• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fenomena Penggunaan Fitur Reels Pada Aplikasi Instagram Dalam Mengekspresikan Diri

N/A
N/A
Alma Apriliana

Academic year: 2024

Membagikan "Fenomena Penggunaan Fitur Reels Pada Aplikasi Instagram Dalam Mengekspresikan Diri"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

FENOMENA PENGGUNAAN FITUR REELS PADA APLIKASI INSTAGRAM DALAM MENGEKSPRESIKAN DIRI

(Studi Pada Mahasiswa/i Imu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat)

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Pada Program Studi Ilmu Komunikasi

Disusun Oleh : Rocky Astharada

1910414310034

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

2023

(2)

ABSTRAK

Rocky Astharada, 1910414310034, 2023. “Fenomena Penggunaan Fitur Reels Pada Aplikasi Instagram Dalam Mengekspresikan Diri”.

Dibawah Bimbingan Muhammad Nizar Hidayat, S.IP., M.A.

Media sosial Instagram merupakan salah satu dari sekian banyak media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat dunia termasuk Indonesia, dengan kemudahan fitur yang ditawarkan Instagram membuat beberapa kegiatan yang umumnya dilakukan masyarakat secara konvensial menjadi bergeser kearah digital sebab adanya Instagram. Melalui penelitian ini kemudian dilihat bagaimana bentuk ekspresi diri mahasiswa ilmu komunikasi pada fitur reels di aplikasi Instagram.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk ekspresi yang dibuat pada fitur reels aplikasi Instagram. Jenis dan tipe penelitian menggunakan tipe kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dengan teknik analisis data berdasarkan Miles dan Huberman.

Hasil dari penelitian fenomena penggunaan fitur reels pada aplikasi Instagram ini menjelaskan bahwa bentuk ekspresi diri yang dibuat berdasarkan hal yang disukai dalam bentuk video dan foto meliputi, konten yang dibuat pada fitur I nstagram-Reels, bentuk ekspresi diri di Instagram-Reels, motif memilih Instagram sebagai media mengekspresikan diri, dan kepuasan setelah membagikan bentuk ekspresi diri di Instagram-Reels, sehingga bentuk ekspresi diri yang dibagikan bisa menjadi hal positif bagi individu dan audiens. Instagram sebagai aplikasi paling diminati, aplikasi dengan jumlah pengguna yang banyak, dan aplikasi Instagram memang sebagai aplikasi untuk mereka menampilkan diri, serta sebagai tempat menunjukan jati diri di dunia digital.

Kata Kunci : Media Sosial, Instagram, Bentuk Ekspresi Diri, Reels.

(3)

ABSTRACT

Rocky Astharada, 1910414310034, 2023. “The Phenomenon Of Using The Reels Feature In Instagram As A Self-Expression Form”. Under Guidance Of Muhammad Nizar Hidayat, S.IP., M.A.

Instagram is one of the many social media that is most widely used by people in the world, including Indonesia. With the convenience of the features offered by Instagram, several activities that people generally do conventionally have been shifted towards digital because of Instagram. Through this research, we can see what kind of self-expression form from communication science students use in the reels feature in the Instagram application.

This research aims to determine the form of expression made in the reels feature of the Instagram application. This research is using descriptive qualitative type with data collection through observation, interviews and documentation with Miles and Huberman interractive model data analyst.

The results of this research explain that forms of self-expression are created based on things that many people like in the form of videos and photos including, content created on the Instagram-Reels feature, forms of self-expression on Instagram-Reels, the motive of choosing Instagram as a medium of self- expression, and satisfaction after sharing the form of self-expression on Instagram- Reels, into self-expression form that shared can be positive for the individual and the audience. Instagram is the most popular application, an application with a large number of users, and the Instagram application is indeed an application for them to present themselves, as well as a place to show their identity in the digital world.

Keywords : Social Media, Instagram, Self-Expression Form, Reels.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT/Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karunia beserta rahmat-Nya dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Fenomena Penggunaan Fitur Reels Pada Aplikasi Instagram Dalam Mengekspresikan Diri”

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana (S1) Pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh sebab itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih dan apresiasi setinggi- tingginya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ahmad, S.E., M.Si. selaku Rektor Universitas Lambung Mangkurat.

2. Bapak Prof. Dr. Budi Suryadi, S.Sos., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lambung Mangkurat.

3. Ibu Dr. Yuanita Setyastuti, M.Si. selaku Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lambung Mangkurat.

4. Ibu Astinana Yuliarti, S.S., M.Ikom. selaku Pembimbing Akademik penulis dari awal perkuliahan sampai sekarang.

5. Bapak Muhammad Nizar Hidayat, S.IP., M.A. selaku Dosen Pembimbing yang luar biasa membimbing penulis dalam mengerjakan proposal skripsi

(5)

serta telah meluangkan waktunya dalam memberi arahan, saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi serta Bang Indra Lab.

Komunikasi dan Ka Firdha Staf Prodi Ilmu Komunikasi.

7. Orang Tua Penulis Ayahanda Jainul Rahman dan Ibunda Herlita yang selalu memberikan doa, nasehat dan dukungan kepada penulis.

8. Kedua kakak penulis yaitu Nelly Astharina dan Al Faizal Wijaya serta keponakan Ayska Nashwa Qayla yang selalu memberikan doa dan dukungan kepada penulis.

9. Keluarga Besar Burhan Bin Tarang dan Ilmu Komunikasi 2019

10. Alwan Alfain sahabat dari SMP hingga Kuliah dan satu kost sekarang.

11. Seluruh informan yang sudah melungkan waktu guna membantu dalam mengerjakan penelitian skripsi ini.

Skripsi ini jauh dari kesempurnaan, apabila terdapat kesalahan baik dalam bentuk kata, bahasa, dan teknik penulisan, maka dengan rendah hati penulis mengharapkan agar pembaca memberi masukan berupa saran yang bertujuan membangun kesempurnaan skripsi ini.

Terima Kasih…. Banjarmasin,

Rocky Astharada

NIM.1910414310034

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK...i

ABSTRACT...ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR ISI...v

DAFTAR GAMBAR...viii

DAFTAR TABEL...ix

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1. Latar Belakang Masalah...1

1.2. Rumusan Masalah... 7

1.3. Tujuan Penelitian...7

1.4. Manfaat Penelitian...7

1.4.1 Manfaat Teoritis...7

1.4.2 Manfaat Praktis...7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...8

2.1. Penelitian Sejenis...8

2.2. Tinjaun Konseptual... 21

2.2.1 Komunikasi...21

2.2.2 Etika Komunikasi...24

2.2.3 Etika Media Sosial...26

2.2.4 New Media... 27

2.2.5 Konsep Diri... 28

2.2.6 Self Disclosure... 31

2.2.7 Media Sosial...33

2.2.8 Instagram...37

2.2.9 Instagram Reels...38

2.2.10 Ekpresi Diri... 39

(7)

2.3. Tinjaun Teoritis...41

2.3.1 Fenomenologi...41

2.3.2 Teori Computer Mediated Communication (CMC)...43

2.4. Kerangka Berpikir...46

BAB III METODE PENELITIAN...48

3.1. Pendekatan Penelitian...48

3.2. Tipe Penelitian...49

3.3. Lokasi Penelitian...49

3.4. Objek Penelitian...50

3.5. Informan Penelitian...50

3.6. Teknik Pengumpulan Data...51

3.7. Teknik Analisis Data... 53

3.8. Triangulasi Data...55

BAB IV... 57

HASIL DAN PEMBAHASAN...57

4.1. Gambaran Umum...57

4.1.1 Gambaran Objek Penelitian...57

4.1.2 Instagram...57

4.1.3 Sejarah Perkembangan Instagram...62

4.1.4 Informan Penelitian...66

4.2 Hasil Penelitian...68

4.2.1 Konten Yang Dibuat Pada Fitur Instagram-Reels...68

4.2.2 Bentuk Ekspresi Diri Di Instagram-Reels...73

4.2.3 Motif Memilih Instagram Sebagai Media Mengeksresikan Diri...75

4.2.4 Kepuasan Setelah Membagikan Bentuk Ekspresi Diri Di Instagram- Reels 78 4.3 Pembahasan... 80

(8)

4.3.1 Konten Yang Dibuat Pada Fitur Instagram-Reels...80

4.3.2 Bentuk Ekspresi Diri Di Instagram-Reels...84

4.3.3 Motif Memilih Instagram Sebagai Media Mengekspresikan Diri...85

4.3.4 Kepuasan Setelah Membagikan Bentuk Ekspresi Diri Di Instagram- Reels 86 BAB V...89

PENUTUP...89

5.1 Kesimpulan...89

5.2 Saran...91

5.2.1 Saran Akademis...91

5.2.2 Saran Praktis...91

DAFTAR PUSTAKA...92

LAMPIRAN...96

LAMPIRAN 1...97

PEDOMAN WAWANCARA...97

LAMPIRAN 2...98

TRANSKRIP WAWANCARA...98

LAMPIRAN 3...122

DOKUMENTASI PENELITIAN...122

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Data pengguna aktif media sosial seluruh dunia...3

Gambar 1. 2 Data pengguna Instagram di Indonesia...4

Gambar 2. 1 Kerangka Berpikir...47

Gambar 3. 1 Triangulasi Data... 56

Gambar 4. 1 Instagram-Reels Informan Muhammad Sultan Jordan...69

Gambar 4. 2 Instagram-Reels Informan Della Ranti Sepia...70

Gambar 4. 3 Instagram-Reels Informan Yuni Maulidina...70

Gambar 4. 4 Instagram-Reels Informan Alma Apriliana...71

Gambar 4. 5 Instagram-Reels Informan Fitroh Teguh Firmansyah...72

Gambar 4. 6 Instagram-Reels Informan Ridho Fatwa Dirgantara...72

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Matriks Penelitian Sejenis...13 Tabel 3. 1 Informan Penelitian...51

Tabel 4. 1 Hasil Temuan………83

(11)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Teknologi juga memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktivitas manusia. Jejaring sosial memiliki pengaruh penting dan mendasar pada masyarakat. Teknologi yang setiap hari terus berkembang membuat individu cenderung berubah dalam bentuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Manusia juga sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi teknologi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini salah satunya media sosial.

Media sosial menjadi sebuah tempat seseorang untuk mengekspresikan dirinya karena merasa nyaman dibandingkan berkomunikasi secara langsung terhadap orang disekitar. Pada umumnya, seseorang akan lebih nyaman dan percaya mengungkapkan dirinya dan curahan hatinya pada orang yang sudah ia percaya dan dekat dengannya. Namun, yang terjadi saat ini adalah seseorang tak segan membagikan masalahnya di sosial media.

Perkembangan teknologi memang banyak memudahkan kehidupan keluarga modern, namun juga berdampak buruk pula pada hubungan sosial apabila digunakan berlebihan. Dengan pengungkapan diri semacam ini, kita mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan diri. Melihat pernyataan dan fenomena

(12)

tersebut peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa, seseorang dalam menggunakan sosial media, rata-rata untuk mengekspresikan diri.

Kebanyakan orang secara sadar maupun tidak sadar sering kali mengekspersikan dirinya ke dalam media sosial, baik berupa kegiatan atau perasaannya saat itu. Walther (1996) dalam (AS Puteri, 2022: 3) menyebutkan bahwa fitur spesifik yang dimediasi oleh komputer atau gadget, seperti anonimitas audio visual dan sinkron, mendorong individu untuk mengungkapkan diri lebih leluasa di media sosial. Tidak jarang pula orang mengungkapkan hal yang bersifat pribadi di media sosial tersebut tanpa adanya batasan adapun hal pribadi yang sering mereka upload seperti, berciuman, berkata kasar, memakai pakaian yang terlalu vulgar, dan ada juga yang sambil menyusui anaknya. Namun, kebanyakan individu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya terdapat norma-norma dan aturan yang mengikat interaksi tersebut. Mereka juga tidak mengerti bagaimana dampak yang akan terjadi jika mereka terlalu membuka dirinya dalam media sosial.

Kamilah & Lestari (2020: 5) menyatakan bahwa aturan privasi memiliki lima karakteristik, yaitu berdasarkan kriteria budaya, kriteria gender, kriteria motivasi, kriteria konteks dan kriteria rasio risiko dan keuntungan. Pengungkapan hal-hal yang bersifat pribadi tidak hanya pada teman terdekat individu, namun bisa melalui banyak media, seperti bukti-bukti foto, media sosial yang mendukung self- disclosure diberbagai situasi dalam jejaring sosial Sabine (2011) (dalam R Fuzari, 2021: 5).

Ajang mencurahkan isi hati dalam sosial media ini merupakan salah satu fungsi pengungkapan diri, menurut Derlega dan Grzelak (1979) dalam (Z Akbar

(13)

dan R Faryansyah, 2018: 97) konteks mengekspresikan diri, bahwa kita kadang- kadang mengungkapkan segala perasaan kita untuk “memberikan rasa nyaman dihati”. Dengan pengungkapan diri semacam ini, kita mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan diri. Melihat pernyataan dan fenomena tersebut peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa, seseorang dalam menggunakan sosial media, rata-rata untuk mengekspresikan diri dan mencurahkan emosi mereka melalui media sosial. Pengungkapan diri yang tadinya hanya dilakukan kepada orang yang dipercaya pun saat ini telah berubah dengan adanya media sosial, kini seseorang dapat melakukan pengungkapan diri kepada semua orang melalui media sosial.

Salah satu media sosial yang banyak dipakai masyarakat yaitu Instagram (Kamilah

& Lestari, 2020: 4).

Gambar 1. 1 Data pengguna aktif media sosial seluruh dunia (sumber : databoks.katadata.co.id)

(14)

Media sosial Instagram yang diluncurkan pada tahun 2010 dan langsung meledak di jagat media sosial. Berdasarkan data Napoleon Cat, jumlah pengguna In stagram di Indonesia hingga oktober 2022 sebesar 97,38 juta pengguna.

Gambar 1. 2 Data pengguna Instagram di Indonesia (sumber : dataindonesia.id)

Instagram berada di urutan keempat sebagai platform media sosial yang paling sering digunakan, setelah Facebook, Youtube dan WhatsApp (databoks, 2022). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada tanggal 9-11 Maret 2023 pengguna aktif Instagram pada mahasiswa/i Ilmu Komunikasi angkatan 2019-2020 terdapat 57 orang yang memberikan tanggapan mengenai pengguna aktif Instagram dan mengetahui fitur Instagram-Reels yang peneliti tuliskan data hasilnya pada lampiran-lampiran. Sekarang media sosial Instagram sangat populer di kalangan anak-anak smp, sma, mahasiswa, selebriti dan politisi. Instagram diambil dari kata

Insta” yang berasal dari kata “Instan”. Nama ini diambil dari kamera polaroid di mana merupakan kamera instan yang langsung jadi seketika. Sedangkan kata

“gram” diambil dari kata “Telegram” yang mampu mengirim informasi secara

(15)

cepat. Dalam hal ini, kata kata yang dibuat sesuai dengan tujuan Instagram yang mampu mengirim foto dan video dalam jaringan internet secara instan dan cepat.

Selain disebut Instagram, orang masa kini lebih suka menyebutnya IG atau Insta.

Dari definisi singkat tersebut, secara umum Instagram dapat diartikan sebagai aplikasi yang dapat difungsikan sebagai media berbagi foto dan video dalam sebuah jejaring sosial, memungkinkan pengguna untuk mengambil foto dan video, dan menambahkan filter untuk menambah kesan menarik pada foto.

Utamanya, Instagram lebih difokuskan pada perangkat smartphone seperti Android dan iOS. Namun pengguna tetap dalam menjalankan Instagram dalam mode web app meskipun dengan fitur terbatas. Sama seperti jejaring media sosial lainnya, Instagram memiliki konsep interaksi antar pengguna dengan mengikuti (following) atau pengikut (followers). Pengguna juga dapat menambahkan komentar pada foto maupun video, menyukai, mengirim, hingga menyimpannya dalam sebuah akun.

Instagram-Reels adalah sebuah cara baru untuk semua pengguna untuk meningkatkan followers dengan membuat video kreatif hingga 90 detik yang dibalut dengan pilihan audio populer, efek AR (Augmented Reality), menambahkan fitur tag konten bermerek, dan tools kreatif lainnya. Bukan hanya itu saja, pada fitur reels ini kita bisa menggabungkan dan bahkan merekam beberapa clip untuk bisa menjadi satu video utuh. Tak sedikit orang yang menyebut bahwa fitur reels di Instagram mempunyai fungsi layaknya aplikasi media sosial berbagai video terpopuler di seluruh dunia, yakni TikTok. Fitur ini membuat kita bisa mencari dan memakai lagu dari koleksi musik Instagram. Selain itu, kita juga bisa memakai

(16)

audio hasil buatan sendiri hanya dengan merekam reels. Ketika membagikan reels yang disematkan audio asli, musik yang kita buat akan tertulis nama sendiri sebagai kreator efek musik Instagram-Reels. Jika mau merekam beberapa klip dengan efek yang berbeda-beda, kita bisa memilih salah satu dari efek di galeri yang dibikin oleh Instagram dan para kreator di seluruh dunia.

Fitur Instagram-Reels yang satu ini sangat berguna untuk kita agar bisa merekam klip video secara handsfree. Setelah menekan tombol record atau rekam, kita akan melihat hitungan mundur, sebelum perekaman dimulai selama jumlah waktu yang dipilih. Sehingga kita bisa ambil kesempatan untuk memposisikan diri atau siap-siap action sebelum perekaman klip video di reels dimulai.

Fitur instagram reels ini memungkinkan kita untuk membuat klip video dengan adanya gambaran dari klip sebelumnya.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, terdapat beberapa orang yang mengekspresikan dirinya melalui media sosial dengan mengungkapkan hal-hal pribadi yang seharusnya tidak diungkapkan maupun dipertontonkan secara terbuka baik melalui postingan foto maupun video pada fitur Instagram-Reels.

Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melihat bagaimana bentuk ekspresi diri mahasiswa pada fitur reels di aplikasi Instagram khususnya mahasiswa/I Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat dalam penggunaan media sosial Instagram sebagai sarana atau media mengekspresikan diri namun sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku sehingga tidak terjadinya dampak negatif terhadap mereka yang mengekspresikan dirinya melalui media sosial khususnya Instagram.

(17)

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana bentuk ekspresi diri mahasiswa Ilmu Komunikasi pada fitur reels di aplikasi Instagram.

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah, untuk mengetahui bagaimana bentuk ekspresi diri mahasiswa Ilmu Komunikasi pada fitur reels di aplikasi Instagram.

1.4. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian tersebut dapat diungkapkan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang ilmu komunikasi yang berkaitan dengan ekspresi diri.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa dalam mengasah kreativitas dan kemampuan untuk bisa mengekspresikan diri melalui fitur reels pada aplikasi Instagram.

2. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk ide atau bahan buat permasalahan yang dikaji mengenai ekpresi diri pada media sosial.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

(18)

1.5. Penelitian Sejenis

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mencoba untuk merefleksikan penelitian ini dengan hasil riset penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

Dimana penelitian tersebut memiliki korelasi terhadap permasalahan dalam penelitian ini.

1. “Manajemen Privasi Pada Pengguna Media Sosial Instagram

Penelitian ini dilakukan oleh Ferisa Nurul Kamilah dan Sri Budi Lestari, mahasiswa Universitas Diponegoro prodi Ilmu Komunikasi. Penelitian ini diselesaikan tahun 2020 dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan menggunakan teori communication privacy management. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana seseorang melakukan pengelolaan informasi- informasi pribadinya dalam media sosial Instagram. Dalam penelitian ini terdapat kesimpulan bahwa, pengguna tidak menutupi identitas dirinya seperti nama, foto, dan profil diisi sesuai dengan data dirinya yang asli, pengguna memiliki batasan – batasan yang berbeda terkait privasi yang mereka ungkapkan dalam instagram.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya terdapat pada penelitian yang sama-sama meneliti sebuah media sosial, yaitu Instagram. Perbedaan dari kedua penelitian ini terdapat pada fokus penelitian. Penelitian terdahulu membahas mengenai manajemen privasi pengguna Instagram, sedangkan penelitian saya berfokus pada fenomena ekspresi diri pada media sosial dengan salah satu fitur pada aplikasi Instagram.

2. “Self Disclosure Chef Agus Sasirangan Di Media Sosial Instagram

(19)

Penelitian ini dilakukan oleh Kanda Ayub, mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat prodi Ilmu Komunikasi. Penelitian ini diselesaikan tahun 2017 dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan menggunakan teori Komunikasi Interpersonal Termediasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui self disclosure Chef Agus Sasirangan melalui media sosial Instagram. Dalam penelitian ini mendapat kesimpulan bahwa dalam aspek ketepatan yang ditunjukkan oleh Chef Agus Sasirangan dalam postingan Instagram nya relevan dengan kegiatan yang dilakukannya, Chef Agus Sasirangan termotivasi untuk mengungkapkan dirinya karena dorongan dari dalam dan luar melalui setiap foto yang dia diposting, Chef Agus Sasirangan melakukan pengungkapan diri melalui postingan Instagram nya yang ditujukan ke semua followers nya secara intens mengenai kehidupannya.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah terdapat pada penelitian yang sama-sama meneliti media sosial yaitu Instagram. Perbedaan dari kedua penelitian ini terdapat pada fokus penelitiannya, dimana penelitian terdahulu fokus penelitian pada self disclosure Chef agus Sasirangan sedangkan pada penelitian saya berfokus kepada fenomena ekspresi diri pada media sosial Instagram.

3. “Pengungkapan Seksualitas Diri Pada Media Sosial Instagram @sisilism”

Penelitian ini dilakukan oleh Nirra Swastika, Nanang Krisdinanto dan Brigitta Revia Sandy Fista mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya prodi Ilmu Komunikasi. Penelitian ini diselesaikan tahun 2021 dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan menggunakan teori Communication Privacy Management. Tujuan dari penelitian ini adalah mengenai pengalaman dan

(20)

pemaknaan subjek akan seksualitas sehingga dapat melakukan pengungkapan diri ( self disclosure) pada media sosial Instagram. Dalam penelitian ini mendapatkan kesimpulan bahwa Sisil memandang seksualitas sebagai kesenangan dan kenikmatan, sehingga ia berani melakukan pengungkapan diri dengan menceritakan pengalaman seksualitasnya di media sosial.

Persamaan penelitian ini dengan penelitan saya adalah dimana pada penelitian ini sama meneliti media sosial Instagram. Perbedaannya adalah penelitin terdahulu fokus penelitiannya hanya pada salah satu akun Instagram dan mengangkat isu tentang seksualitas diri, sedangkan penelitian saya berfokus kepada fenomena ekspresi diri di media sosial Instagram.

4. “Fenomena Remaja Menggunakan Media Sosial Dalam Membentuk Identitas”

Penelitian ini dilakukan oleh Primada Qurrota Ayun, penelitian ini diselesaikan pada tahun 2015 dengan menggunakan metode kualitatif dan menggunakan teori Identitas Sosial. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan bagaimana media sosial digunakan remaja sebagai sebuah media untuk membentuk identitas diri. Dalam penelitian ini mendapat kesimpulan bahwa remaja menunjukkan identitas diri yang berbeda-beda dalam media sosial dan mereka mengungkapkan masalah pribadi di media sosial, tetapi dalam bentuk tersirat.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah dimana penelitian ini sama-sama meneliti media sosial. Perbedaan dari kedua penelitian ini adalah pada

(21)

fokus penelitian serta pada teori yang digunakan dalam kedua penelitian yang menggunakan teori berbeda.

5. “Penggunaan Fitur Instagram-Reels Sebagai Personal Branding

Penelitian ini dilakukan oleh Shania Maharani, penelitian ini diselesaikan pada tahun 2022, dengan metode penelitian kualitatif dan menggunakan teori Pengelolaan Kesan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pemanfaatan fitur Instagram-Reels untuk membangun personal branding. Dalam penelitian ini mendapatakan kesimpulan fitur Instagram-Reels memiliki jangkauan yang luas untuk membangun personal branding, dan dalam prosesnya dibutuhkan strategi, kuantitas, target dan teknik.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah dimana pada penelitian ini sama meneliti media sosial Instagram serta sama-sama meneliti fitur Instagram-Reels. Perbedaan dari kedua penelitian ini adalah dimana penelitian terdahulu meneliti penggunaan fitur instagram reels untuk membangun personal branding sedangkan penelitian saya befokus tentang fenomena ekspresi diri di media sosial Instagram.

6. “Motif Penggunaan Media Sosial Instagram Sebagai Ajang Eksistensi Diri Pada Akun @rianindraputra”

Penelitian ini dilakukan oleh Ranti Nopita, penelitian ini diselesaikan pada tahun 2021, dengan metode penelitian deskriptif kualitatif dan menggunakan teori Fenomenologi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahu bagaimana motif penggunaan media sosial Instagram, karena setiap pengguna media sosial khususnya Instagram tentu memiliki motif-motif tertentu yang menjadi dasar

(22)

alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak. Dalam penelitian ini didapatkan kesimpulan menunjukan bahwa berdasarkan Because Motive terdapat dua motif yang menjadi alasan atau dorongan pemilik akun @rianindraputra untuk melakukan tindakannya dalam penggunaan instagram, yaitu motif informasi dan motif hiburan.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah dimana pada penelitian ini sama meneliti media sosial yaitu Instagram. Adapun perbedaannya adalah penelitian terdahulu berfokus pada motif penggunaan media sosial Instagram akun @rianindraputra dalam eksistensi diri sedangkan penelitian saya berfokus pada fenomena ekspresi diri di media sosial Instagram.

(23)

Tabel 2. 1 Matriks Penelitian Sejenis

No Nama dan Tahun

Judul Metode

Penelitian

Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian

1. Ferisa Nurul Kamilah dan Sri

Budi Lestari, (2020)

Manajemen Privasi Pada Pengguna

Media Sosial Instagram

Penelitian ini menggunakan

metode kualitatif deskriptif.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya terdapat pada penelitian yang sama- sama meneliti sebuah media sosial, yaitu

Instagram.

Perbedaan dari kedua penelitian ini terdapat pada fokus penelitian.

Penelitian terdahulu membahas mengenai

manajemen privasi pengguna Instagram, sedangkan penelitian saya berfokus pada fenomena ekspresi diri

Mengungkapkan bahwa para

pengguna menggunakan Instagram untuk menciptakan kesan,

ketertarikan, hubungan serta membangun citra.

Selain itu, para

(24)

pada media sosial dengan salah satu fitur pada

aplikasi Instagram.

pengguna juga memiliki batasan –

batasan informasi yang berbeda –

beda terkait privasinya.

2. Kanda Ayub, (2017)

Self-Disclosure Chef Agus Sasirangan Di

Media Sosial Instagram

Penelitian ini menggunakan

metode kuantitatif deskriptif.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah terdapat pada penelitian yang sama-sama meneliti

media sosial yaitu Instagram.

Perbedaan dari kedua penelitian ini terdapat pada fokus penelitiannya, dimana

penelitian terdahulu fokus penelitian pada self-disclosure Chef agus

Sasirangan sedangkan

Dalam aspek ketepatan yang ditunjukkan oleh

Chef Agus Sasirangan dalam

postingan Instagram nya relevan dengan

(25)

pada penelitian saya berfokus kepada fenomena ekspresi diri

pada media sosial Instagram.

kegiatan yang dilakukannya, Chef

Agus Sasirangan termotivasi untuk

mengungkapkan dirinya karena

dorongan dari dalam dan luar melalui setiap foto yang dia diposting,

Chef Agus Sasirangan melakukan pengungkapan diri

(26)

melalui postingan Instagram nya yang ditujukan ke semua

followers nya secara intens

mengenai kehidupannya.

3. Nirra Swastika, Nanang Krisdinanto, Brigitta Revia

Sandy Fista, (2021)

Pengungkapan Seksualitas Diri Pada Media Sosial Instagram @sisilism

Penelitian ini menggunakan

metode kualitatif deskriptif.

Persamaan penelitian ini dengan penelitan

saya adalah dimana pada penelitian ini sama

meneliti media sosial Instagram.

Perbedaannya adalah penelitin terdahulu fokus penelitiannya hanya pada

salah satu akun Instagram dan mengangkat isu tentang

Ditemukan bahwa Sisil memandang seksualitas sebagai

kesenangan dan kenikmatan, sehingga ia berani

melakukan

(27)

seksualitas diri, sedangkan penelitian saya berfokus kepada fenomena ekspresi diri di

media sosial Instagram.

pengungkapan diri dengan menceritakan

pengalaman seksualitasnya di media sosial. Sisil

melakukan pengungkapan di

media sosial Instagram sebagai bentuk ekspresi diri

untuk memenuhi kepuasannya dalam

berbagi

(28)

pengalaman.

4.

Primada Qurrota Ayun, (2015)

Fenomena Remaja Menggunakan Media Sosial Dalam

Membentuk Identitas

Penelitian ini menggunakan

metode kualitatif.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah dimana penelitian ini sama- sama meneliti media

sosial.

Perbedaan dari kedua penelitian ini adalah pada

fokus penelitian serta pada teori yang digunakan dalam kedua

penelitian yang menggunakan teori

berbeda.

Bahwa remaja menunjukkan identitas diri yang

berbeda-beda dalam media sosial

dan mereka mengungkapkan masalah pribadi di media sosial, tetapi

dalam bentuk tersirat.

5. Shania

Maharani,

Penggunaan Fitur Instagram Reels

Penelitian ini menggunakan

Persamaan penelitian ini dengan penelitian

Perbedaan dari kedua penelitian ini

Fitur Instagram- Reels memiliki

(29)

(2022)

Sebagai Personal Branding

metode kualitatif.

saya adalah dimana pada penelitian ini sama

meneliti media sosial Instagram serta sama-

sama meneliti fitur Instagram-Reels.

adalah dimana penelitian terdahulu meneliti

penggunaan fitur Instagram-Reels untuk

membangun personal branding sedangkan penelitian saya befokus

tentang fenomena ekspresi diri di media

sosial Instagram.

jangkauan yang luas untuk membangun personal branding,

dan dalam prosesnya dibutuhkan strategi, kuantitas,

target dan teknik.

6. Ranti Nopita, (2021)

Motif Penggunaan Media Sosial Instagram Sebagai

Penelitian ini menggunakan

metode

Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah dimana

Adapun perbedaannya adalah penelitian terdahulu berfokus pada

Berdasarkan Because Motive terdapat dua motif

(30)

Ajang Eksistensi Diri Pada Akun

@rianindraputra

kualitatif deskriptif.

pada penelitian ini sama meneliti media sosial

yaitu Instagram.

motif penggunaan media sosial Instagram akun

@rianindraputra dalam eksistensi diri sedangkan

penelitian saya berfokus pada fenomena ekspresi

diri di media sosial Instagram.

yang menjadi alasan atau dorongan pemilik

akun

@rianindraputra untuk melakukan tindakannya dalam

penggunaan Instagram, yaitu

motif informasi dan motif hiburan.

(31)

1.6. Tinjaun Konseptual 2.2.1 Komunikasi

Menurut Lexicogrpher, komunikasi menunjuk pada upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Apabila dua orang terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai sesuatu yang diperbincangkan.

“Menurut Berelson dan Steiner komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui pengunaan symbol- simbol, seperti kata-kata, gambar, angka, dan lain-lain”.

(dalam Suryanto, 2015: 50)

Sejalan dengan berkembangnya ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisiliner, definisi-definisi yang berikan para ahli pun semakin banyak dan beragam.

Ruben dan Stewart (dalam Suryanto, 2015: 51), komunikasi merupakan proses yang menjadi dasar pertama memahami hakikat manusia. Karena, dalam proses tersebut ada aktivitas yang melibatkan peranan banyak elemen atau tahapan.

Tahapan ini meskipun terpisah-pisah akan tetapi pasti saling berkaitan sepanjang waktu. Onong Uchyana Effendy (dalam Suryanto, 2015: 51), mengatakan bahwa komunikasi adalah proses penyimpanan pikiran atau perasaan oleh komunikator kepada komunikan.

Zareksky (dalam A Liliweri, 2010: 35) mengatakan komunikasi adalah interaksi untuk menopang koneksi antar manusia sehingga dapat menolong memahami satu sama lain bagi pengakuan terhadap kepentingan bersama. Menurut

(32)

Bachrudin Ali Akhmad (2018: 10), komunikasi dapat dilihat dari berbagai perspektif karena komunikasi merupakan suatu hal yang sangat kompleks. Definisi komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi didalam diri seseorang dan diantara dua atau lebih dengan tujuan tertentu.

“Barelson dan Steiner, menyatakan komunikasi adalah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis, angka dan sebagainya. Definisi tersebut memberikan beberapa pengertian pokok yaitu komunikasi adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan”.

(dalam Nurudin, 2016: 38)

“Raymond S. Ross, komunikasi adalah suatu proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respon dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator”.

(dalam Nurudin, 2016: 39)

Harold D. Laswell (dalam Mulyana, 2011: 69) mengatakan cara terbaik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan who say what in which channel to whom with what effect?. Berdasarkan definisi Laswell ini dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, yaitu:

1. Komunikator (Source/ sender/ encoder) adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi, sumber bisa berupa individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau negara.

2. Pesan (Message) adalah apa yang ingin disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Pesan berupa simbol verbal maupun non-verbal.

(33)

3. Saluran media, adalah alat yang menjadi perantara yang digunakan komunikator untuk menyampaikan pesan kepada komunikan.

4. Komunikan (Receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari komunikator.

5. Efek (effect) adalah apa saja yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan .

Adapun proses-proses komunikasi meliputi elemen komunikasi sebagai berikut:

1. Sender: Komunikator yang menyampaikan pesan kepada seseorang atau sejumlah orang.

2. Encoding: Penyandian, yakni proses pengalihan pikiran ke dalam bentuk lambang.

3. Message: Pesan yang merupakan seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator.

4. Media: Saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan.

5. Decoding: Pengawasandian, yaitu proses di mana komunikan menetapkan mana pada lambang yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.

6. Receiver: Komunikan yang menerima pesan dari komunikator.

7. Response: Tanggapan, seperangkat reaksi pada komunikan setelah diterpa pesan.

8. Feedback: Umpan balik, yakni tanggapan komunikan apabila tersampai- kan atau disampaikan kepada komunikator.

(34)

9. Noise: Gangguan tak terencana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh

Berdasarkan pernyataan para ahli mengenai definisi komunikasi maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia untuk melakukan interaksi dalam kehidupan sehari-hari, terutama komunikasi yang terjadi didalam lingkungan terkecil yaitu keluarga. Di dalam sebuah komunikasi, feedback merupakan hal yang diharapkan, untuk mampu mencapai tujuan yang dimaksud dalam berkomunikasi. pengertian komunikasi menjadi semakin banyak dan beragam masing-masing mempunyai penekanan arti, cakupan, konteks yang berbeda satu sama lain, tetapi pada dasarnya saling berkesinambungan dan menyempurnakan makna komunikasi sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi.

2.2.2 Etika Komunikasi

Hak untuk berkomunikasi di ruang publik merupakan hak yang paling mendasar. Bila hak itu tidak dijamin akan mengebiri pikiran atau kebebasan berpikir sehingga tidak mungkin bisa ada otonomi manusia.

“Menurut B. Libois (2002), hak untuk berkomunikasi di ruang publik ini tidak bisa dilepaskan dari otonomi demokrasi yang didasarkan pada kebebasan nurani dan kebebasan untuk berekspresi”.

(dalam J Haryatmoko, 2007: 43)

Jadi, untuk menjamin otonomi demokrasi in hanya mungkin apabila hak untuk berkomunikasi di publik dihormati. Etika komunikasi merupakan bagian dari upaya untuk menjamin otonomi demokrasi tersebut.

(35)

Komunikasi adalah suatu aktivitas manusia yang saling berinteraksi antara satu orang maupun lebih, konsep tentang komunikasi tidak hanya berkaitan dengan masalah cara berbicara efektif saja melainkan juga etika bicara. Etika komunikasi mengelaborasi standar etis yang digunakan oleh komunikator dan komunikan (Ginting, Rahmanita, et al, 2021: 8).

Nilai-nilai yang terbentuk, diperoleh beberapa kaidah yang bertujuan mengatur tata cara kita dalam berkomunikasi antar sesama tanpagharus saling menyakiti.

Terlebih komunikasi merupakan hal yang tidak terlepas dalam kehidupan sehari- hari Nasrullah (2015) (dalam Ginting, Rahmanita, et al, 2021: 10).

Menurut Mujahiddin dan Harahap (2014) (dalam Ginting, Rahmanita, et al, 2021: 9), ada beberapa unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam etika komunikasi, yaitu:

1. Tidak memberikan informasi pribadi secara berlebihan.

2. Berkomunikasi secara sopan santun.

3. Beropini berdasarkan fakta.

Etika komunikasi yang juga perlu dipahami ketika melakukan proses komunikasi adalah :

1. Hormati privasi dan kerahasiaan.

2. Jangan menganggu (interruption) orang lain ketika berbicara (berkomunikasi).

3. Bicaralah tanpa menghakimi.

4. Efektif dan efisien.

5. Saling menghargai ketika berkomunikasi.

(36)

6. Taat kepada standar perilaku online yang sama-sama kita jalani dalam kehidupan nyata.

Dengan demikian, dari definisi-definisi para ahli diatas mengenai etika komunikasi maka dapat disimpulkan bahwa etika komunikasi sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebab, etika komunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang baik dan harmonis antar manusia. Sebaliknya, ketika kurangnya pengetahuan tentang etika komunikasi maka akan terjadinya kesalahpahaman yang menimbulkan perselisihan dan pertengkaran yang dapat memecah belahkan kehidupan manusia.

2.2.3 Etika Media Sosial

Layaknya interaksi di kehidupan nyata, pengguna di media sosial juga memiliki aturan (hukum) dan etika. Dalam konteks ini, yang berlaku di media sosial bisa dilihat dari aktan yang ada, yakni dari perspektif perangkat teknologi dan perspektif pengguna. Dari perspektif teknologi, aturan dan etika yang ada menyangkut bagaimana pengguna melalui prosedur yang ada di media sosial.

Media, informasi dan teknologi komunikasi telah menjadi kebutuhan primer bagi publik untuk mulai mengembangkan literasi media (Ginting, Rahmanita, et al, 2021: 12). Etika di internet atau netiquette berasal dari kata "net", untuk men jelaskan jaringan (network) atau bisa juga internet, dan "etiquette" yang berarti etika atau tata nilai yang diterapkan dalam komunikasi di dunia siber.

“Netiquette merupakan sebuah konvensi atas norma-norma yang secara filosofi digunakan sebagai panduan bagi aturan atau standar dalam proses komunikasi di internet atau merupakan etika berinternet sekaligus perila sosial yang berlaku di media online”.

(Thurlow et al., 2004: 65)

(37)

Ada beberapa asalan mengapa di internet, khusunya media sosial memerlukan etika, yaitu :

1. Latar belakang maupun lingkungan penguna media sosial yang heterogen dan berbeda-beda.

2. Komunikasi yang terjadi di media sosial cenderung lebih didominasi oleh teks semata.

3. Media sosial tidak serta-merta diangap sebagai media yang berbeda dengan dunia nyata.

4. Media sosial merupakan media yang berjalan tidak hanya memfasilitasi pengguna, tetapi juga merupakan institusi bisnis.

Dari definisi para ahli mengenai etika media sosial diatas maka dapat disimpulkan bahwa etika bermedia sosial sangatlah diperlukan agar setiap para pengguna ketika berada di dunia virtual memahami hak dan kewajibannya sebagai

"warga negara" dunia virtual (digital citizenship). Karena, norma yang berlaku di masyarakat, seperti norma sosial dan agama, perbedaan tersebut memberikan dampak, baik positif maupun negatif, dalam berinteraksi di media sosial.

2.2.4 New Media

Pada akhir abad 20 munculah istilah media baru atau dikenal juga dengan new media, adalah dimana saat itu dimulainya era digital ditandai dengan lahirnya jaringan teknologi informasi dan komputer yang menjadikannya awal mula perkembangan teknologi yang pesat hingga sekarang.

New media sebagai alternatif berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus bertemu dan bertatap muka menjadi faktor yang menentukan kualitas komunikasi di

(38)

tengah masyarakat global yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dalam hal berkomunikasi. Desain new media yang sungguh menghidupkan penggunanya dalam berkomunikasi menjadikannya digemari oleh masyarakat global saat ini.

“Menurut McQuail, menyebutkan bahwa ciri utama dari media baru adalah adanya saling keterhubungan, aksesnya terhadap khalayak individu sebagai penerima pesan, interaktivitasnya, kegunaan yang beragam sebagai karakter yang terbuka, dan sifatnya yang berada dimana-mana atau tidak bergantung pada lokasi”

.

(dalam L Muliawanti, 2018: 84)

“Media baru adalah semua bentuk media yang menggabungkan tiga unsur yaitu : computing and information technology (IT), communication network, dan convergence (digitalized media and information content Flew, (2005”.

(dalam Osika, Sihabudin, dan Sagita, 2018: 14).

Media baru tersebut memiliki ciri-ciri dimana informasi mudah dimanipulasi, berjejaring, padat, mudah diperkecil, dan seolah tidak punya pemilik.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa new media adalah sebuah media yang memungkinkan penggunanya bisa berkomunikasi jarak jauh terhadap masyarakat global dengan menggunakan jaringan internet serta memiliki ciri-ciri informasi yang mudah dimanipulasi dan berjejaring, sehingga proses pertukaran informasi yang dilakukan bisa melalui mobile atau dimana saja selama penggunanya terhubung dengan jaringan internet.

2.2.5 Konsep Diri

Konsep diri pada dasarnya merupakan pandangan kita mengenai siapa kita dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Melalui konsep diri inilah manusia mampu membayangkan dirinya secara sadar meliputi apa yang kita pikirkan dan juga apa yang kita rasakan. Melalui

(39)

konsep diri bukan saja berupa bayangan mengenai diri kita akan tetapi juga menyangkut penilaian tindakan kita yang berasal dari kacamata orang lain.

Konsep diri kita yang paling dini umumnya dipengaruhi keluarga, dan orang- orang dekat lainnya di sekitar kita, termasuk krabat. Mereka itulah yang disebut significsnt others. Orang tua kita, atau siapa pun yang melihat kita pertama kalinya mengatakan pada kita lewat ucapan dan tindakan bahwa kita baik, bodoh, cerdas, nakal, rajin, ganteng, cantik, dan sebagainya.

“George Herbert Mead mengatakan “setiap orang menggambarkan konsep dirinya dengan berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat dan itu dilakukan lewat komunikasi.” Jadi kita mengenal diri kita lewat orang lain, yang menjadi cerminan yang memantulkan bayangan kita”.

(dalam Mulyana, 2008:11)

“Kreitner dan Kinicki (2010: 125), mengemukakan konsep diri sebagai konsep yang dimiliki oleh setiap individu dimana individu tersebut mengetahui tentang dirinya sebagai makhluk sosial, spiritual, fisik, dan moral”.

Ketika kita mempunyai konsep diri maka kita akan mengetahui diri kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda dari makhluk lainnya. Hal ini menyebabkan manusia dapat membentuk perilakunya secara sengaja dengan maksud menghadirkan respon tertentu dari pihak lain. Aspek-aspek konsep diri seperti jenis kelamin, agama, suku, ras, pendidikan, pengalaman dan sebagainnya.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri menurut (Hutagalung, 2007: 27), yaitu:

1. Orang lain

Orang lain menjadi faktor seseorang dalam terbentuknya konsep diri. Hal tersebut terbentuk melalui bagaimana penilaian orang lain terhadap dirinya. Akan tetapi, tidak semua orang lain bisa berpengaruh dalam

(40)

terbentuknya konsep diri seseorang melainkan melalui orang-orang terdekat kita juga yang menjadi pengaruh terbesar terbentuknya konsep diri. Misalnya, ketika kita masih kecil pengaruh terbentuknya konsep diri itu dari orang tua dan saudara. Karena dari merekalah perlahan-lahan konsep diri pada diri kita mulai terbentuk. Dalam perkembangannya pengaruh orang terdekat meliputi semua orang memengaruhi perasaan, pikiran dan perilaku.

2. Kelompok rujukan (reference group)

Dalam kehidupan sosial, seseorang pasti akan menjadi anggota suatu kelompok, setiap kelompok juga pasti memiliki norma-norma tertentu didalamnya. Ada kelompok yang mengikat kita secara emosional dan mempengaruhi dalam pembentukan konsep diri kita, kelompok ini disebut sebagai kelompok rujukan. Berdasarkan kelompok inilah kita akan berusaha untuk bisa menyesuaikan perilaku dan diri kita terhadap ciri-ciri kelompok tersebut.

Dengan demikian, setelah melihat pendapat para ahli mengenai definisi dan faktor yang mempengaruhi konsep diri maka dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya konsep diri merupakan konsep seseorang bisa mengetahui tentang bagaimana dirinya mengenai suatu keyakinan dan evaluasi diri sehingga seseorang tersebut bisa merasakan bahwa dirinya sebagai makhluk sosial, spiritual, fisik, dan moral pada berbagai situasi.

(41)

2.2.6 Self-Disclosure

Sears et al., (2001) (dalam A Sagiyanto dan N Ardiyanti, 2018: 84), menyatakan bahwa pengungkapan diri dapat bersifat deskriptif atau evaluatif.

Dalam pengungkapan diri deskriptif, kita melukiskan fakta-fakta terkait diri kita yang mungkin belum diketahui oleh pendengar–pekerjaan, tempat tinggal kita, atau partai yang kita dukung di pemilihan umum, dan lain sebagainya. Dalam pengungkapan diri evaluatif, kita mengemukakan pendapat atau perasaan pribadi jika kita menyukai orang-orang tertentu, bahwa kita merasa cemas karena terlalu gemuk, bahwa kita tidak suka bangun pagi.

“Menurut Devito (2011), pengungkapan diri adalah informasi mengenai diri sendiri, tentang pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang, atau tentang orang lain yang sangat dekat yang sangat dipikirkan”.

(dalam A Sagiyanto dan N Ardiyanti, 2018: 84)

Jadi, pengungkapan diri dapat diartikan sebagai tindakan anda sendiri atau tindakan, misalnya, orang tua atau anak anda, karena mereka mempunyai hubungan langsung dengan anda.

Sementara menurut Derlega, dkk (dalam A Sagiyanto dan N Ardiyanti, 2018:

84) dinyatakan bahwa pengungkapan diri sebagai setiap informasi tentang diri sendiri. Menurut Derlega, sebaiknya kita lebih memusatkan kepada informasi yang biasanya disembunyikan daripada daripada segala jenis informasi yang belum diungkapkan. Pengungkapan diri adalah informasi yang biasanya tidak akan anda ungkapkan dan anda secara aktif berusaha tetap menjaga kerahasiaannya.

(42)

Keterbukaan diri dapat terjadi sekalipun lewat internet. Individu dengan tingkat keterbukaan diri yang tinggi dimungkinkan menikmati penggunaan situs jejaring sosial karena dapat memenuhi kebutuhan mengekspresikan diri. Dimana arti pengungkapan diri (self-disclosure) pada media sosial ini adalah perilaku seseorang yang mencurahkan isi hati dan membagikan hal pribadi terkait perasaan dalam diri yang diungkapkan pada sebuah situs jejaring sosial. Adapun fungsi self- disclosure menurut Derlega dan Grzelak (1979) (dalam Kilamanca, 2010: 31-32), yaitu:

1. Ekspresi

Kadang-kadang kita mengatakan segala perasaan kita untuk “membuang semua itu dari dada kita.” Dengan pengungkapan diri semacam ini, kita mendapat kesempatan untuk mengekspresikan perasaan kita.

2. Penjernihan diri

Dengan membicarakan masalah yang sedang kita hadapi kepada seorang teman, pikiran kita akan lebih jernih sehingga kita dapat melihat duduk persoalannya dengan lebih baik.

3. Keabsahan Sosial

Dengan mengamati bagaimana reaksi pendengar sewaktu kita sedang mengungkapkan diri, kita memperoleh informasi tentang ketepatan pandangan kita.

4. Kendali sosial

Kita dapat mengemukakan atau menyembunyikan informasi tentang diri kita sebagai peranti kendali sosial.

(43)

5. Perkembangan hubungan

Saling berbagi informasi dan saling mempercayai merupakan sarana yang paling penting dalam usaha merintis suatu hubungan dan semakin meningkatkan keakraban.

Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli diatas mengenai self-disclosure maka dapat disimpulkan bahwa self-disclosure adalah proses keterbukaan diri mengenai informasi pribadi yang sebelumnya hanya diketahui oleh diri sendiri kemudian informasi pribadi tersebut dibagikan kepada orang lain meliputi, perasaan, pikiran, maupun informasi yang mendalam mengenai diri sendiri.

2.2.7 Media Sosial

Media sosial adalah sebuah platform digital yang memberikan fasilitas kepada para penggunanya untuk melakukan aktivitas dunia maya. Media sosial sendiri pada dasarnya merupakan bagian evolusi internet. Keberadaanya beberapa puluh tahun yang lalu memungkinkan media sosial untuk tumbuh dan berkembang pesat seperti sekarang. Hal inilah yang memungkinkan semua pengguna yang terhubung dengan koneksi internet dapat melakukan proses penyebaran informasi atau pun konten kapan saja dan dimana saja.

“Menurut Van Dijck (2013), media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktivitass maupun berkolaborasi”.

(dalam Nasrullah, 2017: 11)

Oleh karena itu, media sosial dapat dilihat sebagai wadah atau fasilitas online yang menguatkan hubungan antarpengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial.

(44)

“Sementara menurut Boyd (2009), ia menjelaskan bahwa media sosial adalah sebagai sekumpulan perangkat lunak yang memungkinkan individu maupun komunitas untuk berkumpul, berbagi, berkomunikasi, dan dalam kasus tertentu saling berkolaborasi atau bermain”.

(dalam Nasrullah, 2015: 11)

Media sosial memiliki kekuatan pada user generated content, dimana konten yang dihasilkan oleh pengguna, bukan oleh editor sebagaimana pada institusi media massa.

“Berbeda dengan Shirky (2008), menjelaskan media sosial dan perangkat lunak sosial merupakan alat untuk meningkatkan kemampuan pengguna untuk berbagi (to share), bekerja sama (to co-operate) di antara pengguna dan melakukan tindakan secara kolektif yang semuanya berada di luar kerangka institusional maupun organisasi”.

(dalam Nasrullah, 2015: 11)

Menurut Fahrianoor dan Hidayat (2022: 9), bahwa secara mendasar media sosial memiliki perbedaan pola dengan media konvensional lainnya di mana pengguna dapat memiliki kemampuan untuk mengatur komunikasi dan interaksi yang terjadi pada sistem dalam jaringan yang memungkinkan terjadinya interaksi dua arah dan bahkan lebih dalam waktu bersamaan secara nyata. Media sosial juga memiliki karakteristik khusus yang tidak dimiliki dan berbeda dengan media lain.

Karakteristik tersebut memiliki batasan-batasan dan ciri khusus tertentu yang dimiliki oleh media sosial disbanding dengan media lainnya. Salah satunya adalah media sosial beranjak dari pemahaman bagaimana media tersebut digunakan sebagai sarana sosial di dunia virtual. Adapun karakteristik media sosial menurut (Nasrullah, 2015: 16-34) yaitu :

(45)

1. Jaringan (network)

Jaringan yang terbentuk antarpengguna merupakan jaringan yang secara teknologi dimediasi oleh perangkat teknologi, seperti komputer, telepon genggam, dan tablet. Jaringan yang terbentuk ini memungkinkan untuk membentuk komunitas yang secara sadar maupun tidak sehingga memunculkan nilai-nilai yang ada di masyarakat sebagaimana ciri-ciri masyarakat dalam teori-teori sosial.

2. Informasi (information)

Informasi menjadi entitas yang sangat penting dalam media sosial.

Karena, tidak seperti media-media lainnya di internet, para pengguna media sosial mengkreasikan representasi identitasnya, membuat konten, dan melakukan interaksi sosial berdasarkan informasi.

3. Arsip (archive)

Arsip menjadi sebuah karakteristik yang menjelaskan bahwa setiap informasi yang dikirim maupun diterima oleh pengguna telah tersimpan dan bisa diakses kapan pun dan dimana pun serta melalui perangkat apa pun.

4. Interaksi (interactivity)

Karakter media sosial adalah jaringan antarpengguna. Akan tetapi, karakter tersebut tidak akan bisa dibangun tanpa dengan interaksi antarpengguna tersebut. Secara sederhana interaksi yang terjadi di media sosial minimal terbentuk dengan saling berkomentar atau dengan

(46)

memberikan tanda, seperti memberikan tanda like dan memberikan komentar pada sebuah postingan foto maupun video.

5. Simulasi sosial (simulation of society)

Layaknya pada masyarakat sebuah negara, para pengguna media sosial juga bisa dikatakan sebagai warga digital yang berlandaskan keterbukaan tanpa adanya batasan. Akan tetapi, dalam media sosial juga terdapat aturan-aturan dan etika yang mengikat penggunanya. Simulasi yang ada dalam media sosial terkadang berbeda sama sekali dengan dunia nyata.

6. Konten oleh pengguna (user generated content)

Karakteristik ini menunjukkan bahwa dalam media sosial konten itu sepenuhnya milik dan berdasarkan kontribusi pengguna atau pemilik akun. Konten oleh pengguna ini adalah sebagai penanda bahwa di media sosial khalayak tidak hanya memproduksi konten akan tetapi juga mengonsumsi konten yang diproduksi oleh pengguna lain.

7. Penyebaran (share/sharing)

Karakter media sosial yang terakhir adalah penyebaran (share/sharing).

Penyebaran ini terjadi karena konten yang diproduksi oleh pengguna itu tidak hanya menjadi konsumsi pribadi saja, akan tetapi juga didistribusikan secara manual oleh pengguna. Tentu saja konten yang telah terpublikasi tersebut menyebar dalam jaringan media sosial. Konten yang tersebar tersebut juga memungkinkan untuk berkembang dengan tambahan data, revisi informasi, komentar, sampai opini setuju atau tidak.

(47)

Dari pernyatan dan definisi para ahli mengenai media sosial dan karakteristiknya maka dapat disimpulkan bahwa media sosial sebagai wadah atau fasilitas yang terhubung dalam jaringan internet yang memungkinkan para pengguna untuk mengekpresikan dirinya, berbagi informasi, berinteraksi, bekerja sama antar pengguna, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk sebuah ikatan sosial dengan para pengguna media sosial yang lain secara dunia maya atau virtual.

2.2.8 Instagram

Media sosial Instagram yang diluncurkan pada tahun 2010 dan langsung meledak di jagat media sosial. Sekarang media sosial Instagram sangat populer di kalangan anak-anak smp, sma, mahasiswa, selebriti dan politisi. Menurut laporan We Are Social dan Hootsuite, pengguna Instagram di seluruh dunia sudah mencapai 1,38 miliar orang pada oktober 2022. Berdasarkan data Napoleon Cat, jumlah pengguna Instagram di Indonesia hingga oktober 2022 sebesar 97,38 juta pengguna. Pengguna terbesar terdapat di kelompok usia 18 – 24 tahun yaitu 36,4%.

Instagram berada di urutan keempat sebagai platform media sosial yang paling sering digunakan, setelah Facebook, Youtube dan WhatsApp (databoks, 2022).

Menurut Albarran (2013) (dalam A Shaleh dan W Furrie, 2020: 12), mendefinisikan bahwa media sosial Instagram merupakan situs jejaring sosial untuk berbagi foto yang dibuat pada Oktober 2010. Pengguna media sosial Instagram dapat mengambil foto, mengeditnya dengan menggunakan efek yang tersedia, dan membagikan foto mereka ke situs jejaring sosial.

(48)

“Hampir sama dengan Atmoko (2012), ia menyatakan bahwa Instagram adalah layanan jejaring sosial berbasis fotografi. Instagram juga merupakan sebuah aplikasi yang ada dalam smartphone yang mempunyai fungsi hampir sama dengan aplikasi lain seperti twitter, facebook, dan tiktok”.

(dalam A Sagiyanto dan N Ardiyanti, 2018: 88)

Akan tetapi, walapun memiliki fungsi yang hampir sama aplikasi-aplikasi tersebut memiliki perbedaannya masing-masing salah satunya adalah fitur Instagram-Reels.

Berdasarkan pernyataan para ahli mengenai Instagram maka dapat disimpulkan bahwa Instagram adalah sebuah aplikasi media sosial yang digunakan untuk hiburan dan tempat membagikan moment-moment keseharian para pengguna Instagram dalam bentuk foto dan video yang disebarluaskan kepada khalayak dengan tujuan untuk mendapatkan kesan orang yang melihatnya melalui situs jejaring sosial.

2.2.9 Instagram Reels

Instagram-Reels adalah sebuah cara baru untuk semua pengguna untuk meningkatkan followers dengan membuat video kreatif hingga 90 detik yang dibalut dengan pilihan audio populer, efek AR (Augmented Reality), menambahkan fitur tag konten bermerek, dan tools kreatif lainnya. Bukan hanya itu saja, pada fitur reels ini kita bisa menggabungkan dan bahkan merekam beberapa klip untuk bisa menjadi satu video utuh. Tidak sedikit orang yang menyebut bahwa fitur reels di Instagram mempunyai fungsi layaknya aplikasi media sosial berbagai video terpopuler di seluruh dunia, yakni TikTok.

Fitur ini membuat kita bisa mencari dan memakai lagu dari koleksi musik Instagram. Selain itu, kita juga bisa memakai audio hasil buatan sendiri hanya

(49)

dengan merekam reels. Ketika membagikan reels yang disematkan audio asli, musik yang kita buat akan tertulis nama sendiri sebagai kreator efek musik Instagram-Reels. Jika mau merekam beberapa klip dengan efek yang berbeda-beda, kita bisa memilih salah satu dari efek di galeri yang dibikin oleh Instagram dan para kreator di seluruh dunia.

Fitur Instagram-Reels yang satu ini sangat berguna untuk kita agar bisa merekam klip video secara handsfree. Setelah menekan tombol record atau rekam, kita akan melihat hitungan mundur, sebelum perekaman dimulai selama jumlah waktu yang dipilih. Sehingga kita bisa ambil kesempatan untuk memposisikan diri atau siap-siap action sebelum perekaman klip video di reels dimulai. Fitur Instagram-Reels ini memungkinkan kita untuk membuat klip video dengan adanya gambaran dari klip sebelumnya.

2.2.10 Ekpresi Diri

Ekspresi diri adalah suatu proses pengungkapan yang menyatakan, maksud, gagasan, perasaan dan hasil pemikiran baik dengan menggunakan gerak tubuh, air muka, dan kata-kata (KBBI, 2022).

“Adapun menurut Pöllänen (2011), mengemukakan ekspresi diri didasarkan pada konstruktivisme sosial, dimana belajar dan emosi ditekankan pada konteks kegiatan belajar merupakan antara kogniktif dan faktor afektif dalam pemecahan masalah”.

(dalam R Risdiantoro, 2015: 295)

“Menurut Gasparovicha (2011), pendekatan ekspresi diri merupakan suatu rangkaian proses belajar meliputi, pengalaman emosional, penemuan diri, perubahan sikap, pengalaman diri yang positif, pemahaman diri tentang aturan dan pemahaman diri tentang makna”.

(dalam R Risdiantoro, 2015: 295)

(50)

Dari hal tersebut maka dapat dilihat bahwa ekspresi diri meliputi aspek aktivitas kreatif individu yang bertujuan penting bagi pengembangan kepribadian.

Adapun tinjauan mengenai bentuk ekspresi diri (R Denugerah, 2020: 40-43), yaitu:

1. Makna

Ekpresi diri merupakan suatu proses menyatakan, pengungkapan maksud, perasaan, gagasan atau hasil pemikiran. Ekspresi diri sebagai bentuk atau pola pemikiran dan penyelesaian masalah. Ekspresi diri adalah proses holistik yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman individu tentang diri sendiri dan fenomena eksternal, dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai berbagai jenis tujuan pembelajaran.

2. Fungsi

Fungsi ekspresi diri tidak otomatis bertujuan memengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) seseorang. Emosi tersebut dikomunikasikan melalui pesan-pesan baik secara verbal maupun nonverbal. Media komunikasi yang sering digunakan untuk ekspresi diri ini dapat kita lihat dalam karya-karya novel, puisi, musik, tarian, atau lukisan. Isi pesan yang ada dalam karya-karya ini dapat merupakan pesan ekspresi diri, emosi para penciptanya. Ekspresi ini dapat merupakan harapan atau kritik yang disampaikan oleh para pengarang kepada para pembaca, penonton atau audience.

(51)

3. Motif

Motif adalah dorongan yang sudah terikat pada suatu tujuan. Motif menunjuk hubungan sistematik antara suatu respon dengan keadaan dorongan tertentu, motif yang ada pada diri seseorang akan mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran kepuasan.

Motif juga dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan (Sardiman, 2007: 73).

Berdasarkan menurut beberapa ahli yang mengemukakan ekspresi diri maka dapat disimpulkan bahwa ekpresi diri merupakan sebuah proses pengungkapan melalui gerak tubuh, mimik muka dan kata meliputi gagasan, perasaan, pengalaman dan pemahaman diri tentang aturan-aturan serta pemaknaan individu tentang dirinya dimana seseorang dalam mengekspresikan dirinya itu adalah sebagai bentuk dorongan untuk mencapai suatu kepuasan atau mencapai suatu tujuan.

2.3. Tinjaun Teoritis 2.3.1 Fenomenologi

Fenomenologi memfokuskan perhatiannya terhadap pengalaman sadar seorang individu (Littlejohn dalam Morissan, 2013: 38). Fenomenologi berpandangan bahwa manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka, sehingga mereka mampu memahami lingkungan sekitarnya melalui pengalaman sendiri dan langsung dengan lingkungannya.

Fenomenologi berasal dari kata phenomenon yang berarti kemunculan suatu objek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi seorang individu. Fenomenologi

(52)

(phenomenology) menggunakan pengalaman langsung sebagai cara untuk memahami dunia. Proses interpretasi merupakan hal yang sangat penting dan sentral dalam fenomenologi karena interpretasi merupakan realitas bagi seorang individu.

“Fenomenologi pertama kali dicetuskan oleh Edmund Husserl, fenomenologi dikenal sebagai aliran filsafat sekaligus metode berpikir yang mempelajari fenomena manusiawi tanpa mempertanyakan penyebab dari fenomena tersebut serta realitas objektif dan penampakannya”.

(dalam Suprayoga & Tubroni, 2003: 102).

Stanley Deetz (dalam Morissan, 2013: 39-40), mengemukakan tiga prinsip dasar fenomenologi, yaitu :

1. Pengetahuan adalah kesadaran. Pengetahuan tidak disimpulkan dari pengalaman namun ditemukan secara langsung dari pengalaman sadar.

2. Makna dari sesuatu terdiri atas potensi sesuatu itu pada hidup seseorang. Dengan kata lain, bagaimana kita memandang suatu objek bergantung pada makna objek itu bagi kita.

3. Bahasa adalah "kendaraan makna" (vehicle meaning). Kita mendapatkan pengalaman melalui bahasa yang digunakan untuk.

mendefinisikan dan menielaskan dunia kita.

(53)

2.3.2 Teori Computer Mediated Communication (CMC)

Computer Mediated Communication atau biasa disingkat dengan CMC dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan menjadi komunikasi yang berwahanakan komputer atau komunikasi yang diperantarakan oleh komputer. Kajian tentang CMC ini tergolong baru, mulai berkembang pada tahun 1987.

Dalam konteks CMC komputer yang dimaksud tidak hanya perangkat Personal Computer (PC) atau Laptop, tetapi semua alat-alat yang berbasiskan komputer seperti PDA, smarphone, tablet, dan sejenisnya, alat-alat tersebut disebut dengan media baru komunikasi.

“Computer Mediated Communication (CMC), dapat secara sederhana diartikan sebagai komunikasi yang terjadi antara orang dengan menggunakan media komputer atau melalui komputer”.

(Herring dalam Budiargo, 2015: 8).

Konsep baru tentang CMC menarik banyak kalangan di bidang komunikasi untuk melakukan penelitian tentang perbedaan antara CMC dan komunikasi face to face.

“Culnan dan Markus, mengemukakan bahwa menyusutnya sistem isyarat nonverbal lantaran kapasitas teknologi komunikasi dalam CMC, mengakibatkan kurangnya kesadaran akan pihak lain dan kurangnya perilaku normatif, kesopanan, koordinasi, empati, dan keramahan, atau kurangnya kemampuan untuk memangkas ketidakpastian”.

(dalam SH Arnus, 2018: 279)

Ditemukan tiga asumsi penting yang menjadi basis pembangunan konsep ini, adapun uraian dari asumsi penting ini, antara lain sebagai berikut (Ichwan, 2022: 31) :

Gambar

Gambar 1. 1 Data pengguna aktif media sosial seluruh dunia (sumber : databoks.katadata.co.id)
Gambar 1. 2 Data pengguna Instagram di Indonesia (sumber : dataindonesia.id)
Tabel 2. 1 Matriks Penelitian Sejenis
Gambar 2. 1 Kerangka BerpikirEkspresi DiriInstagram Reels
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini, beberapa dari mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Muhammadiyah Jember melakukan pengungkapan diri lewat fitur aplikasi Instagram Story , yang

Hasil temuan menunjukkan bahwa motivasi penggunaan fitur Love oleh kalangan mahasiswa Influencer adalah untuk mewakili rasa suka terhadap konten Influencer lain,

Selain fitur Instagram, waktu juga menjadi masalah utama penggunaan Instagram dalam hubungan pacaran ini karena penggunaan Instagram yang berlebihan mampu menurunkan

Kutipan tersebut dapat dijelaskan bahwa kuatnya hubungan antara penggunaan fitur insta story dalam aplikasi instagram dengan minat beli produk Wellborn karena

Fitur instagram ini media komunikasi remaja untuk saling terbuka, berinteraksi sosial dan mengunggah personal dirinya pada teman yang dikenalnya, seperti berisi curahan hati yang

Penelitian ini berjudul “Instagram dan Presentasi Diri Mahasiswa” (Studi Korelasional Penggunaan Instagram Terhadap Presentasi Diri Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan fitur Instagram Stories sebagai variabel independen dan kepuasan mendapatkan informasi sebagai variabel dependen pada

xi FENOMENA OVERSHARING DI INSTAGRAM PADA GENERASI MUDA DI KOTA TANJUNGPINANG Oleh Novrianti Frederika Sigalingging Nim 180569201076 ABSTRAK Penggunaan sosial media