• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR PENYEBAB ANAK TIDAK MELANJUTKAN PENDIDIKAN TINGGI PADA KELUARGA MAMPU

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "FAKTOR PENYEBAB ANAK TIDAK MELANJUTKAN PENDIDIKAN TINGGI PADA KELUARGA MAMPU "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR PENYEBAB ANAK TIDAK MELANJUTKAN PENDIDIKAN TINGGI PADA KELUARGA MAMPU

(Studi Kasus: Keluarga Penambang Emas di Desa Teluk Pandak

Kecamatan Tebo Tengah Kabupaten Tebo)

ARTIKEL

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata I)

DEDI KURNIAWAN 11070111

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2016

(2)
(3)

1

DEDI KURNIAWAN (11070111), Faktor Penyebab Anak Tidak Melanjutkan Pendidikan Tinggi (Studi Kasus Keluarga Penambang Emas desa Teluk Pandak Kecamatan Tebo Tengah Kabupaten Tebo). Skripsi. Program Studi Pendidikan Sosiologi. Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP PGRI) Sumatera Barat. 2016.

Oleh:

Dedi Kurniawan1, Liza Husnita 2, Hefni3

*TheSociology Department Student of STKIP PGRI West Sumatera

**The Sosiology Staff of Sociology Department of STKIP PGRI West Sumatera

ABSTRAK

In this study the object of study were children do not pursue higher education are classified as economic families are able but do not pursue higher education. This research was motivated by the interest the authors to determine the cause of the child does not pursue higher education in the family can afford that gold miners in the village of Teluk Pandak District of Central Tebo Tebo. Insufficient economic needs of families materially from the gold mine, the child should be able to get the opportunity to pursue higher education in reality there are still children do not pursue higher education who come from privileged families in the village of Teluk Pandak District of Central Tebo Tebo.

Based on these factors the researchers want to reveal the cause of the child does not pursue higher education in the area. The purpose of this study to describe the factors causing the child does not

pursue higher education.

The theory used in this study is a phenomenological theory proposed olehAlferd Schut. Alferd Schut express human action is determined by the meaning that is understood about something called the motif, meaning the action has a specific reason. This study used a qualitative approach with descriptive type, selection techniques informants by using purposive sampling. The number of informants as a whole 14 people. Data were collected by using observation, interview and documentation and analyzed by Miles and Huberman interactive analysis. Initial steps are reducing the

data, displaying data and final conclusion.

Results of the study revealed that factors that affect children do not pursue higher education in the family can afford in the area caused by 1. The internal factors (a). The desire to make money. (B).

Lack of awareness of the importance of higher education. 2. External Factors which includes (a).

Friends sepergaulan, (b). Economic conditions improved from the previous. (C). Revenues were great.

1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

2 Pembimbing I, staf Pengajar Program Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

3 Pembimbing II, staf Pengajar Program Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

(4)

2 PENDAHULUAN

Pada hakekatnya pendidikan sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Pendidikan merupakan proses menyiapkan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Pendidikan berperan penting dalam pembangunan nasional, karena dengan adanya pendidikan akan terbentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh sebab itu pendidikan pada generasi muda diharapkan mampu mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional. Menurut Undang- undang No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 14 jalur pendidikan dibedakan menjadi tiga yaitu pendidikan formal, non formal dan informal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang berstruktur dan berjenjang, terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Sedangkan pendidikan non formal merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara berstruktur dan berjenjang misalnya kursus. Selanjutnya pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. “Pendidikan tinggi merupakan tumpuan akhir seluruh jenjang pendidikan dan sebagai wahana pembentukan sarjana yang memiliki budi pekerti luhur, melangsungkan nilai nilai kebudayaan, memajukan kehidupan dan membentuk jiwa kepedulian sosial (Harsono,2008:22)”.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah tentang pendidikan tinggi menurut Pasal 34 ayat 2 Peraturan Pemerintah No 2 Tahun 1990, menjelaskan bahwa tujuan pendidikan tinggi adalah sebagai berikut: (a) Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. (b).

Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Pendidikan tinggi bagi keidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa

pendidikan sama sekali musthail suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju,sejatera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka (Ihsan, 2010:2).

Mengenyam pendidikan tinggi dalah keinginan hampir semua siswa yang telah menamatkan pendidikan SMA. Generasi yang berpendidikan tinggi akan meningkatkan harkat dan martabat suatu bangsa. Pendidikan betul-betul akan berpengaruh terhadap perubaan keidupan masyarakat dan dapat memberikan sumbangan dan pelatihan dan dapat diimlementasikan dalam kehidupan manusia, termasuk menjadi faktor pendorong perekonomian bangsa (Putra, 2010:2).

Seharusnya pendidikan tinggi berhak bagi seluruh anak lulusan sekolah menengah atas baik keluarga mampu maupun tidak mampu kerena dengan pendidikan tinggi dapat menjamin kehidupan mereka kearah yang lebih baik lagi dimasa yang akan akan datang.

Hal ini sangat berbeda dengan tingkat ekonomi masyarakat di Desa Teluk Pandak yang sebagian besar merupakan pekerja tambang emas akan tetapi anak mereka tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi. Menurut data penghasilan penduduk Desa Teluk Pandak. Berdasarkan data rata-rata penghasilan penambang emas di Desa Teluk Pandak dengan penghasilan terendah setiap minggunya Rp. 2.300.000 dan penghasilan tertinggi Rp. 3.500.000 dengan total per hari sejumlah Rp. 307.000 dan Rp.467.000, jika dijumlahkan dalam satu bulan hasil penjualan emas tersebut terendah senilai Rp. 9.200.000 dan tertinggi Rp. 14.000.000 penghasilan tersebut dapat dikategorikan masyarakat yang bekerja sebagai penambang emas termasuk kedalam keluarga mampu. Jika menggunakan kriteria tingkat kesejahteraan dari BPS, maka keluarga di atas tergolong keluarga mampu.

Sedangkan kriteria misikin menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014 antara lain yaitu, pendapatan keluarga kurang dari Rp. 233.740.- per hari, tidak memiliki tabungan atau barang yang mudah dijual dengan nilai Rp. 500.000.- (kendaraan, emas, ternak dan sebagainya), hidup dalam rumah

(5)

3 dengan dinding terbuat dari kayu berkualitas rendah seperti bambu, tidak mendapatkan fasilitas air bersih serta rumah tanpa listrik.

Berdasarkan kriteria keluarga tersebut maka tergolong dalam keluarga tidak mampu.

METODOLOGI PENELITIAN

penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode penelitian kualitatif di definisikan sebagai metode penelitian ilmu- ilmu sosial yang mengumpuslkan dan menganalisis data berupa kata-kata (lisan dan tulisan) dan perbuatan-perbuatan manusia, bukan menganalis angka-angka. Tidak berati dalam penelitian kualitatif para peneliti tabun dengan angka-angka, tidak mengumpulkan dan mengunakan angka dalam analisisnya.

Sebaliknya para, peneliti yang menggunakan metode penelitian kualitatif perlu mengumpulkan dan menganalisis angka apabila diperlukan. Akan tetapi, angka-angka tersebut tidaklah data utama dalam penelitianya (Afrizal, 2008:14).

Penelitian ini memerlukan data berupa kata-kata tertulis, data lisan dari orang-orang, dan perilakunya yang diamati. Untuk mendapatkan hal itu, penulis menggunakan tipe deskriptif. Tipe deskriptif adalah metode penelitian yang memberikan gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan tetap terhadap objek yang diteliti (Jauhari, 2010:10).

Adapun alasan menggunakan tipe deskriptif ini adalah untuk menjabarkan secara lebih mendalam dan dijelaskan secara detail yang didapat selama penelitian. Disini penulisan melihat secara jelas dan mendeskripsikan tentang “faktor penyebab anak tidak melanjutkan pendidikan tinggi pada keluarga mampu di Desa Teluk Pandak Kecamatan Tebo Tengah Kabupaten Tebo.

Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut yaitu berjumlah 14 orang dimana dari jumlah informan tersebut mereka adalah 7 orang anak pekerja tambang emas dan 3 orang tua dari anak penambang emas dan 4 orang tokoh masyarakat.

Analisis data yang dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian dilakukan di Desa Teluk Pandak Kecamatan Tebo tengah Kabupaten Tebo alasan penulis memilih lokasi ini karena di Desa teluk pandak terdapat anak tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi bekerja sebagai penambang emas.

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Desa Teluk Pandak ini di lewati aliran sungai Batang Hari Jambi kondisi ini lah yang melatar belakangi keluarga penambang emas beralih dari pekerjaan yang sebelumnya berkebun karet dan beralih kerja menjadi penambang emas . Yang menjadi pekerja yaitu mereka sendiri (pemilik tambang emas) dan anak mereka yang tamat Sekolah Menegah Atas (SMA) ikut bekerja. Desa Teluk Pandak merupakan daerah Kecamatan Tebo Tengah termasuk kedalam wilayah Kabupaten Tebo.

Daerah ini terletak antara 1,18 Lintang Utara sampai dengan 1,35 Lintang Selatan, dan antara 102,32 sampai 102,37 Bujur Timur.

Desa Teluk Pandak ini berjarak lebih kurang 7 km dari pusat pemerintah Kecamatan Tebo Tengah dan berada dipinggiran aliran sungai.

Daerah Desa Teluk Pandak Kecamatan Tebo Tengah mempunyai suhu udara 25,80 sampai 26,70 derajat, kelembaban udara 85 derajat sampai 56 derajat, curah hujan 2,412 mm/tahun, dan berada sekitar 90 meter sampai 175 meter di atas permukan laut. Topografi atau bentuk wilayahnya Desa Teluk Pandak secara keseluruhan dapat diperinci untuk kawasan dataran seluas 69,64 km2.

Jumlah penduduk Desa Teluk Pandak 1.358 jiwa dimana penduduk laki-laki berjumlah 686 dan penduduk perempuan berjumlah 672. Sedangkan jumlah penduduk menurut pendidikan berjumlah 524 orang tidak tidak tamat Sekolah Dasar, dan hanya 640 orang yang tamat Sekolah Dasar. Sedangkan lulusan sarjana hanya sebagian kecil dari jumlah penduduk yang ada yaitu sebanyak 7 orang. Dari persentase masyarakat yang melanjutkan pendidikan tinggi sangat rendah dan masih kurangnya kesadaran masyarakat

(6)

4 betapa pentingnya pendidikan tinggi.

Sedangkan mata pencaharian masyarakat desa teluk pandak petani dan tambang emas. Dan pegawai negri sipil (pns) sebanyak 4 orang dan tenaga honorer sebanyak 7 orang.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Sejarah Tambang Emas di Desa Teluk Pandak

Sebelum tambang emas ada di Desa Teluk Pandak masyarakat mencari emas masih dengan cara menggunakan peralatan yang sederhana seperti cangkul dan dulang untuk mendapatkan emas. Berkisar pada tahun 2007 tambang emas di ketahui masyarakat desa teluk pandak melalu salah seorang pendatang dari jambi sebrang. Tambang emas yang menggunakan tenaga mesin diesel ini atau yang lebih sering disebut masyarakat (dompeng) lebih meringankan pekerjaan untuk mendapatkan emas. Sejak itu keluarga anak penambang emas ini mengalihkan pekerjaan yang sebelumnya petani karet beralih kerja ke tambang emas.

Keberadaan tambang emas yang ada di Desa Teluk Pandak ini tidak memiliki izin atau penambang tanpa izin (PETI). Dengan keberadaan tambang emas merusak lingkungan salah satu dampak yang ditimbulkan yaitu masyarakat desa tidak lagi bisa menggunakan Air Sungai Batang Hari untuk memasak, karna air sungai batang hari sudah tercemari oleh limbah tambang emas.

Dan pekerjaan ini tidak luput dari razia aparat kepolisian karena pekerjaan ini tidak memiliki izin.

B. Profil Keluarga Anak Penambang Emas Keluarga anak penambang emas ini tergolong ke dalam keluarga mampu. mereka mempunyai penghasilan yang cukup, merekapun memiliki fasilitas kehidupan yang baik seperti, rumah yang sudah permanen, sepeda motor dan alat elektronik lainya. Rata- rata pendidikan keluarga anak penambang emas hanya tamat sekolah dasar (SD) dan begitupun dengan anak mereka yang hanya sanggup menamatkan sekolah menegah atas

(SMA) dan tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi

C. Faktor Penyebab Anak Tidak Melanjutkan Pendidikan Tinggi 1. Faktor Internal

a. Keinginan Bekerja Mencari Uang Anak yang tidak melanjutkan pendidikan mereka memang sunguh-sungguh bekerja untuk mencari uang dari cara mereka bekerja mulai dari pagi sampai sore.

berkeinginan untuk kerja, karena mereka ingin memperoleh penghasilan sendiri dan mudahnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan, seperti membeli sepeda motor, hal tersebut yang menyebabkan anak tidak melanjutkan pendidikan tinggi.

b. Kurangnya Kesadaran Terhadap Pentingnya Pendidikan Tinggi.

Kurangnya kesadaran terhadap pentingnya pendidikan tinggi seperti mereka menganggap pendidikan tinggi hanya menghabiskan waktu dan uang. Dilihat dari latar belakang pendidikan orang tua hanya sanggup tamat sekolah dasar (SD) dan tidak mengerti pungsi pendidikan tinggi.

Pendidikan tinggi nantinya juga bertujuan untuk mencari uang sehingga mereka lebih baik memamfaatkan kesempatan bekerja sebagai penamabang emas yang sudah jelas penghasilannya secara materi dari pada melanjutkan pendidikan tinggi.

2. Faktor Eksternal

a. Pendapatan yang Besar

Pendapatan yang besar dan mencukupi membuat anak yang bekerja tambang emas lupa betapa pentingnya pendidikan tinggi untuk mencapai mobilitas ekonomi yang tinggi. Keinginan untuk bekerja karena mereka ingin memperoleh penghasilan sendiri, yang besar dan mudahnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan, seperti membeli sepeda motor, handphone dan barang lainnya.

(7)

5 b. Pengaruh Teman Sepergaulan

Faktor lingkungan pergaulan anak menjadi salah satu faktor yang dominan karena anak tidak melanjutkan pendidikan tinggi tertarik dengan teman sepergaulan yang tidak melanjutkan pendidikan tinggi dan bisa mencari uang sendiri untuk membeli barang- barang yang diinginkannya. Pergaulan anak dengan teman sebayanya ternyata memberi pengaruh sosial yang menyebabkan anak ingin ikut seperti kebiasaan yang ada di lingkungan sosial (teman sepergaulan). Anak tidak melanjutkan pendidikan tinggi memang bergaul dengan anak sama-sama tidak melanjutkan pendidikan tinggi. Pergaulan mereka terlihat saat bekerja di tambang emas, nongkrong sepulang kerja, pergi main dan berkumpul bersama-sama teman sepergaulan mereka. Anak yang bekerja di tambang bisa membeli sepeda motor.

2. Kondisi Ekonomi yang Berbeda (Meningkat) dari Sebelumnya.

Keluarga anak penambang emas mereka dulu adalah masyarakat miskin yang sangat kesulitan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pada tahun 2007 tambang emas masuk ke Desa Teluk Pandak karna harga emas yang tinggi. Keadaan tersebut membuat mereka fokus terhadap peningkatan ekonomi dan kurang memperhatikan pendidikan.

Keadaan ekonomi yang berbeda dengan sebelumnya membuat mereka ingin mempertahankan keadaan yang sekarang dengan bekerja di tambang dan tidak melanjutkan pendidikan tinggi anak. Oleh karena itu, keluarga penambang emas di Desa Teluk Pandak berusaha memaksimalkan pemanfaatan tambang yang dimilikinya untuk mencapai tujuan hidup yang dipilihnya yaitu agar hidup mapan.

KESIMPULAN

Faktor penyebab anak tidak melanjutkan pendidikan tinggi adalah teman sepergaulan, keinginan bekerja mencari uang dan pendapatan yang besar, kurangnya kesadaran terhadap pendidikan tinggi. Hal tersebut disebabkan anak lebih tertarik dengan apa yang dilakukan temanya yang tidak melanjutkan pendidikan tinggi tetapi bisa menghasilkan uang yang banyak untuk membeli apa yang diinginkanya. Interaksi anak dengan teman sepergaulan memberikan pengaruh sosial yang cukup besar sehingga anak lebih memilih untuk bekerja di tamabang emas dari pada melanjutkan pendidikan tinggi.

Hal tersebut disebabkan mereka menganggap bahwa pendidikan tinggi hanya akan membuang waktu dan kurang memperhatikan fungsi pendidikan tinggi bagi masa depan mereka, orientasi hidup lebih banyak kepada kehidupan masa kini dengan cara bekerja dan mencari uang untuk kebutuhan dan kepuasan masa kini.

SARAN

Berdasarkan dari hasil penelitian yang di lakukan maka ada beberapa hal yang penulis sarankan terhadap berbagai pihak yaitu:

1. Orang tua hendaknya mau memberikan dukungan dan motivasi kepada anaknya untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Pendidikan tinggi sangat penting bagi masa depan anak. Pendidikan tinggi bukan hanya menghabiskan uang semata, uang bukanlah segalanya dan pendidikan bisa member manfaat yaitu skill dan pengetahuan yang tidak bisa didapatkan di tempa tlainya.

2. Pemerintah Kabupaten Tebo hendaknya berperan dalam memberikan pandangan kepada orang tua dan anak tentang pentingnya pendidikan tinggi di dalam kehidupanya

(8)

6

DAFTAR PUSTAKA SKRIPSI

Afrizal.2008. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif (dari Pengertian Sampai Penulisan Laporan). Laboratorium Sosiologi FISIP Unand.

Harsono. 2008. Model-model Pengelolaan perguruan Tinggi. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar Hujair.

Ihsan, Fuad. 2005. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.

Jauhari, Hari. 2010. Panduan Penulisan Skripsi Teori dan Aplikasi.

Pustaka Setia: Bandung

Putra,dicky. 2010. Skripsi “Harapan Siswa Melanjutkan Pendidikan di Perguruan Tinggi. UNAND Padang. Jurusan Sosiologi

.

Internet:

kompas.com.Batas. Kemiskinan Versi BPS Naik. di akses pada: 04 september 2015.

UNDANG-UNDANG

Anonim, 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 dan Undang- undangRepublik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Guru dan Dosen. 2008. Jakarta: Visimedia

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi yang berjudul “faktor-faktor penyebab anak lulusan SLTA tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di desa perteguhen kecamatan simpang empat kabupaten

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji faktor-faktor penyebab anak lulusan SLTP tidak melanjutkan pendidikan ke SLTA, dengan titik kajiannya pada

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor keluarga, lingkungan pergaulan dan lingkungan masyarakat sekitar dapat mendorong anak petani desa Mulia

Hasil penelitian mengenai Analisis Faktor Penyebab Anak Tidak Melanjutkan Pendidikan Menengah Di Desa Bagan Bhakti Kecamatan Balai Jaya Kabupaten Rokan Hilir di

Berdasarkan hasil penelitian Agustus 2016 tabel 6 adapun daftar anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke SMA, yaitu:1. Astimah adalah anak ketiga dari empat bersaudara,

Hasil wawancara dengan bapak urai mengenai anaknya yang tidak mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bapak urai mengatakan sangat sedih karena mau anaknya

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Pasar Barito terhadap empat anak tersebut bahwa faktor kesiapan bukanlah penghambat mereka dalam melanjutkan pendidikan ke

Keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan menjadikan orang tua tidak mampu untuk membiayai pendidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi; (2) faktor lingkungan