Jurnal Karinov Vol. 5 No. 3 (2022) : September
ISSN: 1978-1520
Faktor Penentu Kemampuan Mahasiswa dalam Penguasaan Bahasa Inggris
Ristati*, Bahing, Maida Norahmi, I Nyoman Trio Satyo Sudana Universitas Palangka Raya, Palangka Raya, Indonesia
Corresponding email: [email protected] Abstrak
Universitas sangat penting dalam mempersiapkan siswa untuk sukses didunia kerja. Hal ini menggambarkan bahwa pelatihan bahasa Inggris di perguruan tinggi juga dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan dengan kompetensi bahasa Inggris yang dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu (English for Occupational Purpose). Sudah menjadi rahasia umum bahwa mahasiswa yang mendaftar di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UPR memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lemah. Oleh karena itu, peneliti memilih 15 mahasiswa untuk dijadikan responden. Penelitian ini berusaha untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemahiran bahasa Inggris jurusan Pendidikan Biologi di FKIP UPR. Kuisoner digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian deskriptif ini. Untuk analisis data menggunakan teknik Tabulasi. Metode ini melibatkan pengolahan data ke dalam format tabel. Terdapat empat variabel yang mempengaruhi kemampuan bahasa Inggris peserta Prodi Pendidikan Biologi, demikian kesimpulan dari penelitian ini. 1) Kemampuan menyimak, dalam hal ini mahasiswa mengalami kesulitan membedakan pengucapan (pronounciation) kata-kata yang didengarnya; 2) Kemampuan berbicara, dalam hal ini persyaratan untuk menggunakan grammar yang benar ketika berbicara dan rasa gugup karena tidak terbiasa berbicara berdampak pada kemampuan mahasiswa; 3) Kemampuan menulis, dimana ketidakmampuan untuk menghasilkan dan mengorganisasikan ide-ide sehingga mempengaruhi kemampuan mahasiswa; 4) Kemampuan membaca, dimana ketidakmampuan untuk memahami isi bacaan sangat mempengaruhi kemampuan mahasiswa.
Kata kunci—English for Occupational Purpose, Keterampilan Berbahasa Inggris, Penguasaan Bahasa Inggris Abstract
Universities play a crucial role in preparing students to compete in the workforce. This demonstrates that English instruction in higher institutions is also geared toward ensuring that students have the English proficiency required for various occupations (English for Occupational Purpose). It is well recognized that students enrolled in the Biology Education Study Program, FKIP UPR, have limited English proficiency. As a result, 15 students were chosen to participate in the study as respondents. This study seeks to identify the factors that influence the English language proficiency of FKIP UPR Biology Education students. This is a descriptive study for which a questionnaire was utilized to collect data. The tabulation technique is used to analyze the data by transforming the data into tabular format. According to the findings of this study, four factors influence the English language proficiency of Biology Education Study Program students: 1) Listening ability, wherein students have difficulty distinguishing the pronunciation of the words they hear; 2) Speaking ability, wherein the influencing factors are the demand for using proper grammar in speaking and feeling very nervous because they are not used to speaking;
3) Writing ability, wherein what affects students' abilities is the difficulty in developing and compiling ideas; 4) Reading ability, where the inability to understand the content of the reading has a significant impact on students' ability.
Keywords—English for Occupational Purpose, English Language Skills, English Mastery 1. PENDAHULUAN
alah satu hal yang dapat dilakukan untuk memerangi kemiskinan dan kebodohan adalah dengan mendapatkan pendidikan. Pendidikan tinggi kadang-kadang hanya disebut sebagai tingkat pendidikan terbesar yang dapat dicapai. Pendidikan
tinggi adalah jenjang pendidikan yang mengikuti pendidikan menengah dan meliputi program profesi, program magister, program doktor, dan program profesi. Selain itu, pendidikan tinggi juga mencakup program spesialis yang diselenggarakan oleh universitas dan didasarkan pada budaya Indonesia.
Perguruan tinggi dituntut untuk mampu
S
Page | 174 mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta menghasilkan intelektual, ilmuwan, dan profesional yang berbudaya dan kreatif, toleran, demokratis, kuat karakter, dan berani membela kebenaran bangsa, sesuai dengan Pasal C UU 12 Tahun 2012, yang menjelaskan bahwa fungsi pendidikan tinggi adalah meningkatkan daya saing bangsa dalam menghadapi globalisasi di segala bidang. Untuk itu diperlukan pendidikan tinggi yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Hapsari dkk., 2021).
Tes Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing atau yang lebih sering disebut dengan TOEFL merupakan tes yang cukup terkenal di bidang pendidikan di Indonesia. Test of English as a Foreign Language (TOEFL) diperlukan tidak hanya untuk penerimaan tetapi juga untuk kelulusan di beberapa institusi pendidikan tinggi. Dengan kata lain, jika nilai TOEFL seorang siswa tidak memenuhi persyaratan di program studi atau jurusan mereka, mereka tidak akan diizinkan mengikuti ujian akhir, dan mereka tidak akan diterima di perguruan tinggi jika mereka tidak dapat memenuhi standar skor TOEFL yang telah ditetapkan.
Keterampilan bahasa Inggris sangat penting di dunia saat ini karena sejumlah alasan, seperti dapat mempermudah mencari pekerjaan, dapat meningkatkan interaksi sosial dan karir, dapat menyederhanakan proses memperoleh pengetahuan dan dapat memperluas jangkauan bahan bacaan yang tersedia (Sutrisno, 2021). Universitas memainkan peran penting dalam mempersiapkan siswa untuk menjadi kompetitif dalam angkatan kerja global saat ini dengan mengajari mereka keterampilan bahasa Inggris, yang diperlukan untuk sukses di lingkungan itu. Tidak hanya menekankan penguasaan bahasa Inggris untuk tujuan akademis atau English for Academic Purposes, tetapi juga mempelajari bahasa Inggris dengan cara yang disesuaikan dengan minat atau kebutuhan dunia kerja sesuai dengan bidang studi spesifik masing-masing siswa dalam sains. Hal ini menunjukkan bahwa pengajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi tidak boleh berorientasi pada kepentingan akademis, melainkan juga harus ditujukan untuk membekali lulusan dengan kompetensi bahasa Inggris yang dibutuhkan oleh bidang pekerjaan tertentu (English for Occupational Purpose) dalam berbagai kelompok disiplin ilmu. Ini karena minat akademis tidak boleh menjadi satu- satunya fokus pengajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi. sebaliknya, kepentingan akademis harus dinomorduakan.
Test of English as a Foreign Language (TOEFL) merupakan ujian kemampuan bahasa Inggris yang diterima di sejumlah negara di seluruh dunia. Ujian ini mutlak penting bagi calon atau pembicara yang bahasa pertamanya bukan bahasa
Inggris. Ujian bahasa Inggris TOEFL khusus ini sering diperlukan untuk persyaratan penerimaan di hampir semua institusi di seluruh dunia, termasuk yang menawarkan program undergraduate (S-1) serta graduate (S-2 atau S-3). Ini berlaku untuk tingkat studi sarjana dan pascasarjana. Hasil ujian TOEFL juga dimanfaatkan sebagai bahan penilaian kemampuan bahasa Inggris calon mahasiswa yang mendaftar ke institusi di negara lain. Alokasi waktu khas untuk ujian ini adalah sekitar tiga jam, dan dibagi menjadi empat bidang yang berbeda, termasuk pemahaman listening comprehension, grammar structure and written expression, reading comprehension dan writing.
Menurut temuan penelitian, kandidat yang memiliki skor TOEFL di bawah 550 memiliki peluang yang sangat rendah untuk diterima di institusi di Kanada. Ini memberikan penjelasan tentang pentingnya dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris di zaman sekarang ini. Program Studi Pendidikan Biologi di FKIP Universitas Palangka Raya memiliki pengetahuan yang kuat tentang betapa pentingnya di zaman sekarang ini untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Akibatnya, program akademik dapat menyediakan kelas yang membantu siswa meningkatkan kemahiran mereka dalam bahasa Inggris. Ada informasi tertentu tentang kompetensi bahasa Inggris siswa yang dapat diperoleh dari survei pendahuluan yang dilakukan peneliti.
Kemampuan berbahasa yang baik menurut Soernadi dalam (Biring dkk., 2021) terdapat 4 kemampuan yaitu: (1) kemampuan menyimak (listening skill), (2) kemampuan berbicara (speaking skill), (3) kemampuan membaca (reading skills), (3) dan (4) kemampuan menulis (writing skill). Jika dibandingkan dengan perolehan kemampuan bahasa lainnya, keterampilan mendengarkan dikaitkan dengan serangkaian tantangan yang unik, seperti yang ditunjukkan oleh sejumlah penelitian yang dilakukan oleh para ahli peneliti. Menurut Adnan (2012) Ada beberapa tantangan yang dihadapi pembelajar bahasa Inggris dalam hal keterampilan menyimak mereka. Tantangan tersebut antara lain sebagai berikut: (1) pendengar tidak dapat mengontrol kecepatan bicara orang yang menyampaikan pesan, dan mereka dapat memahami satu pesan pada saat yang sama pesan lainnya hilang;
(2) pendengar tidak memiliki kesempatan untuk bertanya; (3) kosakata pendengar yang terbatas; dan (4) ketidakmampuan pendengar untuk mengenali dan memahami “tanda-tanda” yang dikirimkan oleh pembicara, yang menyebabkan pendengar kehilangan informasi. diterima, (6) tidak dapat berkonsentrasi karena berbagai faktor, antara lain tetapi tidak terbatas pada materi pelajaran yang tidak menarik, kelelahan fisik, lingkungan yang bising, dan
Jurnal Karinov Vol. 5 No. 3 (2022) : September
ISSN: 1978-1520 sebagainya; (7) memiliki keprihatinan tentang perbedaan antara metode dan materi yang diajarkan oleh guru dan yang didengar melalui perangkat audio atau penutur asli bahasa Inggris (Kurniawati, 2015).
Sementara menurut Nemtchinova (2020), faktor internal dan faktor eksternal adalah dua kategori yang dapat mempengaruhi dalam mengklasifikasikan variabel.
Kesulitan mendengar dan gangguan tubuh adalah contoh faktor internal yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk mendengarkan (Tamrin
& Yanti, 2019). Tindakan mendengarkan dapat terhambat ketika seseorang memiliki masalah dengan pendengarannya atau ketika alat bantu dengarnya mengalami kerusakan yang membuat mereka kurang efektif dalam mencegah lewatnya gelombang suara pada tingkat tertentu. Dalam nada yang sama, jika kesehatan fisiknya tidak dalam kondisi yang baik, dia tidak akan dapat cukup fokus pada pembicaraan yang dilakukan orang lain. Pertimbangan lain adalah fakta bahwa kita secara fisik tidak mampu mendengarkan segala sesuatu yang kita hadapi pada saat yang sama.
Karena aspek berikutnya, yaitu berpikir cepat, sulit untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang membutuhkan mendengarkan secara menyeluruh.
Motivasi dan emosi yang dialami seseorang pada saat mendengarkan mungkin juga berpengaruh pada proses mendengarkan (minat pribadi). Ketika informasi diperlukan, pendengar akan lebih memperhatikan dan membuat upaya yang lebih disengaja untuk memilih dan memilih apa yang mereka perhatikan untuk didengar.
Unsur-unsur yang dianggap eksternal antara lain faktor lingkungan, faktor materi, pembicara, dan berbagai gaya dan strategi berbicara. Tindakan mendengarkan dapat dipengaruhi oleh konten yang dikatakan. Informasi baru akan lebih menarik perhatian pendengar daripada informasi yang serupa dengan apa yang sudah mereka ketahui atau alami.
Kehadiran pembicara adalah sumber gangguan potensial lainnya bagi audiens. Seorang pembicara yang ketakutan, misalnya, akan lebih sulit meyakinkan orang lain tentang sudut pandang mereka daripada pembicara berpengalaman yang memancarkan ketenangan (Newton & Nation, 2020).
Selain itu, gaya, tampilan, dan teknik juga dapat menjadi salah satu aspek yang memengaruhi proses menyimak bersama dengan visualisasi dan penggunaan teknologi yang relevan.
Lawtie (2014) menyatakan bahwa kesulitan berbicara yang dialami seseorang, khususnya mahasiswa, disebabkan oleh berbagai faktor:
mahasiswa tidak mau berbicara atau berkata apa-apa di kelas; kelas terlalu riuh, sehingga pengajar kehilangan kendali atas kelas. Goh & Burns (2012) menjelaskan ada tiga alasan mengapa mahasiswa ragu untuk terlibat dalam tugas kelas, menurut
penulis. a) Pertama, karena siswa percaya bahwa mendengarkan guru, memahami membaca dan menulis dari buku teks, dan melakukan latihan sudah cukup untuk belajar bahasa; b) Kedua, kesulitan linguistik,meliputi kesulitan memahami perbedaan bahasa ibu dan bahasa yang dipelajari, kesulitan memahami pengucapan penutur asli, dan kesulitan memahami perbedaan gramatikal antara bahasa ibu dan bahasa yang dipelajari; c) Kategori ketiga terdiri dari unsur-unsur psikologis dan lainnya seperti pengaruh budaya, pengalaman, kurangnya motivasi, ketakutan, dan penghinaan saat berbicara di kelas.
Devine (2012) menunjukkan bahwa unsur- unsur seperti faktor motivasi, lingkungan rumah, bahan bacaan, dan instruktur adalah faktor yang berpengaruh. Serupa dengan pendapat yang dikemukakan oleh Grellet (2013) bahwa variabel endogen dan eksogen adalah dua kategori yang membentuk keseluruhan elemen yang mempengaruhi kemampuan membaca seseorang. Faktor endogen adalah faktor yang melekat pada diri seseorang.
Beberapa contoh elemen endogen termasuk faktor perkembangan seseorang, yang dapat dipecah menjadi tiga kategori: biologis, psikologis, dan linguistik. Faktor eksogen, di sisi lain, adalah mereka yang berasal dari suatu tempat selain di dalam diri seseorang, seperti lingkungan.
Menurut Hughes (2020) Kemampuan menulis seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang paling penting adalah (1) penguasaan pengetahuan bahasa yang meliputi penguasaan kosakata aktif, penguasaan aturan tata bahasa, dan penguasaan gaya bahasa; (2) memiliki kemampuan penalaran yang baik; dan (3) memiliki pengetahuan yang baik dan mantap tentang objek pekerjaan orang tersebut. Jika seseorang dapat mempertahankan kontrol atas ketiga aspek ini, akan lebih mudah bagi mereka untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas.
Sulitnya mengumpulkan bahan referensi dan referensi untuk menulis dan sulitnya memilih mata pelajaran atau tema untuk bahan tulisan, keduanya merupakan contoh dari jenis keadaan eksternal yang mungkin menghalangi seseorang untuk menulis.
Dengan berpijak pada latar belakang, data yang didapatkan, serta penjelasan yang dipaparkan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Palangka Raya dalam keterampilan listening, speaking, reading, dan writing serta dua komponen kebahasaan yaitu grammar dan vocabulary melalui evaluasi tentang faktor-faktor tersebut yang telah disebutkan.
Apabila faktor-faktor tersebut diketahui, maka manfaat yang dapat diperoleh antara lain terciptanya link and match antara pembelajaran perguruan tinggi khususnya pembelajaran bahasa Inggris melalui
Page | 174 pengembangan bahan ajar yang menekankan pada
penguasaan kompetensi bahasa yang relevan dengan tuntutan pasar kerja. Bahan ajar ini dapat membantu dalam menambah pengetahuan dan wawasan.
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan upaya peningkatan hasil nilai TOEFL siswa, serta memberikan informasi atau masukan untuk melakukan perbaikan terkait program-program untuk mendukung kemampuan bahasa Inggris siswa dan kebijakan untuk meningkatkan kualitas kemampuan bahasa Inggris siswa. tentang hal-hal yang berkaitan dengan kualitas kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki oleh siswa.
2. METODE
Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian deskriptif. Karena hanya ada satu variabel dalam penelitian ini, maka teknik yang paling cocok adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – Desember 2021 di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Palangka Raya yang beralamat di Jalan Yos Sudarso Palangka Raya.
Peneliti pun menggunakan purposive sampling method dalam menentukan subjek penelitian yaitu dengan melibatkan 15 orang mahasiswa semester 4 (yang sudah menempuh Mata Kuliah Bahasa Inggris di Prodi Pendidikan Biologi). Adapun pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen angket (kuesioner). Angket yang digunakan berisikan daftar pertanyaan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan Bahasa Inggris mahasiswa. Pertanyaan yang dikembangkan mengacu pada teori Soenardi dalam Biring dkk. (2021) tentang empat jenis keterampilan berbahasa, Bailey (2020) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan Listening, Paradewari (2017) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan Speaking, Devine (2012) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan Reading, dan Jani &
Mellinger (2015) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan writing.
Gambar 1. Situasi Pengisian Respon Angket oleh Mahasiswa
Setelah data selesai dikumpulkan, data masuk pada proses analisis. Teknik analisis data yang dipergunakan adalah teknik analisis data deskriptif dengan metode tabulasi. Dengan melakukan tabulasi, data diolah ke dalam bentuk tabel dengan memproses perhitungan frekuensi dan persentase jumlah responden yang sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan tidak setuju terhadap tiap pernyataan dalam angket.
Selanjutnya, data yang telah dianalisis digunakan untuk menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa. Dalam penelitian ini, ada sejumlah tahapan yang dimulai dari tahap persiapan, tahapan penelitian, hingga tahapan pelaporan. Pelaporan dilakukan melalui rapat koordinasi untuk membahas hasil analisa data dan membuat kesimpulan penelitian. Hasil kesimpulan ditarik dari data kuantitatif yang direpresentasikan dengan jumlah hitung, serta diolah sebagai persentase. Data tersebut kemudian digambarkan secara kualitatif dalam bentuk kata atau kalimat. Untuk lebih jelasnya, tahapan-tahapan tersebut disusun dalam bagan alir pada Gambar 2.
Gambar 2. Tahapan Kegiatan 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Respon Angket
Berdasarkan Gambar 3, responden sangat setuju bahwa kesulitan memahami kosa kata (vocabulary) yang terdapat di dalam teks bahasa Inggris merupakan faktor utama yang mempengaruhi keterampilan mereka dalam menyimak (listening).
Sementara itu, 8 orang responden setuju bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memahami kosa kata (vocabulary) bahasa Inggris sehingga
Persiapan Penelitian:
Menentukan subyek, lokasi, dan penyusunan instrumen penelitian Peneliti mengumpulkan subyek penelitian dan membuat kesepakatan
untuk berkomunikasi Peneliti melaksanakan pemberian angket kepada
subyek penelitian Peneliti melaksanakan pemberian angket kepada
subyek penelitian Peneliti menganalisa data angket yang diberikan kepada
subyek penelitian Peneliti mendeskripsikan hasil
analisis data menggunakan kata-kata Peneliti menarik kesimpulan
dan membuat laporan penelitian
Jurnal Karinov Vol. 5 No. 3 (2022) : September
ISSN: 1978-1520 menghambat keterampilan mereka saat menyimak (listening). Sedangkan, 6 orang responden tidak setuju dengan pernyataan diatas. Artinya, mereka berpendapat bahwa kosa kata bukanlah faktor yang menyebabkan kesulitan saat menyimak (listening).
Terakhir, 0 orang responden sangat tidak setuju dengan pernyataan diatas. Secara garis besar, sebagian besar responden berpersepsi bahwa mereka kesulitan memahami kosa kata (vocabulary) pada saat menyimak (listening) teks Bahasa Inggris.
Gambar 3. Faktor Keterampilan Menyimak (listening) Teks Bahasa Inggris
Selanjutnya, pada pernyataan kesulitan menyimak karena kesulitan memahami tata bahasa (grammar), terdapat 1 orang responden yang sangat setuju dan 10 orang responden yang setuju.
Sedangkan pada persentase 4 orang responden menyatakan tidak setuju dan 0 orang responden yang sangat tidak setuju. Maka dari itu, hasil tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden menemukan kesulitan memahami tata bahasa (grammar) pada saat menyimak (listening) dalam bahasa Inggris.
Pada pernyataan berikutnya, terdapat 3 orang yang sangat setuju dan 9 orang responden yang setuju terkait kesulitan menyimak terhadap menangkap ide pokok dalam bahasa Inggris yang disampaikan hanya dalam satu kali. Sementara itu, ada 3 orang responden yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut, dan 0 orang responden yang sangat tidak setuju. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, ada sebanyak 12 orang yang masih merasa kesulitan untuk menangkap ide pokok yang disampaikan hanya satu kali dalam bahasa Inggris sedangkan ada 3 orang yang merasa tidak demikian.
Pada pernyataan selanjutnya, yaitu kesulitan dalam membedakan pelafalan (pronunciation) kata- kata yang digunakan mempengaruhi keterampilan menyimak teks berbahasa Inggris (listening),
ditemukan bahwa 1 orang responden yang sangat setuju dan sebanyak 11 orang responden yang setuju terhadap pernyataan tersebut. Namun, ada 20% (3 orang) responden yang tidak setuju dan 0 orang yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa masih ada sebagian besar responden yang merasakan kesulitan menyimak bahasa Inggris (listening) dikarenakan kurangnya kemampuan membedakan pelafalan (pronunciation) kata-kata.
Pada pernyataan terakhir tidak terdapat responden yang sangat setuju yaitu 0 orang dan 8 orang yang setuju bila menyimak (listening) dalam bahasa Inggris merupakan keterampilan yang paling sulit daripada keterampilan yang lain. Sedangkan terdapat 6 orang yang tidak setuju dan 0 orang yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut.
Dari jumlah respon yang ada, dapat disimpulkan bahwa ada lebih banyak responden yang berpersepsi bahwa menyimak (listening) adalah keterampilan yang paling sulit dalam bahasa Inggris dibandingkan responden yang tidak merasa menyimak sebagai keterampilan yang paling sulit dalam bahasa Inggris.
Gambar 4. Faktor Keterampilan Berbicara (speaking) dalam Bahasa Inggris
Berdasarkan Gambar 4, pernyataan bahwa kesulitan dalam menggunakan kosa kata (vocabulary) yang tepat mempengaruhi berbicara dalam bahasa Inggris memperoleh persentase sebagai berikut: 1 orang responden sangat setuju dan 8 orang responden setuju terhadap pernyataan tersebut.
Namun, ada 6 orang responden yang tidak setuju dan 1 orang yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Dari hasil tersebut, peneliti menemukan bahwa sebagian besar responden merasa kesulitan saat mencari kosa kata yang tepat untuk berbahasa Inggris.
Pada pernyataan selanjutnya, terdapat 2 orang yang sangat setuju dan 10 orang responden yang
1 1
3 1 0
8 10 9
11 8
6 4 3 3
6
0 0 0
0 1
kosa kata (vocabulary)
tata bahasa (grammar) ide pokok yang disampaikan
membedakan pelafalan
menyimak (listening)
Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju
1 2 0
4 1
8 10 10 8 5
6 3
14 3
8
0 0
0 0
1
Penggunaan Kosa Kata penggunaan tata bahasa
(grammar) melafalkan kata gugup karena tidak
terbiasa keterampilan berbicara
Page | 174 setuju dengan penggunaan tata bahasa (grammar)
yang tepat ketika berbicara bahasa Inggris.
Sementara itu, ada 3 orang responden yang tidak setuju terkait pernyataan tersebut, serta 0 orang responden yang sangat tidak setuju. Berdasarkan hasil data tersebut, jumlah responden yang masih sangat memperhatikan penggunaan tata bahasa (grammar) dalam berbicara bahasa Inggris lebih dominan dibandingkan jumlah responden yang tidak setuju dan sangat tidak setuju untuk berfokus dalam penggunaan tata bahasa (grammar) saat berbicara bahasa Inggris (speaking).
Lalu, pada pernyataan kesulitan dalam melafalkan kata dengan tepat saat berbicara dalam bahasa Inggris, terdapat 0 orang responden sangat setuju dan 11 orang responden yang setuju.
Sedangkan pada persentase 4 orang responden menyatakan tidak setuju dan 0 orang responden yang sangat tidak setuju. Berdasarkan hasil tersebut, tidak ada responden yang berpendapat sangat setuju dan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Namun, persentase responden yang menyetujui bahwa kesulitan melafalkan kata (pronounciation) yang tepat saat menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan berbicara bahasa Inggris lebih besar dari persentase responden yang tidak menyetujui.
Pada pernyataan keempat, 4 orang responden sangat setuju bahwa faktor utama yang mempengaruhi keterampilan mereka dalam berbicara (speaking) adalah perasaan sangat gugup karena tidak terbiasa berbahasa Inggris. Sementara itu, 8 orang responden setuju bahwa mereka mengalami gugup saat berbicara bahasa Inggris karena tidak terbiasa.
Sedangkan, 3 orang responden tidak setuju dengan pernyataan diatas. Artinya, mereka berpendapat bahwa kegugupan berlebihan akibat tidak biasa berbicara dalam bahasa Inggris bukanlah faktor utama yang mempengaruhi penguasaan keterampilan berbicara. Terakhir, 0 orang responden sangat tidak setuju dengan pernyataan diatas. Jadi, tidak ditemukan responden yang sama sekali tidak merasa gugup saat berbicara (speaking) dalam bahasa Inggris.
Pada pernyataan terakhir, ditemukan bahwa persentase responden yang sangat setuju adalah 1 orang, dan yang setuju adalah 5 orang. Maka, ada 6 orang yang berpersepsi bahwa berbicara (speaking) dalam bahasa Inggris merupakan keterampilan yang paling sulit daripada keterampilan yang lain. Namun, terdapat 8 orang yang tidak setuju dan 1 orang yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut, sehingga ada 9 orang yang berpendapat bahwa berbicara (speaking) bukan keterampilan paling sulit untuk dikuasai. Dapat disimpulkan bahwa kali ini jumlah responden yang merasa keterampilan berbicara bukan keterampilan yang paling sulit
dikuasai lebih banyak dibandingkan jumlah responden yang merasa berbicara merupakan keterampilan yang paling sulit untuk dikuasai.
Gambar 5. Faktor Keterampilan Membaca (reading) Teks dalam Bahasa Inggris
Berdasarkan data pada Gambar 5 diatas, orang responden sangat setuju bahwa kesulitan memahami isi teks bahasa Inggris dikarenakan keterbatasan kosa kata (vocabulary) menjadi faktor utama yang mempengaruhi keterampilan mereka dalam membaca (reading). Sementara itu, 10 orang responden setuju bahwa mereka kesulitan memahami isi teks bahasa Inggris saat membaca dikarenakan keterbatasan kosa kata. Sedangkan, 3 orang responden tidak setuju dengan pernyataan diatas. Artinya, mereka berpendapat bahwa keterbatasan kosa kata mempengaruhi pemahaman isi dari teks berbahasa Inggris saat membaca. Terakhir, 0 orang responden sangat tidak setuju dengan pernyataan diatas. Jadi, tidak ditemukan responden yang sama sekali tidak setuju bahwa keterbatasan kosa kata saat membaca (reading) isi teks bahasa Inggris mempengaruhi pemahaman mereka.
Lalu pada pernyataan kedua, terdapat sebesar 0 orang responden sangat setuju dan 10 orang responden yang setuju bahwa kesulitan memahami isi teks bahasa Inggris disebabkan oleh susunan tata bahasa yang digunakan. Sedangkan 4 orang responden menyatakan tidak setuju dan 1 orang responden yang sangat tidak setuju. Berdasarkan hasil tersebut, persentase responden yang menyetujui bahwa kesulitan memahami isi teks berbahasa Inggris dipengaruhi oleh susunan tata bahasa yang digunakan lebih besar daripada persentase responden yang pendapatnya tidak sejalan.
Selanjutnya, pada pernyataan ketiga, yaitu ketidakterbiasaan membaca teks dalam Bahasa Inggris menjadi salah satu faktor berpengaruh dalam
2 0
2 4 0
10 10 4
11 1
3 4
9 0
12
0 1 0 0
2
keterbatasan kosa kata (vocabulary) susunan tata bahasa tidak terbiasa membaca
teks dalam Bahasa Inggris.
mengulang membaca teks bahasa Inggris keterampilan membaca
(reading)
Page | 177
Jurnal Karinov Vol. 5 No. 3 (2022) : September
ISSN: 1978-1520 kualitas membaca (reading), ditemukan bahwa 2 orang responden sangat setuju dan sebanyak 4 orang responden setuju terhadap pernyataan tersebut.
Namun, ada 9 orang responden yang tidak setuju dan 1 orang yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Berdasarkan hasil tersebut, jumlah responden yang setuju terhadap pernyataan tersebut tidak sebesar dari responden yang tidak setuju. Masih ada sebagian besar responden merasa ketidakbiasaan membaca teks berbahasa Inggris bukan menjadi faktor yang mempengaruhi kualitas memahami teks saat membaca (reading).
Pada pernyataan terakhir terkait kesulitan keterampilan membaca (reading) adalah keterampilan yang paling sulit untuk dipelajari, ditemukan bahwa 12 orang responden yang tidak setuju dan 2 orang responden yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Lalu hanya ada 1 orang responden yang setuju dan tidak ada responden yang sangat setuju yaitu 0 orang terhadap pernyataan tersebut. Dari hasil tersebut, sangat terlihat bahwa jumlah responden yang merasa ada keterampilan lain yang lebih sulit dari pada membaca merupakan mayoritas. Sedangkan, hanya ada satu orang saja yang setuju bahwa kemampuan membaca adalah keterampilan yang paling sulit dipelajari.
Gambar 6. Faktor Keterampilan Menulis (writing) Teks Bahasa Inggris
Berdasarkan Gambar 6, orang responden sangat setuju dan 7 orang responden setuju bahwa kesulitan menulis teks bahasa Inggris dikarenakan keterbatasan kosa kata (vocabulary) menjadi faktor utama yang mempengaruhi keterampilan mereka dalam menulis (writing). Sementara itu, 8 orang responden tidak setuju dengan pernyataan diatas.
Artinya, mereka berpendapat bahwa keterbatasan kosa kata tidak mempengaruhi kualitas keterampilan menulis. Terakhir, 0 orang responden sangat tidak setuju dengan pernyataan diatas, atau dengan kata
lain, tidak ditemukan responden yang sama sekali tidak setuju bahwa keterbatasan kosa kata mempengaruhi keterampilan menulis (writing) mereka.
Pada pernyataan selanjutnya, terdapat 1 orang responden yang sangat setuju dan 8 orang responden yang setuju bahwa kesulitan menulis teks bahasa Inggris dikarenakan sangat fokus terhadap tata bahasa (grammar) yang akan digunakan. Sementara itu, ada 6 orang responden yang tidak setuju terkait pernyataan tersebut, namun tidak ditemukan responden 0 orang yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Berdasarkan hasil analisa data, sebagian besar responden masih mendapatkan kesulitan untuk menulis teks berbahasa Inggris dikarenakan terlalu fokus pada penggunaan tata bahasa (grammar).
Lalu pada pernyataan kesulitan menulis teks bahasa Inggris dikarenakan kesulitan megembangkan ide dan menyusunnya, terdapat sebesar 2 orang responden sangat setuju dan 8 orang responden yang setuju. Sedangkan pada persentase 5 orang responden menyatakan tidak setuju dan 0 orang responden yang sangat tidak setuju. Berdasarkan hasil tersebut persentase responden yang menyetujui bahwa kesulitan mengembangkan ide dan menyusunnya saat menulis dalam bahasa Inggris merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas menulis lebih besar dari yang tidak menyetujui dan tidak terdapat yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut.
Terkait pernyataan “tidak percaya diri dengan hasil tulisan dalam bahasa Inggris yang telah di susun” mendapatkan respon setuju sebesar 7 orang dan mempunyai jumlah sama dengan responden yang tidak setuju, yaitu 7 orang. Namun, masih terdapat 1 orang responden yang sangat setuju dan 0 orang yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Berdasarkan hasil tersebut, walaupun jumlah yang setuju dan tidak setuju setara, akan tetapi bila ditambah dengan jumlah responden yang sangat setuju, maka jumlah responden yang berpendapat bahwa ketidakpercayaan diri terhadap tulisan mempengaruhi kualitas menulis mereka masih lebih dominan meskipun tidak mempunyai selisih yang besar.
Pada pernyataan terakhir, tidak terdapat responden yang sangat setuju yaitu 0 orang.
Sementara itu, ada 4 orang responden yang setuju bila keterampilan menulis (writing) adalah keterampilan yang paling sulit untuk dipelajari.
Namun, terdapat selisih yang lebih banyak, yaitu sebesar 10 orang tidak setuju dan 1 orang yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa kali ini jumlah responden yang merasa keterampilan menulis (writing) bukanlah keterampilan yang paling sulit untuk
0 1
2 1 0
7 8 8 7 4
8 6 5
7
10
0 0 0
0 1
keterbatasan kosa kata (vocabulary) susunan tata bahasa
kesulitan megembangkan ide
dan menyusunnya.
percaya diri dengan hasil tulisan keterampilan menulis
(writing)
Page | 174 dipelajari dalam bahasa Inggris lebih banyak
dibandingkan jumlah responden yang berpendapat keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang paling sulit untuk dipelajari.
Secara keseluruhan, hasil analisis seluruh data diatas menunjukkan bahwa faktor – faktor utama yang mempengaruhi antara lain: 1) Kemampuan Menyimak, dalam hal ini mahasiswa kesulitan dalam membedakan pelafalan (pronunciation) kata-kata yang didengar, 2) Kemampuan Berbicara, faktor yang mempengaruhi adalah tuntutan penggunaan tata bahasa (grammar) yang tepat dalam berbicara dan rasa sangat gugup karena tidak terbiasa berbicara, 3) Kemampuan Menulis, dalam hal ini yang mempengaruhi kemampuan mahasiswa adalah kesulitan mengembangkan ide dan menyusunnya, 4) Kemampuan Membaca, faktor yang mempengaruhi adalah kesulitan memahami isi bacaan bila tidak melakukan pengulangan saat membaca teks bahasa Inggris.
4. SIMPULAN
Berdasarkan hasil kegiatan inovatif yang dilakukan pada mahasiswa semester keempat Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Palangka Raya mengenai berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan bahasa Inggris siswa, yang mengarah pada beberapa kesimpulan berikut.
Pertama, pada keterampilan menyimak (listening), persentase terbesar terdapat pada faktor kesulitan dalam membedakan pelafalan (pronunciation) kata- kata yang didengar. Pada pernyataan tersebut, 73,33% responden setuju dan 6,66% sangat setuju.
Kedua, pada keterampilan berbicara (speaking) dalam berbahasa Inggris, faktor yang memperoleh persentase tertinggi sebagai penyebab keterhambatan penguasaan berbicara adalah tuntutan penggunaan tata bahasa (grammar) yang tepat dalam berbicara dengan persentase 13,33% sangat setuju dan 66,66%
setuju. Selanjutnya disusul oleh faktor rasa sangat gugup karena tidak terbiasa berbicara dengan persentase 26,66% sangat setuju dan 53,33% setuju.
Melalui hasil tersebut dapat dilihat bahwa mayoritas responden sepakat bahwa keterampilan berbicara harus memperhatikan tata bahasa dan kelancaran berbicara dapat terhambat oleh rasa gugup karena tidak terbiasa berbicara. Ketiga, pada pernyataan faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca, persentase tertinggi terdapat pada pengulangan saat membaca teks bahasa Inggris lebih dari satu kali diperlukan untuk memahami isi bacaan dengan jumlah responden menyetujui yaitu sebesar 26,66%
sangat setuju dan 73,33% setuju. Terakhir, pada keterampilan menulis (writing), faktor yang paling mempengaruhi adalah kesulitan mengembangkan ide dan menyusunnya. Faktor tersebut mendapatkan
persentase tertinggi, yaitu 13,33% sangat setuju dan 53,33% setuju. Dari keempat keterampilan berbahasa Inggris tersebut, keterampilan paling sulit untuk dipelajari berdasarkan hasil analisis jumlah tanggapan responden terletak pada keterampilan menyimak (listening). Selanjutnya, diikuti oleh keterampilan berbicara (speaking), menulis (writing), lalu keterampilan membaca (reading). Berdasarkan hal tersebut, saran berikut dapat dipertimbangkan demi kelancaran berbahasa Inggris, yaitu mahasiswa hendaknya mengenali faktor-faktor yang sekiranya paling berpengaruh dalam mempelajari bahasa Inggris dan mencoba untuk mendalami bahasa Inggris sesuai dengan bidang yang diperlukan dalam dunia pendidikan juga pekerjaan. Selanjutnya, setelah mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kendala mahasiswa dalam menguasai bahasa Inggris, diharapkan bagi para pengajar/dosen/instruktur bahasa Inggris untuk memformulasikan strategi mengajar yang dapat mengurangi kesulitan mahasiswa dalam proses pembelajaran bahasa Inggris.
UCAPAN TERIMA KASIH
Tim penyusun sekaligus tim pelaksana kegiatan ini mengucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Palangka Raya, Ketua LPPM Universitas Palangka Raya, dan Dekan FKIP Universitas Palangka Raya. Beliau-beliau ini telah mendukung dan memfasilitasi tim penulis dengan memberikan akses serta dana hibah melalui PNBP DIPA Universitas Palangka Raya agar dapat melaksanakan kegiatan penelitian dengan 'Inovatif' sampai akhir.
DAFTAR RUJUKAN
Adnan, A. (2012). Pengajaran menyimak bahasa Inggris: Masalah dan solusinya. Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa Dan Pembelajaran Bahasa, 6(1), 1–9.
Bailey, K. M. (2020). Teaching listening and speaking in second and foreign language contexts. Bloomsbury Academic.
https://doi.org/10.5040/9781350093560
Biring, S. S., Burhanuddin, B., & Achmad, A. K.
(2021). Kalimat Imperatif Bahasa Jerman.
Phonologie: Journal of Language and Literature, 2(1), 47–52.
Devine, T. G. (2012). Teaching Reading Comprehension from Teaching to Practice.
Merril Publishing Diptodadi.
Goh, C. C. M., & Burns, A. (2012). Teaching speaking: A holistic approach. Cambridge University Press.
Page | 179
Jurnal Karinov Vol. 5 No. 3 (2022) : September
ISSN: 1978-1520 Grellet, F. (2013). Developing Reading Skill.
Cambridge University Press.
Hapsari, I. P., Rozi, F., Farida, L. A., & Wahyuni, R.
N. B. (2021). Portfolio assessment for improving unnes students’ english speaking ability. ELTLT 2020: Proceedings of the 9th UNNES Virtual International Conference on English Language Teaching, Literature, and Translation, ELTLT 2020, 14-15 November 2020, Semarang, Indonesia, 1.
Hughes, A. (2020). Testing for language teachers.
Cambridge University Press.
Jani, J. S., & Mellinger, M. S. (2015). Beyond
“writing to learn”: Factors influencing students’ writing outcomes. Journal of Social Work Education, 51(1), 136–152.
Kurniawati, D. (2015). Studi tentang faktor-faktor penyebab kesulitan belajar menyimak bahasa inggris pada mahasiswa semester iii pbi iain raden intan lampung tahun pelajaran 2015/2016. English Education: Jurnal Tadris Bahasa Inggris, 8(1), 157–178.
https://doi.org/https://doi.org/10.24042/ee- jtbi.v8i1.515
Lawtie. (2014). Problems during speaking activities in the classroom cited in “Teaching Speaking Skills 2- Overcoming Classroom at 76.
http://www.teachingenglish.org.uk/think/speak /speak_skills2.shtml.
Nemtchinova, E. (2020). Teaching Listening, Revised Edition. ELT Development Series. ERIC.
Newton, J. M., & Nation, I. S. P. (2020). Teaching ESL/EFL listening and speaking. Routledge.
https://doi.org/10.4324/9780429203114 Paradewari, D. S. (2017). Investigating students’ self-
efficacy of public speaking. International Journal of Education and Research, 5(10), 97–
105.
Sutrisno. (2021). Improvement of human resources competence with academic quality policy in the economic sector of higher education providers in east java. Transformational Language, Literature, and Technology Overview in Learning (TRANSTOOL), 1(1), 19–28.
https://doi.org/https://doi.org/10.55047/transto ol.v1i1.104
Tamrin, A. F., & Yanti, Y. (2019). Peningkatan keterampilan bahasa Inggris masyarakat pegunungan di Desa Betao Kabupaten Sidrap.
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 15(2).
https://doi.org/10.20414/transformasi.v15i2.16 73