuraxa Banda Aceh dengan nilai p=0,009
JIM FKep Volume III No. 3 2018
(p< α 0,05). Terdapat pengaruh pengalaman terhadap Tingkat Kecemasan Keluarga di Unit Perawatan Kritis Rumah Sakit Umun Daerah Meuraxa Banda Aceh dengan nilai p=0,001 (p<α 0,05).
REFERENSI
Adillah,A 2010 Faktor Yang Berhubungan Dengan Terjadiny Kecemasan Keluarga Pasien Preoperasi Di Ruang Operasi Rsud Labuang Baji Makassar Psychology Journal Practice and Research 6890-1562
A’an Dwi sentana, (2015). Analisis Faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan keluarga pasien diruang intensif care RSUD provinsi NTB,
Feist, J. & Feist, G. J. (2009). Theories of Personality, Seventh edition.
New York: McGraw-Hill International Editio
Geraw, (1998) dalam Kumala Sari 2010).
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan orang tua anak yang dirawat diruang rawat inap akut RSUP. DR. MDJAMIL, Padang. Jurnal Ilmiah Consulting Psychology Journal Practice and Research 16753-1-23
Gass, S. C & Curiel, E.R(2011). Test anxiety in relation to measure of cognitive and intellectual fungtioning.
Agustus 1, 2013. Dikutip dari http://acn.oxfordjournals.org/conte nt/early/ Consulting Psychology Journal Practice and Research 6756-1123
Gallo.(2010).Keperawatan Kritis Edisi 6.
Jakarta;EGC
Hastono, S (2017). Analisis Data Kesehatan,Depok, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia Consulting Psychology
Journal Practice and Research 58321-4376
Hariyanto, (2005), psikologis kecemasan keluarga , yogyakarta: salemba medika
Ihsan, (2003), Dasar-dasr pendidikan , jakarta:Rineka Cipta
Kaplan & Sadock, 1997.Buku ajar keperawatan psikatri klinis. Ed ke- 2. Salemba medika
Myers, E. G. (1983), Social Psychology.
Tokyo :McGraw Hill
Nursalam.(2003). Konsep penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan, surabaya: salemba medika
Nursalam.(2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. 2nd Ed. Jakarta:
Salemba Medika
Nurkolis, (2008), hubungan komunikasi peawat dengan kecemasan orang tua.http://acn.oxfordjournals.org/c ontent/early/ Consulting Psychology Journal Practice and Research 6756-156
Raharjo, (2015). Tingkat kecemasan keluarga pasien stroke yang dirawat diruang ICU RS. Panti Waluyo: surakarta, STIKES retrieved from http://digilid.stikeskusumahusada.a c,id Consulting Psychology Journal Practice and Research 3452-1165
Riyanto, A.2013. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan (Dilengkapi Uji Validitas dan Rehabilitas Serta Aplikasi Program SPSS).
Yogjakarta: Nuha Medika.
JIM FKep Volume III No. 3 2018
Stuart, G. W. dan Laraia, M.T. 2006. Prinsip dan Praktik Keperawatan Psikiatrik.
Jakarta: EGC
Simamora irawati ike (2012) Gambaran tingkat kecemasan keluarga pada pasien yang dirawat diruang intensif care unit (icu) dan high care unit
(hcu) rumah sakit
sumedang.Badung: UNPAD Consulting Psychology Journal Practice and Research 230-491-1 Trismiati (2006), Gejala Kecemasan.
http://www.google.co.id#hl=id&q
=gejalakecemasan diakses 30 mei 2011 Consulting Psychology Journal Practice and Research 8901-11-2
Tarwoto dan Wartonah (2013), Kebutuhan dasar manusia dan Proses Keperawatan.Jakarta. Salemba Medika.
Taufik, I (2015), pengaruh pendidikan t erhadap kecemasan keluarga pasien di ICU-ICCU Rumah Sakit Umum Daerah dr.Soehadi Prijonegoro Sragen. Consulting Psychology Journal Practice and Research 1564-1
Vadebeck, Sheila L. Buku Ajaran Keperawatan Jiwa. EGC: Jakarta, 2008.
Wibowo, 2001. Manajemen Kinerja, Edisi Ketiga. Rajawali Pers, Jakarta.
Yuliana e, 2013 faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan keluarga pasien di HCU, Rumah Sakit Immanuel Bandung