• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fikih Jinayah Kontemporer

N/A
N/A
agusmi wijaya

Academic year: 2024

Membagikan "Fikih Jinayah Kontemporer"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

HISTORISITAS FIKIH JINAYAH (HUKUM

Pengertian Fikih

Di antara makna-makna tersebut dapat disimpulkan bahwa fiqh adalah ilmu yang menjelaskan segala hukum agama mengenai perbuatan para mukallaf, yang diambil dari dalil-dalil yang jelas atau terperinci (Islam dan Marsaid 2013). Al-Said al-Juraini yang dikutip oleh Nazar Bakry antara lain menyatakan pentingnya ilmu fiqh sebagai berikut: “Ilmu yang menjelaskan hukum-hukum syariat, yang bersifat praktis dan diambil dari dalil-dalil yang terperinci.” Menurut T.M Hasbi Ash-Shidqy yang menggerakkan pengikut Syafi’i, Fiqh adalah ilmu yang menjelaskan segala hukum agama yang berkaitan dengan mukallaf dan bersumber dari dalil-dalil yang jelas.

Serta mengedepankan pendapat Al-Imam Abd Hamid Al-Ghazali bahwa fiqh adalah ilmu yang menjelaskan hukum-hukum syariat. Dari pengertian di atas maka pembelajaran fiqh merupakan suatu metode yang dilakukan secara sadar, terarah dan dirumuskan dalam kaitannya dengan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf baik berupa ibadah maupun muamalah, dengan tujuan untuk mendidik dan memahami setiap orang. pelaksanaan ibadah sehari-hari. Pembelajaran fiqh merupakan suatu metode yang digunakan pendidik untuk menyampaikan hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan manusia dan Allah SWT (hablum minallah) (Syarifudin 2014).

Fiqh mempunyai ciri khas yang membedakannya dengan hukum positif (hukum yang tidak berasal dari agama).

Pengertian Jinayah (Pidana Islam)

Adapun pengertian jarimah adalah larangan syarak (yang apabila dilakukan Allah mengancam dengan azab kebencian atau ta'zir (Gunawan 2017). Wasiat yang berkaitan dengan perbuatan manusia di kalangan ulama ushul disebut " hukum syarah", tetapi dalam fiqh "hukum syarah" adalah pengaruh perintah Allah terhadap perbuatan manusia. Adapun istilah syariat Islam yang sering dikaitkan dengan syariat Islam, yaitu syariah, fiqih, syara' dan Qanun ( Rohmanan. 2023).

Hukum pidana Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari syariat, yang berlaku sejak diutusnya Rasullah SAW. Oleh karena itu, pada masa Rasullah SAW dan Khulafa’ Ar-Rasyidin, hukum pidana menurut hukum Islam menjadi hukum publik, hukum tersebut diatur dan dilaksanakan oleh pemerintah selaku penguasa hukum atau ulil amri pada saat itu, Rasulullah SAW sendiri. Hukum pidana Islam diterapkan dan dilaksanakan oleh Nabi bagi seluruh warga negara, umat Islam bahkan non-Muslim.

Hukum pidana Islam dalam pemidanaannya didasarkan pada kemampuan mempertanggungjawabkan, yaitu beban yang ditanggung seseorang atas perbuatannya.

Asas-Asas Hukum Pidana Islam

Sebelum ada teks yang menunjukkan larangan khamr dan tidak ada hukuman, peminum anggur tidak dihukum. Pertama, hukum pidana Islam hanya dapat diterapkan secara surut terhadap kejahatan berbahaya yang berkaitan dengan keamanan dan ketertiban umum. Hukum pidana Islam harus berlaku surut jika peraturan pidana di kemudian hari menguntungkan pelakunya.

Apabila suatu naskah baru muncul sebelum suatu peradilan diputuskan dan naskah itu lebih menguntungkan tersangka, maka ia harus diadili berdasarkan naskah yang baru itu; Apabila teks baru dikeluarkan setelah ada putusan, dan teks tersebut sangat menguntungkan terpidana, maka pidana tersebut harus dilaksanakan menurut teks kalimat yang baru. Apabila muncul teks baru setelah ada putusan, sedangkan teks tersebut tidak lagi memandang peradilan dan tidak menjatuhkan hukuman atas perbuatan yang telah dilakukan;

Jika nash baharu itu menambah hukuman yang lebih berat, maka nash baharu itu tidak dikenakan kepada pesalah kerana nash baharu itu tidak mempromosikan nash yang menguntungkan.

Urgensitas Penerapan Hukum Di Indonesia

Dalam hukum syariah, ta’zir merupakan hukuman tanpa batas, yaitu segala hukuman yang belum ditentukan besarnya hukumannya. Kewenangan Hukuman Jarimah Ta'zir Pemerintah mempunyai kekuasaan untuk membuat peraturan perundang-undangan meskipun kehidupan berubah. Oleh karena itu, tuntutan jarimah hudud dan qishash-diyat yang tidak terpenuhi termasuk dalam kategori jarimah ta’zir.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, jari ta’zir termasuk dalam jari hudud, namun syaratnya tidak terpenuhi. Ta’zir untuk kepentingan umum, artinya segala perbuatan yang dapat merugikan atau mengancam kepentingan umum. Ta'zir untuk pelanggaran mengacu pada pelaksanaan perbuatan yang dilarang dan kelalaian terhadap perbuatan wajib (Husairi 2018).

Dengan batasan, Anda dapat mengetahui kategori yang dimiliki radio hudud dan radio ta'zir.

PEMIKIRAN TOKOH-TOKOH KONTEMPORER

Pemikiran Hukum Para Tokoh Kontemporer

Teori Mafhūm an-Nāş Maĥmūd Syaltūt

Ia kemudian masuk ke lembaga pendidikan agama di al-Ma'hāt ad-Dīni yang didirikan pada tahun 1903 di bawah administrasi Universitas al-Azhār di Alexandria. Keadaan sosial ekonomi orang tuanya cukup membekali anaknya untuk menyelesaikan studinya di Universitas al-Azhār pada tahun 1918 dengan gelar Syahadah al-'Ilmiyah an-Niżāmiyyah, penghargaan tertinggi al-Azhār atas prestasi yang diraihnya. dicapai lebih dari 12 tahun (kriminal Islam, n.d.). Oleh karena itu, Syaltūt melakukan reformasi dan perbaikan terhadap Universitas al-Azhār yang disambut baik oleh Musţafā al-Magrībī yang menduduki posisi Syekh al-Azhār pertama.

Upaya reformasi dan perubahan ini didukung oleh Universitas al-Azhār setelah ia menjadi dosen di sana. Meskipun terdapat pro dan kontra mengenai gagasan reformasi tersebut, pada tahun 1937 ia ditunjuk mewakili al-Azhār untuk mengikuti konferensi internasional, dan menyampaikan makalahnya yang berjudul: al-Mauşūliyyah al-Madāniyah wa al -Jināiyyah fī asy -Syarī 'ah al-Islamiyyah. Mengenai bidang hukum pidana (jināyah), Syaltūt menggunakan teori mafhūm an-nāş (pemahaman) dari teks Al-Qur'an.

Apakah pertukaran agama juga melibatkan laki-laki dan perempuan, sehingga menyebabkan perempuan terbunuh, dan juga laki-laki murtad, ataukah hanya laki-laki saja, sedangkan perempuan tidak dihukum mati jika murtad?

Theory Limite (Nażāriyah al-Ĥudūd) Muĥammad

Oleh karena itu, dalam membahas tindak pidana dan hukumannya dalam hukum pidana Islam modern, sangat diperlukan penerapan teori limite (nażāriyah al-ĥudūd) seperti yang dikemukakan oleh pemikiran al-Syahrūr. Al-Ĥadd al-Adnā (hukuman yang disebutkan batas minimalnya) Menurut teori ini, tidak berlaku pada hukuman ĥudūd, melainkan pada larangan mengawini wanita untuk selama-lamanya (maĥram al-mu’abbadah), sebagaimana tercantum dalam QS. . Dan hal ini juga berlaku pada hukuman perampokan, bahwa meskipun hukuman bagi perampok disesuaikan dengan perbuatan yang dilakukannya, namun bentuk hukumannya tidak boleh lebih jauh dari bentuk hukuman yang telah ditetapkan dan bentuk hukuman tersebut tidak boleh dijatuhkan. pada orang-orang yang bertaubat sebelum tertangkap, sebagaimana dijelaskan dalam QS.

Dan teori ini juga berlaku pada hukuman pembunuhan yaitu hukuman gereja yang artinya bagi si pembunuh, hukumannya adalah mati sebagai hukuman maksimal, dan para pihak. Al-Ĥadd al-Adnā wa al-Ĥadd al-A'lā ma'an (hukuman yang menunjukkan batas minimal dan batas maksimal secara bersamaan). Teori ini tidak berlaku pada hukuman ĥudud, namun berlaku pada ketentuan pembagian warisan antara bagian anak laki-laki dan bagian anak perempuan, dengan ketentuan bagian anak laki-laki adalah 2 (dua kali) bagian anak perempuan, masing-masing 2:1.

Artinya, warisan anak laki-laki paling banyak 2 bagian, sedangkan warisan anak perempuan paling sedikit 1 bagian. Jadi anak laki-laki tidak boleh mempunyai lebih dari 2 bagian, tetapi anak perempuan dapat menerima warisan lebih dari 1 bagian, jika masing-masing ahli waris menyetujuinya, sebagaimana dalam QS. Al-Ĥadd al-Adnā wa al-Ĥadd al-A'lā ma'an 'Alā nuqţah Wāĥidah (hukuman yang batas minimal dan maksimalnya bertemu pada titik tertentu).

Teori ini berlaku pada hukuman bagi pezina yaitu hukuman bagi pezina yang bertemu dalam satu waktu adalah 100 (seratus) cambukan. Al-Ĥadd al-A'lā Bikhaţ Muqārib li Mustaqīm (hukuman yang disebutkan tidak mencapai batas terendah, juga tidak mencapai batas tertinggi). Teori ini tidak berlaku pada hukuman ĥudūd, namun berlaku bagi laki-laki agar tidak berzina dengan seorang perempuan sebelum melangsungkan akad nikah, sebab perzinahan adalah perbuatan keji, sebagaimana dalam QS.

Al-Ĥadd al-A'lā Mujib Muglaq lā Yajūzu Tajawujah wa al-Ĥadd al-Adnā Sālib Yajūzu Tajawujah (hukuman yang disebutkan adalah batas atas positif dan batas bawah negatif, dan keduanya bertemu di tengah) Teori ini juga tidak berlaku pada hukuman ĥudūd, namun berlaku pada ketentuan mengenai kepemilikan harta antar manusia. Batas tertingginya positif yaitu larangan riba, batas minimalnya negatif yaitu pembayaran zakat, dan batas tengahnya yaitu pemberian shadakah as.

Teori Naqd al-‘Aql al-‘Arabī Muĥammad 'Ābid al-

Selain itu, haddi merupakan hukuman dalam hukum pidana Islam yang merupakan hak Allah). Sedangkan non-Muslim di Aceh diberikan kebebasan untuk memilih hukum pidana Islam seperti dalam Kanun atau mengacu pada hukum nasional. Tampaknya, hal ini merupakan tren penerapan hukum pidana Islam di negara-negara Muslim, seperti yang terjadi di negara dan wilayah tertentu.

Ketiga, setiap orang yang beragama non-Muslim yang melakukan perbuatan jarimah di Aceh yang tidak diatur dalam KUHP atau Dalam kasus Brunei, misalnya, jarimah dan hukuman tertentu hampir sama persis dengan struktur dan tatanan hukum pidana Islam yang dituangkan dalam kitab-kitab fiqh. Dalam konteks ini, salah satu permasalahan yang dihadapi hukum pidana Islam adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di beberapa bidang.

Menurut hukum pidana Islam dalam kitab-kitab klasik, mereka yang dihukum karena pelecehan diberi hukuman yang pantas atau qishâsh. Jarîmah dalam hukum pidana Islam bertujuan untuk memberikan perlindungan dan perlindungan kepada masyarakat dalam rangka menegakkan keadilan dan kebenaran. Sedangkan kontrol sosial identik dengan hak adamî (pribadi) dalam hukum pidana Islam, sehingga ungkapan tersebut seolah mengandung arti bahwa setiap hak adamî mengandung hak Allah.

Keberadaan hak-hak tersebut dalam hukum pidana Islam diwujudkan melalui adanya jarîmah, yaitu perbuatan yang dilarang syara' dan diancam oleh Allah dengan hukuman had atau ta'zîr. Jariîmah dalam hukum pidana Islam yang telah ditetapkan sanksi pidananya adalah jariîmah hudûd dan qishâsh-diyat. Tantangan terhadap hukum pidana Islam, khususnya aspek hukumnya dalam konteks kontemporer dan modern, merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari.

Bentuk dan Sanksi Pidana Perkosaan dalam Pernikahan Salah satu tantangan modernitas dalam hukum pidana Islam adalah munculnya marital rape (perkosaan seorang laki-laki terhadap istrinya) dalam hukum pidana. Oleh karena itu, permasalahan perkosaan dalam perkawinan sebagai salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga patut dikaji dari perspektif hukum pidana Islam. “Asas Legalitas Hukum Pidana: Studi Banding Asas Legalitas Hukum Pidana Indonesia dan Hukum Pidana Islam (Jinayah).” Lobi hukum.

Konsep pencurian dalam KUHP dan Hukum Pidana Islam.” Jurnal Hukum Syiah Kuala. Keadilan Restoratif dalam Kejahatan Pembunuhan: Perspektif Hukum Pidana Indonesia dan Hukum Pidana Islam.” Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum. Jarimah Qadzaf (menuduh zina) Kajian banding hukum pidana Islam dan hukum positif Indonesia." JURNAL DARUSSALAM: Pemikiran hukum tata negara dan mazhab perbandingan.

Referensi

Dokumen terkait

Buku in mernbahas tiga topik utama yang menjadi isu penting dalam ka.jian fikih nu'emalah (hubungan sosial) dan fikih slyrisah

Anggota DPRA asal Lokshemawe, Nazar Pasee, berpandangan bahwa Partai Aceh tidak menolak hukum rajam masuk dalam Qanun Jinayah selama telah menjadi aspirasi

Dilihat dari prespektif fikih kontemporer dan mashlahah, hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam budaya populer yang terjadi di kalangan santri putri Komplek

Selain itu, kurang efektifnya pemberlakuan qanun jinayah di Singkil juga tersebut dalam buku Hukum Jinayat dan Hukum Acara Jinayat Dinas Syari’at Islam Aceh,

Unsur ikhtilath dalam hukum fikih dan Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tidak jauh berbeda, dalam pandangan kedua hukum tersebut, berada pada suatu tempat tertutup maupun

makanan dan minuman yang diharamkan oleh syara’ Dari paparan tersebut di atas, dapat penulis pahami bahwa perbuatan-perbuatan tindak pidana atau jinayah merupakan bentuk

Menurut Jazuli bahwa istilah jinayah ini sepadan hampir sama dengan istilah jarimah yaitu larangan – larangan syara’ yang diancam oleh Allah SWT dengan hukuman had dan ta’zir.3 Menurut

Dokumen ini membahas sejarah perkembangan Al-Quran dari masa pewahayan hingga masa