• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan Dan Perancangan Interior “Museum Harley Davidson” di Bali (Lobby, Ruang Pamer, Café dan Bar)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perencanaan Dan Perancangan Interior “Museum Harley Davidson” di Bali (Lobby, Ruang Pamer, Café dan Bar)"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

DI BALI

(Lobby, Ruang Pamer, Café dan Bar)

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan

Guna Melengkapi Gelar Sarjana Seni Jurusan Desain Interior

Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Universitas Sebelas Maret

Disusun Oleh :

ADITYA INDRA PRATAMA

C 0801 002

JURUSAN DESAIN INTERIOR

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

ii

“MUSEUM HARLEY DAVIDSON”

DI BALI

(Lobby, Ruang Pamer, Café dan Bar)

Disusun oleh

ADITYA INDRA PRATAMA

C 0801002

Telah Disetujui Oleh :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Supriyatmono, M.Sn

Iik Endang S W, S.Sn, M.Ds

NIP.1956 0117 198811 1001

NIP. 1977 1027 200112 2002

Mengetahui,

Ketua Jurusan Desain Interior

Drs. Rahmanu Widayat, MSn.

(3)

commit to user

iii

DI BALI

(Lobby, Ruang Pamer, Café dan Bar)

Disahkan oleh

Telah disetujui oleh Tim Penguji Tugas Akhir

Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Pada tanggal 7 Mei 2009

Jabatan

Nama

Ttd

1.

Ketua Sidang

Anung B Studyanto, S.Sn , MT

1971 0816 200501 1001

1. ___________

2.

Sekretaris

Drs.Rahmanu Widayat, M.Sn

1962 1221 199201 1001

2. ___________

3.

Penguji I

Drs. Supriyatmono, M.Sn

1956 0117 198811 1001

3. ___________

4.

Penguji II

Iik Endang S W , S.Sn , M.Ds

1977 1027 200112 2002

4. ___________

Dekan

Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Universitas Sebelas Maret,

Drs. Sudarno, M.A.

(4)

commit to user

iv

Nama

: Aditya Indra Pratama

NIM

: C 0801002

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Kolokium berjudul Perencanaan dan

Perancangan Interior “Museum Harley Davidson di Bali “ adalah betul – betul

karya sendiri, bukan plagiat dan dibuatkan orang lain . Hal – hal yang bukan karya

saya ,dalam Laporan Tugas Akhir ini diberi tanda

citasi

( kutipan) dan

ditunjukkan dalam Daftar Pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar , maka saya bersedia

menerima sanksi akademik berupa pencabutan Tugas Akhir dan gelar yang

diperoleh dari Tugas Akhir tersebut.

Surakarta,Juli 2009

Yang membuat pernyataan ,

(5)

commit to user

v

Berakit-rakit ke hulu , berenang-renang ke tepian . . .

Bersakit-sakit dahulu , bersenang-senang kemudian . . .

(anonime)

(6)

commit to user

vi

Karya ini ku persembahkan kepada :

1. Alloh SWT yang telah memberikan jalan

terbaik untuk hamba-Nya

2. Ibu dan Bapak tercinta yang telah

mencurahkan segala kasih sayangnya guna

menjadikan anaknya seorang yang berbakti

bagi agama, guru, teman dan keluarga

3. Adik-adikku

yang

telah

memberikan

perhatian dan dukungan serta semangat.

4. My Luphly ReRe yang telah memberikan

semangat, doa, dan rasa sayangnya.

5. Civitas Akademika Jurusan Desain Interior,

Universitas Sebelas Maret Surakarta

6. Semua sahabat dan teman yang telah

(7)

commit to user

vii

Dengan mengucap puji dan syukur ke hadirat Alloh SWT,pada akhirnya

penulis mampu menyelesaikan penyusunan Konsep Perencanaan dan Perancangan

Interior Museum Harley Davidson di Bali ini dengan baik,sebagai salah satu

syarat kelengkapan tugas mata kuliah Kolokium ini dan sebagai persyaratan

menempuh mata kuliah Tugas Akhir.

Untuk itu , penulis juga mengucapkan terimakasih kapada semua

pihak,yang telah membantu dan memberikan dukungan moril dalam penyelesaian

tugas ini, dan pernyataan terimakasih ini juga penulis haturkan kepada :

1.

Orang tua ku dan adik – adik ku yang telah mendukung dalam dorongan

semangat dan do’a selama ini.

2.

Bapak Drs. Rahmanu Widayat , M.Sn , selaku Ketua Jurusan Desain

Interior.

3.

Bapak Drs. Supriyatmono, M.Sn ,selaku kordinator Kolokium

,pembimbing Kolokium dan pembimbing I Tugas Akhir .

4.

Ibu Iik Endang SW,S.Sn,M.Ds , selaku koordinator Tugas Akhir dan

pembimbing II Tugas Akhir.

5.

Rekan – rekan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS , khususnya Jurusan

Desain Interior yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini .

6.

Semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu per satu , yang telah

banyak memberikan dukungan , semangat dan perhatiaan terhadap penulis.

Semoga segala kebaikan dan bantuan yang telah diberikan oleh

seluruh pihak akan mendapat balasan dari Alloh SWT. Akhir kata, dalam

penulisan dan penyusunan Kolokium ini, masih banyak kekurangan yang

penulis lakukan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang berguna

untuk melengkapi kesempurnaan Kolokium ini, sangat penulis harapkan.

Dan semoga penulisan laporan ini berguna dan bermanfaat bagi kita

semua.

Surakarta,Juli 2009

(8)

commit to user

viii

HALAMAN JUDUL………...

i

HALAMAN PERSETUJUAN………

ii

HALAMAN PENGESAHAN………

iii

PERNYATAAN………..

iv

MOTTO………

v

PERSEMBAHAN………

vi

KATA PENGANTAR………....

vii

DAFTAR ISI………...

viii

DAFTAR GAMBAR………..

xii

DAFTAR TABEL………

xvii

DAFTAR BAGAN………..

xviii

ABSTRAKSI………...

xix

F. METODOLOGI PENELITIAN………

5

G. SISTEMATIKA PEMBAHASAN………..

8

BAB II

LANDASAN TEORI

A. TINJAUAN UMUM MUSEUM

1. Pengertian Museum……….

10

2. Tugas Museum………

11

3. Fungsi Museum………..

11

4. Struktur Organisasi Museum………..

12

5. Persyaratan Sebuah Museum………...

13

(9)

commit to user

ix

2. Tinjauan Ruang Pamer……….

17

3. Sirkulasi………...

19

4. Komponen Pembentuk Ruang……….

29

5. Interior Sistem……….

31

6. Sistem Keamanan………

36

7. Organisasi Ruang………

41

8. Penyajian Koleksi Museum………

43

9. Sistem Display……….

48

10. Pertimbangan Desain………

65

11. Tema……….

69

C. TINJAUAN TENTANG HARLEY DAVIDSON

1. Pengertian Harley Davidson………

71

2. Sejarah tentang Harley Davidson…………

71

D. TINJAUAN GAYA ARSITEKTUR HI-TECH

1. Pengertian Arsitektur Hi-Tech……….

80

2. Identifikasi Arsitektur High Tech………...

84

3. Pemilihan Gaya………..

87

4. Kesimpulan dari Arsitektur High-Tech…..

95

BAB III

STUDI LAPANGAN

A. MONUMEN YOGYA KEMBALI

1. Sejarah Singkat………

99

2. Lokasi……….

100

3. Struktur Organisasi……….

100

4. Aktifitas dan Fasilitas……….

101

5. Waktu Operasional……….

101

6. Sistem Sirkulasi Pengunjung………..

102

7. Komponen Pembentuk Ruang……….

102

8. Sistem Interior……….

103

(10)

commit to user

x

2. Lokasi………..

112

3. Aktifitas dan Fasilitas……….

112

4. Waktu Operasional………..

113

5. Sistem Sikulasi Pengunjung………

113

6. Komponen Pembentuk Ruang……….

113

7. Sistem Interior……….

114

BAB IV

ANALISIS DESAIN

A. PROGRAMING

1. Pengertian Judul………...

120

2. Asumsi Lokal………...

121

3. Status Kelembagaan……….

122

4. Struktur Organisasi………..

122

5. Pelaku Kegiatan………...

123

6. Sistem Operasional………..

125

7. Program Kegiatan………

125

8. Program Ruang………....

126

9. Kapasitas dan Besaran Ruang………..

127

10 Sirkulasi Pengunjung………..

128

11. Sistem Organisasi Ruang………..

128

12. Hubungan Antar Ruang……….

129

13. Zoning & Grouping………

130

B. KONSEP PERANCANGAN

1. Ide Dasar Perancangan………

131

2. Tema………

131

3. Suasana Ruang………

132

4. Penataan Ruang

( Layout)

……….

132

5. Aspek Pembentuk Ruang………

132

6. Aspek Bentuk dan Warna………

133

7. Aspek Interior Sistem……….

134

(11)

commit to user

xi

A.PERENCANAAN MUSEUM HARLEY

DAVIDSON di BALI………

137

B.KONSEP PERANCANGAN

1. Organisasi Ruang………

138

2. Zoning & Grouping……….

139

3. Sistem Sirkulasi………..

140

4. Komponen Pembentuk Ruang………

140

5. Sistem Interior………

141

6. Sistem Keamanan………...

142

7. Tema………...

143

8. Aspek Bentuk , Warna dan Bahan………..

143

DAFTAR PUSTAKA……….

145

(12)

commit to user

xii

Gambar 1

Pola Sirkulasi dalam Museum……….

22

Gambar 2

Pola Hubungan antara Sirkulasi Ruang Pamer………...

23

Gambar 3

Sirkulasi Pengunjung yang Diarahkan dengan Sistem

Tata Pamerannya...

26

Gambar 4

Alur Lintasan Pengunjung...

27

Gambar 5

Luas Pergerakan dalam Ruang Pamer...

28

Gambar 6

Sistem Pencahayaan………

32

Gambar 7

Sistem Penyinaran Langsung………..

32

Gambar 8

Penyinaran tak Langsung

33

Gambar 9

Penghawaan Buatan

Gambar 10

Organisasi Ruang Terpusat

Gambar 11

Organisasi Ruang Linier

Gambar 12

Organisasi Ruang Radial

Gambar 13

Organisasi Ruang Cluster

Gambar 14

Organisasi Ruang Grid

Gambar 15

Penyajian Koleksi dengan Panel

Gambar 16

Penyajian Koleksi dengan Box Standar

Gambar 17

Penyajian Koleksi dengan Box Khusus

Gambar 18

Penyajian Koleksi dengan Vitrin

Gambar 19

Penyajian Koleksi dengan Diorama

Gambar 20

Perbedaan Tinggi Lantai

Gambar 21

Sistem Mezanin

Gambar 22

Memasukkan dalam Dinding dengan Dekorasi Mural

Gambar 23

Split Level Plafon / Langit-langit

Gambar 24

Sistem Display Film / Sinematografi

Gambar 25

Sistem Display Komputer / Monitor TV

Gambar 26

Sistem Display Remote Control dan Tata Lampu

(13)

commit to user

xiii

Gambar 30

Vitrin Lantai

Gambar 31

Vitrin Tiang

Gambar 32

Vitrin Tunggal

Gambar 33

Vitrin Ganda

Gambar 34

Ukuran Bentuk Vitrin dan Panil yang Ideal serta Lebar

Gang antara Vitrin yang baik

Gambar 35

Medan Penglihatan pada Gerakan Kepala Manusia

Gambar 36

Sudut Pandang dalam Mengamati Materi Koleksi

dalam Display Pameran

Gambar 37

Ketinggian dan Sudut Pengamatan terhadap Materi

Display Pameran

Gambar 38

Ketinggian, Jarak, Sudut Pengamatan Terhadap Materi

Display Pameran

Gambar 39

Tokyo International Forum

Gambar 40

Nippon Electric Glass

Gambar 41

The Associates Center Chicago

Gambar 42

Nippon Electric Gymnasium

Gambar 43

333 Wacker Drive

Gambar 44

Dulles International Airport

Gambar 45

The Associates Center Chicago

Gambar 46

Lloyds Building

Gambar 47

San Francisco Museum of Modern Art.

Gambar 48

Hong_Kong_Airport_Inside

Gambar 49

Hong_Kong_International_Airport

Gambar 50

Swiss Re headquarters, London

Gambar 51

Swiss Re headquarters, London

Gambar 52

Walt Disney Concert Hall,Los Angles

(14)

commit to user

xiv

Gambar 55

Interior City Hall London

Gambar 56

City Hall London

Gambar 57

Law_Faculty_University_of Cambridge

Gambar 58

Law Faculty_University_of Cambridge

Gambar 59

.Law_Faculty_University_of Cambrige Interior

Gambar 60

Germany_berlin_reichstag-spiral tampak, dan interior

Gambar 61

British_Musem_Great_Court_CRK interior

Gambar 62

.Center-Pompidou-Georges Eksterior

Gambar 63

Two Companies, Gannett and USA Today, designed by

Kohn Pedersen Fox

Gambar 64

KPF wanted to capture sense of a town square

Gambar 65

A glazed Facade at Gannett/ USA Today

Gambar 66

The Institute for International Economics, by KPF

Gambar 67

The entrance lobby of the Institute for International

Economics

Gambar 68

The Institute for International Economics

Gambar 69

Lobby of The Institute for International Economics by

KPF

Gambar 70

The center of the Institute for International Economics

Features

Gambar 71

Institute for International Economics

Gambar 72

Top floor plan, Institute for International Economics

Gambar 73

Bangunan Monumen Yogya Kembali

Gambar 74

Pintu Masuk Utama ( ME ) pada Monumen Yogya

Kembali

Gambar 75

Ruang Lobby pada Monumen Yogya Kembali

Gambar 76

Ruang Information pada Ruang Lobby di Monumen

Yogya Kembali

Gambar 77

Souvenir Shop pada Ruang Lobby di Monuman Yogya

Kembali

(15)

commit to user

xv

Gambar 81

Sistem Box Standar Display

Gambar 82

Sistem Diorama Display

Gambar 83

Perpustakaan Monumen Yogya Kembali

Gambar 84

Sistem Pencahayaan Buatan Ruang Lobby & Pamer

Gambar 85

Sistem Pencahayaan Ruang Lobby & Pamer

Gambar 86

Sistem Penghawaan Buatan pada Monumen Yogya

Kembali

Gambar 87

Alarm Pencegah Bahaya Kebakaran

Gambar 88

Tabung Pemadam Api (Portable Fire Extinguiser)

Gambar 89

Perspektif Bangunan Museum Fatahillah Jakarta

Gambar 90

Ruang Lobby pada Museum Fatahillah Jakarta

Gambar 91

Ruang Penjara Bawah Tanah di Museum Fatahillah

Jakarta

Gambar 92

Pola Lantai pada Museum Fatahillah

Gambar 93

Pola Lantai pada sebagaian Ruang Museum

Gambar 94

Ceiling pada Museum Fatahillah

Gambar 95

Sistem Penghawaan Buatan pada Museum

Gambar 96

Sistem Pencahayaan pada Display

Gambar 97

Sistem Panel Display

Gambar 98

Sistem Box Standar Display

Gambar 99

Sistem Vitrin Display

Gambar 100 Sistem Keamanan Terhadap Bahaya Kebakaran

Gambar 101 Sistem Keamanan Terhadap Bahaya Pencurian dan

Tangan Jahil

Gambar 102 Tourist Information System

Gambar 103 Souvenir Shop yang terdapat pada sebelah kanan

Lobby

Gambar 104 Denah lokasi museum Harley Davidson

Gambar 105 Sistem sirkulasi pengunjung

Gambar 106 Gambaran Organisasi Ruang Linier

(16)

commit to user

xvi

Gambar 109 Gambaran ruang linier

Gambar 110 Zoning

Gambar 111 Grouping

(17)

commit to user

xvii

Tabel 1

Kriteria Bangunan Hi-Tech

Tabel 2

Aktifitas Pengunjung

Tabel 3

Aktifitas Pengelola

Tabel 4

Komponen Pembentuk Ruang

Tabel 5

Aktifitas pengunjung Museum Fatahillah

Tabel 6

Aktifitas Pengelola Museum Fatahillah

Tabel 7

Komponen Pembentuk Ruang

(18)

commit to user

xviii

Bagan 1

Skema Model Analisa Interaktif

Bagan 2

Sistem Pengelolaan Museum

Bagan 3

Struktur Organisasi Badan Penyelenggara Swasta

Bagan 4

Struktur Organisasi Museum dibawah Badan

Pemerintah secara umum

Bagan 5

Skema Arus dan Sirkulasi Pengunjung didalam

Museum

Bagan 6

Skema Arus dan Sirkulasi Koleksi dalam Museum

Bagan 7

Skema Penataan Pameran sebagai salah satu

Penyajian Koleksi Museum

Bagan 8

Struktur Organisasi

Bagan 9

Struktur Organisasi

(19)

DI BALI

(Lobby,Ruang Pamer,Café dan Bar)

Aditya Indra Pratama1

Drs.Supriyatmono, M.Sn.2 Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Perencanaan dan perancangan proyek Tugas Akhir ini memfokuskan pada rumusan masalah : (1). bagaimana menciptakan sebuah museum yang tidak hanya bersifat edukatif dan informatif tetapi juga bersifat menghibur ( entertainment ). (2). bagaimana menciptakan sebuah museum yang dapat memberikan informasi lengkap mengenai sejarah dan jenis – jenis motor Harley Davidson. (3). bagaimana menciptakan sebuah museum yang memiliki fasilitas penunjang bagi para penggemar Harley Davidson.

Perancangan bertujuan untuk (1) menciptakan interior fasilitas penunjang Museum Harley Davidson yang dapat memberikan kesenangan tersendiri bagi para pengunjung. (2) menciptakan interior fasilitas penunjang Museum Harley Davidson sesuai dengan tema yang diangkat, sehingga membentuk atmosfer tertentu yang dapat menarik bagi pengunjung.

1. Mahasiswa Desain Interior ,C0801002 2. Dosen Pembimbing I

3. Dosen Pembimbing II

(20)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Pada akhir-akhir ini, banyak sekali bermunculan

komunitas-komunitas motor di kota-kota besar, mulai dari komunitas-komunitas motor bebek,

motor

sport

hingga jenis komunitas motor besar atau yang sering disebut

dengan Moge (Motor Gede), demikian disebut karena ukuran motornya

yang lebih besar dibanding ukuran motor-motor biasa, baik dari dimensi

body

maupun ukuran kekuatan mesinnya yang menyamai kekuatan mesin

layaknya sebuah mobil. Keberadaan komunitas tersebut sangatlah banyak,

dari satu komunitas saja bisa memiliki anggota hingga puluhan bahkan

ratusan,tak terkecuali klub-klub motor besar seperti Harley Davidson yang

memiliki banyak anggota diberbagai daerah, kecenderungan para pemilik

Harley adalah orang-orang dari kalangan atas seperti artis, pengusaha, para

pejabat, dan sebagainya.

Dari pertimbangan uraian diatas, maka dibuatlah sebuah bangunan

museum yang juga dapat berfungsi sebagai ajang kumpul-kumpul bagi

mereka, jadi di museum ini nanti para anggota klub Harley tidak hanya

mendapatkan informasi dan pengetahuan dari apa yang sudah ditampilkan

dari museum ini saja, tetapi mereka juga akan mendapatkan informasi

secara langsung tentang Harley dari anggota klub Harley yang lain dengan

(21)

commit to user

bar, misalnya, mengingat para anggota klub Harley berasal dari kalangan

atas, maka fasilitas tersebut juga akan diutamakan sebagai fasilitas

penunjang yang sangat vital dan harus ada.

Maka terkonseplah sebuah bangunan museum Harley Davidson,

yang mana di dalam museum ini nantinya akan terdapat

display-display

berbagai macam jenis Harley dari tahun ketahun yang dikelompokkan

menjadi beberapa bagian sesuai dengan tahun pembuatannya secara urut.

Selain wujud nyata Harley, juga terdapat penggambaran secara

audiovisual

, serta

display

2D melalui gambar-gambar foto yang

dipamerkan di museum ini.

Namun museum ini tidak hanya ditujukan untuk para anggota klub

Harley Davidson saja, masyarakat umum pun baik orang dewasa maupun

orang tua dapat mengunjungi museum ini, agar mereka dapat mengetahui

sejarah tentang motor Harley Davidson dan seluk beluk tentang Harley

Davidson, tidak menutup kemungkinan juga masyarakat awam juga dapat

mengetahui bagaimana tingkah laku orang-orang klub itu sendiri,

bagaimana gaya hidup mereka. Bahkan mungkin juga tidak hanya

wisatawan domestik yang akan mengunjungi museum ini, tetapi

wisatawan mancanegara pun juga bisa mengunjungi museum ini,

mengingat bahwa Harley Davidson itu adalah jenis motor yang berasal

(22)

commit to user

B.

Batasan Masalah.

Pada perencanaan dan perancangan museum Harley Davidson ini, secara

mendetail pembahasan ditujukan pada permasalahan perencanaan dan

perancangan ruang

lobby

, ruang pamer utama, dan ruang klub yang

didalamnya terdapat

bar

dan

café

. Dimana

lobby

dan ruang pamer adalah hal

yang paling utama dari sebuah museum, ditambah lagi dengan fasilitas

penunjang yang sangat vital bagi anggota klub sebagai sarana untuk sekedar

berkumpul dan saling tukar informasi.

C.

Rumusan Masalah.

Rumusan masalah dalam perencanaan dan perancangan museum Harley

Davidson ini adalah:

1.a) Bagaimana menciptakan sebuah museum yang multi-fungsi dan tidak

bersifat monoton.

1.b) Bagaimana menciptakan sebuah Museum yang dapat memberikan

informasi lengkap mengenai sejarah dan jenis-jenis motor Harley Davidson .

1.c) Bagaimana menciptakan sebuah Museum yang memiliki fasilitas

penunjang berupa

bar

dan

café

yang dapat menujang kebutuhan para anggota

(23)

commit to user

1.

Tujuan.

Tujuan dari penyusunan proposal perencanaan dan perancangan interior

museum Harley Davidson ini adalah :

Untuk mewujudkan perencanaan dan perancangan interior museum

Harley yang multifungsi dan tidak bersifat monoton.

1.1

Untuk mewujudkan perencanaan dan perancangan interior museum

Harley yang bersifat informatif.

1.2

Mewujudkan perencanaan dan perancangan interior museum

Harley, dimana fasilitas penunjangnya dapat mendukung aktifitas

para penggemar Harley dan segala macam kegiatan didalamnya,

sehingga dapat menambah informasi.

2.Sasaran.

Sasaran dari penyusunan konsep perancangan dan perencanaan interior

museum Harley Davidson ini adalah :

2.1 Pengunjung (

Subject

)

- Para anggota klub dan penggemar Harley diseluruh Indonesia.

- Masyarakat umum, untuk usia dewasa dan orang tua.

- Para wisatawan, baik domestik ataupun turis asing.

2.2 Pelayanan (

Service

)

Sistem pelayanan yang disuguhkan bersifat edukatif, informatif,

(24)

commit to user

2.3 Suasana (

Atmosfer

)

Suasana yang ingin diciptakan di museum ini adalah bentuk desain

yang modern dengan gaya

Hi-tech

.

E.

Manfaat.

Manfaat dari perencanaan dan perancangan interior museum Harley

Davidson adalah :

1.a) Agar masyarakat umum mendapatkan informasi tentang sejarah

berdirinya Harley, jenis-jenis Harley serta perkembangannya melalui

museum ini.

1.b) Dapat menampung aspirasi anggota klub Harley untuk mendapatkan

informasi tentang Harley baik secara langsung maupun gambaran.

1.c) Merupakan tempat berkumpul bagi para anggota klub Harley untuk

saling berdiskusi dan saling tukar informasi tentang Harley secara

langsung.

F.

Metodologi Penelitian

Adapun dalam pembahasan permasalahan ini menggunakan metodologi

penelitian kualitatif, yaitu:

1.

Lokasi.

Penelitian ini dilaksanakan pada beberapa museum. Museum yang

dipilih sebagai lokasi penelitian adalah

Monumen Yogya Kembali

yang

(25)

commit to user

Barat.

2.

Bentuk/Strategi.

Berdasarkan permasalahan yang diajukan, maka bentuk/strategi

penelitiannya yaitu dengan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif.

Bentuk penelitian ini akan mampu menangkap berbagai informasi dengan

deskriptif yang penuh nuansa.

3.

Jenis sumber yang dimanfaatkan meliputi :

3.1 informan, dalam permasalahan ini yang menjadi narasumber

adalah penegelola museum.

3.2 Arsip dan dokumen resmi mengenai museum serta buku-buku yang

relevan.

3.3 Tempat dan peristiwa yang ada didalamnya.

4.

Teknik pengumpulan data.

Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada

permasalahan ini adalah:

4.1 Observasi.

Mengadakan pengamatan langsung pada obyek dengan menggunakan

alat bantu observasi seperti alat pencatat, alat perekam foto, serta alat

(26)

commit to user

4.2 Wawancara/

Interview

.

Mengadakan pembicaraan atau memberi pertanyaan langsung kepada

pihak yang berkaitan, dalam hal ini adalah pihak pengelola dan pihak

yang dianalisis.

4.3 Analisa Dokumen.

Teknik ini akan dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber

dari arsip dan dokumen yang berhubungan dengan permasalahan yang

diteliti.

4.4 Teknik Cuplikan.

Karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, maka teknik

cuplikan yang akan digunakan bersifat purosif, sehingga bersikap

selektif dengan menggunakan pertimbangan berdasarkan konsep

teoritis yang digunakan, serta keingintahuan pribadi, karakteristik

empiris, dan lain-lain.

4.5 Validitas Data.

Untuk menjamin validitas data yang diperoleh, maka dilakukan

trianggulasi data yang sejenis dengan menggunakan berbagai sumber

data yang berbeda dan tersedia. Dengan demikian kebenaran data yang

satu akan diuji oleh data yang diperoleh dari sumber data yang lain.

4.6 Model Analisis.

Dalam penelitian ini modela analisis data yang dipergunakan adalah

model analisis interaktif, dimana semua data yang diperoleh perlu

(27)

commit to user

kembali ke lokasi untuk mencari data yang diperlukan.

Adapun skema metode analisis interaktif adalah sebagai berikut :

Bagan 1.Skema Model Analisa Interaktif

(Sumber : Metodologi Penelitian Kualitatif, H.B. Sutopo. 2000 : 40)

G.

Sistematika Pembahasan

Sistematika dalam perencanaan dan perancangan interior “Museum Harley

Davidson” adalah :

1. Tahap I : Pendahuluan

Berisi tentang latar belakang masalah, batasan masalah,

rumusan

masalah,

tujuan

perencanaan,

sasaran

perancangan, serta metodologi dan sistematika penulisan.

2. Tahap II : Landasan Teori

Berisi tentang kajian teoritis/telaah pustaka secara

teoritis membahas masalah tentang ”Museum”, khususnya

Reduksi data

Sajian data

Pengumpulan data

(28)

commit to user

ruang-ruang yang dijadikan proyek utama yang kaitannya

dengan desain interior serta sedikit pengertian tentang

sejarah Harley Davidson dan jenis-jenisnya.

3. Tahap III : Studi Lapangan

Berisi tentang deskripsi lapangan yang berhubungan

dengan perencanaan dan perancangan interior yang

dikerjakan.

4. Tahap IV : Analisis Data

Berisi tentang analisa data perencanaan dan perancangan

interior yang berhubungan dengan “Museum Harley

Davidson”

5. Tahap V : Penutup

Berisi kesimpulan dan hasil analisa data, evaluasi konsep

(29)

commit to user

BAB II

LANDASAN TEORI

A. TINJAUAN UMUM MUSEUM

1. Pengertian Museum

Pengertian museum yang dikenal sekarang ini merupakan istilah

dari Yunani. Museum berasal dari kata `museion` yang berarti sebuah

gedung tempat pemujaan para muse, yang merupakan salah satu dari

sembilan dewi pelambang cabang-cabang kegiatan atau ungkapan

pengetahuan ilmu dan kesenian. ( MA. Sutaarga, 1989 : 7 )

Pengertian Museum dewasa ini adalah "Sebuah lembaga yang

bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan

pengembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat,

menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan

dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya".

Sedangkan definisi menurut ICOM atau International Council of

Museeum / Organisasi Permuseuman Internasional dibawah UNESCO,

museum merupakan suatu badan yang mempunyai tugas dan kegiatan

untuk memamerkan dan menerbitkan hasil-hasil penelitian dan

pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi Kebudayaan dan llmu

(30)

commit to user

2. Tugas Museum

Dalam majalah Museografia, disebutkan tugas museum yaitu :

2.1 Menghindarkan bangsa dari kemiskinan.

2.2 Memajukan kesenian dan kerajinan rakyat.

2.3 Turut menyalurkan dan memperluas pengetahuan dengan

cara massal.

2.4 Memberikan kesempatan bagi penikmat seni.

2.5 Membantu secara metodik dan dikdatik Sekolah dengan cara

kerja yang berfaedah pada setiap kunjungan murid-murid ke

perpustakaan.

2.6 Memberikan kesempatan dan bantuan dalam penyelidikan

ilmiah. ( Depdikbud, 1988 : 7 )

3. Fungsi Museum

Berdasarkan Rumusan ICOM, museum mempunyai fungsi sebagai

berikut:

3.1 Pusat Dokumentasi dan Penelitian llmiah .

3.2 Pusat penyaluran ilmu untuk umum .

3.3 Pusat penikmatan karya seni .

3.4 Pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa

3.5 Obyek wisata .

3.6 Media pembinaan pendidikan kesenian dan llmu Pengetahuan

3.7 Suaka Alam dan Suaka Budaya .

(31)

commit to user

3.9 Sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan YME .

4. Struktur Organisasi Museum

Bagan 2. Sistem Pengelolaan Museum

( Sumber : Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum, Ditjen Kebudayaan Depdikbud, 1989 )

Bagan 3 . Struktur Organisasi Badan Penyelenggara Swasta dalam kaitannya dengan museum yang diselenggarakan

(32)

commit to user

Bagan 4 . Struktur organisasi museum dibawah badan pemerintah secara umum, badan penyelenggara swasta dalam

( Sumber : Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum, Ditjen Kebudayaan Depdikbud, 1989 )

5. Persyaratan Sebuah Museum

Adapun persyaratan berdirinya sebuah museum adalah sbb :

5.1 Persyaratan Lokasi Museum

a) Lokasi museum harus strategis

b) Lokasi museum harus sehat, bukan terletak di kawasan

industri, bukan di daerah yang tanahnya berlumpur atau

rawa, atau tanah berpasir, dan juga memperhatikan

elemen-elemen iklim yang berpengaruh pada lokasi

seperti kelembaban udara antara 45%-65%.

( DDK, 1992 : 16 )

5.2 Persyaratan Bangunan Museum

a) Bangunan pokok terdiri dari :

- Ruang Pamer Tetap

- Ruang Pamer Temporer

(33)

commit to user

- Kantor Administrasi, Perpustakaan, Ruang rapat

- Laboratorium konservasi

- Studio preparasi

- Storage / Gudang penyimpanan

b) Bangunan Penunjang, terdiri dari :

- Pos jaga / Pos keamanan

- Gift Shop dan Kafetaria

- Tiket box dan Penitipan barang

- Lobby / Ruang istirahat

- Toilet

- Tempat parkir, taman, pagar

6. Jenis Koleksi Museum

Adapun jenis koleksi museum dapat terdiri dari :

6.1 Etnografika, yaitu kumpulan benda-benda hasil budaya suku-

suku bangsa.

6.2 Preh istorika, yaitu kumpulan benda-benda prasejarah.

6.3 Arkeologika, yaitu kumpulan benda-benda arkeologi.

6.4 Historika, yaitu kumpulan benda-benda bernilai sejarah.

6.5 Numismatik dan Heraldika,yaitu kumpulan benda-benda alat tukar

dan lambang peninggalan sejarah, misalnya mata uang, cap, lencana

tanda jasa, dan surat-surat berharga.

6.7 Naskah-naskah kuno dan bersejarah.

(34)

commit to user

6.9 Buku / Majalah antikuariat.

6.10 Karya seni dan seni kriya.

6.11 Benda grafika, berupa foto, peta asli atau setiap reproduksi yang

dapat dijadikan dokumen.

6.12 Diorama, yaitu gambaran berbentuk tiga dimensi.

6.13 Benda-benda sejarah alam, berupa flora, fauna, bebatuan dan

mineral.

6.14 Benda-benda wawasan nusantara.

6.15 Replika, yaitu tiruan dari benda aslinya.

6.16 Miniatur, yaitu tiruan dari benda aslinya dalam bentuk kecil.

6.17 Koleksi hasil abstraksi.

( DDK, 1989 : 14-15 )

B. TINJAUAN K HUSUS MUSEUM

1. Tinjauan Lobby

1.1 Pengertian Lobby

Pengaturan pengunjung yang baik dalam sebuah museum

memerlukan pengaturan lobby yang baik pula. Ketelitian

sangat diperlukan dalam penataan ruang ini sebagaimana

layaknya ruangan khusus yang behubungan dengan ruang

tersebut.

Lobby adalah ruang penontrol dalam sebuah museum

yang pada umumnya cukup luas sebagai penataan ruang dari

(35)

commit to user

Sebagai ruang pengawas yang cukup untuk

pengorganisasian ruang, maka lobby harus cukup lapang,

menarik, dan baik penerangan maupun ventilasinya. Selain

itu, umumnya lobby dilengkapi dengan perangkat meja kursi

yang berfungsi sebagai ruang duduk atau ruang tunggu.

1.2 Fungsi Lobby

1.a) Sebagai fungsi ekonomi, yaitu pengunjung dapat

memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia di lobby

tanpa harus pergi ketempat lain, sehigga menghemat

tenaga dan biaya.

1.b) Sebagai fungsi sosial, yaitu lobby dapat memberikan

informasi-informasi kepada pengunjung tentang fasilitas-

fasilitas yang disediakan dan pengunjung dapat saling

lebih berinteraksi dengan sesama pengunjung lain serta

karyawan.

1.c)Lobby sebagai alat penghubung, yaitu memberikan

informasi serta fasilitas sebagai tujuan pendidikan

maupun pariwisata.

1.3 Fasilitas Lobby

1.a) Ruang pengecekan dan meja informasi, disini

(36)

commit to user

1.b) Tempat duduk, berfungsi sebagai tempat untuk

duduk-duduk untuk istirahat sejenak setelah lelah berkeliling

museum.

1.c) Fasilitas telepon umum, pengunjung dapat

memanfaatkannya untuk melakukan komunikasi telepon jika

ada hal yang penting.

1.d) Counter penjualan, pengunjung dapat membeli

souvenir atau kenang-kenangan yang berhubungan dengan

museum.

1.e) Fasilitas pameran pendahuluan, adalah sedikit

penggambaran singkat tentang museum.( Coleman, LV,

1950 : 122-126 )

2. Tinjauan Ruang Pamer

2.1 Pengertian Ruang Pamer

Ruang pamer ( show room ) menurut flower dan flower ”room

used for the display of good or merchandise”. Yang artinya

adalah ruangan yang dipergunakan untuk kepentingan

pemajangan benda-benda koleksi atau barang-barang

dagangan.

Sedangkan menurut Hadisutjipto, ruang pamer merupakan

tempat untuk mewujudkan komunikasi antara benda pamer dan

pengunjung museum. Ruang pamer museum dapat dianggap

(37)

commit to user

kekayaan koleksi museum. Dalam ruangan ini dipamerkan

koleksi-koleksi terbaik yang representatif untuk memberikan

kepuasan atas tuntutan rasa keindahan dari para tamu, serta

juga memenuhi keinginan mereka melihat sesuatu yang langka,

baik benda yang unik maupun benda yang indah. ( B Suprapto,

1994 : 27 )

2.2 Jenis Ruang Pamer

Ruang pamer dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :

2.a) Ruang Pamer Tetap, yaitu ruang untuk menyelenggarakan

pameran dalam jangka waktu sekurangnya 5 tahun.

2.b) Ruang Pamer Sementara / Temporer, yaitu ruang untuk

menyelenggarakan pameran dalam jangka waktu tertentu dan

dalam variasi yang singkat, dari 1 minggu sampai 1 tahun saja.

2.3 Tipe-Tipe Ruang Pamer

3.a) Kamar sederhana berukuran sedang, merupakan bentuk

yang lazim.

3.b) Aula dengan balkon merupakan bentuk ruangan yang juga

lazim dan salah satu yang tertua.

3.c) Aula pengadilan merupakan aula besar dengan jendela

tinggi dikedua sisinya.

3.d) Galeri lukisan terbuka merupakan tipe ruang yang paling

(38)

commit to user

3.e) Koridor pertunjukan merupakan tipe ruang pamer yang

sesungguhnya bukan ruangan, tetapi merupakan suatu jalan

lorong. Digunakan untuk display supaya tidak kosong.

3.f) Tipe ruangan bebas, dapat dibagi-bagi saat ada pameran.

3. Sirkulasi

3.1 Sirkulasi Umum Pengunjung

Sirkulasi pengunjung dalam sebuah museum tidak hanya

mengikuti layout bangunan, tetapi juga tergantung dari

perilaku pengunjung sendiri. Tipe sirkulasi dapat berbeda

berdasarkan penyusunan ruangan yang berlainan, namun

merupakan sirkulasi yang tidak saling bersilangan,

sehingga tidak menimbulkan kebingungan dan kesulitan

(39)

commit to user

Bagan 5.Skema arus dan sirkulasi pengunjung didalam museum

(40)

commit to user

3.2 Sirkulasi Koleksi

Bagan 6.Skema arus dan sirkulasi koleksi da lam museum A, B, C, D dan E : Daerah dimana dan tempat dimana koleksi

(41)

commit to user

3.3 Sirkulasi Pengunjung Pada Ruang Pamer

Berdasarkan bentuk konfigurasinya menurut D.A Robbilard

pola sirkulasi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

1)

Langsung ( straight ), alur lintasan pengunjung diarahkan oleh ruang interior dengan pintu masuk pada salah satu sisi dan pintu keluar pada sisi yang lainnya.

2)

Linier ( Linear ), sirkulasi diarahkan oleh rancangan bangunan yang permanen, pengunjung biasanya memakai pintu masuk dan keluar yang sama. Selain itu pengunjung berjalan melalui jalur yang menerus, tidak peduli masih pada area yang sama.

3)

Terbuka ( open ), dalam hal ini tidak disertakan dinding display permanen di dalam ruang pamer, sehingga elemen sirkulasi dan ruang pamer benar-benar menyatu.Ruang-ruang dari jenis pola terbuka ini cenderung simetris, dan jalan-jalan masuk yang ada tidak dirancang untuk mempengaruhi orientasi perjalanan pengunjung.

4)

(42)

commit to user

6)

Membentuk cabang ( branch, gallery-lobby )

7)

Membentuk cabang ( branch, linier )

Gambar 1 . Pola sirkulasi dalam museum

( Sumber : D.A Robbilard, Public Space Design in Museum, 1982 : 26 )

3.4 Pola Keterkaitan Ruang Pamer dan Sirkulasi

1)

Sirkulasi dari ruang ke ruang ( room to room ), pengunjung mengunjungi ruang pamer secara berurutan dari ruang yang satu ke ruang pamer berikutnya.

2)

Sirkulasi dari koridor ke ruang pamer ( coridor to room ), memungkinkan pengunjung untuk mengitari jalan sirkulasi dan memilih untuk memasuki ruang pamer melalui ruang koridor. Bila pengunjung tidak menghendaki suatu ruang pamer, maka pengunjung dapat langsung menuju ke ruang pamer berikutnya.

3)

Sirkulasi dari pusat ke ruang pamer ( nave to room

(43)

commit to user

4)

Sirkulasi terbuka (open), sirkulasi pengunjung menyatu dengan ruang pamer. Seluruh koleksi yang dipajang dapat dilihat secara langsung oleh pengunjung, dan pengunjung dapat bergerak bebas dan cepat untuk memilih koleksi mana yang hendak diamati.

5)

Sirkulasi linier, dalam suatu ruang pamer terdapat sirkulasi utama yang membentuk linier dan menembus ruang pamer tersebut.

Gambar 2 .Pola hubungan antara sirkulasi dan ruang pamer ( Sumber : D.A Robbilard, Public Space Design in Museum, 1982 : 27 )

Selain itu ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan

yang memungkinkan pengunjung untuk tertarik bergerak

mengunjungi ruang-ruang pamer, antara lain :

4.a) Keragaman antar ruang pamer, pengunjung tertarik

memasuki ruang yang berbeda dengan harapan

memperoleh pengalaman yang berbeda.

4.b) Kejelasan pandangan terhadap suatu jalur sirkulasi

utama, sehingga memudahkan pengunjung pada

suatu ruang pamer untuk kembali atau pindah ke

ruang lainnya melalu i jalur utama yang dirasakan

cepat.

4.c) Peta-peta dan tanda-tanda pada jalur masuk pada

(44)

commit to user

4.d) Pandangan keluar, memberikan suasana santai dan

menciptakan kesan tetap adanya kedekatan dengan

lingkungan luar.

4.e) Pembagian ruang dengan memanfaatkan

kolom-kolom bangunan.

( D.A. Robbilard, 1982 : 30 )

Tingkah laku tiap pengunjung dalam mengamati

pameran di museum berbeda-beda. Ada yang mengamati

secara sepintas saja dan ada yang mengamati secara cermat

dengan waktu yang relatif lama. Tingkah laku pengunjung

yang berbeda separti ini dibahas oleh Laurence Vail

Coleman, dengan tujuan untuk membuat suatu sistem yang

sesuai dengan keadaan tersebut, dimaksudkan agar

pengunjung yang ingin mendalami/melihat pameran secara

cermat tidak terganggu oleh pengunjung yang hanya

melihat secara sepintas saja. Namun cara ini memerlukan

(45)

commit to user

Gambar 3 . Sirkulasi pengunjung yang dia rahkan dengan sistem tata pamerannya, untuk pengunjung yang ingin mengamati benda pamer secara sepintas dan

secara cermat/detail.

( Sumber : Coleman LV, Museum Buildings, 1950 )

3.5. Alur Lintasan

Alur lintasan pengunjung merupakan kecenderungan gerak

lintasan pengunjung kepada susana yang lebih d isenangi

dalam memulai pengamatan ketika memasuki ruang pamer.

Kepadatan orang pada ruang dan waktu yang bersamaan

dapat mempengaruhi kualitas komunikasi yang

dimaksudkan oleh pengunjung.

(46)

commit to user

Pengelompokan sculpture, tempat duduk dan lainnya letaknya di tengah ruangan akan mengganggu alur lintasan.

Peletakan kelompokan koleksi benda ditengah ruangan pamer cenderung mempercepat alur lintasan pengunjung.

Ruang pamer yang memberikan pengontrolan terhadap alur lintasan pengunjung adalah lebih baik dibanding yang tanpa kontrol.

Gambar 4. Alur lintasan pengunjung

( Sumber : W Rupp, Exhibition and Architectural Planning, 1989 )

3.6 Luas Pergerakan dalam Ruang Pamer

Luas pergerakan pengunjung ini lebih dipengaruhi karena

keinginan untuk mengamati benda yang belum pernah

dilihatnya dan memasuki ruangan yang belum pernah

dilihat dan dialaminya. Warna lantai, dinding, lokasi pintu

masuk dan pintu keluar dapat mempengaruhi luas

(47)

commit to user

Pengunjung lebih banyak memanfaatkan area dinding sebelah kanan dibanding area sebelah kiri ruang pamer.

Pengunjung lebih sedikit berjalan-jalan didalam ruang pamer bila dalam ruang tersebut ada pintu keluar.

Pengunjung cenderung lebih banyak berjalan-jalan di ruang pamer yang warna lantai, dinding, dan atapnya yang sedikit gelap bila dibandingkan dengan ruang pamer yang berwarna lebih terang.

- Pengunjung pria lebih banyak mengunjungi area pamer dibanding dengan pangunjung wanita.

- Pengunjung pria lebih banyak berjalan-jalan dalam ruang pamer.

Pengunjung akan berlama-lama dan banyak berjalan-jalan dalam ruang pamer bila terpampang banyak informasi yang dibutuhkan pengunjung dan bila terdapat kekontrasan dalam ruang pamer.

(48)

commit to user

4. Komponen Pembentuk Ruang

4.1 Lantai

Lantai berfungsi sebagai penutup ruang bagian bawah.

Selain itu, lantai juga berfungsi sebagai pendukung

beban-beban yang datang dari perabot rumah, manusia yang ada,

atau lalu lalang dalam ruangan. Karena itu dituntut agar

selalu kuat memikul beban mati atau hidup. (lalu lintas

manusia di atasnya serta hal-hal lain yang ditumpangkan

padanya) (Y. B. Mangunwijaya, 1988, hal 329)

Beberapa karakteristik lantai yang digunakan untuk

bangunan seperti museum antara lain :

* kuat

* perawatan mudah

* tidak licin

* efek visual tinggi

* menyerap bunyi dan tahan kelembaban

4.2 Dinding

Dinding berfungsi sebagai penghubung yang

mempersatukan langit-langit dan lantai, sehingga

membentuk sebuah ruang. Ditinjau dari fisika bangunan,

fungsi dinding adalah sebagai berikut :

* pemikul beban di atasnya

* penutup atau pembatas ruangan, baik visuil maupun

(49)

commit to user

* menghadapi alam luar dan ruang dalam, antara lain :

Ø radiasi sinar cahaya dan kalor matahari

Ø radiasi sumber-sumber kalor dari dalam

Ø isolasi atau penghalang kalor yang datang dari luar

Ø pemeliharaan suhu yang diminta dalam ruangan

Ø pelindung terhadap hempasan hujan, kelembaban,

dan arus angin dari luar.

Ø pengatur derajat kelembaban dan ventilasi di dalam

ruangan

(Y. B. Mangunwijaya, 1988, hal 339)

4.3 Ceilling

Ceilling berfungsi sebagai penutup ruang dan pengatur

udara panas pada atap dan langit-langit. Penentuan

ketinggian ceiling disamping dari pertimbangan fungsi

ceiling itu sendiri, dapat juga berdasarkan proporsi ukuran

ruang (panjang, lebar, tinggi), konstruksi, maupun

kebutuhan ducting di atasnya.

Bentuk penyelesaian dapat dilakukan berdasarkan

fungsinya. Jika sebagai ventilasi udara panas, maka bentuk

lubang/ penurunan ceiling dapat diselesaikan seperti :

Ø polas/ rata

Ø grid/ kotak-kotak

(50)

commit to user

Ø berpola structural, dan sebagainya

5. Interior Sistem

5.1 Pencahayaan

Pencahayaan merupakan factor penunjang aktifitas kerja dan

intensitas kerja. Macam pencahayaan yang diperlukan dalam

suatu perencanaan antara lain :

5.1.1 Pencahayaan alami

System pencahayaan alami digunakan pada siang hari atau

pada saat cuaca baik, yaitu dengan cara memasukkan terang

langit melalui kaca di setiap bukaan atau jendela.

Pencahayaan diharapkan sedapat mungkin diterapkan pada

tiap ruangan.

5.1.2 Pencahayaan buatan

System pencahayaan buatan digunakan pada saat cuaca

tidak baik/ mendung, malam hari, dan pada ruang yang

tidak mendapat pencahayaan alami atau pada ruang-ruang

tertentu yang membutuhkan pencahayaan khusus.

- Sistem penyinaran atau bagaimana cahaya diarahkan pada

bidang kerja,

(51)

commit to user

Sinar cahaya dari sumbernya dan yang dipantulkan oleh

bidang-bidang reflector diarahkan lansung pada bidang kerja.

Gambar 7 . Sistem Penyinaran Langsung

* penyinaran tak langsung

Memakai penerangan yang menghalang-halangi sinar cahaya

yang datang langsung pada bidang kerja, melalui refleksi

bidang sekunder.

m

Gambar 8 , Penyinaran tak Langsung

(52)

commit to user

Cara penerangan yang arah sinarnya dibuat serba

kemana-mana, dari mana-kemana-mana, serta merata, hingga tak nampak

keras. (Y. B. Mangunwijaya, 1988, hal 221-222)

5.2Penghawaan

Jenis penghawaan yang digunakan terdiri dari :

5.2.1 Penghawaan alami

System penghawaan alami digunakan dengan prinsip

memasukkan udara bersih melalui lubang ventilasi,

sehingga terjadi sirkulasi udara masuk dan keluar.

5.2.2 Penghawaan buatan

Penghawaan ini digunakan untuk memberi kelembaban

udara dan suhu ruang yang memenuhi syarat suatu ruang.

Penghawaan buatan menggunakan Exhauser Fan dan Air

(53)

commit to user

Gambar 9 . Penghawaan Buatan

5.3 Akustik

Sistem akustik merupakan usaha untuk menanggulangi suara

bising yang dapat mengganggu aktivitas dalam ruangan,

sehingga dapat diperoleh kualitas bunyi yang baik.

Jenis akustik yang digunakan :

5.3.1 Akustikal alami

Menggunakan unsure landscape sebagai materialnya untuk

mengatasi gangguan suara dari lalu lintas ataupun kelompok

kegiatan tertentu dalam suatu kelompok bangunan.

5.3.2 Akustikal buatan

Tujuan daripada pemakaian akustikal buatan antara lain :

Ø penyerapan bunyi yang diperlukan oleh ruang yang

membutuhkan ketenangan. Bahan yang dapat digunakan

antara lain :

- bahan berpori

- penyerap panel (selaput)

- resonator rongga

(54)

commit to user

- penyerap variable

- penyerapan oleh udara dan oleh lubang

Difusi bunyi atau penyebaran bunyi yang diperlukan

ruang-ruang tertentu yang dapat diciptakan dengan cara :

Ø pemakaian permukaan dan elemen penyebar yang tidak

teratur dalam jumlah yang banyak, seperti pilaster, pier,

balok-balok telanjang, dll

Ø penggunaan lapisan permukaan pemantul dan penyerap

bunyi secara bergantian

Ø distribusi lapisan penyerap bunyi yang berbeda secara tak

teratur dan acak. (L.L. Doelle, 1990, hal 25-27)

6.Sistem Keamanan

Pengamanan museum (museum security) merupakan bagian yang

penting dan terpadu dari pengelolaan museum. Pengamanan yang

dimaksud adalah untuk pengamanan fisik manusia, fisik bangunan, serta

lingkungan. Untuk system ini diperlukan unsur :

6.1 Satpam .

6.2 Keamanan terhadap bahaya kebakaran .

6.3 Tanda petunjuk arah (exit signis).

6.4 Alat pengunci (hardware locking).

(55)

commit to user

Beberapa faktor yang menyebabkan perlunya system keamanan dimuseum,

yaitu :

1. Manusia

1.a)Banyaknya pengunjung museum yang datang dengan tujuan

yang berbeda satu sama lain. Ada pengunjung yang memanfaatkan

untuk mengadakan studi dan penelitian, ada sekedar untuk berekreasi

dengan keluarga, tetapi ada juga yang memanfaatkan untuk mencari

keuntungan sendiri dengan cara mencuri barang – barang yang ada di

museum.

1.b)Secara iseng mengotori, membuat corat – coret di dinding

tembok dan pagar atau merusak taman dan halaman yang merugikan

pihak museum. Tingkah laku runa wisma yang ada di sekelilingnya

dengan membuang sampah dan kotoran sembarangan, sehigga

mengganggu kenyamanan, keindahan dan ketertiban pengunjung

museum.

2. Fisik bangunan

2.a)Bahan – bahan kimia untuk laboratorium dan konservasi tidak

disimpan di tempat yang baik dan aman.

2.b)Pintu jendela dan lemari – lemari koleksi tidak dipasang

dengan kunci – kunci yang baik dan aman.

2.c)Memilih dan menentukan bahan-bahan bangunan yang mudah

terbakar oleh api.

(56)

commit to user

3.a)Belum tersedianya alat pemadam api, sehingga bila timbul

bahaya kebakaran sudah tidak terto long lagi.

3.b)Pada umumnya saluran air dari hydrant (wall dan freezing

hydrant) tidak mudah diperoleh, karena hanya pada lokasi gedung

yang ada di kota besar saja yang ada jaringan saluran dari PAM.

4. Alam dan lingkungan

4.a)Udara di daerah tersebut yang sangat lembab, sehingga bias

merusak koleksi.

4.b)Gangguan hewan atau binatang sejenis insect yang menyerang

dan merusak koleksi jenis kayu, kain, dan juga jenis kamur untuk

koleksi perunggu, batu dan sebagainya.

Pengamanan benda – benda koleksi dapat dilakukan dengan cara :

1.Pengamanan umum melalui tata kerja dan tata ruang

Untuk menjamin keamanan benda – benda koleksi, perlu adanya

pembagian tugas dan kewajiban yang tegas dan ketat diantara para

petugas. Tugas – tugas tersebut antara lain adalah :

1.a)Memeriksa ruang – ruang penyimpanan secara rutin /

berkala .

1.b)Menyelenggarakan pengamanan umum bagi seluruh

fasilitas penyimpanan .

1.c)Membuat peraturan – peraturan .

(57)

commit to user

2.1 Sistem perlindungan sekitar (perimeter protection system).

System ini dipakai untuk melindungan bangunan terhadap bahaya

dari luar. Penekanan pengamanan terutama ditujukan pada jendela,

pintu, atap, lubang ventilasi, dan dinding – dinding yang mudah

ditembus. Didalam ruang pamer ada beberapa kekuatan dari

kerusaka benda koleksi yang disebabkan oleh pengunjung

diantaranya :

2.1.a)vandalisme, terjadi karena keisengan dan kekurangan

kesadaran akan benda – benda yang bernilai sejarah dan kurangnya

apresiasi.

2.1.b)Touch complex (penyakit ingin meraba), karena pada

umumnya orang tidak puas hanya ingin meraba saja dan selalu

penasaran apabila tidak mecoba untuk meraba benda – benda koleksi

yang ingin dilihatnya.

2.2 System perlindungan dalam (interior protection sytem)

Jenis ini sangat bermanfaat dalam pengamana gedung, apabila

system parimeter gagal berfungsi, misalnya pencuri berhasil

menyelinap masuk dan bersembunya didalam gedung, sebelum

saatnya pinti – pintu ditutup. Contoh sederhana adalah kunci.

Kedua alat diatas ada yang bekerja secara mekanisme maupun

elektris, diantaranya adalah :

2.2.a Saklar magnetic (magnetic contac switch).

(58)

commit to user

2.2.c Sensor pembeitahuan / pencegahan bila kaca pecah

(glass breaking sensor).

2.2.d Kamera pemantau (photoelectronics eyes).

2.2.e Pendeteksi getaran (vibration detector).

2.2.f Alat pemasuk data pinta (acces control by remote

door control).

2.2.g Pengubah sinar infra merah (passive infra-red).

3. Pengamanan terhadap kebakaran

Perlindungan terhadap api dimulai dengtan konstruksi tahan api

terutama di ruang yang mudah terbakar. Ruang juga perlu memiliki

pintu – pintu api, juga dapat pula digunakan dinding – dinding khusu.

Bagian penting dalam perencanaan pengisolasian bencana (api) adalah

dengan menempatkan tangga pada tempat yang tepat. Tangga utama

tidak dapat di desain seperti ini, tapi tangga sekunder untuk umum dan

staf hendaknya diletakkan di dekat dindig dan pintu. Ada dua system

alat pendeteksi kebakaran, yaitu :

3.1 Pendeteksi panas (thermal detector), yang akan bereaksi

terhadap perubahan suhu.

3.2 Pendeteksi asap (smoke detector), yang bereaksi terhadap

gas atau aerosol yang keluar pada saat kebakaran.

Alat pemadam kebakaran terd iri dari bermacam jenis, diantaranya :

3.a System penyemprotan (sprinkle system).

(59)

commit to user

Tabung pemadam api (poertable fire extinguisher), yang baik

adalah jenis dry chemical extinguisher karena tepung residu yang

ditinggalkan tidak merusak semua jenis benda.

7. Organisasi Ruang

7.1 Terpusat

Organisasi terpusat merupakan komposisi terpusat yang

terdiri dari sejumlah ruang – ruang sekunder yang

dikelompokkan mengeliligi sebuah ruang yang besar dan

dominant. Ruang pusat sebagi pemersatu dari organisasi

terpusat. Ruang sekunder dapat mempunyai fungsi,

bentuk, ukuran yang sama, tetapi juga dapat berbeda

antara satu dengan yang lain sesuai dengan tingkat

kebutuhannya.

Gambar 10 . Organisasi ruang terpusat

(60)

commit to user

7.2 Linier

Organisasi linier terdiri dari sederetan ruang – ruang .

ruang –ruang tersebut dapat berhubungan langsung satu

dengan yang lain atau dihubungkan melalui ruang linier

yang berbeda dan terpisah. Organisasi linier terdiri dari

ruang – ruang yang berulang mirip dalam hal ukuran,

bentuk dan fungsi, atau dapat juga terdiri dari ruang –

ruang lin ier yang diorganisir menurut panjangnya

sederetan ruang – ruang yang berbeda ukuran, bentuk dan

fungsi.

Gambar 11 .Organisasi ruang linier

( Sumber : Francis DK C, Bentuk Ruang dan Susunannya, 1996 )

7.3 Radial

Oranisasi rasdial memadukan unsure – unsure organisasi

terpusat maupun linier. Organisasi ini terdiri dari ruang

pusat yang didominasi dimana sejumlah organisasi linier

(61)

commit to user

Gambar 12 . Organisasi ruang radial

( Sumber : Francis DK C, Bentuk Ruang dan Susunannya, 1996 )

7.4 Cluster

Organisasi cluster menggunakan petimbangan

penempatan peletakkan sebagai dasar untuk

menghubungkan suatu ruang terhadap ruang yang

lainnya. Penghubungannya dapat terdiri dari ruang –

ruang yang berulang fungsi dan bentuknya, ataupun dapat

ljuga terdiri dari ruang – ruang yang berbeda ukuran,

fungsi dan bentuknya.

Gambar 13 .Organisasi ruang cluster

( Sumber : Francis DK C, Bentuk Ruang dan Susunannya, 1996 )

7.5 Grid

Organisasi grid terdiri dari bentuk – bentuk dan ruang

dimana posisi – posisinya dalam dimensi atau bidang.

Grid dapat mengalami perubahan bentuk dengan cara

(62)

commit to user

Gambar 22.Memasukkan dalam dinding dengan dekorasi mural

( Sumber : B Suprapto, Ruang Pamer Museum dan Eksibisi, 1994 )

2.d) Split level plafon / langit – langit. Penyajian untuk benda 3D.

Aksentualisasi yang ditampilkan :

- Penurunan ceilling pada materi ko leksi dengan

focus penerangan dapat meningkatkan daya tarik objek pamer.

- Materi koleksi sebagai pusat utama.

Gambar 23 .Split level plafon / langit-langit

( Sumber : B Suprapto, Ruang Pamer Museum dan Eksibisi, 1994 )

2.3 Berdasarkan factor teknologi

(63)

commit to user

menimbulkan persepsi pengamatan yang lebih detail dan teliti.

3.a) Sistem display film / sinematografi.

Penyajian berupa teater film / multimedia yang menggambarkan suatu peristiwa / kisah yang sesuai dengan tema museum.

Gambar 24.Sistem display film / sinematografi

( Sumber : B Suprapto, Ruang Pamer Museum dan Eksibisi, 1994 )

3.b) Sistem display komputer monitor TV.

Penyajian menggunakan program komputer baik dengan sistem layar lebar ataupun tidak.

Gambar 25.Sistem display komputer / monitor TV ( Sumber : B Suprapto, Ruang Pamer Museum dan Eksibisi, 1994 )

(64)

commit to user

Penyajian materi koleksi berupa materi koleksi 2D (grafik, bagan interaktif) dengan dilengkapi tombol pengatur. Materi koleksi 3D (miniatur suatu proses produksi, maket) yang dilengkapi display tata lampu yang menarik.

Gambar 26.Sistem display remote control dan tata lampu ( Sumber : B Suprapto, Ruang Pamer Museum dan Eksibisi, 1994 )

9.3 Persyaratan Media Display Koleksi

Kerangka (penutup) rak menggunakan tembaga atau lauminium ditutup satin atau dicat. Kerangka harus kuat, tahan debu dan kutu, tahan lembab aman terhadap pencuri. Pencahayaan dengan membuat isi rak lebih bercahaya dari pada sekelilingnya, yaitu cara penggunaan lampu TL dan lampu yang diberi filter agar tidak merusak benda koleksi.Rak kelompok, rak untuk diorama atau kelompok lingkungan tertentu, dapat dipasang rak built in, dapat pula digunakan rak rak diorama kecil.

Lampu pameran diperlukan untuk memberi tambahan permukaan pameran dan juga untuk membagi panjang dinding dan membagi lantai ruangan. Besar ukuran layar harus selaras dengan skala di sekelilingnya.

(65)

commit to user

9.3.1 Persyaratan – persyaratan dalam perencanaan pembuatan vitrin adalah :

3.1.a Keamanan benda koleksi harus terjamin.

3.1.b Memberi kesempatan pada pengunjung agar lebih leluasa dan mudah serta enak melihat koleksi yang ditata didalamnya.

3.1.c Pengaturan cahaya dalam vitrin tidak boleh mengganggu koleksi maupun menyilaukan pengunjung.

3.1.d Bentuk vitrin harus disesuaikan dengan dinding.

9.3.2 Menurut jenisnya vitrin terbatas atas : 3.2.a Vitrin Dinding.

Yaitu vitrin yang diletakkan berhimpitan dengan dinding. Vitrin ini dapat dilihat bagian dalamnya hanya dari sisi samping kanan dan kiri maupun dari depan.

Gambar 27.Vitrin dinding

( Sumber : B Suprapto, Ruang Pamer Museum dan Eksibisi, 1994 )

3.2.b Vitrin Tengah.

Gambar

Gambar 108 Grouping Gambar 109 Gambaran ruang linier Gambar 110 Zoning Gambar 111 Grouping Gambar 112 Sistem sirkulasi
Tabel 1 Kriteria Bangunan Hi-Tech
Gambar 2 .Pola hubungan antara sirkulasi dan ruang pamer
Gambar 3 . Sirkulasi pengunjung yang diarahkan dengan sistem tata pamerannya,
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa hasil studi tersebut membuktikan pentingnya membangun kualitas keterhubungan (relationship quality ) oleh perusahaan melalui beberapa dimensi yaitu kepercayaan

Ada pengaruh tingkat konsumsi biota laut, usia konsumen terhadap.. konsentrasi Pb pada

 melalui proses prakualifikasi. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi secara umum mengatur mengenai metode pemilihan penyedia jasa, yaitu pelelangan umum, pelelangan

Pada komunikasi instruksional ini dimana yang akan menjadi komunikator adalah Guru mata pelajaran yang mampu mengajar dalam menggambarkan, menerangkan, dan memberikan sebuah

Sedangkan, responden terdapat 7 siswi (17,9%) memiliki perilaku yang cukup, sementara 32 siswi (82,1%) memiliki perilaku yang baik dalam menjaga kebersihan organ

, Tabel Koefisien dan Grafik Untuk Perencanaan Balok Pelat Beton, Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta,

4.5.1 The Story Structure of Children's Spontaneous Story Telling of High Social Class About 68 71 The Most Unforgettable

Berdasarkan penelitian lain yaitu Fadeli (2008) menyatakan bahwa komposisi optimum campuran ekstrak kunyit dan ekstrak buah asam jawa dengan metode Simplex Lattice Design