Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) di wilayah Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok Jakarta. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI WILAYAH PUSKESMAS KABUPATEN TANJUNG PRIOK. Terdapat hubungan yang signifikan antara paritas (p-value = 0,001) dengan kejadian BBLR di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2018.
- Latar Belakang Masalah
- Rumusan Masalah
- Pertanyaan Penelitian
- Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
- Manfaat Penelitian
- Ruang Lingkup Penelitian
Ada hubungan antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah di Kecamatan Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Ada hubungan antara paritas ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah di Kecamatan Tanjung Priuk Jakarta Utara. Terdapat hubungan antara paritas ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (p=0,001) di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara pada tahun 2018.
Definisi Berat Badan Lahir Rendah
Berat badan lahir adalah berat badan anak yang ditimbang dalam waktu satu jam pertama setelah lahir. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2500 gram. Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi yang berat lahirnya kurang dari 2500 gram merupakan bayi yang lahir prematur (Wafi, 2010).
Klasifikasi Berat Bayi Baru Lahir
- Menurut Masa Gestasinya
- Menurut Harapan Hidupnya
Faktor Penyebab Terjadinya Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Bayi keturunan Afrika-Amerika dua kali lebih mungkin mengalami berat badan lahir rendah dibandingkan bayi berkulit putih. Ibu remaja (terutama yang berusia di bawah 15 tahun) mempunyai risiko lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Bayi yang lahir dari ibu yang terpapar obat-obatan terlarang, alkohol, dan rokok lebih besar kemungkinannya untuk memiliki berat badan lahir rendah.
Masalah lain yang timbul akibat BBLR
Ibu dengan status sosial ekonomi rendah juga cenderung makan lebih sedikit selama kehamilan. Perawatan prenatal yang tidak memadai dan komplikasi kehamilan juga menjadi faktor penyebab bayi lahir dengan berat badan rendah. Selain itu, bayi dengan berat badan lahir rendah kesulitan menjaga suhu tubuhnya pada suhu normal karena sedikitnya lemak di tubuhnya.
Perawatan Bayi BBLR diRumah
Lebih banyak tidur dibandingkan bangun, lemah menangis, pernafasan tidak teratur, refleks menelan dan batuk tidak sempurna (Mendri dan Prayogi, 2010). Margaret Ribble, seorang psikiater, memperhatikan pada tahun 1940 bahwa bayi yang lebih sering digendong akan terstimulasi untuk bernapas dan bersirkulasi lebih baik. Margaret memperhatikan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah cenderung memiliki pernapasan pendek dan tidak stabil pada minggu-minggu pertama setelah lahir, namun pernapasan mereka membaik setelah disentuh dan dihubungi secara fisik oleh ibunya.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Field dan Scafidi melaporkan manfaat pijat/sentuhan pada bayi berat lahir rendah, sekitar 1200-1300 gram, yang telah melewati masa kritis. Setelah dilakukan penelitian selama 10 hari dengan pemijatan tiga kali sehari selama 15 menit, diperoleh hasil: berat badan 47% lebih tinggi dibandingkan bayi yang tidak mendapat pemijatan, bayi berada dalam keadaan 'aktif' dalam waktu yang lama. waktu. , bayi dipulangkan 6 hari lebih cepat, dan orientasi, keterampilan motorik, dan perilaku bayi lebih baik. Metode kanguru merupakan metode pengobatan bayi berat lahir rendah untuk mencegah hipotermia neonatal, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1979 oleh Rey dan Martinez dari Columbia.
Rey dan Martinez melaporkan bahwa kontak kulit dapat meningkatkan kelangsungan hidup bayi, terutama yang mengalami BBLR.
Dampak BBLR
Gangguan metabolik yang terjadi berupa hipotermia, hipoglikemia, hiperglikemia dan gangguan menyusui, gangguan imunitas, gangguan pernafasan, gangguan peredaran darah, serta gangguan cairan dan elektrolit (Proverawati dan Ismawati, 2010).
Prevalensi BBLR
Faktor Risiko Kejadian BBLR
- Faktor Ibu
Setengah dari tambahan zat besi yang dibutuhkan selama kehamilan digunakan untuk produksi Hb guna meningkatkan suplai darah ibu hamil. Kekurangan zat besi akan menyebabkan kurangnya Hb dalam darah, yang diperlukan untuk membawa oksigen ke janin dan sel ibu hamil, dan juga akan mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah. Ibu hamil sebaiknya menambahkan sekitar 35 mg zat besi ke dalam makanannya karena kebutuhan zat besi selama kehamilan tidak dapat dipenuhi dari makanan saja (Fikawati, dkk (2015).
Ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan peluang melahirkan bayi BBLR dan bayi prematur. Menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fatimah (2015) di RS Koja Jakarta Utara, berat badan lahir rendah (BBLR) yang disebabkan oleh anemia pada ibu hamil sebesar 55,5%. Pendatang baru di daerah endemis tinggi, ibu hamil dan bayi yang belum kebal biasanya tertular penyakit ini.
Bilangan kehamilan yang lebih tinggi, sama ada hidup dan lahir mati, boleh menjejaskan status pemakanan ibu hamil (Istiany dan Rusilanti, 2013). Salah satu tujuan pengukuran ini adalah untuk menentukan risiko KEK, WUS, baik pada wanita hamil dan ibu hamil, bagi menyaring wanita yang berisiko melahirkan bayi berat lahir rendah. Wanita hamil yang mempunyai ukuran LLA kurang daripada 23.5 cm berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (Supariasa et al, 2012).
Konsumsi alkohol yang berlebihan pada ibu hamil dapat menyebabkan suatu kondisi yang disebut dengan sindrom alkohol janin (FAS), yang ditandai dengan berkurangnya berat badan lahir dan lamanya persalinan (Astuti, 2016).
Kerangka Teori
Kerangka Konsep
Uji Hipotesis
Terdapat hubungan antara status pekerjaan ibu dengan prevalensi berat badan lahir rendah di Kecamatan Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Ada hubungan antara tinggi badan ibu dengan prevalensi berat badan lahir rendah di Kecamatan Tanjung Priuk Jakarta Utara. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan anemia pada ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priuk Jakarta Utara Tahun 2017.
Berdasarkan hasil uji statistik Chi Square antara tinggi badan ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) diperoleh. Tidak terdapat hubungan antara tinggi badan ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (p=0,068) di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2018. Tidak terdapat hubungan antara pekerjaan ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah ( p=0,068) di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara pada tahun 2018.
Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (p=0.068) di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2018. Tidak ada hubungan antara penyakit ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (p=0.068) di Kecamatan Tanjung Priok Utara Jakarta 2018. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) di wilayah kerja Puskesmas Sukorejo Ponorogo.
Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di RS Penembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
METODE PENELITIAN
Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional yaitu pengumpulan data variabel terikat dan bebas pada waktu dan tempat yang sama.
Tempat dan Waktu Penelitian
Subjek Penelitian
- Populasi
- Sampel
Teknik Pengambilan Sampel
Instrumen Penelitian
- Tahap Persiapan
- Tahap Pelaksanaan
Hal ini menunjukkan P-value ≥0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara anemia dengan kejadian BBLR. Hal ini menunjukkan P-value ≥0,05 yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara tinggi badan dengan kejadian BBLR. Hal ini menunjukkan P-value ≥0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan kejadian BBLR.
Hal ini menunjukkan P-value ≥0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian BBLR. Hal ini menunjukkan P-value ≥0,05 yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara penyakit dengan terjadinya BBLR. Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi Square antara paritas ibu hamil dengan prevalensi berat badan lahir rendah (BBLR), diperoleh p-value = 0,001 dengan p ≤ 0,05 merupakan hipotesis yang diajukan sebelumnya.
Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi Square antara pengetahuan ibu hamil dengan terjadinya berat badan lahir rendah (BBLR) diperoleh p-value = 0,266 dengan p ≥ 0,05 sehingga hipotesis yang diajukan sebelum penelitian ini dilaksanakan tidak terbukti yaitu “Ada hubungan antara pengetahuan ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2018.” Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi Square antara penyakit ibu hamil dengan terjadinya berat badan lahir rendah (BBLR) diperoleh p-value = 0,124 dengan p ≥ 0,05 sehingga hipotesis yang diajukan sebelum penelitian ini dilakukan tidak terbukti, yaitu “Ada hubungan antara penyakit ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2018.” Berdasarkan penelitian mengenai “Hubungan riwayat anemia pada ibu hamil dan pengetahuan tentang perawatan bayi dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priuk Jakarta Utara Tahun 2017”, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.
Hubungan anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di RS Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Tahun 2013.
Analisis Data
- Analisis Univariat
- Analisis Bivariat
Etika Penelitian
- Anominity
- Beneficence
- Confidentiality
- Justice
Hasil analisis hubungan paritas dengan kejadian BBLR menunjukkan 11 responden (25,5%) termasuk dalam kelompok <4 anak yang termasuk dalam kategori BBLR. Hasil analisis hubungan pekerjaan dengan kejadian BBLR menunjukkan bahwa diantara responden yang mempunyai kelompok kerja terdapat 5 responden (31,25%) yang termasuk dalam kategori BBLR. Hasil analisis hubungan penyakit dengan kejadian BBLR menunjukkan bahwa diantara responden kelompok yang mempunyai penyakit kategori BBLR terdapat 4 responden (57,1%).
Berdasarkan hasil uji statistik Chi-square antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) p-value = 0,068 dengan p ≥ 0,05 maka hipotesis yang diajukan sebelum penelitian ini dilakukan tidak terbukti yaitu “Ada hubungan antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah di Kecamatan Tanjung Priuk, Jakarta Utara pada tahun 2018.” Dalam hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hanifah Lilik di Surakarta mengenai hubungan anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fatimah dan Siti Nurhaisyah tentang hubungan paritas ibu hamil dengan kejadian BBLR di RS Koja Jakarta Utara yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara paritas ibu hamil. perempuan dan kejadian BBLR.
Dalam hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ulin Nuha (2016) mengenai hubungan tinggi badan ibu hamil dengan kejadian BBLR, yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara tinggi badan ibu hamil dengan kejadian BBLR. dari BBLR. Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi Square antara pekerjaan ibu hamil dengan terjadinya berat badan lahir rendah (BBLR) diperoleh p-value = 0,938 dengan p ≥ 0,05 sehingga hipotesis yang diajukan sebelum penelitian ini dilakukan adalah tidak terbukti yaitu “Ada hubungan antara pekerjaan ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2018.” Dalam hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rini Septiani (2015), mengenai hubungan pekerjaan ibu hamil dengan kejadian BBLR, yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu hamil dengan kejadian BBLR. kejadian. dari BBLR.
Dalam hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahmandar Perinada (2013), mengenai hubungan pengetahuan ibu hamil dengan kejadian BBLR di Banda Aceh yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu hamil. dan kejadian BBLR. Dalam hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suryati (2014), mengenai hubungan penyakit ibu hamil dengan kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Air Dingi Padang yang menyatakan bahwa tidak ada ada hubungan antara penyakit ibu hamil dengan kejadian BBLR. Faktor yang berhubungan dengan kejadian bayi berat lahir rendah di RS Penyakit Obstetri dan Ginekologi Irna Dr.