• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filosofi Tallu Lolona sebagai Ide Implementasi Perancangan Interior

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Filosofi Tallu Lolona sebagai Ide Implementasi Perancangan Interior"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

FILOSOFI TALLU LOLONA SEBAGAI IDE IMPLEMENTASI PERANCANGAN INTERIOR

Rikyanto1, Tessa Eka Darmayanti*2, Arnold Maximillian3

Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Kristen Maranatha123

*Correspondence author: Tessa Eka Darmayanti, [email protected] ,Bandung, Indonesia

Abstrak. Masyarakat Toraja percaya dalam menjalani kehidupan didasarkan pada filosofi Tallu Lolona (Tiga pucuk kehidupan) merupakan ciptaan Tuhan yang tertata dalam satu lingkup yang harmonis. Filosofi Tallu Lolona merupakan ajaran nenek moyang yang patut untuk dilestarikan.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui makna dari filosofi Tallu Lolona pada kehidupan masyarakat Toraja serta kemungkinan inspirasi yang dapat diterapkan ke dalam elemen desain interior melalui garis, bentuk, pola, ruang, pencahayaan dan warna. Artikel kualitatif ini menggunakan pendekatan kajian budaya yang didukung dengan eksplorasi literatur. Hasil yang kajian ini adalah gagasan berupa garis, bentuk, warna, ruang, tekstur dan pencahayaan yang diambil dari nilai tangible dan intangible filosofi Tallu Lolona, melalui Passura atau ukiran dinding rumah Tongkonan. Penelitian ini memiliki kontribusi mengenai pengetahuan tentang nilai budaya Toraja yang sekaligus sebagai peninggalan nenek moyang yang harus dilestarikan sehingga identitas bangsa dapat tetap terjaga.

.

Kata kunci: Budaya Toraja, Filosofi Tallu Lolona, Penerapan makna, Elemen interior

Abstract. Toraja people believe in living life based on the philosophy of Tallu Lolona (Three pinnacles of life) is God's creation that is arranged in a harmonious scope. Tallu Lolona's philosophy is an ancestral teaching that should be preserved. This study aims to find out the meaning of the Tallu Lolona philosophy on the life of the Toraja people, and the possible inspiration that can be applied to interior design elements through line, shape, pattern, space, lighting, and color. This qualitative article uses a cultural studies approach that is supported by literature exploration. The results of this study are ideas in the form of lines, shapes, colors, spaces, textures, and lighting taken from the tangible and intangible values of the Tallu Lolona philosophy, through Passura or Tongkonan house wall carvings. This research contributes to knowledge about Toraja’s cultural values , which is also a relic of the ancestors that must be preserved to maintain national identity.

Keywords: Toraja Culture, Tallu Lolona Philosophy, Application of meaning. Interior Elemen

Pendahuluan

Kebudayaan berkaitan dengan suatu bentuk penciptaan yang berasal dari manusia, oleh karena itu merupakan elemen penting dan sangat berperan dalam kelangsungan hidup suatu masyarakat. Kebudayaan bersifat dinamis, bebas dan abstrak karena tidak jelas bentuknya karena mengikuti pola hidup masyarakat dan tidak terikat sehingga dapat berubah mengikuti perubahan namun tetap tertuju pada satu filosofi (Priyanto 2011).

Salah satu bentuk kebudayaan yang menjadi fokus penelitian ini adalah ajaran nenek moyang masyarakat Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ajaran nenek moyang merupakan hal

(2)

penting yang perlu dilestarikan dan kegiatan pelestarian senantiasa melibatkan masyarakat lokal atau yang berkaitan dengannya. Berdasarkan hal itu, Priyanto memperjelas bahwa pada akhirnya setiap kelompok masyarakat memiliki kebudayaan yang telah mengakar dari generasi sebelumnya. Menurut Kartodirdjo (1993), bahwa kaidah-kaidah yang disampaikan nenek moyang memang mengatur pola kehidupan masyarakat tradisi, karena di lihat dapat memperkuat dan menyeimbangkan hubungan secara horizontal antara masyarakat dan masyarakat, juga masyarakat dan alam, sekaligus hubungan vertikal masyarakat dengan Sang Pencipta. Melaksanakan ajaran nenek moyang dapat memberikan rasa aman, tentram dan membawa kebaikan ke dalam kehidupan. Hal tersebut dilakukan juga oleh masyarakat Toraja dengan cara menyampaikan dan memberikan contoh tradisi-budaya terus menerus kepada generasi ke generasi.

Nenek moyang masyarakat Toraja memiliki kepercayaan dalam menjalani kehidupan berdasarkan pada filosofi Tallu Lolona yang merupakan esensi dasar lokalitas masyarakat Toraja.

Filosofi Tallu Lolona memiliki arti Tiga Pucuk Kehidupan, yaitu, Manusia (Tau), Hewan (Patuoan), dan Tumbuhan (Tananan). Dimana tiga makhluk Tuhan hidup dan bertumbuh saling melengkapi.

Ketiga falsafah ini merupakan siklus yang harus hidup seimbang dalam perjalanan hidup manusia (Monika 2017). Filosofi atau falsafah berasal dari kata filsafat yang dapat diartikan sebagai cara pandang dari sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima tidak formal (Ibda 2018). Tallu Lolona termasuk ke dalam filsafat kebudayaan yang memiliki makna sebagai realitas kemanusiaan secara mendalam dan menyeluruh yang memiliki tanggung jawab moral serta memiliki prinsip-prinsip tertentu agar tujuan kebudayaan dalam meningkatkan harkat dan martabat manusia dapat tercapai. Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini penting dilakukan, selain itu sebagai salah satu usaha untuk melestarikan budaya tradisi nenek moyang.

Di dalam dunia perancangan interior, filosofi dari sebuah tradisi juga penting dipertimbangkan sebagai ide atau gagasan perancangan. Selain dapat memberikan ambience tradisional melalui estetika-nya tersendiri. Filosofi budaya adalah bagian integral dari diri kita, latar belakang kita, dan bangsa kita, dan ketika dimasukkan ke dalam desain interior, dapat dimasukkan dan dipengaruhi ke dalam segala hal dalam aktivitas sehari-hari. Hal tersebut juga sebagai langkah cultural sustainability atau keberlanjutan budaya. Telah diketahui bahwa keberlanjutan budaya berkaitan dengan mempertahankan kepercayaan budaya, praktik budaya, konservasi warisan, budaya sebagai entitasnya sendiri, dan pertanyaan apakah budaya tertentu akan ada di masa depan atau tidak. Berdasarkan buku Cultural Sustainability yang diterbitkan oleh Routledge pada tahun 2020, menyatakan bahwa keberlangsungan budaya tengah berada pada krisis karena hantaman modernisasi dari berbagai arah. Selain itu, membawa budaya ke dalam perancangan interior merupakan langkah yang mencerminkan akar budaya terdalam.

Dengan cara ini, desain budaya menjadi alur cerita bagi sejarah dan identitas nasional.

Pernyataan tersebut memperkuat alasan bahwa penelitian ini penting dilakukan.

Melalui perancangan interior, keberlangsungan budaya dapat menjadi solusi krisis budaya. Kehadiran interior dengan mengusung budaya sangat memungkinkan filosofi budaya menembus zaman. Pernyataan tersebut didukung oleh Zhang pada tahun 2016 yang menyatakan bahwa melalui elemen desain suatu budaya dapat direalisasikan supaya budaya tetapi “hidup”. Selain itu, dapat sekaligus merancang kesadaran mentalitas budaya. Untuk itu dalam sebuah perancangan interior, implementasi filosofi penting untuk menanamkan nilai nilai yang berasal dari ajaran nenek moyang, dan tetap dilestarikan untuk generasi berikutnya.

Filosofi Tallu Lolona menjadi Pokok dasar masyarakat untuk menganalisis dan berpikir secara mendalam mengenai suatu makna di era yang terus berkembang.

Terdapat banyak penelitian filosofi dan budaya yang diimplementasikan pada sebuah perancangan desain, seperti halnya implementasi filosofi motif batik Parang pada perancangan Interior Spa tradisional Jawa yang dilakukan oleh Kristie dengan mengambil gagasan melalui

(3)

stilasi bentuk dasar parang (Kristie et al 2019). Penelitian tentang batik sebagai gagasan perancangan yang diterapkan pada lobi hotel, namun fokus pada filosofi batik Jawa Barat yang dilakukan oleh Maghfira Aulia Rahman dan rekan pada tahun 2022 (Rahman et al 2022). Budaya dari Palangkaraya mengenai filosofi Huma Betang juga di bedah pada tahun 2021 oleh David Ricardo dan diterapkan pada sebuah perpustakaan (Ricardo 2021). Kemudian, ada pula penerapan budaya Jawa yang berasal dari Wayang Beber pada interior yang diuraikan oleh Rama Perdana Drajat pada tahun 2022 (Drajat et al 2022). Berdasarkan uraian beberapa penelitian tersebut, kekayaan budaya dan filosofinya tidak dapat dilepaskan dari gagasan dalam merancang bangunan atau ruang yang dibantu dengan proses kreativitas. Walaupun demikian, belum ada yang membahas penerapan filosofi Tallu lolona dari Toraja dan hubungannya dengan sebuah perancangan interior. Oleh karena itu, kajian ini menjadi menarik dan terbentuklah tujuan penelitian yaitu membahas makna pada Tallu lolona yang dapat menjadi dasar eksplorasi di dalam sebuah perancangan interior, sehingga menjadi kontribusi yang berhubungan dengan pelestarian budaya Toraja. Berdasarkan penjelasan dan tujuan penelitian di atas maka terbentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Apa saja makna Tallu Lolona?

2. Bagaimana penjabaran hubungan manusia dengan manusia (Lolo tau) dan Manusia dengan Alam (Patuoan & Tananan) pada Filosofi Tallu lolona?

3. Bagaimana implementasi Tallu Lolona pada sebuah perancangan interior melalui elemen Desain interior?

Metode

Penelitian budaya ini menggunakan metode kualitatif untuk mencapai objektif penelitian dan menjawab pertanyaan penelitian. Telah diketahui bahwa metode kualitatif melibatkan partisipasi peneliti dan juga informan pada saat observasi di lapangan, mengalami kawasan penelitian dan wawancara secara mendalam. Menurut Somantri, penelitian kualitatif memang berkaitan dengan informan dan peneliti yang bertemu di lokasi penelitian kemudian melahirkan informasi berupa berbagai data lisan yang dilengkapi juga dengan data visual dan kemudian dikategorikan sesuai dengan pendekatan penelitian (Somantri 2005). Informasi juga dilengkapi dengan berbagai sumber literatur terkait filosofi Tallu Lolona supaya pembahasan dapat dilakukan secara optimal. Sebagai penelitian kualitatif, data primer tentu saja diperoleh melalui wawancara tidak terstruktur dengan salah satu kepala adat daerah Sa’dan, Toraja Utara yaitu Bapak Amsal di kediamannya pada tanggal 25 April 2022. Kegiatan tersebut sekaligus dilakukan agar mendapatkan konfirmasi terkait makna Filosofi Tallu Lolona di dalam kebudayaan Toraja.

Hasil dan Pembahasan

Filosofi Tallu Lolona

Toraja memiliki filosofi Tallu Lolona. Arsitek aluk todolo beranggapan bahwa Puang Matua (Tuhan) menciptakan berbagai makhluk di dunia secara sendiri-sendiri. Dengan demikian makhluk-makhluk tersebut harus saling menghargai dan menyayangi. Filosofi tersebut jelas menggambarkan kehidupan masyarakat Toraja yang memandang ciptaan Tuhan (manusia, hewan, dan tumbuhan) secara sama, yakni menghargai dan menyayangi keberadaannya. Maka dari itu, sejatinya manusia diminta tidak tunduk pada alam, tetapi berlaku solider terhadap alam.

Akal dan kebebasan manusia bertujuan untuk bebas menjaga lingkungan sehingga tercipta hubungan kewajiban antara keduanya yaitu alam wajib menghidupi manusia dan manusia wajib

(4)

melestarikan alam. Jika kewajiban tersebut terlaksana, maka alam dapat terjaga dan keadaan ekologis manusia juga (Sudarsi et al 2019).

Hal tersebut diungkapkan oleh Manta dalam Randa (2015) “Torro tolino tokenden tau mata. Undaka’ rokkoan kollong tumuntuntamman di baroko. Anna sirussun kande dio alla’na to torro tolino, ann saba’ tanantanamannato kenden tau mata.” (Manusia menjadi yang utama, akan mencari makanan dan memenuhi kebutuhannya dari tanaman dan hewan). Berdasarkan wawancara dengan Bapak Amsal, salah satu kepala adat dari daerah Sa’dan, Toraja Utara, mengatakan bahwa Filosofi Tallu Lolona merupakan ajaran Aluk Todolo (Nenek Moyang) yang bersumber dari Tongkonan (rumah adat) yang saling berhubungan. Ketiga Lolo tersebut menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dengan manusia (Lolo Tau) yaitu tidak adanya perbedaan status sosial di dalam tongkonan, tetapi menyetarakan manusia sejajar dan memiliki hak masing masing. Kemudian manusia dengan tanaman (Tananan) yang menggambarkan manusia harus melestarikan lingkungannya sehingga menghasilkan kehidupan yang Makmur, dan hubungan Manusia dengan hewan (Patuoan) yang menggambarkan hubungan manusia dengan hewan saling berkaitan, di dalam adat Toraja, beberapa hewan yang dianggap sakral seperti, Kerbau. Kerbau merupakan ikon dari kebudayaan Toraja, hal ini menyimpulkan bahwa “hewan” sangat dijaga dan dipelihara oleh masyarakat Toraja, Kerbau hanya bisa dikorbankan dalam upacara Rambu Soloq (kematian). Pengorbanan dalam masyarakat Toraja merupakan salah satu budaya dari Aluk Todolo yang dilakukan dalam Rambu Soloq yang melambangkan persembahan bagi orang yang telah meninggal. Hal inilah yang menjadikan manusia dan hewan terus berkaitan satu sama lain di dalam kebudayaan Toraja.

Pentingnya Tallu Lolona dalam kehidupan masyarakat Toraja sehingga tiga hal tersebut, yakni manusia, binatang, dan tumbuhan bisa bersinergi dan saling memberi manfaat. Tallu Lolona (tallu = tiga, lolona = batang, sekawan. Jadi Tallu Lolona berarti tiga batang atau tiga sekawan). Tallu Lolona atau tiga sekawan tersebut adalah lolo tau (manusia), lolo patuan (hewan), dan lolo tananan (tanaman) (Sudarsi et al 2019).

Lolo Tau

Filosofi lolo tau adalah filosofi yang memandang suatu relasi yang harmonis antar manusia yang merefleksikan nilai-nilai kemanusian yang tertinggi, yaitu kebaikan, keikhlasan, dan kemurahan hati yang berasal dari dirinya, terhadap sesama, nenek moyang, roh-roh, dan alam sekitarnya. Dalam hidupnya, orang yang demikian harus membangun keseimbangan dan keharmonisan dalam dirinya (Sudarsi et al 2019). Pada rumah Tongkonan memaknai Lolo tau (Manusia-Manusia) diimplementasikan dan dapat dilihat dari ukiran indah pada dinding kayu rumah yang disebut dengan toraya (Passura) yang memiliki pesan atau moral yang terkandung kepada manusia agar menjalani kehidupan di dunia dengan semestinya (gambar 1).

Gambar SEQ Gambar \* ARABIC 1 Rumah adat Toraja (Tongkonan) (kiri) & Passura (kanan) di Ulusalu, Kec. Sa'dan, Toraja Utara

Sumber: Dokumentasi pribadi, 26 Juni 2022

(5)

Berdasarkan wawancara, ukiran passura sebagai simbol status pemilik atau penghuni rumah dan ukiran-ukiran tersebut lahir karena adanya interaksi antara manusia Toraja dengan alam sekitarnya. Makna ukiran tersebut bertujuan untuk membuka pikiran masyarakat agar patuh dan dapat menjalankan makna dari ukiran-ukiran passura. Secara tidak disadari, masyarakat Toraja hidup dan tumbuh dalam sebuah tatanan masyarakat yang menganut filosofi Tau. Filosofi Tau dibutuhkan sebagai pegangan dan arah menjadi manusia (manusia = “tau”).

Dalam budaya Toraja, Filosofi tau memiliki empat pilar utama yang yang menjadi pijakan bagi masyarakat, yaitu Sugi’ (Kaya), Barani (Berani), Manarang (pintar), Kinawa (memiliki nilai-nilai luhur, agamis, bijaksana). Jika keempat pilar tersebut terwujud, maka sejatinya individu yang mencapai keempat pilar tersebut dapat menjadi pegangan dalam pandai bersikap, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan (Matandung et al n.d.).

Ukiran Passura yang ada pada rumah Tongkonan, memiliki empat warna dasar yang sesuai dengan empat pilar filosofi tau yaitu, Kuning sebagai representasi orang kaya atau kekayaan (Sugi’), Merah sebagai representasi dari orang yang berani (Barani), warna Putih sebagai perwakilan dari seorang pemimpin (Manarang) dan warna Hitam sebagai lambing orang biasa (Kinawa) (Randa, 2021) (gambar 2).

Gambar SEQ Gambar \* ARABIC 2 Empat warna dasar pada ukiran (Passura) (kiri) & Passura pada dinding rumah Tongkonan.

Sumber: Dokumentasi pribadi, 26 Juni 2022

Lolo Patuoan

Lolo patuoan memaknai hubungan antara manusia dengan hewan. Filosofi lolo patuoan bagi orang Toraja menjadi basis kehidupan lokal mereka. Salah satu bentuk hubungan antar manusia dengan hewan yaitu adanya upacara Himne Passomba tedong. Salah satu hewan sakral di Toraja ialah Kerbau (tedong). Kerbau sebagai patuoan (hewan) menjadi basis kehidupan di dalam kebudayaan Toraja. (Inti utamanya adalah membangun hubungan manusia dan alam sebagai hubungan subjek-subjek, yaitu dengan menerapkan “hubungan saudara”. yang didasari ajaran agama, kebenaran-kebenaran yang turun-temurun, dan mediasi ritual akan mendatangkan kesuburan dan kehidupan (Sudarsi et al 2019). Simbol kehidupan hewan (Patuoan) terdapat pada ukiran (Passura) yang ada di rumah adat (Tongkonan) yang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Toraja. Ukiran (Passura) tidak hanya terdapat pada Tongkonan saja, namun Passura juga terdapat pada lumbung padi yang jaraknya tidak jauh dari Tongkonan. Lumbung padi (Alang) yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan Padi juga memiliki ukiran yang sama dengan Tongkonan, serta terdapat beberapa simbol kehidupan manusia dan hewan, seperti ritual adu kerbau (Pasilaga Tedong) dan memelihara kerbau (Mangkambi Tedong). Ukiran hewan Kerbau tersebut dibuat secara stilasi sehingga tidak memperlihatkan detail tetapi bagian kepala saja, atau siluet dari badannya yang menjadi identitas (gambar 3, 4 & 5).

(6)

olo Tananan

Filosofi lolo Tananan (tanaman) ini ditata dalam suatu relasi harmonis yang berpusat pada relasi harmonis antara manusia dan lingkungan, yaitu tanaman. Salah satu bentuk relasi antara manusia dan tanaman dalam kehidupan masyarakat Toraja ialah, sawah. Sawah menjadi salah satu simbol kekayaan bagi orang Toraja. Jika mereka memiliki banyak sawah, akan memungkinkan untuk mendapatkan hasil yang melimpah berupa padi dan menghasilkan makanan pokok dan menjadi bahan sajian bagi keluarga baik dalam ritual rambu tuka (syukuran) maupun rambu soloq (kedukaan) (Sudarsi et al 2019). Kemudian penerapan simbol tanaman dapat dilihat pada ukiran (Passura) yang terdapat pada Rumah adat (Tongkonan) Contoh motif ukiran yang berkaitan dengan padi adalah Passura Pa Tukku Pare (gambar 6).

Gambar 3 motif kepala kerbau dalam ukiran Toraja di rumah Tongkonan Sumber: Dokumentasi pribadi, 26 Juni 2022

Gambar 4 Simbol adu kerbau (Pasilaga tedong) yang terdapat pada Lumbung (Alang) Sumber: Dokumentasi pribadi, 27 Juni 2022

Gambar 5 Simbol memelihara kerbau (Mangkabi Tedong) yang terdapat pada Lumbung (Alang) Sumber: Dokumentasi pribadi, 27 Juni 2022

(7)

Penjabaran Filosofi Tallu Lolona

Gambar 6 Ukiran Toraja (Passura Pa tukku Pare)

Sumber: MOTIF PA'TUKKU PARE PASSURA' TORAYA | KI Komunal | DJKI (dgip.go.id)

Pada Konsep Tallu Lolona, dimulai dari Lolo tau (manusia-manusia) yang memiliki 4 pilar yang harus dicapai agar menjadi “Manusia” yang sebenarnya yaitu Sugi (Kaya), Barani (Berani), Manarang (Pintar), dan Kinawa (Bijaksana). Penjelasan secara rinci mengenai makna dari keempat pilar tersebut sesuai dengan kehidupan sehari hari dapat dilihat dari bagan di bawah ini:

Setelah 4 pilar tersebut tercapai, maka menjadi patokan sebagai manusia yang bersikap, menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan bagi masyarakat Toraja.Kemudian Lolo Tananan dan Lolo Patuoan dikelompokkan sebagai “Alam” yaitu hubungan antara Manusia dengan alam sesuai dengan penjabaran pada (Gambar 8) yaitu Manusia memiliki tanggung jawab dalam melestarikan alam serta menggunakan akal dan pikirannya dalam menjaga lingkungan.

Gambar 7 Uraian Arti 4 Pilar Filosofi Tau ke dalam kehidupan masyarakat Toraja Sumber: Pribadi, 2022

(8)

Gambar 8 Penjabaran Filosofi Tallu Lolona Sumber: Pribadi

Implementasi Konsep Tallu Lolona pada Elemen Desain Interior

Desain Interior pada dasarnya merupakan terkait dengan hal merencanakan, menata dan merancang ruang-ruang interior di dalam sebuah bangunan agar menjadi sebuah tatanan fisik untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam penyediaan sarana bernaung dan berlindung.

Desain interior dalam ruangan harus menyelesaikan problematika desain yang efektif dan kreatif agar menciptakan suasana ruangan yang seimbang,fungsional dan estetik.Keseimbangan di dalam ruangan dapat dipengaruhi dengan elemen interior. Terdapat tujuh Elemen dasar Interior yaitu, Garis, bentuk, ruang, cahaya, pola, warna dan tekstur (Wicaksono & Tisnawati 2014).

Elemen interior dalam perancangan desain interior mempengaruhi aktivitas kerja serta perilaku user yang berada di dalam ruangan. Dengan adanya implementasi konsep Tallu Lolona dapat memberikan nilai budaya dan menjadi inspirasi baik dalam bentuk maupun makna yang terkandung di dalamnya. Makna maupun bentuk yang terkandung pada filosofi Tallu Lolona, dikorelasikan kedalam tujuh elemen desain interior. Elemen yang telah diimplementasikan selanjutnya dapat menjadi acuan dalam merancang ruang dan segala komponen (tabel 1).

Tabel SEQ Tabel \* ARABIC 1 Gagasan Impelementasi Filosofi Tallu Lolona kedalam elemen dasar Interior

Elemen Interior Makna Elemen Interior

Garis Garis Vertikal, sesuai dengan

Pilar Sugi (Kaya) yang memberikan sugesti stabilitas, dan megah (Kaya).

Garis Vertikal Ukiran Pa Sussu

(9)

Bentuk/Pola Bentuk Lingkaran, bentuk yang jauh lebih ramah daripada yang lain (Harmonis), sedangkan bentuk melengkung memberikan kesan nyaman (Bambang irawan & Tamara 2013)

Ruang Ruang, Diidentik dengan

ruangan yang memiliki sirkulasi yang luas (Luas akan pengetahuan/Manarang)

Pencahayaan Buatan Pencahayaan Menerapkan

pencahayaan yang berkesan elegan (Sugi), Jelas dan tegas

(Barani) dengan

memanfaatkan cahaya alami.

Lingkaran, melengkung Ukiran Pa Barre Allo Dan Pa bulintong

Sirkulasi luas seperti ruangan di

dalam Tongkonan

(Tongkonan)

Sesuai dan Elegan Pencahayaan ruangan Tongkonan

(10)

Warna dari rumah Tongkonan

Kuning (Mewah/mulia)

Merah (Berani, tegas)

Putih (Jelas, Netral, seimbang)

Hitam (Kekuatan, iman)

Warna, Penerapan warna sesuai dengan 4 warna dasar pada ukiran (Passura) yang berkorelasi dengan 4 pilar filosofi Tau yaitu Kuning, Merah, Putih dan Hitam.

Tekstur Tekstur, Tekstur yang

diterapkan sesuai dengan tekstur dari kayu yang digunakan pada tongkonan (Kayu uru)

Garis Garis Horizontal, memberikan

kesan yang tenang dan seimbang (Harmonis)

Warna pada Passura

Tegas, menyatu, dan kuat Kayu uru’ Tongkonan

Horizontal susunan bambu pada

rumah adat

(11)

Bentuk/Pola Bentuk Lingkaran,

bentuk yang jauh lebih ramah daripada yang lain (Harmonis) Pola Segitiga bersusun, memberikan kesan Stabil dan kuat.

(Bambang irawan & Tamara 2013).

Ruang Ruang Harmonis, yaitu

menerapkan ruangan yang menyatu dengan alam, ada bentuk berulang yang dinamis dan adanya interaksi antara manusia dengan Alam sehingga menciptakan suasana yang harmonis.

Pencahayaan Alami Pencahayaan Alami,

pengaplikasian pencahayaan berupa sumber cahaya alami yang terus bergantung pada pencahayan buatan

Lingkaran

Segitiga/Piramida

Passura Pa Barre Allo dan Pa Sorra

Harmonis Lumbung tempat untuk menyimpan padi dan bangunan menyatu dengan alam sekitar

Alami pencahayaan alami yang adadi dalam rumah adat (Tongkonan)

(12)

Warna dari Alam

Hijau

Kuning

Warna, penerapan warna yang berasal dari alam seperti warna hijau melambangkan keharmonisan/keseimbangan Serta warna kuning yang berasal dari padi yang melambangkan kemakmuran masyarakat Toraja.

Simpulan

Filosofi Tallu Lolona atau disebut tiga batang (Tallu= tiga, Lolo= batang) sebagai ajaran leluhur masyarakat Toraja (Aluk todolo) menjelaskan bahwa adanya makhluk di dunia ini diciptakan saling berkaitan dan merealisasikan hubungan harmonis. Makhluk tersebut ialah manusia, hewan dan tumbuhan. Dimulai dari Lolo tau (Manusia-manusia) memandang suatu hubungan harmonis antar manusia dan merealisasikan nilai nilai kemanusiaan. Lalu Lolo Patuoan memandang suatu hubungan harmonis antara Manusia dengan Hewan. Masyarakat Toraja sejatinya menilai hewan seperti Kerbau sebagai hewan sakral dan menjadi simbol dalam sebuah upacara pemakaman. Sehingga dapat dimaknai bahwa Hewan dalam kebudayaan Toraja merupakan basis kehidupan sehingga dapat membangun hubungan saudara/kekeluargaan di dalam masyarakat, sama halnya dengan Lolo Tananan yang memandang hubungan manusia dengan Tumbuhan. Tumbuhan seperti Padi yang merupakan merupakan sumber pokok bagi masyarakat dimaknai sebagai kemakmuran/kekayaan dalam kehidupan. Hal tersebut berjalan di dalam kebudayaan Masyarakat Toraja seperti Rambu Tuka (Syukuran) dan Rambu Soloq (Kedukaan).

Penjabaran Lolo Tau (Manusia-Manusia) tidak hanya berfokus terhadap perilaku/tindakan manusia belaka tetapi untuk menjadi “manusia” harus menerapkan empat pilar dari filosofi Tau, yaitu Sugi’ (Kaya), Barani (Berani), Manarang (pintar), Kinawa (memiliki nilai-nilai luhur, agamis, bijaksana).Jika keempat pilar tersebut terwujud, maka sejatinya individu yang mencapai keempat pilar tersebut dapat menjadi patokan/arahan dalam pandai bersikap,menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan.Kemudian Hubungan manusia (Tau) dengan Hewan dan Tumbuhan yang dilambangkan sebagai Alam sejatinya harus selalu berdampingan.Hal ini tidak dapat diputuskan karena pada dasarnya manusia harus menggunakan akal dan pikirannya untuk menjaga dan melestarikan alam karena alam merupakan sumber kehidupan bagi manusia.

Penjabaran Filosofi Tallu lolona tidak hanya diterapkan secara lisan tetapi hal tersebut bisa menjadi ide dalam merancang sebuah interior ruangan. Makna dari Filosofi Tallu lolona yang bersumber dari ukiran (Passura) serta rumah adat (Tongkonan) dapat diimplementasikan sesuai dengan elemen dasar interior seperti Garis, Bentuk/Pola, warna yang terinspirasi dari Ukiran (Passura) di rumah Tongkonan maupun dari alam sekitar, kemudian suasana Ruang, Pencahayaan buatan maupun alami yang terinspirasi dari bagian interior. Tongkonan ukiran- ukiran (Passura) yang ada di Tongkonan dan Lumbung Padi (Alang) menjadi identitas budaya Toraja yang patut dilestarikan. Maka dari itu uraian mengenai Filosofi Tallu lolona serta penerapannya dalam sebuah perancangan interior dapat memberikan kontribusi dalam perancangan interior ruangan yang mengusung kebudayaan Toraja. Sehingga kebudayaan beserta filosofinya tidak hilang dimakan waktu dan dapat mengikuti dinamika kebudayaan.

(13)

Daftar Pustaka

Darmayanti, Tessa Eka, Rama Perdana Drajat, dan Tiara Isfiaty. 2022. "Membaca Visual Wayang Beber Sebagai Ide Perancangan Ruang." Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya 4 (3): 309-317. https://www.jim.unindra.ac.id/index.php/vhdkv/article/view/5904

Ibda, Hamidulloh. 2018. Filsafat Umum Zaman Now. CV. Kataba Group.

Irawan, Bambang dan Priscilla Tamara. 2013. Dasar-dasar Desain. Griya Kreasi.

Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka.

Kristie, Sella, Tessa Eka Darmayanti, dan Sriwinarsih Maria Kirana. 2019. "Makna Motif Batik Parang Sebagai Ide Dalam Perancangan Interior." Aksen: Journal of Design and Creative Industry 3 (2): 57-69. https://journal.uc.ac.id/index.php/AKSEN/article/view/805

Matandung, Ling Dyan, M. Sumiani, and Heriyati Yatim. 2018. "Makna Simbolik Tari Pa'katia pada Upacara Rambu Solo di Kabupaten Toraja Utara." Tugas Akhir Diploma. Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makasar.

Monika, Santy. 2017. “Fungsi dan Makna Tuturan Ritual Rampanan Kapaq di Toraja”. Magistra:

Jurnal Keguruan Dan Ilmu Pendidikan 4 (1): 43-53.

https://ejournal.unmus.ac.id/index.php/magistra/article/view/612 .

Priyanto, Andri. 2011. Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya Pelestarian Upacara Adat Nyangku Di Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jawa Barat. Skripsi Sarjana. Universitas Negeri Yogyakarta.

Rahman, Maghfira Aulia., & Jamaludin. 2022. Penerapan Motif Batik Jawa Barat Berbasis Teknologi sebagai Elemen Estetis pada Perancangan Interior Lobby Grand Pasundan Convention Hotel. REKAJIVA Jurnal Desain Interior 1(2): 68-80.

http://ejurnal.itenas.ac.id/index.php/REKAJIVA/article/view/7675

Randa, Amelia Agnes. 2021. “Amanat Suci Leluhur Toraja Lewat Simbol Passura’ Toraya (ukiran Toraja) pada Rumah Tongkonan.” Indonesian Journal of Pedagogical and Social Sciences 1(1): 75-86. https://ojs.unm.ac.id/ijpss/article/view/24653

Ricardo, David. 2021. “Penerapan Esensi Dasar Filosofi Huma Betang Pada Desain Interior Perpustakaan Universitas Palangkaraya.” SINEKTIKA Jurnal Arsitektur, 18(1): 20-29.

https://journals.ums.ac.id/index.php/sinektika/article/view/13307

Somantri, Gumilar Rusliwa. 2005. Memahami Metode Kualitatif. Makara Human Behavior Studies in Asia, 9(2): 57-65. https://doi.org/10.7454/mssh.v9i2.122

Sudarsi, Elim Trika, Nilma Taula’bi, dan Markus Deli Girik Allo. 2019. Filosofi Tallu Lolona dalam Himne Passomba Tedong (Etnografi Kearifan Lokal Toraja). SAWERIGADING, 25(2): 61-73.

https://doi.org/10.26499/sawer.v25i2.666

Wicaksono, Andie A., dan Endah Tisnawati. 2014. Teori Interior. Griya Kreasi.

Meireis, Torsten and Gabriele Rippl (eds). 2020. Cultural Sustainability Perspectives from the Humanities and Social Sciences. United States: Routledge

Zhang, Yu. 2016. "The Application Of Traditional Culture In Interior Design."

Proceedings of the 2016 International Conference on Economics, Social Science, Arts, Education and Management Engineering (ESSAEME 2016), pp. 19-27.

https://www.atlantis-press.com/proceedings/essaeme-16/25860172

Referensi

Dokumen terkait

ketentuan konsep perancangan Innovation That Excites, maka perancangan interior yang penulis lakukan mengadaptasi baik secara bentukan, material dan warna

Data studi literatur didapatkan dari hasil rumusan perbandingan pustaka mengenai elemen desain interior Gereja Katolik, sedangkan data observasi kualitatif didapatkan dari

Berdasarkan tabel diatas Selasar Sunaryo memiliki Isu teknis yang cukup baik namun peran elemen interior ini kurang dimainkan dari pandangan wayfinding signage, elemen interior 4

Elemen arsitektur kontekstual tersebut akan diimplementasikan pada denah dengan mengambil unsur filosofi jawa, bentuk massa diadaptasi dari motif geblek renteng, skala bangunan

Melalui penerapan biophilic design pada rumah sakit gigi dan mulut, target dari pencapaian suasana ruang yang akan diterapkan yaitu melalui elemen-elemen

Perancangan Interior Kafe adat ini bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat memberikan pengetahuan tentang budaya perkawinan dari daerah Kupang Nusa Tenggara

Selain itu, juga terdapat keserasian pada finishing yang digunakan pada setiap perabot dan elemen interior yang terbuat dari kayu, yaitu menggunakan politur dengan

Bentuk-bentuk dari ke-7 desain elemen estetis interior berornamen kearifan lokal yang dikembangkan pada Masjid Imaduddin Tancung mengusung konsep dan filosofi