• Tidak ada hasil yang ditemukan

UAS TEORI KONSELING MODERN

N/A
N/A
Fenti May Gita

Academic year: 2023

Membagikan "UAS TEORI KONSELING MODERN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Fenti May Gita NPM : 215000006 Kelas : BK 01

UAS TEORI KONSELING MODERN

A. Teori Konseling Modern REBT ( Rational Emotive Behavior Therapy ) 1. Masalah Kasus :

Seorang perempuan yang menjalani Toxic Relationship karena ia memiliki postur tubuh gendut.

2. Deskripsi Masalah :

Disini ia mengalami Toxic Relationship dengan pasangannya karena ia memiliki tubuh yang gendut, dalam hubungan yang seperti itu membuat ia menjadi individu yang rendah diri, pesimis serta mampu membenci dirinya sendiri yang diakibatkan dari perlakuan atau perkataan yang tidak pantas yang diberikan pasangannya terhadap dirinya (memanggil gendut agar ia bisa menguruskan badannya seperti yang di inginkan pasanganya). Dengan permasalahan ini apabila ia tidak bisa mengontrol perasaanya, ia bisa melampiaskan emosi/perasaannya menuju ke stress atau depresi karena merasa gagal terhadap dirinya yang memiliki postur tubuh gendut dan beranggapan bahwa tidak ada gunanya untuk hidup lagi. Bila ia sudah berani mengakui bahwa hubungan yang dijalaninya itu toxic maka ia harus mengakhiri Toxic Relationship itu dengan pasangannya, sehingga ia bisa mengambil keputusan yang dianggap terbaik untuk dirinya kedepannya.

3. Identifikasi pandangan manusia dan pandangan kepribadian:

a. Pandangan manusia :

 Pikiran irasional individu merupakan proses belajar yang irasional yang dipelajari oleh orang tua, budaya, dan lingkungan sekitar.

Disini perempuan tersebut memiliki hubungan yang toxic dengan pasangannya karena pasangannya terobsesi dengan budaya bahwa perempuan cantik itu harus kurus, sedangkan si perempuan memiliki postur tubuh yang gemuk/gendut, sehingga perempuan ini memiliki pikiran yang irasional seperti merasa gagal terhadap dirinya dan beranggapan bahwa tidak ada gunanya untuk hidup lagi karena ia memiliki tubuh yang gendut.

 Gangguan emosional yang diakibatkan oleh verbalisasi (pengungkapan sesuatu dengan kata-kata) ide dan pemikiran irasional individu. Dalam masalah Toxic Relationship ini, ia mendapatkan perkataan yang tidak pantas (memanggil gendut agar ia menguruskan badannya seperti yang di inginkan pasanganya) yang diberikan pasangannya terhadap dirinya (verbalisasi). Yang membuat ia mengalami gagguan emosi/perasaannya menuju hal yang irasional seperti stress atau depresi karena merasa gagal terhadap dirinya yang memiliki

(2)

postur tubuh gendut dan beranggapan bahwa tidak ada gunanya untuk hidup lagi.

 Individu memiliki kemampuan untuk mengubah kehidupannya dan sosialnya. Di dalam masalah hubungan toxic ini terdapat indikator bahwa ia memiliki kemauan untuk mengubah kehidupannya , bila ia sudah berani mengakui bahwa hubungan yang dijalaninya itu toxic maka ia harus mengakhir hubungan yang toxic itu dengan pasangannya, sehingga ia bisa mengambil keputusan yang dianggap terbaik untuk dirinya kedepannya.

b. Pandangan kepribadian :

Antecendent Event (A)

Seorang perempuan yang menjalani Toxic Relationship karena ia memiliki postur tubuh gendut.

Belief (B)

Rb : meyakini bahwa perempuan yang memiliki postur tubuh gendut tidak kalah cantiknya dengan perempuan yang memiliki postur tubuh yang kurus.

Ib: ia melampiaskan emosi/perasaannya menuju ke stress atau depresi karena merasa gagal terhadap dirinya yang memiliki postur tubuh gendut dan beranggapan bahwa tidak ada gunanya untuk hidup lagi.

Emotional Consequence (C)

Dengan pikiran irasional perempuan tersebut ia berperilaku negatif, stress atau depresi, merasa gagal terhadap dirinya yang memiliki postur tubuh gendut, beranggapan bahwa tidak ada gunanya untuk hidup lagi serta menarik diri dalam lingkungan sosialnya karena ia malu terhadap postur tubuh yang gemuk/gendut yang ia miliki.

Dispute (D)

Mengubah pandangan perempuan tersebut bahwa wanita yang memiliki postur tubuh kurus/gendut itu semuanya cantik tidak ada bedanya (memperluas perspektif ). Disini mengubah pikiran yang irasional belief menjadi rasional belief.

Effect (E)

Tercemin melalui perubahan perilaku yang baru yaitu dengan ia menerima bahwa dirinya cantik dengan postur tubuh yang gendut, seharusnya ia sudah memiliki pikiran yang rasional sehingga ia sudah berani mengakui bahwa hubungan yang dijalaninya itu toxic, maka ia harus mengakhir hubungan yang toxic itu dengan pasangannya, sehingga ia bisa mengambil keputusan yang dianggap terbaik untuk dirinya kedepannya.

4. Identifikasi asumsi tingkah laku bermasalah :

Adanya Tingkah laku yang didasarkan pada cara berfikir yang irasional. Disini ia berperilaku negatif seperti stress atau depresi yang didasarkan cara berfikir yang irasionalnya yang merasa gagal terhadap dirinya yang memiliki postur

(3)

tubuh gendut, beranggapan bahwa tidak ada gunanya untuk hidup lagi serta menarik diri dalam lingkungan sosialnya karena ia malu terhadap postur tubuh yang gemuk/gendut yang ia miliki.

A. Teori Konseling Modern CBT ( Cognitive Behavior Therapy ) 1. Masalah Kasus :

Seorang anak yang mengalami insomnia 2. Deskripsi Masalah :

Terdapat seorang anak yang mengalami insomnia sejak duduk di bangku SMP, bahwa ia hanya tidur 3-4 jam dalam sehari. Anak tersebut mengalami insomnia dikarenakan ketakutan untuk tidur sendiri dan tinggal di dalam rumah sendiri. Awal mula anak ini mengalami gangguan tidur/insomnia disebabkan ia ditinggal orang tuanya bekerja sampai larut malam, akan tetapi ketika orang tua anak itu sudah tidak lagi bekerja sampai larut malam. Ia masih merasa takut untuk tidur sendiri padahal orang tuanya sudah tidak lagi bekerja sampai larut malam. Waktu tidur anak ini hanya 3-4 jam sehari bahkan ia juga sering terbangun dan sulit untuk tidur kembali. Insomnia yang anak ini alami disebabkan pikiran yang irasional yang selalu menggangu pikirannya.

Kejadian ini mempengaruhi suasana emosi dan tindakan anak tersebut. Pikiran yang salah, memicu emosi dan tindakan yang tidak rasional dan berdampak pada pola tidur yang kurang efektif sehingga menyebabkan anak ini menjadi insomnia.

3. Indentifikasi pandangan manusia dan pandangan kepribadian : a. Pandangan manusia :

 Pola pemikiran manusia terbentuk melalui proses rangkaian Stimulus-Kognisi-Respon (manusia berpikir,merasa dan bertindak). Disini terdapat Stimulus atau peristiwa yang terjadi sebelum anak ini menunjukan perilaku insomnia/gangguan tidur yaitu disebabkan ia ditinggal orang tuanya bekerja sampai larut malam, setelah adanya stimulus anak ini mengkognisi/merasa takut untuk tidur sendiri dan tinggal di dalam rumah sendiri.

Sehingga menimbulkan respon seperti mengalami gangguan tidur atau insomnia.

 Manusia memiliki potensi untuk menyerap pemikiran yang rasional dan irasional, dimana pemikiran yang irsional dapat menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Anak ini menyerap pemikiran yang irasional yang menggangu pikirannya sehingga anak ini mengalami insomnia. Kejadian ini mempengaruhi suasana emosi dan tindakan anak tersebut.

Pemikiran yang salah, memicu emosi dan tindakan yang tidak rasional dan berdampak pada pola tidur yang kurang efektif sehingga menyebabkan anak ini menjadi insomnia.

b. Pandangan kepribadian :

Stimulus (S)

Disini terdapat Stimulus atau peristiwa yang terjadi sebelum anak ini menunjukan perilaku insomnia/gangguan tidur yaitu

(4)

disebabkan ia ditinggal orang tuanya bekerja sampai larut malam

Organism (O)

Setelah adanya stimulus anak ini mengkognisi/merasa takut untuk tidur sendiri dan tinggal di dalam rumah sendiri. Dengan peristiwa yang ia alami ini mempengaruhi suasana emosi dan tindakan anak tersebut.

Response (R)

Dengan pola tidur yang tidak efektif ini menimbulkan perilaku yang nampak maupun tidak nampak seperti sering terbangun pada saat tidur dan sulit untuk tidur kembali.

Consequenses (C)

Dari hasil perilaku anak ini yang takut untuk tidur sendiri dan tinggal di dalam rumah sendiri membuat ia mengalami pola tidur yang kurang efektif yang menyebabkan anak ini menjadi insomnia/gangguan tidur.

4. Identifikasi asumsi tingkah laku bermasalah:

Adanya pikiran dan pernyataan negatif serta keyakinan tidak rasional. Anak ini memiliki Pikiran yang salah bahwa ia takut untuk tidur sendiri karena tidak ditemani oleh orang tuanya, sehingga memicu emosi dan tindakan yang tidak rasional pada dirinya yang membuat ia sulit untuk tidur atau mengalami gangguan insomnia, yang terkadang membuat ia mudah terbangun serta sulit untuk tidur kembali yang membuat ia tidur hanya 3-4 jam saja.

B. Teori Konseling Modern REALITAS 1. Masalah Kasus :

Anak yang merasa kesepian dan mengakibatkan ia menjadi berperilaku yang buruk.

2. Deskripsi Masalah :

Terdapat anak yang mengungkapkan bahwa selama ini ia merasa kesepian. Sejak kecil ia tinggal bersama ibu, kakek, dan neneknya. Anak ini tidak pernah tahu seperti apa ayahnya, dan dimana ayahnya tinggal sekarang.

Ibunya tinggal dan bekerja di luar kota untuk membiayai sekolah dan kebutuhannya. Sementara anak ini tinggal di rumah bersama kakek dan neneknya. Sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan ayahnya, dan berharap bisa hidup bersama dengan ayah dan ibunya seperti keluarga yang lain. Anak tersebut mendambakan memiliki keluarga yang utuh, ada ayah dan ibu.

Sampai saat ini ia tidak tahu apa yang menyebabkan ayah dan ibunya tidak tinggal bersama, dan ayahnya tidak pernah menemuinya. Ia merasa iri dan merasa berbeda dengan teman-temannya, mereka sering mengejek karena ia tidak memiliki ayah. Selama ini ia selalu menyimpan masalahnya sendiri.

Biasanya ia mengalihkan rasa sedihnya dengan bermain atau tidur di kamar. Anak ini merasa kurang nyaman dengan kakeknya karena ia sering dimarahi, karena ia terlalu banyak bermain dan terkadang juga marah tanpa alasan yang jelas, sehingga ia merasa kakeknya tidak suka terhadap dirinya.

(5)

Ketika dimarahi, ia mengunci diri di kamar sampai perasaannya membaik.

Sejak kelas satu ia dan teman-temannya sering bolos sekolah, sering berkelahi, tawuran, serta melanggar peraturan sekolah, seperti tidak memakai atribut lengkap. Ia juga sering membolos saat jam pelajaran terutama pelajaran yang tidak disukainya. Selama ini ia bermain dengan teman-temannya yang nakal, tetapi teman-temannya sering mempengaruhinya untuk membolos, berkelahi dan berperilaku nakal lainnya. Ia sebenarnya tidak ingin bersikap seperti itu, tetapi ia takut tidak punya teman, sehingga ia bersikap nakal seperti mereka agar bisa diterima teman-temannya.

3. Identifikasi pandangan manusia dan pandangan kepribadian a. Pandangan manusia :

 Perbedaan antara apa yang diinginkan dengan persepsi tentang apa yang diperoleh merupakan sumber utama dalam bertindak pada suatu peristiwa. Disini ia sering bolos sekolah, sering berkelahi, tawuran, serta melanggar peraturan sekolah, seperti tidak memakai atribut lengkap. Ia juga sering membolos saat jam pelajaran terutama pelajaran yang tidak disukainya. Tetapi sebenarnya ia tidak ingin bersikap seperti itu, karena ia takut jika tidak punya teman, yang membuat ia bersikap nakal seperti teman-temannya agar bisa diterima teman-temannya.

 Perilaku manusia berasal dari dalam diri, karenanya manusia harus bertanggungjawab atas segala perbuatannya. Disini anak tersebut berperilaku tidak baik seperti bolos sekolah, sering berkelahi, tawuran, serta melanggar peraturan sekolah, seharusnya ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya karena ia masih anak sekolah, yang seharusnya menaati peraturan sekolah, serta memperhatikan guru saat mengajarnya bukan berperilaku membolos pelajaran yang tidak ia sukai.

b. Pandangan kepribadian :

Kebutuhan dasar

Disini ia ingin sekali mempunyai keluarga yang utuh seperti teman-teman yang lainnya, sehingga tidak diejek teman lagi (kebutuhan mencintai dan memiliki). Ia juga menginginkan kakeknya agar tidak memarahinya terus, karena kakek orangnya cepat marah jadi ia sering dimarahi. Biasanya ia dimarahi karena pulang bermain terlalu sore yang membuat kebutuhan kebebasan dan kesengannya kurang.

Pilihan

Hal yang mendasari manusia memiliki kekuatan dari dalam diri adalah kemampuannya dalam membuat pilihan atau memilih, ia mengungkapkan bahwa dirinya sering berkelahi karena teman- teman suka mengejeknya karena tidak memiliki ayah (memilih berkelahi dari pada mendiamkan teman yang mengejeknya). Ia beranggapan bahwa kondisinya yang tidak ada

(6)

ayah disampingnya berarti ia berbeda dengan teman-teman lainnya . Selain itu sikap kakeknya yang sering memarahinya, menjadikan ia rendah diri dan merasa tidak diterima orang lain.

Perilaku menyeluruh (total behavior)

Berbagai peristiwa kehidupan, manusia selalu membuat pilihan.

Ketika suatu pilihan dibuat, maka pilihan tersebut akan berdampak pada perilaku menyeluruhnya. Disini anak tersebut bisa membuat pilihan, bahwa ia berusaha untuk rajin berangkat sekolah, tidak membolos, tidak berkelahi dan tidak terlalu banyak bermain. Tetapi ia masih merasa sulit melakukan tindakan tersebut. Ia juga takut dijauhi teman-temannya, dan pada akhirnya ia tidak punya teman lagi. Padahal ia ingin sekali punya banyak teman sehingga ia ingin sekali bisa diterima orang lain. Selama ini kebiasaannya yang senang membolos, berkelahi, mencuri, terlalu banyak waktu bermain adalah pengaruh dari teman-temannya. Jika anak tersebut tidak mau melakukan apa yang teman-temannya lakukan, mereka akan meremehkannya, karena ia tidak mau diremehkan, maka ia akan terpancing dan akan membuktikan pada teman-temannya bahwa ia bukan anak yang penakut dengan melakukan apa yang teman-temannya katakan.

Dunia yang berkualitas (quality word)

 Dalam kehidupan sehari-hari, beberapa orang berkumpul pada lingkungan dan menghadapi realitas yang sama, tetapi setiap dari mereka melihat denga perpektif atau cara pandang yang berbeda terhadap lingkungan realitas tersebut. Disini ia sering bolos sekolah, sering berkelahi, tawuran, serta melanggar peraturan sekolah, Ia juga sering membolos saat jam pelajaran terutama pelajaran yang tidak disukainya, dengan ini orang-orang berkumpul pada lingkungan dan menghadapi realitas yang sama. Tetapi cara pandang anak ini berbeda dengan temannya, karena anak ini bersikap seperti itu, karena ia takut jika tidak punya teman, yang membuat ia bersikap nakal seperti teman-temannya agar bisa diterima teman- temannya. Teman-temanya berbuat nakal hanya karna rasa senang karena melakukan itu, tetapi tidak dengan anak ini, ia melakukan perbuatan yang nakal itu hanya karena ingin mendapatkan teman yang banyak.

4. Identifikasi asumsi tingkah laku bermasalah:

a) Individu yang tidak menyadari tanggung jawab akan dirinya. Sikap individu yang tidak bertanggung jawab tersebut tercemin dalam perilakunya pada saat ini. Disini anak tersebut berperilaku tidak baik seperti bolos sekolah, sering berkelahi, tawuran, serta melanggar peraturan sekolah, seharusnya ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya karena ia masih anak sekolah, yang seharusnya

(7)

menaati peraturan sekolah, serta memperhatikan guru saat mengajarnya bukan berperilaku membolos pelajaran yang tidak ia sukai.

b) Bentuk dari perilaku yang tidak tepat tersebut disebabkan karena ketidak mampuannya dalam memuaskan kebutuhuhannya. Disini ia sejak kecil ia tinggal bersama ibu, kakek, dan neneknya. Anak ini tidak pernah tahu seperti apa ayahnya, dan dimana ayahnya tinggal sekarang. Dengan kebutuhannya yang tidak terpenuhi itu, ia melakukan tindakan yang negatif seperti membolos, berkelahi, tawuran, seperti yang dikatakan oleh teman-temanya agar ia tidak di ejek oleh teman-temannya.

Referensi

Dokumen terkait