• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR FAKTOR TERJADINYA JUAL BELI IJON (Studi Kasus Pada Petani Duku di Desa Batanghari Ogan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "FAKTOR FAKTOR TERJADINYA JUAL BELI IJON (Studi Kasus Pada Petani Duku di Desa Batanghari Ogan "

Copied!
96
0
0

Teks penuh

FAKTOR-FAKTOR PENCEGAHAN PEMBELIAN DAN PENJUALAN IJON. Studi Kasus Petani Duku di Desa Batanghari Ogan Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran). FAKTOR-FAKTOR PEMBELIAN DAN PENJUALAN IJON (Studi Kasus Petani Buah Duku Desa Batanghari Ogan Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran) RINGKASAN. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya jual beli ijon di Desa Batanghari Ogan Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran.

Faktor apa saja yang membuat masyarakat Desa Batanghari Ogan Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran tetap melakukan praktik jual beli buah duku dalam hal perbudakan? Sistem Ijon Dalam Jual Beli Ikan (Studi Kasus Jual Beli Ikan di Desa Gempol Sewu Kecamatan Rowoasri Kabupaten Kendal) Tahun 2013, termasuk penelitian kualitatif. 15 Pujiono, Tesis: Jual Beli Ijon Dalam Perspektif Ekonomi Syariah (Studi Kasus di Desa Sumber Agung, Kecamatan Metro Kibang), (Metro STAIN Jurai Siwo Metro, 2013), hal.43.

Menurut ulama Hanafiah; “Jual beli adalah pertukaran harta (benda) dengan harta dengan cara khusus (diizinkan)”. Jual beli ijon termasuk jual beli mukhadharah, yaitu menjual buah yang masih hijau (belum layak panen). Demikian pula yang terjadi di desa Batanghari Ogan, petani terbiasa dengan jual beli yang sering disebut dengan jual beli ijon.

Dalam praktiknya, ia mengadakan perjanjian jual beli obligasi dengan pembeli, bukan dengan kontrak tertulis, melainkan. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi jual beli ijon di Desa Batanghari Ogan adalah faktor budaya, referensi kelompok dan faktor situasional. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan tradisi jual beli ijon hingga saat ini masih bertahan di Desa Batanghari Ogan.

Tesis: Jual Beli Ijon Dalam Perspektif Ekonomi Syariah (Studi Kasus di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang). FAKTOR PEMBELIAN DAN PENJUALAN IJON (Studi Kasus Petani Duku di Desa Batanghari Ogan Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran).

PENDAHULUAN

Pertanyaan Penelitian

Seperti yang telah dipaparkan di latar belakang masalah bahwa dalam jual beli tidak semua orang memahami larangan jual beli dimana tidak diketahui jumlah dan kadarnya serta adanya ketidakpastian hasil buah, khususnya dalam penelitian duku ini. buah, yang tidak sesuai dengan prinsip ekonomi Islam.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jual Beli Ijon Di Desa Batanghari Ogan Kecamatan Ttegineneng Kabupaten Pesawaran. FAKTOR-FAKTOR PEMBELIAN DAN PENJUALAN IJON (Studi kasus petani buah Duku di Desa Batanghari Ogan Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran).

Penelitian Relevan

LANDASAN TEORI

Pengertian Jual Beli

Menurut Hasan, 1 jual beli ialah menukar harta dengan harta melalui tatacara tertentu, atau menukar sesuatu yang dipegang dengan sesuatu yang lain melalui tatacara tertentu yang boleh difahami sebagai al-bai. Menurut Ibn Qudamah dalam kitab al-muqni; “jual beli ialah pertukaran harta dengan harta untuk menjadikan harta masing-masing”.2. Walaupun jual beli dengan sistem barter telah ditinggalkan, digantikan dengan sistem mata wang, tetapi kadangkala intipati jual beli tersebut masih berlaku.

Dari uraian di atas, jual beli adalah pertukaran barang atau harta dengan harta benda berdasarkan cara khusus yang diperbolehkan untuk menukarkan susu.

Dasar Hukum Jual Beli

Kesimpulannya, jual beli secara terminologis didefinisikan sebagai “pertukaran properti secara sukarela” atau “perpindahan kepemilikan dengan substitusi dalam bentuk yang diperbolehkan”.3 Pada hakekatnya jual beli adalah pertukaran barang. Ayat-ayat Al-Qur'an di atas memberikan pemahaman bahwa jual beli harus dilakukan melalui jual beli berdasarkan suka dan tidak suka. 5 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur'an dan Terjemahannya, (Bandung: Yayasan Penyelenggara dan Penerjemah Al-Qur'an), hal.214.

Maksudnya: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya jual beli itu hanya sah dengan persetujuan bersama (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).

Rukun dan Syarat Jual Beli

Barang-barang yang menjadi obyek transaksi jual beli itu benar-benar milik penjual, artinya tidak terikat dengan barang milik orang lain. Ketiga, syarat sahnya akad jual beli ada dua macam, yaitu syarat umum dan syarat khusus. Bebas dari khiyar, akad yang masih mengandalkan hak khiyar baru mengikat ketika hak khiyar telah berakhir.

Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang Dalam Islam

Jual beli yang boleh diterima dikaitkan dengan syarat-syarat tertentu yang tiada kaitan dengan jual beli, atau ada unsur-unsur berbahaya yang dilarang agama. Apa-apa yang boleh mendatangkan kemudaratan, kemaksiatan, bahkan kesyirikan, adalah haram untuk dijual, seperti jual beli patung, salib, buku bacaan lucah. Segala bentuk jual beli yang mengakibatkan penganiayaan undang-undang adalah haram, seperti menjual haiwan muda yang masih memerlukan (bergantung kepada) ibu bapanya.

Jual beli seperti itu dilarang karena menyiksa pembeli dengan tidak mendapatkan barang yang dibutuhkannya pada saat harganya masih standar. Jual beli barang rampasan atau barang curian, jika pembeli sudah mengetahui bahwa barang itu hasil curian atau curian, maka keduanya ikut berbuat dosa. Dari larangan jual beli tersebut, maka jual beli perbudakan utang tergolong jual beli yang dilarang, yaitu jual beli yang tidak memenuhi syarat dan rukun dalam jual beli.

Jual Beli Ijon

  • Pengertian Jual Beli Ijon
  • Dasar Hukum Jual Beli Ijon
  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jual Beli Ijon

Kaitannya dengan penelitian ini adalah tentang jual beli yang dilakukan oleh warga Desa Batanghari Ogan yang berprofesi sebagai petani, sehingga masuk dalam kategori warga dengan mata pencaharian sebagai petani. Jual beli ijon berasal dari bahasa arab mukhadarah yang berarti memperdagangkan buah atau biji yang masih hijau. Dia mengaku melakukan jual beli utang untuk memenuhi kebutuhan pokok dan biaya sekolah yang tidak bisa ditangguhkan.

Adanya referral kelompok yang sering dianggap menguntungkan membuat Ibu Ani juga ikut serta dalam perdagangan perbudakan. Petani di Desa Batanghari Ogan yang berdagang obligasi berikat tidak selalu untung, petani justru merugi karena harga duku yang mereka jual mungkin saat akad ijon dilakukan. Menurut Bpk. Anto petani merasa paling diuntungkan dengan sistem jual beli ijon dan dianggap praktis.

Hal serupa juga terjadi di desa Batanghari Ogan, Pak Anto biasa jual beli dan kebiasaan ini menjadi budaya di desa tersebut. Minimnya pengetahuan petani di desa Batanghari Ogan seperti Pak. Kamerun, tentang jual beli dengan sistem ion mempengaruhi cara mereka dalam perilaku jual beli yang tidak sesuai dengan hukum Islam. Untuk mencari nafkah, para petani jual beli dengan cara demikian, padahal jual beli perbudakan dengan utang itu dilarang dalam Islam.

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa faktor yang mempengaruhi jual beli obligasi di Desa Batanghari Ogan adalah faktor internal yaitu faktor pemenuhan kebutuhan. Faktor pencarian keuntungan juga mempengaruhi keputusan atau alasan mengapa pembeli dan penjual tetap membeli dan menjual obligasi tersebut. Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi jual beli ijon di Desa Batanghari Ogan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Berdasarkan kesimpulan diatas maka peneliti menyarankan kepada masyarakat Desa Batanghari Ogan Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran yang berdagang agar-agar.

METODOLOGI PENELITIAN

Sumber Data

  • Sumber Data Primer
  • Sumber Data Sekunder

Penelitian ini menggunakan dua sumber data yang berkaitan dengan topik yang akan diungkapkan, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh peneliti dari sumber asli 5 Data diperoleh melalui penelitian lapangan dengan observasi langsung dan wawancara mengenai tata cara jual beli buah duku dengan syarat terikat kepada pemilik buah atau penjual. Data dikumpulkan melalui data penjual dan pembeli pada proses pemanenan buah duku di Desa Batanghari Ogan.

Sumber data sekunder adalah sumber yang tidak memberikan data secara langsung kepada pengumpul data, misalnya melalui orang lain atau melalui dokumen.6. Sumber data sekunder yang digunakan penulis adalah buku-buku yang relevan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian yaitu buku-buku seperti buku-buku fikih muamalah, Al-Qur'an atau Hadits yang berkaitan dengan konsep praktik ekonomi Islam dalam kaitannya dengan jual beli. dan sistem jualan dengan jons pada umumnya. 5 Muhamad, Metodologi Penelitian Ekonomi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), hal.103 6 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hal.

Teknik Pengumpulan Data

  • Wawancara
  • Dokumentasi

Peneliti menganalisis jual beli secara umum kemudian menyempit pada jual beli yang khusus diteliti yaitu jual beli uang obligasi. Jual beli menurut sistem ion, yaitu jual beli dimana kualitas dan kuantitas barangnya tidak jelas, misalnya buah yang masih muda atau masih hijau, yang dapat merugikan orang lain. Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan petani dan kontraktor (penjual dan pembeli) mengenai praktik jual beli adalah sebagai berikut 1.

Ia melakukan industri perbudakan karena menurutnya perdagangan budak dianggap lebih praktis dan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang seringkali mendesak, Pak. Kamerun terpaksa melakukan perdagangan budak. Ia sama sekali tidak memahami larangan jual beli ijon, sehingga faktor situasi juga mempengaruhinya untuk melakukan jual beli ijon. Sedangkan menurut Bapak Anto petani buah duku yang memiliki lahan seluas 1 hektar, dia melakukan jual beli melalui ijon selama 5 tahun terakhir, dia mengaku jual beli ijon adalah hal yang biasa di desanya, dia berdagang melalui ijon karena faktor budaya yang ada. sebuah tradisi di Desa Batanghari Ogan sehingga dia juga menjual dan membeli ijon.

Ia mengaku sama-sama menguntungkan pembeli dalam jual beli ijon, meski tidak semua jual beli ijon menguntungkan masing-masing pihak, namun bisa jadi Bu Ani dirugikan atau justru pembeli yang dirugikan. sistem ijon. Ia mengadakan akad jual beli ijon dengan petani bukan dengan akad tertulis melainkan dengan akad lisan dan setelah akad berlangsung, buah duku yang masih berumur 2-3 bulan itu ditunggu hingga tiba masa panen. yaitu ketika berumur 4-5 bulan dan biaya merawat buah duku sudah tidak ada lagi. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani yaitu Bapak. Kamerun, Tn. Anto dan Ny. Ani peneliti akan menganalisis jual beli ijon di Desa Batanghari Ogan, dari faktor-faktor yang mempengaruhi jual beli ijon yaitu.

Di Desa Batanghari Ogan terdapat petani yang melakukan jual beli dengan sistem ijon dan mereka mendapatkan banyak keuntungan, sehingga banyak petani lainnya salah satunya Ibu Ani yang melakukan jual beli dengan sistem ini. Dengan adanya seseorang yang jual beli dengan sistem obligasi dan terbukti untung tinggi maka banyak petani lain yang juga melakukan jual beli dengan sistem ini. Penjual dan pembeli harus lebih berhati-hati dalam melakukan jual beli agar tidak merugikan salah satu pihak atau bahkan keduanya.

Bukan kerugian yang ada di benak para petani, tetapi selalu keuntungan yang akan diperoleh.Menurut pandangan mereka, jual beli obligasi akan menghemat waktu dan sangat praktis.

Teknik Analisa Data

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Praktek Jual Beli Ijon Di Desa Batanghari Ogan Kecamatan

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jual Beli Ijon Di

Referensi

Dokumen terkait

Dari pengertian diatas maka suatu pola komunikasi adalah bentuk atau pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan pesan yang

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya praktik jual beli pupuk bersyarat pada petani tebu di desa Mlagen.Petani yang membeli pupuk dengan pembayaran tangguh

Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian ini yaitu: Bab I Pendahuluan, yaitu merupakan gambaran awal penelitian yang terdiri dri latar belakang, rumusan, masalah, tujuan