Sirmas Munte, ST, MT
PRODI: TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MEDAN AREA
FAKTOR PSIKOLOGI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
MATA KULIAH ERGONOMI MAKRO
( Macro Ergonomics ) 2 sks
PERTEMUAN - 7
Dasar pengambilan keputusan terdiri dari tingkat return harapan, tingkat risiko serta hubungan antara return dan risiko (Tandelilin, 2010). Adapun risiko sendiri yang mungkin dihadapi, yaitu business risk dan financial risk. Risiko sendiri adalah risiko yang dapat terjadi dan tidak selalu dapat dihindari.
Proses pengambilan keputusan merupakan proses keputusan yang berkesinambungan (going process).
Pada tahap pengambilan keputusan (keputusan investasi) meliputi 5 (lima) tahap keputusan yang berjalan terus-menerus sampai tercapai keputusan yang terbaik, yaitu:
1. Penentuan tujuan investasi 2. Penentuan kebijakan investasi 3. Pemilihan strategi investasi 4. Pemilihan asset
Pada tahap pemilihan asset pengambil keputusan dapat memilih jenis-jenis alternatif investasi, termasuk investasi berbasis hobi. Hobi dapat dikatakan sebagai alternatif investasi jika memiliki nilai asset dan dapat diperjual belikan.
Ada 3 (tiga) faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku dalam mengambil keputusan termasuk ketika akan melakukan keputusan berinvestasi (sebagai investor) yaitu: overconfidence, status quo, dan mental accounting.
Overconfidence, yaitu keputusan yang didasarkan pada perasaan percaya diri secara berlebihan. Overconfidence membuat pengambil keputusan menjadi overestimate terhadap pengetahuan yang dimilikinya dan underestimate terhadap prediksi yang dilakukan karena melebih-lebihkan kemampuannya (Nofsinger, 2005).
Status quo, yaitu keputusan yang memberikan perasaan lebih nyaman jika berada pada gaya (style) yang dimiliki. Pengambil keputusan enggan untuk merubah gaya yang dimilikinya, dan tidak mau keluar dari zona nyaman (Roth, 2007).
Mental accounting yaitu keputusan yang didasarkan pertimbangan cost dan benefit.
Menurut Nofisinger (2005), investor yang mempunyai mental accounting dalam pengambilan keputusan saat bertransaksi ialah investor yang mempertimbangkan cost dan benefit dari keputusan yang diambil.
Menurut (Suparno, 2018), model perilaku pengambilan keputusan dibedakan sebagai berikut:
a. Model Rasionalitas
Model Rasionalitas merupakan pengambilan keputusan berdasarkan adanya keterkaitan logis antara pengambilan keputusan dengan pencapaian tujuan organisasi, Berkaitan dengan kegiatan pengambilan keputusan, terdapat asumsi:
• Keputusan yang diambil akan sepenuhnya rasional pada hal rencana-tujuan.
• Dimungkinkan adanya pemilihan alternatif, karena terdapat sistem pilihan yang lengkap serta konsisten.
• Adanya pencerahan penuh terhadap seluruh kemungkinan alternatif.
• Tidak terdapat batasan pada kompleksnya perhitungan yang dapat digunakan untuk memilih pilihan terhadap alternatif terbaik.
• Kemungkinan kalkulasi tidak misterius atau membuat takut bawahan.
b. Model Sosial
Manusia menjadi sekumpulan perasaan, emosi, dan naluri, dengan sikap yang dipandu oleh keinginan yang tidak disadari. Apabila ini merupakan deskripsi yang lengkap, maka akan mengakibatkan keputusan yang diambil tidak efektif. Pengambilan keputusan yang tidak rasional oleh seorang manajer dapat diakibatkan oleh adanya tekanan dan dampak sosial.
Gaya pengambilan keputusan dibedakan sebagai berikut:
c. Gaya Direktif, pengambilan keputusan dengan gaya direktif ialah pengambilan keputusan dengan melakukan pengarahan atau pemberian instruksi.
d. Gaya Analitik, seorang pemimpin yang mengambil keputusan dengan gaya analitik ialah pengambilan keputusan yang menggunakan dasar analisis terhadap beberapa kenyataan yang terjadi.
e. Gaya Konseptual, seorang pemimpin yang mengambil keputusan dengan gaya konseptual ialah pengambilan keputusan yang menggunakan dasar konsep atas kenyataan yang terjadi.
f. Gaya Perilaku, seorang pemimpin yang mengambil keputusan dengan gaya perilaku ialah pengambilan keputusan yang menggunakan dasar analisis terhadap perilaku bawahan atau rekan kerja.